Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 124 – Lima Penutup Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, beberapa hari ini kita terus membahas pikiran dan hakikat. Mengenai pikiran, dalam kehidupan,setiap orang tak luput dari perbuatan, dan perbuatan diawali oleh pikiran. Pikiran juga tak lepas darihakikat sejati kita

 Hakikat sejati kita pada dasarnya adalah murni. Karena itu, kebijaksanaan hakiki yang cemerlang seharusnya ada dalam batin kita, namun kita malah membuatnya tertutup akibat segala pemikiran kita yang timbul akibat kontak indra dengan dunia luar yang membangkitkan kesadaran yang membedakan. Setelah kesadaran kita mulai membedakan, sifat hakiki kita mulai tercemar

 Kita telah membahas ini sebelumnya. Di dalam kesadaran ke-8 tersimpan benih karma. Benih karma ini pun menyebabkan noda-noda semakin banyak muncul. Jadi, mengenai benih karma dalam kesadaran ke-8 ini, jika kita dapat waspada dengan kesadaran-kesadaran sebelum ke-6 dan ke-7, maka kesadaran ke-8 kita akan tetap murni sehingga hakikat diri kita puntak akan tercemar. Biasanya, pembahasan hanya sampaikesadaran ke-8

 Akan tetapi, saya juga sering membahas bahwa masih ada kesadaran ke-9. Kesadaran ke-9 initidak disebut sebagai kesadaran, melainkan hakikat. Hakikat ini dimiliki semua orang, yakni sifat hakiki murniyang sama dengan Buddha. Kita memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Hakikat ini pada dasarnya sudah kita miliki. Kesadaran ke-8 bagaikan gudang benih

 Benih ini adalahhasil perbuatan kita di masa lalu. Jadi, dengan adanya fungsi kesadaran,maka karma yang kita ciptakan akan tersimpan di dalam kesadaran ke-8. Kesadaran ke-8 ini terus berfungsi secara berkesinambungan. Segala pemikiran kita yang terwujud ke dalam perbuatan akan menciptakan benih karma. Jadi, dalam pelatihan diri, kita harus senantiasa berlatih agar saat kondisi luar bersentuhan dengan pikiran kita, kita dapat menghentikan reaksi kesadaran kita hingga hanya sampai pada kesadaran ke-7

 Kita tak boleh membiarkan pikiran negatifterwujud ke dalam perbuatan. Jika pikiran negatif terwujud ke dalam perbuatan, berarti kesadaran ke-8 kita sudah tercemar, benih karma pun sudah tersimpan. Ini adalah sesuatu yang pasti. Mengenai kesadaran ke-9, ia adalah hakikat yang murni tanpa noda. Saat hakikat ini tertutup noda, maka muncullah kesadaran pertama hingga kedelapan

 Entah apakah kalian paham atau tidak. Di balik kesadaran ke-8 ada hakikat sejati. Hakikat sejati ini senantiasa murni tanpa noda. Hanya saja, ia tertutupi selapis demi selapis noda batin. Ini ibarat matahari. Matahari senantiasa ada dan tak berubah. Demikian pula dengan bulan. Hanya saja, akibat adanyagerak rotasi dan revolusi, kadang cahaya matahari dan bulan terhalangi. Meski terhalangi, keduanya tetap ada. Demikian pula, hakikat sejati kita senantiasa ada

 Ia tidak akan pernah ternoda. Hanya saja, kesadaran kitamembuat hakikat ini tertutupi. Karena itu, sampai pada kesadaran ke-8, fungsi karma akan berjalan

 Dalam ladang pelatihan ini, saya terus-menerus berusaha menjelaskan fungsi kesadaran satu demi satu semata-mata agar semua orang memahami bahwa segalanya bermula dari kontak antara batin kita dengan objek luar yang membuat kita bereaksi lewat perbuatan. Hanya begitu saja. Jika sungguh-sungguh bertekad melatih diri, maka kita harus berusaha untuk menghentikan segala reaksi yang akan timbul saat batin kita bersentuhan dengan kondisi luar. Jadi, yang terpentingdalam mempelajari ajaran Buddha ingatlah bahwa masa lalu telah berlalu. Pada hari ini, hari kemarin telah berlalu. Saat hari ini berlalu, ia juga akan menjadi hari kemarin

