Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 146 – Sepuluh Tubuh Buddha Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus bersungguh hati. Jika kita dapat menggunakan hati di tengah keheningan, maka alam bagaikan tengah membabarkan Dharma. Jika dapat sungguh-sungguh menenangkan hati, kita akan dapat mendengar suara alam membabarkan Dharma. Kita telah membahas tentang tubuh tanah. Ajaran sederhana yang dibabarkan Buddha dapat meliputi kebenaran seluruh alam semesta. Jika sepenuh hati merasakan, kita akan menyadari bahwa alam selalu membabarkan Dharma. Dengan mendengar sepenuh hati, kita akan mendapati bahwa seluruh alam semesta dipenuhi oleh suara pembabaran Dharma

 Jadi, pikiran sangatlah penting. Kita telah membahas sepuluh kediaman. Sepuluh tubuh Buddha ini adalah yang kedelapan dari sepuluh kediaman. Dalam kediaman kemurnian anak kecil terdapat aspek sepuluh tubuh Buddha. Jadi, kita telah sampai pada pembahasan kediaman kemurnian anak kecil. Batin kita harus murni seperti anak kecil. Anak kecil berarti sangat polos, menggambarkan kondisi batin yang paling bersih, juga berarti kondisi yang paling dekat dengan hakikat murni yang sama dengan Buddha

 Jadi, terdapat sepuluh tubuh Buddha. Kita telah membahas yang pertama, yakni tubuh makhluk hidup dan yang kedua, yakni tubuh tanah. Mengenai makhluk hidup, setiap makhluk yang bernyawa pasti memiliki kesadaran. Mengenai tubuh tanah, alam semesta ini juga dapat dikatakan “hidup”. Hari ini kita akan membahas tubuh buah karma. Mengenai tubuh buah karma, kita sebagai makhluk hidup terlahir ke dunia dengan mewarisi buah karma. Dari kehidupan lampau, kita semua tidak membawa apa-apa, kecuali karma

 Buah karma kita bawa ke kehidupan ini. Terlahir sebagai apa kita di kehidupan ini, apakah laki-laki atau perempuan, tinggi atau pendek, apakah lima indra berfungsi normal, apakah anggota gerak sempurna, semua berkaitan erat dengan kehidupan lampau. Pada zaman sekarang, saat ilmu kedokteran sudah maju, pada tubuh manusia telah ditemukan sesuatu yang disebut gen. Gen ini merupakan warisan. Menurut manusia zaman sekarang, gen ini diwariskan oleh orang tua. Sesungguhnya, menurut penjelasan Buddha, ia lebih jauh dari sekadar warisan orang tua. Karma yang kita ciptakan dan jodoh yang kita jalin pada kehidupan lampau menentukan siapa orang tua kita pada kehidupan ini

 Karena adanya jalinan jodoh, maka kita lahir dalam suatu keluarga. Kita tak mampu mengendalikannya. Ini adalah buah karma. Asalkan pada kehidupan lampau Anda telah menjalin jodoh dengan orang tua tertentu, baik jodoh baik maupun jodoh buruk, baik dalam kondisi berkelimpahan maupun dalam kondisi kekurangan, maka kita tak akan dapat menghindar. Semua ini bergantung pada karma. Jika kita mengingat anak bernama Jayvo, pertama kali melihatnya, kita merasa tak sampai hati. Menilik dari segi gennya, entah ayah dan ibunya memiliki perpaduan gen seperti apa. Mengapa sejak dalam kandungan organ tubuhnya sudah tidak sempurna dan anggota geraknya tidak lengkap? Kita lihat tangannya hanya memiliki dua jari

 Perkembangannya tidak sempurna. Begitu pula dengan kakinya. Jari-jarinya tidak tumbuh sempurna. Begitu pula dengan wajahnya. Sebelum datang ke Taiwan, wajahnya juga tidak sempurna. Wajahnya hanya memiliki sebuah lubang. Mata, hidung, dan mulut semuanya menyatu seperti membentuk sebuah lubang. Lihatlah anak ini, bukankah ini adalah akibat buah karmanya? Entah karma apa yang dia perbuat di kehidupan lampau sehingga berjodoh dengan orang tuanya yang sekarang

 Akan tetapi, dia juga beruntung. Dia lahir prematur karena saat itu dia baru 8 bulan di dalam kandungan. Setelah dokter membantu kelahiran anak ini, semua orang sangat terkejut. Akan tetapi, dokter berkata kepada sang ibu, “Anak ini tak dapat bertahan lebih dari 7 hari.” “Dalam tujuh hari ini, kalian sayangilah dia dengan sungguh-sungguh.” Mendengar ucapan dokter, sang ibu sungguh berharap dapat menebus kekurangan sang anak

 Berhubung sang anak lahir dengan wajah tak sempurna dan memiliki cacat anggota gerak, maka sang ibu juga merasa bersalah. Dia hanya memiliki waktu tujuh hari. Karena itu, dia menyayangi anaknya sepenuh hati. Pertama, anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Kedua, sang ibu ingin menebus kesalahannya. Jadi, dalam tujuh hari itu, sang ibu benar-benar menyayangi anaknya

 Setelah tujuh hari berlalu, ternyata sang anak masih bertahan hidup. Sejak saat itu, bulan demi bulan terus berlalu hingga sang anak berusia satu tahun lebih. Dia juga memiliki jalinan jodoh baik sehingga bertemu insan Tzu Chi. Dengan adanya jalinan jodoh, dia diperkenalkan kepada insan Tzu Chi. para Bodhisattva dunia Tzu Chi mulai mendampingi sang ibu dalam merawat anaknya. Dengan himpunan cinta kasih ini, kita membawa anak ini datang ke Taiwan, tepatnya ke RS Tzu Chi Dalin yang kemudian sangat membantu anak ini

 Anak itu sendiri juga sangat menderita. Para tim medis kita menghadapi tekanan yang besar. Terlebih lagi, kekhawatiran dan siksaan batin yang dialami sang ibu juga membuat ibu ini menderita. Dengan penuh cinta kasih, insan Tzu Chi mendampingi mereka. Inilah karma. Akibat buah karma, selain memiliki tubuh yang kurang sempurna, anak ini juga lahir dalam keluarga yang kekurangan. Ayahnya mengidap penyakit jantung dan hanya bekerja sebagai kuli dengan penghasilan yang tidak tetap. Setelah bekerja beberapa waktu, dia harus berhenti sejenak

 Jadi, ibunyalah yang menjadi tumpuan keluarga. Dia bekerja sebagai perias kuku untuk menopang kehidupan keluarganya. Coba kalian bayangkan, sejak lahir anak ini sudah cacat dan hidup kekurangan. Dia sungguh menderita. Inilah buah karma. Serupa dengan Jayvo, ada lagi seorang anak. Kalian seharusnya masih ingat Novemthree. Anak ini tinggal di Pulau Batam, Indonesia

 Dia memang berada jauh dari kita. Akan tetapi, kondisinya lebih parah dari Jayvo. Dia menderita tumor gigi langka yang tumbuh di dalam gusinya. Besarnya sudah mencapai seluruh wajahnya. Pada tahun 2002, saat Tzu Chi mengadakan baksos kesehatan di Batam, anak ini mendapat berita dari tetangganya bahwa dokter TIMA dari Singapura akan datang. Orang tuanya yang kekurangan ini lalu membawa anaknya yang menderita tumor untuk diperiksa tim dokter

 Setibanya di lokasi baksos, mereka mengalami kendala bahasa. Saat penerjemah mengatakan agar mereka datang lagi keesokan harinya, mereka salah mendengar dan mengira sudah tidak ada harapan sehingga tidak perlu datang kembali. Mereka pun akhirnya pulang. Tempat tinggal mereka sangat jauh dari lokasi baksos. Mereka harus melewati medan yang sulit. Jadi, keesokan harinya mereka tidak datang. Tim dokter di sana pun merasa heran

 “Aneh, sudah diminta datang hari ini agar dapat diperiksa oleh ahli bedah plastik, mereka malah tidak datang.” Dalam beberapa kali baksos, anak ini tidak pernah kelihatan lagi. Berselang lebih dari setahun, anak ini akhirnya muncul kembali. Ibunya membawanya datang. Saat itu tumornya sudah lebih besar daripada setahun sebelumnya. Pertumbuhannya sangat cepat. Sejak usia dua tahun sampai tiga tahun, wajah anak ini selalu membuat ngeri orang-orang yang melihatnya. Meski memiliki bagian-bagian wajah yang lengkap, dia juga menderita tumor yang membuat mulutnya selalu terbuka hingga tak dapat menelan air liur

 Bagian dalam mulutnya pun sudah terluka hingga mengeluarkan aroma tidak sedap. Saat itu tim TIMA Singapura mengirim fotonya ke Taiwan. Saat melihatnya, saya merasa itu sulit disembuhkan. Saat para dokter di sini melihatnya, mereka yang memiliki keterampilan dan berhati orang tua itu bersedia menangani kasus tersebut. Apakah ada kemungkinan untuk sembuh? Para dokter ini memeriksa kondisinya dan ingin mencoba menolongnya. Setelah dibawa ke Taiwan, selama anak ini berada di Hualien, dia mendapat banyak simpati dan kasih sayang dari banyak orang. Anak itu sendiri sangat optimis

 Jadi, selama berada di Taiwan, dia menjalani berkali-kali operasi. Akan tetapi, dokter mengatakan bahwa tumornya tetap akan berkembang meski telah dioperasi. Berkembang sampai kapan? Paling tidak sampai dia berusia 18 tahun. Sampai pertumbuhan tubuhnya berhenti pada usia tertentu, barulah tumor itu akan berhenti berkembang. Delapan belas tahun bagi anak ini adalah waktu yang sangat panjang. Sekali operasi, usaha yang dikeluarkan sangatlah besar, dan operasi itu bukan hanya sekali. Setelah selesai sekali pembedahan, masih ada pembedahan berikutnya

 Tumor yang diangkat dari wajahnya saja mencapai berat beberapa kilogram. Wajah anak ini kembali normal setelah menjalani berkali-kali operasi yang semuanya adalah operasi besar. Setelah dua sampai tiga bulan di Taiwan, dia pulang. Setelah berselang lebih dari setahun, Novemthree kembali ke Taiwan. Wajah anak ini pun kembali berubah. Meski kali itu kondisinya tidak separah saat dia pertama kali datang, namun dengan kasat mata kita dapat melihat tumornya membesar

 Akan tetapi, kedatangannya kali ini bukan karena masalah pada wajah, melainkan pada paru-paru. Dia mengalami kurang gizi di usia pertumbuhan karena keluarganya hidup kekurangan. Terlebih lagi, berhubung dia tinggal di daerah terpencil, maka selain menderita kurang gizi, sarana perawatan juga sangat minim. Karena itu, dia sering mengalami flu, masalah paru-paru, dan sebagainya. Kali itu dia mengalami sesak napas. Awalnya dokter menyarankan agar anak ini menjalani trakeostomi supaya pernapasannnya lebih lancar

 Gizinya juga dapat lebih diperhatikan. Akan tetapi, ini juga tidak sepenuhnya aman. Orang tuanya pun membuat berbagai pertimbangan. Sesungguhnya, bagi kita ini juga merupakan tantangan. Terlebih lagi, dia baru berusia lima tahun. Untuk sampai pada usia 18 tahun, masih ada lebih dari 10 tahun. Selama itu, tumor di wajahnya akan terus bertumbuh dan membesar

 Ditambah lagi, kondisi paru-parunya sangat lemah. Akhirnya, kita membiarkannya pulang. Dokter pun memperingatkan bahwa jika pernapasannya mengalami gangguan, dia dapat meninggal sewaktu-waktu. Setelah mereka pulang, kita kembali mendapat berita. Pada pagi hari, anak ini bangun tidur seperti biasanya. Dia bangun sekitar pukul lima dan mulai menonton televisi. Dia sangat optimis

