Sanubari Teduh – 131 – Lima Kondisi Pikiran Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, kondisi yang tenang membuat hati damai dan bahagia. Kondisi batin ini juga sangat indah. Setiap hari kita membahas tentang pikiran. Kita kembali mengingat Lima Kondisi Pikiran. Pertama adalah pikiran spontan. Kedua adalah pencarian. Ketiga adalah pemutusan. Semua ini tak lepas dari keseharian kita. Saat bersentuhan dengan kondisi luar, segalanya tidak lepas dari pikiran
Karena itu, ada ungkapan berbunyi, “Pikiran bereaksi terhadap kondisi.” Saat tiba-tiba bertemu suatu kondisi, reaksi ketika kita belum sempat berpikir disebut pikiran spontan. Setelah mendalami lebih lanjut, kita harus memahami hal tersebut benar atau salah. Untuk itu, kita harus segera melakukan penyelidikan dan pencarian. Setelah memahami dengan jelas dan tahu bahwa hal itu benar, kita harus mengambil keputusan untuk bertindak. Sebuah ungkapan berbunyi, “Genggamlah waktu saat ini.” Berhubung itu adalah hal baik, maka kita harus memanfaatkan waktu untuk segera melakukannya. Jika hanya memutuskan, tetapi tak melaksanakan, maka tak ada gunanya
Berhubung itu adalah baik, selain melakukannya sekali, kita harus tetap mempertahankan niat ini. Untuk melakukan hal baik, dibutuhkan keteguhan hati. Inilah pemutusan atau penetapan. Sebagai makhluk awam, batin kita terus bergejolak, tak bisa membedakan baik dan buruk dengan jelas. Berikutnya, yang keempat adalah pikiran ternoda dan murni. Ternoda berarti jelas-jelas tahu yang benar dan yang salah, tetapi malah tidak dapat melakukan yang benar. Sesuatu yang baik harus dipertahankan
Adakalanya mudah untuk bertekad, namun sulit untuk mempertahankannya. Meski telah tahu jelas hal itu benar, tetapi untuk memilih terus mempertahankan perbuatan baik itu agar terus berlanjut tidaklah semudah itu, karena pikiran kita ada dua sisi– murni dan ternoda. Sebagian orang berbuat baik untuk mencari pahala. Ada pula orang yang berbuat baik untuk menghindari malapetaka. Niat seperti ini disebut pikiran yang ternoda. Ada orang yang berbuat baik agar memperoleh nama baik. Semua ini adalah pikiran yang ternoda, sedangkan murni berarti bersih. Bersumbangsih tanpa pamrih, inilah wujud pikiran yang murni. Orang seperti itu menganggap bersumbangsih adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan
Jika dia dapat mempertahankan niat ini, maka inilah pikiran yang murni. Akan tetapi, bagi makhluk awam, untuk senantiasa memiliki pikiran tak ternoda sungguh sulit. Karena itu, kita harus berusaha menjaga pikiran kita dengan baik. Pada zaman Buddha hidup, terdapat sebuah kisah. Saat Buddha berdiam di Sravasti untuk bermeditasi, Beliau membawa banyak murid. Semua murid-Nya berlatih dengan baik sehingga mendapat pujian dari raja, menteri, dll. Perlahan-lahan, raja menyatakan berlindung kepada Buddha, menteri juga demikian, bahkan seluruh negeri berlindung kepada Buddha. Di India saat itu terdapat berbagai ajaran. Para penganut ajaran luar sangat tidak senang melihat kondisi itu. Mereka merasa bahwa jika kondisi itu terus dibiarkan, maka Buddha akan akan semakin termasyhur dan semua orang akan memuja-Nya
Jika begitu, mereka khawatir penganut ajaran mereka lambat laun akan habis. Karena itu, mereka sangat gelisah. Akan tetapi, Buddha yang berkebijaksanaan sempurna juga sudah mengetahui bahwa para brahmana itu merasa iri dan tidak tenang. Buddha memikirkan cara untuk menaklukkan dan membimbing mereka. Beliau terus mencari kesempatan. Akan tetapi, jalinan jodoh belum matang, maka kesempatan pun belum datang
Jalinan jodohnya belum matang. Untuk dapat membimbing orang, jalinan jodoh kita dengannya juga harus matang. Dengan begitu, kita baru bisa mendekati orang itu. Kita sering mendengar ungkapan berbunyi, “Tak dapat membimbing orang yang tidak berjodoh.” Apakah berarti selamanya tidak berjodoh? Bukan, hanya saja jodohnya belum matang. Dahulu kita mungkin telah menjalin jodoh dengannya, hanya saja kondisinya belum mendukung sehingga buahnya belum matang. Jadi, Buddha pun menunggu waktu
Saat jalinan jodoh itu matang, buah karma pasti akan diterima. Jika yang ditanam adalah benih karma baik, maka saat jodoh baik itu tiba, mereka akan berkesempatan untuk dibimbing. Jika karma buruknya belum habis dituai, maka mereka akan tetap diliputi noda batin dan terus menciptakan karma buruk baru yang akan merintangi diri sendiri. Semua ini harus ditanggung diri sendiri. Jadi, siapa yang menanam, dialah yang akan menuai. Jadi, sering dikatakan bahwa kita harus menjaga pikiran dengan baik. Adakalanya kondisi yang buruk disebabkan jalinan jodoh baik belum tiba dan jalinan jodoh buruk terus datang. Kita yang menanam jalinan jodoh ini, maka kita pula yang harus menerima akibatnya
Jika jalinan jodoh baik matang, kita juga harus menerimanya. Saat kondisi yang baik datang, kita harus menerimanya sehingga jalinan jodoh baik akan matang. Jadi, para brahmana ini berada di tengah-tengah jodoh baik dan buruk. Sayangnya, jalinan jodoh buruk mereka sedikit lebih berat. Akibatnya, noda batin mereka terus timbul. Mereka merasa iri, tidak suka orang lain dihormati. Melihat kelompk Sangha yang dipimpin Buddha terus berkembang dan mendapat pujian dari orang lain, mereka merasa tidak tahan, noda batin mereka pun bertambah. Jadi, suatu hari, para brahmana merasa mereka harus mengambil tindakan. mereka harus mengambil tindakan, sedangkan Buddha berpikir asalkan jalinan jodoh matang, secara alami mereka akan dapat dibimbing
Ini karena Buddha memahami hukum sebab akibat dengan jelas. Jadi, batin-Nya sangat damai. Beliau berpikir, jika sudah saatnya, mereka akan berkesempatan untuk terbimbing. Bagaimana kesempatan itu datang? Para brahmana ini mencari kesempatan untuk memfitnah Buddha. Mereka melihat Buddha Sering menerima persembahan dari orang. Buddha memperlakukan orang dengan setara, baik raja, menteri, rakyat jelata, maupun pengemis. Buddha memandang mereka dengan setara, persembahan siapa pun akan Buddha terima. Karena itu, para brahmana ini saling bekerja sama dan menemui seorang tukang jagal yang khusus menjagal babi dan sering melakukan karma membunuh. Dia masih muda sehingga dipanggil tukang jagal muda. Para brahmana ini berunding, “Mari, kita anjurkan pemuda yang sering melakukan karma membunuh itu untuk memberi persembahan kepada Buddha.” “Setelah menerima persembahannya, Buddha pasti akan memujinya
” “Jika Buddha memuji pemuda yang sering membunuh binatang itu, bukankah akan timbul kontradiksi?” “Dengan begitu, kita memiliki celah untuk menyebarkan berita bahwa ajaran Buddha penuh kontradiksi.” Para brahmana lain pun setuju. Kemudian, mereka berbicara kepada pemuda tukang jagal itu. Anak muda ini juga memiliki sedikit kebajikan. Dia berpikir, “Saya banyak membunuh, Sedangkan Buddha begitu penuh welas asih, selalu menganjurkan untuk tidak membunuh.” “Jika saya memohon kepada Buddha, akankah Beliau bersedia menerima persembahan dari hasil pejagalan ini?” Para brahmana terus mendorongnya dan membangkitkan keberaniannya. Dia akhirnya datang ke hadapan Buddha dan memohon agar dia diperkenankan memberi persembahan kepada Buddha dan Sangha
Mendengar pemuda itu datang dengan begitu tulus untuk mengundang Buddha menerima persembahan, Buddha pun merasa sukacita dan segera menerimanya. Mendengar Buddha bersedia menerima persembahannya, pemuda itu sangat gembira. Dia segera pulang untuk menyiapkan segalanya. Dia sangat senang sehingga memberi tahu orang banyak bahwa Buddha bersedia menerima persembahannya. Buddha pun tetap tenang seperti biasa. Setelah mendengar kabar ini, para brahmana merasa mereka akan melihat tontonan seru. Mereka pun bergegas pergi melihat Buddha dan para anggota Sangha menerima persembahan
Mereka ingin melihat bagaimana Buddha membabarkan ajaran bagi orang yang banyak menciptakan karma membunuh itu. Setibanya di tempat tujuan, Buddha berkata, “Buah matang akan jatuh dengan sendirinya, berkah matang akan membuat orang selamat.” Artinya, buah yang ranum di pohon, meski tidak dipetik, akan jatuh dengan sendirinya. Jika diri sendiri memiliki berkah yang sudah matang, maka secara alami diri ini akan terselamatkan dan terbimbing. Maksudnya, pemuda tadi bekerja sebagai tukang jagal akibat karma buruk masa lampaunya. Akan tetapi, dia juga memiliki karma baik. Meski sering membunuh hewan, dia juga pernah berbuat kebajikan
Jika jodohnya buruknya itu berakhir, maka buahnya akan jatuh dengan sendirinya. Saat jodoh baiknya mulai matang, dengan sendirinya dia akan membangkitkan niat baik. Niat baik ini akan membuatnya berkesempatan untuk dibimbing. Karena itu, Buddha menerima persembahannya. Para brahmana itu pun melihat keseimbangan batin Buddha dan mendengarkan pembabaran sebab akibat mengapa pemuda itu bisa menjadi tukang jagal. Itu karena di masa lalu dia pernah memiliki niat buruk. Akibat jalinan jodoh yang dia tanam itu, di kehidupan ini dia terbelenggu olehnya hingga harus banyak menciptakan karma membunuh. Akan tetapi, dia juga pernah menanam berkah. Jadi, saat jalinan jodoh baiknya ini tiba, dia berkesempatan menanam karma baik
Jadi, para brahmana itu juga termasuk pengondisi yang menginspirasinya. Mulanya, para brahmana itu ingin memanfaatkan pemuda itu untuk memfitnah Buddha dan ingin mendengar apa perkataan Buddha terhadap pemuda itu yang mereka kira akan menyakitkan sang pemuda. Inilah tujuan awal dari para brahmana. Tak disangka, mereka malah menginspirasi pemuda tukang jagal ini untuk memberi persembahan kepada Buddha. Mereka juga mengondisikan Buddha bertemu dengan pemuda itu. Jadi, Buddha berkata kepada sang pemuda, “Meski engkau telah banyak membunuh hewan, tetapi setelah buah karma itu matang, ia akan segera berlalu.” “Berhubung engkau membangkitkan sebuah niat baik, maka kini kau berkesempatan untuk dibimbing.” Setelah mendengar semua ini, para brahmana pun memperoleh pemahaman
Mereka jadi tahu kebijaksanaan Buddha dan menjadi paham tentang sebab akibat. Jadi, para brahmana ini pun merasa puas dan turut menyatakan perlindungan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah pikiran kita ternoda atau murni, kita harus memilahnya dengan bijaksana. Jika pikiran yang ternoda muncul, maka saat melihat orang lain berbuat baik, kita bukan hanya tidak turut bersukacita, melainkan juga bertambah risau. Kita menghalalkan segala cara untuk menghalanginya. Demikianlah pikiran yang ternoda. Sebaliknya, jika kita memilih berpikiran murni, maka saat jalinan jodoh tiba, kita akan dapat terbimbing dan terinspirasi. Apa pun kesalahan kita di masa lalu, kita tidak perlu rendah diri, Kita harus paham bahwa yang lalu sudah berlalu. Mengingat adanya hukum sebab akibat, kita harus menciptakan berkah bagi masa depan
Jadi, hukum sebab akibat sangatlah jelas. Benih karma buruk memang sudah tertanam dalam kesadaran kedelapan kita. Akan tetapi, jika kita tak segera berbuat baik, maka kelak kita akan kekuarangan jodoh baik. Jadi, baik dan buruk memiliki buah masing-masing. Kita harus banyak menciptakan karma baik agar memiliki lebih banyak kesempatan untuk memperoleh ajaran kebenaran. Terlebih lagi, kita telah mendengar ajaran Buddha. Dalam hidup ini, kita menghadapi berbagai makhluk dengan bermacam-macam kerisauan dan penderitaan. Banyak sekali. Saat kita memutuskan berbuat baik, maka lakukan saja. Jadi, pikiran yang ternoda atau murni harus sungguh-sungguh kita bedakan. Kita harus sangat waspada terhadap kontak dengan objek luar sehingga pikiran kita tidak ternoda atau terbuai kondisi luar itu