 Masalah apa pun yang timbul antara kita dan orang lain kemarin, jika terus kita simpan dalam hati, maka meski kejadiannya telah berlalu, kita akan terus mengingatnya. Saat itu, batin kita akan terus bergejolak dan terus memikirkan hal itu. Saat pikiran ini timbul, kita akan terus merenungkan dan mengingatnya. Dengan demikian, kejadian itu tak akan hilang dari ingatan kita, sehingga kita berniatuntuk bertindak lebih jauh. Dengan reaksi batin yang tak henti ini, perbuatan akan segera terwujud lewat jasmani

 Jadi, mengenai pikiran ini, adakalanya kita terus mengingatkejadian buruk kemarin di dalam batin sehingga ingin bertindak lebih jauh, dan ini tidak benar. Intinya, kita harus segeramenghentikan pikiran ini. Saat pikiran ini berhenti, maka niat pun tidak akan ada. perbuatan tidak akan terwujud. Jika perbuatan tidak terwujud, benih karma pun tidak akan tertanam. Semua ini bergantung pada pola pikir kita

 Saat batin kita bersentuhan dengan objek luar, meski kita mungkin menyukai objek itu dan ingin memilikinya, namun setelah kita merenungkan dengan baik dampak dari keinginan akan objek tersebut dan kita tahu bahwa itu tidak benar, maka kita harus segera berhenti. Kita tidak boleh terus memikirkannya. Sebaliknya, jika kita terus menginginkannya, hari ini tidak dapat, besok mencoba kembali,hingga lusa, dan seterusnya, terus berpikir bahwa “Saya menyukai benda ini, saya harus mendapatkannya,” maka kita akan sangat menderita. Yang berlalu biarlah berlalu. Yang hilang biarlah hilang. Janganlah terus disimpan di dalam hati, apalagi sampai melakukan perbuatan buruk. Jika itu terjadi,berarti kita telah menanam benih karma. ======= Jika kita tidak melakukan perbuatan dan hanya berpikir, maka kegelapan dan noda batinhanya berkutat dalam batin kita

 Akan tetapi, segala gejolak batin ini perlahan-lahan akan lenyap, batin kita pun akan kembali tenang. Ombak pikiran ini perlahan-lahan akan reda. Jadi, semua bergantung pada sebersit pikiran. Kita dapat mengatakan bahwa kegelapan batin menutupi hakikat sejati kita karena adanya fungsi kesadaranyang menghalangi hakikat ini. Karena itu, barulah kita dapatbereaksi terhadap kondisi luar dan kondisi luar ini menutupi hakikat sejati kita yang cemerlang. Sederhananya adalah demikian. Jadi, penutup ini menghalangihakikat sejati kita. Lima Penutup yang kita bahas ini merupakan penghalang. Ketamakan juga merupakan penutup batin. Ini adalah penutup lapis pertama. Kita menyebutnya ketamakan. Ketamakan berawal dari kemelekatan

 Melekat terhadap apa? Lima Nafsu Keinginan. Apa itu Lima Nafsu Keinginan? Kekayaan, seks, reputasi, makan, tidur. Ketamakan akan hartadimiliki oleh semua orang

 Orang yang memiliki uangingin mendapat lebih banyak lagi, merasa kurang Sembilan saat memiliki satu. Begitulah seumur hidup. Jadi, manusia sangat menderita. Ketamakan akan harta dan kegelapan batin inisungguh membawa penderitaan. Untuk apa manusia banting tulang seumur hidup? Untuk menghasilkan uang. Saat merasa tidak cukup,mereka mulai berhitungan. Batin mereka menjadi tidak tenang

 Dengan begitu, timbullah kerisauan. Mengenai makan, makan adalah kebutuhan alami manusia. Bagaimana bertahan hidup tanpa makan? Akan tetapi, pakaian dan makanan sederhanajuga cukup membuat orang hidup sehat. Lihatlah, orang-orang masa kini terus memikirkan cara mengurangi berat badan. Semakin berusaha, malah semakin gemuk. Begitulah mereka berusahamengurangi berat badan karena segala yang mereka makan mengutamakan kenikmatan rasa. Makanan yang mereka makan semakin lezat. Dengan begitu, mereka pun semakin tamak. Makan sekali masih tidak cukup, bahkan makan lima kali sehari pun tak cukup. Mereka terus makan seharian. Dengan begitu, sulit untuk tidak menjadi gemuk. Apakah gemuk berarti gagah? Apakah gemuk berarti sehat? Tidak. Pola makan telah menjadi penyakit

 Makanan yang paling sehat adalah yang alami, yaitu padi-padian dan kacang-kacangan. Tanaman pangan ini baru dapat membuat unsur-unsur dalam tubuh kita berjalan selaras. Jadi, sebagai praktisi,kita berpakaian dan makan sederhana. Tak apa jika bahan pakaian kita kasar sedikit. Selain makanan, demikian pula dengan pakaian. Lihatlah, orang zaman sekarang juga memiliki penyakit dalam berpakaian. Tidak hanya makan, cara berpakaian pun sudah menjadi penyakit. Dahulu, orang menggunakanbahan katun atau sutra. Akan tetapi, lambat laun, beberapa puluh tahun lalu penggunaan serat sintetis menjadi marak

 Kemudian, ada pula nilon dll. Bertahun-tahun berikutnya, dikembangkan bahan yang tidak mudah berkerut, sangat tipis dan lembut. Selanjutnya, saat ini orang-orang mulai mengetahui bahwa bahan-bahan seperti itu membawa dampak buruk bagi kesehatan tubuh dan kulit. Karena itu, orang mulai kembalipada bahan katun. Dalam berpakaian, sejak dahulu kala, pakaian sederhana memang terbuat dari katun. Orang zaman sekarangsangat memerhatikan pakaian, namun kini mereka kembali ke cara yang alami. Akan tetapi, kembali kepada yang lebih alami tentu bahannya akan lebih mudah berkerut, lebih kasar, harus sering dirapikan, dsb. Akan tetapi, orang zaman sekarangtidak bisa merapikan pakaian. Baju berwarna putih bisa menjadi abu-abu. Orang zaman sekarangtidak bisa mencuci pakaian. Mereka hanya mengandalkan mesin cuci. Awalnya, warna pakaian itu begitu cemerlang

 Setelah dicuci, warna awal itu berubah menjadi kusam. Begitulah orang zaman sekarang, sudah memelihara kebiasaan yang tidak baik. Keterampilan yang baiksudah hilang dari diri mereka. ====== Kini, saat ingin kembali kepada yang alami, banyak sumber daya yang sudah terkuras, keterampilan manusia pun sudah mulai hilang. Jadi, dalam mengejar segala sesuatu, adakalanya manusia melanggar prinsip kebenaran. Sampai saat menyadari kesalahan, ingin berpaling pun sudah tidak memungkinkan. Ini sungguh berbahaya. Jadi, ketamakan saja dapat membawa manusia berjalan menyimpang. Setelah sadar, ingin berpaling kadang sudah terlambat

 Selain ketamakan akan harta, seks,makanan, dan pakaian, ada pula ketamakan akan tidur. Ketamakan akan tidur sungguh membawa penderitaan. Sebelumnya, saat membahas Lima Penutup, selain ketamakan, ada pula kebencian

 Kebencian ditandai dengan kemarahan. Kemarahan juga merupakan selapis penutup batin. Kegelapan batin senantiasa menutupi batin kita sehingga kita berpaling dari kesadaran, berpaling dari nilai-nilai yang seharusnya. Etika dan nilai-nilai sebagai manusia kini entah sudah hilang ke mana. Manusia terus berpaling darinya. Manusia telah berpaling dari etika dan moral. Nilai-nilai yang harus dimiliki manusia telah mulai ditinggalkan. Jadi, maksud dari berpaling di sini adalah berpaling darinilai-nilai sebagai manusia, terutama bagi kita praktisi Jalan Bodhisattva, berarti berpaling dari kesadaran dan mengarah pada kebodohan. Ini dapat membuat batin kita sering dipengaruhi kemarahan tanpa kendali. Perasaan cinta, benci, sayang, dan dendamterus bermunculan. Ini menambah tebal kegelapan batin. Dengan begitu, karma buruk akan tercipta

 Berikutnya adalah mengenai tidur. Tadi kita membahas lima macam ketamakan. Salah satu dari Lima Nafsu Keinginanadalah tidur. Ini juga merupakan suatu penutup batin. Dalam seumur hidup ini, lihatlah, hanya demi tidur, berapa banyak waktu yang sudah kita habiskan. Bukankah pernah saya katakan bahwa seseorang yang berusia 60 tahun sudah menghabiskan waktu 20 tahun untuk tidur? Begitulah orang pada umumnya. Mengenai tidur, dari 24 jam waktu dalam sehari, dikatakan tidur terbaik adalah 8 jam. Benarkah? Lima jam saja sudah terlalu banyak, tetapi orang pada umumnya berkata 8 jam. Mereka berkata tidur harus cukup 8 jam, saya pun berpikir, berarti orang yang berusia 60 tahuntelah menghabiskan 20 tahun untuk tidur, belum lagi ditambah saat masih bayi manusia hanya makan dan tidur seharian. Saat masih bayi,kita sudah tidur beberapa tahun. Bayangkan, berapa tahun telah kita habiskan untuk tidur? Karena itu, saya sering berkata,”Kamu masih saja tidur

” Tidur berarti tidak sadar. Selain tidur, banyak orang tidak melakukan apa-apa. Tubuh ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Dari sekian banyak waktu yang dimiliki, tidak sedikit punkita manfaatkan untuk bersumbangsih

 Tidak memanfaatkan waktu dengan baik sama dengan tidur. Jadi, dalam kehidupan ini, lihatlah, betapa banyak waktu yang tidak terpakai. Kehidupan yang tidak terpakai sama dengan kehidupan yang tidur. Suatu ketika pada zaman Buddha, di Sravasti, di antara para bhiksu yang melatih diri ada seorang yang gemar tidur. Aktivitas sehari-harinya hanya tidur. Selesai makan, ia langsung tidur. Pada pagi hari, ia menerima dana makanan. Setelah selesai makan, setelah mencuci kaki dan tangan, ia kembali pergi tidur. Buddha menemukan orang seperti itu di dalam komunitas Sangha dan teringat akan ketidakkekalan hidup. Buddha melihat bahwa orang ini tak lama lagi akan meninggal. Kehidupannya akan berakhir, bukankah amat kasihan? Ia begitu malas, hanya tidur sepanjang hari. Buddha sangat penuh welas asih

 Suatu hari, Beliau pergi ke tempat bhiksu itu dan membangunkannya, “Bangun, mengapa masih tidur?” Bhiksu yang tidur tadi begitu mendengar suara Buddha segera bangun dari tidurnya. Ia pun segera memberi hormat. Buddha lalu berkata, “Kamu sudah tahu bahwa tubuhmu sudah dipenuhi luka yang membusuk, namun masih menutupinya dengan selimut dan terus tidur.” Mendengar Buddha memarahinya, ia menyesal dan bertobat. “Tadi Aku mengatakan tubuhmutelah penuh luka busuk dan masih ditutupi selimut, tahukah kau apa artinya?” “Ketahuilah bahwa tubuh ini tidaklah kekal.” “Engkau tidak sungguh-sungguhmengamati kotornya tubuh ini dan tidak memahami tidak kekalnya hidup ini.” “Tubuh yang tidak bersih ini adalah sarana bagi kita untuk melatih diri.” “Engkau tidak berniat melatih diri, tubuhmu yang tidak bersih itu hanya terus ditutupi selimut, dan kau hanya tidur sepanjang hari, maka ini apa bedanya dengantubuh yang penuh luka?” Buddha lanjut berkata, “Sulit memiliki kesempatan untuk melatih diri, tetapi engkau tak menggenggam waktu dengan baik, hanya makan dan tidur.” “Dengan begitu, engkau menyia-nyiakan hidup ini, juga menyia-nyiakan kebaikan hati orang yang berdana.” “Orang berdana kepadamu agar kau dapat memelihara kondisi tubuh sebagai sarana untuk melatih diri

” “Akan tetapi, engkau tidak melatih diri, tidak mengingat budi orang lain.” “Engkau tidak ingat budi orang lain dan hanya terus merugikan diri sendiri.” Mendengarnya, bhiksu ini pun menangis. Ia berkata kepada Buddha, “Yang Dijunjung, aku akan berubah.” Buddha menjawab, “Tahukah engkau terlahir sebagai apa pada kehidupan lampau?” “Tidak tahu.” Buddha melanjutkan, “Dahulu, karena engkau malas melatih diri sama seperti pada kehidupan ini, maka saat ajal menjemput, selama 50.000 tahun berikutnya engkau terlahir sebagai kerang, siput, dan remis

” Ketiga jenis hewan ini hidup ditutupi cangkang yang sangat tebal. Ketiga jenis hewan itu sering tidur dalam kondisi kedinginan di tempat yang gelap. Buddha berkata, “Kau telah melewati kehidupan seperti itu selama 50.000 tahun.” “Kelahiranmu yang terakhiradalah sebagai kutu pohon.” “Kutu itu hanya terus menggerogoti dan merusak pohon.” “Ia hanya bersembunyi di tempat yang gelap.” “Selama bertahun-tahun itu, engkau hidup di tempat yang gelap

” “Saat karma itu habis,engkau terlahir sebagai manusia karena engkau pernah melatih diri.” “Hanya saja karena sangat malas, maka selama puluhan ribu tahun engkau harus hidup di tempat yang gelap.” “Setelah buah karma itu habis,kau kembali terlahir di alam manusia dan masih memiliki berkah untuk melatih diri.” “Setelah terlahir sebagai sramana, apakah engkau masih mau bermalas-malasan dan berada dalam kegelapan?” Bhiksu ini sangat terkejut mendengarnya. “Ternyata dalam kehidupan lampau, aku hidup di tengah kegelapan.” “Setelah memiliki kesempatan langka untuk bertemu ajaran Buddha, aku seharusnya kembali pada hakikat sejati.” Saat itu, ia pun tersadarkan dan memperoleh pemahaman, bagaikan selimut tebal yang tiba-tiba diangkat

 Demikianlah, kisah tadi juga menceritakan kemalasan seorang murid Buddha pada zaman itu. Jadi, kita harus berhati-hati. Yang keempat adalahkegelisahan dan penyesalan

 Kegelisahan berarti batin yang bergejolak dan tidak dapat tenang. Meski tubuh sedang duduk di sini, tetapi pikiran malah mengembara keluar. Meski belum selesai melakukan satu pekerjaan, namun sudah memikirkan hal yang lain

 Pikiran ini tak mampu terfokus dan sangat bergejolak, bagaikan anak-anak yang menderita bipolar disorder. Mereka tak dapat menerima nasihat dan sulit menuntaskan suatu pekerjaan. Inilah kegelisahan. Inilah kegelisahan dan penyesalan. Artinya, batin terus bergejolak. Saat melakukan sesuatu, adakalanya batin sangat tidak tenang

 timbul kerisauan dalam hati apakah kita melakukannya dengan benar. Entah benar atau tidak, kita terus melakukannya. sehingga banyak mendatangkan penyesalan. Inilah penyesalan. Jadi, penutup batin ini disebutkegelisahan dan penyesalan. Istilah zaman sekarang menyebut hal ini sebagai kemurungan. Kemurungan dan gejolak batin ini disebut kegelisahan dan penyesalan

 Ini berkaitan dengan pikiran kita, adakalanya tenggelam, adakalanya timbul. Pikiran kita terus terombang-ambingdalam kemurungan. Saat mendengar suatu perkataan orang, kita terus berpikir bahwa orang lain sedang memuji kita. Akan tetapi, kita juga bertanya-tanya apakah di balik itu kita melakukan kesalahan. Kita bertanya-tanya apakah ucapan itu mengandung makna sebenarnya atau tidak

 Lihatlah, dipuji pun tidak bisa. Sebaliknya, saat ditegur, “Mengapa kamu begitu,” kita juga merasa khawatir, “Di mana kesalahan saya?” “Bagian mana yang salah?” Kerisauan ini terus berputar dalam batin. Inilah yang disebut kemurungan, inilah yang disebut penyesalan. Setiap kali melakukan sesuatu,selalu ada yang membuatnya menyesal. Ini juga merupakan kegelapan batin. Orang seperti ini sangat banyakdalam masyarakat masa kini. Karena itu, di dalam ilmu kedokteran, penyakit ini disebut penyakit psikologis

 Ini juga termasuk penutup batin. Noda batin ini menutupi batin kita. Yang kelima adalah keraguan atau kecurigaan. Kecurigaan menimbulkan prasangka buruk. Saya sering mengatakan bahwa manusia dapat memiliki rasa curiga terhadap waktu, tempat, atau orang lain. Curiga terhadap waktu contohnya saya hari ini berencana melakukan sesuatu, lalu bertanya-tanya apakah hari ini hari baik. “Hari ini saya ingin mulai melakukan sesuatu, saat ini apakah merupakan waktu baik?” “Apakah hari ini hari baik?” “Apakah jamnya juga baik?” Repot sekali. Jika senantiasa memiliki pikiran yang baik, maka setiap waktu adalah waktu yang baik. Jadi, keraguan dan kecurigaan merupakan sebuah penyakit. Saudara sekalian, jika pikiran kita positif,energi negatif tak akan menyerang. Jadi, kita tak perlu curiga. Setiap hari merupakan hari yang baik, setiap waktu adalah waktu yang baik. Ada pula kecurigaan terhadap tempat

 Banyak orang bertanya-tanyaapakah suatu lingkungan baik atau tidak. “Rumah saya ini, apakah arahnya sudah benar?” “Apakah letak geografisnya sudah baik?” Banyak orang pergi menanyakan suatu tempat atau posisi makam leluhur. Ada pula yang menanyakan arah tempat tinggal. Jika terus begitu, bagaimana bisa hidup tenang? Bagaimana hati bisa damai? Jadi, jangan ada kecurigaan dalam hati kita. Inilah kecurigaan terhadap tempat. Selanjutnya adalah kecurigaan terhadap orang. Orang sering bertanya-tanya, “Apakah orang ini akan mencelakai saya?” “Apakah yang ia katakan adalah benar ataukah bohong?” “Apakah baik jika saya dekat dengannya?” Begitu banyak hal yang diragukan. “Saya mencintai dia, tetapi apakah hatinya benar-benar milik saya?” Hubungan mereka sudah jelas sangat baik, tetapi saat melihat pasanganberbicara dengan orang lain, kecurigaan pun timbul. Begitu juga sangat menderita

 Kecurigaan ini juga dapat membawa kebencian dan menciptakan karma buruk. Sungguh banyak kasus seperti ini. Kini, dalam masyarakat kita begitu banyak orang yang setelah melakukan sesuatu, lalu menaruh curiga ke mana-mana. Saat hal itu belum dilakukan, mereka juga ragu. Saat akan melakukan sesuatu, mereka bimbang apakah hal itu baik atau tidak. Begini juga sangat menderita. Jadi, semua ini juga merupakan penutup yang menyelubungi batin kita

 Ini adalah kegelapan batin. Hakikat sejati kita pada dasarnya murni dan cemerlang. Hanya saja karena fungsi kesadaran kita telah terbuai oleh kondisi luar, maka ingatan dan persepsi terus timbul dalam batin kita. Persepsi adalah reaksi kita terhadap objek. Ingatan adalah fungsi mentalyang terus berlangsung meski kondisi tersebut telah berlalu. Jadi, semua ini tak lepas dari pikiran. Akibat kegelapan batin,manusia berpaling dari kebenaran. Lima faktor tadi membuat kita gelap batindan berpaling dari kebenaran

 Hakikat sejati kita yang murni telah tertutup oleh lima faktor tadi, yaitu ketamakan, kebencian, apa lagi? Kemalasan. Apa lagi? Kegelisahan dan penyesalan. Berikutnya? Keraguan. Lima faktor ini menutupi batin kita selapis demi selapis. Karena itu, batin kita menjadi gelap dan berpaling dari kebenaran. Kita menjadi tak meyakini kebenaran. Inilah yang disebut keraguan. seorang wartawan dari Tiongkok, yaitu Tuan Bai datang menemui saya. Beliau bertanya pada saya, “Kabarnya Anda memiliki ‘Tiga Tiada’, tiada orang yang tidak Anda kasihi, tiada orang yang tidak Anda percayai, tiada orang yang tidak Anda maafkan.” “Sesungguhnya, bagaimana cara Anda untuk memegang teguh tiga hal ini?” Saya menjawab, “Saya percaya, percaya diri sendiri tanpa pamrih, percaya semua orang memiliki cinta kasih.” “Berhubung diri sendiri tanpa pamrih dan setiap orang memiliki cinta kasih, maka setiap orang dapat terlihat mengagumkan dan dapat dipercaya.” “Dengan begitu, apa pun yang orang  lakukan, saya tidak akan berpikiran negatif, maka saat mereka melakukan kesalahan,saya dapat memaafkan karena saya ingat setiap orangpunya cinta kasih.” tanpa keraguan dan kecurigaan, barulah kehidupan kita akan bahagia. Dengan begitu, hakikat sejati dalam diri kita tidak akan mudah tercemar oleh fungsi pikiran dan kesadaran yang terbuai oleh kondisi luar atau tertutup lapis demi lapis kegelapan batin

 Intinya, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Selain menjaga pikiran, kita juga harus membina perilaku dan perbuatan kita. Kita harus menapaki jalan ini. Akhir kata, harap semua lebih bersungguh hati. Dharma selamanya tak pernah berubah dan akan terus saya bagikan kepada kalian. Bersungguh-sungguhlah selalu.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888