Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 148 – Sepuluh Tubuh Buddha Bagian 4

Saudara se-Dharma sekalian, kondisi pagi ini sepertinya sama dengan kemarin. Kita tahu bahwa di luar sedang turun hujan. Suara rintikan air hujan masuk ke dalam telinga kita, membuat kita merasakan kesejukan. Saat turun hujan adalah saat-saat yang menenangkan. Ini yang kita rasakan. Kita telah membahas bahwa Pratyekabuddha tercerahkan setelah mengamati perubahan cuaca, perubahan empat musim, serta terus berlalunya waktu. Mereka berlatih dengan memanfaatkan kondisi luar. Inilah Pratyekabuddha. Mereka menyadari ketidakkekalan. Berikutnya adalah tubuh Bodhisattva

 Bodhisattva berarti makhluk yang sadar. Pratyekabuddha yang kita bahas di awal mengamati segala sesuatu di dunia, seperti perubahan iklim, lahir dan matinya makhluk hidup, sehingga memahami ketidakkekalan. Hidup yang tidak kekal penuh penderitaan. Berhubung segala sesuatu tidak kekal, yang dirasa adalah kosong. Derita muncul akibat keinginan yang tak terpenuhi, namun pada dasarnya semua adalah kosong. Jika tak dapat menyadari ini, pasti akan menderita

 Sebaliknya, orang yang sadar tahu bahwa semua itu adalah lumrah. Jika cuaca dan iklim saja bisa berubah, apalagi kehidupan manusia. Jadi, kita harus tahu bahwa semua ini tak lepas dari hukum alam. Jadi, kita harus memiliki kesadaran. Orang yang sadar akan dapat terbebas dari penderitaan

 Ketidakkekalan memang sudah ada. Jika dapat menyadari bahwa ketidakkekalan ini adalah hukum yang alamiah, maka manusia akan dapat terbebas dari derita. Jika sebaliknya, dia akan terus tenggelam dalam penderitaan. Misalnya, dahulu kita punya sesuatu, tetapi kini tidak lagi, lalu kita ingin memilikinya lagi di masa depan. Kehidupan seperti ini tentu menderita

 Jadi, kita harus melampauinya. Mengetahui dan sadar akan hukum alam, Bodhisattva harus terjun ke tengah masyarakat, menyatu dengan semua makhluk dalam kebenaran itu. Mereka hidup di tengah-tengah masyarakat. Mereka juga pernah memiliki segalanya, juga bisa kehilangan segalanya. Saat memiliki, mereka mengerti untuk bersumbangsih. Mereka pun tak menderita saat kehilangan

 Batin mereka tak terbelenggu penderitaan hanya karena memperoleh atau kehilangan. Inilah makhluk yang sadar. Jadi, kita harus meneladani Bodhisattva. Pratyekabuddha tercerahkan tanpa ada yang membimbing. Dia hanya mengamati fenomena alam semesta dan merenungkannya di dalam batin

 Ini tentu juga harus kita teladani. Akan tetapi, kita tak boleh mengasingkan diri. Kita harus meneladani Bodhisattva yang terjun ke tengah masyarakat. Kita telah membahas semua ini. Berikutnya adalah tubuh Tathagata. Arti dari Tathagata adalah datang mencapai pencerahan lewat jalan kebenaran. Inilah Tathagata

 Kita sering membahas bahwa Buddha hadir lebih dari 2.000 tahun lalu. Beliau lahir di India. Hingga kini, lebih dari 2.500 tahun telah berlalu dari zaman itu. Lalu apakah Buddha sudah benar-benar tidak ada di dunia? Tidak benar. Kini yang kita pelajari masih ajaran Buddha Sakyamuni, berarti Buddha masih ada di dunia. Ajaran-Nya masih terjaga

 Dari segi tubuh, Beliau masih terus datang ke Dunia Saha sesuai tekad-Nya. Setiap kali datang ke dunia, Beliau tak pernah lepas dari kebenaran. Beliau selalu membawa kebenaran saat datang ke tengah-tengah manusia. Beliau selalu membabarkan Dharma dan memberi bimbingan lewat teladan nyata. Inilah Tathagata, yang mencapai pencerahan lewat jalan kebenaran. Datang ke dunia, selain menunjukkan wujud melatih diri, Beliau juga membimbing orang banyak. Karena itu, kita mengenal istilah “membimbing dalam kebersamaan”, yakni bagaimana kita membimbing orang dengan tutur kata penuh cinta kasih serta menginspirasi dan memengaruhi orang lain

 Dengan demikian, kita berlatih sekaligus membimbing orang lain. Jadi, yang datang dengan kebenaran, inilah Tathagata, tubuh Dharma Tathagata. Dharma adalah ajaran kebenaran tertinggi. Beberapa hari ini kita terus membahas ketulusan yang tidak mendua. Inilah kedemikianan. Kita harus memiliki kesungguhan dan ketulusan hati untuk menerapkan kebenaran Buddha di dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus menyelami dan memahaminya

 Jadi, Tathagata adalah hakikat kebenaran murni yang pada dasarnya telah kita miliki. Jika kita dapat membangkitkan kebenaran hakiki yang murni ini dan berlatih di tengah masyarakat, maka sesungguhnya kalian semua yang hadir di sini telah menyatu dengan Tathagata. Jika kita dapat mendengar Dharma dan menerapkannya dalam keseharian, maka kita telah berada dalam jalan Buddha. Jika kita melakukan praktik nyata di tengah masyarakat, memperoleh kesadaran, dan kembali membimbing orang lain, maka inilah yang disebut pencerahan. Inilah kebenaran yang harus kita anut di dalam mempelajari ajaran Buddha. Jadi, yang dimaksud tubuh Tathagata bukanlah tubuh Buddha Sakyamuni yang hadir lebih dari 2.500 tahun lalu

 Yang kita tekankan adalah semangat-Nya untuk kita terapkan pada masa kini, dalam kehidupan saya dan Anda. Semangat dan perbuatan kita harus sejalan dengan jalan kebenaran. Inilah tubuh Tathagata. Kedelapan adalah tubuh kebijaksanaan, artinya memiliki kebijaksanaan yang sempurna dan mampu memahami segala Dharma. Inilah tubuh kebijaksanaan. Saudara sekalian, kita memiliki hakikat murni yang sama dengan Buddha. Kebijaksanaan pada dasarnya pasti sempurna

 Jadi, jika jalan kebenaran Buddha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kebijaksanaan  akan menyertai keseharian kita. Dalam menghadapi orang dan masalah, kita dapat menggunakan kebijaksanaan sehingga dapat menyelesaikan segala hal dengan sempurna. Jadi, dengan kebijaksanaan sempurna, kita dapat memahami segala Dharma. Dharma mencakup Dharma duniawi dan Dharma nonduniawi. Dharma duniawi tak lepas dari kehidupan sehari-hari, tak lepas dari manusia, hal, dan segala sesuatu. Inilah Dharma duniawi. Dharma nonduniawi berisi tentang jalan pembebasan

 Apa yang terbebas? Di dunia ini, ada banyak hubungan antarmanusia. Contohnya, hubungan keluarga. Orang yang kita kasihi pasti tak luput dari fase lahir, tua, sakit, dan mati. Kita lihat, dari masalah ini saja, bagaimana kita dapat terbebas? Orang yang kita kasihi terus bertambah tua. Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik mulai melemah, mungkin juga didera penyakit. Jika terserang penyakit, menderitakah orang yang kita kasihi ini? Jika sakit, selain harus dirawat, masih ada satu kekhawatiran, yakni ajal bisa saja menjemput sewaktu-waktu. Menderitakah? Tentu menderita

 Bagaimana terbebas dari penderitaan ini? Kita harus menggunakan ajaran kebenaran. Alangkah baiknya jika kita memahami hukum kehidupan— bagaimana kita bisa lahir di dunia, bagaimana kita bisa bertemu orang di sekitar, berkumpul saat jalinan jodoh matang, berpisah saat jalinan jodoh berakhir. Alangkah baiknya jika kita memahami kebenaran ini, terutama tentang bekerjanya hukum alam. Lihatlah, waktu dan hari terus berjalan. Tahun dan bulan terus berganti. Usia manusia terus menua tahun demi tahun. Fungsi tubuh pun semakin melemah

 Mungkinkah manusia tidak mengalami kematian? Semua manusia pasti mati. Jika kita memahami kebenaran ini, kita akan mampu mengikhlaskan. Ada sebuah keluarga yang membuat saya merasa tenang. Keluarga ini mengantarkan orang terkasihnya untuk menjadi Silent Mentor. Mereka adalah keluarga Tzu Chi. Sang ayah adalah anggota Tzu Cheng dan komite. Sang ibu juga anggota komite. Putra-putrinya sangat setuju dengan Tzu Chi

 Relawan ini tinggal di Zhanghua dan telah lama menderita kanker nasofaring. Suatu kali, saat berkunjung Dalin, saya melihatnya. Saya berkata kepadanya, “Kita harus ingat, kita tentu harus menyayangi tubuh kita.” “Jika sakit, kita harus mengikuti saran dokter.” “Ini juga merupakan sesuatu yang alamiah dan sesuai dengan hukum alam.” “Jika sakit, tentu harus berobat.” “Jika memang sudah saatnya ajal menjemput, kita juga harus berlapang dada dan menerimanya dengan damai.” “Mengerti?” “Mengerti,” jawabnya. Dia masih selalu tersenyum

 Saat ajal menjemputnya sesuai hukum alam, dia pun meninggal dengan tenang. Harapannya adalah bersumbangsih selagi sehat dan mendonorkan tubuh setelah meninggal. Karena itu, keluarganya mengantarkan jenazahnya dari Zhanghua ke Hualien. Istrinya ikut serta, anak-anak dan menantunya pun demikian. Mereka kembali ke Hualien dan tiba sebelum matahari terbit. Setelah mengurus semuanya, mereka sekeluarga kembali ke Griya Jing Si. Sebelum saya keluar, mereka menemui saya

 Mereka terlihat sangat tenang. Tidak ada kesedihan mendalam di wajah mereka. Tidak ada rasa kehilangan yang berlebihan. Mereka terlihat tenang. Meski tetap merasa kehilangan, tetapi dari raut wajah mereka tampak ketenangan dan doa yang tulus. Saat itu, putrinya berkata pada saya, “Kakek Guru, saya harus berterima kasih pada Kakek Guru.” “Ada apa,” tanya saya

 Dia menjawab, “Sebelum bergabung dengan Tzu Chi, Ayah bertemperamen buruk, tetapi setelah bergabung dengan Tzu Chi, dia berubah seratus delapan puluh derajat.” “Bertahun-tahun dia menjadi ayah yang baik, membuat keluarga kami harmonis.” “Dahulu ayah saya tak pernah mendengarkan nasihat orang, tetapi dia mendengar nasihat Kakek Guru sehingga dia bisa berubah dan membuat keluarga kami harmonis.” “Jadi, saya ingin berterima kasih kepada Kakek Guru.” “Terlebih lagi, Ayah meninggal dengan tenang, kami sekeluarga pun merasa tenang, maka kami memenuhi harapan terakhirnya dan mengantarnya ke Hualien.” Mendengarnya, saya juga merasa tenang

 Yang terpenting dalam kehidupan manusia adalah menjelang detik-detik terakhir. Segala sikap perhitungan dalam hubungan dengan orang lain akan menjadi kebiasaan yang terbawa hingga ke kehidupan mendatang. Setelah mengetahui prinsip kebenaran, kita harus segera memperbaiki diri. Setelah memperbaiki diri, kita akan berkebiasaan baik, temperamen pun menjadi baik. Dalam menghadapi orang dan masalah, contohnya dalam keluarga, jika kita dapat selalu ramah, maka dapat dipastikan bahwa kita akan lebih ramah di luar. Banyak orang berkata, “Aneh, terhadap orang di luar begitu baik, tetapi di rumah sangat kasar.” Jadi, terhadap anggota keluarga di rumah, untuk bersikap hangat dan ramah lebih sulit

 Akan tetapi, relawan ini bisa membuat anak dan istrinya di rumah memuji bahwa dirinya telah berubah menjadi lebih baik dan ramah. Ini membuktikan bahwa setelah bergabung dengan Tzu Chi, dia benar-benar berubah menjadi orang baik. Jadi, kita tahu bahwa dia sudah mengubah tabiat buruknya. Dengan begitu, dia akan membawa kebiasaan baik ke kehidupan mendatang. Inilah yang paling membuat saya tenang. Bukankah saya sering mengatakan bahwa manusia berbeda-beda tabiatnya

 Sesungguhnya, bukan hanya wajah yang berbeda-beda, tabiat pun demikian. Sesungguhnya sifat hakiki kita semua sama, hanya saja tabiat semua orang berbeda-beda. Setelah dilahirkan, kita menerima pengaruh lingkungan. Dengan begitu, tabiat kita semakin buruk dan ketamakan kita semakin besar. Dalam menghadapi masalah, kita semakin egois

 Semua ini akan terbawa hingga kehidupan mendatang. Tabiat buruk ini akan semakin tebal. Dalam melatih diri, kita harus membersihkan tabiat buruk dan kegelapan batin yang telah mengotori batin kita. Artinya, kita harus berusaha perlahan-lahan membuang kebiasaan buruk. Kapan tabiat itu berubah? Keluarga di rumah melihat paling jelas. Jika keluarga tidak merasakan perubahan, berarti tabiat buruknya masih ada. Jika baik terhadap orang luar, tetapi tidak baik terhadap orang di rumah, berarti tabiat buruknya  belum seluruhnya berubah

 Jadi, mendengar kisah relawan tadi, dia begitu dihormati oleh keluarganya. Keluarganya sangat bersyukur. Ini karena dia sudah benar-benar berubah. Dengan memiliki kebiasaan baik, kita tahu bahwa saat terlahir kembali nanti, dia akan membawa kebiasaan baik ini. Kelak, dia akan membawa keharmonisan. Kita harus mengetahui semua ini. Inilah kebijaksanaan

 Kita harus berubah, memperbaiki kebiasaan yang buruk. Dalam mengerjakan suatu hal, setiap orang memiliki sudut pandang berbeda. Setiap orang memiliki pandangan sendiri. Kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk meredam semua perbedaan ini sehingga hal tersebut selesai sesuai kebenaran. Untuk itu, kita harus memupuk kebiasaan baik yang sesuai prinsip kebenaran. dalam mempelajari ajaran Buddha, satu-satunya yang dipelajari adalah kebenaran hidup

 Kita harus mengubah tabiat buruk. Jika tidak memperbaiki diri saat terlahir sebagai manusia, maka tak ada kesempatan lagi di alam lain. Jadi, jika kita tak mencerahkan diri pada kehidupan ini, kapan kita baru akan mencerahkan diri ini? Jadi, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan saat ini. Dengan begitu, kita baru bisa menyelami kebenaran dan tersadarkan. Kebijaksanaan baru bisa berkembang di tengah masyarakat. kita harus menggunakan kebijaksanaan cemerlang untuk membuat keputusan. Jika masalah selesai dengan harmonis dan sempurna, berarti kita telah sejalan dengan kebenaran. Jika sejalan dengan kebenaran, berarti kebijaksanaan kita telah sempurna

 Jadi, kita semua harus selalu bersungguh hati. Dalam Sutra Empat Puluh Dua Bagian, Buddha mengatakan, Buddha sering mengingatkan kita bahwa kita harus melepaskan kemelekatan dan nafsu. Akibat adanya kemelekatan ini, manusia terpengaruh oleh tabiat buruk. Untuk menyucikan batin kita, pertama kita harus mengikis kemelekatan. Kemelekatan berkaitan dengan pandangan pribadi. Kita melekat pada pandangan pribadi. Jika mencintai sesuatu, manusia selalu ingin menguasainya. Sesuatu apakah di dunia ini yang patut kita lekati? Tidak ada

 Jadi, kita harus melepaskan kemelekatan dan nafsu. Segala sesuatu di luar diri saja harus direlakan, apalagi tubuh ini. Tubuh ini juga harus direlakan. Kita harus bertekad untuk mengulurkan kebijaksanaan kita serta tenaga kita demi segala pencapaian yang baik. Ini juga berhubungan dengan kemelekatan dan nafsu. Jika kita takut akan kesulitan, takut menderita, dan sebagainya, ini berarti kita masih melekat. Jadi, jika kemelekatan ini berakhir, kita akan melihat kebenaran

 Dengan begitu kita benar-benar melihat kebenaran dari kedemikianan. Apa yang disebut tubuh Tathagata? Kedemikianan, yakni ketulusan yang tidak mendua. Berhubung telah bertekad melatih diri, kita harus menapaki jalan kebenaran ini dengan tulus tanpa mendua. Apa yang dimaksud kebijaksanaan sempurna? Artinya, segala hal duniawi tidak ada yang bisa merintangi kita. Kita tidak memiliki kemelekatan baik pada materi maupun orang yang dikasihi. Cinta yang sesungguhnya berarti membimbing orang yang dikasihi untuk menapaki jalan yang sama dengan kita agar mereka juga dapat mengubah tabiat buruk. Inilah cinta yang sesungguhnya

 Berhubung dalam kehidupan ini kita berjodoh dengan orang itu, maka kita berharap dia dapat melenyapkan kegelapan batin dan tabiat buruknya sehingga terlahir kembali dengan kebijaksanaan. Inilah cinta sejati. Jadi, Saudara sekalian, dalam mencintai, kita harus sejalan dengan kebenaran. Jalan ini adalah jalan yang lapang dan lurus. Ini adalah kebenaran. Kita tak perlu berpikir rumit untuk mencari atau memohon kebenaran

 Sesungguhnya, kebenaran ada di hadapan kita. Kebenaran ada di telapak kaki kita. Kebenaran selalu di sisi kita. Kebenaran ada dalam ucapan kita. Kebenaran ada dalam keseharian kita

 asalkan pikiran kita sejalan dengan kebenaran, maka kita dapat melihat kebenaran di mana-mana. Jadi, semua harus bersungguh hati untuk mengembangkan kemurnian Buddha dan menyelami kebenaran tertinggi. dalam melihat segala sesuatu di dunia. Jadi, semua harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment