Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 185 – Enam Praktek Pencerahan Setara Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, berkah adalah rasa sukacita yang didapat saat bersumbangsih; kebijaksanaan adalah kedamaian yang didapat dari sikap penuh pengertian. Beberapa kalimat ini memang sederhana. Sesungguhnya, dari pembahasan panjang kita mengenai Sepuluh Bhumi, inti dari semuanya tercakup dalam dua kalimat tadi karena mempelajari ajaran Buddha berarti harus mengembangkan berkah dan kebijaksanaan. Untuk mengembangkan berkah, kita tak boleh lepas dari masyarakat. Untuk mengembangkan kebijaksanaan, kita harus penuh pengertian di masyarakat. Dengan begitu, kita baru bisa mendapat kedamaian batin

 Jadi, dalam praktik Sepuluh Bhumi, yang terakhir adalah Bhumi Awan Dharma. Dalam menghadapi berbagai kondisi, sesungguhnya tiada kondisi yang merintangi kita. Kita juga tidak merintangi kondisi. Hanya saja, di tengah kondisi yang indah ini kita harus bisa bersikap penuh pengertian, baru dapat mencapai Bhumi Awan Dharma. Sikap penuh pengertian yang membawa kedamaian adalah kebijaksanaan. Bhumi Awan Dharma adalah kebijaksanaan. Kini kita akan membahas praktik Pencerahan Setara

 Mengenai praktik Pencerahan Setara (Sambodhi), “Sambodhi” adalah sebutan lain bagi Buddha. “Sam-” berarti setara, “Bodhi” berarti sadar. Artinya, semua Buddha memiliki pencerahan yang setara. Inilah yang disebut Pencerahan Setara. Kalian semua tentu tahu secara harfiah, Buddha berarti “yang sadar”, orang yang menyadarkan diri sendiri, menyadarkan orang lain, serta sempurna dalam kesadaran dan praktik. Sempurna dalam kesadaran dan praktik berarti mampu benar-benar memahami bahwa Buddha, hati, dan semua makhluk tiada perbedaan. Inilah orang yang telah tercerahkan sempurna

 Jika kita masih membeda-bedakan orang dan tak mampu memahami hakikat kebuddhaan dalam diri semua orang, maka kita tidak dapat berlaku setara. Saya pernah mengulas bahwa dalam Sutra Bunga Teratai Buddha memuji Bodhisattva Sadaparibhuta yang tidak pernah meremehkan orang lain karena setiap orang memiliki potensi kebuddhaan dan memiliki hakikat kebuddhaan. Dari sini kita tahu bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk adalah sama. Jadi, jika ingin benar-benar sadar, kita harus mencapai tingkatan ini. Dengan kata lain, kita harus selalu menghormati orang lain. Dengan begitu, kita baru bisa mencapai kesempurnaan

 Secara sederhana, saya pernah berkata bahwa jika kita dapat melakukan segala hal dengan sempurna dan menjadi manusia yang berkualitas sempurna, barulah kebenaran berarti telah dijalankan sempurna. Inilah kesempurnaan. Jika dapat melakukan segala sesuatu dengan sempurna, barulah kualitas sebagai manusia akan sempurna. Jika kedua hal ini sempurna, berarti kebenaran telah sempurna dijalankan. Jadi, untuk mencapai kesempurnaan kesadaran dan praktik, kita harus menyadarkan diri sendiri dan orang lain. Setelah memahami kebenaran ini, kita harus membentangkan jalan. Jalan yang kita tapaki saat ini dibentangkan oleh para pendahulu kita

 Kini, setelah memahami kebenaran dan arah yang benar, kita harus membuka jalan bagi orang lain. Jadi, proses membuka jalan ini adalah pelatihan diri. Mengenai pelatihan diri, untuk apa kita melatih diri? Demi membuka jalan ini. Apakah kita hanya membuka jalan bagi diri sendiri? Kita terus membentangkan jalan dan sudah menapakinya sendiri agar orang lain juga bisa ikut. Inilah mencerahkan orang lain. Jalannya tetap sama. Kita berjalan untuk membuka jalan agar orang-orang di belakang dapat mengikuti. Seperti kita sekarang, setelah mendengar ajaran, kita merasa ajaran ini masuk akal, maka kita memberitahukannya kepada orang lain. Kita bahkan tidak hanya membicarakannya, melainkan juga mempraktikkannya. Contohnya, saya melihat sebuah surat dari Relawan Ho di Kanada

