Sanubari Teduh – 128 – Lima Pandangan Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari, pada saat-saat seperti ini, bukankah suasananya paling indah? Suasana hening di luar sana membuat suara terdengar sangat jelas. Akan tetapi, apakah suasana batin kita juga jernih seperti suasana di luar? Inilah yang setiap hari kita bahas dan setiap hari kita bicarakan. Batin berkaitan dengan pandangan dan pemahaman kita. Orang awam sering bertanya, “Apa yang sedang Anda pikirkan dalam hati?” Aktivitas berpikir ini adalah suatu reaksi batin berupa persepsi terhadap kondisi luar yang terekam dalam pikiran kita. Inilah yang disebut berpikir. Mengenai berpikir, apa yang sedang kita pikirkan? Bagaimana kondisi batin kita saat ini? Demikianlah, kita harus sering bertanya di dalam diri ke mana pikiran kita mengembara. Jika pikiran kita terpengaruh suatu kondisi, maka pandangan dan pemahaman kita juga akan terpengaruh oleh kondisi itu. Oleh karena itu, kadang orang berkata, “Pemahamanmu sudah menyimpang
” Benar, pemahaman bisa menyimpang. Baik pemahaman dan pandangan maupun persepsi tentang apa yang kita pikirkan, semuanya tidak terlepas pikiran. Kita pernah membahas pandangan tentang diri yang berarti kemelekatan pada Lima Agregat. Semua orang tahu yang dimaksud Lima Agregat. Saat kebaktian pagi dan malam, kita menemukan istilah itu dalam Sutra Hati. “Lima Agregat bersifat kosong
” Apakah sesungguhnya Lima Agregat itu? Semua orang sudah sangat hafal, yakni rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, kesadaran. Inilah Lima Agregat. Jadi, kondisi luar terus mengalami kontak dengan batin kita. Karena itu, pemikiran kita dapat terpengaruh. Pemahaman kita juga dapat terpengaruh. Semua ini tidak lain hanya merupakan perpaduan semu dari Lima Agregat. Jika dianalisis satu demi satu, sesungguhnya tiada sesuatu pun yang berdiri sendiri di dunia, semua merupakan perpaduan semu berbagai unsur. Contohnya, saat orang berbicara, kita tidak tahu yang mana yang benar dan siapa yang harus dipercaya
Karena itu, ada ungkapan yang berbunyi, “Jangan melihat tampak luar saja, waspadalah terhadap niat dalam hati orang.” Ungkapan ini berarti Anda jangan terlalu cepat percaya. Segala sesuatu di dunia senantiasa berubah dan terus mengalami proses. Artinya, selalu mengalami pergerakan secara terus-menerus. Tiada sesuatu pun yang nyata. Ketika kita mengikat janji dengan seseorang, walau kita sangat yakin bisa memenuhinya, namun karena kondisi dan keadaan terus berubah, kita pun dengan cepat melupakannya
Jadi, segala yang kita rasakan di dunia ini merupakan perpaduan dari Lima Agregat. Ini berhubungan erat dengan pikiran kita. Jika kelima agregat ini dipisahkan, maka baik rupa yang berwujud maupun pikiran yang tak berwujud semuanya tidak akan ada. Karena itu, dikatakan bahwa Lima Agregat bersifat kosong. Tiada sesuatu pun yang nyata, tiada sesuatu pun yang kekal. Jadi, karena makhluk awam memiliki tubuh, maka selalu bersentuhan dengan objek luar seperti suara dan rupa. Yang terpenting kita harus menaruh perhatian pada kemurahan hati. Jika manusia tidak memiliki kemurahan hati, maka haruslah diwaspadai. Ini adalah ungkapan yang sering kita dengar
Intinya, penderitaan dalam hidup ada karena tiadanya sesuatu pun yang kekal, baik suara, objek, maupun segala kondisi. Karena batin kita mengalami kontak dengan segala objek itu, maka kita pun menjadi mudah terpengaruh. Ini menyebabkan pandangan ekstrem. Kita jadi melekat pada salah satu pandangan entah itu baik atau buruk. Lima Pandangan yang kita bahas juga disebut Lima Pandangan Beracun. Pandangan ekstrem termasuk dalam salah satunya. Pandangan ekstrem yang dimaksud adalah ekstrem eternalisme dan ekstrem nihilisme
