Sanubari Teduh – 130 – Lima Kondisi Pikiran Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, kehidupan kita sehari-hari tak lepas dari fisik dan batin. Saat menghadapi kondisi luar, akan timbul pemikiran dalam batin kita. Jika kita tidak menjaga pikiran dengan baik, ia mudah menjadi liar bagai kera atau kuda. Jika kita tidak menjinakkannya, maka akan dapat mencelakai orang lain dan juga diri sendiri. Jadi, pikiran yang liar ini harus dikendalikan. Karena itu, kita selalu membahas tentang pikiran, bagaimana cara menjaga pikiran. Menjaga pikiran sangatlah penting. Pembahasan kita sebelumnya berkutat pada angka lima, baik Lima Pandangan, Lima Kediaman Mental, Lima Penutup, dll. Semua berhubungan dengan angka lima
Semoga kita selalu dapat mengingat semuanya. Suatu ungkapan berbunyi, “Untuk menangkap pencuri, tangkap kepalanya.” Jika semua faktor tadi dapat kita ingat, maka saat berhadapan dengan kondisi luar, kita dapat memerhatikan pikiran kita. Saat bertemu kondisi yang baik, kita dapat berpikir apakah kita harus melekati kondisi itu. Jika bertemu kondisi yang tidak baik, kita dapat segera menghentikan kontak kita dengan kondisi itu. Semua ini bergantung pada apakah pikiran kita tertutup kegelapan batin. Saat bertemu kondidi yang baik, mengapa kita tidak dapat menyesuaikan diri? Ini karena kegelapan batin menutupi pikiran kita. Akibat noda batin, ketika pikiran bersentuhan dengan objek luar, banyak niat negatif yang timbul. Jadi, kita hari ini tetap akan membahas tentang pikiran
Kita akan membahas Lima Kondisi Pikiran. == Yang pertama adalah pikiran spontan. Ini terjadi sangat cepat. Misalnya, saat ada bunyi tertentu, kita langsung terkejut. Ini dari segi suara. Jika ditanya, siapa yang sedang berbicara saat ini, berhubung kalian sudah kenal suara saya, maka kalian tidak perlu lagi berpikir. Begitu saya mulai berbicara, kalian langsung tahu itu saya
Jika kembali ditanya, suara apa yang terdengar dari luar, kita juga langsung tahu kerena setiap hari mendengarnya, saya juga sering membahasnya, yaitu suara burung. Dalam seketika kita bisa tahu itu burung, tidak perlu berpikir lama. Kita dapat menjawab dalam sekejap. Jika saya meminta untuk coba mendengar dengan saksama ada suara apa lagi di luar, sebagian orang mungkin tidak dapat langsung menebaknya mengingat jarak yang cukup jauh. Jika kita bersungguh-sungguh, sebelum saya bertanya, saya sendiri sudah mencari tahu bahwa di luar ada suara kendaraan, yakni suara truk yang melaju. Ini semua bergantung pada pikiran kita. Jika kita bersungguh hati, maka kita akan dapat menerka. Terkaan ini sangat dekat dengan logika
“Master, kami belum mendengar apa-apa, mengapa Master sudah mendengar suara yang jauh?” Ya, karena saya bersungguh hati. Suara itu berasal dari jauh, tetapi terdengar sampai ke sini. Jika bukan kendaraan yang berat, mana mungkin terdengar? Jika yang lewat adalah mobil sedan, dari jarak sejauh itu, kita tidak mungkin dapat mendengarnya. Jadi, agar pikiran kita dapat bersentuhan dengan suatu objek, objek itu harus berada dekat dengan kita. Denga begitu, kita baru bisa segera tahu, misalnya suara apa yang kita dengar. Tanpa persiapan apa pun, saat tiba-tiba mendengarnya, kita langsung tahu. Inilah yang disebut pikiran spontan, tanpa diawali persiapan mental. Contohnya, saat kita duduk di sini dan berkonsentrasi mendengarkan wejangan, tiba-tiba datang seekor nyamuk yang menggigit kita
