Sanubari Teduh – 143 – Enam Praktek 10 Kediaman Bagian 4
Saudara se-Dharma sekalian, waktu terus bergulir tanpa henti. Kondisi juga terus-menerus berubah. Saat ini, kondisi di luar begitu hening dan tenang. Langit begitu cerah tanpa awan. Kita mendengar suara burung berkicau di luar. Ramai sekali. Dunia mereka sangat damai, sedangkan dunia manusia penuh suka duka yang silih berganti. Sukanya ada pada saat dan kondisi yang tenang
Dukanya ada pada masalah dalam hidup. Dunia ini penuh dengan masalah. Ada kesedihan, sukacita, perpisahan, pertemuan. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha di ladang pelatihan ini, saya selalu berkata kepada semua orang bahwa kita harus giat dan bersemangat. Kondisi batin kita harus dijaga dengan baik karena kehidupan tidaklah kekal dan kondisi lingkungan terus berubah. Jadi, intinya adalah pikiran. Jika pikiran dapat dijaga dengan baik, maka itulah keabadian
Inilah jiwa kebijaksanaan kita. Jiwa kebijaksanaan bersifat abadi, tidak bertambah, juga tidak berkurang; tidak timbul, tidak lenyap. Melatih diri berarti kita harus berlatih agar jiwa kebijaksanaan kita abadi selamanya. Kita telah membahas tentang praktik sepuluh kediaman. Yang kelima adalah kesempurnaan metode terampil. Meski disebut metode terampil, semuanya tidak lepas dari kebenaran. Bahkan pikiran kita juga harus benar
Jika pikiran kita benar, kita tidak akan menyimpang sedikit pun. Jika tidak menyimpang sedikit pun, hati kita akan sama dengan hati Buddha, dan kita pun akan selalu berada di jalan benar. Jadi, pikiran benar sangat penting. Kini kita akan membahas yang ketujuh, yakni ketidakmunduran. Kediaman ketidakmunduran berarti perkembangan batin kita tidak pernah mundur. Inilah ketidakmunduran. Sering dikatakan bahwa meski memiliki kehidupan yang sempurna, manusia tetap merasa kurang
Ini bergantung pada bagaimana kita melihatnya. Bagaimana yang disebut sempurna? Bagaimana baru kita merasa puas? Kesempurnaan terwujud lewat rasa puas. Jika manusia memiliki rasa puas, maka kehidupannya akan terasa sempurna. Jika seseorang tak pernah puas, maka selamanya dia akan merasa kurang. Inilah ketidaksempurnaan, kehidupan yang penuh kekurangan. Jadi, penyesalan dalam masyarakat berasal dari rasa kurang, rasa benci, dan sebagainya. Dengan begitu, hingga akhir hayat, manusia tak pernah menganggap dirinya sudah cukup puas. Meski hidup hingga seratus tahun, adakalanya manusia masih merasa kurang dan ingin bisa hidup lebih lama
Master Yin Shun, guru saya, kakek guru kalian, hidup hingga seratus tahun, tepatnya 101 tahun. Apakah kita puas? Tidak. Kita masih merasa kehidupan yang begitu cemerlang dan inspiratif bagi jiwa kebijaksanaan banyak orang, seharusnya lebih panjang lagi. Baik para dokter, perawat, maupun tim medis sudah berusaha maksimal. Di antara para murid beliau, siapa yang tidak berharap beliau dapat tinggal lebih lama? Akan tetapi, usia jasmani setiap orang pasti ada batasnya. Jadi, suatu hari, manusia pasti meninggal, dan inilah salah satu kekurangan yang manusia rasakan. Kita masih merasa tidak puas. Ini yang berkaitan dengan tubuh jasmani, lalu bagaimana dengan batin? Kita tahu bahwa Buddha telah mengajari kita
Buddha juga telah membabarkan Dharma untuk sungguh-sungguh mengajari kita. Buddha hidup di dunia selama 80 tahun. Bukankah ini lebih disesalkan? Jika saat ini Buddha masih ada di hadapan kita, entah alangkah baiknya. Akan tetapi, Buddha Datang ke dunia justru untuk mengajari kita agar kita tahu bahwa usia manusia memang terbatas. Saat ajal tiba, setiap manusia pasti akan pergi. Jadi, janganlah kita menganggap ini adalah hal yang patut disesalkan. Ini adalah hukum alam. Kehidupan manusia memang seperti ini
