Sanubari Teduh – 134 – Enam Kesadaran dan Enam Persepsi
Saudara se-Dharma sekalian, kondisi luar kita lihat dengan indra mata. Langit di luar masih gelap. Dari sana, kita merasakan ketenangan. Saat mendengar dengan telinga, saat ini di luar sepertinya tidak turun hujan. Akan tetapi, di dalam kesadaran pikiran kita, kita ingat bahwa kemarin turun hujan lebat. Kesadaran pikiran dapat merekam kejadian beberapa jam lalu. Contohnya, kita masih ingat suara hujan tadi. Suara tadi adalah objek luar, sedangkan telinga adalah indra. Saat indra dan objek bertemu, kesan yang kita peroleh akan masuk ke pikiran sehingga kita bisa merasakan suara hujan
Meski kondisi sudah berlalu, hujan telah berhenti, Langit tetap belum terang. Kini yang dirasakan oleh indra kita tidak ada lagi suara hujan, sedangkan langit masih belum terang. Akan tetapi, kondisi batin kita saat ini dengan tadi malam adalah berbeda. Waktu telah berlalu dan kondisi sudah berubah. ingatan tentang itu dapat muncul kembali. Fenomena ini telah masuk ke dalam pikiran kita. Inilah fungsi kesadaran
Kesadaran berkaitan dengan enam indra. Enam indra berkaitan dengan enam objek. Saat indra bertemu dengan objek, dibutuhkan kesadaran pikiran untuk menganalisisnya. Jadi, sebelumnya kita membahas enam indra. Hari ini kita akan membahas enam kesadaran, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan, dan pikiran. Mengenai kesadaran penglihatan atau kesadaran lainnya, dalam istilah zaman sekarang disebut saraf penglihatan, saraf pendengaran, dll. Meski memiliki telinga dan mata, jika ada kerusakan pada saraf, kita juga tidak dapat melihat. Kita sering melihat tunanetra. Kita jelas-jelas melihat mata mereka terbuka, tetapi mereka tak dapat melihat. Itu karena saraf penglihatannya tak berfungsi. Contoh lain, meski seseorang memiliki telinga, tetapi dia tak dapat mendengar suara
Dia tak bisa mendengar orang lain berbicara. Akibatnya, dia juga tak bisa berbicara. Ada banyak anak-anak yang cantik dan lucu, tetapi sayangnya mereka tidak dapat berbicara. Pendidikan masa kini terus dikembangkan dengan sungguh-sungguh. Anak-anak itu sudah diajarkan melihat gerak bibir. Mereka melihat gerak bibir dengan mata dan mencoba memahami yang Anda katakan. Dengan membaca gerak bibir Anda, mereka mengerti yang Anda katakan. Jadi, fungsi kesadaran pendengaran mereka mereka alihkan kepada indra mata. Dengan pikiran terfokus, mereka menggunakan mata untuk membaca gerak bibir yang berbicara
Tentu fungsi kesadaran pikiran juga diperlukan. Mereka harus berkonsentrasi. Indra mata harus terfokus pada bibir dan gerakan lawan bicara. Jadi, indra dan kesadaran berfungsi bersamaan. Kesadaran dan indra ini tentu harus bersinergi. Jadi, kesadaran penglihatan ini adakalanya harus menjalankan berbagai fungsi. Karena itu, saya sering bilang mendengar dengan mata. Anak-anak tadi mendengar dengan mata. Meski tak bisa mendengar suara orang berbicara atau berada agak jauh dari sumber suara, asalkan kita dapat bersungguh hati, kita tetap dapat mengerti hanya dengan melihat karena kesadaran penglihatan ini sangat tajam. Ini mengenai kesadaran penglihatan. Mengenai kesadaran pendengaran, saat mata tak dapat melihat, kita dapat mendengar dengan telinga
Meski tak melihat, ada orang yang ingatannya sangat baik. Dengan mendengar suaranya saja, dia sudah dapat mengingat siapa orang yang ditemuinya, sama seperti melihat langsung orangnya. Adakalanya, meski melihat beberapa kali, kita tetap tak bisa mengenali orang-orang tertentu. Meski sudah dikenalkan dan sudah melihatnya langsung, kita tetap tidak ingat saat bertemu kembali. Inilah akibat indra dan kesadaran yang tidak terfokus. Saat diperkenalkan kepada orang lain, kita mungkin tak melihat dengan jelas ataupun mendengar dengan jelas, sehingga pikiran kita tidak mengingatnya. Karena itu, saat bertemu kembali dan ditanya apakah kita mengenalinya, kita ternyata sudah lupa. Inilah kesadaran penglihatan dan pendengaran yang melemah atau tiadanya konsentrasi pikiran. Saya adalah salah satu orang seperti ini. Saya sering tidak mengenali orang