Ada orang beranggapan setelah orang meninggal dunia pasti terlahir kembali sebagai manusia. Ada pula yang beranggapan tiada yang disebut hukum sebab akibat. Menurut mereka, setelah meninggal, manusia sama seperti pelita yang apinya padam tanpa sisa begitu saja. Demikianlah dua pandangan ekstrem, dan semuanya tidaklah benar. Ada orang yang berkata bahwa kita harus berusaha bervegetaris dan menghargai nyawa yang dimiliki oleh semua makhluk. Ada pula orang yang berkata bahwa hewan memang dilahirkan untuk dimakan manusia. Mereka menganggap ayam, anjing, sapi, dan babi memang sudah ditakdirkan hidup demikian dan tetap akan begitu hingga kehidupan mendatang. Mereka berpikir bahwa binatang memang terlahir untuk dimakan oleh manusia. Mereka berpikir bahwa manusia akan tetap terlahir sebagai manusia, sedangkan hewan tetap terlahir sebagai hewan
Sesungguhnya, kita terus terombang-ambing dalam enam alam kehidupan. Benih karma apa yang kita tanam, itulah buah yang akan kita tuai. Jadi, janganlah beranggapan bahwa manusia pasti terlahir kembali sebagai manusia; jika tidak melatih diri di kehidupan ini, di kehidupan mendatang masih punya kesempatan. Kita juga sering mendengar orang berkata kita harus yakin pada hukum karma dan harus melatih diri. Sebaliknya, ada orang berkata, “Biarlah kehidupan sekarang berjalan apa adanya dan tidak perlu melatih diri, di kehidupan mendatang saja baru berlatih.” Apakah Anda pasti terlahir sebagai manusia di kehidupan mendatang? Tidak ada yang tahu. Kalaupun terlahir sebagai manusia, bagaimana kondisi hidup Anda nanti? Kalian mungkin masih ingat dahulu saya sering membahas kondisi kehidupan di Ethiopia. Kita melihat mereka mengambil air minum dari genangan air yang keruh. Di dalamnya terdapat banyak seranggga. Genangan air itu begitu kotor
Mereka menghirup air itu begitu saja. Setelah kita menyalurkan bantuan dan membawa pulang rekaman kondisi di sana, melihatnya sungguh membuat kita bertanya-tanya apakah ini benar-benar ada di alam manusia. Saya sangat takut, takut suatu hari nanti, saat membuka mata kembali setelah meninggal, saya terlahir di tempat itu. Ini mungkin saja terjadi. Kita harus meyakini hukum karma. Bukan berarti kondisi kita saat ini akan bertahan hingga ke kehidupan mendatang dengan benih karma yang sama, kondisi yang sama, dan buah karma yang sama. Tidak
Ini bergantung pada perbuatan kita saat ini. Benih apa yang kita tanam menentukan di mana kita lahir pada kehidupan mendatang. Karena itu, kita sering mengatakan, semoga tak terlahir di tempat terbelakang dan hina pada saat melakukan pelimpahan jasa. Kita juga merasa takut. Kita berharap jauh dari kondisi terbelakang dan tidak terlahir di tempat yang hina. Jika terlahir dalam kondisi itu, kita tak akan dapat mendengar Dharma. Selamanya kita tak berkesempatan mendengar Dharma. Intinya, tanpa kondisi pendukung, kita tidak akan memperoleh pencapaian
Jadi, kita harus selalu meyakini hukum karma. Janganlah melekat pada pandangan tentang diri atau melekat pada agregat rupa. Agregat selanjutnya adalah perasaan. Saat perasaan kita tidak enak, kita selalu menganggap semuanya disebabkan oleh orang lain. Sesungguhnya, tidaklah demikian. Kita sendiri harus bertanya dalam hati mengapa orang lain bisa membuat kita berperasaan tidak enak, apakah kita telah melakukan kesalahan. Jadi, kita sendiri harus berintrospeksi. Perasaan ini juga bersumber dari pikiran kita sendiri. Kondisi luar dapat memengaruhi pikiran kita karena kita melekat pada kondisi itu
Akibatnya, kita merasa menderita karena kondisi itu tak bisa lepas dari pikiran kita. Dengan adanya rupa, perasaan, dan persepsi, bentuk pikiran kita pun terwujud ke dalam perbuatan. Dengan perpaduan ini, terciptalah benih karma. Mengenai perbuatan, ini tentunya sangat menakutkan. Selain tindakan yang terlihat, ada pula bentuk-bentuk pikiran yang halus, yakni niat di dalam batin. Niat ini tidak terlihat dan tidak bisa diraba. Impuls yang halus seperti ini biasa disebut niat atau dorongan pikiran
“Mengapa niatmu begitu buruk?” Biasanya ini tidak terlihat. Inilah yang disebut dorongan pikiran. Dorongan pikiran ini sesungguhnya berasal dari diri kita sendiri dan sangat sulit untuk dijabarkan ataupun dijelaskan. Kondisi atau noda batin ini begitu halus. Ia selalu melingkupi batin kita. Demikianlah dorongan pikiran, senantiasa membelenggu tanpa henti. Meski kita tidak ingin memikirkannya, pikiran ini tetap ada. Ini juga sangat halus
Baik agregat rupa maupun agregat lainnya, semua sangat halus. Perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran juga merupakan agregat. Agregat berarti pergerakan partikel yang halus. Jadi, kita harus sangat berhati-hati. Terlebih lagi, kita tak boleh berpandangan salah, Kita telah membahas pandangan tentang diri dan pandangan ekstrem. Jika ditambah dengan pandangan salah, akan menjadi penderitaan yang tak terlukiskan. Mengenai pandangan salah, salah berarti tidak benar. Jika setiap orang memiliki pikiran yang lurus, perilakunya juga pasti lurus. Jika pikiran kita lurus, kita tak akan salah dalam melakukan berbagai hal dan selalu membawa pengaruh baik. Jika pandangan kita menyimpang, perilaku kita juga tidak akan lurus. Saya sering berkata yakin diri sendiri tanpa pamrih, yakin setiap orang memiliki cinta kasih
Yakin setiap orang memiliki cinta kasih berarti diri kita sendiri percaya bahwa pihak lain memiliki cinta kasih, tetapi mereka sendiri juga harus percaya diri sendiri tanpa pamrih. Dengan tanpa adanya pamrih atau ego, baru bisa berperilaku lurus. Dalam berperilaku terhadap orang lain, kelurusan ini sangat penting. Jika tidak lurus, berarti kita menyimpang dan memiliki ego. Pandangan yang demikian, yang dilandasi pikiran yang tidak lurus, bertindak mementingkan kepentingan pribadi tidaklah benar. Contohnya, mengatakan bahwa tidak ada hukum karma. Di awal kita sudah membahas bahwa banyak orang tidak meyakini hukum karma
Meski percaya, ada pula yang salah persepsi. Saya ingat dahulu banyak orang berkata, “Mengapa Tzu Chi menolong orang?” “Bukankah berarti menentang hukum karma?” Dahulu kita mungkin pernah mendengar ucapan seperti ini. “Dia terlahir membawa karmanya sendiri, berarti harus menerima buahnya.” “Saat karmanya berbuah, mengapa kalian malah menolongnya?” “Berarti kalian telah melanggar hukum karma.” Saudara sekalian, apakah pandangan seperti ini benar? Sesungguhnya, apa tujuan Buddha datang ke dunia ini? Untuk membimbing semua makhluk agar membangkitkan Empat Pikiran Tanpa Batas. Buddha datang untuk membimbing semua makhluk agar memiliki cinta kasih. Cinta kasih ini tidak mementingkan jalinan jodoh. Akibat pikiran yang tersesat, manusia menciptakan karma buruk dan kehilangan kebahagiaan. Kita harus berusaha agar semua makhluk bahagia, tidak melakukan perbuatan salah, dan hati mereka bisa lebih lapang. Bukankah kita sering mendengar bahwa hukuman terbesar bagi manusia adalah penyesalan. Adakalanya hati manusia merasa menderita setelah melakukan kesalahan sehingga timbul penyesalan
Penyesalan ini bagaikan hukuman, membuat hati kita merasa tidak bahagia. Buddha mengajarkan kepada kita cara untuk senantiasa merasa sukacita. Sukacita datang dari keyakinan bahwa diri sendiri tidak bersalah. Apa pun perkataan orang, kita yakin bahwa perbuatan kita benar. Apa pun yang kita lakukan dalam hidup ini tidak akan dipergunjingkan orang asalkan hati dan perilaku kita lurus. Kita yakin kita tidak bersalah. Dengan begitu, kita tak akan merasa menderita, sebaliknya merasa sukacita. Jadi, cinta kasih berarti memberi kebahagiaan
Ini mengajarkan kepada kita bahwa cara untuk senantiasa merasa bahagia tanpa ada penyesalan adalah harus benar dalam melakukan segala hal. Jika melakukan kesalahan, kita akan menyesal. Jadi, Buddha mengajarkan kepada kita untuk menjaga pikiran kita dan tidak melakukan hal yang membawa penyesalan. Lakukanlah terus yang dapat kita lakukan. Jika ada orang yang menegur kita, perbaiki diri jika memang bersalah. Setidaknya hati dan perilaku kita lurus, yakin bahwa kita tak menyalahi nurani. Sikap seperti ini adalah benar. Jadi, Buddha mengajarkan cinta kasih kepada kita
Selanjutnya adalah welas asih, yang berarti turut merasakan penderitaan orang lain. Saat makhluk lain menderita, kita merasa tak sampai hati dan ingin memberikan bantuan. Saat makhluk lain risau, kita juga merasa tak sampai hati dan seharusnya memberikan penghiburan. Inilah welas asih, turut merasakan penderitaan orang lain. Jadi, kita tidak boleh memfitnah. Jika kita memfitnah orang lain bahwa semua yang mereka lakukan tidak benar, berarti kita sendirilah yang tidak benar. Karena itu, kita harus bersungguh-sungguh. Menyangkal keberadaan hukum sebab akibat juga termasuk pandangan salah
Ini akan merusak segala kebajikan. Hanya dengan sepatah kata juga dapat merusak nama orang lain. Jelas-jelas orang lain yang benar, kita malah mengatakan mereka tidak benar. Dalam suatu masa saya sering mendengar orang berkata, “Master, orang bilang yang kita lakukan tidak benar.” “Kita telah melawan hukum karma.” Saya bertanya, “Apa maksudnya?” “Mereka bilang orang lahir membawa karma, dan buah karma itu harus ditanggung sendiri.” “Jika kita berusaha menolong mereka, bukankah kita melawan hukum karma?” Apa pendapat seperti ini benar? Seharusnya tidak benar. Seharusnya, saat melihat orang berbuat baik, kita harus turut bersukacita. Karena itu, ada suatu ungkapan, yakni, “Turut bersukacita atas kebajikan orang.” Saat orang lain melakukan perbuatan baik, kita boleh memberi dorongan semangat. Saat melihat orang melakukan hal yang baik, jika kita tidak mampu melakukannya, kita juga bisa turut bersukacita
Ini barulah sikap yang benar. Contohnya saat bencana badai di New Orleans, AS. Banyak korban bencana berkumpul di penampungan. Di posko penampungan, insan Tzu Chi membagikan bantuan. Kita dapat melihat banyak orang yang sangat menderita, banyak pula orang yang sangat bahagia. Di antaranya ada seorang umat Kristiani. Saat melihat kita membagikan bantuan, dia mengeluarkan uang dan ingin menyumbang. Relawan Tzu Chi lalu berkata, “Terima kasih banyak
” Ibu ini lalu berkata, “Saya ingin berterima kasih pada kalian.” “Saya adalah umat Kristiani.” “Saat pendeta kami berkhotbah di gereja, beliau selalu mengungkit Tzu Chi.” “Beliau sangat memuji Tzu Chi.” “Setiap kali beliau selalu membahas kebaikan insan Tzu Chi.” Beliau sangat yakin pada sumbangsih Tzu Chi. Dia bahkan berkata bahwa pendeta mereka terus-menerus berbicara tentang Tzu Chi. Suatu hari sang pendeta berkata mungkin saja suatu hari kelak Aula Huai En mereka berubah menjadi Aula Huai En Tzu Chi. Inilah pembicaraan seorang penyumbang dengan insan Tzu Chi. Insan Tzu Chi yang mendengarnya tentu merasa bangga dan sangat senang, berarti yang dilakukan insan Tzu Chi tidak salah, dan jalan ini sudah benar
Inilah turut bersukacita atas kebajikan orang. Akan tetapi, di lokasi penggalangan dana juga ada orang yang memaki relawan kita. Ada seorang tunawisma yang berkata, “Yang biasa kalian lakukan semuanya baik, hanya saja kali ini saya tidak setuju.” Mengapa? Dia berkata bahwa saat pergi ke New Orleans, karena dia seorang tunawisma, orang-orang di sana sangat meremehkannya, bahkan ingin mengusir dirinya dan mendorongnya dari tangga hingga terjatuh. Karena itu, sejak saat itu New Orleans berkesan sangat buruk baginya. Dia beranggapan bahwa bencana kali itu pantas dialami warga New Orleans. Sesungguhnya, orang yang mendorong, mengusir, dan memakinya hanyalah segelintir dari jutaan penduduk New Orleans. Lokasi yang dia kunjungi itu juga hanya bagian kecil dari keseluruhan New Orleans. Terhadap bencana besar di New Orleans, kita seharusnya membangkitkan belas kasih, bukan senang atas penderitaan orang lain. Setelah memaki di lokasi penggalangan dana, orang ini lalu pergi
Insan Tzu Chi pun segera mengejarnya untuk menjelaskan bahwa anggapannya tidaklah benar. Insan Tzu Chi merasa harus menjelaskan kepada orang itu. Dia pun tersentuh oleh ketulusan insan Tzu Chi, lalu memasukkan 10 sen ke dalam kotak dana. Akan tetapi, meski telah menyumbang, dia masih tidak berhenti mengoceh. Insan Tzu Chi pun pantang menyerah. Merasa orang itu belum begitu rela, relawan pun terus memberi penjelasan padanya. Akhirnya, dia benar-benar merasakan ketulusan insan Tzu Chi hingga tersentuh
Dia pun kembali menyumbangkan 10 sen. Setelah menyumbang untuk kedua kalinya, dia tidak lagi mengoceh. Dia berkata, “Saya telah dibuat terharu oleh kalian.” Lihatlah, keterharuan ini datang dari rasa belas kasih. Kita tak ingin orang lain berpikiran negatif atau mengabaikan hukum sebab akibat. Pasti ada sebab mengapa dia sampai didorong. Dia sendiri pun seharusnya merenungkan, “Saya memiliki tubuh yang sehat, mengapa tidak mencari kerja?” “Mengapa harus hidup luntang-lantung sehingga diremehkan orang lain?” Dirinya sendiri juga harus berintrospeksi, apa mungkin sikapnya sendiri juga kurang baik sehingga orang lain mendorongnya. Meski perlakuan orang lain tidak benar, namun diri sendiri juga harus berintrospeksi dan mencoba berpikir dia hanya satu di antara jutaan orang dan hanya berada di bagian kecil dari wilayah yang luas
Jadi, sebab akibat harus dipahami dengan jelas. Jika semuanya kita pukul rata, maka ini tidaklah benar. Jadi, pandangan salah sangat menakutkan. Pandangan yang tidak benar adalah suatu kesalahan. Belajar ajaran Buddha berarti mengamati saat menghadapi orang, kondisi, suara, atau rupa dalam keseharian, pikiran apa yang timbul dalam batin kita. Kita harus senantiasa ingat semua ini
Jika saat tubuh dan pikiran bersentuhan dengan kondisi luar kita dapat tetap menjaga perilaku kita, maka kita tidak akan menyimpang akibat pandangan tentang diri. Kita harus berjalan di Jalan Tengah. Buddha mengajarkan kepada kita untuk tidak melekat pada kekekalan dan tidak melekat pada nihilisme. Kita harus memahami hukum sebab akibat. Ini yang harus kita miliki dalam pelatihan diri. Jika tidak berjalan di Jalan Tengah, kita akan mengalami banyak halangan atau menjadi condong ke salah satu sisi. Ini juga merupakan penghalang, membuat kita tidak dapat terus maju. Jadi, dalam melatih diri kita tak boleh berpandangan ekstrem. Jadi, kita harus lebih waspada terhadap pandangan salah. Tadi kita sudah membahas tentang pandangan salah ini
Yang benar bisa dianggap salah. Ini sangat menakutkan. Pandangan tentang hukum sebab akibat jelas sangat penting bagi para praktisi, juga merupakan faktor penting dalam membangun akhlak dan perilaku baik. Jika orang mengabaikan hukum karma dan tidak takut terhadap apa pun, dia akan melakukan kesalahan apa saja. Jadi, terhadap pandangan salah ini kita juga harus sangat waspada. semoga kita semua senantiasa paham dengan jelas pandangan dan pergerakan pikiran kita setiap saat. Untuk itu, bersungguh-sungguhlah selalu