Dengan satu gerakan cepat, kita segera mengusirnya. Jika tidak, saat orang pada umumnya digigit nyamuk, mereka akan memukul nyamuk itu. Tindakan itu terjadi akibat kontak antara diri kita dengan objek atau kondisi luar. Kontak itu membuat kita bereaksi cepat. Ini yang disebut pikiran spontan. Saat ada nyamuk yang menggigit, orang secara spontan memukulnya. Inilah pikiran spontan. Pikiran ini langsung timbul begitu kondisi luar muncul
Ia timbul secara spontan dan sangat cepat. Pikiran ini timbul dalam sekejap tanpa persiapan apa pun. Apa pun kondisi yang terjadi di luar, kita langsung bereaksi, inilah pikiran spontan, yakni saat pertama kali bertemu suatu kondisi, kita langsung bereaksi. Kadang ada orang bertanya, “Kamu tahu yang saya katakan barusan?” Jika kita yang ditanya agak lengah dan terkejut, kita mungkin menjawab, “Tahu.” “Coba ulang sekali lagi kalau tahu.” Kita tidak bisa negulanginya. Jawaban spontan tadi adalah reaksi tiba-tiba
Akan tetapi, apa yang dibicarakan sebenarnya sesungguhnya tidak dipahami dengan jelas. Kita tidak bisa membedakan apakah itu baik atau buruk. Semuanya belum melewati proses analisis. Saat suatu kondisi muncul, Yang kedua adalah pencarian. Pikiran yang mencari ini sama seperti yang tadi saya katakan. Saat saya mendengar suara di luar, lalu saya bertanya pada kalian suara apaitu. Kalian pun diam untuk mencoba mendengarnya. “Apa benar ada?” “Sepertinya ada
” “Sepertinya ada meski agak jauh.” Setelah mencoba mencarinya, kita dapat mendengarnya. Atau, setelah lama mencari, kita tetap tidak mendengarnya. Inilah pencarian. Kita akan mencari. Pikiran kita akan terus mencari untuk mengetahui apa yang terjadi atau suara apakah yang terdengar. Inilah yang disebut pencarian. Tadi kita sudah membahas pikiran spontan. Saat pertama bersentuhan dengan suatu kondisi, kita belum melakukan analisis
Akan tetapi, beberapa saat kemudian, pikiran mulai menganalisis. Saat pikiran bersentuhan dengan kondisi, kita harus memahaminya dengan jelas. Jika tidak memahami kondisi dengan jelas, kita akan tersesat seumur hidup. Jadi, kita harus sungguh-sungguh memahami sesungguhnya kondisi apa yang kita alami, masalah apa yang tengah terjadi, atau dari mana suara yang kita dengar berasal. Saat suatu barang pecah belah pecah, untuk mengetahui siapa yang menjatuhkannya, barang yang mana yang jatuh, dan siapa pemiliknya, kita harus melakukan pencarian terlebih dahulu, baru kita dapat memahami semuanya dengan jelas. Kita mencari kondisi yang sebenarnya dan masalah yang sebenarnya terjadi. Inilah tindakan yang benar. Dalam keseharian, kita harus memahami masalah dengan jelas. Baik atau buruk harus kita cari tahu. Kita harus tahu semua itu
Jika kita mampu membedakan baik dan buruk, maka saat ada gelas pecah, kita akan tahu apakah gelas itu tidak dipegang dengan benar atau sengaja dibanting oleh orang yang marah. Gelasnya sama-sama pecah, tetapi gelas itu pecah karena tidak dipegang dengan hati-hati ataukah ada orang yang merasa tidak senang sehingga marah dan kehilangan kendali diri dan membanting gelas yang masih baik itu? Sesungguhnya apa yang terjadi? Ini bisa karena disengaja ataupun tidak. Kita harus menyelidiki. Selanjutnya adalah penetapan. Jika tidak sengaja, maka tidak apa-apa. Bagaimana jika karena ada yang marah? “Mengapa harus marah?” “Kita bisa bicara baik-baik
” “Mengapa gelas yang baik tidak dihargai?” “Meski orang lain membuat kita marah sehingga kita membanting barang, ini juga tidak benar.” Kita harus menasihati orang itu dan membimbingnya seperti itu. Kita mulai memutuskan apakah itu baik atau tidak. Saat mendengar kegaduhan, kita perlu mencari tahu. Kegaduhan mengarah pada pertengkaran. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Siapa yang masuk akal? Siapa yang tidak masuk akal? Ini juga harus dianalisis. Setelah itu, kita harus memutuskan
Siapa yang benar dan siapa yang salah harus kita analisis berdasarkan akal sehat. Setelah itu, kita harus menasihati mereka. Ini yang disebut melerai perselisihan. Sebuah ungkapan berbunyi, “Redakan perselisihan, jangan memperkeruhnya.” Untuk itu, dibutuhkan tutur kata yang baik. Kita harus memiliki hal ini
Kita harus mendamaikan orang, bukan memperkeruh suasana. Untuk itu, kita harus menganalisisnya terlebih dahulu. Jika dapat membedakan baik dan buruk, kita dapat membuat keputusan yang benar. Dengan demikian, kita baru bisa mendamaikan orang. Jadi, membedakan benar dan salah bergantung pada pikiran. Inilah penetapan. Jika kita mengambil keputusan yang salah, maka bukan hanya orang lain yang bersalah, bahkan kita yang bertindak sebagai penengah juga bersalah, karena kita sama dengan mereka, tidak dapat membedakan benar dan salah
Bukankah kalian pernah mendengar saya berkata, “Saya sedih melihat semua makhluk tidak dapat membedakan benar dan salah.” Manusia tidak dapat membedakan yang benar dan salah. Inilah sumber kekacauan masa kini. Manusia menjadi semakin sulit dibimbing. Jika orang-orang yang menerima pendidikan tetap tidak bisa membedakan benar dan salah atau baik dan buruk, maka mereka mungkin akan senang saat menerima pelajaran yang baik, tetapi saat masalah muncul, mereka tidak menggunakan ajaran itu, melainkan berpaling dari ajaran kebenaran. Saat berada di lingkungan yang tidak benar, mereka mengikuti paham yang salah. Ini juga sangat memprihatinkan. Begitu pula pada zaman Buddha
Banyak orang yang menjalani hidup dengan memilih cara yang salah. Kehidupan yang penuh kesalahan seperti ini tentu membutuhkan bimbingan. Jadi, saat pikiran kita bersentuhan dengan segala kondisi dan fenomena, kita harus bisa memilahnya. Dengan demikian, kita baru bisa mendalami dan memahaminya. Dengan begitu, kita baru bisa membedakan baik atau buruknya. Ada sebuah kisah. Pada zaman Buddha, ada seorang anak muda
Dia adalah anak tunggal dari keluarga kaya. Orang tuanya sangat menyayanginya. Sejak dia masih kecil, orang tuanya selalu berharap dia dapat berpengetahuan dan berbudi luhur agar kelak dapat meneruskan usaha keluarga. Untuk itu, sejak dia masih kecil, orang tuanya mencari guru ternama untuknya. Akan tetapi, dia tidak pernah mau menerima ajaran gurunya. Ayahnya kembali mencari guru yang lebih baik dengan harapan dapat mendidik anaknya. Sejak kecil hingga dewasa, entah berapa kali dia berganti guru, dan entah sudah berapa banyak guru yang menyampaikan keputusasaannya terhadap anak itu
Dapat kita bayangkan, dia terus membuat orang tuanya bersedih. Walaupun begitu, orang tuanya pantang menyerah. Berhubung tak kunjung bisa dididik dari kecil hingga remaja, maka saat dia menganjak usia pemuda, orang tuanya pun menyerah. Dia sudah begitu besar, tidak dapat dinasihati, dan tidak dapat dididik. Saat menginjak usia pemuda, anak ini bukan hanya tidak mendengarkan nasihat orang tua, melainkan juga melawan dengan tutur kata kasar. Meski orang tuanya sangat berharap padanya, tetapi mereka tetap tak berdaya. Anak ini mulai gemar bermalas-malasan dan hanya berfoya-foya
Main wanita, berjudi, mabuk-mabukan, semua dia lakukan. Lalu, orang tuanya berkata kepadanya, “Seluruh kekayaan keluarga sudah hampir habis oleh dirimu.” Berhubung tidak memiliki uang, barang berharga di rumahnya harus digadaikan. Segala barang berharga di rumahnya satu demi satu digadaikan hingga tak tersisa. Kesabaran orang tuanya akhinya habis, mereka pun mengusir anak mereka itu. Berhubung hartanya habis, dia bergelandangan di jalan dengan tubuh kotor. Ke mana pun pergi, dia selalu ditolak orang
