Sanubari Teduh – 132 – Enam Indra – Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, hari demi hari, ajaran yang kita dengar selalu sama. Setiap hari kita berada dalam kondisi yang begitu tenang. Pagi-pagi, yang kita dengar adalah ketukan kayu yang membangunkan kita. Setelah mendengarnya, aktivitas harian kita akan segera dimulai. Pertama, kita harus membangkitkan rasa hormat dan melakukan kebaktian di aula
Semua orang mulai berbaris rapi dan mengambil posisi masing-masing. Kita menghadap rupang Buddha, mendengar suara lonceng dan ikan kayu, lalu ikut melantunkan isi Sutra. Pada saat tersebut, pikiran kita sungguh tenang. Yang ada hanya ketulusan. Ini adalah hal yang luar biasa karena bagi kita para praktisi, kondisi ini adalah kondisi keseharian kita. Ini yang disebut berada di jalan pelatihan
Kita harus membangkitkan tekad dan membangun ikrar untuk memilih cara hidup seperti ini. Ini adalah rel kehidupan kita. Kita harus menjalani hidup ini sesuai rel itu. Ini disebut berada di jalan pelatihan. Seusai melantunkan Sutra, kita mendengarkan wejangan. Kita sangat menyukai hari-hari seperti ini. Akan tatapi, batin kita sejak awal hingga saat ini apakah senantiasa berada dalam kondisi sama? Apakah hati dan pikiran kita dapat selalu berada dalam kondisi yang seharusnya, yakni berada dalam jalan pelatihan? Jika ya, maka pelatihan kita akan murni tanpa noda. Dengan begitu, kita akan sehat lahir batin. == Setelah melantunkan Sutra, kita mendengar wejangan Dharma
Sebelum mendengar wejangan, terlebih dahulu kita bermeditasi. Apa yang kita dengar saat itu? Keheningan. Hanya keheningan. Apakah masih ada suara? Hanya ada suara hening. Suara keheningan ini sungguh dapat membersihkan batin kita. Kita mungkin merasa agak panas karena saat cuaca di luar panas, saat melantunkan Sutra kita tentu juga bisa merasa kepanasan. Saat orang dalam ruangan begitu banyak, kita mungkin merasa tidak nyaman. Berhubung udara terasa panas, kita jadi merasa tidak nyaman. Akan tetapi, setelah kita duduk dan menenangkan hati, kondisi luar ini mulai menyatu dengan hati kita di tengah keheningan. Kita sering membahas tentang “hati yang hening dan jernih”. Mengenai keheningan, saat batin kita sangat hening, maka tidak aka nada kerisauan atau berbagai pikiran rumit lainnya
Saat itu, batin kita sangatlah tenang dan jernih. Jernih berarti jelas terhadap kondisi. Dahulu saya pernah mengatakan, saat batin sangat hening, kita akan dapat mendengar derik serangga dan kicauan burung. Selain itu, kita juga dapat mendengar suara napas alam. Kondisi ini sungguh sangat hening. Inilah suara alami bumi ini. Bagaimana cara melatih diri agar dapat kembali menyatu dengan keheningan yang alami? Bukankah sangat sulit? Memang sulit. Karena itu, kita harus senantiasa memiliki hati yang penuh pertobatan, senantiasa membersihkan batin yang tercemar dengan air Dharma. Air Dharma dapat membersihkan segala noda kegelapan batin. Jadi, semua topik yang beekaitan dengan angka 5 ini, semuanya juga tak lepas dari pikiran. Segala yang berkaitan dengan angka 5 ini terus bermunculan dalam batin kita
Adakah Lima Kondisi Pikiran dalam batin kita? Adakah Lima Penutup? Begitu banyak faktor bercabang lima dalam batin kita. Kita harus memeriksa batin kita. Jika benar ada, kita harus bertobat. Pertobatan pun harus ditunjukkan. Jika tidak, maka disebut menutupi kesalahan. Mendengar pembahasan kita di awal tadi, entah apakah kalian ada bertanya di dalam hati. Dalam melatih diri, sangat penting bagi kita untuk bertanya ke dalam hati sesungguhnya seperti apa tekad awal kita saat memutuskan untuk melatih diri. Di mana cita-cita kita saat itu? Kini, di mana cita-cita kita? Apakah tekad kita ini sudah berubah? Sepertinya setiap topik yang kita bahas terus mengingatkan kita bahwa kita telah banyak melakukan kesalahan dan telah melanggar aturan. Setelah bertanya ke dalam hati, kita harus berusaha membuang yang buruk. Beginilah menggunakan air Dharma untuk membersihkan batin
Saya hanya bisa mencari metode yang Buddha ajarkan di tengah sibuknya kehidupan kita. Saya membersihkan batin sendiri. Selain itu, saya juga harus membagikan metode ini kepada kalian semua agar kalian juga dapat menggunakannya untuk menyucikan batin. Jadi, Dharma bagaikan air. Setiap orang hendaknya menyucikan batin sendiri. Saya hanya bisa memberi tahu kalian letak sumber air yang bersih untuk kalian membersihkan batin. Selebihnya kembali pada diri kalian masing-masing
Jadi, untuk dapat membersihkan batin, sungguh harus bergantung pada diri sendiri. Jadi, semua orang harus bersungguh hati. Dapat membersihkan batin sendiri berarti telah bertobat secara terbuka. Kita sering mendengar insan Tzu Chi berkata bahwa meski mereka adalah perumah tangga, namun saat mendengar sepenggal ajaran Buddha, mereka dapat memahami sepenggal ajaran itu. mereka menyadari sebuah kebenaran. Bagi orang yang berkemampuan lebih tajam, mereka dapat langsung memahami sepuluh kebenaran. Ada pula orang berkebijaksanaan lebih tinggi yang dapat mengerti seratus saat mendengar satu. Saat mendengar satu kalimat, mereka dapat menyadari kebenaran hidup dan segera memperbaiki diri
Kesalahan masa lalu mereka, pemikiran salah masa lalu mereka, semuanya mereka perbaiki setelah mereka bergabung dengan Tzu Chi. Jadi, untuk memiliki kejernihan batin, kita harus meninggalkan kesalahan-kesalahan masa lalu kita. Jadi, kini kita memulai lembaran baru. Akan tetapi, apakah membuang faktor-faktor bercabang lima itu sudah cukup? Buddha sangat penuh cinta dan welas asih. Di masa lalu batin kita memiliki banyak penyakit. Saat indra, objek luar, dan kesadaran bereaksi, kita mungkin melakukan banyak kesalahan. Karena itu, kehidupan menjadi sangat rumit. Entah apakah kalian mengerti hal ini. Buddha tetap terus membimbing dengan penuh welas asih dan membabarkan kepada kita bahwa masih ada faktor-faktor bercabang enam. Jadi, kini kita akan mulai membahasnya. Kita harus tahu bahwa sejak masa tanpa awal hingga hari ini, faktor-faktor bercabang satu, dua, tiga, empat, lima, terus-menerus ada dalam batin kita
Kini kita akan membahas faktor-faktor bercabang enam. Mengenai faktor-faktor bercabang enam, telah kita semua ketahui bahwa faktor-faktor tersebut sangatlah banyak, ada yang dapat membuat kita menciptakan karma buruk, banyak pula yang dapat mendukung pencapaian dalam pelatihan kita. Karena itu, dikatakan, “Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat enam indra.” Apa yang dimaksud enam indra? Enam indra adalah mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran. Semua ini disebut enam indra. Mengenai mata, saat saya berbicara kepada kalian saat ini, enam indra saya tak berhenti bekerja. Sejak pagi sebelum mendengar ketukan kayu, sebagian orang mungkin sudah bangun terlebih dahulu. Sat terjaga, enam indra langsung berfungsi penuh
Ada pengecualian, yakni saat Anda tidur, enam indra akan beristirahat. Akan tetapi, begitu Anda terjaga, baik karena mendengar ketukan kayu maupun terjaga dengan sendirinya, saat itu enam indra kita mulai berfungsi penuh. Contohnya, saat kebaktian akan dimulai, telinga saya dapat mendengar ketukan kayu. Indra telinga bereaksi terhadap objek suara. Karena itu, kita bisa mendengar. Indra mata kita juga ikut bereaksi
Saat telinga mulai mendengar, mata juga membuka. Di tempat tinggal kita ini, satu ruang tidur ditempati beberapa orang. Mata kita pun mulai memiliki kontak dengan kondisi luar. Selain itu, masih ada hidung. Saat kita berjalan keluar, setelah malam yang damai berlalu, embum menetes, aroma pepohonan serta aroma alami bumi menyebar. Kita pun dapat mencium aroma udara yang harum. Mengenai lidah, saat memasuki aula, kita akan mulai berbicara
Inilah lidah. Berikutnya adalah tubuh. Lihatlah, setelah melantunkan Sutra dan nama Buddha, kini saatnya kalian duduk mendengar dan saya yang berbicara. Terdapat enam indra pada diri kita. Lima indra pertama berwujud, sedangkan satu yang terakhir tidak, yakni pikiran. Ia disebut indra pikiran. Jika tidak berwujud, bagaimana bisa disebut indra? Karena ia dapat merasakan. Jika tidak merasakan, maka saat mata tertutup, walau ada orang yang mengambil barang di depan kita, kita tidak akan tahu saat ditanya
Meski orangnya sama, tetapi saat kita menutup mata, siapakah dia, apa pakaian yang dipakainya, barang apa yang diambilnya, dan apakah dia duduk atau berdiri, kita tidak dapat mengetahuinya. Mata kita tetap ada, hanya saja dalam keadaan tertutup. Saat mata terbuka, kita dapat melihat orang itu. Lalu kita menyatakan tidak mengenalnya. Penetapan ini dibuat oleh indra pikiran. Kita menyatakan tak mengenal orang itu dan tidak pernah melihat barang yang dibawanya. Kita bertanya-tanya barang apa itu dan apa namanya. Kita tidak tahu. Demikianlah fungsi indra pikiran
Ia dapat merasakan. Praktisi Buddhis sekalian, kita harus mengingat tekad awal. Terlebih lagi, tekad awal ini sudah pernah kita miliki sebelumnya. Kita harus berintrospeksi atas kehidupan kita. Jika ada kesalahan, kita harus segera memperbaikinya. Berhubung telah bertekad melatih diri, kita harus menaati norma dalam pelatihan ini. Tak peduli hari apa dan kapan, kita harus terus berada di jalan pelatihan ini. Jika kita dapat terus berada di jalan ini, di jalan yang telah kita tekadkan ini hidup sesuai dengan jalan ini, dan terus melangkah maju, maka barulah kita dapat mencapai tujuan yang kita harapkan. Jika pikiran kita menyimpang, maka kita akan tersesat jauh
Akan tetapi, pikiran baik saja tidak cukup. Orang lain tak bisa membaca pikiran kita dan tidak bisa melihat di mana kebaikan kita. “Kamu marah?” “Saya tidak marah.” “Tidak marah mengapa tidak tersenyum?” “Mengapa nada bicaramu tidak enak?” Demikianlah enam indra berfungsi. Saat pikiran kita menyimpang dan tertampil dalam perilaku kita, maka orang lain akan merasakan, dan ini akan menentukan bagaimana kesan orang tentang sifat kita. Mungkin orang akan merasa kita tidak biak. Jika begitu, meski tinggal di vihara besar, pelatihan diri kita tidak akan maju, apalagi kualitas diri kita. Jadi, pelatihan dan pembinaan diri bertujuan mengobati batin kita. Mulai saat ini, kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan mental kita terhadap fungsi enam indra. Mulai hari ini berusahalah untuk memerhatikan reaksi mata terhadap rupa, telinga terhadap suara, hidung terhadap aroma, lidah terhadap rasa, tubuh terhadap kondisi, dll
Pikiran kita juga harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Waktu tidak dapat kita hentikan. Harap kita semua memanfaatkan waktu, ruang di ladang pelatihan, dan hubungan antarmanusia yang melatih diri ini untuk sungguh-sungguh mengingatkan diri. Baiklah, harap semua lebih bersungguh hati.