Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 122 – Lima Kediaman Mental Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, waktu tak hentinya berlalu. Segala kondisi dunia yang kita temui setiap hari sungguh mengandung penderitaan. Bencana alam seperti apa pun banyak terjadi di dunia. Kembali ke tempat pelatihan diri kita, melihat kondisi sekitar kita, kita sungguh penuh berkah. Kita semua harus menyadari dan menghargai berkah. Di tengah kondisi penuh berkah ini, kita harus terus menciptakan berkah. Berkah dan bencana hanya memiliki perbedaan yang tipis

 Dilihat dari bentuk aksara Mandarinnya juga hanya berbeda sedikit. Bencana dan berkah ini hanya terletak pada sebersit pikiran. Jika kita semua dapat mempertahankan hati yang tenang, damai, dan saling mengasihi, akankah bencana akibat ulah manusia terjadi? Jika setiap orang dapat mempertahankan cinta kasih yang murni dalam hati, bukankah dunia ini akan harmonis dan penuh harapan? Karena itu, kita harus selalu menjaga niat kita. Demikian pula dalam pelatihan diri, pikiran harus benar-benar dijaga. Jika praktisi tidak sungguh-sungguh menjaga pikiran, maka kegelapan batin akan timbul. Kita pernah membahas bahwa sedikit saja kegelapan batin timbul, maka akan sulit untuk dikendalikan. Saya sering mengatakan bahwa sebuah aliran udara yang kuat juga bermula dari sebuah pusaran kecil yang berputar di atas permukaan laut. Aliran udara ini lama-kelamaan membentuk pusaran angin yang berkekuatan besar yang membuat ombak semakin besar. Sungguh menakutkan

 Mulanya angin dan ombak hanya bergejolak sedikit, namun dengan kondisi pendukung di sekeliling, dapat menambah kekuatan gejolak itu. Demikian pula dengan batin kita. Ada sebuah ungkapan berbunyi, “Sedikit saja riak cinta dan keinginan timbul, akan membuat lautan penderitaan bergejolak.” Kita hendaknya merenungkan ungkapan yang sederhana ini. Sedikit saja cinta dan keinginan timbul, sedikit saja pikiran kita bergejolak, dapat membawa kesulitan yang sangat besar. Ini juga bermula dari sebersit niat. Segala penderitaan tiada yang bukan bermula dari sebersit niat. Kita juga pernah membahas bahwa kontak antara indra kita dan objek luar dapat membuat pikiran kita tergoda

 Ini karena kita tidak benar-benar memahami Dharma yang tertinggi. Kita tidak benar-benar memahami bahwa setiap orang memiliki hakikat yang murni. Jika kita dapat benar-benar memahami bahwa setiap orang memiliki hakikat yang murni, maka mungkinkah kondisi luar dapat memengaruhi batin kita? Batin kita pada dasarnya bagai langit yang tak bernoda. Benda apa pun yang tampak di langit tidak pernah meninggalkan bekas saat berlalu. Jadi, dalam melatih diri, semua bergantung pada sebersit niat. Jadi, jangan mengatakan bahwa kita tidak akan dapat menjangkau kebenaran karena kita adalah makhluk awam. Kebenaran tertinggi tentang murninya sifat hakiki semua makhluk haruslah kita selami dengan sungguh-sungguh

 Kita harus menjaga kemurnian ini, jangan sampai terpengaruh kondisi luar, karena sesungguhnya kondisi hanyalah kondisi. Hanya saja karena enam indra kita bersentuhan dengan kondisi itu, maka kesan pun merasuk dalam batin kita. Merenungkan kebenaran ini, berarti kita harus menjaga indra kita. Sebuah ungkapan berbunyi, “Tidak melihat akan tetap murni, tidak mendengar tak akan ternoda.” Dalam tingkatan yang lebih tinggi dikatakan, “Melihat tetapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar.” Kita tidak boleh membiarkan kondisi luar merasuk dalam batin kita. Meski indra bersentuhan dengan objek, kita tak boleh membiarkan batin ternoda

