Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 195 – Delapan Kekeliruan Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, waktu berlalu dengan sangat cepat. Sesungguhnya, ada berapa tahun dalam hidup kita? Dengan begitu cepatnya waktu berlalu, kita semakin merasa hidup kita tidak lama. Karena itu, kita harus menggenggam setiap waktu. Kita sudah membahas bahwa Dharma bagaikan air yang dapat menyucikan kegelapan batin. Saat kita membersihkan ruangan, kita tidak hanya menggunakan sapu dan pengki. Setelah menyapu kotoran, kita juga menyiramnya dengan air. Setelah dicuci, baru bisa bersih

 Jadi, kita harus selalu rajin untuk membersihkan dan menyucikan batin. Dengan begitu, barulah batin kita akan jernih. Jika jernih, batin kita akan cemerlang. Inilah pancaran kebijaksanaan. Jadi, tiada sesuatu yang istimewa dalam mempelajari ajaran Buddha, yang paling penting hanya membangkitkan kebijaksanaan agar dapat melenyapkan kegelapan batin. Banyak kekeliruan dalam kehidupan manusia. Di sini, kita terlebih dahulu membahas Delapan Kekeliruan. Karena adanya delapan kekeliruan ini, kita mudah melakukan segala kesalahan

 Jadi, kini kita ingin mengetahui mengapa delapan kekeliruan ini bisa ada. Delapan jenis kekeliruan ini dimiliki kita makhluk awam dan praktisi Hinayana. Makhluk awam memilikinya karena kegelapan batin, praktisi Hinayana memilikinya karena mementingkan pencapaian pribadi. Jadi, meski sudah melatih diri, tetapi jika berlatih dengan semangat Hinayana, maka tak akan dapat menembus kebenaran agung. Jadi, mereka masih punya pandangan keliru. Apa saja sesungguhnya Delapan Kekeliruan itu? Ini adalah pandangan Hinayana. Jadi, secara keseluruhan ada delapan. Jadi, yang paling dikhawatirkan dalam mempelajari ajaran Buddha adalah kita memiliki kekeliruan sehingga mudah berpikiran salah

 Pikiran salah adalah tidak benar. Salah berarti keliru dan tidak jelas. Inilah yang disebut salah. Jadi, untuk memahaminya, kita harus mengkajinya secara mendalam. Untuk mematahkan empat jenis noda batin tadi, kita harus memahami kebenaran. Kita harus merenungkan tubuh, perasaan, pikiran, dan segala fenomena. Kita harus merenungkan tubuh ini

 Tubuh ini tidaklah bersih. Kita semua mengetahuinya. Kita harus selalu merenungkan ini. Setiap orang, karena memiliki tubuh dan perasaan yang berkaitan dengan tubuh, maka timbullah kegelapan batin dalam pikiran. Lalu, kita menjadi keliru terhadap Dharma sehingga  mudah bersikap pasif. Praktisi Hinayana bersikap pasif dalam memahami Dharma. Jadi, jika makhluk awam tidak memahami kotornya tubuh, mereka melekat pada pandangan bahwa tubuh adalah suci. Ini karena mereka terlalu mencintai tubuh ini

 Jadi, seharusnya, saat mempelajari ajaran Buddha, kita harus terlebih dahulu memahami tubuh ini. Ajaran Konfusius juga mengatakan bahwa bencana terbesar manusia diakibatkan oleh tubuh ini. Karena adanya tubuh ini, kita dapat menciptakan banyak karma buruk sehingga mengalami banyak penderitaan. Yang diajarkan Buddha kepada kita adalah merenungkan tubuh ini. Kapan tubuh ini benar-benar menjadi milik kita? Kapan tubuh ini kekal tak berubah? Saat ibu melahirkan kita, saat itu tubuh kita lahir. Saat itu, kita disebut bayi. Setelah tumbuh dan bisa berlari, kita disebut anak-anak. Setelah tumbuh hingga berusia belasan tahun, kita disebut remaja. Saat berusia dua puluhan tahun, kita disebut anak muda

