Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 151 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, saat kondisi luar hening dan kondisi batin jernih, kita akan dapat membangkitkan tekad yang luhur. Inilah kondisi batin yang ingin dicapai oleh setiap praktisi Buddhis. Dengan hati yang bebas dari noda dan tekad luhur yang tak tergoyahkan, barulah kita bisa menapaki jalan kebenaran setiap hari. Dalam menapaki jalan kebenaran, kita harus mengembangkan keyakinan, tekad, dan praktik. Kita harus membangkitkan keyakinan, membangun tekad luhur, lalu mewujudkannya lewat praktik nyata. Dalam melakukan praktik nyata, kita juga harus senantiasa ingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, saat melakukan sesuatu atau membangkitkan sebersit niat, kita harus sesuai dengan jalan kebenaran. Sutra adalah jalan dan jalan harus ditapaki. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menjalankan Sutra dan mempraktikkan semua ajaran Buddha. Karena itu, kita harus bersungguh hati untuk mendengar, merenung, dan mempraktikkannya

 Setelah mendengarnya dengan sungguh-sungguh, kita harus merenungkannya baik-baik, lalu mempraktikkannya secara nyata. Mendengar sangatlah penting. Kita juga tak boleh lengah dalam merenungkan sesuatu. Setelah saya berbagi ajaran dengan kalian, entah apakah kalian menyimpannya dalam hati. Setelah mendengar, renungkanlah dengan baik apakah kalian bisa menapaki jalan ini setiap hari. Jika ya, kita harus senantiasa mengingat tekad luhur kita dan tidak tergoyahkan selamanya

 Setelah mendengar ajaran baik, kita harus ingat untuk mempraktikkannya secara nyata. Sebelumnya, dalam pembahasan enam praktik, kita sudah mengulas tentang sepuluh keyakinan dan sepuluh kediaman. Saudara sekalian, bagaimana cara kita membangun keyakinan? Dalam kondisi apa batin kita seharusnya berdiam? Ini semua sudah saya jelaskan secara mendetail. Kini, kita akan mulai mengulas tentang sepuluh praktik. Untuk melangkah dari tataran manusia awam menuju kebuddhaan, kita harus menapaki Jalan Bodhisattva. Untuk melangkah di Jalan Bodhisattva, praktik ini sangatlah penting. Jadi, praktik yang dimaksud adalah sarana bagi kita untuk terus melangkah maju

 Artinya, kita harus menapaki jalan ini untuk sampai pada tujuan kita, yaitu kebuddhaan. Jadi, dari tataran manusia awam, kita harus melewati Jalan Bodhisattva, baru bisa mencapai kebuddhaan. Karena itu, dalam menapaki Jalan Bodhisattva juga terdapat sepuluh persyaratan atau sepuluh kondisi. Kondisi yang pertama adalah sukacita. Kita harus dipenuhi sukacita. Kedua adalah pemberian manfaat

 Kita harus selalu memberi manfaat. Ketiga adalah praktik tanpa kebencian. Kita harus sabar. Keempat adalah praktik tak terkalahkan. Kelima adalah praktik tanpa kebodohan. Keenam adalah manifestasi terampil. Ketujuh adalah praktik tanpa kemelekatan

 Kedelapan adalah praktik penghormatan. Kesembilan adalah praktik ajaran baik. Kesepuluh adalah praktik kebenaran. jika dibacakan seperti itu, sepertinya kalian masih tidak begitu paham. Saya akan menjelaskannya satu per satu secara mendetail. Bagaimana agar kita bisa mencapai kondisi penuh sukacita? Sebelumnya kita sudah membahas tentang sepuluh keyakinan dan sepuluh kediaman. Dahulu, kita sudah pernah membahas tentang sikap tahu berpuas diri dan memberi manfaat bagi diri sendiri

 Kita harus sangat memperhatikan kondisi batin kita dalam melatih diri. Karena itu, tadi saya bertanya apakah kalian ada merenungkannya setelah mendengar. Adakah kalian merenungkannya baik-baik? Jika ada, kita bisa menjalankan sepuluh praktik. Jadi, setelah mendengar dan merenung, maka selanjutnya adalah praktik sepuluh keyakinan. Dalam menjalankan praktik sepuluh keyakinan, batin kita harus berdiam dalam keteguhan. Sebelumnya, kita sudah membahas tentang praktik sepuluh kediaman. Kini, kita sudah memahami bahwa pembahasan kita sebelumnya adalah tentang memberi manfaat bagi diri sendiri

 Kita harus mengembangkan keyakinan serta membangun tekad dan praktik. Tujuan kita berikutnya adalah bagaimana memberi manfaat bagi orang lain. Selain melatih diri lewat praktik sepuluh keyakinan dan sepuluh kediaman, kita juga harus tahu cara memberi manfaat bagi orang lain. Sebelumnya, saya tidak begitu banyak membahas tentang cara memberi manfaat bagi orang lain. Kini kita akan membahas lebih banyak  tentang cara memberi manfaat bagi orang lain. Untuk itu, kini saya akan mengulas tentang sepuluh praktik. Praktik pertama yang harus kita lakukan adalah membangun kondisi penuh sukacita. Sukacita

 Bagaimana agar bisa dipenuhi sukacita? Kita harus tahu bahwa berhubung sudah bertekad untuk menjadi murid Buddha, janganlah kita hanya berlatih untuk pencapaian pribadi. Janganlah kita hanya menjadi pendengar atau hanya berusaha tercerahkan sendiri. Jangan demikian. Kita harus bertekad menapaki Jalan Bodhisattva. Bukan hanya menapaki Jalan Bodhisattva, namun juga harus terus melangkah maju untuk mencapai tingkat Buddha. Karena itu, kita harus membawa sukacita ke seluruh penjuru dunia. Kita harus selalu melapangkan hati

 Bukankah saya sering berkata bahwa kita harus melapangkan hati hingga seluas jagat raya? Kita harus melapangkan hati dan memperluas tekad kita. Hati kita dan tekad kita harus sangat luas hingga tak bertepi. Hingga seberapa luas? Hingga bisa merangkul seluruh jagat raya. Saya sering berkata kepada kalian bahwa kita harus menganggap seluruh dunia bagai satu keluarga. Tanpa membedakan ras, tanpa membedakan warna kulit, serta tanpa membedakan agama yang dianut, kita harus merangkul semua orang di dunia karena dunia ini bagai satu keluarga. Kita harus memiliki tekad yang luas dan hati selapang jagat raya. Jagat raya adalah alam semesta

 Kita harus bisa merangkul semuanya. Yang kita bahas sekarang bukan hanya planet Bumi saja. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, ditemukan bahwa di alam semesta ini ada banyak bintang dan planet. Yang paling berkaitan erat dengan kita adalah Bumi. Tinggal di planet Bumi ini, kita harus lebih memperhatikan dan peduli padanya. Apalagi tadi kita membahas tentang merangkul jagat raya

 Jagat raya ini sangat luas. Bumi hanya bagian kecil dari jagat raya ini. Planet Bumi ini berisi banyak makhluk hidup. Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum menemukan adanya manusia selain di Bumi. Di Bumi terdapat banyak kehidupan. Kini saya hanya berharap kita semua dapat melapangkan hati untuk peduli terhadap semua makhluk di bumi ini. Terhadap semua makhluk di bumi, kita harus bersumbangsih dengan rela

 Kondisi apa pun yang kita hadapi, kita harus tetap sukacita. Karena itu, dalam Kata Perenungan Jing Si ada suatu ungkapan Yang sering saya katakan kepada kalian, yakni melakukan dengan sukarela dan menerima dengan sukacita. Kita harus rela karena ingin menjadi Bodhisattva. Kita telah bertekad untuk melampaui tingkatan makhluk awam dan mencapai kebuddhaan. Proses Jalan Bodhisattva ini sangat panjang. Kita harus melapangkan hati kita untuk mengasihi semua makhluk. Kita harus berlapang dada terhadap semua makhluk. Manusia adalah makhluk tercerdas di bumi, apalagi kita sudah bertekad menapaki Jalan Bodhisattva. Jadi, kita harus mengasihi semua makhluk

 Bukankah kita juga sering melihat kisah Buddha terutama dalam Kitab Jataka yang menceritakan bahwa dalam penyempurnaan Paramita-Nya, Buddha mengasihi semua makhluk? Berhubung ingin mempelajari ajaran Buddha, kita harus meneladani semangat Buddha. Sutra bertujuan untuk menginspirasi semua orang. Di dalamnya banyak kisah dan perumpamaan tentang Buddha yang selalu rela berkorban untuk menolong orang lain, melindungi makhluk lain, atau membimbing semua orang. Setelah bertekad untuk menginspirasi semua orang, kita sebagai praktisi Buddhis tak boleh takut akan kesulitan. Kita harus rela. Dengan memiliki kerelaan, barulah kita dapat mewujudkan tekad kita. Jadi, kita harus melakukan dengan sukarela. Dalam melakukan sesuatu, kita mungkin bertemu banyak kesulitan

 Mungkin kalian semua masih ingat pada tahun 1998, saat rupang Buddha di Bamiyan, Afganistan masih ada, insan Tzu Chi sudah pernah tiba di sana. Dengan melewati medan yang sangat berbahaya, Stephen Huang dan Xie Jing-gui dari Divisi Kerohanian pergi ke sana. Saat itu, pesawat yang mereka tumpangi penuh dengan bekas tembakan peluru. Mereka lalu menggunakan plastik untuk menutupi lubang-lubang peluru itu. Mereka menumpang pesawat itu ke Afganistan untuk mengantarkan obat-obatan dan bahan makanan ke sana. Saya masih ingat kabarnya di pesawat itu ada enam penumpang dan hanya ada empat parasut. Mereka berkata bahwa saat pesawat itu terbang, masih ditembaki dari darat. Pesawat itu sudah penuh lubang akibat peluru

 Jika terjadi apa-apa, apakah empat parasut bisa cukup untuk enam orang? Setelah membuat pertimbangan, mereka memutuskan dengan berkata, “Kali ini kita datang ntuk mengantarkan obat-obatan dan makanan ke daerah ini.” “Berhubung misi ini harus berhasil, maka biar nanti semua parasut ini kita ikatkan pada obat-obatan dan makanan itu agar semua barang dapat tiba sesuai rencana, tak perlu pikirkan orang

” Inilah laporan yang saya terima sepulangnya mereka dari Afganistan. Lagi pula, untuk mengantarkan barang bantuan ke sana, harapan mereka untuk selamat sangat kecil. Mereka harus pergi diam-diam di tengah malam dan melewati satu demi satu rintangan. Mereka berlari di bawah cahaya bintang dan bulan. Akan tetapi, rintangannya sangat banyak. Milisi dan tentara berpatroli dengan senjata. Insan Tzu Chi harus bergerak sembunyi-sembunyi dan mempertaruhkan nyawa di tengah malam. Lihatlah, mereka begitu bersusah payah dan harus menempuh bahaya untuk bisa pulang

 Itu adalah yang pertama kali. Masih ada yang kedua dan ketiga. Akibat ulah manusia, yakni peperangan, banyak warga yang mengungsi. Mereka mengungsi ke pedalaman. Saat itu salju turun dengan lebat. Saat itu, beberapa truk barang bantuan kita diantarkan ke kamp pengungsi. Kita juga ingat banyak orang yang tewas akibat perang baik anak kecil maupun lansia. Pemandangan itu kembali muncul dalam ingatan kita. Saat kita menunggu tibanya barang bantuan, ada kemungkinan barang itu dirampok atau tertahan di tengah jalan

 Bantuan masuk dari Uzbekistan. Bahaya yang merintangi juga banyak. Setelah lama menunggu, barang bantuan baru tiba pada malam hari. Dari kondisi lensa kamera video yang merekam dan kondisi saat lampu mobil menyinari, kita tahu bahwa saat itu turun salju lebat. Di tanah, terlihat jejak kaki pada salju sangat dalam. Kita juga melihat para relawan menurunkan barang dari truk. Melihatnya, kita sungguh tak sampai hati

 Di tengah malam, di tengah cuaca bersalju, jejak kaki terlihat begitu jelas. Saat memindahkan barang, para relawan pun sulit melangkah. Salju sangat tebal. Mereka harus menurunkan barang dari truk dan kemudian menyusunnya di tempat yang cukup jauh, lalu berjalan kembali ke truk. Jejak kaki yang tadi terlihat, tak lama sudah tertutup lagi oleh salju. Lalu saat relawan berjalan kembali ke truk, jejak kaki baru pun kembali terbentuk. Saat relawan berjalan memindahkan barang dari truk, juga terbentuk lagi jejak kaki baru. Kita sulit melupakan pemandangan ini

 Ini sungguh merupakan jejak sejarah. Jejak-jejak langkah di bawah cahaya bintang itu sungguh merupakan jejak Bodhisattva. Para Bodhisattva ini tidak takut akan kesulitan, tidak takut bahaya, serta rela untuk bersumbangsih. Setelah selesai merapikan barang bantuan, hari pun mulai terang dan warga mulai berdatangan. Pembagian bantuan berlangsung dengan penuh sukacita. Penerima bantuan sangat bersukacita, pemberi bantuan pun merasa damai dan turut bersukacita. Jadi, kerelaan dan sukacita adalah praktik pertama yang harus dilatih Bodhisattva. Ini adalah cara untuk mencapai keluhuran seperti Buddha

 Keluhuran ini adalah yang tertinggi. Agar senantiasa teguh di Jalan Bodhisattva ini, kita harus senantiasa memiliki hati yang penuh kerelaan dan sukacita dalam melatih diri di tengah masyarakat. dalam praktik sepuluh praktik, yang pertama adalah praktik sukacita. harap senantiasa ingat hal ini. Baik sepuluh keyakinan, sepuluh kediaman, maupun sepuluh praktik, semua merupakan jalan yang penting dalam berlatih ajaran Buddha. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment