Sanubari Teduh – 127 – Lima Pandangan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita bangun pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit. Saat sebagian orang masih tertidur lelap, di ladang pelatihan kita ini, baik saat musim panas maupun musim dingin, pada waktu yang sama, saat mendengar suara ketukan kayu, setiap orang bergegas bangun dan bersiap-siap memulai aktivitas harian. Setiap orang sangat menghargai waktu. Kita harus memanfaatkan hak guna atas hidup kita karena kehidupan ini tidaklah kekal
Kapankah kita disebut benar-benar hidup? Saat tubuh ini masih sehat dan bisa bersentuhan dengan kondisi luar; saat kita memiliki pemikiran, bisa melakukan sesuatu, dan bisa berinteraksi dengan orang lain, itulah yang disebut hidup. Kehidupan manusia terdiri atas kehidupan yang bahagia dan kehidupan yang penuh penderitaan. Makna kehidupan terletak pada keseharian kita. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memahami kehidupan ini serta memahami begaimana menjalani hidup. Kehidupan ini sangat bergantung pada pandangan kita. Secara umum, pandangan terdiri atas lima jenis yang disebut Lima Pandangan. Lima Pandangan ini juga disebut sebagai Lima Pandangan Keliru
Jika dalam kehidupan kita muncul lima jenis pandangan keliru ini, maka akan timbul penderitaan. Karena itu, kini kita harus menaruh perhatian pada Lima Pandangan ini. Yang pertama adalah pandangan tentang diri. Saat kesadaran terpisah dari tubuh, maka tiada yang disebut kehidupan. Orang zaman dahulu berkata, bencana besar dalam kehidupan manusia terjadi karena adanya tubuh ini. Karena adanya tubuh ini, kita akhirnya berpikir, “Ini yang saya sukai, ini yang tidak saya sukai.” “Ini yang saya senangi, ini yang tidak saya senangi.” “Saat begini, saya sangat bahagia.” “Saat begitu, saya sangat menderita
” Ini karena tubuh kita selain bisa merasakan, juga bisa mengalami ketidakselarasan yang berujung pada timbulnya penyakit. Saat terserang flu saja, kita akan ingusan, batuk, dan lain-lain. Itu semua sudah terasa begitu merepotkan. Terlebih lagi, saat tubuh terserang penyakit, kita akan merasa sangat menderita. Baik sakit kepala, sakit perut, maupun sakit kaki, semuanya dirasakan oleh tubuh. Jadi, kemelekatan pada pandangan tentang diri ini tidak terlepas dari Lima Agregat yang meliputi rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Akibat memiliki tubuh ini, kita jadi melekat pada pandangan tentang diri. Kemelekatan pada tubuh dan rupa memicu timbulnya noda batin dan sikap membedakan
Ambil bencana di New Orleans sebagai contoh. Lihatlah, saat Badai Katrina menerjang, negara yang semakmur Amerika Serikat juga tidak mampu mencegahnya. New Orleans mengalami kerusakan parah. Rumah dan usaha yang dibangun oleh banyak orang selama puluhan tahun hancur seketika akibat terpaan angin ribut. Korban bencana mencapai puluhan ribu orang. Kisah para korban bencana pun berbeda-beda. Kisah-kisah ini berhubungan dengan rupa, seperti lingkungan rumah yang berwujud, barang yang sangat disenangi, bahkan anggota keluarga yang paling disayangi
Semua itu hancur dalam sekejap akibat badai. Banyak orang yang kehilangan tempat tinggal dan terpisah dengan keluarga mereka. Semua itu tak terlepas dari kemelakatan pada tubuh ini. kita merasa bahwa yang kita miliki begitu banyak. Ada yang berkata, “Badai telah menghancurkan semua harta benda yang saya miliki
” “Saya merasa sangat menderita karena kehilangan segalanya.” “Badai menghancurkan hasil jerih payah saya selama puluhan tahun.” Semuanya “saya” atau “aku”. Saat tubuh kita bersentuhan dengan segala kondisi luar yang berwujud, baik benda materi maupun manusia, maka dalam proses ini pasti terdapat banyak penderitaan. Kedua adalah pandangan ekstrem. Artinya, melekat ekstrem pada satu sisi. Adakalanya orang melekat pada kekekalan, ada pula yang melekat pada nihilisme
Keduanya merupakan pandangan keliru. Orang yang melekat pada nihilisme berpikir, “Untuk apa berbuat baik?” “Berhubung sudah lahir ke dunia, lakukan saja semua yang saya inginkan.” “Apa itu hukum karma?” “Saya tidak melihatnya.” Karena itu, mereka berbuat sesuka hati. Orang seperti ini akan sangat mudah menciptakan banyak karma buruk