 Dia sangat tekun dan bersemangat. Dia melihat sekelompok pengusaha dari Indonesia yang terjun ke dalam Tzu Chi sehingga berhasil memengaruhi kondisi masyarakat, meredam sentimen anti-Tionghoa di sana, dan membuat masyarakat di sana harmonis. Setelah datang ke Indonesia, bertemu dengan para insan Tzu Chi setempat, melihat segala yang mereka lakukan, dan mendengar mereka berbagi pengalaman, Relawan Ho sangat tersentuh. Setelah itu, dia pun pergi ke Sri Lanka. Setelah bencana tsunami, dia datang ke Sri Lanka yang rusak parah akibat dilanda bencana itu. Dia melihat orang-orang yang dalam sekejap kehilangan keluarga yang mereka cintai. Melihat warga korban bencana yang kehilangan segalanya dan mengalami banyak penderitaan, dia pun memperoleh kesadaran. Jadi, dia sungguh-sungguh membangkitkan tekad. Sepulangnya ke Kanada, dia merasa Kanada bagai surga dunia

 Di surga dunia itu, dia berbagi tentang ketidakkekalan dan penderitaan yang dilihatnya. Dia menceritakan apa yang dia rasakan sendiri. Pengaruhnya pun sangat besar. Dia berhasil menginspirasi banyak orang untuk bertekad. Saat New Orleans, AS dilanda bencana banjir dan angin topan, juga banyak korban berjatuhan. Di antara para korban, banyak juga pengusaha kaya yang kehilangan seluruh harta, usaha, dan kedudukannya dalam beberapa jam saat badai menyapu semuanya. Mereka menjadi sama dengan korban lainnya yang harus tinggal di posko penampungan. Relawan Ho bersumbangsih secara langsung. Dia mengulurkan tangan untuk merangkul dan menghibur warga. Dia merangkul warga dan mendengarkan kesedihan hati mereka

 Pengalamannya pun semakin bertambah. Sekembalinya ke Kanada, dia mendengar ada insan Tzu Chi Kanada yang pergi ke AS dan mendengar penjelasan tentang sistem 4 in 1. Mereka lalu berbagi kepadanya bahwa saya tengah menggalakkan sistem 4 in 1. Mengenai sistem dan struktur 4 in 1 ini, orang-orang berkata kepadanya bahwa ini baik sekali, agar dalam setiap hal ada yang bertanggung jawab, dan setiap orang juga memiliki tanggung jawab. Mereka merasa sistem ini sangat baik. Setelah mendengarnya, Relawan Ho merasa Dharma dan tindakan tentu harus sejalan

 Jadi, dia mendukung sistem ini. Dia berkata kepada semua orang, “Master tengah menggalakkan sistem 4 in 1, anggota tim Hexin juga harus kembali ke Xieli.” “Kita semua harus tahu prinsip ini.” “Setiap orang harus memikul tanggung jawab, memegang teguh kewajiban, dan menjalankan tugas masing-masing.” “Kita harus berusaha agar setiap orang memahami prinsip ini dan berkesempatan untuk melakukan praktik nyata bersama orang banyak.” “Kini saya juga bagian dari Xieli

” “Hari ini giliran saya menyiapkan konsumsi.” Dia sangat bersikeras. “Hari ini saya yang menyiapkan konsumsi.” Jadi, orang lain pun mengalah. Semua orang berpikir, “Coba, kami mau lihat, apakah kamu bisa memasak?” Jika tidak bisa, maka harus belajar

 Dia mengenakan celemek dan memakai penutup kepala. Apa yang ingin dia masak? Dia berencana memasak telur tomat

 Dia merasa menu itu mudah dimasak, tinggal mengiris tomat, lalu ditambah telur, selesai. Dia pikir itu mudah. Ternyata, itu cukup sulit baginya. Saat akan mengiris tomat saja, setelah mengambil pisau, dia tidak tahu cara meletakkan talenan. Dia tidak bisa. Semua itu cukup sulit baginya. Setelah memecahkan telur, dia tidak memberi garam, juga kurang memberi gula. Dia mengaku bahwa dia sangat kewalahan. Setelah dimasak, hasilnya ada yang gosong, ada pula yang kurang matang. Saat para relawan wanita melihatnya, mereka semua tetap merasa senang

