Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 121 – Menyempurnakan Kualitas Diri

Saudara se-Dharma sekalian, saya sering mengatakan pada setiap orang bahwa kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jika pikiran tidak dijaga dengan baik, maka sedikit kegelapan batin dapat membuat kita terpengaruh kondisi luar sehingga secara tidak disadari kita terus menciptakan karma buruk. Dalam hubungan antarmanusia, adakalanya saat bertemu seseorang kita langsung menyukainya dan tidak dapat mengendalikan diri. Ketika hati kita mulai melekat pada yang disukai, maka akan timbul berbagai masalah dan kerisauan yang tak dapat diselesaikan. Adakalanya, begitu melihat seseorang Anda langsung menjadi marah. Mengapa begitu melihat orang itu, kebencian Anda langsung timbul? Sebenarnya apa yang terjadi? Tidak tahu. Hanya dengan melihat orangnya saja, kegelapan dan noda batin kita langsung muncul. Ketika kegelapan dan noda batin ini timbul, raut wajah kita menjadi tidak enak dipandang

 Saat kita bertikai seperti itu dengan seseorang, orang lain yang melihat kita juga akan memiliki kesan bahwa kita sangat aneh dan tidak perlu dipedulikan; sering marah meski tak terjadi apa-apa, tidak bisa dibujuk, tidak bisa dibimbing. Jadi, tidak ada orang yang mampu membujuk, dinasihati pun tidak mau dengar. Jika kita memiliki sikap seperti ini, buah penderitaan juga akan kita rasakan. Jangan mengira bahwa kita hanya merasa tidak suka pada seseorang. Jangan berpikir bahwa kita hanya bersikap tak baik saat melihat orang tersebut. Sesungguhnya, di mata orang lain, pelatihan diri kita terlihat sangat kurang. Saudara sekalian, coba bayangkan, ini kelihatannya hanya hal sepele, namun membawa kerugian besar bagi diri sendiri. Jika ditanya apakah karma yang tercipta berat atau tidak, maka asalkan benih karma sudah tertanam di dalam batin dan kondisi sekitar kita mendukung, maka kelak di tengah masyarakat kita juga sulit untuk hidup bahagia

 Kelak rintangan yang dihadapi akan sangat banyak. Mengapa sesuatu dapat kita lakukan dengan lancar? Karena kita telah menjalin banyak jodoh baik, sehingga banyak orang ikut mendukung pemikiran kita dan membantu kita mencapainya. Karena itu, saat ingin melakukan sesuatu, dibutuhkan jalinan jodoh baik. Bagaimana cara menjalin jodoh baik? Caranya adalah pada saat ini, terhadap setiap orang, kita harus membangkitkan rasa sukacita. Lihatlah, bukankah Buddha Sakyamuni telah mengajarkan hal ini? Dalam Sutra Bunga Teratai dikisahkan cerita tentang Bodhisattva Sadaparibhuta. Buddha membimbing kita untuk menjalin jodoh baik dengan orang lain dan meningkatkan kualitas diri kita. Kita tidak boleh meremehkan orang lain

 Terhadap orang lain, kita harus selalu membangkitkan rasa hormat dan sukacita. Inilah teladan Bodhisattva Sadaparibhuta. Keteladanan ini dibabarkan Buddha untuk mengajari kita meningkatkan kualitas diri. Jadi, untuk benar-benar mendalami ajaran Buddha, kita tidak boleh mengasingkan diri dari dunia dan harus terjun ke masyarakat. Satu-satunya cara yang terpenting adalah menjalin jodoh baik. Jalinan jodoh baik harus dimulai dari dalam batin. Batin kita harus senantiasa cemerlang, tidak boleh tertutup noda batin. Kegelapan batin merupakan gangguan yang dapat menyesatkan kita

 Bayangkan, mengapa Anda harus tanpa sebab yang jelas menyukai seseorang dan terus mengejarnya? Ini juga merupakan gangguan batin. Tanpa sebab yang jelas pula, Anda marah terhadap seseorang dan selalu menentangnya. Mengapa harus begitu? Ini juga disebut kegelapan batin. Ini juga disebut gangguan batin. Saudara sekalian, kita semua harus memahami ini dengan jelas. Ini hanya masalah sikap batin kita terhadap hubungan antarmanusia, terlihat sangat sepele, namun dapat membawa gangguan besar

 Dalam melatih diri, kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita. Jangan biarkan kegelapan batin mengganggu dan membuat kita menciptakan karma buruk. Jika kita menciptakan karma buruk, maka buah penderitaan yang diakibatkan tak dapat dilimpahkan kepada orang lain dan harus kita terima sendiri. Kita yang menanam, kitalah yang harus menuai. Dengan adanya buah karma buruk ini, kita akan terkondisi untuk menciptakan karma buruk baru dan kembali menerima buahnya. Demikianlah, kekuatan karma terus bertambah

 Perselisihan pun semakin dalam. Inilah yang disebut kebencian membawa dendam kesumat. Dimulai dari hanya sedikit kebencian tanpa sebab, lama-kelamaan seiring berjalannya waktu, ikatan dendam pun terbentuk. Akibatnya, orang akan melakukan karma buruk. Setelah melakukan, dendam ini akan semakin bertambah. Dengan adanya dendam kesumat ini, malapetaka akan terus dirasakan. Ini dimulai dari sesuatu yang sepele, namun kelak dapat membawa dampak besar

 Bagaikan sebutir benih yang hanya ditanam ke dalam tanah, dengan adanya kondisi pendukung, tumbuhlah tunas. Tunas ini akan menjadi pohon. Pohon yang sudah besar akan berbunga dan berbuah hingga tak terhitung banyaknya. Semua ini berawal dari sebuah benih sebab yang kecil. Praktisi Buddhis sekalian, saya berbicara hingga mulut berbusa, kalian seharusnya dapat mengira-ngira untuk siapa perkataan ini ditujukan. Mungkin kalian berpikir bahwa ini ditujukan untuk orang tertentu. Sesungguhnya, jika kalian menganggap ini hanya ditujukan bagi orang tertentu, maka diri kalian sendirilah yang akan rugi, karena batin kita tidak menerima Dharma ini. Dharma bagaikan air. jika tidak menyerap air Dharma, hanya mengira bahwa Dharma itu hanya ditujukan bagi orang lain, dan jika kita tidak mawas diri, berintrospeksi serta meningkatkan kewaspadaan, maka saya yakin karma dan noda batin yang tertanam dalam batin kita akan memiliki lebih banyak kesempatan  untuk mewujud. Jadi, batin kita harus senantiasa sadar bahwa Air Dharma harus selalu ada dalam batin kita

 Ajaran ini bukan ditujukan bagi orang lain, melainkan kepada diri sendiri. Jadi, kita semua harus sadar bahwa semua ajaran ditujukan bagi diri sendiri. Dalam kegelapan batin, ada yang disebut “kegelapan batin turunan”. Kegelapan batin turunan ini berawal dari pikiran. Pikiranlah pelopor segalanya. dalam pikiran terdapat berbagai faktor mental. Faktor-faktor mental ini pada dasarnya tidak berwujud. Akan tetapi, kita tahu bahwa banyak hal terjadi akibat perpaduan berbagai faktor. Mengenai faktor mental, dalam Seratus Kelompok Dharma, terdapat 51 faktor mental

 Hanya dari ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, keraguan, dan pandangan salah saja dapat melahirkan 51 faktor mental. Ini tercipta lewat kontak antara indra kita, objek luar, dan kesadaran. Faktor-faktor yang muncul lewat kontak tersebut adalah ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Kita harus bertanya pada diri sendiri setiap hari apakah hari ini dalam batin kita ada ketamakan. Orang yang melatih diri apakah masih punya ketamakan? Masih. Masih banyak. Misalnya, kita lebih suka makanan tertentu. Hanya dari segi makanan saja, adakalanya kita berpikir, “Saya tidak suka makanan ini, saya suka yang itu

” “Mengapa tak meninggalkan lebih banyak untuk saya?” Meski untuk hal-hal yang sepele, masih bisa timbul ketamakan. Ini dari segi makan. Mengenai tempat tinggal, adakalanya kita juga memilih-milih. “Saya ingin tinggal dengan si A, mengapa saya ditempatkan di sini, mengapa tidak beri saya tempat yang besar sedikit, mengapa tidak memberi saya tempat terbaik?” Dari segi tempat tinggal saja, bukankah pikeran kita juga membeda-bedakan dan memiliki ketamakan? Ini masih bisa terjadi di kalangan kaum monastik. Meski lingkup kehidupan kita tidak besar, makan pun hanya makan sayuran, pakaian pun cukup sederhana, namun dari segi makanan dan pakaian ini, kita masih bisa membeda-bedakan, apalagi tempat tinggal. Lingkungan tempat tinggal kita demikian kecil, hanya ada sebuah tempat tidur dan sebuah meja untuk menaruh buku. Selain itu, apa lagi yang kita inginkan? Tidak ada lagi yang perlu diingini

 Akan tetapi, batin kita sulit dihindarkan dari sikap membeda-bedakan terhadap kondisi. Dalam hubungan antarsesama, adakalanya kita membeda-bedakan dan membanding-bandingkan. Kita terjerumus pada yang disukai dan yang tidak. Dengan begitu, ketamakan pun kembali muncul. Bagaimana dengan kebencian? Kebencian juga demikian. Tadi kita telah membahas bahwa bekerja dengan orang yang disukai, kita akan selalu merasa senang

 Kita dapat berbicara banyak hal, dan apa pun yang dibicarakan, selalu terasa menyenangkan. Akan tetapi, apakah pembicaraan itu sesuai Dharma, kita tidak peduli, yang penting kita senang. Ada orang yang selalu bertutur kata baik. Setiap ucapannya sangat baik dan mampu mengingatkan orang lain, namun kita malah ingin marah saat mendengarnya dan menganggap orang itu sok pintar. “Kamu kira seberapa pintar dirimu?” Sesungguhnya, kita sendiri yang sok pintar, bukan orang lain. Orang lain bisa mengatakan hal bermanfaat, kita tidak bisa. Orang lain bisa melakukan hal bermanfaat, Rasa iri hati yang kita miliki ini bermula dari kebencian. Kebencian sungguh menakutkan. Ada pula kesombongan. Orang sombong mungkin berkata, “Kamu tahu, saya juga tahu

” “Bahkan saya tahu lebih awal dari kamu.” Kesombongan dan kecongkakan seperti itu juga merupakan sebuah penyakit serius. Orang yang memiliki kesombongan kebijaksanaannya pasti tak akan bertumbuh. Karena itu, kita harus mawas diri. Memiliki keraguan atau kecurigaan juga menderita. kini banyak orang yang tidak sehat baik secara fisik maupun batin. Ini karena mereka memiliki kecurigaan. Kecurigaan menimbulkan prasangka

 Ketika curiga terhadap seseorang, pikiran kita akan membuat jarak dengan orang itu. Kita tidak berani berada dekat dengannya. Jika berada dekat dengan orang itu, kita akan merasa dia selalu merugikan dan mencelakai kita. Dengan demikian, hidup kita akan sangat kesepian. Selain kesepian, mungkin akan didera penyakit. Jadi, kecurigaan membawa prasangka. Saat melihat orang lain, kita akan merasa takut dan waswas. Ini sesungguhnya sangat tidak baik, sangat merugikan diri sendiri. Kita harus selalu membangkitkan pemikiran bahwa di dunia ini tiada orang yang tidak kita percayai, tiada orang yang tidak kita kasihi, dan tiada orang yang tidak bisa kita maafkan

 Meski orang lain membawa kerugian atau sesuatu yang tidak menguntungkan kita, namun berhubung kejadiannya sudah berlalu, kita tetap harus memaafkan. Kita harus berlapang dada dan tidak lagi menyimpan kecurigaan. Curiga sangatlah menderita. Bukankah ada ungkapan berbunyi, melihat orang lain dengan hati Buddha, maka setiap orang terlihat seperti Buddha. Jika kita melihat orang lain dengan hati setan, maka setiap orang akan terlihat seperti setan. Jika kita memiliki hati yang tenang dan damai, maka setiap hari akan menjadi hari yang tenteram. Jika kita memiliki kecurigaan, maka tiada satu hari pun yang terasa damai. Jadi, kecurigaan terhadap orang lain, waktu, lingkungan, dll. akan membawa gangguan dan kerisauan bagi kita

 Jadi, kita tidak boleh menyimpan kecurigaan. Kita harus yakin pada diri sendiri— yakin diri sendiri tanpa pamrih. Kita harus selalu mengembangkan keyakinan ini. Dengan sendirinya, kita akan yakin bahwa setiap orang memiliki cinta kasih. Dengan begitu, apa lagi yang perlu dicurigai? Janganlah menaruh kecurigaan. Setiap orang memiliki pandangan masing-masing. Dengan adanya banyak pandangan ini, timbullah berbagai kerisauan dan noda batin. Inilah yang disebut kegelapan batin turunan. kegelapan batin turunan adalah noda batin yang muncul dari kontak antara indra dan objek. Karena itu, kita harus selalu menjaga dengan baik indra kita

 Bagaimana pun kondisi di luar, kita harus menjaga indra kita. Contohnya, saat mata melihat objek rupa, jika kita ingat beberapa faktor tadi dan mempertahankan kondisi batin kita untuk tidak tamak, benci, bodoh, sombong, ataupun curiga, maka penyakit batin tidak akan ada, indra dan objek juga tak akan saling memengaruhi. Jadi, kita harus sangat hati-hati. Di sini, saya kembali mengatakan pada semua orang bahwa noda batin yang timbul dari kegelapan batin akar  disebut kegelapan batin turunan. Selain kegelapan batin turunan, ada pula kegelapan batin akar. Mengapa semua makhluk bisa memiliki kegelapan batin akar dan turunan? Karena kita semua belum benar-benar memahami kebenaran absolut dari segala sesuatu. Batin kita belum menembus kebenaran tunggal

 Apa yang disebut kebenaran tunggal? Yaitu kedemikianan, kebenaran yang tidak mendua. Karena itu, ia disebut tunggal. Apa yang dimaksud kedemikianan? Kedemikianan adalah hakikat semua makhluk, yaitu sifat hakiki yang paling murni. Kita semua belum memahami atau merealisasikannya. Jika kita semua dapat meyakini bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan setiap orang memiliki cinta kasih yang tulus dalam hati, maka kita akan sama seperti Buddha, bebas dari kerisauan, bebas dari noda batin. Hakikat kedemikianan yang cemerlang ini bukan hanya dimiliki oleh Buddha. Anda memilikinya, saya memilikinya, setiap orang memilikinya. Jadi, jika kita mampu menembus kebenaran absolut, maka masalah apa pun tak akan menimpa kita. Berhubung kita belum menembus kebenaran ini, maka sedikit saja pikiran keliru muncul, gejolak batin yang kecil ini akan membawa masalah yang tidak berujung

 Intinya, di manakah sumber pikiran keliru? Di setiap niat kita yang timbul. Sungguh menakutkan. Dengan gejolak pikiran yang kecil ini, ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan akan turut bergejolak. Dalam lingkup kecil, semua ini membawa pertikaian antarsesama, ketidakbahagiaan dalam keluarga, atau kekacauan dalam masyarakat. Dalam lingkup yang lebih besar, ia dapat membawa bencana bagi negara. Coba kita bayangkan, pada tahun 2001, terjadi sebuah peristiwa, yaitu Tragedi 11 September yang didalangi oleh teroris. Bayangkan, ini terjadi hanya karena kegelapan batin. Karena kegelapan batin, pikiran menjadi keliru, tak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah

 Begitu banyak kebencian yang terakumulasi dalam batin. Sesungguhnya, siapa yang mereka benci? Di dalam menara kembar itu, apakah ada orang yang memiliki dendam kesumat dengan mereka? Mana ada? Sesungguhnya, mengapa mereka menabrakkan pesawat ke sana sehingga menewaskan ribuan orang? Berapa banyak keluarga kehilangan anggotanya. Terlebih lagi, ini juga menggemparkan dunia internasional. Hanya karena pikiran keliru, mereka membuat bencana besar. Selain itu, di Afganistan, juga terjadi perang antarnegara, yakni Amerika Serikat dan Afganistan, juga terjadi perang antaragama, antarpartai, dll. Demikianlah, entah mengapa semua ini harus terjadi dan mengorbankan banyak orang tak berdosa. Jika kita masih ingat, tayangan tentang peristiwa itu sering ditayangkan untuk mengingatkan semua orang bahwa kehidupan penuh penderitaan. Akan tetapi, dapatkah kita memahami penderitaan ini? Saat insan Tzu Chi memberi bantuan bencana di tengah cuaca bersalju, coba bayangkan berapa banyak orang harus menempuh bahaya demi menyelamatkan para korban

 Sungguh tidak mudah. Ini juga terjadi akibat kegelapan batin. Gejolak pikiran keliru yang kecil saja dapat menyebabkan bencana bagi seluruh negeri. Lihatlah, betapa banyak orang yang menderita. Ini adalah salah satu bencana terbesar abad ini. Ada pula perang AS dan Irak pada tahun 2003. Lihatlah, begitu banyak bencana akibat ulah manusia

 Adakah yang tahu penyebabnya? Semua ini terjadi karena orang-orang tidak memahami kebenaran tunggal tentang hakikat murni semua makhluk. Saat memiliki lingkungan yang penuh cinta kasih, adakalanya kita tidak menghargainya. Karena itu, saat indra kita bersentuhan dengan objek luar, pikiran kita pun bergejolak dan kegelapan batin kita pun bertambah. Kebijaksanaan kita yang cemerlang pun menjadi tertutupi. Kegelapan batin ini terus bertumbuh. Bayangkan, semua ini hanya bermula dari sebersit niat. baik perumah tangga maupun kaum monastik, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jika tidak, saat pikiran ini bergejolak, kegelapan batin akar kita akan terus bermunculan

 Dengan adanya kontak dengan kondisi luar, karma buruk pun semakin terakumulasi. Dengan begitu, kita tidak pernah terbebas dari enam alam kelahiran kembali, terutama tiga alam rendah akan selalu membayang-bayangi kita. Akhir kata, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik dan senantiasa bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888