Repot sekali. Jadi, berkaitan dengan kesadaran pendengaran, jika kita dapat bersungguh hati, maka suara orang yang dikenalkan kepada kita ataupun berbicara kepada kita, akan dapat terus kita ingat dan kita kenali dalam interaksi berikutnya, Tidak perlu orang bertanya, “Kamu kenal suara saya?” Tidak perlu. Begitu orang itu berbicara, kita bisa langsung menjawab, “Oh, saya tahu kamu siapa.” Lihatlah, ini jika kesadaran pendengarannya tajam. Asalkan kita bersungguh hati, Seharusnya fungsi pendengaran dapat menggantikan penglihatan yang terganggu. Kita sering melihat orang menggunakan komputer, tetapi tidak perlu melihat papan tombol. Mereka tetap bisa mengetik
Saya tak habis piker. Bukan hanya bisa mengetik, tetapi juga bisa menjadi ahli computer. Sungguh luar biasa. Inilah berkat kesungguhan hati. Setelah kesadaran penglihatan dan pendengaran, selanjutnya penciuman. Hidung dapat mencium aroma yang berasal dari tempat yang jauh dan mengenali benda apa yang mengeluarkan aroma itu. Mata tak perlu melihatnya, telinga juga tak perlu mendengarnya
Orang bisa menggunakan kesadaran penciumannya atau saraf penciumannya untuk mengenali aroma segala sesuatu baik tanaman, bahkan manusia. Aroma manusia juga dapat dikenali. Biasa kita tidak merasakannya. Hanya jika jumlah orang cukup banyak, kita baru merasa aroma udara kurang sedap. Sesungguhnya, bagi mereka yang penciumannya tajam, siapa yang ada di hadapan mereka dapat mereka ketahui meski mata mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat. Mereka dapat mengetahuinya. Mungkin kita berpikir, “Apa benar?” Jika kalian bersungguh-sungguh sedikit, mungkin saja itu benar. Intinya, hidung dapat mencium aroma. Contohnya, saat ditanya tentang nama suatu pohon, asalkan pohon itu dibawa ke depan hidungnya, orang mungkin dapat mengenali jenis pohon itu
Untuk itu, dibutuhkan konsentrasi. Dengan kesadaran pengecapan, rasa manis, asin, asam, pahit, pedas, dll. dapat dirasakan dalam waktu singkat. Kesadaran pengecapan ini juga sangat tajam. Banyak orang tamak akan rasa makanan. Ini semua karena adanya indra pengecap. Dengan adanya lidah yang mengecap rasa, manusia tamak akan rasa lezat. Karena itu, manusia akan memilih, “Yang ini saya suka, yang ini tidak.” “Saya tidak suka yang masam, tidak suka yang terlalu asin, begitu pula dengan manis.” Dalam hal makan saja mereka pemilih
Bahkan untuk daging ayam saja, saya dengar orang berkata, “Kalau daging ayam negeri saya tidak mau, saya hanya mau daging ayam kampung.” Bukankah sama-sama ayam? “Memang, tetapi rasanya berbeda.” Lihatlah orang seperti ini. Hanya demi makan, mereka menciptakan banyak karma buruk. Hanya makan saja juga dapat menciptakan karma buruk akibat menelan banyak makhluk hidup. Terlebih lagi, hanya dengan bersilat sedikit saja, lidah juga dapat menimbulkan masalah. Betapa banyak bencana di dunia ini yang disebabkan oleh lidah. Jadi, kesadaran pengecapan di sini berkaitan dengan pengecapan rasa, terutama makanan. Sesungguhnya, lidah memiliki banyak fungsi. Selain mengecap rasa makanan, aktivitas berbicara dan sebagainya juga membutuhkan lidah
Lihatlah, ada anak yang sangat cantik, dapat mendengar, juga dapat melihat, tetapi tidak dapat berbicara atau berbicaranya tidak jelas. Mengapa bicaranya tidak jelas? Karena pengaruh bentuk lidah. Ada orang yang lidahnya terlalu pendek, ada pula yang terlalu runcing. Dalam perkembangan indra lidah ini, jika ada kelainan sedikit saja, indra lidah ini tak akan berfungsi baik. Beruntung, ilmu kedokteran kini sudah maju. Kelainan lidah ini ada yang bisa diperbaiki. Intinya, untuk memiliki indra yang sempurna bukanlah hal yang mudah. Berikutnya adalah kesadaran perabaan. Ini berkaitan dengan seluruh tubuh kita. Suhu dingin atau panas, saat ditanyakan kepada kita, di dalam otak kita mungkin kesadaran pikiran langsung bereaksi dan berpikir bahwa udara sangat panas karena kita masih membutuhkan kipas angin
Benar. Inilah hasil dari kontak antara indra dan kondisi. Suhu udara pada musim gugur sesungghnya masih tak terlalu panas. Akan tetapi, saat orang banyak duduk di dalam ruangan yang sama, kita masih membutuhkan kipas angin. Ini lebih sesuai dengan tubuh kita, tidak dingin, juga tidak panas. Setelah musim gugur berlalu, datanglah musim dingin. Saat itu, apakah dingin atau panas? Dingin. Kita memeriksa sudahkah pintu terututp rapat, takut angin dari luar masuk ke dalam. Inilah kesadaran perabaan. Jadi, baik penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan, semuanya memiliki fungsi kesadaran, memiliki saraf untuk merasakan
Sesungguhnya, saraf ini berkaitan dengan perasaan dan pikiran. Pikiran ini berada di urutan keenam. Setelah kesadaran penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan, berikutnya adalah yang keenam, yakni kesadaran pikiran. Kesadaran adalah hasil dari kontak enam indra dengan objek rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan objek mental. Pikiran berkaitan dengan objek-objek mental, artinya banyak yang ingin kita ketahui. Inilah objek yang keenam. Begitu banyak hal yang masuk ke pikiran kita dengan bentuk yang berbeda-beda. Inilah objek-objek mental, yakni berbagai hal yang kita pilah dalam pikiran. Inilah kesdaran keenam. Jadi, fungsi dari keenam-enamnya berawal dari enam indra yang bersentuhan dengan enam objek yang lalu merangsang enam kesadaran
Akibat bertemunya indra dan objek, barulah kita dapat mengecap rasa, melihat rupa, dan merasakan kondisi luar. Akan tetapi, tanpa indra pikiran dan tanpa kesadaran ke-6, kita tak bisa melakukan semua itu. Contohnya saya bertanya pada kalian, “Bagaimana rasa dan aroma durian?” Apakah sekarang ada durian? Tidak. Akan tetapi, kalian semua tahu durian. Mengapa bisa tahu? Aroma durian sangat menyengat. Mengapa? Jika sekarang saya bertanya tentang durian, kalian sudah tahu bagaimana aroma durian yang sebenarnya. Apakah kalian menciumnya? Mengapa tidak? Karena di sini tidak ada durian. Kalian semua tahu karena sebelumnya pernah mencium aromanya. Akan tetapi, apakah kini kalian menciumnya? Jadi, artinya, semua ini dimulai dengan kontak antara indra kita dengan objek luar
Setelah itu, timbul kesan terhadap enam objek. Setelah kondisi tadi berlalu, kita sudah tidak merasakan objek itu, kita hanya tahu pengalaman itu. Akan tetapi, kita tak lagi merasakannya. Kita tahu aroma durian tidak begitu enak. Kita tahu, tetapi sekarang tak ada buah durian di sini, maka kita tak dapat merasakannya. Jadi, kita biasanya sering membahas hingga kesadaran ke-8. Selain enam kesadaran tadi, fenomena dunia luar yang telah masuk dalam pikiran kita akan meninggalkan kesan. Setelah suatu kondisi berlalu, ingatan terus ada dalam batin kita
Ini berkaitan dengan kesadaran ke-7. Beberapa hari lalu kita sudah membahas tentang fungsi kesadaran ke-7. Sesungguhnya, saat indra mata kita bersentuhan dengan kondisi luar, ia menangkap fenomena ini dan memasukkannya ke dalam batin. Akan tetapi, ia tidak berfungsi bagi kita. Kondisi di luar mungkin sangat indah, tetapi ia berlalu begitu saja. Akan tetapi, jika kondisi yang kita hadapi adalah dimaki oleh orang lain, maka kita akan selalu mengingatnya. Apa yang membuat kesan ini terus ada? Ketika dimaki, kita sangat marah. Kelak jika melihat orang ini, pita akan merasa benci
Ini adalah ingatan yang terus muncul berulang kali, mengingatkan kita pada kejadian di masa lalu. Gambaran kontak antara pikiran dan kondisi luar ini terus datang berulang-ulang. Inilah ingatan. Setelah mengingatnya, kita merasa tidak senang dan berencana untuk kembali memfitnahnya. Berbagai pemikiran mulai bermunculan. Setelah kita mengambil tindakan yang didasarkan pada perasaan benci ini, berarti kita telah menanam benih karma yang akan tersimpan dalam kesadaran ke-8. Jadi, demikianlah kita menanam benih yang akan berbuah di kehidupan mendatang. Intinya, Enam kesadaran berfungsi untuk mengenali kondisi luar
Kesadaran ke-7 berfungsi sebagai pengingat, dan kesadaran ke-8 berhubungan dengan benih karma. Itulah mengapa dalam melatih diri kita harus sangat bersungguh hati. Kita harus ingat bahwa segala rekasi dari kondisi yang kita alami dan hadapi saat ini berhubungan erat dengan kehidupan mendatang. Jadi, dalam melatih diri kita juga harus ingat bahwa kita juga membawa benih karma dari kehidupan lampau. Benih yang baik harus kita pertahankan, sedangkan yang buruk harus kita buang. Ini bergantung pada pelatihan kita saat ini. Jadi, enam kesadaran pertama berhubungan dengan fungsi kontak dengan dunia luar, kesadaran ke-7 menggerakkan ingatan dan pemikiran kita, dan kesadaran ke-8 menyimpan benih karma. Intinya, kita harus bersungguh hati. Lebih jauh lagi, berikutnya adalah enam persepsi. Enam persepsi juga berkaitan dengan enam objek
Tadi kita sudah membahas tentang enam objek, yakni rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dll. Objek-objek ini, baik rupa, suara, maupun yang lainnya, saat mengalami kontak dengan enam indra menggerakkan fungsi kesadaran yang kemudian menimbulkan persepsi. Setelah timbul persepsi, kondisi tersebut sudah masuk ke dalam batin kita. Jadi, kita mulai membedakan mana yang tinggi, mana yang rendah, mana pohon, mana rumput. Setelah kondisi itu berlalu, gambaran tentang objek ini tetap terukir di dalam batin kita. Inilah enam persepsi. Setelah mengalami kontak dengan objek luar, kita menyimpan kesan di dalam batin dan segera bereaksi. Reaksi kita didasari oleh persepsi, contohnya, “Yang ini saya suka, saya hendak memilikinya
” “Yang ini saya tidak suka, saya takut, saya akan segera menghindar darinya.” Fenomena ini dianalisis oleh kesadaran pikiran. Jadi, terhadap fenomena ini, kita salah jika melekatinya. Kita salah jika melekat pada persepsi ini. Karena itu, sering dikatakan, “Pemikiran orang ini menyimpang.” Fenomena atau hal yang kita hadapi telah kita persepsikan secara salah. Akibatnya, kita mungkin merusak akar kebajikan. Contohnya, jelas-jelas orang ini berbicara kepada kita dengan maksud baik, sedang menasihati kita, tetapi kita malah merasa orang itu sedang menghasut kita atau sedang menyindir kita
Terhadap ucapan yang sama, jika kita bisa menyikapinya dengan positif, maka kita akan dapat membangkitkan rasa syukur. Jika kita tidak memiliki sikap positif, maka ucapan itu akan kita anggap masalah. Saya pernah berbagi cerita tentang sepasang kakak ipar dan adik ipar. Adik ipar ini sangat menyayangi kakak iparnya dan ingin melindunginya. Setelah kakak ipar ini masuk dalam keluarga, ibu mertuanya sangat cerewet. Adik ipar ini memiliki rasa keadilan yang tinggi. Dia merasa ibunya sangat tak masuk akal dan sangat cerewet terhadap kakak iparnya. Dia merasa ibunya sering menyindir kakak iparnya, sedangkan kakak iparnya hanya tersenyum dalam menerima perlakuan ibu mertuanya. Adik ipar ini lalu berkata, “Kakak ipar, mengapa kamu bodoh sekali?” “Ucapan yang baru saja Ibu katakan, apakah kamu tidak mengerti?” Kakak iparnya menjawab, “Tidak
” “Yang Ibu katakan itu benar.” “Saya tidak mengerti.” “Jika Ibu bilang saya salah, berarti saya memang salah.” “Saya harus memperbaiki diri.” Lambat laun, adik iparnya ini merasa dia harus lebih melindungi kakak iparnya. Dia merasa, “Kakak ipar tak bisa tanpa saya.” “Jika tidak ada saya, Kakak ipar pasti akan ditindas orang.” Suatu hari dia mengajak kakak iparnya datang kemari. Dia terus berkata, “Kakak ipar saya benar-benar bodoh
” “Master, tolong beri dia sedikit wejangan.” “Bodoh bagaimana,” tanya saya. Dia melanjutkan, “Ibu mengatakan banyak hal negatif, dia bilang dia tidak mengerti.” “Semua yang orang katakan dia terima saja.” Saya bertanya kepada sang kakak ipar, “Bagaimana?” “Ibu mertua memarahimu, apakah kamu sama sekali tidak marah?” Dia menjawab, “Master, orang tua punya lebih banyak pengalaman.” “Paling tidak, dia sudah lebih banyak makan asam garam.” “Jika saya melakukan sesuatu, lalu orang lain bilang saya salah dan memberikan nasihat, maka tentu saya harus memperbaiki diri.” “Semakin lama pasti semakin baik.” “Saya seharusnya bersyukur
” Saya berkata kepada sang adik ipar, “Kakak iparmu penuh rasa sukacita.” “Meski dimarahi, dia tetap tidak marah, malah bersyukur.” “Dia sangat bijaksana.” “Kamu minta saya memberi wejangan apa?” “Dia sudah sangat bijaksana.” “Dia dapat berlapang dada, penuh pengertian, dan penuh rasa syukur.” “Dia sangat tahu berpuas diri.” “Sisi mananya yang tidak baik?” “Sebaliknya, kamu yang kurang berlapang dada.” “Kamu mendengar ocehan ibumu dengan persepsi lain.” “Mendengar kata-kata ibumu, kamu hanya mengambil ‘tulangnya’, sedangkan ‘dagingnya’ yang baik malah tidak kamu lihat
” Dia menjawab, “Kalau begitu saya yang salah?” jika kita berpikir dari sisi yang negatif, segala sesuatu akan terlihat tidak baik, juga terdengar tidak enak. Ini bergantung pada cara apa yang kita gunakan dalam menghadapi kondisi luar. Kita harus menghadapi semuanya dengan sikap positif, sehingga semua tetap terasa indah. Ini sangat penting. Sebaliknya, persepsi yang salah dapat merusak akar kebajikan kita. Persepsi negatif pasti merusak akan kebajikan. Karena itu, kita harus sangat waspada. Jika persepsi kita tidak benar, maka kenyataan akan terlihat kabur dan batin kita akan dipenuhi pikiran salah. Pikiran salah ini akan terus berkembang. Dengan begitu, setiap bertemu sesuatu, kita akan memasukkannya ke dalam hati hingga terus menumpuk
Lihatlah, jika kita mengambil kamera untuk memotret, lalu lupa menggulung negatifnya dan kita terus memotret, maka gambarnya akan bertumpuk. Akibatnya, gambar-gambar itu menjadi tidak jelas karena saling bertumpuk. Jika saat memotret ada getaran sedikit saja, baik objeknya yang bergetar maupun kameranya yang bergetar, gambar yang dihasilkan pun akan buram. Demikian pula, jika pikiran dan persepsi kita tidak benar, maka pikiran keliru akan terus berkembang. Pemikiran yang bersifat ilusif ini akan terus menumpuk. Bukankah kita sering mendengar orang yang mengalami masalah kejiwaan? Mereka suka berhalusinasi
“Dia terus berbicara dengan saya.” “Siapa yang berbicara denganmu?” “Dia.” “Dia siapa?” “Suaranya terus terdengar di telinga saya.” Ini adalah halusinasi. Ada pula yang berhalusinasi lewat penglihatan. “Saya jelas-jelas melihatnya.” “Orang itu…” Kondisi ini sudah cukup parah
Inilah ilusi atau halusinasi. Jadi, kondisi seperti itu disebabkan oleh kekacauan dalam pikiran. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus menjaga pikiran kita dengan baik. Kita harus memahami jelas kondisi luar. Jika tidak, kita akan terbuai halusinasi. Jika pemikiran ilusif ini terus muncul, maka kita akan diliputi pikiran salah
Dengan begitu, fungsi indra kita dan fungsi kesadaran kita juga akan terganggu. Akibatnya, kesadaran pikiran kita juga akan mengalami gangguan. Saat berpikir untuk melakukan sesuatu, kita akan semakin keluar jalur. Saudara sekalian, pelatihan diri sungguh sangat sulit. Akan tetapi, asalkan pikiran kita murni dan sederhana, seharusnya kita dapat menjalaninya dengan baik. Untuk itu, senantiasalah bersungguh hati.