 Meski hasil masakan Relawan Ho mungkin tidak enak dimakan, tetapi orang-orang tetap gembira melihatnya. Dia benar-benar terjun ke tim Xieli. Dia adalah ketua kantor cabang yayasan, juga ketua tim Hexin, tetapi rela merendahkan hati untuk turut terjun di tim Xieli dan turun tangan menyiapkan konsumsi. Entah masakan itu asin atau tidak, gosong atau tidak, semua orang tidak peduli. Semua orang tetap bersukacita. Ini adalah sebuah permulaan. Langkah awal Bodhisattva dimulai dari Bhumi Sukacita. Dari langkah awal itu, dibutuhkan perjalanan panjang. Praktik Bhumi pertama hingga kelima adalah menciptakan berkah. Berkah adalah rasa sukacita yang diperoleh saat bersumbangsih. Lihatlah, dia sangat penuh sukacita

 Jika mau dikata, dia adalah seorang pengusaha yang sangat sukses. Dia juga menjabat sebagai ketua. Tentu, dalam organisasi relawan sulit dihindari terjadinya perbedaan pendapat atau gesekan antarsesama relawan. Ini sulit dihindari. Tzu Chi adalah organisasi makhluk awam. Untuk membimbing makhluk awam menuju kesadaran, tentu dibutuhkan kelapangan hati. Kelapangan hati dan sikap pengertian harus ada. Bagaimana mengembangkan kedua sikap ini? Untuk itu, dibutuhkan kebijaksanaan

 Dengan kebijaksanaan dan kesabaran, kita akan mampu mencapai Bhumi Awan Dharma, bahkan lebih maju selangkah lagi, yakni mencapai Pencerahan Setara. Relawan Ho mencerahkan diri sendiri. Setelah dirinya memperoleh pemahaman, dia merasakan bahwa terjun di tim Xieli dapat memperoleh sukacita. Saat melakukan kesalahan, orang lain dapat membimbingnya dengan sukacita. Dengan rasa sukacita ini, dia merasa bahwa bersumbangsih bukanlah hal yang menyulitkan, melainkan berkah. Dia sudah memahaminya. Jadi, dia mulai membimbing orang lain dan menginspirasi mereka untuk mengecilkan ego. Ini adalah kehidupan yang mengagumkan

 Jika tidak bisa mengecilkan ego, kita tak akan dapat masuk ke dalam hati orang lain. Jadi, dengan mencerahkan diri sendiri dan orang lain, seseorang akan mencapai kesempurnaan kesadaran dan praktik. Tentu, ini membutuhkan proses. Mengenai kondisi batin kita saat melatih diri, dikatakan bahwa kualitas kebjaksanaan tak terbayangkan. Mengenai kebijaksanaan, kita sering mengulas tentang pembinaan kerendahan hati di dalam diri dan tata krama ke luar. Mengenai kualitas kebijaksanaan, kita harus paham, baru bisa mempraktikkannya. Setelah bisa mempraktikkannya, barulah orang lain dapat menerimanya. Inilah kualitas kebijaksanaan. Jika kita menggunakan kebijaksanaan, kita tidak akan berbuat kesalahan dan memiliki cara untuk membimbing orang lain ke arah sukacita. Jika dapat membimbing orang lain ke jalan yang damai ini, maka sungguhlah luar biasa. Dengan sedikit bersumbangsih, kita dapat membimbing banyak orang

 Ini disebut pencerahan sempurna atau kebuddhaan yang tertinggi. Untuk itu, kita harus terus menapaki jalan ini. Meski kini kita baru mencapai pencerahan kecil dan masih merupakan makhluk awam, tetapi jika kita terus menapaki jalan ini sehingga memperoleh pemahaman setahap demi setahap, maka dari pencerahan-pencerahan kecil ini, pemahaman kita akan terus bertambah dan akhirnya kita akan mencapai Pencerahan Sempurna. Pada tahap itu, kita akan memahami cara membimbing orang lain. Banyak orang berkata, “Guru kecil dapat menjadi guru besar; murid kecil juga bisa menjadi guru besar.” Sama halnya, kita yang telah memahami jalan ini dapat berjalan sesuai dengannya, mampu mencerahkan diri sendiri dan orang lain, meningkatkan kebijaksanaan kita, dan menampakkan kualitas kebijaksanaan kita. Inilah kebuddhaan. Inilah buah pelatihan diri kita. Inilah pencerahan tertinggi

 Dengan merealisasi pencerahan ini, seseorang disebut Buddha. Jadi, mengapa Bodhisattva Sadaparibhuta selalu memuji orang lain dan tidak berani meremehkan mereka? Karena semua orang adalah calon Buddha. Ya, meski ditindas oleh orang lain, Bodhisattva Sadaparibhuta tidak pernah membalas. Inilah pandangan kesetaraan. Kita menghormati para Buddha masa lampau

 Kita yakin bahwa jika sungguh-sungguh berlatih, kita juga akan menjadi sama dengan Buddha. Kita juga yakin bahwa setiap orang suatu hari juga pasti akan memahami kebenaran ini, dapat melatih diri, dan akhirnya juga mencapai kebuddhaan. Inilah pandangan kesetaraan terhadap semua orang. Semua ini harus dimulai dari diri sendiri. Kita harus mengikuti jejak langkah para suciwan di masa lalu. Semangat ini harus kita miliki dalam mempelajari ajaran Buddha. Mengapa kita tetap belum sadar? Jika diingat kembali, ini disebut kebodohan. Mengapa kita tidak kunjung sadar dan masih terus menjadi makhluk awam? “Nama dan keuntungan membangkitkan nafsu; tipu daya merusak kebenaran

” Manusia sangat dipengaruhi nafsu keinginan. Nafsu akan nama dan keuntungan ini menyeret kita dan membuat kita terbuai di dalamnya. Kita semua memiliki kebijaksanaan yang pada hakikatnya sama dengan Buddha. Akan tetapi, kita menodai hakikat sejati ini. Kita lupa bahwa kita memiliki hakikat sejati yang sama dengan Buddha. Kita telah melupakannya. Kita telah kehilangan hakikat ini. Sesungguhnya, juga bukan kehilangan, hanya saja hakikat ini tertutupi

 Karena itu, kita menjadi makhluk awam. Akibat nafsu keinginan akan keuntungan dan nama, kita kehilangan hakikat sejati kita. Berikutnya dikatakan, “Cinta dan benci menyerang watak semua makhluk; sebab dan kondisi memupuk tabiat buruk.” Saudara sekalian, kita membedakan yang disukai dan tidak. Terhadap yang disukai,  kita terus tamak dan ingin memiliki dengan menghalalkan segala cara. Nafsu keinginan ini terus menyerang hati kita sehingga kita tidak dapat memahami prinsip kebenaran yang sederhana. Jadi, kita terus “menyerang” dan selalu ingin menguasai. Terhadap yang tidak kita sukai, kita berusaha untuk merusaknya

 Ini jugalah yang disebut “menyerang”. Kita tak mampu mengendalikan diri. Kita terus menghalalkan segala cara baik untuk mendapatkan yang kita sukai maupun merusak yang tidak kita sukai. Semua ini memengaruhi watak kita. Ada orang mungkin berkata, “Watak orang itu tidak terlalu baik.” Sesungguhnya, ini karena banyak sebab dan kondisi yang memupuk kebiasaan buruk. Sebab dan kondisi ini amat kompleks dan terus terakumulasi sehingga terus menodai batin kita. Akibatnya, kita memupuk kebiasaan buruk

 Sering dikatakan bahwa melatih diri sesungguhnya berusaha mengikis tabiat buruk kita. Inilah yang terpenting. Kebiasaan buruk adalah noda bagi kita. Noda ini berasal dari banyak sebab dan kondisi. Jika kita melekati sebab dan kondisi itu, maka kebiasaan buruk akan membuat kita semakin jauh dari hakikat sejati. Akibatnya, tabiat buruk ini menjadi watak kita. Dengan begitu, kita menjadi emosional. “Ke dalam, banyak pemikiran tak berujung; ke luar, enam indra terus terbuai

” Di dalam batin, kita seharian terus berpikir yang bukan-bukan, entah memikirkan apa. Begitu banyak yang dipikirkan, tetapi tidak satu pun membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kita hanya berpikir yang bukan-bukan. Tidak ada satu pun yang dapat membawa manfaat bagi diri sendiri, juga tiada satu pun yang membawa manfaat bagi orang lain. “Ke dalam, banyak pemikiran tak berujung.” Kita memikirkan banyak hal dan sering merasa risau. Ketika ditanya sedang memikirkan apa, jawabannya adalah tidak ada, hanya merasa risau

 Apa yang dirisaukan? Yang dirisaukan terkesan banyak. Kita merisaukan ini dan itu, tetapi entah mengapa. Begitulah manusia. Terhadap kondisi luar, mengapa kita terus risau? Saat melihat sesuatu atau mendengar sesuatu, kita merasa suka akan hal itu. Hal itu akan membuai kita atau mungkin membuat kita marah dan sebagainya. Saya sudah menjelaskan ini kepada kalian. Enam objek luar merangsang enam indra kita

 Saat enam objek, enam indra, dan enam kesadaran saling memengaruhi, maka kita akan terjerumus ke dalam penderitaan yang tak terkira. “Kebenaran alam lenyap tanpa disadari; sumber jalan pelatihan diri lenyap tanpa kembali.” Berhubung enam indra kita terbuai oleh enam objek luar, maka kita tidak sadar saat kebenaran hilang. Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kemurahan hati, keadilan, tata krama, kebijaksanaan, tatanan keluarga, hubungan orang tua dan anak, dll. Semuanya telah hilang. Karena itu, masa sekarang disebut zaman akhir Dharma, zaman di mana kebenaran tidak lagi ada dalam hati manusia, tetapi manusia sendiri tidak sadar. Jadi, dikatakan, “Kebenaran alam lenyap tanpa disadari; Jalan pelatihan diri kita sendiri juga telah kita hancurkan. Kita tidak tahu lagi cara kembali kepada hakikat sejati kita. Kita sendiri telah kehilangan Dharma

 Karena itu, kita terombang-ambing dalam lautan penderitaan dan harus kembali memulai pelatihan dari awal. Kita terombang-ambing dalam penderitaan akibat terbuainya enam indra oleh enam objek sehingga tidak lagi menyadari kebenaran dan kehilangan jalan pelatihan diri. Jika begitu, apa yang akan terjadi? Kita terombang-ambing dalam lautan penderitaan. artinya kita adalah bagian dari makhluk awam di lima alam, yakni surga, alam manusia, neraka, alam setan kelaparan, dan binatang. Kenikmatan di alam surga membuat kita terbuai. Kehidupan di alam manusia sangat rumit, sedangkan di alam neraka, setan kelaparan, dan binatang, penderitaan yang ada sungguh tak terkira. Ini bagaikan berada di lautan penderitaan. Saat masanya habis, kita harus memulai dari awal. Artinya, saat buah karma buruk selesai diterima, kita masih harus terlahir kembali di salah satu alam tadi

 Ke alam mana kita tidak tahu. Itu bergantung pada karma kita. Bagaimana cara mengakhirinya? “Hanya orang yang sempurna yang memahami kebenaran segala sesuatu.” Hanya orang yang sempurna. Orang yang sempurna adalah orang yang memiliki pencerahan tertinggi. Apa yang disebut sempurna? Mencerahkan diri sendiri, mencerahkan orang lain, serta sempurna dalam kesadaran dan praktik. Inilah orang yang sempurna. Dia dapat memahami segala kebenaran

 Dia mampu mengetahui kebenaran di balik segala sesuatu di dunia, maka mampu membimbing  semua makhluk dari keraguan dan menolong mereka dari kegelapan batin. Hanya Buddha yang mampu melakukan ini. Setelah mencapai Bhumi kesepuluh, lalu Pencerahan Setara, lalu Pencerahan Sempurna, barulah seseorang dapat membimbing semua makhluk dari keraguan. Bagaimana menyelamatkan semua makhluk yang berada di lautan penderitaan? Hanya orang yang sempurna yang bisa menyelamatkan semua makhluk yang tersesat dalam lautan penderitaan. Inilah yang disebut “mencapai pencerahan”. Orang seperti ini telah mencapai Pencerahan Setara dan Pencerahan Sempurna. Dia mampu membimbing semua makhluk Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, meski kita baru saja mulai, baru bertekad, asalkan terus melangkah maju di arah yang benar, maka batin kita tetap akan cemerlang dan dapat melihat segala kondisi dengan jelas

 Dengan terus maju melangkah di arah yang benar tanpa menyimpang, maka untuk menjadi orang yang sempurna tidaklah sulit. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888