Adakalanya, pikiran kita juga bisa ternoda karena kerisauan yang dibawa oleh orang lain, Akibatnya, kita turut terbelenggu bersamanya. Begini sangat menderita, karena yang kita hadapi bukanlah orang yang baik. Orang yang baik adalah orang yang memahami kebenaran dan dapat membimbing kita ke jalan yang benar. Bukankah insan Tzu Chi juga sering menciptakan kesempatan untuk membimbing orang lain dan mengajak mereka berbuat kebajikan? Kita harus mendidik yang mampu untuk menolong yang kurang mampu. Setelah menolong, kita harus membantu penerima untuk ikut menciptakan berkah. Dengan begitu, kita sering mematangkan jodoh baik orang lain. Akan tetapi, ada juga sebagian orang yang saat melihat kita berbuat baik, malah merasa tidak senang. Mereka sering berusaha memengaruhi kita untuk melakukan hal yang tidak benar. Dalam kehidupan sehari-hari, jalinan jodoh yang ternoda atau murni ini senantiasa ada di sekeliling kita
Jadi, sering dikatakan, “Teladani segala sisi baik orang lain, ambillah pelajaran dari sisi buruknya.” Orang yang ada di sekeliling kita ada yang dapat membuat kita berbuat jahat, ada pula yang selalu berusaha membimbing kita ke jalan yang benar, perbuatan benar, dan pikiran benar. Akan tetapi, semua kembali pada diri kita sendiri. Kita harus membuat keputusan dengan hati-hati, baru bisa memilah yang baik dan buruk. Berikutnya adalah keberlanjutan seimbang. Inilah yang kelima. Ini merujuk pada batin yang seimbang. Pikiran terus mengalir dan terus berlanjut. Kita harus dapat menganalisis dengan batin yang seimbang. Janganlah kita membeda-bedakan terhadap siapa pun
Seperti yang tadi saya katakan, batin Buddha sangatlah seimbang. Baik raja, menteri, atau siapa pun yang memberi persembahan atau menyatakan berlindung, Beliau pasti menerima. Bahkan orang yang sering membunuh atau budak sekalipun tetap diterima oleh Buddha. Beliau mengajarkan kesetaraan. Inilah keberlanjutan seimbang. Terhadap hal baik dan buruk atau ternoda dan murni, beliau dapat menguraikannya dengan jelas. Baik hal yang baik, buruk, ternoda, maupun murni, Beliau memahaminya dengan jelas. Akan tetapi, kita harus tahu bahwa jika ajaran baik dapat kita pertahankan, ia akan bermanfaat bagi pemurnian batin kita. Aliran jernih ini akan terus kita terima dan ia akan terus menyucikan batin kita
Inilah yang disebut aliran jernih pemurni karma yang akan menyucikan batin kita. Yang baik harus kita pertahankan. Niat baik harus selalu ada dalam pikiran kita. Mengenai kejahatan, jika tidak dapat bertemu ajaran yang baik, maka akan mudah terjerumus ke dalam kejahatan. Jika demikian, maka setiap niat dalam pikirannya akan sulit dibayangkan. Jadi, baik terhadap orang baik, orang terhormat, orang jahat, maupun orang berkasta rendah, Buddha tidak membeda-bedakan, sangat seimbang dan setara. Beliau berusaha agar mereka yang baik tetap mempertahankan kebaikannya, sedangkan yang buruk dapat berkesempatan untuk dibimbing
Saudara sekalian, Belajar ajaran Buddha tak lepas dari pikiran. Sebagai manusia, dalam keseharian kita juga tak lepas dari pikiran. Jika memiliki pikiran yang baik, maka tindakan kita juga akan baik. Dengan memiliki pikiran dan tindakan yang baik, berarti kita tengah menanam berkah. Jika memiliki pikiran yang buruk, kita akan bertindak buruk. Tindakan buruk akan menciptakan karma buruk yang akan berbuah terus-menerus dan harus kita terima sendiri. Karena itu, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dengan baik
Jalinan jodoh baik sulit diperoleh. Saat memperoleh jalinan jodoh baik, kita harus menggenggamnya. Selain menggenggam waktu yang ada saat ini, kita juga harus mempertahankan kebaikan ini. Setelah membangun tekad yang baik, kita harus terus mempertahankannya. Ini disebut aliran jernih yang terus mengalir. Jadi, bersungguh-sungguhlah selalu.