Sanubari Teduh – 129 – Lima Pandangan Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, kita mempelajari ajaran Buddha bagaikan orang yang sedang berjalan. Dalam berjalan sungguh harus taat aturan. Jika kita berjalan lurus tanpa menyimpang, maka jalan ini akan terasa lapang. Dengan begitu, kita juga dapat terus melangkah hingga titik akhir di jalan yang paling damai. Jadi, di jalan ini, saat kaki kita melangkah, sesungguhnya pikiran kitalah yang mengarahkan. Karena itu, sering dikatakan bahwa ketika berbicara, fokuskan pikiran pada mulut yang berbicara; pada saat mengerjakan sesuatu, fokuskan pikiran pada tangan yang bekerja; saat berjalan, fokuskan pikiran pada kaki yang melangkah. Inilah yang disebut bersungguh hati
Melatih diri tentu harus lebih bersungguh hati. “Hati” ini terdengar sederhana, namun merupakan kunci seumur hidup, bagi para praktisi Dharma mungkin merupakan kunci dari kehidupan ke kehidupan. Oleh karena itu, selama beberapa hari ini saya terus membahas tentang pandangan. Mengenai Lima Pandangan, kita telah membahas pandangan tentang diri. Sesat berarti tidak benar. Karena itu, dalam Jalan Mulia Beruas Delapan juga dibahas mengenai pandangan benar. Jika pandangan kita tidak benar, maka segala hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari juga akan penuh penyimpangan. Karena itu, pandangan tak boleh menyimpang sedikit pun
Jika menyimpang, pasti tersesat. Contoh paling sederhana adalah mengingkari hukum karma, tidak takut terhadap apa pun, tidak takut pada akibat dari perbuatan. Ini juga disebut mengingkari hukum karma, tidak menyadari perbuatan saat ini dan tidak takut akibatnya kelak. Semua ini disebut pandangan salah. Jika kita memiliki pemahaman atau pandangan yang tidak benar, maka kita akan merusak segala kebajikan. Inilah yang dikatakan Buddha pada kita. Jadi, kita harus berhati-hati dan senantiasa bersungguh hati
Selanjutnya adalah kemelekatan terhadap pandangan pribadi. Ini pun demikian, berkaitan dengan pandangan kita. Kemelekatan pada pandangan pribadi ini juga berkaitan dengan beberapa dari Lima Pandangan yang sebelumnya sudah kita bahas, yakni pandangan tentang diri, pandangan ekstrem, dan pandangan salah. Semua ini sesungguhnya tidak benar, namun manusia malah melekatinya. Mereka menganggap pandangan mereka selalu benar. “Saya memang seperti ini, tak peduli Anda bilang saya melekat pada diri, toh segala perbuatan yang saya lakukan semuanya adalah urusan saya.” “Menurut Anda saya tidak benar, tetapi saya merasa saya benar.” Ada pula orang yang berpandangan ekstrem baik terhadap nihilisme maupun eternalisme
Saat orang lain berkata, “Berbuat begitu tidak benar,” mereka tetap menganggap diri mereka benar. Mereka bersikeras pada pemahaman sendiri, bahkan berpandangan salah. Ketika orang berkata pada mereka, “Anda telah menyimpang, perbuatan itu tidak benar, bukankah lebih baik Anda perbaiki,” mereka pun beranggapan mereka tidak bersalah dan orang lainlah yang harus berubah, bukan mereka. Saya percaya kita juga memiliki pandangan seperti ini. Mungkin saya juga memilikinya. Saya juga menganggap semua yang saya katakan benar, semua yang saya lakukan tidak ada yang tidak benar. Mungkin seperti itu
Jadi, jika kita terlalu melekat, menganggap diri kita selalu benar dan tidak mau mendengar nasihat orang lain, inilah yang disebut melekat pada pandangan. Pandangan tentang diri, pandangan ekstrem, pandangan salah, semuanya kita pegang dan lekati. Inilah kemelekatan terhadap pandangan pribadi. Contohnya, jika ingin melatih diri, kita tentu harus tekun dan bersemangat. Coba pikirkan, bukankah dalam melatih diri kita harus tekun? Benar? Memang. Ini kebenaran yang sudah terbukti
Jika memang ingin melatih diri, Lihatlah, sekitar pukul tiga kentongan sudah dibunyikan. Ini adalah peraturan di vihara. Ketika mendengar suara genta atau genderang, kita harus bangun dan segera bersiap menuju ruang kebaktian. Inilah peraturan di vihara. Jika saat mendengar suara genta dan genderang kita masih tidur dan menganggap, “Tidak ikut kebaktian adalah urusan saya, apa hubungannya denganmu, untuk apa kamu mengurusi saya, saya mau tidur itu urusan saya; Peraturan adalah urusan kelompok kalian, apa hubungannya dengan saya,” apakah sikap seperti ini benar? Tentu tidak benar. Saat kalian menasihati orang yang seperti ini, dan dia tidak bersedia berubah, tahukah kalian apa ini? dan kemelekatan pada pandangan pribadi. Orang yang bersikap semaunya ini tidak bersedia berubah meski dinasihati. Kebiasaan buruk dalam berpikir ini– selalu menganggap urusan diri sendiri tidak ada hubungannya dengan orang lain– tidak bersedia dia lepaskan. Orang seperti ini menjerumuskan diri sendiri
Dilihat dari Jalan Mulia Beruas Delapan, ini termasuk pandangan tidak benar. Di sini, kita menyebutnya kemelekatan pada pandangan pribadi. Saat tidak seharusnya bersikukuh, dia malah begitu, orang seperti ini sungguh kasihan. Adakalanya kita mungkin berusaha untuk menasihati, membimbing, dan mendidiknya. Di zaman Buddha juga ada bhiksu yang malas dan bersikap amoral. Karena itu, sebelum Buddha wafat, Ananda bertanya kepada Buddha, “Yang Dijunjung, saat Engkau masih hidup, sudah tidak sedikit bhiksu yang tidak taat pada sila dan yang bersikap malas.” “Kelak setelah Engkau tiada, terhadap orang-orang seperti itu, apa yang harus kami lakukan?” Buddha menjawab, “Ananda, kau harus mengembangkan welas asih untuk sungguh-sungguh membimbing mereka, menasihati mereka, dan mendidik mereka.” “Jika berhasil, engkau harus turut berbahagia karena mereka mampu memperbaiki dan menolong diri mereka sendiri.” “Kita harus turut bersukacita.” “Jika dia tidak dapat dibimbing, maka biarkan saja
” Ya, jika kita sudah berusaha maksimal dan orang itu tetap tidak mau berintrospeksi, maka terpaksa kita biarkan. Saudara sekalian, sebagai seorang manusia, jika sampai orang lain putus asa untuk menasihati hingga membiarkan kita, maka sungguh menyedihkan. Adakalanya kita mendengar orang berkata, “Dia tidak bisa dinasihati.” Ada pula yang berkata, “Kami sudah berusaha sekuat tenaga, sudahlah, terserah dia saja.” Tahukah kalian ungkapan “terserah” ini menunjukkan ketidakberdayaan? Saat tak berdaya, orang baru mengatakan terserah. Jadi, kita harus mengasihi diri sendiri. Mengasihi diri sendiri merupakan wujud balas budi
Kita harus membalas budi orang tua, membalas budi semua makhluk, juga budi unsur-unsur pembentuk kehidupan, karena dengan selarasnya 4 unsur dalam tubuh, barulah kita dapat hidup sehat, memiliki kemampuan berpikir yang tajam, dan dapat melatih diri. Setiap hari kita harus bersyukur. Jika memiliki rasa syukur, kita harus membalas budi, tidak menyia-nyiakan tubuh ini, tidak menyia-nyiakan kehidupan ini, tentu saja tidak meyia-nyiakan semua makhluk. Kita memiliki pakaian, memiliki cukup makanan, memiliki tempat tinggal, dan memiliki lingkungan yang baik, maka harus bersyukur. Semua ini ada berkat kontribusi banyak orang. Karena itu, kita harus bersyukur atas budi luhur semua makhluk. Tentu saja, sebagai praktisi, kita terlebih harus bersyukur kepada Tiga Permata
Saat mendengarkan pembabaran Dharma, banyak kerisauan kita yang dapat terurai. Kita jadi memahami cara untuk menghapus kerisauan. Setelah kerisauan terkikis, kita akan mampu memahami bagaimana kita harus menapaki jalan di hadapan kita, yakni sebuah jalan yang lurus dan lapang. Bukankah dikatakan di dalam Sutra Makna Tanpa Batas bahwa Jalan Bodhisattva sangat lapang dan lurus? Jalan Bodhisattva yang kini kita tapaki adalah sebuah jalan yang lapang dan lurus. Jadi, kita harus menghargai budi luhur Tiga Permata dan mengerti untuk bersyukur atas budi luhur Buddha dan para guru
Kita harus bersykur kepada para anggota Sangha yang saling mendukung. Dengan adanya mereka, kita baru dapat berlatih dengan benar. Kita harus saling mendukung. Kita juga harus bersyukur. Jika tidak memiliki rasa syukur, berarti kita tak mengasihi diri sendiri. Berhubung tidak memiliki rasa syukur, Anda akan bertindak sesuka hati. Ini disebut tidak mengasihi diri sendiri. Dengan begitu, kita tak akan dapat menerima ajaran yang benar
Pandangan tentang diri, pandangan ekstrem, dan pandangan salah, membuat kita melekat pada pandangan pribadi, bertindak sesuka hati, dan merasa segala pemahaman kita tidak salah. Selanjutnya adalah pandangan kemelekatan terhadap sila dan larangan. Apa yang disebut kemelekatan pada sila? Berhubung telah memilih untuk melatih diri, maka kita harus menjalaninya dengan baik dan berusaha untuk tekun dan bersemangat. Kita harus menjalaninya sendiri, tidak boleh bertindak pasif. Artinya, kita harus penuh inisiatif. Berhubung telah bertekad, dan telah berikrar, maka kita harus menjalaninya. Tindakan kita harus bisa kita jaga sesuai dengan sila yang benar. Jangan kita terjerumus dalam sila yang sesat. Apa yang disebut sesat? Ini juga berhubungan dengan kemelekatan. Kita tidak menjalankan didikan yang benar dan malah melekat pada yang salah; menganggap yang salah sebagai benar dengan sikap sangat keras kepala dan kemelekatan yang tebal. Ada orang yang berpegang pada cara hidup seperti sapi atau anjing
Mereka berlatih dengan meniru cara hidup sapi. Berhubung sapi makan rumput, maka mereka melatih diri dengan makan rumput. Jangankan orang yang melatih diri, bahkan kini di masyarakat juga sedang populer memakan segala makanan yang mentah. Mereka menyebutnya terapi alami. Mereka tidak makan apa-apa kecuali sayuran dan rumput mentah. Entah ini benar atau tidak. Sesungguhnya, memang benar tumbuhan hijau dapat dimakan, tetapi jangan terlalu melekat dengan tidak mau makan makanan lainnya
Kita juga sering mendengar kasus orang yang sakit akibat pola makan salah. Seorang dokter RS Tzu Chi bercerita tentang seorang ibu tua yang sudah menjadi seorang nenek. Dia hanya makan jenis makanan tertentu sesuai kata orang dan tidak makan makanan lainnya. Dia hanya makan makanan itu saja. Akibatnya, ginjalnya mengalami kerusakan. Kini, menyesal pun tiada gunanya. Penyakit sungguh membawa penderitaan. Ginjalnya sudah tidak lagi berfungsi. Lihatlah, pola hidup seperti itu tidak benar
Makanan alami kita butuhkan untuk mendapatkan nutrisi dan gizi. Inilah yang benar. Jika menyimpang, maka menjadi tidak benar. Ada pula orang yang berkata, “Saya sedang berpantang, tidak makan makanan yang sudah dimasak.” Ini juga termasuk sila yang sesat. Di masa Buddha hidup di India, ajaran yang ada selain Buddhisme adalah Brahmanisme dan Hinduisme. Tata ritual mereka banyak dan rumit. Ada orang yang saat bermeditasi melihat anjing naik ke surga setelah mati
Berita ini lalu tersebar luas. Orang itu akhirnya menganggap bahwa berlatih dengan menjalani hidup seperti anjing bisa terlahir di surga. Karena itu, ada orang yang hidup seperti anjing. Seperti apakah itu? Berlatih berperilaku seperti anjing, makan makanan kotor seperti anjing. Kita sering melihat anjing dan kucing, setelah buang kotoran, adakalanya menjilat kembali kotoran itu, lalu memakannya. Ada orang yang melatih diri dengan cara ini, sungguh tidak masuk akal. Dalam konsep enam alam kelahiran kembali, semua ditentukan oleh karma. Misalnya, seseorang pada kehidupan lampaunya ada menciptakan berkah, namun juga ada melanggar sila
Karena pelanggaran itu, dia terlahir di alam binatang. Setelah buah karma buruknya habis diterima, dia bisa terlahir di alam surga dan menikmati buah karma baik. Jadi, hukum karma sangatlah adil. Buah karma cepat lambat pasti harus diterima. Perbuatan buruk akan berbuah buruk, perbuatan baik akan berbuah berkah. Setelah buah karma yang satu habis diterima, masih ada buah karma lainnya, sama seperti narapidana yang menerima hukuman
Berhubung melanggar hukum, dia harus dipenjara. Setelah masa hukumannya berakhir, dia boleh pulang ke rumahnya dan kembali menikmati kehidupannya. Demikianlah adanya. Jadi, jika ada orang yang mengaku melihat anjing terlahir di surga saat bermeditasi lalu berlatih mengikuti cara hidup anjing, maka orang itu telah keliru. Jika kita meyakini hukum karma, kita tahu kebaikan dan keburukan pasti berbuah. Jika perbuatan baik lebih kuat, buah karma baik akan datang lebih dahulu. Setelah berkah habis dinikmati, maka selanjutnya yang akan berbuah adalah karma buruk yang mungkin membawa pada kelahiran di 3 alam rendah, baik neraka, setan kelaparan, maupun binatang. Saat berkah habis, makhluk alam dewa juga bisa terlahir di alam rendah
Ada pula orang yang karma buruknya lebih berat, maka setelah meninggal dia terlahir di alam rendah, baik alam neraka, setan kelaparan, maupun hewan. Akan tetapi, berkahnya bukan hilang. Setelah buah karma buruknya habis dituai, dia dapat terlahir kembali di alam surga. Jadi, semuanya sangat jelas. Setiap perbuatan akan ditanggung sendiri, baik yang baik maupun yang buruk. Kita yang berbuat, kita yang akan menerima akibatnya. Jika kita menciptakan berkah dengan melakukan perbuatan baik, tetapi tidak membina akhlak, maka akan mudah melakukan kesalahan. Dengan begitu, berarti melakukan karma buruk. Karma buruk tidak dapat dihapus dengan melakukan beberapa perbuatan baik. Ini adalah hal yang tidak mungkin
Kebaikan dan kejahatan adalah 2 hal berbeda. Masing-masing akan menghasilkan buah. Akan tetapi, orang yang tak memiliki pemahaman benar ini akan terjerumus pada kemelekatan terhadap sila dan larangan. atau menjalankan sila yang sesat Dia akan berpantang dengan ekstrem sesuai pandangan yang dianutnya. Ada orang yang menganggap bahwa melatih diri berarti harus hidup sama persis dengan zaman Buddha dengan mengenakan pakaian yang dibuang orang. Pada zaman Buddha, para bhiksu tidak mencari nafkah, tetapi tetap perlu berpakaian. Karena itu, mereka memakai kain yang dibuangan orang, sama seperti kini kita mendaur ulang barang. Adakalanya kain-kain itu sudah robek. Setelah mengambilnya, para bhiksu pun menambalnya
Karena itu, jubah bhiksu disebut juga jubah seratus tambalan. Jika robek, jubah itu akan ditambal kembali. Demikianlah, para praktisi tidak mengenakan pakaian yang mewah. Pakaian yang lusuh bukan masalah, cukup dicuci hingga bersih. Pakaian sobek juga tidak masalah, akan kita tambal kembali. Inilah jubah seratus tambalan. Para bhiksu menggunakan kain yang didaur ulang
Karena itu, jubah kita disebut jubah dari sampah. Akan tetapi, pada zaman sekarang kondisinya sudah berubah. Akan tetapi, banyak orang yang masih melekat pada praktik itu. Beberpa tahun yang lalu, saya melihat seorang bhiksu di jalan mengenakan pakain baru yang sengaja diberi tambalan di sana sini hingga terlihat begitu tebal. Saat dia berjalan-jalan, saya merasa cukup prihatin. Jadi, melatih diri harus menyesuaikan diri dengan kondisi zaman. Akan tetapi, harus tetap sederhana. Karena itu, pakaian yang kita kenakan jika tidak berwarna abu-abu, maka berwarna hitam, sudah pasti bukan yang berwarna-warni
Selain jubah luar dan jubah patriark, pakaian kita memang cukup sederhana, tidak perlu dengan sengaja dilusuhkan atau diberi banyak tambalan. Tidak perlu. Akan tetapi, ada saja orang yang berbuat begitu. Ini juga termasuk kemelekatan pada sila dan larangan. Ini adalah pandangan yang penuh kemelekatan. Bahkan ada yang pantang makanan lewat tengah hari. Zaman Buddha hidup sangat berbeda dengan masa kini, terutama mengenai aturan tidak makan setelah tengah hari
Adakalanya, saat orang berpaham itu datang ke sini, dia akan sangat terburu-buru . Dia berkata, “Saya harus makan sebelum tengah hari.” Ini membuat tak leluasa saat berada di luar. Mengapa kita tidak bisa menyesuaikan diri meski tetap berpegang pada prinsip? Sesungguhnya, saat Taiwan berada pada tengah hari, di Amerika Serikat sudah tengah malam. Jadi, tiada habisnya jika diperdebatkan
Kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi meski tetap berpegang pada prinsip. kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Siang hari adalah siang hari. Sesengguhnya, bumi terus berputar. Kita pun harus mengikuti perputaran bumi. Begitu pula, zaman terus berubah. Kita harus berpegang pada prinsip, mengerti kewajiban seorang sramana, dan memahami cara hidup di vihara. Kita harus memegang teguh cara hidup ini
Akan tetapi, kita juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Para bhiksu/bhiksuni zaman dahulu berjalan kaki saat bepergian. Kini, setidaknya bisa menggunakan sepeda, sepeda motor, atau mobil. Bisakah kita bersikeras berjalan kaki dari Taipei ke Hualian? Buddha juga ke mana-mana dengan berjalan kaki. Benar, Buddha memang berjalan kaki, lalu apa kita harus ke Taipei dengan berjalan kaki? Apakah begitu baru disebut taat pada sila? Jadi, adakalanya kita harus menyesuaikan diri dengan zaman. Akan tetapi, prinsip kita tidak boleh berubah. Prinsip kehidupan kita harus dipegang teguh. Sesungguhnya, banyak hal yang harus kita pertahankan dan yang harus kita sesuaikan. Jadi, dalam menjalankan sila, jangan berpegang pada yang tak seharusnya. Jika tidak, ini akan menjadi kemelekatan. Kita akan mengekang diri sendiri dengan melekati sila yang tidak benar, sedangkan sila yang harus dipatuhi, seperti norma di vihara dan masyarakat malah tidak kita taati
Kita malah berpegang pada sila yang tidak benar, seperti cara hidup sapi, anjing dan sebagainya. Semua ini tidaklah benar. Ini bukanlah jalan menuju alam surga. Ini bukanlah konsep sebab akibat yang benar. ini seperti yang tadi kita bahas. Apakah anjing bisa terlahir di alam surga? Bisa, karena setelah selesai menuai karma buruknya, ia masih memiliki sisa karma baik. Apakah dewa bisa terlahir menjadi anjing? karena setelah berkahnya sebagai dewa habis, dia mungkin memiliki sisa karma buruk yang membawanya ke tiga alam rendah. Dengan memiliki pandangan ini, berarti kita memahami hukum karma
Inilah pemahaman hukum karma yang benar. Jadi, kita harus bersungguh hati. Jika tidak, kita akan mudah mengalami penyimpangan. Begitu arah kita menyimpang, kita akan jauh tersesat. Jadi, kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Menghadapi kondisi luar, kita sungguh harus memiliki pikiran dan ikrar yang teguh untuk dapat berjalan di jalan kebenaran ini. Jika kita dapat meneguhkan tekad di jalan ini, maka jalan ini akan terasa sangat lapang. Di jalan ini, kita harus berjalan lurus agar tidak menyimpang sedikit pun. Jadi, mengenai Lima Pandangan, harap semua orang selalu mengingatnya. Selesai saya membabarkan ajaran setiap harinya, di dalam aktivitas sehari-hari kalian harus benar-benar bersungguh hati