 Setelah di atas usia tiga puluhan tahun, kita disebut paruh baya. Pada usia empat puluhan tahun kita disebut mencapai usia matang. Lalu, lambat laun kita semakin menua. Jadi, sejak kita kecil, masa kecil memiliki kondisi sendiri, masa pertumbuhan juga memiliki kondisi dan sebutannya sendiri. Sesungguhnya, kapan tubuh kita ini tidak berubah? Jika kita merenungkan tubuh ini, baik saat kecil maupun masa remaja, maka pada kedua masa itu, hanya satu hal yang tidak berubah pada tubuh ini, yakni tubuh tidaklah bersih. Sejak kita kecil hingga tua, selama tubuh ini ada, tubuh kita ini tidak pernah bersih

 Lihatlah, tujuh lubang pada tubuh selalu mengeluarkan kotoran. Ini terjadi pada orang sehat sekalipun. Dari tujuh lubang pada mata, telinga, hidung, mulut, ditambah dua saluran pembuangan, seluruhnya ada sembilan lubang yang mengeluarkan kotoran. Meski kini kita sehat, tetapi suatu hari jika kita jatuh sakit atau mengalami kecelakaan, tubuh kita mungkin mengalami luka yang akan membusuk atau bernanah. Ada seorang pasien yang berasal dari Penghu. Pasien muda ini awalnya dirawat di Penghu yang minim fasilitas. Karena itu, dia yang dirawat akibat kecelakaan kondisinya terus memburuk hingga mengalami selulitis

 Kedua kakinya terus membengkak hingga seperti kaki gajah. Selain itu, berhubung dia menderita sakit dan tak dapat berjalan atau keluar, maka dia merasa sangat menderita. Dia bukan tidak diobati. Dia bolak-balik berulang kali antara Penghu dan Taiwan. Orang tua dan saudaranya juga menjaganya. Mereka selalu mengantarnya bolak-balik. hingga dirinya sulit untuk bergerak. Dia bisa makan, tetapi tidak bisa bergerak, ditambah lagi kondisi lukanya terus memburuk, maka ini menjadi sebuah siklus yang buruk

 Anak muda ini memiliki tinggi badan 175 cm. Berat badannya juga mencapai 175 kilogram. Inilah lingkaran keburukan. Kondisi tubuhnya terus memburuk. Dia sendiri masih terus makan sehingga menjadi semakin gemuk dan semakin sulit bergerak. Hingga akhirnya, anggota TIMA kita mengadakan baksos di Penghu. Warga setempat pun mengajukan kasus ini kepada anggota TIMA kita saat baksos. Para dokter kita yang penuh cinta kasih dan welas asih segera mendatangi rumahnya

 Sesampainya di sana dan melihat kondisinya, para dokter merasa tidak mungkin mengobatinya di tempat. Tidak mungkin. Jadi, mereka mengajukan kasus ini ke yayasan. Saat itu RS Tzu Chi di Xindian belum beroperasi. Jadi,  mereka menghubungi seorang anggota TIMA yang tinggal di Penghu. Dia adalah seorang kepala perawat. Kita memintanya berkunjung ke rumah pasien itu untuk membersihkan kakinya, mengganti obat, dan melihat apakah ada perbaikan

 Ternyata tidak juga. Meski ada orang yang penuh cinta kasih yang sering membantunya membersihkan kaki, bengkak di kaki pasien tidak kunjung membaik. Saat kasus ini diajukan kembali, kepala RS Tzu Chi cabang Taipei mendiagnosis bahwa pasien ini menderita penyakit langka. Beliau berharap pasien ini dibawa ke Taiwan agar dapat berobat di Taipei. Jadi, kita mulai memikirkan cara membawanya ke Taiwan dengan tubuh yang begitu berat dan kedua kaki yang bengkak. Jadi, para anggota Tzu Cheng di Penghu dan kepala perawat di sana berusaha mencari cara. Mereka bernegosiasi dengan pihak maskapai penerbangan untuk mencabut dua kursi di pesawat agar pasien ini dapat duduk. Anggota Tzu Cheng dan kepala perawat ini mendampinginya naik pesawat hingga tiba di Taiwan. Di bandara Taiwan, anggota TIMA, para anggota Tzu Cheng, serta dokter dari RS Tzu Chi Xindian segera menjemput pasien muda ini

 Dia segera dibawa ke RS Tzu Chi Xindian. Ini juga membutuhkan usaha yang besar. Kita harus menggunakan kendaraan khusus. Pasien ini harus masuk lewat pintu belakang mobil, sulit sekali. Dapat kita bayangkan, kedua kakinya penuh luka yang membusuk. Kita juga dapat membayangkan bahwa aroma dari luka yang membusuk itu tentu tidak sedap. Setibanya di rumah sakit, kepala RS Tzu Chi Xindian segera mengumpulkan semua kepala departemen untuk memutuskan cara penanganan bersama. Hasilnya, diputuskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengangkat semua jaringan mati

 Proses ini mungkin menyakitkan karena digunakan pisau dan sikat. Karena akan menimbulkan rasa sakit, maka dikerahkan empat ahli anestesi. Pada operasi biasa, tidak perlu begitu banyak orang. Namun, pada kasus pasien ini, kita harus mengerahkan empat ahli anestesi. Mengapa? Karena tubuhnya terlalu besar. Obat bius harus disuntikkan di berbagai tempat pada tubuhnya

 Akan tetapi, semua tenaga medis tetap dengan penuh cinta kasih dan kesabaran menghadapi aroma yang tidak sedap itu untuk membantunya dan membiusnya hingga setengah badan. Pasien ini tetap dalam keadaan sadar. Kepala dan wakil kepala RS beserta relawan berdiri di sisinya dan terus berbicara kepadanya, “Sakit tidak?” “Apakah mati rasa?” “Itu karena…” Mereka terus mengajaknya bicara untuk menghilangkan rasa takutnya. Begitulah, kita bisa melihat banyak darah bercucuran. Intinya, tubuh benar-benar tidak bersih

 Kita telah melihat para dokter dan perawat terus menjaga pasien. Terlebih lagi, pasien ini membutuhkan pendampingan jangka panjang dari kita. Ayahnya masih bekerja. Karena anak ini terluka, ayahnya juga harus berhenti bekerja. Mereka bergantung pada ibunya yang bekerja di pantai Penghu. Jika ada orang yang jalanya atau alat pancingnya rusak, sang ibu bekerja memperbaikinya. Kakaknya sudah berkeluarga. Dapat kita bayangkan bagaimana kondisi kehidupan keluarga ini

 Penggantian biaya oleh asuransi sangat kecil untuk penyakit ini. Jadi, Tzu Chi bukan hanya menggerakkan relawan dan para dokter spesialis, melainkan yang terpenting adalah tak peduli kita dapat penggantian biaya dari pihak asuransi atau tidak, insan Tzu Chi tidak memikirkannya. Yang terpenting adalah berusaha agar anak muda ini dapat sehat seperti sediakala. Insan Tzu Chi bahkan menghimpun cinta kasih banyak orang untuk menghibur batinnya dan merawat tubuhnya. Tiada orang yang mengeluh bau, tiada juga yang mengeluh repot, terutama saat membantunya membersihkan tubuh. Setelah dibersihkan satu kali, tubuhnya terlihat jauh lebih segar. Ayahnya mendampinginya

 Beliau berkata kepada dokter bawah bengkak pada tubuh anaknya semakin besar. Lukanya pun tiba-tiba pecah. Darahnya terus mengalir tanpa henti bagaikan air yang mengalir di saluran air. Anak itu berkata, “Siapa bilang darahnya mengalir?” “Darahnya menyembur.” Saat lukanya terbuka, pembuluh darahnya juga ikut terbuka, sehingga darahnya menyembur keluar. Saat mendengar ayah dan anak ini berbicara, kita sudah merasa tak sampai hati, juga merasa takut. Saudara sekalian, tubuh ini tidak bersih

 Jika sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi di daerah pedalaman atau di pulau terpencil, apakah ada pengobatan untuk korban? Ada, tetapi sangat terbatas. Kasus kecelakaan lalu lintas yang seharusnya bisa ditangani dengan mudah menjadi sulit hingga kondisi pasien memburuk. Dia harus bolak-balik antara Taiwan dan Penghu, sungguh menderita. Intinya, seorang pemuda gagah dengan tinggi badan 175 cm dapat berubah akibat suatu penyakit hingga beratnya mencapai 175 kg. Kini kita sedang berusaha bukan hanya untuk mengobati kakinya, tetapi juga mengurangi berat badannya. Sesungguhnya, mengendalikan nafsu makan juga sulit. Saya mendengar cerita wakil kepala RS kita, saat tim medis menjenguknya, mereka menemukannya sedang makan. Makan apa? Biskuit

 Dia juga diam-diam minum minuman ringan. Semua ini tidak baik bagi kesehatannya. Namun, dia tidak dapat mengendalikan diri. Jadi, pengobatannya sangat sulit. Mengendalikan diri sendiri saja dia merasa sulit. Jadi, pengobatannya masih membutuhkan waktu lama. Tim medis dan pasien harus sangat sabar

 Inilah perenungan terhadap tubuh yang tidak bersih. Kita sering mendengar bahwa bisa bernapas berarti masih sehat. Jika napas berhenti, maka tanpa perlu menunggu lama, belatung akan tumbuh pada tubuh. Kulit kita akan membusuk. Jika ini terjadi di musim panas, maka pembusukan akan terjadi kurang dari sehari. Jadi, coba bayangkan, luka saat masih hidup saja sudah menimbulkan bau tak sedap, apalagi saat napas berhenti dan tubuh membusuk. Bayangkan, seberapa bersihkah tubuh ini? Sedikit pun tidak bersih

 Namun, meski tubuh tidak bersih, jika kita bertekad untuk melatih diri, maka kita tetap harus menjaga tubuh ini karena tubuh adalah sarana melatih diri. Dengan adanya tubuh ini, kita baru bisa melakukan banyak hal. Dengan adanya tubuh yang sehat, kita baru bisa melatih diri. Jadi, kita harus memahami kebenaran bahwa tubuh ini tidak bersih. Kita juga harus tahu dan paham dengan jelas bahwa kita harus tetap menjaga kesehatan tubuh. kita harus berjalan di Jalan Tengah

 Jika kita terus memikirkan bahwa tubuh tidak bersih, maka kita akan cenderung menutup diri. Sebaliknya, jika menganggap tubuh ini bersih, juga sangat berbahaya. Praktisi Hinayana melekat pada teori bahwa tubuh tidak bersih, sedangkan makhluk awam menganggap tubuh bersifat bersih. Mereka tidak memahami kapankah tubuh kita tidak berubah. Apakah pada saat kita kecil? Apakah saat kita sudah tua? Apa saja yang membentuk tubuh ini? Mereka tidak memahami semua ini. Makhluk awam seperti ini hanya mencari kesenangan di depan mata dan bertindak sesuai nafsu keinginan. Mereka menggunakan tubuh ini untuk melakukan hal-hal yang tidak benar

 Ini karena mereka tidak mengerti kebenaran tentang tubuh ini. Sebagai praktisi pelatihan diri, berhubung sudah memahami hal ini, maka kita harus menggunakan tubuh ini sebagai sarana melatih diri. Kita harus menggunakan tubuh ini untuk melatih diri. Kita bukan berlatih metode Hinayana. Kita harus berlatih praktik Bodhisattva. Jadi, kebenaran tentang kotornya tubuh ini sangatlah dalam. Harap semua orang memahami kebenaran ini

 Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Baik sandang, pangan, papan, maupun transportasi, semua digunakan untuk tubuh ini. Karena itu, terhadap empat hal ini, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888