Sanubari Teduh – 126 – Lima Kekikiran Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, alam semesta ini sangat luas. Lahan batin kita lebih luas tak terbatas. Mengenai hati, bukankah sering kita katakan, “Lapangkan hati hingga seluas jagat raya.” Benar. Hati kita harus sangat terbuka. Tidak ada sesuatu apa pun yang dapat merintangi batin kita. Hati yang lapang bisa menoleransi segalanya. Jadi, mempelajari ajaran Buddha berarti belajar bagaimana melapangkan hati kita agar dapat memaklumi segala sesuatu. Inilah keterampilan yang harus kita latih. Kita pernah membahas bahwa batin kita memiliki lima jenis kekikiran
Sifat kikir berarti tidak rela melepas dan tidak bersedia berbagi dengan orang lain. Semua mau dikuasai sendiri. Ini yang disebut kikir. Di antaranya ada kekikiran akan tempat tinggal, selalu menginginkan tempat tinggal lebih besar dari orang lain. “Dalam daerah kekuasaan saya, tak akan saya biarkan ada orang lain.” Bukan hanya itu, bahkan tidak bersedia makan semeja dengan orang lain, terutama orang yang tidak disukai. Bahkan saat berbaris pun tidak ingin berada satu barisan dengannya
Banyak orang seperti ini. Pertama, mereka selalu ingin menguasai segalanya. Kedua, mereka berharap orang yang tak mereka sukai tidak berada dekat dengan diri mereka. Inilah hati yang sempit dan kikir. Ini kekikiran dari segi tempat. Kedua adalah kikir terhadap keuntungan. “Jika kamu ingin bersumbangsih, yang terpenting beri saya dulu, bagian saya harus lebih banyak
” “Saya tidak ingin sama-sama untung dengan orang lain.”
“Tidak mau.” Mereka tidak mau berbagi, semuanya harus dikuasai sendiri. Ini karena adanya nafsu keinginan. Mengenai niat atau keinginan, saat melihat sesuatu yang bagus, manusia ingin memilikinya seorang diri, tak ingin orang lain juga memilikinya atau memperoleh keuntungan yang setara. Sikap seperti ini adalah salah. Ini menunjukkan kesempitan hati
Ketiga adalah kekikiran akan pujian. Orang seperti ini berharap hanya dirinya yang dipuji dan tak ingin orang lain dipuji. “Apa pun yang saya lakukan selalu lebih baik dari orang lain.” Diri sendiri selalu dijadikan tolok ukur. Dalam istilah zaman sekarang disebut narsisme, mencintai diri sendiri secara berlebihan, merasa diri sendiri sangat luar biasa. Orang seperti ini selalu mengidolakan diri sendiri. “Orang lain layak menjadikan saya idola, itu yang saya rasakan.” Inilah kekikiran akan pujian
Di zaman sekarang ini benar-benar ada penyakit psikologis seperti ini. Ini disebut narsisme, menganggap dirinya adalah yang terbaik dan selalu lebih unggul dari orang lain. Sikap seperti ini sungguh membawa penderitaan. Jika kita selalu merasa diri kita selalu lebih baik dari orang lain dan sudah selayaknya mendapat pujian, maka saat mendengar orang memuji orang lain, kita akan merasa sangat menderita. Kita tidak tahan mendengar orang lain dipuji. Sikap seperti inilah yang disebut kekikiran akan pujian. Ingatkah kalian, dalam kumpulan Kata Perenungan Jing Si ada satu kalimat berbunyi memuji orang lain berarti memperindah diri sendiri? Artinya, memuji orang juga merupakan sebuah sikap terpuji. Kita harus senantiasa bertutur kata baik
Pujilah orang lain, jangan menganggap pujian hanya layak kita dapatkan sendiri, menganggap hanya diri sendiri yang pantas dipuji, sedangkan orang lain tidak. Jika bersikap demikian, kita akan menderita. Keempat adalah kekikiran akan materi. Semua orang menginginkan kekayaan materi, lebih banyak dirasa lebih baik. Akan tetapi, dapat menghasilkan uang, apakah berarti dapat bijak menggunakannya? Harta kekayaan yang dimiliki apakah bisa dimanfaatkan di dunia ini? Ini bergantung pada kebijaksanaan kita. Karena itu, kita harus selalu mawas diri. Kekikiran akan kekayaan materi ini bukan semata-mata tak rela berdana, melainkan saat melihat orang lain berdana, diri sendiri juga merasa marah