 Ini tentu membutuhkan pelatihan di tengah masyarakat. Ladang pelatihan diri diperuntukkan bagi orang banyak. Dalam interaksi antarsesama, kita harus membangkitkan semangat kesetaraan, tidak boleh meremehkan orang lain. Kita harus menghormati semua orang. Kita harus menghormati hakikat setiap orang yang setara dengan Buddha. Karena pada hakikatnya setiap orang adalah Buddha, memiliki sifat hakiki yang murni tanpa noda, maka kita harus senantiasa memiliki pikiran yang tidak pernah meremehkan. Di tengah interaksi dengan orang banyak, kita berlatih agar tidak terpengaruh kondisi luar. Jika saat menghadapi kondisi luar kita dapat menggunakan batin yang tenang, setara, dan penuh rasa hormat, maka dengan demikian, akankah kondisi luar membuat batin kita bergejolak? Batin kita dapat bergejolak karena pengaruh kondisi luar. Karena itu, sebelumnya kita telah membahas bahwa gejolak kecil di dalam batin terjadi karena kita tidak memahami kebenaran tertinggi tentang sifat hakiki semua makhluk

 Akibatnya, saat menghadapi kondisi luar, kita tak mampu mengendalikan pikiran sehingga timbullah gejolak kecil. Meski gejolak yang timbul hanya sedikit, ia akan membawa pengaruh yang besar. Karena itu, harap semua orang sungguh-sungguh merenungkan ajaran ini. Kegelapan batin turunan ini bermula dari kegelapan batin akar. Ini bagaikan sebatang pohon, harus memiliki batang dan tempat untuk tumbuh, barulah dapat mengeluarkan cabang dan ranting serta tumbuh dengan rindang. Batin kita bagaikan tanah dan batang pohon. Alangkah baiknya jika kita dapat memutus batang ini dan menghentikan penyerapan air bagi pohon itu. Artinya, jika kita dapat memutus kegelapan batin kita, maka pohon kegelapan bain kita akan kering

 Dengan sendirinya, ia tidak akan tumbuh kembali dalam kondisi apa pun. Pohon itu akan benar-benar mati. Jadi, kegelapan batin bagai sebatang pohon. Jika batangnya tumbuh subur, berarti daya serap pohon ini sangat kuat. Sama halnya, jika kita menggunakan kegelapan batin untuk menyerap segala kondisi luar, maka karma buruk kita akan semakin berat. Karena itu, kita harus bersungguh-sungguh. Saya terus mengulangi hal ini untuk terus mengingatkan semua orang, berharap kalian menjadi semakin paham

 Ini adalah pelajaran yang sangat penting. Jadi, akar menumbuhkan batang. Batang ada karena adanya akar. Karena itulah, ranting dapat tumbuh subur. Jadi, yang terpenting adalah kita harus memutus akar. Dengan putusnya akar, barulah air kegelapan batin tak dapat terus menghidupi pohon itu. Artinya, kita tidak akan terus menciptakan karma buruk. Selanjutnya dikatakan bahwa kegelapan batin akar ini memunculkan karma. Kegelapan batin akar kita membawa pada timbulnya karma

 Bentuk-bentuk karma ini, saat muncul dalam pikiran, mulanya tiada orang yang tahu. Saat indra kita bersentuhan dengan objek luar, noda batin kita pun bangkit sehingga kita tak mampu menahan diri. Dengan begitu, karma ini terwujud ke dalam tindakan. Jika tidak, maka seperti ungkapan yang berbunyi, “Keburukan di hati tiada yang tahu.” Sejujurnya, saat dalam hati kita timbul noda batin, bagaimana orang lain bisa mengetahuinya? Karena kita menampilkannya ke luar. Saat merasa gembira, kita tertawa dengan begitu senangnya. Saat merasa tidak senang, entah seperti apa raut wajah kita, tentunya tidak enak dipandang