Hingga tak tahu harus ke mana, dia lalu terpikir, “Sekarang saya tak bisa ke mana-mana.” “Ya, ada seseorang yang pasti menerima saya, yaitu Buddha.” “Saya sering mendengar welas asih Buddha.” “Kini saya hidup tak tentu arah, maka harus mencari Buddha.” Dia pun mendatangi vihara Buddha dan memberi penghormatan. Saat dia memohon untuk ditahbiskan oleh Buddha, Buddha tahu bahwa anak gelandangan itu telah mengecewakan banyak orang dan menyakiti hati orang tuanya. Dengan penuh welas asih, Buddha berkata, “Untuk menjadi bhiksu, engkau belum memenuhi syarat
” Dia bertanya, “Syarat apa yang harus saya penuhi agar dapat menjadi bhiksu?” Buddha berkata padanya, “Tak mengulangi ajaran baik adalah noda ucapan.” “Kau harus mempelajari ajaran para bijaksana.” “Ajaran yang dahulu guru-gurumu ajarkan, segeralah engkau ulang dan ingat kembali.” “Pelajarilah ajaran para bijaksana.” “Banyaklah mengulang ajaran yang baik.” “Tak mengulang ajaran baik adalah noda ucapan.” “Engkau tidak berilmu, juga tidak pernah mau belajar
” “Semua yang diajarkan tidak pernah kau ingat.” “Segala ucapanmu tidaklah murni, penuh noda.” “Inilah noda ucapan.” Berikutnya, “Kemalasan adalah noda keluarga.” “Kau juga harus giat berusaha.” “Jika kau tidak giat, maka keluargamu akan terbebani.” “Kini kau harus kembali membangun keluarga, dan semua itu harus dimulai dari awal
” “Engkau harus giat.” “Kemalasan adalah noda keluarga.” “Ketidakdisiplinan adalah noda rupa.” “Ketahuilah bahwa kau harus merapikan tubuhmu sendiri.” “Perilakumu juga harus dibenahi.” “Lihatlah, penampilanmu amat berantakan, penuh kotoran.” “Perhatikan seluruh tubuhmu
” “Kau harus segera pulang dan membersihkan tubuhmu.” “Jika tidak, dengan keadaanmu sekarang, semua orang akan takut melihatmu.” “Jadi, kesembronoan merupakan noda pekerjaan.” “Janganlah engkau sembrono.” “Jika sembrono, engkau tak akan bisa mencapai apa pun.” “Jika engkau ingin kembali membangun keluarga, selain harus giat, engkau harus menjaga perilaku, juga tidak boleh sembrono.” “Engkau harus menghargai waktu dan memanfaatkan waktu yang ada
” “Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya.” “Jika tidak giat berusaha, meski suatu hal yang baik ada di depan mata, juga akan berubah menjadi hal buruk.” “Genggamlah setiap jalinan jodoh yang ada.” “Janganlah bersikap sembrono.” Berikutnya, “Kekikiran adalah noda kemurahan hati.” “Janganlah kikir dan tamak.” “Jika kau belum berhasil dalam usaha, maka mulailah dengan berbuat baik.” “Jangan kikir atau tamak
” “Jika engkau tamak dan kikir, maka mseki bernniat membantu orang, engkau tidak akan mampu mengikhlaskan.” “Inilah noda bagi kemurahan hati.” Kita harus berdana dengan sukacita. Janganlah kikir atau tamak, atau menyesal setelah berdana. Jangan seperti itu. Kita harus mengembangkan rasa sukacita saat berdana. Berikutnya,”Ketidakbaikan adalah noda perbuatan
” Jika hati Anda tidak baik, segala yang Anda lakukan tak akan dihormati orang. Noda seperti ini disebut juga kotoran. Ini juga tidah benar. Karena itu, kita harus senantiasa memiliki niat baik, baik terhadap orang maupun terhadap masalah. Kebaikan ini bersumber pada pikiran. Dengan demikian, kita baru bisa memiliki akhlak. Selain menciptakan berkah, kita harus melatih diri
Inilah berkah yang sesungguhnya. Ketidakbaikan adalah noda perbuatan. Jika pikiran diliputi noda batin, meski kita berdana, itu juga tidak benar. Berikutnya, “Kejahatan adalah noda abadi.” “Engkau tak boleh bertindak tak sesuai Dharma.” “Jika bertindak tak sesuai Dharma, maka begitu niat buruk muncul, benih kejahatan ini selamanya akan mengikutimu.” Kejahatan adalah noda abadi
