Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 133 – Enam Indra – Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, akibat adanya enam indra, batin kita dapat membedakan kondisi dan objek luar. Mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh. Lima indra ini adalah perpaduan empat unsur. Kita sering mengatakan bahwa tubuh adalah perpaduan semu empat unsur

 Empat unsur adalah tanah, air, api, angin. Karena memiliki tubuh ini, kita dapat bersentuhan dengan objek luar, sedangkan indra pikiran menggerakkan fungsi mental. Saat tubuh kita sehat, telinga dapat mendengar dengan jelas, mata dapat melihat dengan jelas, hidung dapat membedakan aroma dengan jelas, lidah dapat merasakan tekstur makanan, tubuh dapat merasakan kondisi cuaca. Ini karena adanya objek luar, juga karena tubuh berada dalam kondisi sehat dan empat unsur selaras, maka indra kita berfungsi dengan baik sehingga segala kondisi luar dapat kita cerna

 Dengan adanya kontak ini, indra pikiran kita mulai menggerakkan fungsi-fungsi mental. Fungsi mental ini akan membedakan. Baik ketamakan, kebencian, maupun kebodohan, semua berawal dari pikiran. Jadi, begitu indra pikiran bekerja dan fungsi-fungsi mental berjalan, keadaan batin kita akan menjadi lebih kompleks. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, saat berlatih metode Sravakayana, dikatakan bahwa indra pikiran ini berkaitan dengan kesadaran keenam. Menurut metode Sravakayana, pikiran berkaitan dengan kesadaran keenam yang disebut kesadaran pikiran

 Ada kesadaran penglihatan, pendengaran, penciuman, dll. Jadi, kesadaran pikiran adalah yang keenam. Indra pikiran ini berkaitan dengan kesadaran pikiran. Di dalam ajaran Mahayana, kita mengenal kesadaran ke-7 dan ke-8. Dahulu saya juga pernah membahas ini. Kesadaran ke-8 adalah kesadaran gudang

 Semua yang masuk ke sana akan tersimpan. Sebelum ada yang masuk ke dalam kesadaran gudang, kita terlebih dahulu menciptakan karma. Karma bermula dari pikiran yang halus yang terus berproses meski kondisi telah berlalu. Contohnya, “Saya menyukai dia.” “Saya tidak rela berpisah dengannya.” Jadi, saat hubungan tak berjalan lancar dan akhirnya berpisah, ketidakrelaan masih ada dalam hati. Saat yang diinginkan tidak tercapai, kita merasa tidak berdaya. Pikiran kita masih terus melekat dan tidak mampu merelakan

 Ketika ketamakan seperti itu timbul, kita akan berpikir untuk melakukan sesuatu untuk mendapatkan yang kita inginkan. Jadi, semua ini bermula dari pikiran. Setelah batin bersentuhan dengan kondisi luar, pemikiran mulai timbul. Jika pikiran kita tidak terjaga dengan baik, ia akan menimbulkan banyak masalah atau akan mengaduk-aduk perasaan kita atau akan membuat kita menghalalkan segala cara. Semua ini berkaitan dengan kesadaran ke-7. Apa pun yang kita lakukan, segala benih perbuatan yang kita tanam ini akan tersimpan dalam kesadaran ke-8. Karena itu, kita sering mendengar, “Segala sesuatu tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti

” Inilah awal terciptanya karma. Saat benih karma tercipta, ia akan tertanam dalam kesadaran ke-8. Jadi, dalam aktivitas keseharian kita, indra yang berfungsi bukan hanya lima. Sesungguhnya, persepsi dan pemikiran kita juga bekerja di dalam batin dan menimbulkan banyak kesan, seperti tidak suka terhadap seseorang, benci terhadap seseorang, sehingga kita berpikir untuk menyingkirkannya. Inilah pemikiran. Kita terus mengingat yang sudah lalu, mengingat bagaimana buruknya perlakuan orang lain. Ini seperti yang banyak orang katakan, “Membuat perhitungan setelah perkara berlalu

” Ini adalah akibat fungsi kesadaran kita. Setelah suatu masalah berlalu, kita masih terus merisaukannya. Demikianlah pemikiran dan ingatan kita. Jika mengarah pada hal yang tidak baik, ia akan menjadi awal terciptanya karma buruk. Jadi, indra pikiran juga mengalami kontak dengan kondisi luar. Lalu, proses berpikir pun dimulai. Jadi, mengenai pikiran ini, sungguh harus selalu kita perhatikan. Jadi, kita harus memerhatikan dengan sungguh-sungguh. Ini sungguh penting

 Dalam melatih diri, jika tidak sungguh-sungguh, tidak benar-benar memerhatikan pikiran, maka saat pikiran ini menyimpang sedikit saja, kita akan menciptakan karma buruk. Kita harus sangat memerhatikan hal ini. Orang sering berkata tentang konsentrasi, artinya pikiran kita harus terfokus, yakni terfokus pada kondisi batin kita. Jadi, kita harus benar-benar bersungguh hati. Dalam keseharian, kita mungkin tak merasakan apa-apa. Akan tetapi, saat indra pikiran ini menyimpang, maka berbagai noda batin akan timbul dan membawa kerisauan bagi kita. Kita harus sangat hati-hati. Di dalam Sutra ada sebuah kisah. Ada seorang raja yang menganut Brahmanisme. Dia sangat taat dan tulus

 Dia sangat menghormati aturan agamanya. Aturan dalam Brahmanisme juga cukup baik, yakni mengajarkan untuk melatih batin dan berbuat baik. Jadi, raja ini sangat taat dalam melatih batin dan berbuat baik. Berhubung menganut Brahmanisme, dia sangat menghormati para brahmana, sama seperti umat Buddha menghormati para Sramana. Suatu ketika, raja merasa harus berdana besar-besaran. Dia memerintahkan gudang kerajaan untuk dibuka. Raja ingin berdana besar-besaran bagi kaum papa. Untuk itu, dia mengeluarkan pengumuman bahwa gudang istana akan dibuka selama tujuh hari, dan siapa saja yang membutuhkan sesuatu boleh mengambilnya dari sana

 Sungguh banyak orang yang datang. Raja menata barang-barang dengan teratur. Baik makanan, barang kebutuhan sehari-hari, maupun permata, semuanya ada. Di hari ketiga, datanglah seorang brahmana. Terhadap brahmana ini raja secara khusus memberi penghormatan. Raja berkata kepada sang brahmana, “Inilah yang aku nanti-nantikan.” “Aku dapat menggunakan kesempatan ini untuk berdana besar-besaran.” “Apa pun yang engkau butuhkan, silakan ambil.” “Apakah itu seraup, setumpuk, engkau boleh pilih sendiri dan ambil sesuka hati

” Brahmana ini pun sangat senang. Dia pun mengambil setumpuk permata dan memasukkannya dalam sebuah kantong. Lalu, dia pun bergegas pergi. Setelah berjalan tujuh langkah, brahmana ini kembali lagi dan mengembalikan permata-permata tadi. Raja lalu bertanya, “Ada apa?” “Semua yang engkau mau sudah aku ikhlaskan.” “Mengapa dikembalikan lagi?” Brahmana ini menjawab, “Mulanya, aku mengambil permata ini karena berencana membangun sebuah rumah.” “Akan tetapi, aku berpikir, jika sudah membangun rumah, maka aku harus menikah, dan permata ini pasti tidak akan cukup.” “Lebih baik aku tidak mengambilnya, jadi aku kembalikan saja.” Raja berkata, “Jika engkau ingin menikah, tidak masalah

” “Mari, ambil saja tiga raup lagi.” Sang brahmana benar-benar membuka kantongnya dan memasukkan lagi tiga raup permata. Setelah itu, dia pun beranjak pergi. dia kembali berhenti dan berpaling. Raja kembali bertanya, “Ada apa lagi?” Sang brahmana mengembalikan lagi kantong yang penuh permata tadi. Dia berkata, “Masih tidak cukup.” “Berhubung tidak akan cukup, maka lebih baik saya tidak mengambilnya

” “Mengapa tidak cukup?” Dia menjawab, “Setelah memiliki rumah, lalu memiliki istri, aku tentu harus mencari nafkah.” “Aku harus memiliki ladang.” “Setelah memiliki ladang, tentu perlu orang untuk mengerjakannya.” “Selain ladang, aku tentu perlu pekerja.” “Aku rasa ini masih tidak akan cukup.” “Jadi, lebih baik aku kembalikan saja.” Raja kemudian menjawab, “Kalau begitu, ambil saja tujuh raup lagi.” “Aku berikan tujuh raup permata lagi untukmu.” Setelah memasukkannya ke dalam kantong, brahmana ini kembali bergegas pergi. Akan tetapi, setelah tujuh langkah, dia masih kembali lagi