 Selain itu, saat sikap kita menjadi tidak baik, orang lain bisa tahu bahwa kita sedang marah dan sedang risau. Benar, baik gembira, marah, sedih, maupun bahagia, semuanya bermula dari pikiran yang bersentuhan dengan kondisi luar sehingga kita pun bereaksi. Jadi, akibat kegelapan batin akar ini, muncullah berbagai bentuk karma. Semua ini berpulang pada pikiran. Saat pikiran diliputi kegelapan batin, maka indra kita akan mudah untuk terbuai kondisi luar. Kondisi luar ini akan merasuk ke dalam pikiran kita sehingga kita terus diliputi berbagai perasaan. Jadi, perasaan senang atau tidak senang bermula dari dalam batin kita dan kemudian tampak dari sikap kita

 Sikap kita ini kemudian bereaksi lagi dengan kondisi luar. Jadi, aspek karma, penangkapan subjektif, dan dunia objektif berawal dari kontak antara indra dan objek yang bereaksi dengan noda di dalam batin. Awalnya semua aspek ini sangat halus. Objek adalah objek, indra adalah indra. Sesungguhnya, apa hubungan antara indra mata kita dengan kondisi luar? Sesungguhnya, tiada hubungan apa pun. Jika tidak ada hubungan, lantas mengapa bisa bereaksi? Ini adalah permainan pikiran kita. Intinya, indra mata sangatlah halus, objek luar juga sangat halus

 Objek ini pada dasarnya tidak bisa membuai kita. Kita juga tidak memiliki alasan untuk melekati objek. Mulanya memang tidak perlu. Mulanya tiada hubungan antara dua aspek ini. Akan tetapi, akibat Tiga Aspek Halus tadi, semuanya menjadi bereaksi. Sungguh sulit dibayangkan. Pikiran, tubuh fisik, dan materi, semua ini kembali pada pikiran. Materi, pikiran, dan tubuh fisik adalah perpaduan aspek yang sangat halus

 Akibat perpaduan itu, muncullah kegelapan batin turunan. Jadi, berbagai jenis noda batin sesungguhnya sangat sederhana, hanya masalah dalam menghadapi kondisi luar. Kita hanya perlu mengendalikan satu hal, seperti yang dikatakan orang bahwa menangkap pencuri haruslah menangkap kepalanya. Jika kepala komplotan tertangkap, maka masalah yang lain akan beres. Jadi, kita harus memahami hati kita. Kita harus memahami pikiran kita. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa kita harus bertanya ke dalam hati. Kita harus sering bertanya ke dalam hati sendiri apakah hati kita tenang, apakah pikiran kita membuat indra kita terbuai objek luar, apakah pandangan dan pemahaman kita didasari wawasan belaka ataukah kebijaksanaan. Sesungguhnya, banyak orang mengaku berpengetahuan, tetapi hanya memiliki wawasan semata. Saat mata melihat sesuatu, kita menganggap kita sudah tahu

 Tahu apa? Misalnya, tahu bahwa itu adalah sebatang pohon. Mengapa itu disebut pohon, bukannya rumput? Bukan. Rumput tumbuh dari dalam tanah dan lebih lembut. Lihatlah, inilah yang disebut wawasan. Kita mengerti setelah melihat sesuatu, tahu mana yang disebut pohon, tahu mana yang disebut rumput. Kita tahu berbagai jenis rumput yang berbeda-beda dan dapat membedakan berbagai pohon dengan namanya masing-masing. Inilah yang disebut wawasan