Mereka tak peduli akan akibat perbuatan mereka, hanya memikirkan kesenangan saat ini. Mereka hanya mengejar kesenangan pribadi dengan berbuat sesuka hati. Inilah orang yang melekat pada paham nihilisme. Mereka tidak tahu bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat
Agama apa pun, baik Kristen Protestan, Katolik, maupun Taoisme, semuanya mengajarkan adanya alam surga dan alam neraka. Orang yang berbuat baik akan masuk surga. Orang yang beriman dan mematuhi ajaran akan masuk surga. Orang yang tidak beriman dan tidak mematuhi ajaran akan masuk neraka. Paling tidak, agama-agama lain, baik Katolik, Kristen Protestan, Taoisme, maupun Islam, semuanya memiliki konsep hukum sebab akibat. Jika kita memiliki pandangan tentang hukum karma dan pandangan benar, maka secara alami kita tak akan berbuat jahat
Agama bertujuan agar setiap orang memiliki tujuan hidup yang tepat dan pendidikan yang benar. Jadi, paham nihilisme tidaklah benar. Kita semua harus meyakini hukum karma. Ada ungkapan berbunyi, “Segala sesuatu tidak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti.” Karma bagaikan sebutir benih. Apa perbuatan yang kita lakukan, itulah benih yang kita tanam. Setelah meninggalkan satu kehidupan, benih yang tertanam dalam kesadaran ini masih akan bertunas sesuai kondisi dan jodoh hingga memunculkan buah
Ini adalah kenyataan yang tak terhindarkan. Karena itu, janganlah menjadi nihilis. Sesungguhnya, setelah hidup ini berakhir, masih ada kehidupan mendatang. Kehidupan selanjutnya bukan tidak ada, sama seperti hari-hari yang terus berganti. Contohnya, hari ini kita membantu orang, orang lain akan memuji kita. Hari ini kita berbuat baik dan bertutur kata baik, ini akan meninggalkan kesan baik pada orang lain. Inilah yang disebut sebab akibat
Kita harus membangun keyakinan di dalam hati orang. Segala ucapan kita dalam keseharian haruslah sesuai dengan perilaku kita. Inilah benih yang kita tanam. Benih ini juga akan berbuah dan dirasakan oleh orang lain. Dalam contoh tadi, buah ini berwujud kepercayaan dari orang lain. Jadi, hukum sebab akibat sungguh nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, segala perbuatan kita akan menjadi benih yang berbuah di kemudian hari
Karena itu, janganlah berpaham nihilisme. Terlebih lagi, jangan melekat pada kekekalan. Ada orang yang berpikir, “Saya memiliki uang dan sangat kaya.” “Saya terlahir sebagai manusia yang berpenampilan sangat menarik.” “Inilah rupa saya pada kehidupan ini, pada kehidupan mendatang pasti juga begini.” “Saya akan selalu terlahir sebagai manusia dan menikmati kekayaan berlimpah.” Pandangan ini juga tidaklah benar. Buddha mengajarkan bahwa alam kehidupan ada lima, yaitu alam surga, alam manusia, alam binatang, alam setan kelaparan, dan alam neraka
Biasanya kita selalu menyebut enam alam kehidupan. Salah satu di antaranya adalah alam asura. Makhluk asura tersebar di dalam lima alam lainnya. Kita disebut makhluk asura saat kita bertemperamen buruk dan mudah marah. Meski telah menciptakan banyak berkah, bersedia berdana, dan berbuat baik, tetapi tetap tidak mengubah temperamen dan sangat mudah marah. Setelah berdana, mereka masih bertutur kata kasar
Orang seperti ini meski sudah menciptakan banyak berkah dan kelak terlahir di alam surga, tetaplah merupakan makhluk asura. Makhluk asura yang terlahir di alam surga juga sangat mudah marah. Mereka juga sering bertengkar dan berkelahi. Di alam surga juga terjadi hal seperti ini. Mereka sangat memiliki berkah, tetapi tidak memiliki akhlak yang baik. Mereka menanam benih baik sehingga menikmati kehidupan di surga. Inilah yang disebut memiliki karma baik
Akan tetapi, mereka kurang akhlak. Saya sering berkata bahwa berkah terdiri atas 2 jenis. Jika kita memiliki karma baik dan melatih diri, maka disebut memiliki berkah dan akhlak. Sebaliknya, jika hanya memiliki karma baik, namun tetap bertemperamen buruk dan tidak melatih diri, ini disebut hanya memiliki karma baik. Karena itu, ada orang yang berkata, “Anda sangat memiliki berkah.” “Berkah” di sini berarti “Berkah” di sini berarti orang lain itu hanya mengagumi materi kita. Kita hidup di tengah kenikmatan, memiliki anak-anak yang patuh, dll. Hanya begitu saja. Kita tetap kekurangan akhlak. Karena itu, kita harus mengembangkan karma baik dan akhlak