Orang yang seperti ini seharusnya juga sering kita dengar dan sering kita lihat. Saya teringat saat kita menggalang dana dan menggalang hati, kita berharap dapat mendidik orang yang mampu membantu yang tidak mampu dan setiap orang dapat membangkitkan cinta kasih di dalam hati. Bagaimana cinta kasih ini diungkapkan? Dengan kerelaan untuk bersumbangsih. Apa yang orang lain kurang, kita berusaha untuk memberikannya, inilah ungkapan cinta kasih. Akan tetapi, banyak hal yang kurang dalam hidup, terutama bagi orang yang miskin dan sakit. Dengan kekuatan banyak orang, kita dapat berusaha untuk mengajak orang yang mampu dan memiliki kekayaan untuk membantu orang yang kekurangan. Inilah yang disebut mendidik orang yang mampu dan membantu orang yang kurang mampu
Semua orang setuju bahwa hal ini baik. Akan tetapi, saat kita mengajak mereka untuk berdana, tidaklah semudah itu. pada bulan Agustus 1999, apa yang terjadi di Turki? Sebuah gempa bumi merusak tempat tinggal banyak orang. Kita pun merasa tak sampai hati dan berharap setiap orang mengetahui tentang musibah yang menggemparkan itu. Daratan yang dilanda bencana ini sesungguhnya juga merupakan bagian dari bumi kita yang satu. Di mana pun terjadi ketidakselarasan unsur tanah, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Karena itu, saya berkata bahwa saat terjadi bencana yang menggemparkan, kita harus sadar dan mengambil hikmahnya
Meski Turki berada jauh dari kita, tetapi sesungguhnya kita berada di bumi yang sama. Karena itu, kita yang tinggal di tempat yang aman seharusnya membantu mereka yang terkena bencana. Ini adalah sebuah penyadaran. Dalam kehidupan yang penuh suka duka ini, jika kita tidak sering merenungkan mengapa kita begitu penuh berkah dan dalam kehidupan sehari-hari, sejak lahir hingga sekarang segalanya berjalan sesuai harapan, jika kita tidak meningkatkan kesadaran dan tidak berintrospeksi, kita tak akan sadar bahwa kita begitu penuh berkah. Kesempatan untuk berintrospeksi pun tidak begitu banyak. Jadi, dengan membantu orang yang menderita, kita dapat membandingkannya dengan diri kita dan melihat mengapa ada begitu banyak bencana, mengapa orang lain hidup begitu sulit, mengapa berbagai musibah terus menimpa diri mereka
Dari kondisi orang lain dan kondisi tempat tinggal mereka, kita hendaknya semakin paham. Inilah yang Buddha katakan, yakni kenyataan akan penderitaan. Sebaliknya, kita yang hidup dalam kebahagiaan selalu berada dalam kegelapan batin, menganggap yang kita miliki adalah sudah sepantasnya. Orang seperti ini selamanya tak akan sadar, tidak mampu memahami, juga tidak dapat tercerahkan. Kita harus memanfaatkan kondisi yang ditemui untuk melatih batin. Misalnya, di tempat yang jauh dari kita telah terjadi bencana
Mengapa begitu banyak bencana di sana? Kita harus merenungkannya. Tentu ini akibat karma buruk kolektif. Kekuatan karma ini sungguh dapat menggetarkan. Kekuatan ini dapat memberi pengaruh besar. Kita harus segera sadar
Saat bencana yang menggemparkan terjadi di suatu tempat, contohnya di Turki, kita harus membangkitkan kesadaran kita. Kita juga harus segera mengimbau agar setiap orang dapat mendengar dan mengetahui bahwa di sebuah tempat yang jauh ada sebuah negara bernama Turki. Negara itu telah dilanda sebuah bencana besar. Kita semua harus segera sadar dan meningkatkan pemahaman. Setelah sadar, apa yang yang dapat dilakukan? Kita harus bersama-sama menciptakan berkah. Kita harus menghimpun berkah dengan kekuatan banyak orang. Jika satu orang menciptakan satu berkah, maka dengan jumlah orang yang banyak, berkah yang terhimpun akan dapat meredam kekuatan karma buruk. Jadi, saat kekuatan karma buruk bertambah, bencana yang terjadi akan semakin besar
Jika berkah atau karma baik bertambah, ketenteraman akan semakin meluas. Jadi, kekuatan kebajikan dan keburukan bagaikan tengah tarik-menarik. Jadi, saat itu kita segera mengimbau agar setiap orang melakukan satu kebajikan atau setidaknya membangkitkan rasa empati. Setidaknya mereka tahu bahwa ada bencana yang tengah terjadi. Untuk itu, kita menggalang dana secara khusus. Saya berterima kasih kepada insan Tzu Chi yang telah membangkitkan cinta kasih dan menghimpun kekuatan dengan menggalang dana di jalan-jalan. Dalam penggalangan dana itu sungguh banyak kisah yang menyentuh
Ingatkah kalian ada seorang penyandang cacat yang tidak mampu bangkit untuk berjalan? Dia berjalan dengan merangkak. Ketika melihat ada insan Tzu Chi yang membawa kotak dana, dia pun ingin ikut menyumbang. Meski dia adalah seorang peminta-minta, tetapi juga ingin ikut menyumbang. Akan tetapi, insan Tzu Chi yang terus berkonsentrasi malah tidak menyadari bahwa dari belakang ada seseorang yang berusaha mendekat. Mereka terus berjalan, sedangkan orang itu terus merangkak di belakang dan berusaha untuk lebih mendekat. Meski dia juga terus memanggil, tetapi tidak terdengar oleh relawan kita. Lalu ada orang yang memberi tahu relawan. Ketika menoleh ke belakang, relawan melihat orang itu. Seketika itu, dalam hati relawan terpikir bahwa orang ini mungkin memerlukan bantuan
Para relawan segera menghampirinya dan bertanya, “Apakah Anda membutuhkan bantuan?” “Tidak, saya ingin ikut menyumbang.” Relawan pun segera berlutut dan berkata, “Baik sekali, kaya batin meski kekurangan, Master juga mengajarkan demikian.” “Kami berharap orang yang kekurangan juga dapat membangkitkan cinta kasih.” Cinta kasih ini sama dengan milik orang berada. Karena itu, berkahnya juga sama. Orang itu segera menyumbangkan uang Sebanyak 500 dolar NT (Rp150.000). Relawan pun berkata itu terlalu banyak, tetapi dia menjawab tidak
“Saya memang tidak memiliki kemampuan, namun saya tulus dan sepenuh hati.” Saat ditanya di mana tempat tinggalnya dan apakah membutuhkan bantuan, dia menjawab tidak. “Saya hanya hidup sendiri, masih dapat keluar setiap hari, saya sudah sangat bersyukur.” Dia terus merangkak di tanah, bentuk kakinya telah berubah. Demikian juga dengan bentuk tangannya. Dia hidup dengan meminta-minta. Akan tetapi, dia bisa menabung dan hasilnya dia sumbangkan seluruhnya. Meski hidup kekurangan, batinnya tetap kaya. Pada saat yang sama, banyak pula orang yang terus memaki saat melihat kita menggalang dana. Bukan hanya tidak memuji, sebaliknya malah mengeluarkan makian. Mereka menganggap kita tidak membantu Taiwan dan malah menolong negara yang jauh
“Kami bahkan tidak tahu di mana letak Turki.” Selain memaki, ada pula orang yang saat melihat anggota Tzu Cheng membawa poster dan anggota komite membawa kotak dana, mereka kemudian marah dan mengepalkan tinju untuk memukul poster yang dibawa. Bahkan ada pula orang yang berkata, “Kalian ingin memberi bantuan?” “Bantu saja saya, saya sangat membutuhkan.” Dia pun mengulurkan tangan ke arah kotak dana. Melihatnya ingin merogoh kotak dana, relawan kita pun merendahkan posisi kotak tersebut. Orang yang ada di sampingnya lalu berkata, “Anda mana boleh berbuat seperti itu?” Lihatlah, orang seperti ini bukan hanya enggan berdana. Melihat orang lain menggalang dana dan ada orang yang menyumbang, dia malah merasa marah. Inilah kekikiran akan materi
Ketika Badai Katrina melanda New Orleans, kita menggerakkan insan Tzu Chi seluruh dunia. Dari laporan yang kita terima, banyak pula kisah yang sangat menyentuh. Ini membuat kita dapat merasakan beragam kondisi dan mendengar berbagai kisah. Di antaranya, ada sebuah kisah dari Amerika Serikat. Insan Tzu Chi Amerika Serikat bukan hanya mengunjungi posko penampungan. Bukan. Mereka juga menggalang dana ke tempat lain. Mereka menggalang dana di banyak negara bagian
Saat itu terjadi kisah yang sangat menyentuh. Ada seorang anggota komite Tzu Chi membawa kotak dana, tentu saja didampingi anggota Tzu Cheng. Mereka menggalang dana di dalam dan di luar pasar swalayan. Di antara pengunjung, ada seorang nenek. Punggung nenek ini sangat bungkuk. Punggungnya hampir sejajar dengan lantai. Untuk berjalan saja, dia kesulitan
wajahnya tetap penuh senyuman. Dia menghampiri anggota komite kita yang sedang membawa kotak dana. Melihat sang nenek menghampirinya, berhubung tubuh nenek ini sangat bungkuk, maka relawan kita juga ikut membungkuk. Sang nenek mengeluarkan 20 dolar AS (Rp180.000) dan memasukkannya ke dalam kotak dana. Anggota komite kita melihat sang nenek memasukkan begitu banyak uang sehingga sempat terkejut sejenak. Saat sadar dan ingin mengucapkan terima kasih, sang nenek telah berbalik dan berjalan pergi
Anggota komite ini berpikir sang nenek mengenakan pakaian sederhana, terlebih berjalan dengan tubuh bungkuk, sehingga merasa tidak tega. Dia ingin menanyakan apakah sang nenek butuh perhatian. Dia terus memikirkan hal ini. Kemudian, para relawan lain keluar dari pasar swalayan. Dia lalu bercerita pada mereka tentang sang nenek yang menyumbangkan uang dan langsung masuk ke pasar swalayan sebelum relawan sempat berterima kasih
Para relawan lain pun berkata mereka juga melihat nenek itu. Dia memasukkan uang ke setiap kotak dana. Mereka pun semakin terharu. Setelah selesai relawan berbicara, mereka kembali melihat nenek itu berjalan keluar
Wajahnya selalu penuh senyuman. Dia kembali memasukkan 20 dolar ke dalam kotak. Dia berkata, “Saya sudah selesai belanja, uang ini adalah sisanya.” Dia segera memasukkannya ke dalam kotak dana. Semua relawan ingin berterima kasih padanya. Sang nenek selalu terlihat tersenyum. Setelah memasukkan uang, dia pun segera pergi dan berjalan menjauh
Saya membaca kisah ini melalui surat elektronik. Saya sungguh merasa tersentuh. Dapat kita bayangkan, nenek setua itu
dengan punggung bungkuk yang hampir sejajar dengan permukaan tanah tidak kikir sedikit pun. Dia menyumbangkan semua uang miliknya. Dia berhemat saat berbelanja dan kembali menyumbangkan sisanya. Ini sungguh membuat orang tersentuh. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar melapangkan hati. Selain selalu bertutur kata baik, kita harus memiliki hati yang lapang. Kita herus memiliki pemahaman bahwa dapat membantu orang lain adalah berkah. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri mengapa ada begitu banyak orang yang menderita, mengapa banyak orang hidup tidak beruntung, mengapa bisa terjadi begitu banyak bencana. Kita harus selalu mengingat hal ini
Banyaknya bencana adalah akibat karma buruk kolektif semua makhluk. Kondisi masyarakat yang damai dan harmonis adalah buah dari karma baik kolektif. Dengan adanya himpunan karma baik, masyarakat dengan sendirinya akan lebih tenteram. Jadi, kita harus senantiasa mawas diri. Kelima adalah kekikiran akan Dharma. Ini berarti setelah memahami ajaran Buddha, kita harus sungguh-sungguh mempraktikkannya
Ajaran yang baik harus kita wariskan agar setiap orang berkesempatan mendengarnya. Selain itu, bukan hanya mendengarnya, melainkan juga mempraktikkannya secara nyata. Jadi, jangan menganggap ajaran Buddha hanya boleh kita ketahui sendiri. Ajaran kebenaran yang baik bukan diperuntukkan bagi kita seorang. Ajaran yang baik jika hanya diketahui kita seorang, maka akan ada banyak orang yang tidak memahami kebenaran. Orang yang tidak memahami kebenaran akan menciptakan banyak karma buruk
Karena itu, dikatakan bahwa manusia dapat membabarkan kebenaran, bukan sebaliknya. Terhadap ajaran yang baik, setiap orang berkewajiban menyebarkannya agar dapat diketahui semua orang. Jadi, janganlah kikir akan ajaran Buddha. Jangan berpikir, “Cukup saya yang tahu, cukup saya yang bisa menjelaskan, orang lain tidak perlu diberi tahu.” Tidak boleh. Lihatlah, insan Tzu Chi selalu menyebarkan cinta kasih ke berbagai tempat
Mereka selalu menyebarkan perkataan yang baik. Sesungguhnya, ini masih belum cukup. Ada begitu banyak orang di dunia ini, maka kita membutuhkan lebih banyak orang lagi untuk tidak menyimpan kebenaran bagi diri sendiri, namun juga turut menyebarkannya. Jangan berpikir, “Hanya saya yang boleh dengar, hanya saya yang boleh tahu, orang lain jangan sampai tahu.” Jangan seperti itu. Jika bersikap seperti itu, kita pasti menciptakan segala karma buruk
Jadi, mengenai Lima Kekikiran ini, kita semua jangan sampai memilikinya. Kekikiran dan ketamakan janganlah ditanam di dalam hati. Kita harus membuka pintu hati, janganlah memiliki sifat tamak dan kikir. Sifat tamak dan kikir tidaklah benar. Kita harus melapangkan hati kita hingga seluas alam semesta. Dengan begitu, barulah dunia ini dapat bebas dari bencana. Baiklah, harap semua selalu bersungguh hati.