“Untuk membangun usaha dan membangun keluarga, engkau tak boleh menggunakan cara yang salah.” “Engkau harus tetap jujur, tidak boleh melanggar norma.” “Jika tidak, engkau akan menciptakan benih kejahatan yang abadi.” “Dalam kehidupan ini dan yang akan datang, begitu kejahatan tercipta, ia akan bertahan lama.” “Benih ini akan selamanya mengikutimu.” “Selain sulit mengubahnya dalam kehidupan ini, di kehidupan mendatang kau juga akan menderita
” “Di kehidupan ini dan yang akan datang, noda terbesar adalah kebodohan.” Inilah noda batin. Inilah noda dari segala noda. Noda dari segala noda adalah kebodohan. “Jika kebodohan adalah dalam pikiranmu, maka noda ini akan semakin mendalam.” “Segeralah memperbaiki diri setelah membuat kesalahan.” “Jika tidak atau malah sengaja berbuat kesalahan, noda ini akan semakin tebal.” “Berhubung kau sudah diliputi kegelapan batin dan terus-menerus mengulangi kesalahan, maka noda dalam dirimu semakin tebal
” “Inilah noda dari segala noda.” Inilah kebodohan. Kebodohan ini sangat memprihatinkan. Dalam kehidupan ini, bahkan selamanya, Kita semua harus berhati-hati terhadapnya. Jadi, Buddha kembali menasihati pemuda itu, “Engkau harus banyak belajar, meninggalkan segala keburukan terdahulu.” “Jika membuat kesalahan, engkau harus segera memperbaiki diri
” “Engkau harus giat mengulang ajaran para bijaksana.” “Engkau harus giat menopang keluarga.” “Engkau harus mengubah perilakumu.’ “Engkau juga tidak boleh sembrono.’ “Engkau harus giat dalam bekerja.’ “Jika mampu, bantulah orang lain, jangan kikir.” “Jangan mencari uang dengan tidak halal.” Kita harus giat berusaha dalam membangun keluarga. Kita tidak boleh menggunakan cara yang salah
Dengan demikian, barulah kita tak akan terjerumus. Buddha kemudian berkata, “Janganlah menyimpan kebodohan.” Kebodohan ini adalah penyakit yang bertahan dari kehidupan ke kehidupan. “Kau harus belajar meninggalkan yang salah.” Buddha menasihatinya dengan penuh welas asih. Pemuda ini pun akhirnya sadar dan memberi hormat pada Buddha. Dia lalu berkata pada Buddha, “Akan saya lakukan
” “Setelah saya menyempurnakan semua ini dan memperbaiki diri saya, saya akan kembali.” Dia akhirnya pulang ke rumah dan bertobat di hadapan orang tuanya. Dia pun memulai hidup baru. Dia sangat giat belajar dan sangat rajin bekerja sehingga mendapat pujian dari orang-orang di kampungnya. Pertobatan ini lebih berharga dari emas. Dia mulai kembali membangun usaha keluarganya dan mendapat pujian dari banyak orang. Tiga tahun kemudian, dia kembali mendatangi vihara Buddha, memberi hormat pada Buddha, dan menyatakan tekad untuk menjadi bhiksu. Buddha sangat sukacita dan menerimanya. Berhubung sudah memperbaiki diri, maka di antara para murid Buddha, dia termasuk bhiksu yang menonjol
Dalam kehidupan ini, kita harus memiliki ketetapan hati untuk dapat memutuskan yang baik dan buruk. Jika kita dapat mengetahui dan memahami kondisi yang kita hadapi, maka setelah menerimanya, kita harus menyelidikinya untuk mencari kebenaran dari hal tersebut. Kita harus membedakan benar dan salah. Kemudian, kita harus mengambil keputusan apakah hal itu benar atau tidak. Seperti pemuda dalam cerita tadi, setelah berbuat kesalahan, asalkan menemukan pelita hidupnya, dia pun dapat dibimbing kembali ke jalan yang benar. Inilah yang benar. Mengambil keputusan untuk memperbaiki diri ke arah yang baik adalah benar. Jadi, segala sesuatu berawal dari sebersit niat. Saudara sekalian, ingatlah bahwa perjuangan sulit kita bukan demi apa-apa selain menemukan kembali hakikat diri yang murni tanpa noda
Untuk itu, bersungguh-sungguhlah selalu.