Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 123 – Lima Penutup Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, tanpa disadari, kita mendengar kicauan burung dan derikan serangga di luar sana. Betapa indahnya suasana yang demikian. Langit yang gelap perlahan menjadi terang. Karena pagi telah menjelang, maka burung burung dan serangga telah bangun dari tidurnya. Apa yang terjadi ketika kegelapan malam tiba? Apakah karena mentari telah terbuang atau menghilang, lalu tiba-tiba saja muncul kembali? Sesungguhnya, tidaklah demikian. Matahari tetaplah sama tanpa berubah, hanya saja di jagat raya ini terdapat benda-benda langit seperti planet, matahari, bumi, dan bulan. Semua benda itu berotasi dan berevolusi sesuai orbit masing-masing dengan waktu yang sangat tepat. Sama halnya kita yang hidup di bumi, demi penyesuaian hitungan waktu dan musim, dalam beberapa tahun sekali ada tahun kabisat. Selisih sedikit saja setiap tahun, setiap lima tahun harus ada tahun kabisat. Ini yang disebut lintasan. Walaupun dalam jangka waktu bertahun-tahun baru ada sedikit selisih waktu, namun tentu saja setelah beberapa tahun harus ada tahun kabisat

 Tahun kabisat ini adalah penyesuaian. Dapat kita lihat bahwa benda-benda langit memiliki kala rotasi dan revolusi yang tepat. Intinya, setiap 24 jam, siang dan malam pasti berganti. Di dalam masyarakat India kuno, Satu hari dibagi dalam 6 bagian waktu. Tiga bagian waktu disebut siang, tiga bagian disebut malam, sedangkan kita saat ini menyepakati waktu 24 jam sebagai satu hari. Jadi, kita telah mengetahui bahwa bumi memiliki gerak rotasi dan revolusi. Lihatlah, begitu malam tiba, kita dapat melihat dari pukul 6 sore, langit perlahan-lahan mulai gelap. Tiba saat pagi menjelang, pada musim panas pukul 4 subuh hari sudah mulai terang. Pada musim gugur, lamanya siang dan malam menjadi seimbang

 Artinya, sekitar pukul 5 atau 6 pagi, hari sudah mulai terang dan segala sesuatu dapat terlihat jelas. Pada malam hari, segalanya tidak terlihat karena matahari terhalang oleh bumi. Jadi, akibat dari rotasi bumi, ada bagian bumi yang tak terkena sinar matahari, maka terjadilah malam. Matahari tidak bisa menyinari sebagian sisi bumi. Akibatnya, sisi itu memasuki malam hari. Lihatlah, jika malam hari tiba, saat kita berjalan keluar rumah, kita harus mengandalkan lampu. Jika tidak, kondisi di sekeliling kita akan gelap gulita. Kita tidak melihat jalan yang ingin dilalui. Demikian halnya makhluk awam

 Sesungguhnya, sifat hakiki kita cemerlang, menyatu dengan kebenaran absolut. Pada dasarnya kita memiliki kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang murni ini tetap merupakan sifat hakiki kita. Dengan memiliki kebijaksanaan, kita akan bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. Segala hal mengenai manusia, masalah, dan materi, manakah yang tidak kita lihat dengan jelas? Hanya karena setitik kegelapan batin, batin kita yang mulanya penuh kebijaksanaan seakan tertutupi. Karena itu, ia menjadi gelap bagai malam. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menelusuri batin kita. Demikian pula, kita harus mendalami bahwa saat kebijaksanaan kita tertutup oleh kegelapan batin, sesungguhnya ada berapa banyak faktor yang menutupi kebijaksanaan kita ini? Secara umum ada lima faktor. Kelima faktor ini menutupi kebijaksanaan kita

 Semua ini menutupi kebijaksanaan dalam batin kita hingga bagaikan sebuah lampu yang mulanya begitu terang, namun karena tertutupi oleh selehai kain tebal, cahayanya pun tak dapat memancar. Begitu pula, bagaikan cahaya mentari yang bersinar terik. Asalkan Anda berada di dalam ruangan dan menutup rapat semua pintu serta jendela, maka seluruh ruangan itu juga akan tetap gelap. Ini karena Anda tak membiarkan cahaya masuk. Inilah yang disebut menutupi. Dalam hal ini, yang menutupi kebijaksanaan kita ada lima faktor. Ketamakan dapat menutupi hakikat diri kita yang murni

 Dengan begitu, kebijaksanaan murni kita pun sirna. Akibat sirnanya kebijaksanaan murni ini, pikiran kita akan mudah terpengaruh kegelapan batin sehingga timbullah noda batin yang membawa terciptanya karma buruk. Karma buruk ini pun akan membawa buah akibat. Jadi, kita harus memahami faktor apa saja yang menutupi batin kita. Kita harus segera mencari tahu. Kita harus tahu tentang Lima Penutup ini

 Penutup di sini berarti sesuatu yang menyelubungi. Lima Penutup ini menutupi hakikat batin kita sehingga kebajikan tak dapat tumbuh. Jika kita mengkajinya dengan sedikit lebih dalam, faktor-faktor yang menyelubungi batin kita, yaitu ketamakan, kebencian, kemalasan, kegelisahan dan penyesalan, serta keraguan. Semua ini akan membuat sirna kebijaksanaan dalam batin kita. Dengan demikian, kejahatan pun akan timbul, sedangkan kebajikan tak dapat tumbuh. Ini adalah hal yang kita khawatirkan. Sesungguhnya, ketamakanlah yang paling melukai jiwa kebijaksanaan. Ketamakan berawal dari kemelekatan. Saat kita melekat pada sesuatu, maka ketamakan akan tumbuh

 Di tambah kemelekatan awal tadi, lima nafsu keinginan pun akan muncul. Bukankah sebelumnya kita telah membahas bahwa saat indra kita bersentuhan dengan objek luar, batin kita akan terbuai olehnya? Jadi, dengan bereaksinya ketiga faktor ini, kegelapan batin pun akan menutupi pikiran kita. Sesungguhnya, ini hanya berawal dari sedikit gejolak pikiran yang begitu halus. Jadi, pikiran kita hendaknya kita jaga baik-baik

 Yang pertama dari Lima Penutup adalah nafsu atau ketamakan. Ketamakan dapat menutupi batin kita. Yang kedua adalah kebencian. Kebencian juga bisa menutupi batin kita. Adakalanya kita berpaling dari kesadaran dan membiarkan kemarahan meliputi batin. Manusia tentu dipengaruhi perasaan. Akan tetapi, sering dikatakan bahwa kita melatih diri untuk mencapai kesadaran. Perasaan kita setelah benar-benar tersadarkan dilandasi oleh kebijaksanaan. Akan tetapi, kita malah terbuai kondisi luar dan berpaling dari jalan menuju kesadaran yang seharusnya kita jalani

 Kita menjadi terbuai oleh objek luar. Karena itu, dikatakan bahwa kita berpaling dari kesadaran dan membiarkan kemarahan timbul. Kita telah berpaling dari keadaan batin yang sadar. Setelah terbuai oleh objek luar kita akan marah saat keinginan ini tidak terpenuhi. Kita akan membenci, marah, dan mendendam. Semua perasaan ini akan memenuhi rongga dada. Amarah ini akan timbul. Inilah penutup batin yang kedua. Begitu kemarahan timbul dalam diri kita, segala jalinan kasih dan etika pun menjadi terlupakan. Inilah yang disebut berpaling

 Kita telah sepenuhnya berpaling karena batin kita penuh dengan kebencian. Meski biasanya kita berlaku baik pada orang lain, orang zaman dahulu berkata bahwa memberi kue beras sembilan kali tak akan diingat, memberi bubur dingin sekali malah terus diingat. Artinya, meski biasa kita berlaku baik pada seseorang, anggaplah sembilan kali berlaku baik, namun hanya karena sekali berlaku tidak baik, maka sembilan kebaikan sebelumnya akan terlupa. Manusia cenderung mengingat yang tidak baik. Begitulah sifat makhluk awam. Dengan begitu, kita mudah menciptakan karma buruk. Karma buruk ini tercipta karena kita tidak mau berpengertian, hanya terus berhitungan dan mendendam. Penutup batin yang ketiga adalah kemalasan. Saudara sekalian, sesungguhnya berapa waktu yang kita miliki? Waktu dalam sehari dibagi siang dan malam. Siang hari hanya ada beberapa jam

 Saat hari mulai terang, katakanlah mulai pukul enam, ini boleh dikatakan sangat pagi. Akan tetapi, sebelum pukul enam pagi, kita para praktisi sudah bangun sejak pukul tiga dini hari. Pada pukul empat kita mulai berkumpul di aula untuk melakukan kebaktian pagi. Semua ini dilakukan demi diri sendiri. Pada pukul enam, kebaktian selesai dan aktivitas pun dimulai. Setelah sarapan, aktivitas harian pun dimulai. Sesungguhnya, berapa banyak waktu yang dapat benar-benar kita gunakan? Katakanlah aktivitas dimulai pukul 6 pagi, waktu untuk makan juga kita masukkan. Sebelum pukul enam sore tiba, sebenarnya berapa banyak waktu yang kita miliki? Sesungguhnya, waktu kita tidak banyak. Setelah pukul enam sore tiba, kita mulai bersiap menghentikan aktivitas dan mulai mengurus urusan pribadi. Sepanjang waktu yang ada ini, seharusnya kita senantiasa giat ataukah membiarkan waktu berlalu sia-sia? Waktu ini adalah milik kita masing-masing, terserah masing-masing orang ingin memanfaatkan atau menyia-nyiakannya

 Terlebih lagi, mengenai waktu untuk tidur, sesungguhnya saat tidur setiap hari, setiap orang mengalami kematian kecil. Saat mengalami kematian besar, berarti kita menanti kelahiran ke kehidupan mendatang, sedangkan dalam kematian kecil, kita menanti datangnya hari esok. ====== Jika kita tidur pada pukul 10 malam dan bangun pada pukul 3.50 dini hari, maka berapa lamakah waktu istirahat kita? Seharusnya sudah cukup ataukah belum? Ada orang berkata, “Tidak cukup.” “Mengapa jam tidurnya begitu sedikit?” “Bukankah waktu sehari dibagi tiga bagian, 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk beristirahat, dan 8 jam untuk tidur?” Istirahat dan tidur menghabiskan 2/3 hari, sedangkan waktu untuk bekerja hanya 8 jam. Pekerja kantoran bekerja 8 jam sehari, berarti waktu bekerja hanya 1/3 hari. Coba bayangkan, kita ambil contoh orang yang berusia 60 tahun

 Sebelum dia berusia 20 tahun, waktunya dihabiskan untuk bersekolah dan bersenang-senang. Dia bergantung pada orang tua. hingga berusia 20 tahun. Mandiri di usia 20 adalah yang paling cepat, sedangkan anggota Tzu Ching kita banyak juga yang sudah berusia 20 tahun lebih namun masih bersekolah, bahkan ada yang bersekolah sampai usia 30 tahun. jika seseorang mulai bekerja di usia 20 tahun dan pensiun di usia 60 tahun, berarti masa produktifnya adalah 40 tahun. Benar? Dia bekerja selama 40 tahun. Sesungguhnya, masa kerja 40 tahun ini hanyalah perhitungan kasar

 Sesungguhnya, masa kerja yang sebenarnya hanyalah 1/3 dari 40 tahun. Berhubung hanya bekerja 8 jam sehari, berarti waktu sebenarnya adalah 1/3 dari 40 tahun, yaitu baru belasan tahun. Terlebih lagi, orang zaman sekarang belum apa-apa sudah mengatakan, “Saya sudah bekerja belasan tahun, kini saatnya untuk bersantai, sudah saatnya saya beristirahat.” Bayangkan, nilai kehidupan yang sesungguhnya terletak pada seberapa banyak kita menggunakan tubuh ini untuk memberi manfaat bagi orang lain dan membantu sesama. Dengan memiliki banyak interaksi dengan sesama, barulah kita dapat dikatakan hidup. Jika kita menganggap kehidupan itu adalah semata-mata dapat bernapas, maka kehidupan ini akan menjadi sia-sia. Dalam ajaran Buddha, ini disebut menghabiskan berkah. Kita hanya bisa menikmati dan menghabiskan sumber daya alam, tetapi tidak bersumbangsih bagi masyarakat

 Ini adalah kehidupan yang sia-sia, kehidupan yang menghabiskan berkah. Coba renungkan, kita seharusnya bisa memanfaatkan waktu. Lihatlah para relawan pelestarian lingkungan. Mereka bahkan masih beraktivitas sampai pukul 12 malam. Saya sudah berulang kali mengingatkan, “Tidak boleh seperti itu, saya mohon, kalian jangan bekerja pada tengah malam.” Akan tetapi, mereka menjawab, “Kalau tidak boleh bekerja pada tengah malam, bolehkah kami bekerja pagi-pagi?” Apa yang dimaksud pagi hari? Maksudnya adalah dini hari. Pukul berapa? Mulai pukul satu atau pukul dua. Itu yang mereka sebut pagi. pada pukul dua sampai tiga dini hari atau tiga sampai empat subuh mereka sudah mulai beraktivitas. Saat ditanya mengapa harus sepagi itu, mereka menjawab, “Bukankah Master mengatakan bahwa waktu dalam hidup ini tidak banyak?” “Terlalu banyak tidur berarti membuang-buang waktu, lebih banyak bekerja berarti banyak memperoleh

” Benar, lebih banyak bekerja berarti banyak memperoleh. Semua ini bergantung pada sebersit niat. Jadi, bagi kita, kemalasan akan mengurangi jiwa kebijaksanaan kita. Jadi, dalam kehidupan ini, di tengah jalinan jodoh yang baik ini janganlah kita bermalas-malasan. Ini sungguh menyia-nyiakan kehidupan. Terlebih lagi, akhlak kita juga harus terus berkembang. Dengan memanfaatkan waktu dengan baik, kita baru bisa bersumbangsih di dunia ini. Aspek waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia sangatlah penting

 ================== Terlebih lagi, mengenai kemalasan, telalu banyak tidur membuat batin terbuai dan tubuh terasa berat. Pikiran kita dapat menjadi sangat kacau dan tidak sadar. Semakin sering kita tidur, kepala akan semakin pusing, masalah pun tak dapat dipikirkan dengan jernih. Orang lain akan bertanya, “Ada apa?” “Apakah kamu belum bangun tidur?” Demikianlah, karena terlalu banyak tidur, adakalanya meski seseorang sudah terbangun, indra matanya sudah bersentuhan dengan objek luar, namun otaknya masih dalam keadaan tidur. Akibat kebiasaan ini, pikirannya pun tidak waspada. Meski pikiran ini sudah mengalami kontak dengan kondisi luar, namun karena kita belum sepenuhnya sadar, maka batin kita seakan masih tertutup. Akibatnya, kita tak dapat jelas mendengar apa yang orang katakan pada kita

 Kita tak mampu membedakan ajaran yang benar dan salah. Kita tak mampu membedakan ucapan yang baik dan buruk. Jadi, pikiran yang tidak sepenuhnya sadar ini bagaikan hari yang belum terang. Pikiran masih tidak sadar dan tubuh terasa berat. Jika tidur terlalu lama, saat bangun kita malah merasa tidak nyaman. Semakin lama kita tidur, saat bangun tubuh semakin terasa sakit

 Seluruh tubuh terasa sangat berat. kita sungguh harus meningkatkan semangat kita. Pertama, kita harus menghargai jiwa kebijaksanaan kita. Kedua, kita harus memanfaatkan waktu hidup kita. Ketiga, kita harus bersumbangsih bagi masyarakat. Keempat, janganlah kita menjadi orang yang menjalani hidup dengan sia-sia. Kita harus menjadikan hidup ini benar-benar bermakna dengan membangun interaksi antarsesama. Jadi, kita harus sangat berhati-hati terhadap kemalasan ini. Kita tidak mengingini milik orang lain, pun tidak mengumbar amarah, lalu apakah tidur saja tidak boleh? ini tetap berpengaruh dalam kehidupan kelompok, karena dibutuhkan keharmonisan dalam kelompok, sama seperti kehidupan personel militer

 Personel militer berlatih menjadi tentara, sedangkan kita berlatih menjadi Bodhisattva. Di ladang pelatihan Bodhisattva ini, kita tentu harus menerima tempaan. Dalam kamp militer, saat komando dikeluarkan, bukankah semua orang harus segera bangun dan tidak boleh tidur lagi sesukanya? Kita tidak mungkin diizinkan tidur sesukanya. Ini tidak mungkin ada dalam pelatihan militer, terlebih lagi dalam pelatihan Bodhisattva. Jadi, kita harus hidup harmonis di tengah masyarakat. Janganlah kita hidup sesuka hati. Bagi jiwa kebijaksanaan kita, dengan tidur lebih banyak, jiwa kebijaksanaan kita akan berkurang, karena kemalasan adalah salah satu dari Lima Penutup

 Lima Penutup ini terus menutupi batin kita, terutama kemalasan. Manusia menganggap kemalasan tidak membawa kerugian, maka dengan sendirinya dia akan terus tenggelam dalam ketidaksadaran. Pikirannya tidak sepenuhnya sadar, tubuhnya pun terasa berat. Bagi jiwa kebijaksanaan dan kehidupan kita, ini sungguh tidak bermanfaat. Jangan biarkan semua ini menutupi hakikat diri kita. Jika kebijaksanaan hakiki kita yang cemerlang tidak dapat digunakan dalam keseharian, tidak dapat dimanfaatkan untuk memilah segala masalah yang kita hadapi, bukankah sangat disayangkan? Orang yang meninggal disebut tidur panjang. Saat tidur setiap hari disebut kematian kecil. Jadi, kita hendaknya memperpendek jangka waktu kematian kecil ini

 Jangan memperpanjang kematian kecil itu. Tidur panjang tiada bedanya dengan mati. kita harus sungguh-sungguh mengendalikan pikiran dan memanfaatkan waktu dengan baik. Di tengah pengaruh faktor waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia, kita harus senantiasa bersemangat, barulah dapat memperoleh pencapaian. Jika kita tidak semangat berlatih dan tetap berjalan di tempat, maka waktu akan berlalu sia-sia, tubuh kita pun hanya akan terus melemah dan semakin menua. Saudara sekalian kita harus memanfaatkan waktu saat kondisi tubuh dan usia kita masih memungkinkan untuk berusaha mengembangkan potensi kita. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888