 Sedangkan mengenai pengetahuan, saat kita melihat kondisi luar, selain dapat membedakan bendanya, kita memahami sifatnya secara mendalam dan dengan sangat jelas tanpa ada kekeliruan sedikit pun. Inilah pengetahuan yang sesungguhnya. Akan tetapi, yang terpenting adalah kebijaksanaan. Dengan memiliki kebijaksanaan, kita baru bisa mengamati hakikat sejati. Kita harus mengamati hakikat diri sendiri dan menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta pada hakikatnya adalah murni. Jadi, yang terpenting adalah kebijaksanaan. Jika kekurangan kebijaksanaan, banyak kegelapan batin akan timbul. Jadi, kini yang kita bahas adalah Lima Kediaman Mental

 Yang kelima adalah kegelapan batin. Kegelapan batin yang dimaksud adalah kegelapan batin akar. Sebelumnya kita membahas Empat Kediaman Mental. Di sana telah dibahas mengenai pandangan, pikiran, dan gangguan batin. Pandangan kita, pemahaman kita, pemikiran kita, gangguan dalam batin kita, semua ini termasuk kegelapan batin. Inilah yang dijelaskan dalam Empat Kediaman Mental. Semuanya adalah kegelapan batin turunan. Kediaman Mental yang kelima baru merupakan kegelapan batin akar

 Dalam Empat Kediaman Mental, yang dimaksud kediaman adalah batin kita. Secara sederhana, Empat Kediaman Mental adalah noda batin yang berkaitan dengan Tiga Alam. Tiga Alam semua orang seharusnya sudah tahu, yakni Alam Nafsu, Alam Rupa, dan Alam Tanpa Rupa. Sekarang kita akan membahas yang pertama, yaitu Kediaman Segala Pandangan. Ini berkaitan dengan pandangan tentang Tiga Alam. Sesungguhnya, Kediaman Segala Pandangan adalah pandangan dan pemahaman kita. Pandangan dimaksud di sini meliputi segala sesuatu di Tiga Alam. Demikianlah, dalam keseharian, lingkup pandangan dan pemikiran kita dapat meliputi banyak hal dan mencakup ruang lingkup yang luas. Inilah Kediaman Segala Pandangan

 Yang kedua adalah Kediaman Nafsu Keinginan. Kediaman Nafsu Keinginan berkaitan dengan Alam Nafsu atau nafsu dalam batin kita. Sering timbul gangguan dalam batin kita. Yang baru saja kita bahas ini juga merupakan pandangan dalam batin. Jika dalam batin kita timbul nafsu keinginan, maka pikiran kita akan terganggu. Ini karena saat timbul nafsu keinginan, dalam batin kita akan timbul banyak persepsi dan pemikiran. Mengenai persepsi dan pemikiran, di dalam bahasa Mandarin, huruf “persepsi” (xiang) terdiri atas huruf wujud dan hati, sedangkan “pemikiran” (si) terdiri atas huruf sawah dan hati

 Sawah berarti harus digarap. Artinya, setelah bersentuhan dengan kondisi luar, terus timbul reaksi dan tercipta banyak kegelapan batin. Inilah yang disebut gangguan pikiran. Yang ketiga adalah Kediaman Kemelekatan Rupa. Ini adalah gangguan pikiran yang berkaitan dengan Alam Rupa. Yang dimaksud Alam Rupa adalah segala sesuatu yang kita lihat. Kita mungkin tak perlu membahas Tiga Alam hingga terlalu jauh

 Yang perlu kita pahami adalah dunia di dalam batin kita. Batin kita sudah meliputi segala sesuatu yang terlihat, baik sebutir pasir maupun sedikit debu. Segala sesuatu yang Anda lihat juga dapat membuat Anda merasakan gangguan sehingga menciptakan karma buruk serta merasakan kerisauan. Ada orang yang sangat suka kebersihan. “Debu-debu kemarin baru dibersihkan, mengapa hari ini kembali banyak?” “Lantai ini kemarin baru disapu, mengapa hari ini sudah kotor lagi?” Butiran debu yang halus sekalipun dapat membuat batin kita bergejolak. Contoh ini adalah yang paling sederhana. Saat melihat rangkaian bunga, kita mungkin berpikir, “Mengapa dirangkai seperti ini, mengapa tidak dirangkai lebih tegak, mengapa tingginya tidak dibuat sama?” Demikianlah, saat melihat rupa di luar, timbul banyak gangguan dalam pikiran kita. Segala kondisi, asalkan dapat dilihat lewat kontak dengan indra, maka berpotensi membawa kerisauan. Inilah yang disebut gangguan batin. Yang keempat adalah Kediaman Kemelekatan Tanpa Rupa

 Ini berkaitan dengan Alam Tanpa Rupa. Tadi kita membahas tentang yang dapat dilihat, sekarang kita membahas yang tak dapat dilihat. Akan tetapi, yang tak terlihat ini juga dapat membuat batin kita bergejolak. Sering kali, meski kita berada di tempat ini, namun pikiran kita berada di tempat lain. Jelas-jelas kita sudah memiliki sesuatu, namun masih ingin memiliki yang lebih baik daripada orang lain. Meski yang dimiliki sudah cukup baik, masih menginginkan yang lebih baik. Demikianlah noda batin semua makhluk yang tak terbatas. Karena itu, kita senantiasa berada di lautan penderitaan yang tak bertepi

 Batin kita terus-menerus bergejolak. Ini seperti yang sering dikatakan, “Munculnya riak keinginan menimbulkan ombak lautan penderitaan.” Penderitaan dalam kehidupan ini berawal dari kegelapan batin. Jadi, Empat Kediaman Mental yang telah kita bahas di awal ditambah kegelapan batin disebut Lima Kediaman Mental. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita seharusnya tahu bahwa noda batin yang banyak ini berasal dari mana. Semua bersumber pada pikiran. Karena itu, sebuah ungkapan berbunyi, “Manusia pada dasarnya tak memiliki keburukan.” Manusia pada dasarnya bebas dari kejahatan, menyatu dengan kebenaran absolut. Semuanya sangatlah murni. Kita sendirilah yang mencemari diri

 Jadi, manusia pada dasarnya tak memiliki keburukan. Akibat terbiasa dengan pengaruh kondisi luar, barulah keburukan itu muncul. Ini karena kebiasaan yang terpupuk. Dikatakan bahwa, “Manusia pada hakikatnya adalah bajik.” Hanya saja karena pengaruh kondisi luar, manusia mulai memupuk kebiasaan lewat segala yang dilihat dan dipelajari. Setelah belajar banyak, manusia perlahan mulai dekat dengan keburukan. Dengan berada dekat dengan keburukan, berarti kita menanam akar keburukan itu

 Contohnya, jika kita memelihara tabiat buruk seperti kemalasan, maka kita pasti mengalami kemunduran. Kita harus berada dekat dengan orang yang bersemangat. Dengan demikian, kita akan ikut bersemangat. Jika berdekatan dengan orang yang malas, kita pasti akan ikut malas. Inilah yang disebut terpengaruh kebiasaan. Ini ada karena pengaruh lingkungan

 Jadi, jika memelihara kebiasaan buruk, berarti kita menanam akar kegelapan batin dan selamanya berada di tengah kegelapan itu. Jadi, apakah batin kita akan gelap ataukah cemerlang, lingkungan juga sangat berpengaruh. Kita harus sungguh-sungguh menghargai kondisi baik yang ada saat ini. Kita harus menghargai berkah. Dengan menghargai berkah, kita baru dapat memiliki kekuatan untuk kembali menciptakan berkah

 Dengan begitu, kita bisa memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Saudara sekalian, harap semua lebih bersungguh hati. Sungguh-sungguhlah menjaga pikiran. Mengenai kontak antara indra dan objek luar, hendaknya kita pahami dengan jelas dan kita waspadai. Jangan biarkan objek luar membuat batin kita bergejolak. Kita harus memahami cara merawat jiwa kebijaksanaan kita.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888