Jadi, kita harus membangkitkan rasa puas. Jika dibandingkan dengan Buddha, Master Yin Shun hidup 20 tahun lebih lama. Dengan mengingat hal ini, seharusnya kita dapat merasa puas. Selanjutnya, berhubung sudah tahu bahwa ketidakkekalan bisa datang setiap saat, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Saya juga sering berkata entah hari esok datang lebih dahulu atau ketidakkekalan tiba lebih dahulu. Saat ini kita hendaknya tahu bahwa kehidupan memang tidak kekal dan era kerusakan telah semakin terlihat. Jadi, pikiran setiap orang harus senantiasa waspada
Apakah ketidakkekalan yang tiba lebih dahulu ataukah hari esok yang tiba lebih dahulu? Pada bulan Agustus 2005, saat berkunjung ke Dalin, saya bertemu seorang murid saya yang baik, yang secara khusus datang menemui saya. Suaranya sangat lantang, dia pun sangat optimis. Dia berkata kepada saya bahwa dia baru pulang dari Indonesia. Di Indonesia, dia melihat insan Tzu Chi begitu tekun dan bersemangat. Tzu Chi membawa banyak harapan. Itulah yang dia sampaikan kepada saya. Dia menyampaikan banyak hal yang dilihatnya
Dia juga berkata dia seharusnya memperkuat tekad dan dapat bersyukur setiap hari. Pada masa-masa itu, lambungnya mengalami masalah. Setelah diperiksa dokter, dia dinyatakan mengalami bisul perut dan segera minum obat. Saya lalu berkata bahwa itu tidak cukup, dia harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Setelah diperiksa, timbul sebuah keraguan. Kepala RS Tzu Chi Dalin berkata padanya, “Kak, kamu harus datang lagi untuk pemeriksaan lanjutan.” Saya menasihatinya untuk mengikuti saran dokter. Jika ada keraguan, pemeriksaan lanjutan harus dijalankan
Pada pertengahan bulan Agustus, saat meninggalkan Dalin dan menuju Taipei, saya menerima telepon. Kepala RS Lin berkata kepada saya, “Master, hasil pemeriksaan Kakak Hong Zhi-cheng sudah keluar.” “Hasilnya kurang optimis.” Mendengarnya, bagaimana saya bisa percaya? Dia adalah orang dengan tubuh yang gagah dan suara yang lantang. Pendarahan lambungnya juga sudah berhenti. Dokter berkata, “Bukan masalah lambung, tetapi masalah lever.” Saya menjawab, “Kalau begitu, harus segera ditangani lebih lanjut
” Dokter menjawab, “Harapannya tipis, karena letak permasalahannya membuat ia sangat sulit untuk ditangani.” Saya berkata, “Dioperasi saja.” “Dahulu dia baik-baik saja, penyakitnya seharusnya belum lama muncul.” “Dioperasi juga sulit,” jawab dokter. “Bagaimana dengan embolisme?” “Tidak membantu.” “Ada cara apa?” “Sampai saat ini, masalah seperti itu sangat sulit untuk ditangani
” “Bagaimana dengan cangkok hati?” “Harapannya tipis.” Setiap ucapan dokter yang saya dengan di telepon berisi tentang tipisnya harapan. Sejak saat itu, hati saya sangat sedih. Setiap hari saya teringat suaranya yang begitu lantang dan senyumannya yang begitu optimis. sekembalinya ke Hualien, saya kembali berusaha mendalami apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia juga tetap menghargai kehidupannya. Meski biasanya sangat optimis dan berlapang dada, namun memikirkan ajal yang sewaktu-waktu dapat menjemput, manusia tentu berharap dapat hidup lebih lama. Kehidupannya begitu baik
Baik kondisi keluarga, istri, maupun anak-anaknya, semua sangat baik. Terlebih lagi, mereka suami istri sama-sama berada di Tzu Chi. Bahkan misi bantuan internasional pun dia jalankan dengan penuh sukacita. Entah sudah berapa negara yang dia kunjungi. Jejak langkahnya tersebar di mana-mana. Kehidupannya bisa dikatakan sangat cemerlang, terlebih setelah dia bergabung dengan Tzu Chi, saya rasa kehidupannya semakin cemerlang. Dalam kehidupan ini, kita tak tahu berapa panjang usia kita, namun yang terpenting adalah kualitas hidup. Hidup sebagai manusia, pertama kita harus menunaikan kewajiban; kedua kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat. Kita juga harus memiliki keyakinan yang benar dan berjalan di jalan yang benar pula
Relawan Hong dapat menerima kondisinya. Saya rasa, inilah kehidupan yang sempurna. Baik singkat maupun panjang waktunya, itu bukanlah yang terpenting. Jadi, pada masa-masa itu, meski dalam batin saya telah membuat persiapan, namun saat Relawan Hong meninggal, saya tetap merasa sangat kehilangan. Bukankah ketika menghadapi saat-saat itu hati kita harus tetap lapang dan terbuka? Melihat dirinya begitu damai tanpa rasa takut dan sangat tenang, saya juga merasa tenang. Ada beberapa anggota komite senior Tzu Chi yang meski mengetahui waktu mereka sudah tidak banyak dan telah mendapat vonis dari dokter, hati mereka tetap tenang dan damai. Mereka bahkan dapat memutuskan sendiri bagaimana agar tubuh mereka dapat dimanfaatkan sebagai sumbangsih terakhir mereka bagi dunia. Setelah mengatur semuanya, mereka merasa tenang
Kita telah melihat beberapa yang seperti ini. Seperti Jing Rong, dia bahkan bisa menunggu sampai seluruh relawan datang berkumpul di sisinya, lalu melihat mereka satu per satu. Setelah itu, dia mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa, lalu pergi. Manusia suatu saat pasti meninggal. Relawan Hong sangat berharap saya menjenguknya. Saya juga berharap dapat menjenguknya. Akan tetapi, urusan saya sungguh banyak. Saya tak bisa meninggalkan Griya Jing Si
Jadi, siang hari 3 Oktober 2005, mereka menelepon. Saya berkata pada istrinya, “Kita semua telah berusaha maksimal.” “Saya tidak bisa ke sana, bukankah lebih baik minta dia pulang kemari?” “Ya, dia memang terus ingin pulang ke sana.” Maksudnya ingin ke Griya Jing Si. beberapa hari lalu dia terus bilang ingin berada dekat saya, jadi biar dia kemari.” Setelah menutup telepon, istrinya bertanya kepadanya apakah dia benar-benar ingin pulang dan mendonorkan tubuh sebagai Silent Mentor. Awalnya, istrinya menyarankan agar dia menjalani cangkok hati. Mereka telah mencari informasi hingga ke Amerika Serikat dan Jepang
Akan tetapi, pihak RS di sana menyatakan bahwa cangkok hati juga tak bisa membuatnya bertahan lebih lama. Karena itu, mereka juga tidak terlalu memaksa. Relawan Hong sendiri juga tahu kondisinya. Dia mendonasikan uang cangkok hatinya kepada Tzu Chi. Di hari yang sama, sekitar pukul enam sore, dia meninggal dunia. Saya percaya dia telah kembali ke sisi saya. Saudara sekalian, mengenai ketidakmunduran, tekad kita melatih diri tidak boleh mundur. Kehidupan manusia adakalanya indah, adakalanya sulit. Alangkah baiknya jika setiap orang+ dapat selalu merasa puas dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap segala yang berwujud maupun tidak
Atas segala yang berkondisi, kita harus merasa puas. Yang berkondisi adalah tubuh, usia, dll. Semua itu dapat dihitung secara konkret. Waktu pasti terus berlalu. Segala yang berkondisi pasti akan berubah. Jadi, tak peduli panjang atau pendeknya usia, kehidupan suatu saat pasti berakhir. Yang terpenting, tekad kita dalam melatih diri harus senantiasa dipertahankan
Norma sebagai manusia, tanggung jawab terhadap keluarga, kontribusi terhadap masyarakat, serta tekad dan keyakinan yang teguh, apakah semua ini sudah dapat kita wujudkan? Saya percaya inilah yang terpenting. Jadi, dari segi jasmani dan batin kita harus bertumbuh. Jasmani mempraktikkan Jalan Bodhisattva, batin menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Keduanya tidak boleh kurang . Bagaimana pun, jika kita dapat melihat kehidupan dengan jelas, sesungguhnya ia seperti bintang jatuh yang berlalu dengan sangat cepat. Sesungguhnya, jika kita dapat membangkitkan tekad Bodhisattva, maka harapan akan bertambah di dunia ini, bagaikan bintang yang berkelap-kelip. Meski cahayanya tiba-tiba terlihat menghilang, namun suatu saat ia akan terlihat kembali
Ini karena bertambahnya Bodhisattva di dunia. Dengan begitu, di era Kalpa Kerusakan ini, akan semakin banyak orang bijak yang muncul. Jadi, kita harus siap menyambut masa depan yang yang penuh harapan ini. Ini adalah harapan kita semua. Baiklah. meski merasa kehilangan atas kepergian orang, kita harus tetap menatap masa depan
Semua orang harus saling memotivasi. Bersungguh-sungguhlah selalu.