Dengan demikian, saat terlahir di alam surga, kita bisa menikmati kedamaian fisik dan batin. Kenikmatan di surga berlangsung lebih lama. Ini karena 50 tahun di alam manusia sama dengan satu hari di alam Empat Maharaja. Seratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari di Surga Trayastrimsa. Jadi, usia makhluk Surga Trayastrimsa sangat panjang. Artinya, makhluk di alam surga lebih panjang umur dan lebih banyak merasakan kenikmatan. Akan tetapi, jika kita bertemperamen buruk bagaikan asura, meski hidup di alam surga, kita tetap akan sangat menderita. Di alam manusia juga terdapat asura. Orang yang selalu berkelahi dan membuat onar adalah asura di alam manusia
Lihatlah peperangan yang terjadi tanpa henti di dunia, itu juga akibat asura di alam manusia. Apakah di alam binatang juga ada asura? Ada. Di alam binatang juga terdapat asura. Kita dapat melihat anjing atau ayam yang juga selalu berkelahi. Ada pula ayam yang disebut ayam sabung. Jadi, di alam binatang juga terdapat asura. Mereka sering mengganggu makhluk lain, sering bertengkar dan berkelahi. Adakalanya, kita dapat melihat seekor serangga yang sangat baik sehingga serangga yang lain terus berusaha untuk menguasai tempat serangga yang baik tersebut. Serangga yang jahat terus mendekat dan ingin menggigit serangga yang baik
Serangga yang baik terus mengalah. Adakalanya, serangga yang jahat akan mendorong serangga yang baik hingga ia terjatuh untuk menguasai tempat serangga baik tersebut. Hal seperti ini juga ada. Di alam kehidupan ini, ada makhluk yang berperangai baik, ada pula yang berperangai tidak baik. Di dalam Kitab Jataka, Buddha berkata bahwa dahulu, demi membimbing semua makhluk, Beliau terus mengalami kelahiran di enam alam kehidupan. Beliau juga pernah ke alam neraka dan merasakan penderitaan yang sama dengan makhluk-makhluk di alam neraka. Beliau melihat seorang tua yang sangat kurus kering bagaikan kayu bakar. Sungguh kasihan
Orang tua tersebut sedang menarik sebuah kereta yang panas membara. Sungguh menderita. Saat Buddha ingin membantu orang tua itu menarik kereta, penjaga neraka melihatnya dan berkata, “Karma kamu sendiri belum habis terkikis, mengapa masih membantu orang tua ini menarik kereta?” Buddha menjawab, “Aku rela menanggung semua penderitaanku.” “Akan tetapi, aku tidak tega melihat orang tua ini menderita.” “Aku bersedia membantu dia menariknya.” Penjaga neraka pun mengambil sebatang tongkat untuk memukulnya hingga keluar dari alam neraka. Buddha berkata bahwa yang membantu orang tua itu menarik kereta adalah Beliau sendiri, Buddha Sakyamuni
Buddha pernah lahir di alam neraka. Selain itu, di dalam Sutra Raja Rusa dan Sutra Burung Merak juga dikisahkan tentang kehidupan masa lampau Buddha. Makhluk-makhluk di lima alam juga dapat berbuat baik dan melatih diri. Yang berbuat jahat belum tentu makhluk alam hewan. Kejahatan manusia bahkan lebih kejam dari binatang. Lihatlah, banyak sekali orang yang makan daging hewan dan menggerogoti tulangnya. Manusia membunuh segala jenis hewan untuk dijadikan santapan. Manusia seperti ini tidak percaya hukum karma. Mereka melekat pada kekekalan. Mereka berpikir, “Sebagai manusia, saya bisa melakukan semuanya sesuka hati asalkan saya senang.” “Saya harus menikmati hidup ini
” “Sekarang saya bisa hidup nikmat, di kehidupan mendatang juga pasti demikian.” Apakah kelak ia tetap terlahir sebagai manusia? Ini sangat sulit diprediksi. Meski terlahir sebagai manusia, apakah kita bisa hidup senang seperti sekarang? Belum tentu. Kita tak boleh melekat pada pandangan nihilisme dan eternalisme. Jadi, pandangan ekstrem juga merupakan kekeliruan. Dalam pelatihan diri ini, adakalanya saat tubuh ini bersentuhan dengan segala kondisi luar, baik manusia, hal, maupun materi, akan timbul perasaan dalam batin yang akan membentuk persepsi apakah suatu hal adalah benar atau salah
Karena itu, kita harus sangat berhati-hati. kita bersentuhan dengan banyak kondisi luar. Semua ini tak lepas dari adanya Lima Agregat dan Lima Pandangan. Semua ini tidak lepas dari keseharian kita. Karena itu, Saudara sekalian, dalam melatih diri, kita harus bersungguh-sungguh dalam melihat kondisi sekitar. Kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan. perhatikanlah kondisi hati kita saat memandang kondisi sekitar. Untuk itu, kita harus senantiasa bersungguh hati.