Sanubari Teduh – 147 – Sepuluh Tubuh Buddha – Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, suara hujan di luar terdengar sangat berisik, tetapi kita hendaknya selalu ingat untuk membangkitkan kesadaran. Ketahuilah bahwa dalam kehidupan ini tiada fenomena yang tetap. Suasana yang hening adalah fenomena, suara angin dan hujan juga adalah fenomena. Saat suasana sunyi dan hening berarti tidak turun hujan dan kondisi cuaca lumayan baik
Ini menandakan hari ini seharusnya adalah hari yang cerah. Jika pada pagi hari sudah terdengar suara angin kencang, kita tahu bahwa hari ini mungkin akan turun hujan. Ini juga merupakan fenomena. Jadi, kondisi iklim saja tidak tetap, apalagi segala sesuatu di alam semesta ini
Manusia dan segala sesuatu yang berwujud di alam semesta ini juga terus mengalami perubahan. Kita sudah mengulas tentang tubuh buah karma. Sebelumnya, kita sudah membahas tentang Jayvo dan Novemthree yang datang ke Taiwan untuk berobat. Meski berasal dari negara yang berbeda dan menderita penyakit yang berbeda, tetapi mereka sama-sama terlahir dengan membawa buah karma masing-masing. Akan tetapi, ada pula orang yang terlahir dengan membawa buah karma baik
Apakah kalian pernah mendengar saat seorang putri dari suatu negara mengandung, seluruh rakyat di negara itu bergembira dan mendoakannya? Saat dia masih berada di dalam kandungan, seluruh rakyat di negara itu sudah mendoakannya. Tak peduli di negara mana pun, asalkan bagian dari keluarga kerajaan, meski belum terlahir, pasti sudah menerima doa dari seluruh rakyatnya. Ada pula orang yang terlahir dalam keluarga pengusaha sukses yang kaya raya. Orang masa kini menyebutnya dengan istilah “terlahir dengan mengulum sendok emas”. Artinya, begitu terlahir sudah dipenuhi berkah. Orang seperti ini sangat disayangi oleh orang tua dan selalu dilindungi oleh keluarganya
Orang-orang seperti ini terlahir dengan membawa benih karma baik. Mereka dipenuhi berkah karena adanya jalinan jodoh baik. Mereka berjodoh dengan orang tua tertentu dan keluarga tertentu sehingga begitu terlahir sudah dipenuhi berkah. Ini disebut buah karma penopang. Buah karma penopang mengondisikan mereka terlahir di dalam keluarga yang baik. Inilah buah karma penopang yang baik. Ada pula orang yang terlahir dalam keluarga yang kurang baik karena membawa buah karma penopang buruk. Selain itu, ada pula buah karma langsung
Orang yang terlahir di dalam keluarga kaya belum tentu akan dipenuhi berkah selamanya. Belum tentu. Adakalanya, kondisi kesehatan dan pola pikir kita sendiri bisa membuat kita berubah. Segala kondisi luar bisa memengaruhi dan membuat kita berubah. Setiap orang membawa buah karma langsung dan buah karma penopang. Buah karma penopang mengondisikan kita terlahir di negara mana. Saat terjadi pergolakan di dalam masyarakat ditambah karma buruk mulai berbuah, maka meski buah karma baik belum habis dinikmati, ia juga akan terhenti. Jadi, buah karma penopang dan buah karma langsung adalah tubuh buah karma
Jadi, orang kurang mampu terlahir akibat jalinan jodoh penopangnya dengan orang tua tertentu serta buah karma langsungnya, sehingga dia lahir dengan membawa penyakit atau anggota tubuh yang kurang sempurna, lalu datang kepada Tzu Chi. Hari ini, saya ingin memberi tahu kalian bahwa berkah dari jalinan jodoh dengan orang tua kita tidak bisa diandalkan selamanya. Yang terbaik adalah buah karma langsung kita sendiri. Segala yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Dengan buah karma langsung yang baik, meski terlahir dalam keluarga kurang mampu dan tumbuh besar dengan susah payah, tetapi jika seseorang sangat berusaha keras dan memiliki batin yang sehat, sangat sungguh-sungguh dan bekerja keras, maka pada akhirnya dia juga dapat menjadi pengusaha yang sukses. Inilah yang disebut buah karma langsung. Karma baik ini dibawa dari kehidupan lampau
Jadi, meski terlahir di keluarga kekurangan, dia tetap bisa menjadi kaya. Karena itu, saya selalu berkata kepada kalian bahwa segala perilaku dan tutur kata kita dalam kehidupan sehari-hari harus sangat hati-hati. Kita harus lebih banyak menjalin jodoh baik dan menciptakan karma baik agar tak perlu risau dan tidak menerima buah karma buruk. Dengan demikian, buah karma yang kita bawa semuanya adalah berkah dan kebijaksanaan. Jadi, buah karma yang akan kita bawa semua bergantung pada perbuatan kita sendiri. Yang berikutnya adalah tubuh Sravaka
Para murid Buddha atau Sravaka sungguh memiliki berkah karena sulit untuk bertemu ajaran Buddha. Mereka hidup sezaman dengan Buddha, meninggalkan keduniawian dan mengikuti Buddha. Mereka berfokus mendengar ajaran Buddha. Saat mendengar satu ajaran Buddha, ada yang mengerti satu, ada yang mengerti sepuluh, ada yang mengerti seribu. Mereka sangat bersungguh hati dalam menghormati Buddha dan menghormati Dharma. Suara pembabaran Buddha dapat membangkitkan jiwa kebijaksanaan mereka. Jadi, arti dari Sravaka adalah mereka yang mendengar ajaran Buddha lalu menyadari dan merealisasi kebenaran. Kita harus bersungguh hati untuk mendengar Dharma sehingga memperoleh kesadaran
Dari ajaran yang kita dengar, kita sungguh-sungguh berlatih. Ajaran itu harus merasuk ke dalam hati kita. Kemudian, dalam kehidupan sehari-hari kita harus mempraktikkan ajaran itu. Dengan begitu, barulah kita dapat memperoleh kesadaran. Jika tidak, selamanya kita akan tersesat. Meski hidup sezaman dengan Buddha, kita juga akan tetap tersesat. Jadi, kita harus mendengar Dharma sepenuh hati
Berikutnya adalah tubuh Pratyekabuddha. Pratyekabuddha muncul di masa kekosongan Dharma, sedangkan Sravaka yang tadi kita bahas hidup sezaman dengan Buddha dan mendengar ajaran-Nya sehingga memperoleh kesadaran. Pratyekabuddha muncul di masa kekosongan Dharma. Mereka menyepi seorang diri, mengamati perubahan fenomena, tersadarkan tanpa guru, sehingga disebut Pratyekabuddha. Mereka tercerahkan tanpa guru, karena munculnya seorang Buddha di dunia juga bukanlah hal yang mudah. Lihatlah, sejak kemunculan Buddha pada lebih dari 2.000 tahun lalu, hingga kini belum ada yang kedua
Sungguh sulit untuk hidup sezaman dengan Buddha. Jadi, meski ajaran lisan Buddha terus diwariskan, namun pada akhirnya ajaran itu juga akan terlupa pada masa akhir Dharma. Lalu bagaimana? Apakah Dharma lenyap begitu saja? Dharma sesungguhnya ada dalam hati. Asalkan ada orang yang bersungguh hati merenung dengan hati yang hening dan jernih serta sungguh-sungguh berpikir di tempat yang jauh dari gangguan, dia disebut menyepi seorang diri. Ada yang menyepi ke gunung. Saya ingat beberapa puluh tahun lalu, saya pernah melihat sebuah buku tentang cara berlatih seorang praktisi
Metode berlatihnya adalah dengan menyepi dalam kuil di pegunungan. Setiap hari dia duduk di tepi jurang, tepatnya di atas sebuah batu yang menonjol. Batu ini setengahnya berada di atas gunung, setengahnya lagi menjulur ke arah jurang. Praktisi ini duduk di atasnya. Saat dia duduk, Jika angin bertiup, batu pun sedikit bergoyang. Dia harus sangat waspada. Untuk mengatasi segala kemungkinan, dia harus menaklukkan pikirannya sendiri. Jadi, setiap hari dia duduk di sana
Awalnya dia sangat takut, tetapi demi mencari kebenaran, dia berani mempertaruhkan nyawa. Jadi, dia merenung dalam keheningan alam untuk menyadari hakikat dirinya sendiri. Jadi, dia duduk dengan tenang di sana. Meski angin bertiup dan batu bergoyang, dia harus menenangkan pikirannya sendiri. Karena itu, di sana dia tak boleh mengantuk. Jika dia mengantuk sedikit saja, maka begitu badannya bergerak, dia mungkin dapat jatuh kapan saja. Karena itu, dia harus melatih ketenangan, kesabaran, dan ketelitian. Dia harus menjaga kesadarannya setiap saat
Suatu ketika, dia merasa lelah. Dia menutup mata lalu tertidur. Tiba-tiba dia merasa batu itu jatuh dan saat itu dia juga merasa seperti ada dewa pelindung Dharma yang menahannya. Dia pun sadar. Dia merasa gembira karena merasa telah berhasil sehingga dilindungi oleh dewa pelindung Dharma. Karena itu, dia pun duduk dengan santai dan kembali tertidur. Saat itu dia seperti mendengar pelindung Dharma berkata, “Beri dia pelajaran.” Saat itu dia segera sadar mendengar suara dewa pelindung Dharma, “Sudah diberi kesempatan pertama, tidak akan ada kesempatan kedua, apalagi ketiga
” Dalam melatih diri, kita selalu harus meningkatkan kewaspadaan. Kita harus mencerahkan diri sendiri dan menyadarkan diri sendiri. Tidak ada kesempatan kedua dalam hidup. Meski jiwa kebijaksanaan adalah abadi, namun kita memerlukan jasmani ini sebagai sarana menyelami kebenaran, baru jiwa kebijaksanaan dapat bertumbuh. Artinya, selain melatih diri, kita juga harus menjaga keselamatan diri. Jika terjadi sesuatu, maka sulit untuk kembali terlahir sebagai manusia. Tidak ada pelindung abadi yang akan terus berjaga di sisi Anda. Jadi, tadi adalah kisah pengalaman seorang praktisi
Di tengah kesendirian tanpa adanya orang yang mengajar, dia berusaha memahami kebenaran. Sedangkan kita tetap mengikuti jalinan jodoh, namun harus memiliki tekad yang teguh. Kita sangat beruntung karena kita masih berjodoh untuk terlahir di masa ajaran Buddha masih ada. Ajaran yang diwariskan Buddha telah dilestarikan oleh para sesepuh. Kita harus menghargai dan berusaha untuk menyelaminya. Sesungguhnya, seluruh Sutra dan sastra mengajarkan kepada kita cara menaklukkan pikiran. Jadi, jika batin kita dapat tersadarkan, Berarti kita telah mencerahkan diri sendiri. maka kita berarti mencerahkan diri sendiri
tiada orang yang dapat berlatih untuk kita. Semua harus bergantung pada diri sendiri. Inilah yang harus kita lakukan selain mendengar ajaran Buddha. Meski Buddha telah tiada, namun ajaran-Nya tetap ada. Kita harus menghormati ajaran guru kita dan mempraktikkannya. Apa yang diajarkan oleh guru kita, itulah yang harus kita dengar, hormati, dan praktikkan dalam keseharian. Dengan demikian, kita akan dapat memperoleh kesadaran
Untuk dapat tercerahkan, tiada orang yang bisa menggantikan kita berlatih baik di masa Buddha masih ada di dunia maupun di masa Buddha sudah tidak ada. Kita kini berada di era peralihan. Buddha memang sudah tiada, tetapi tubuh Dharma-Nya masih ada. Karena itu, kita masih cukup beruntung. Pratyekabuddha muncul di era kekosongan Dharma. Pada masa itu, bahkan Dharma sudah tak dikenal
Dia harus mengandalkan diri sendiri untuk mengamati pergerakan alam semesta demi memahami ketidakkekalan dunia. Yang keenam adalah tubuh Bodhisattva. Mengenai Bodhisattva, bukankah kita memiliki tujuan untuk mencapai kebuddhaan? Akan tetapi, untuk mencapai kebuddhaan, kita harus mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Kita harus menapaki Jalan Bodhisattva, baru dapat mencapai tingkat kebuddhaan. Di dalam bahasa Mandarin, “Pusa” berarti Bodhisattva. Istilah “Bodhisattva” disingkat oleh orang Tiongkok sehingga menjadi dua suku kata, yakni “Pusa”. Artinya adalah makhluk yang sadar. Makhluk atau manusia yang sadar disebut Bodhisattva. Kita kini masih makhluk awam, tetapi setelah menerima ajaran Buddha, kita mulai sadar sedikit demi sedikit
Tanpa mendengar ajaran Buddha, kita tak akan sadar. Inilah yang disebut Sravaka. Sravaka mengandalkan pembabaran dari Buddha. Ada orang yang menyadari satu saat mendengar satu ajaran, ada pula yang menyadari sepuluh. Bahkan yang berkemampuan lebih tinggi dapat menyadari seribu. Inilah Bodhisattva, memperoleh kesadaran setelah mendengar Dharma. Ajaran Buddha mengajarkan kepada kita untuk terjun ke masyarakat, bukan berlatih dengan menutup diri, bukan pula pergi menyepi di puncak-puncak gunung yang berbahaya. Bukan
Buddha berharap kita dapat tercerahkan di tengah masyarakat, di tengah dunia yang berperasaan, artinya di tengah semua makhluk. Makhluk tidak hanya manusia. Bukankah kita juga tahu bahwa hewan juga memiliki kesadaran? Contohnya, burung beo pun dapat dilatih. Saat ada tamu yang datang, ia bisa berkata, “Silakan duduk, buatkan teh.” Ia bisa mempersilakan tamu duduk dan meminta tuan rumah membuatkan teh. Ia bahkan bisa dilatih hingga saat tuannya pulang dan hendak menekan bel, meski tuannya belum masuk ke dalam rumah, ia dapat berkata, “Aling sudah pulang, Aling sudah pulang.” Ia dapat menyebut nama tuannya
Ia juga tahu siapa yang datang. Ia bahkan bisa berbicara dengan jelas. Saat diminta berhitung, ia juga bisa. “Tujuh dikali tiga berapa?” “Dua puluh satu.” Ini kisah nyata. Mereka tidak kalah dari manusia. Jadi, dengan mempelajari pola hidup makhluk-makhluk selain manusia ini, kita akan dapat menyadari perkataan Buddha bahwa semua makhluk adalah setara. Kita juga pernah melihat kisah ayam yang mengerami telur bebek
Mereka memiliki cinta kasih. Ada sekelompok ayam pegar dan ada pula sekelompok bebek. Setelah bertelur, bebek-bebek itu entah ke mana. Melihat telur-telur itu, ayam-ayam tadi pun mengeraminya hingga menetas. Setelah menetas, yang keluar adalah bebek. Mereka tak bisa berbicara. Ayam-ayam tadi bukan salah mengerami telur, melainkan memiliki cinta kasih. Meski mereka adalah hewan, tetapi asalkan memiliki cinta kasih, mereka dapat dikatakan memiliki hakikat kesadaran. Manusia adalah makhluk yang paling cerdas, tegakah memakan daging makhluk lain? Tegakah kita tidak menghormati hewan? Terlebih lagi, antarsesama manusia, mengapa tidak saling menghormati? Saudara sekalian, Bodhisattva adalah makhluk yang sadar
Berhubung kita adalah manusia, maka seharusnya kesadaran kita lebih tinggi dibanding hewan. Hewan-hewan tak dapat mengucapkan cinta kasih mereka. tak dapat mengungkapkan penderitaan mereka. Akan tetapi, kita manusia hendaknya memahami semua itu. Inilah ajaran Buddha kepada kita. Kita harus menghormati ajaran guru, bersyukur atas budi orang tua, mengasihi kerabat dan saudara, terlebih membuka dan melapangkan hati untuk hidup berdampingan dengan semua makhluk bagaikan satu keluarga
Kita harus mengembangkan cinta kasih kita. Jika dapat merealisasikan ini, maka di dunia ini, siapakah yang tidak kita kasihi? Siapakah yang tidak kita hormati? Jadi, untuk menjadi makhluk yang sadar, kita harus mengembangkan cinta kasih kita hingga seluas alam semesta. Semua ini harus kita wujudkan di tengah masyarakat. Masyarakat adalah tempat kita melatih diri. Bodhisattva tidak mengasingkan diri, melainkan terjun ke tengah masyarakat. Inilah makhluk yang sadar. Saudara sekalian, kita harus bersungguh hati. Dengan memiliki kemurnian anak kecil, kita dapat merealisasi sepuluh tubuh Buddha dan menyadari kebenaran alam semesta
Kita telah membahas bahwa dengan hati yang murni seperti anak kecil, kita dapat membangkitkan kesadaran dan merealisasi sepuluh tubuh Buddha. Hari ini kita telah membahas hingga yang keenam, yakni tubuh Bodhisattva. Tanpa memiliki perbuatan dan pikiran yang murni, bagaimana mungkin kita bisa menyadari kebenaran alam semesta? Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.