 Dia lalu bernyanyi sambil menari. Kita semua ingat bahwa anak ini akan langsung bergerak jika mendengar musik. Ibunya lalu berkata kepadanya bahwa setelah mendengar musik, dia harus kembali pergi tidur. Setelah itu, sekitar pukul tujuh, napas anak ini terdengar sesak. Saat dilihat, dia membutuhkan pertolongan darurat. Saat akan diantar ke rumah sakit, dia sudah tidak bernapas. Demikianlah, anak berusia lima tahun ini akhirnya mengakhiri penderitaan akibat buah karmanya. Meski tidak sampai hati, namun jika mengingatnya kembali, kita tahu bahwa saat berada dekat dengan kita, apalagi saat dia mendengar musik, kita dapat melihat anak ini sangat lucu

 Dia akan menggoyang-goyangkan tubuhnya, sangat optimis. Kita melihatnya sejak tumor di wajahnya sangat besar sehingga wajahnya tak dapat berekspresi hingga dia menjalani operasi, lalu dapat tersenyum dan dapat berekspresi. Sejak dia tidak dapat berjalan, kita terus memberi asupan gizi padanya hingga dia dapat berdiri dan dapat berjalan. Kita melihatnya dapat berjalan keluar dari pintu Griya Jing Si asalkan ada yang menggandengnya. Dia kemudian pulang ke negaranya setelah tinggal tiga sampai empat bulan di sini. Saat dia datang kembali, kita masih dapat melihat ekspresi wajahnya, hanya saja napasnya terdengar tidak normal. Kita merasakan tanda-tanda yang tidak baik. Akan tetapi, hati kita juga penuh kontradiksi

 Jika harus menunggu sekitar 10 tahun lagi, dia juga sangat menderita. Dengan kondisi keluarga yang kekurangan, anak ini harus berkali-kali menjalani operasi. Hidup pun dia sangat menderita dan sangat tersiksa. Mungkin saja penderitaannya berakhir karena banyak orang yang mendoakannya dan dia telah banyak menjalin jodoh baik. Dia juga mengerti untuk bersyukur. Jika kita mengatakan, “Novemthree, terima kasih,” dia juga bisa berterima kasih lewat isyarat tangan. Dia selalu berterima kasih saat melihat orang

 Paling tidak dia telah menumbuhkan rasa syukur dalam hati. hati yang sukacita dan optimis. Semoga buah karma lampau anak ini terkikis habis pada kehidupan ini. Semoga dia dapat terlahir kembali membawa banyak jalinan jodoh baik dengan para insan Tzu Chi serta doa dari banyak orang. Jadi, melihat hidupnya yang hanya berlangsung lima sampai enam tahun, kita harus berpikir positif bahwa buah karma buruknya  telah dia terima dengan lebih ringan. Jika tidak bertemu insan Tzu Chi, maka entah berapa lama dia harus menanggung buah karma buruk itu

 Semoga buah karma buruknya yang berat dapat dia terima dengan lebih ringan. Demikianlah tubuh buah karma. Banyak hal yang berada di luar kendali. Karena itu, saya sering berkata bahwa hukum karma sangat menakutkan. Dalam kehidupan ini, segala yang kita perbuat dalam interaksi antarmanusia tidak akan berlalu begitu saja. Kita masih akan menerima buahnya di masa depan tanpa dapat mengendalikannya

 Kita tak bisa memilih orang tua kita. Semua bergantung jalinan jodoh seperti apa yang kita jalin pada kehidupan sekarang. Terlahir dalam kondisi kekurangan atau kelimpahan, semua bergantung pada apakah saat ini Anda ada menciptakan berkah atau tidak. Kelak akan bahagia ataukah menderita, semua bergantung pada perbuatan Anda saat ini. Banyak naskah yang kita tulis dalam kehidupan ini dan akan diperankan dalam kehidupan mendatang. Saudara sekalian, buah karma sangat menakutkan

 Karena itu, kita harus bersyukur karena memiliki organ tubuh yang lengkap dan pikiran yang sehat. Tubuh kita juga termasuk sehat. Karena itu, kita harus selalu bersyukur. Kita harus bersyukur dapat terlahir sebagai manusia, bertemu ajaran Buddha, dan dapat melakukan praktik nyata dalam ladang pelatihan diri

 Jadi, kita harus selalu bersyukur. kita harus lebih bersungguh hati. Intinya, noda batin adalah benih karma, dan yang kita rasakan adalah buahnya. Inilah tubuh buah karma. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment