Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 149 – Sepuluh Tubuh Buddha – Bagian 5

Saudara se-Dharma sekalian, kondisi di sekitar saat ini sangat tenang dan hening, hati kita juga bebas dari hambatan Inilah saat pelatihan diri yang terbaik. Saudara sekalian, kita harus menggenggam waktu dengan baik karena sangat sulit terlahir sebagai manusia, sangat sulit untuk memperoleh ketenangan seperti sekarang. Karena itu, kita harus memanfaatkannya dengan baik

 Kita sudah pernah membahas bahwa banyak cara untuk melatih diri. Hanya membahas kemurnian anak kecil saja, kita sudah dapat menjelaskan kebenaran tentang alam semesta. Segala sesuatu yang berwujud yang kita lihat semuanya mengandung Dharma dan bisa membangkitkan kesadaran kita. Kita sudah mengulas tentang tubuh Tathagata

 Kita semua memiliki tubuh Tathagata karena setiap orang memiliki hakikat murni yang setara dengan Buddha. Asalkan batin kita tidak ternoda, asalkan kita mempertahankan sifat hakiki yang murni ini, kita bisa datang kembali ke dunia ini dengan membawa kebenaran. Kita harus menghargai segala sesuatu dengan baik. Saya sering mengulas tentang waktu, ruang, dan hubungan antarsesama. Kita harus memafaatkan setiap waktu dengan baik untuk melatih diri. Setiap saat merupakan waktu baik Begitu pula dengan ruang. Tak peduli di mana pun berada, kita juga harus memandang kondisi sekitar dengan semangat pelatihan diri

 Ruang juga merupakan sarana pelatihan diri yang baik. Tempat pelatihan diri yang lebih baik adalah di tengah masyarakat. Lewat interaksi antarsesama di tengah masyarakat, kita bisa melihat banyak fenomena di dunia. Jadi, dengan mengembangkan hakikat murni seperti Buddha dalam setiap waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia, kita bisa mencapai pencerahan. Kondisi hati ini bagaikan sebidang cermin yang bersih yang bisa memantulkan segala sesuatu di dunia dengan jelas. Segala hal terpantul lewat cermin ini Dengan sangat jelas sehingga kita tak akan berjalan menyimpang. Inilah yang disebut tubuh Tathagata yang berarti datang mencapai pencerahan lewat jalan kebenaran

 Dengan demikian, kita akan memiliki “tubuh kebijaksanaan”. Kebijaksanaan ini pada dasarnya sangat sempurna. Ia bagaikan sebidang cermin besar yang bisa memantulkan segala sesuatu dengan jelas, tetapi tiada sesuatu pun yang bisa mengotorinya. Di dunia ini, tiada satu hal pun yang bisa mencemari hakikat murni kita. Kondisi batin inilah yang disebut kebijaksanaan yang sempurna. Tak peduli serumit apa pun kondisi di dunia, kita tetap bisa menyelesaikannya dengan baik. Kita tidak akan memiliki keraguan, tidak akan memiliki kecurigaan

 Ini sudah pernah kita bahas sebelumnya. Yang kesembilan adalah tubuh Dharma. Artinya adalah realisasi segala kebenaran tanpa celah. Inilah yang disebut tubuh Dharma. Dharma merupakan sebuah bukti bagi para praktisi. Tanpa celah berarti bebas dari noda batin

 Jika bisa memiliki kebijaksanaan tanpa celah, artinya kita tak tercemar oleh noda batin. Ini disebut tanpa celah. Dengan demikian, kita bisa memahami segala sesuatu di alam semesta. Pada dasarnya, hakikat kita adalah murni. Bagaimana pun, hakikat ini tak pernah berubah. Tanpa noda batin, kita dapat memahami seluruh kebenaran alam semesta

 Inilah tubuh Dharma. Buddha membabarkan Dharma bagi kita, dan semua Dharma itu bersumber pada satu kebenaran. Kebenaran ini tidak ternoda. Inilah Dharma yang dibabarkan Buddha. Jadi, jika kita dapat memahami dan menyadarinya, maka segala sesuatu di alam semesta tiada yang tidak mengandung Dharma yang dapat kita pelajari dan dapat menginspirasi kita

 Tiada yang perlu dirisaukan. Contohnya, di dalam Kitab Jataka dikisahkan berbagai kehidupan lampau Buddha. Di sana dikisahkan beragam cerita agar manusia bisa memahami kebenaran. Salah satu kisah di antaranya menceritakan tentang sebuah negara pada zaman dahulu. Raja negara itu sangat jujur, adil, dan tidak mementingkan diri sendiri. Dia memimpin negara dengan baik

 Negara tersebut sangat damai dan harmonis, tetapi dia tak pernah keluar untuk melihat bagaimana kehidupan rakyatnya. Suatu hari, perdana menteri memberi saran kepada raja itu, “Yang Mulia, Yang Mulia begitu sungguh-sungguh memimpin negara ini.” “Yang Mulia berharap semua rakyat kita bisa hidup sejahtera, aman, dan tenteram.” “Akan tetapi, Yang Mulia tak pernah keluar untuk melihat sendiri

” “Saya menyarankan Yang Mulia untuk melihat kehidupan di luar.” Raja itu berpikir saran perdana menteri sangat masuk akal. “Bagaimana sesungguhnya kehidupan rakyat saya?” Jadi, sang raja menyetujui saran perdana menteri. “Baik, bersiaplah besok.” “Besok saya akan keluar melihat-lihat

” Keesokan harinya, rombongan raja diarak keluar untuk melihat kehidupan rakyat di tengah kota. Kehidupan rakyat begitu makmur. Rumah setiap orang dibangun dengan begitu indah. Boleh dibilang bangunannya berlapis emas, bahkan dihiasi dengan kristal, atapnya berlapiskan emas dan perak. Sepulangnya ke istana, raja berpikir, “Kehidupan rakyat begitu baik, jika tidak dimanfaatkan, bukankah sia-sia?” raja berpikir seharusnya pertahanan kerajaan diperkuat karena seluruh rakyat sudah hidup makmur. Raja berpikir, “Suatu hari, bukankah mungkin kerajaan lain menyerang kita?” Jadi, raja memutuskan untuk memperkuat pertahanan kerajaan

 Raja pun mulai memerintahkan para orang kaya untuk menyetorkan harta mereka guna mengisi gudang kerajaan. Setelah gudang kerajaan penuh, raja bisa menambah persenjataan dan memperkuat pertahanan negara. Setelah perintah ini dikeluarkan, banyak saudagar atau pedagang yang sangat kaya raya merasa ketakutan. Akan tetapi, raja sudah mengeluarkan perintah agar semua orang mendaftarkan kekayaannya. Raja bebas menentukan berapa yang akan diambil. Saat itu, semua orang di kota merasa khawatir

 Di antaranya, ada seorang saudagar. Usahanya sangat besar. Dia adalah orang yang sangat kaya. Suatu hari, tiba gilirannya untuk melapor. Dia mendaftarkan seluruh kekayaannya, seperti emas, tanah, dll. Pertama-tama dia mengeluarkan satu catatan, lalu berkata kepada raja, “Yang Mulia, harta pribadi saya semua tercatat di sini, silakan Yang Mulia periksa

” Setelah raja melihatnya, ternyata jumlahnya hanya tiga puluh juta. Raja pun sangat marah. “Kamu sangat kaya raya, tetapi berani membohongi saya.” “Mana mungkin kamu hanya punya tiga puluh juta.” Saudagar ini menjawab, yang tercatat di sini adalah harta pribadi saya, yang benar-benar kepunyaan saya

” Raja lalu berkata, “Hartamu begitu banyak, apakah yang lain bukan punyamu?” Saudagar itu kembali menjawab, “Tiga puluh juta di sini adalah yang benar-benar bisa saya gunakan.” “Dengan uang ini, saya bisa melakukan yang saya inginkan.” “Saya bisa membantu kaum papa, bisa memberi persembahan kepada Tiga Permata, bisa membantu cendekiawan yang membutuhkan.” “Kehidupan mereka tidak begitu baik.” “Saya bisa memperbaiki kehidupan mereka agar mereka bisa belajar dan meneliti dengan baik

” “Inilah uang saya, bisa saya gunakan untuk membantu orang, berdana obat-obatan, memberi persembahan, maupun menyokong para cendekiawan untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan memperbaiki kondisi kehidupan mereka.” “Ini yang saya sebut uang saya, yang bebas saya gunakan.” Raja lalu bertanya, “Lalu sisanya?” “Sisanya adalah kepunyaan lima pihak.” “Meski disebut sebagai harta kekayaan saya, namun sesungguhnya itu adalah kepunyaan lima pihak.” Sang saudagar mengeluarkan catatan lain. Di dalamnya tercatat banyak harta

 Apa yang dimaksud lima pihak? Dia menjelaskan bahwa lima pihak adalah api, air, pencuri, pejabat atau pemerintah, dan keturunan. Raja pun bertanya-tanya, “Air, api, pencuri, pejabat atau pemerintah, dan keturunan?” “Mengapa hartamu disebut punya mereka?” Saudagar itu menjelaskan, “Segala sesuatu di dunia tidak kekal.” “Jika bencana banjir tiba-tiba datang, seluruh harta akan tersapu oleh air.” “Ladang dan rumah akan rusak seketika.” “Kalau kebakaran terjadi, semua harta benda bisa habis terbakar.” “Jadi, saat unsur tanah, air, api, dan angin tidak selaras, bencana alam akan terjadi

” “Harta sebanyak apa pun juga akan habis.” “Ini jika terjadi bencana alam.” “Selain itu, jika ada orang jahat, pencuri, atau perampok, mereka mungkin datang merampas harta kita.” “Kapan orang jahat seperti ini datang ke rumah kita, menakuti kita, dan merampas harta kita, kita tidak tahu.” “Berikutnya, seperti hari ini, Yang Mulia menginginkan agar orang-orang yang kaya raya mengeluarkan harta kekayaan mereka.” “Hari ini saya bertemu kondisi demikian, maka harta saya ini menjadi milik Yang Mulia

” kita tak tahu apakah anak cucu akan berbakti.” “Jika memiliki anak yang tidak berbakti, meski kita masih hidup, mereka mungkin menguras harta kita untuk bersenang-senang.” “Kita yang harus menanggung semuanya.” “Atau, setelah saya meninggal, saat harta ini diwariskan, entah anak saya akan menggunakannya untuk hal yang baik atau yang buruk

” “Harta tak bisa benar-benar diamankan.” “Ia adalah kepunyaan lima pihak, yakni air, api, termasuk bencana alam, lalu pencuri, perampok, dll., lalu pejabat pemerintah, lalu anak yang tidak berbakti

” “Baik saat saya masih hidup maupun sudah meninggal nanti, harta ini belum tentu dapat dipertahankan.” “Jadi, semua harta ini tak berani saya anggap milik saya.” “Semuanya adalah kepunyaan lima pihak.” “Tentu saja, hari ini, saya menyerahkan harta saya kepada Yang Mulia.” Setelah raja mendengarnya, raja merasa itu sangat masuk akal

 Di dunia ini, baik akibat bencana alam maupun ulah manusia atau karena pejabat yang menyimpang, dapat membawa pengaruh besar bagi rakyat. Agar suatu negara dapat damai, rakyatnya tentu harus hidup sejahtera. Ini benar. Jangan karena melihat kemakmuran, lalu timbul niat yang menyimpang untuk mengumpulkan harta kekayaan itu guna membangun persenjataan. Ini sudah keliru. Mendengar penjelasan dari sang saudagar tentang tidak kekalnya harta duniawi, sang raja berkata, “Saya belum pernah mendengar penjelasan bahwa harta duniawi tidaklah kekal

” Sang raja sangat berterima kasih kepada sang saudagar, kemudian berkata, “Sekarang saya paham, saya berterima kasih kepadamu.” “Bawalah kembali hartamu.” “Teruskan usahamu untuk membantu kaum papa yang membutuhkan, memberi persembahan pada Tiga Permata, dan menyokong para cendekiawan.” “Saya harus berterima kasih kepadamu yang telah berbuat banyak bagi negara.” “Berhubung harta memang kepunyaan lima pihak, maka kamu bawa saja kembali.” “Teruskanlah usahamu.” “Semoga dengan usahamu, harta pribadimu dapat bertambah sehingga membawa manfaat bagi masyarakat.” Saudagar ini pun sangat bersyukur karena sang raja akhirnya sadar

 Setelah sang saudagar pergi, raja pun segera membatalkan rencana pengumpulan harta kekayaan untuk gudang kerajaan. Beliau membuka kembali gudang kerajaan dan mengembalikan harta setiap orang. Dengan pemikiran sang saudagar, raja membimbing rakyatnya, “Kamu sudah punya banyak uang, usahamu berjalan lancar.” “Berhubung masih terus berusaha, maka penghasilanmu harus disisihkan untuk digunakan diri sendiri, yakni untuk membantu orang yang membutuhkan.” Ini sama seperti yang sering saya katakan bahwa saat sudah memiliki satu, manusia selalu merasa kurang sembilan. Jika saat memiliki sepuluh, kita dapat memberikan satu saja, maka kehidupan akan lebih indah

 Inilah pemikiran saudagar tadi. Misalnya, dia memiliki harta satu miliar. Dia rela memberikannya kepada raja. Lalu, dia menyimpan tiga puluh juta untuk dirinya. Kekayaannya satu miliar. Dapat kita hitung dia menggunakan berapa persen hartanya untuk bersumbangsih bagi masyarakat. Inilah cara untuk mengatur kekayaan

 Dalam hidup ini, jika selalu merasa kurang, kita akan sangat menderita. Jika diri kita terus menerus diliputi celah dan noda batin, bagaimana bisa memperoleh tubuh Dharma? Bagaimana ajaran Buddha yang murni dapat meresap ke dalam hati kita? Jadi, untuk memperoleh tubuh Dharma, kita harus menjaga kemurnian, seperti saudagar tadi. Dia memiliki banyak harta. Dia memilah hartanya sesuai kebutuhan. Dia mengalokasikan beberapa puluh persen untuk usaha dan beberapa persen untuk membantu orang. Dia sudah menyadari bahwa kekayaan adalah kepunyaan lima pihak. Jika sewaktu-waktu salah satu pihak itu datang merampas hartanya, dia juga tidak lagi merisaukannya. Inilah yang disebut tanpa celah, tidak bertambah ataupun berkurang

 Dalam hidup ini, adakah yang bertambah atau berkurang? Tidak ada. Inilah yang disebut tanpa celah. Jika kita semua dapat memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini pada dasarnya adalah semu dan kosong, maka apa lagi yang kita perhitungkan? Tanpa perhitungan, kita akan bebas dari kerisauan. Inilah kondisi tanpa celah. Jika memiliki harta, gunakanlah untuk membantu orang lain. Jika tidak punya, juga tidak perlu risau. Begitulah seharusnya kita menjalani hidup

 Inilah Dharma yang Buddha babarkan pada kita. Dharma dari Buddha ini selamanya ada di dunia. Berikutnya adalah tubuh kekosongan. Kosong berarti tiada sesuatu pun, tidak bisa diukur seperti dunia materi biasa. Artinya, tak ada batas negara atau sejenisnya. Tidak ada juga wujud yang bisa diukur

 Intinya, ia tak berwujud dan tak dapat diukur. Inilah kekosongan. Ia bebas dari nama dan rupa. Kekosongan ini berlaku universal. Jadi, berhubung semuanya adalah kosong, maka segala fenomena pun pada dasarnya adalah kosong. Jika manusia dapat memahami kekosongan ini, maka batinnya akan bebas dari kemelekatan. Tanpa kemelekatan, kita akan bebas dari ketakutan, dan dengan sendirinya akan bebas dari kekeliruan

 Manusia cenderung tidak bisa memahami kekosongan ini. Segala sesuatu jika kita perhatikan merupakan perpaduan dari berbagai unsur. Jika suatu barang komponennya kita uraikan satu per satu, maka pada akhirnya apa yang tersisa? Saya duduk di sini, kalian duduk di sana. Warna baju kalian, warna baju saya, penampilan luar kalian, penampilan luar saya, semuanya tidak sama. Begitu banyak yang kita lihat tidak sama. Dari begitu banyak barang, sesungguhnya memiliki warna awal yang sama. Apakah warna awal itu? Warna putih juga bukan warna awal

 Barang bisa menjadi putih karena diberi warna. Barang bisa menjadi putih karena diberi warna, menjadi warna coklat juga karena diberi warna coklat. juga karena diberi warna coklat. Warna coklat sendiri adalah perpaduan warna-warna lain. Jika diuraikan satu demi satu, semuanya akan kembali pada nol. Jadi, satu barang dapat diurai hingga nol; dari nol pun bisa terbentuk suatu barang

 Inilah Dharma duniawi. Di dunia fana ini, tiada sesuatu pun. Misalnya, sebuah meja awalnya bukan disebut meja. Awalnya ia adalah kayu. Kayu juga terbagi banyak jenis. Dari mana kayu berasal? Dari pohon yang tumbuh dari dalam tanah baik di pegunungan maupun dataran rendah

 Mengenai kayu, mengapa bisa ada kayu? Awalnya kayu juga tidak disebut kayu, ia berasal dari pohon. Awalnya, kayu itu disebut pohon. Pohon juga memiliki banyak istilah. Ada berbagai jenis pohon yang berbeda-beda. Contohnya, pohon cemara dan pohon jati juga berbeda. Pohon-pohon itu dapat tumbuh di dalam tanah karena berawal dari benih

 Dengan adanya benih, tanah, cahaya matahari, dan berbagai faktor pendukung lainnya, barulah pohon itu dapat tumbuh. Pohon pun bisa membentuk banyak benda. Benda-benda itu memiliki wujud yang beragam. Jadi, jika benda-benda yang berwujud itu diuraikan sedikit demi sedikit, maka semua akan kembali pada kekosongan. Jika kita dapat memahami kebenaran ini, maka saya percaya di dunia ini tiada hal yang patut dijadikan bahan pertikaian. 00:29:42:09 Tujuan mempelajari ajaran Buddha tak lain adalah memahami kebenaran

 Dengan begitu, kebijaksanaan kita baru bisa berkembang, dan kita tak akan terus terbelenggu noda batin yang membawa penderitaan. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

 

Leave A Comment