Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 135 – Tiga Kekeliruan

Saudara se-Dharma sekalian, saat kita semua duduk bermeditasi dengan tenang, begitu dentingan suara lonceng terdengar, kita semua mulai membuka mata. Saat mata sudah terbuka, apakah yang ada di hadapan kalian? Kalian melihat saya. Lalu apa yang ada di belakang kalian? Siapa yang duduk di depan kalian? Semua inilah yang kita lihat begitu membuka mata. Gambaran fenomena ini masuk ke dalam pikiran kita dengan cepat. Inilah yang disebut persepsi. Saya pun demikian. Saat lampu menyala dan mata saya membuka, saya melihat kalian duduk dengan rapi di ruangan ini

 Inilah gambaran yang ada dalam pikiran saya. Akan tetapi, gambaran yang ada pada hari ini dan gambaran yang ada kemarin, meski saya tetap duduk di sini, tetap dengan latar belakang yang sama, tetap ada kalian yang duduk di hadapan saya, apakah kondisi yang dirasakan sama? Tidak tahu. Tidak begitu jelas. Sesungguhnya, hari kemarin sudah berlalu, saat ini adalah saat ini, dan apakah besok akan ada gambaran yang sama? Itu adalah urusan nanti. Gambaran tentang masa lalu selalu ada di dalam batin. Contohnya, meski kemarin kondisinya sama, dan kata-kata saya kemarin telah kalian ingat berkat kesungguhan hati kalian, namun pembicaraan hari ini tentu berbeda dengan kemarin

 Kemarin adalah kemarin, hari ini adalah hari ini. Akan tetapi, begitu indra kita bersentuhan dengan objek atau kondisi luar, gambaran kondisi ini akan terukir di dalam batin. Demikianlah kita melekat pada gambaran enam objek. Gambaran fenomena dalam batin ini berasal dari kesan terhadap enam objek. Saat enam objek, enam indra, dan enam persepsi bereaksi, kita akan mudah membuat kesalahan, karena masalah kemarin, yang timbul akibat kontak antara indra dan objek, telah kita masukkan ke dalam hati. Contohnya, “Seseorang kemarin membuat janji dengan saya,” atau, “Dua hari lalu dia membuat janji dengan saya, tetapi kemarin dia tidak muncul.” “Mengapa kemarin dia tidak menepati janji yang dia buat dua hari lalu?” “Kemarin dia malah bilang kepada saya bahwa itu sudah berlalu, dia berubah pikiran

” Bukankah dalam batin kita sudah timbul kesan negatif terhadap orang ini? sudah timbul kesan negative terhadap orang ini? Kesan yang tidak baik ini tertanam dalam batin kita karena orang itu tidak memenuhi harapan kita, tidak menepati janji, atau terlibat konflik dengan kita dalam pekerjaan. Kesan ini telah tertanam dalam batin kita. Dengan demikian, kita mengikat jalinan jodoh di dalam batin. Setelah kondisi tadi berlalu, jodoh buruk yang terjalin di dalam batin kita akan membawa penderitaan. Akibat terus menyimpan masalah yang sudah berlalu, kita dapat membuat kesalahan yang membawa derita. Ini dapat merusak akar kebajikan kita. Konfusius berkata, “Tidak melakukan pelampiasan kemarahan, tidak mengulangi kesalahan.” Sebagai manusia, saat memilih melakukan sesuatu, janganlah hanya karena satu orang, lalu emosi kita menjadi terpengaruh. Dahulu kita mungkin pernah terlibat konflik dengan orang lain dan telah melakukan kesalahan, kini ditambah lagi karena seseorang, kondisi batin kita menjadi terpengaruh dan kita melampiaskannya dengan meninggalkan tekad awal kita

 Inilah yang disebut pelampiasan. Hanya karena orang ini, kita meninggalkan tekad awal kita. Ini akan merusak akar kebajikan kita, juga melukai jiwa kebijaksanaan kita. Jadi, mengenai persepsi, dampaknya sangat besar bagi batin kita. Ia dapat merusak akar kebajikan kita. Ia akan melahirkan berbagai pemikiran. Saat suatu masalah terjadi, ia mungkin melukai akar kebijaksanaan kita dan merugikan akar kebijaksanaan kita

 Setelah akar kebajikan terluka, pemikiran keliru akan terus bermunculan. Dengan demikian, jalinan jodoh juga terus bermunculan. Maksudnya, saat kita marah terhadap seseorang, kadang kita melampiaskannya pada semua orang. Ini benar-benar merusak jalinan jodoh baik. Jadi, ini disebut pemikiran terbalik atau keliru. Ini berkaitan dengan persepsi. Sesungguhnya,ini memiliki pengaruh besar bagi karakter diri kita sendiri

 Persepsi muncul akibat kontak dengan enam objek, yakni rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan objek-objek mental. Keenam objek yang kita temui ini membentuk pemikiran kita, karena pikiran kita terus berkutat pada gambaran fenomena yang telah tertanam di dalam batin kita. Akibatnya, pemikiran keliru mudah timbul. Inilah yang disebut terbalik. Jadi, sebagai praktisi Buddhis kita harus waspada karena pemikiran ini dapat menciptakan kekeliruan dalam pandangan, pikiran, dan persepsi kita. Kekeliruan pertama adalah kekeliruan persepsi. Ini berkaitan dengan pemikiran kita yang mungkin mengandung kesalahan

 Pemikiran keliru dapat terus timbul. Yang kedua adalah kekeliruan pandangan. Jika pandangan kita keliru, maka pandangan sesat akan terus muncul. Kita sering mendengar orang berkata, “Saya sudah memiliki keyakinan, saya sangat taat dan tulus, tetapi mengapa segala keinginan saya tidak juga terwujud?” Lalu orang lain berkata, “Mari, saya perkenalkan keyakinan yang lain.” Dia pun segera mengikuti orang itu, meninggalkan jalan benar menuju ketersesatan. Banyak sekali orang seperti ini di masyarakat. Mereka tidak dapat memahami dengan benar hukum sebab akibat

 Begitu suatu hal tidak sesuai keinginan, pemahaman mereka langsung menjadi sesat. Sesat berarti menyimpang. Jalan yang lapang dan lurus ini seharusnya mudah untuk ditapaki, tetapi mereka malah menyimpang. Pemikiran sesat, pandangan sesat, dan pemahaman sesat, inilah yang disebut kekeliruan pandangan. Berikutnya adalah kekeliruan pikiran. Pikiran seperti apa yang dimaksud? Pikiran yang ilusif. Karena berbagai gambaran fenomena telah tertanam di dalam batin kita, maka kini pikiran kita menjadi keliru, pemahaman kita pun menyimpang, membuat pemikiran ilusif terus muncul di dalam batin kita

 Jadi, jika dalam pikiran terus timbul pemikiran ilusif atau pemahaman yang salah, maka segala yang kita pikirkan dan segala yang kita pahami menjadi tidak benar. Jadi, jika pikiran kita keliru, pemahaman kita akan ikut salah. Kesadaran kita juga akan mengarah pada kekeliruan. Saat segala masalah datang, kita menjadi kehilangan sifat dasar kita. Seperti apa sesungguhnya sifat dasar kita? Pada hakikatnya, kita murni tanpa noda, maka kita seharusnya memilih jalan yang benar. Kita harus segera menggenggam jalinan jodoh dengan ajaran Buddha yang sangat sulit didapat. Setelah menggenggamnya dan tahu bahwa ini adalah benar, kita tidak boleh meninggalkannya

 Kondisi apa pun yang muncul di hadapan kita, kita tidak boleh terpengaruh. Inilah yang disebut keteguhan. Saat memiliki suatu jalinan jodoh baik untuk bertemu ajaran yang baik, jika pikiran kita tidak teguh atau tidak dapat berpikir jernih, maka jalinan jodoh, akar kebajikan, dan kesempatan untuk menanam karma baik ini akan mudah berlalu sia-sia. Saya ceritakan sebuah kisah. Saat Buddha selesai melatih diri dan mencapai pencerahan, yang pertama ingin Beliau bimbing adalah lima orang petapa yang melatih diri bersama-sama dengan-Nya. Mereka tadinya diutus ayah Beliau untuk membujuk sang pangeran pulang. Akhirnya, mereka menyadari ketidakkekalan dan pentingnya melatih diri

 Jadi, lima orang ini mengikuti sang pangeran melatih diri. Hingga suatu saat, mereka melihat pangeran menerima persembahan susu dari seorang wanita, dalam batin mereka tertanam pemikiran bahwa pangeran telah kehilangan tekadnya. Akhirnya,lima orang ini meninggalkan sang pangeran. Setelah lima petapa ini pergi, Pangeran Siddhartha bertekad untuk merenungkan segala aspek alam semesta dan akhirnya tercerahkan. Dalam petapaan selama berminggu-minggu, Beliau menghadapi perang untuk menaklukkan Mara. Mara dalam batin-Nya terus bermunculan

 Noda batin-Nya pun terus timbul. Pada saat-saat ini Beliau mengembangkan kebijaksanaan dan kegigihan tertinggi. Akhirnya, Beliau mampu menaklukkan Mara dalam batin-Nya. Satu demi satu godaan Mara dapat Beliau atasi sehingga batin-Nya menjadi murni. Batin-Nya hening dan jenih, tekad-Nya luas dan luhur, teguh tak tergoyahkan dalam masa tak terhingga. Kondisi ini sangatlah indah

 Beliau sungguh memahami seluruh kebenaran alam semesta. Lalu Beliau berpikir, agar ajaran kebenaran ini dapat tersebar dan dapat membebaskan orang-orang dari ketersesatan hingga ikut tercerahkan, maka Beliau harus terjun ke tengah masyarakat. Siapa yang harus dibimbing terlebih dahulu? Beliau memilih lima petapa tadi. Jadi, Beliau meninggalkan pohon bodhi dan mulai berjalan. Sesungguhnya, orang pertama yang Beliau temui bukanlah lima petapa, melainkan seorang petapa karena setelah meninggalkan pohon bodhi dan berjalan menuju Taman Rusa Isipatana, di tengah jalan Beliau bertemu seseorang itu. Petapa muda ini mendapat persetujuan orang tuanya untuk mencari seorang guru yang tercerahkan. Petapa muda ini bernama Upaka

 Upaka ini telah menempuh perjalanan jauh. Di tengah jalan, tiba-tiba dari kejauhan datang seorang yang sangat agung dan terlihat bersinar. Beliau terlihat berbeda dari orang pada umumnya. Karena itu, dalam hatinya timbul rasa hormat. Dia pun memberi hormat kepada orang itu dan bertanya, “Sesungguhnya dari mana Engkau berasal?” “Apakah Engkau juga seorang petapa?” Buddha yang tercerahkan, setelah melihat petapa muda ini juga merasa sukacita. Mendengar Upaka bertanya apakah Beliau juga seorang petapa, Beliau menjawab, “Benar, Aku juga seorang petapa

” “Siapa gurumu,” tanya Upaka. “Metode apa yang Kau gunakan?” “Mengapa rupa-Mu begitu agung?” “Begitu melihat-Mu, orang akan merasa Engkau begitu murni dan begitu agung.” “Sesungguhnya, metode apa yang Kau gunakan?” Buddha lalu menjawab, “Jalan Mulia Beruas 8 Kutemukan sendiri, tak lepas dari kemurnian.” Jalan Mulia Beruas Delapan ditemukan sendiri, tak lepas dari kemurnian artinya saat Buddha melatih diri, Beliau menyadari suatu kebenaran, yakni kebenaran yang sangat penting yang memiliki delapan faktor. Jadi, jalan benar ini Beliau temukan sendiri. Selain itu, Beliau sendiri juga tak lepas dari Jalan Mulia Beruas Delapan ini. Dalam kehidupan sehari-hari, baik pikiran, pandangan, maupun pemahaman-Nya, semua tak ada yang menyimpang dari jalan benar, juga tidak ternoda oleh pikiran sesat

 Benar berarti tidak sesat. Sesat berarti ternoda. Berhubung berada di jalan benar dan melatih diri dengan tekun, batin Beliau tidak ternoda. Selanjutnya Beliau berkata, “Belenggu nafsu keinginan telah Kuakhiri, dan ini Kuperoleh tanpa guru.” “Jika kau bertanya siapakah guru-Ku, maka sesungguhnya tidak ada.” “Nafsu keingingan telah Kuakhiri sendiri.” “Segala kemelekatan telah Kuakhiri, segala nafsu keinginan telah Kulepaskan

” “Lagi pula, belenggu nafsu ini telah Kupatahkan.” “Jadi, nafsu duniawi-Ku telah berakhir.” “Tiada lagi nafsu keinginan atau kemelekatan yang tidak murni.” “Aku telah mematahkan jaring nafsu keinginan yang dahulu pernah membelenggu-Ku.” “Sebelum melatih diri, Aku juga dipenuhi lima nafsu keinginan dan terbelenggu oleh jaring nafsu ini, tetapi saat ini, segala kemelekatan telah Kuakhiri.” “Belenggu pun telah Kupatahkan.” “Dengan begitu, kesadaran Kuperoleh tanpa adanya guru yang membimbing

” “Aku bukan belajar dari orang lain.” Kita mungkin masih ingat, saat Buddha keluar dari istana, Beliau melakukan pencarian selama 5 tahun dan merasa ajaran semua guru yang Beliau temui belumlah yang tertinggi. Karena itu, selama 6 tahun Beliau menjalankan praktik menyiksa diri dan melakukan perenungan. Jadi, dari pelatihan-Nya itu, Beliau memahami bahwa nafsu keinginan adalah pikiran salah. Penderitaan manusia disebabkan karena mereka tak dapat mematahkan belenggu itu. Manusia terbelenggu oleh jeratan nafsu ini, bagaikan ikan yang berenang di air, lalu terjebak dalam jeratan jala dan berusaha melepaskan diri

 Adakah orang yang tidak seperti ini? Jika terjerat oleh jala, adakah makhluk yang tidak berusaha membebaskan diri? Jadi, jika batin termurnikan, maka kemelekatan akan berakhir. Inilah yang disebut patahnya belenggu. secara alami Buddha memahami pengetahuan tentang segala sesuatu di alam semesta dan memperoleh kebijaksanaan. Jadi, Beliau memperolehnya tanpa guru. “Tiada guru yang membimbing-Ku, Aku hanya sendiri tanpa pendamping.” “Aku berlatih sendirian tanpa adanya guru.” “Tiada guru yang memberi petunjuk, juga tiada guru yang memberi jaminan

” “Tidak ada.” “Kini metode ajaran-Ku belum tersebar.” “Karena itu, kini Aku ingin berbagi dengan orang lain, tetapi belum menemukan orang yang tepat.” “Kini Aku berjalan sendirian.” “Aku belum membabarkan ajaran-Ku.” “Belum ada orang yang mendengar ajaran-Ku.” “Jadi, kini Aku berjalan sendiri tanpa pendamping.” “Kini Aku telah menjadi Buddha dan menembus jalan mulia

” Kita mungkin perlu mengetahui bahwa jika sebersit kesadaran timbul, jika sebersit kesadaran timbul dan kita terus memupuk serta mengakumulasikannya, maka seiring berjalannya waktu, kita akan dapat menyempurnakan Jalan Mulia Beruas Delapan, yakni perhatian benar, pikiran benar, pandangan benar, ucapan benar, perbuatan benar, dll. Jika semua ini dapat kita sempurnakan, berarti kita sudah berada di jalan Buddha yang lapang dan luas. Ini yang disebut berada pada jalan mulia. Setelah mendengar penjelasan Buddha, Upaka merasa sangat sukacita, tetapi masih belum paham. Batinnya seperti masih tertutup selapis jaring sehingga tidak dapat menyadari kebenaran. Dia hanya mendengar yang Buddha katakan dan merasa ucapan Buddha sangat indah, lalu bertanya, “Kini ke mana Engkau akan pergi?” Buddha menjawab, “Aku ingin menuju Varanasi.” “Aku ingin menabuh genderang Dharma dan memutar roda Dharma

” Demikianlah Buddha menjawab petapa muda itu. Beliau ingin menebarkan embun Dharma dan menabuh genderang Dharma untuk menyadarkan orang-orang yang tersesat. Beliau ingin memutar roda Dharma. Akan tetapi, setelah mendengarnya, petapa muda ini lalu berkata, “Baiklah kalau begitu.” Dia hanya memberi salam, lalu pergi. Sungguh disayangkan. Dia telah bertemu dengan Buddha, mendengar perkataan Buddha, dan tahu Buddha ingin menuju Varanasi untuk membabarkan Dharma

 Akan tetapi, dia hanya berlalu begitu saja. Akhirnya, pada malam itu juga Buddha mendengar kabar bahwa petapa muda tersebut meninggal dunia. Dia ingin mencari guru, tetapi kehidupan tidaklah kekal. Sebelum dapat menemukan guru, dia terlebih dahulu meninggal dunia. Jadi, Buddha berkata, “Makhluk di dunia penuh kebodohan, mengira kehidupan kekal; tidak menghargai pertemuan dengan Buddha, lalu meninggal sebatang kara.” Inilah syair yang Buddha ucapkan setelah mendengar kabar itu

 Beliau merasa manusia di dunia begitu penuh kebodohan. Mereka mengira kehidupan sangat panjang dan tidak menyadari ketidakkekalan. Jelas-jelas sudah bertemu Buddha dan berbicara dengan Yang Sadar, namun malah berlalu begitu saja. Sebelum sempat menemukan guru yang dicari, petapa muda ini sudah meninggal. Karena itu, dikatakan, “Genderang Dharma sudah bergemuruh, tetapi tidak didengar.” Ucapan ini diucapkan oleh Buddha dan menggambarkan keadaan petapa muda tadi. Meski Buddha sudah menabuh genderang Dharma, tetapi dia tetap tidak mengerti

 “Embun Dharma melenyapkan penderitaan, tetapi tidak dicicipi.” Dharma ini dapat melenyapkan penderitaan, tetapi dia juga tidak mampu mencicipi embun Dharma ini. Embun Dharma yang demikian baik ini tidak dapat dia cicipi. “Berputar-putar dalam lima alam, terus mengalami kelahiran kembali.” Dia terus berputar-putar di lima alam dan terus mengalami kelahiran kembali dalam jangka waktu yang panjang, terus mengalami kelahiran dan kematian. Berputar-putar dalam lima alam sungguh menderita. “Merasakan berbagai penderitaan, kapan baru dapat terbebaskan?” Sesungguhnya, kita dapat melihat, Upaka hidup sezaman dengan Buddha, sempat mendengar ucapan Buddha, tetapi tidak dapat merasakan embun Dharma. Buddha datang ke hadapannya dan menabuh genderang Dharma, tetapi dia malah seakan tidak mendengar. Semua ini bergantung pada pikiran

 Lihatlah, dia terus melekat bahwa dia harus mencari guru ke tempat yang jauh dan malah mengabaikan yang sudah di depan mata. Ini berkaitan dengan pandangan dan pemahaman. Jika pandangan dan pemahaman kita tidak jelas dan diliputi oleh kekeliruan, maka banyak jodoh baik akan berlalu sia-sia. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus selalu mengingatkan diri sendiri. Baik atau buruk bergantung pada pemahaman kita sendiri

 Jika kita memiliki persepsi yang keliru, maka kita akan melakukan kesalahan dan membangkitkan pemikiran keliru pula. Jika pemahaman dan pandangan kita keliru, kesadaran kita juga dapat tersesat

 Mengenai pikiran keliru, jika pemikiran keliru terus timbul, dengan sendirinya kita tidak dapat terus tekun di dalam jalan benar ini. dalam segala hal, kita sulit melakukan dengan benar. Jadi, saya merasa ini sangat disayangkan

 Buddha merasa prihatin terhadap Upaka. Kita juga merasa sayang saat mendengarnya. Kesempatan langka seperti itu malah dibiarkan berlalu begitu saja. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, Harap kalian semua dapat menggenggam setiap jalinan jodoh baik dengan teguh. Semua orang hendaknya selalu bersungguh hati

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888