 “Lebih baik jangan, lebih baik aku kembalikan saja.” “Mengapa?” “Jika aku membangun rumah, menikah, dan memiliki ladang, meski hidup akan dapat dilewati dengan baik, tetapi kelak aku tetap harus membesarkan anak.” “Jika aku memiliki anak, tentu kelak harus mengatur pernikahan mereka.” “Setelah mereka menikah, entah kehidupan mereka baik atau tidak.” “Jika baik, aku akan tenang, tetapi jika tidak, aku tetap harus membantu mereka.” “Begitu banyak yang harus ditanggung dan diperhitungkan, lebih baik tidak usah saja.” Raja kemudian berkata, “Jika engkau masih merasa tidak cukup karena memikirkan anak-anakmu kelak, maka ambillah lagi sampai engkau rasa cukup.” “Simpanlah semuanya untuk masa depanmu

” Brahmana ini mengambil semua permata dan bergegas untuk pergi. Setelah beberapa langkah, dia kembali lagi. “Lebih baik tidak usah.” “Mulanya aku meminta sedekah demi bertahan hidup, demi membangun rumah, demi memiliki istri, demi membesarkan anak.” “Aku menginginkan ladang, juga harus memikirkan kehidupan anak-anak.” “Semua permata tetap tidak cukup.” “Begitu banyak kerisauan dalam hatiku.” “Lebih baik aku tidak mengambil permata ini

” Sang raja pun merasa aneh. Sebenarnya, apa keinginan sang brahmana? Brahmana ini berkata, “Jika sungguh-sungguh direnungkan, sesungguhnya berapa panjang usia manusia?” “Berapa tahun yang tersisa?” “Usia manusia tidaklah begitu panjang.” “Segala sesuatu tidak kekal dan sulit diprediksi.” “Segala sesuatu pada dasarnya tidak kekal.” “Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi.” “Apakah segala milik kita dapat dipertahankan?” “Terlebih lagi, jalinan karma yang semakin dalam akan menambah penderitaan.” Saat jalinan karma semakin dalam, kita akan mudah terbawa olehnya dan menjadi semakin risau. Dengan begitu, penderitaan akan semakin dalam

 Ini sungguh penderitaan yang tak terkira. Sang brahmana berkata, “Menimbun permata setinggi gunung pun tiada manfaat bagi diri sendiri.” “Meski kini baginda memberiku banyak permata, aku tetap merisaukan keturunanku.” “Meski kini aku menimbun banyak harta, namun entah sesungguhnya berapa lama lagi waktu hidupku.” “Segala harta kekayaan ini sesungguhnya tidak bermanfaat bagi diriku.” “Menimbun permata setinggi gunung pun tiada manfaat bagi diri sendiri

” “Menuruti ketamakan dan nafsu hanya membawa derita bagi diri sendiri.” “Meski terus dituruti, nafsu dan ketamakan tidak akan ada habisnya.” “Berapa pun besarnya rencana dan ambisi dalam hidupmu, sesungguhnya hanya akan menambah derita bagi diri sendiri.” “Jadi, kita lebih baik menghentikan keinginan dan mencari jalan menuju kebenaran absolut.” “Kita lebih baik menghentikan nafsu keinginan.” “Janganlah membiarkan nafsu keinginan ini terus bermunculan.” “Ini akan membawa derita.” “Jika aku membiarkan nafsu dan keinginanku semakin besar, sesungguhnya aku sendiri akan sangat menderita.” “Lebih baik hentikan keinginan, dan carilah jalan menuju kebenaran absolut.” “Untuk itu, kita harus memiliki pikiran murni

” “Pikiran yang murni tidak ternoda oleh nafsu duniawi.” “Inilah yang disebut murni.” “Oleh karena itu, kini aku tak ingin apa-apa lagi.” “Tiada lagi yang kuinginkan.” Setelah mendengarnya, sang raja sangat terkejut. Meski menganut paham Brahmanisme, mengenal banyak brahmana, dan sering menerima ajaran brahmana, tetapi tidak pernah mendengar ajaran seperti ini. Sang raja belum pernah mendengar ajaran yang mengingatkan singkatnya hidup dan menyadarkan kita bahwa dalam keseharian kita terus-menerus mengejar segala sesuatu. Setelah memiliki segalanya, apakah lantas merasa puas? Tidak juga

 Meski menimbun kekayaan setinggi gunung, apakah manfaatnya bagi diri sendiri? Raja merasa pemikiran ini amat jarang ditemui, terlebih mengenai penghentian keinginan– kita harus menghentikan segala nafsu keinginan sehingga batin kita kembali murni. Raja merasa bahwa kondisi batin seperti ini adalah yang tertinggi. Ketika hendak bertanya lebih jauh, brahmana ini sudah berubah wujud menjadi sangat suci dan bercahaya. Ternyata, brahmana itu adalah Buddha Sakyamuni. Beliau menjelma sebagai brahmana untuk membimbing sang raja. Beliau membabarkan Dharma bagi raja. Raja merasakan kelapangan hati Buddha yang seluas jagat raya. Meski dalam kondisi batin itu tiada lagi kemelekatan terhadap segala sesuatu di dunia, namun raja sangat mendambakan kondisi tersebut

 Jadi, raja menyatakan berlindung dan berguru pada Buddha. Beliau menyebarkan ajaran Buddha ke seluruh negeri untuk mendidik rakyat. Beliau memohon Buddha untuk membabarkan Dharma bagi rakyat sehingga rakyat di seluruh negeri menerima ajaran Buddha. Di saat yang sama, banyak praktisi ajaran luar, terutama Brahmanisme merasa bahwa perubahan keyakinan raja yang tiba-tiba ini sangat merugikan bagi ajaran mereka. Mereka merasa popularitas mereka akan hilang sehingga menyimpan rasa tidak senang. Jadi, mereka memikirkan cara untuk mengatasi Buddha dan merusak persamuhan Sangha. Buddha tentu sangat bijaksana. Dengan samadhi dan kebijaksanaan-Nya, Beliau menaklukkan mereka satu demi satu. Selain raja dan rakyat, semua penganut ajaran luar di seluruh negeri secara perlahan-lahan pun takluk. Inti dari cerita ini adalah kita harus bersungguh hati. Mengenai pikiran, jika tidak kita jaga dengan baik, maka seperti yang sang brahmana katakan, “Saya ingin rumah, ingin punya istri, setelah menikah ingin memiliki ladang dan pelayan, lalu ingin punya anak, entah punya berapa orang anak, lalu entah bagaimana kehidupan anak-anak ini; jika tidak baik, aku sendiri harus membantu mereka

” Demikianlah, keinginan kita terus berlanjut dan tak berujung. Pemikiran di dalam batin ini akan menimbulkan banyak gejolak dan banyak keinginan. Keinginan ini sesungguhnya amat besar. Karena itu, ada ungkapan berbunyi, “Pikiran bagai pelukis yang dapat melukis segala sesuatu.” Ia dapat melukis banyak hal. Semua ini bermula dari pikiran. Niat dalam pikiran ini adalah benih karma kita. Pikiran adalah awal dari terciptanya benih karma. Lihatlah sebutir benih padi. Ia harus disemai terlebih dahulu agar bertunas, baru dapat ditanam. Dengan dukungan berbagai kondisi, ia baru dapat tumbuh dan menghasilkan gabah

 Demikian pula pikiran kita. Jadi, kesadaran ke-8 setiap orang bagaikan sebuah gudang yang besar. Kita telah menimbun banyak benih di dalamnya sejak kehidupan lampau. Seluruh benih ini terklasifikasi dengan jelas. Bergantung pada kondisi yang kita temui, benih-benih itu mulai bertumbuh, terus membuat batin kita bergejolak, sehingga kerisauan timbul tanpa henti. Di masa lampau, mungkin kita hanya menanam sebutir benih saja

 Akan tetapi, pada kehidupan ini, pemikiran kembali timbul. Selain itu, kontak pikiran dengan kondisi luar kembali menimbulkan persepsi. Kondisi luar yang bersentuhan dengan pikiran kita membuat kita membedakan antara yang disuka dan tidak. Yang disuka terus kita pikirkan siang malam. Pikiran ini berjalan begitu saja. Ingatan ini tidak pernah lepas dari pikiran. Inilah nafsu keinginan, bagaimana pun tidak pernah lepas dari pikiran kita

 Ia akan terus berlanjut secara alami. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mendalami proses sejak kondisi luar bersentuhan dengan indra kita hingga timbul pemikiran dalam batin kita. Batin setiap orang sesungguhnya bagai sebuah cermin yang dapat merefleksikan segala hal dengan sangat jelas. Jika cermin ini tercemar, maka kondisi luar tak akan terefleksi dengan jelas. Jadi, kita harus sungguh-sungguh melatih indra kita agar dapat memilah segala kondisi luar yang dihadapi. Indra pikiran harus dijaga dengan baik agar tidak menyimpang akibat kondisi luar

 Jadi, harap semua selalu bersungguh hati dan memerhatikan pikiran dengan baik.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888