Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 144 – Enam Praktek 10 Kediaman Bagian 5

Saudara se-Dharma sekalian, waktu tak henti-hentinya bergulir tanpa terasa. Satu hari terdiri atas 24 jam, dibedakan menjadi siang dan malam. Setiap hari, sebelum matahari terbit kita sudah mendengar ketukan kayu tanda dimulainya aktivitas harian. Kita melihat langit di luar masih gelap. Ini sesungguhnya masih malam atau sudah pagi? Entah pagi atau malam, pada pembagian waktu, saat ini adalah permulaan hari yang baru. Dari pagi sebelum matahari terbit kita beraktivitas hingga malam

 Setelah aktivitas berakhir, kita harus beristirahat. Ada orang yang saat harus beristirahat, malah memulai aktivitas lain. Entah bagaimana mereka membagi waktu. Akan tetapi, pembagian waktu yang normal antara aktivitas dan istirahat adalah yang terbaik. Jadi, kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kita telah membahas kediaman ketidakmunduran. Dalam melatih diri, kita harus berusaha agar dalam proses bergantinya hari demi hari, tekad dalam hati dan pikiran kita tidak mundur sedikit pun

 Asalkan Anda telah memilih jalan yang benar dan terus melangkah maju, ini disebut tekun dan bersemangat. Bersemangat berarti pantang mundur. Hati yang pantang mundur disebut kediaman ketidakmunduran. Jadi, di tengah proses bergantinya hari-hari ini, jasmani dan pikiran kita harus bertumbuh. Jasmani harus penuh semangat, pikiran harus pantang mundur. Dengan begitu, kita tak akan malas. Jiwa kebijaksanaan kita akan bertumbuh

 Dengan demikian, makna hidup kita akan sempurna. Dengan demikian, kita tak akan mundur. Kita sungguh harus menggenggam setiap waktu. Jika waktu tidak digenggam baik-baik, ia akan berlalu sia-sia. Begitu lengah sedikit saja, kita akan kehilangan kesempatan. Jika kalian dapat menggenggam setiap detik dengan baik, maka kalian sendirilah yang akan mendapat manfaatnya. Jadi, semua harus jelas terhadap pandangan ini

 Berikutnya adalah kemurnian anak kecil. “Keajaiban Sepuluh Tubuh Buddha sempurna seketika, mulia bagaikan kemurnian anak kecil.” Apa yang disebut kemurnian anak kecil? Anak kecil sangat polos tanpa noda. Bukankah saya sering mengatakan bahwa kita harus memiliki hati seperti anak kecil? Jika memiliki kemurnian seperti anak kecil, batin kita berarti sangat murni. Jika ayah ibu atau orang yang lebih tua memarahi kita, kita harus berpikir bahwa memang seharusnya dan kita harus menerimanya. Kita harus belajar untuk tidak menyimpan yang sudah berlalu di dalam hati. Lihatlah saat orang tua mengajar anak mereka

 Orang tua mana yang tidak berharap anaknya dapat menjadi orang yang berhasil? Orang tua mendidik anaknya sejak kecil. Jika ada kesalahan, orang tua menasihati. Jika tidak didengar, mereka akan memarahi. Jika masih tidak didengar, mereka memukul. Meski begitu, anak tetap memanggil orang tuanya dengan sebutan ayah dan ibu. Ada pula yang lebih mengagumkan. Semakin dipukul, dia semakin sayang dengan orang tuanya

 Hati yang tidak menyimpan rasa dendam ini adalah hati yang tak ternoda. Dia hanya berpikir itu sudah seharusnya. “Prinsip ini seharusnya begitu.” “Saya tidak mengerti, maka orang tua mengajari saya.” Anak-anak tidak menyimpan dendam. Inilah kemurnian anak kecil

 Saya juga sering berkata kepada kalian bahwa sebagai praktisi, kita harus memiliki hati seperti anak kecil, ketahanan seperti seekor unta, dan keberanian seperti seekor singa. Jika memiliki tiga hal ini, maka pelatihan diri kita tak akan mundur. Jadi, mengenai sepuluh tubuh Buddha, Buddha bermanifestasi di dunia ini dengan berbagai macam cara. Saya juga sering berkata bahwa di dalam Kitab Jataka banyak dikisahkan jejak Buddha di enam alam kelahiran kembali. Adakalanya Beliau lahir sebagai dewa, adakalanya sebagai manusia. Di alam manusia, kadang Beliau muncul sebagai orang berkasta mulia, kadang sebagai orang berkasta rendah; kadang berpenampilan agung, kadang berpenampilan buruk. Beliau menggunakan berbagai wujud untuk bermanifestasi di alam manusia, bahkan alam setan kelaparan, binatang, dan neraka

 Buddha pernah bermanifestasi di semua alam itu. Begitu pula dengan para Bodhisattva. Jadi, Buddha mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengembangkan hati Buddha dan melihat setiap orang sebagai Buddha. Kita tak boleh meremehkan seorang pun. Mungkin saja orang yang kita remehkan itu adalah emanasi dari Buddha atau Bodhisattva yang datang ke dunia untuk membimbing kita. Jadi, dalam Sutra 42 Bagian ada sepenggal kisah tentang sramana yang bertanya pada Buddha apa kebajikan tertinggi dan apa yang teragung

 Sramana itu bertanya kepada Buddha apa kebajikan tertinggi di dunia dan apa yang teragung di dunia. Sramana itu berkata, “Aku ingin melatih diri, aku ingin masuk jalan pelatihan diri lewat pintu kebajikan yang tertinggi.” “Dapatkah Yang Dijunjung mengajariku dan membimbingku?” “Tunjukkanlah arah untuk pencapaian yang lebih cepat.” “Aku ingin melatih kebajikan dan memahami kebenaran agung.” “Sesungguhnya, apakah kebajikan tertinggi?” Buddha menjawab, “Kebajikan tertinggi adalah mempraktikkan jalan dan mempertahankan ketulusan.” yang terpenting adalah mempertahankan pikiran yang benar dan tulus

 Seperti apakah pikiran yang paling tulus itu? Jika dapat mempertahankan tekad awal, kita pasti dapat mencapai kebuddhaan. Artinya, kita harus selalu ingat saat-saat di mana kita merasa sangat tergugah sehingga  bertekad untuk melatih diri. Di sanalah letak pikiran yang paling tulus. Pikiran itulah yang paling bajik. Selanjutnya Buddha berkata, “Tekad yang menyatu dengan Sang Jalan adalah yang teragung.” Apakah jalan kebenaran yang teragung? Buddha berkata kepada kita bahwa tekad kita harus menyatu dengan jalan yang hendak kita tapaki

 Inilah kebenaran agung. Kata-kata ini seharusnya sangat sederhana. Mengapa kita memilih untuk melatih diri? Karena kita telah merasa tergugah dan sadar. Makhluk awam dan Buddha pada dasarnya memiliki kebijaksanaan setara. Saat tersadar dan bertekad seketika itu, pikiran kita berada dalam kondisi paling tulus. Hanya saja, kesadaran makhluk awam hanya bertahan seketika itu saja

 Alangkah baiknya jika kita bisa mempertahankan kesadaran ini. Inilah ketulusan. Jika setelah tersadarkan kita bertekad dan terus mempertahankan tekad tersebut, maka itulah yang disebut pikiran terbaik. Jadi, bajik adalah mempraktikkan jalan dan mempertahankan ketulusan. Pikiran tulus itu sangatlah penting. Alangkah baiknya jika ini dapat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari, saat menghadapi orang dan masalah serta segala sesuatu di dunia

 Segala tindakan kita hendaknya sesuai dengan tekad kita. Tekad adalah niat baik yang kita bangkitkan. Dalam keseharian di tengah masyarakat, saat menghadapi orang  dan masalah, setiap ucapan dan tindakan kita harus sesuai dengan tekad dan misi kita. Karena itu, Tzu Chi memiliki misi. Orang yang terjun di dalam misi Tzu Chi tanpa mengharapkan balasan disebut relawan bertekad. Inilah yang disebut Bodhisattva dunia. Semuanya berawal pada tekad. Orang yang memiliki tekad dan rela bekerja mewujudkannya Inilah Bodhisattva dunia

 Lihatlah, di seluruh dunia, betapa banyak relawan Tzu Chi yang setelah bertekad benar-benar mempraktikkan tekad mereka. Orang yang mempraktikkan tekad secara nyata adalah yang teragung. Kita juga melihat bencana di New Orleans. Ribuan bahkan jutaan orang harus mengungsi ke daerah yang benar-benar asing bagi mereka. Mereka tak memiliki apa-apa lagi. Mereka harus tinggal di posko penampungan. Lihatlah daerah bencana itu. Mulanya ia bagaikan surga dunia, bagaikan daerah yang tak mengenal malam hari

 Semua warga yang tinggal di sana tidak pernah memperkirakan hari esok. Akan tetapi, mereka sangat berharap bahwa pada hari esok, mereka dapat terus bermimpi indah, dapat terus bersenang-senang, membuat janji dengan orang lain, serta menjalankan bisnis besar. Setiap orang memiliki keinginan berbeda-beda. Mereka memiliki mimpi dan rencana masing-masing. Siapa yang mengira ketidakkekalan datang seketika? Ketidakkekalan adalah bagian dari kebenaran. Siapa yang menyadari kebenaran ini? Saya sering mengatakan apakah ketidakkekalan ataukah hari esok yang tiba lebih dahulu tiada orang yang tahu. Akan tetapi, ini adalah kebenaran. Begitu ketidakkekalan tiba, entah berapa orang harus terkena dampak bencana. Para korban bencana ini memiliki harapan masing-masing, tetapi tidak memiliki misi

 Mereka hanya terus mengejar kesenangan untuk memenuhi nafsu awam mereka. Kehidupan seperti ini sungguh penuh kontradiksi dan penuh ketersesatan. Orang yang benar-benar sadar dan mencari kebenaran tidaklah seberapa. Akan tetapi, saat ketidakkekalan datang, manusia bisa kehilangan segalanya. Keluarga pun tercerai-berai. Mereka harus tinggal berdesakan di pengungsian

 Dalam kondisi seperti itu, siapa lagi yang mementingkan harga diri? Siapa lagi yang masih bisa memikirkan kenyamanan pribadi? Satu ruangan yang sangat besar harus menampung ribuan orang. Jadi, kita harus berusaha untuk menyatu dengan kebenaran ajaran Buddha. Buddha memberi tahu kita tentang ketidakkekalan dan kehidupan yang senantiasa berubah. Di dunia ini tiada seorang pun yang tidak mengalami perubahan. Itu tidak mungkin. Jadi, berhubung dunia tidak kekal dan banyak orang terus hidup dalam ketersesatan, maka saat bencana yang menggemparkan terjadi, kita harus segera sadar dan mengambil hikmah darinya. Kesadaran itu jangan hanya seketika, karena kita sering mendengar ajaran Buddha. Buddha mengajar kita agar kita tahu segala sesuatu di dunia ini tidak luput dari ketidakkekalan

 Kehidupan manusia yang penuh nafsu bagaikan gelembung air yang hilang dengan cepat. Setiap orang hendaknya dapat memahami ajaran yang dibabarkan Buddha. Kita harus dapat bersungguh hati dan harus bertekad untuk melatih diri. Meski bencana terjadi di tempat yang jauh, yakni di New Orleans, kita harus tetap meningkatkan kesadaran. Terlebih lagi, dalam misi Tzu Chi banyak relawan yang merupakan Bodhisattva hidup di dunia. Di posko penampungan, mereka membimbing para warga yang terkena bencana. Mereka bersumbangsih dengan segenap hati dan tenaga. Kita juga melihat sebuah kisah. Ada sebuah keluarga di New Orleans yang tinggal bersama tiga generasi. Mereka sangat bahagia, tetapi kondisi berubah saat bencana datang

 Sang ibu memiliki riwayat diabetes dan tekanan darah tinggi. Dia tidak leluasa bergerak. Saat banjir datang, meski ada perahu penyelamat, namun dia terpisah dengan anak dan cucunya. Selama berhari-hari, satu-satunya harapan ibu ini adalah kembali melihat anak dan cucunya. Lewat bantuan Palang Merah, dia akhirnya kembali bertemu anak dan cucunya. Akan tetapi, tak lama setelah bertemu kembali, mereka harus berpisah lagi, karena sang anak sudah kelelahan selama berhari-hari hingga terserang penyakit. Saat bertemu dengan ibunya, dia sudah terserang radang paru-paru

 Dia berpesan kepada relawan untuk menjaga ibunya, kemudian segera dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit mana dia dirawat, informasi yang ada juga kurang jelas. Sang ibu tua ini harus menjaga dua orang cucunya. Cucunya yang masih kecil harus ikut tinggal di penampungan. Setiap hari sang ibu ini menangis dan terus menanyakan keberadaan anaknya. Batinnya sungguh sangat tersiksa. Relawan kita terbagi ke dalam kelompok

 Salah satu kelompok bertugas di rumah sakit. Saat relawan memberi perhatian di rumah sakit, dia menemukan seorang pria paruh baya. Begitu melihat relawan kita, pria ini langsung berkata, “Saya masih punya seorang ibu dan anak yang masih kecil.” “Mereka sekarang ada di satu posko penampungan.” “Entah bagaimana keadaan mereka sekarang.” Saat itu, relawan kita mulai mencari data bagaikan mencari jarum di tengah lautan

 Relawan kita pun menghubungi bagian amal dan menginformasikan bahwa di posko penampungan ada seorang lansia yang anaknya dirawat di rumah sakit. Relawan ingin membantu, tetapi posko penampungan ini sangat luas dan penuh dengan tempat tidur yang berjajar. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah lautan manusia. Ke mana dia harus mencari nenek yang bernama Helen itu? Beruntung, nenek itu memiliki tanda istimewa, yakni tubuhnya agak gemuk dan duduk di kursi roda. Akhirnya, para relawan mulai berusaha mencari dengan mata yang tajam dan terang. Ditemukanlah seorang nenek yang cukup gemuk sedang duduk di kursi roda sambil menangis. Tangannya memegang dua helai celana yang sedang dia guntingi dengan gunting kecil

 Dia sedang menangis. Para relawan Tzu Chi mendekati nenek itu. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah Nenek bernama Helen?” Nenek itu mendongak dan berkata, “Di tengah banyak orang seperti ini, akhirnya ada yang tahu nama saya.” Dia terkejut sekaligus senang. Relawan pun mulai berbincang dengannya. Nenek itu berkata, “Sekarang saya tak punya apa-apa lagi.” “Akan tetapi, tak apa-apa, sekarang saya hanya ingin melihat anak saya

” “Paling tidak izinkan saya mendengar suaranya.” Relawan kita berkata pada nenek ini, “Anakmu sekarang ada  di rumah sakit, dia baik-baik saja.” Nenek ini berkata, “Saya tak bisa melihatnya, tetapi biarkan saya mendengar suaranya.” Insan Tzu Chi segera mencobauntuk  menelepon pihak rumah sakit agar nenek itu dapat mendengar suara anaknya. Akan tetapi, setelah tiga jam mencoba, telepon tak kunjung tersambung. Insan Tzu Chi lalu bergerak untuk terus menghibur sang nenek dengan mengajaknya berbincang atau bernyanyi. Kedua cucunya sangat kasihan. Tiada yang membantu mengganti popok mereka sehingga tubuh mereka basah semua

 Di sana insan Tzu Chi merawat kedua anak tadi dan membantu mereka mengganti pakaian dan popok. Nenek tadi mengguntingi dua helai celana. Untuk apa? Berhubung tubuhnya sangat gemuk, maka celana yang diberikan tak dapat dia kenakan. Karena itu, dengan sebuah gunting dia membuka jahitan dua celana itu agar dapat dijadikan satu celana yang besar. Dapat kalian bayangkan kondisinya. Dua helai celana ingin dijadikan satu

 Apa jadinya? Insan Tzu Chi sangat perhatian. Mereka segera mencari gunting dan membantu sang nenek membuat dua celana tadi menjadi satu helai celana. Bayangkan, kondisinya sangat memprihatinkan. Akhirnya, bisakah dia berbicara dengan anaknya? Bisa. Setelah tiga jam lebih insan Tzu Chi menemaninya, sang nenek merasa lebih gembira dan telepon pun tersambung. Sang nenek dapat mendengar suara anaknya. Anaknya berkata kepadanya, “Saya sudah lebih baik, Ibu tenang saja.” Nenek itu menjawab, “Saya belum melihatmu keluar dari rumah sakit, bagaimana bisa tenang?” Demikianlah hati seorang ibu

 Di tengah kondisi sulit seperti itu, meski tak memiliki tempat tinggal dan kehilangan segalanya, tidak masalah baginya asalkan dapat melihat anaknya kembali. Lihatlah, tali kasih antara ibu dan anak begitu erat. Sesungguhnya, apakah tali kasih seperti itu dapat bertahan abadi? Tidak juga. segala sesuatu di dunia tidak ada yang dapat bertahan abadi kecuali tekad melatih diri. Ini dapat tercapai jika kita sungguh-sungguh menyelami kebenaran. Ajaran Buddha bagi kita adalah kebenaran. Meski sederhana, yakni tentang ketidakkekalan dan kepalsuan segala sesuatu, namun jika kita dapat memegang teguh kebenaran yang sederhana ini, mempertahankan kebajikan, dan selalu berjalan di jalan ini, maka dengan pikiran yang baik, kita akan dapat menyelami kebenaran ini

 Dengan begitu, setelah bertekad dan menjalankan praktik sesuai tekad, kita akan dapat memahami kebenaran tertinggi. Saudara sekalian, lihatlah, di dunia ini, segala sesuatu sama-sama tidak kekal. Apakah yang abadi? Kebencian apa lagi yang perlu kita simpan? Kita harus mengembangkan kemurnian anak kecil. Hati yang murni seperti anak kecil adalah kondisi tertinggi dalam pelatihan diri

 Kita hendaknya menganggap setiap orang adalah Buddha dan lebih tua dari kita. Hal positif yang orang lain ajarkan hendaknya kita kita teladani. Kebenaran yang Buddha ajarkan pada kita harus senantiasa ada dalam hati kita. Segala cara hidup yang orang lain ajarkan kepada kita, baik cara menghadapi orang maupun masalah, hendaknya kita terima dengan rendah hati

 Inilah kediaman kemurnian anak kecil. Mengenai sepuluh tubuh Buddha, nanti kita akan membahasnya lebih lanjut

 Jika kita memiliki kemurnian anak kecil, yakni berpikiran polos dan sederhana, maka dengan sendirinya sepuluh tubuh Buddha akan tercapai secara sempurna dalam seketika. Tentu, ini membutuhkan kesungguhan hati kita. Jadi, kemurnian anak kecil sangat mulia. Kita semua harus kembali pada kemurnian itu, yakni pikiran yang polos dan sederhana. Untuk itu, semua harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment