Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 125 – Lima Kekikiran Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, pagi tadi, saat berjalan masuk ke sini, sebelum memasuki aula utama, sudah tercium harumnya aroma pepohonan, harumnya rerumputan, dan aroma tanah di luar. Udara pun mengandung aroma yang harum. Dalam suasana yang tenang seperti ini, sama sekali tidak terdengar desiran angin atau suara hujan. Yang terdengar suara alam yang hening, suara kicauan burung, derik serangga, suara napas alam, ditambah aroma udara yang segar, sungguh indah. Saudara sekalian, terlahir dalam kondisi yang penuh berkah seperti ini, kita harus senantiasa bersyukur

 Rasa syukur adalah berkah. Dengan memiliki rasa syukur, kita baru bisa hidup harmonis dengan alam. Jadi, kita harus senantiasa menciptakan berkah. Untuk menciptakan berkah, tentu harus berlapang dada. Jika kita berhati lapang, tentu dapat berpengertian. Orang yang mampu berlapang dada baru bisa memahami prinsip kebenaran tentang segala sesuatu di alam semesta dan hubungan antarmanusia. Kita dapat memahami semuanya sendiri. Artinya, kebijaksanaan kita secara alami bersentuhan dengan segala sesuatu di alam semesta sehinggga kita bisa tahu dengan sangat cepat bahwa ini adalah aroma pepohonan, ini adalah aroma tanah, dan sebagainya

 Singkat kata, kita akan dapat membedakan aroma dari segala sesuatu di alam semesta. Ini bergantung pada kelapangan hati kita. Dengan berlapang dada, kita baru mudah berpengertian. Jika tidak, berarti kesadaran kita seakan telah terkunci seluruhnya. Untuk membuka kesadaran ini, kita harus melapangkan hati kita. Untuk melapangkan hati kita, kita harus belajar dengan metode yang tepat. Saya sering mengatakan bahwa Dharma bagaikan air

 Apakah di dalam batin kita terdapat noda batin? Selama batin kita memiliki kerisauan karena telah tercemar, maka kita harus membersihkannya dengan air Dharma. Kini kita seharusnya sudah tahu bahwa di dalam batin kita terdapat banyak sekali noda batin. Dari mana asal noda batin ini? Selain yang sudah dibahas sebelumnya, yakni Lima Penutup dan Lima Kediaman Mental, Kini kita akan membahas Lima Kekikiran. Kekikiran di sini berhubungan dengan ketamakan. Bukankah sudah kita bahas tadi bahwa hati kita harus lapang baru kita bisa mudah berpengertian. Ketidaklapangan hati adalah akibat dari kekikiran

 Akibat kekikiran, segala sesuatu ingin kita kuasai sendiri. Entah benda apa pun, semua hanya boleh kita miliki sendiri. Kita tidak senang jika orang lain juga memilikinya. Inilah kekikiran. Sifat yang tidak ikhlas bersumbangsih juga disebut kikir. Tidak rela berbagi walau hanya sedikit Mengenai sifat kikir dan tamak ini, yang pertama adalah kikir akan tempat tinggal. Mengenai tempat tinggal, setiap orang yang hidup di dunia, di kolong langit dan di atas bumi

 Di kolong langit dan di atas bumi ini, kita tentu memerlukan ruang kecil. Contohnya kita yang tinggal bersama di vihara. Meski vihara tempat melatih diri ini besar, namun sebagai praktisi, ruang tidur kita tidaklah besar. Selain itu, banyak aturan yang harus ditaati. Jika memang ingin melatih diri, kita tentu harus bisa berhati lapang, bukan menginginkan rumah yang lapang. Tempat tinggal kita tidak perlu megah ataupun luas. Tidak. Sebaliknya, kita harus berusaha memperkecil keinginan terhadap materi serta melapangkan hati

 Ini baru disebut pelatihan diri. Karena itu, dahulu saya sering mengatakan, sesungguhnya seberapa luas tempat tinggal yang dibutuhkan satu orang? Untuk tidur, paling hanya dibutuhkan 2 kali 1 meter. Itu sudah cukup untuk tidur. Ukuran tempat tidak perlu melebihi 1 kali 2 meter. Sesungguhnya, seberapa besar tubuh satu orang? Ukuran tubuh manusia tidak terlalu besar, untuk apa menuntut secara berlebihan? Selain mengenai tempat tidur, kamar tidur juga akan kita bahas. Satu kamar atau satu ruang tidur bisa ditempati tiga sampai lima orang

 Ini sudah termasuk lega. Apakah perlu untuk menyediakan satu kamar untuk satu orang? Tidak perlu. karena hati yang lapang jauh lebih bermakna daripada rumah yang lapang dan luas. Ini juga disebut pelatihan diri. Tinggal bersama dalam satu ruangan berarti kita bisa menerima banyak orang. Banyak orang berarti banyak berkah. Dengan bertambahnya teman, kita dapat saling berdiskusi

 Saat tinggal bersama, kita bisa saling berbagi tentang yang didengar, yang kita lihat, yang mengharukan, dan yang sangat menginspirasi. Kita dapat saling berbagi dan berdiskusi untuk menambah kebijaksanaan dan memperkokoh tekad melatih diri kita. Jika tinggal di suatu tempat bersama-sama, lalu membicarakan orang lain atau menempati sebuah kamar seorang diri lalu mengajak orang datang untuk bergosip, semua ini akan merusak akhlak dan kebijaksanaan. Tujuan kita melatih diri adalah menumbuhkan kebajikan dan mengembangkan kebijaksanaan kita agar hati kita dapat senantiasa murni. Jadi, meski tinggal di tempat yang sempit, kita juga memiliki jalan pelatihan yang lapang. Karena itu, janganlah kikir akan tempat tinggal. Jika memiliki tempat, kita dapat mengajak lebih banyak orang untuk tinggal dan melatih diri bersama. Sikap seperti ini adalah benar

 Janganlah kita membeda-bedakan– jika orang itu baik terhadap kita, maka dia boleh tinggal dengan kita, sedangkan jika orang itu tidak kita sukai, kita berharap dia berada lebih jauh, tidak mengizinkannya masuk ke kamar kita, bahkan bersebelahan kamar saja tidak boleh, kalau bisa jauh sedikit. Sikap seperti ini adalah salah. Jadi, janganlah kikir akan tempat tinggal. Kekikiran pertama adalah kikir akan tempat tinggal. Di dalam tempat tinggal kita, selain terdapat ruang tidur, juga ada para tetangga kita. Kita harus selalu menggunakan hati yang lapang. Saya sering berkata pada insan Tzu Chi bahwa kita harus hidup rukun dengan tetangga

 Terhadap tetangga di kanan kiri rumah kita, Kita harus memiliki sikap toleransi dan lapang dada. Di dalam masyarakat masa kini, hati manusia semakin sempit. ====== Dalam siaran berita, saya melihat suatu tempat. Tempat ini dialokasikan untuk penampungan penderita AIDS. Tempat penampungan ini akan dibangun dalam sebuah komunitas. Di dalam komunitas tersebut masih ada lahan yang sangat luas

 Akan tetapi, meski lahan ini terpisah cukup jauh dari permukiman, namun penduduk tetap melakukan protes, tidak mengizinkan badan amal itu membangun penampungan penderita AIDS. Melihatnya, saya merasa sedih. Mengenai penyakit AIDS, sebagian orang tidak menyayangi diri sendiri sehingga terjangkit penyakit AIDS. Ada pula yang menderita AIDS akibat tertular. Ada yang tertular secara langsung, misalnya karena tertular oleh orang tua. Akan tetapi, anak-anak yang tertular sejak dari kandungan ini merupakan orang-orang yang tidak berdosa. Meski sebagian orang terjangkit karena tak menyayangi diri sendiri, kita tetap harus menyediakan tempat tinggal agar mereka dapat dibina di sebuah lingkungan yang baik serta ada yang mengurus dan merawat

 Dengan begitu, bukankah masyarakat kita akan lebih aman? Orang-orang yang terinfeksi AIDS ini dapat memiliki tempat tinggal yang layak dan tempat yang menenteramkan hati. Sesungguhnya, pendidikan tentang AIDS juga diperlukan. Contohnya, pada beberapa anak muda, ketika gejala belum muncul, sama sekali tidak terlihat bahwa mereka terjangkit AIDS. Asalkan bisa menjaga diri, mereka juga bisa beraktivitas seperti orang pada umumnya. Jika bisa menyayangi diri sendiri dan tidak melakukan hubungan seksual, sesungguhnya mereka juga bisa beraktivitas seperti biasa. Dengan adanya pendidikan yang membuat mereka mengerti untuk mengasihi diri dan sesama, mereka akan dapat menjaga diri sendiri dan tak menularkan penyakit kepada orang lain. Sesungguhnya, ini juga tidak begitu menakutkan

 Penularannya hanya melalui cairan tubuh atau hubungan seksual. Selain itu, tiada cara penularan lainnya. Akan tetapi, sebagian orang langsung takut begitu mendengar kata AIDS. Mungkin pemahaman mereka kurang. Karena itu, baru mendengar saja sudah takut dan melakukan penolakan. Mereka menolak para penderita AIDS berada di komunitas itu

 Oleh karena itu, para warga baik yang tinggal dekat maupun jauh dari sana semuanya datang untuk melakukan protes. ===== Jika dipikirkan, kita juga tidak berdaya. Ini juga termasuk kikir akan tempat tinggal. Bahkan, kini juga banyak orang yang saat orang lain ingin membangun rumah, jika ia sudah membangun lebih dahulu dan posisinya lebih rendah dari yang akan dibangun, ia akan menuntut orang yang akan membangun rumah, “Saat matahari terbit, bayangan bangunanmu tidak boleh menutupi rumah saya.” Ada orang yang seperti ini. Jika bayangan rumah orang menutupi rumahnya, dia akan melakukan protes dan berkata, “Bayangan rumahmu mana boleh menutupi rumah saya?” Lihatlah, orang zaman sekarang hatinya semakin lama semakin sempit. Orang lain membangun rumah di tanahnya sendiri, bahkan bayangan saja dipermasalahkan. Kondisi seperti ini membuat kita tak berdaya

 Orang-orang menuntut hak secara berlebihan. Mereka bertindak sesuka hati. “Ini tempat saya dan saya berhak di sini.” Mereka memiliki banyak alasan untuk tidak membiarkan orang lain mendekat. Inilah kekikiran akan tempat tinggal

 tidak suka ada orang tinggal di dekat kita Kedua adalah kekikiran akan persembahan. Mengenai keuntungan, manusia berharap mendapat lebih banyak dari orang lain. Bagi bhiksu atau bhiksuni, jika saat menerima persembahan dia berpikiran hendaknya mendapat lebih banyak dari yang lain, maka ini disebut kekikiran akan keuntungan. Dari sisi orang yang menjalankan usaha, adakah yang merasa, “Uang yang saya hasilkan terlalu banyak, laba yang saya dapat terlalu banyak.” Sepertinya saya belum pernah dengar. Semua mengeluh labanya terlalu sedikit. Contohnya, saat bencana tsunami melanda Asia Selatan, saya sangat berterima kasih kepada insan Tzu Chi di seluruh dunia

 Setiap tetes sumbangsih dari semua orang telah terhimpun menjadi sebuah kekuatan. Kita ingin segera menyalurkan bantuan. Saat menyalurkan bantuan darurat, kita melihat banyak orang kehilangan tempat tinggal. Kita juga menyalurkan bantuan di Aceh yang merupakan daerah bencana terparah. Selain berada di pusat gempa, daerah itu juga terhantam tsunami, sungguh memprihatinkan. Bencana tidak hanya melanda Aceh, melainkan juga berimbas pada belasan negara. Daerah yang kita bantu adalah daerah yang terkena dampak terparah

 Kita membangun tempat tinggal bagi para warga. Kita membangun perumahan di dua daerah. Selain memutuskan untuk memberi bantuan di Malaysia dan Thailand setelah kita melakukan survei, masih ada dua daerah yang kondisinya lebih parah, yaitu Aceh di Indonesia dan Sri Lanka. Dua negara ini sungguh memerlukan kepedulian dan bantuan dari seluruh dunia. Karena itu, insan Tzu Chi Indonesia bertanggung jawab atas Aceh. Tentu dibutuhkan kekuatan insan Tzu Chi seluruh dunia

 Jadi, di Aceh telah dibangun Perumahan Cinta Kasih dengan 3.700 unit rumah yang tersebar di beberapa wilayah. Di Sri Lanka, setelah peletakan batu pertama pada April 2005, kita mulai mencari kontraktor. Harga material saat itu sangat tinggi dibanding saat ini dan terus meningkat. Karena itu, kontraktor proyek merasa sangat tidak tenang. Melihat harga material terus bergejolak, mereka sedikit menunda laju proyek. Komite pembangunan kita di sana memberi tahu saya melalui telepon, “Master, saat ini harga barang bergejolak, satu-satunya cara jika ingin mereka mempercepat proses pembangunan adalah menambah biaya pembangunan karena kontraktor memperkirakan harga akan terus naik

” Meskipun kontrak kerja telah disepakati, namun baru diketahui harga akan naik setelah itu. Ini membuat proses pembangunan tertunda. Kita juga tidak tahu apa yang membuat proyek berjalan begitu lambat. Setelah berunding dengan kontraktor, baru diketahui bahwa tiada orang yang mau rugi. Semua orang berpikir bagaimana cara meningkatkan keuntungan dan mendapatkan lebih banyak uang. ==== Akibatnya, waktu pembangunan tertunda. Ini juga termasuk kekikiran akan keuntungan, tak rela melepaskan sedikit keuntungan

 Jika tidak, mereka pasti segera menyelesaikan proyek tanpa menunda. Saat itu, bahan bangunan yang dipilih adalah yang sesuai dengan budaya setempat. Menurut mereka, warga di sana biasa membangun rumah dengan batu bata. Jika dipikirkan, batu bata memang sangat baik. Daerah itu bukan daerah rawan gempa. Lokasinya juga agak tinggi. Rumah berdinding batu bata sama seperti yang kita lihat di Bam, Iran

 Masih ingatkah kalian saat terjadi gempa di Bam, Iran, kita juga menyalurkan bantuan. Selama lebih dari 2.000 tahun, rumah-rumah di sana sudah berdinding batu bata. Sesungguhnya, asalkan tidak lama terendam air, setelah air surut sudah tak ada masalah.

  Keunggulan rumah seperti itu adalah sangat hangat di musim dingin dan sangat sejuk di musim panas. Rumah seperti ini juga merupakan suatu budaya di Sri Lanka. Karena itu, batu bata menjadi pilihan awal

 Akan tetapi, akibat produksi batu bata yang lambat, waktu 2 tahun diperkirakan tak akan cukup karena jumlah yang dibutuhkan sangat besar. Karena itu, material diganti dengan batu dari semen. Pihak kontraktor juga sangat gembira. Akan tetapi, gejolak harga yang terjadi mereka manfaatkan untuk menaikkan harga proyek. Zaman tengah mengalami perubahan. Hati manusia tengah terombang-ambing

 Ini membuat beban menjadi lebih berat. Semua ini bersumber pada pemikiran bahwa berdagang adalah untuk mencari laba. Begitu tersiar kabar kenaikan harga, mereka langsung menunda proyek agar tidak mengalami kerugian. Sikap seperti ini disebut kekikiran akan keuntungan. Orang yang tamak dan kikir seperti ini selalu berusaha untuk mendapat lebih banyak lagi. Ini didasari oleh nafsu keinginan dalam batin, berharap hanya diri sendiri yang mendapat, tidak membiarkan orang lain mendapat keuntungan yang lebih banyak. Demikianlah kondisi masyarakat kita. Hati manusia menjadi sangat sempit, tidak bisa terbuka lapang. Ini adalah tabiat buruk kita sebagai makhluk awam, bukan sifat hakiki manusia

 Saya selalu berkata pada semua orang bahwa sifat hakiki manusia adalah cemerlang. Hakikat manusia adalah murni. Hakikat sejati ini sama dengan Buddha, hanya saja karena kita semua memiliki tabiat buruk makhluk awam dan selalu diliputi sifat kikir serta tamak. Kita mungkin tamak dan kikir terhadap tempat tinggal, selalu menginginkan yang lebih baik dan lebih luas. Kita juga mungkin tamak dan kikir terhadap keuntungan, selalu ingin memperoleh lebih banyak dibanding orang lain. Semua ini adalah kekikiran dan ketamakan. Kita hanya ingin terus mendapatkan dan tidak ingin memberi

 Ini disebut kekikiran. Melatih diri sesuai ajaran Buddha berarti harus berlatih untuk mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Setiap hari kita harus bersukacita agar dapat memaklumi banyak hal. Kita harus membuka pintu hati dan melapangkan hati. Hati kitalah yang harus lapang, bukan benda di luar yang harus besar. Buddha sungguh seorang yang mahabijaksana

 Penyakit semua makhluk termasuk kita dapat Beliau tunjukkan satu demi satu. Tempat tinggal kita mungkin bagi sebagian orang terlalu sempit. Dari segi ruang tidur, mungkin kalian yang tidur berlainan ruang juga saling membeda-bedakan dan saling berhitungan, “Ini adalah daerah kekuasaan saya, sedangkan kamar sebelah berbatasan langsung dengan daerah saya, kamu tidak boleh tinggal di sana.” Mungkin saja kasus seperti ini terjadi. Demikian pula dengan para perumah tangga

 Dalam bertetangga, kita mungkin berpikir, “Saya sungguh sial, makanya bisa bertetangga dengan orang itu.” Kita tidak pernah memikirkan bahwa hati tetangga kita mungkin juga sama menderitanya dengan kita. Kita harus berusaha berinteraksi dengan mereka serta memberi perhatian dengan cinta kasih. Baik biarawan maupun perumah tangga, hendaknya menjauhi sifat kikir

 Kekikiran seperti ini, tidak ingin orang lain mendekat, dalam istilah zaman sekarang disebut arogan. Kita semua harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888