Sanubari Teduh – 197 – Delapan Kekeliruan Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, kemarin, hari ini, dan besok adalah istilah yang berbeda-beda. Anda, saya, dan dia adalah panggilan yang berbeda-beda. Manusia awam saling bertikai demi istilah dan panggilan yang berbeda-beda ini. Sikap saling bertikai adalah kekeliruan. Sebelumnya, kita sudah membahas tentang Delapan Kekeliruan. Kita sudah membahas Makhluk awam diliputi noda batin dan suka perhitungan. Noda batin dan kemelekatan membuat kita dipenuhi kerisauan
Kita sudah membahas hingga kekeliruan makhluk awam keempat, yakni tentang ketidaksucian. Pada dasarnya tubuh manusia memang tidaklah bersih, tetapi makhluk awam menganggap tubuh ini bersifat bersih. Baik tubuh kita maupun tubuh orang lain, semua manusia menganggap tubuh mereka masing-masing adalah bersih. Karena itu, timbullah ketamakan. Baik pria maupun wanita, semuanya tamak akan rupa. Mereka percaya tubuh ini bersifat kekal dan bersih
Sesungguhnya, tubuh ini tidaklah bersih karena adanya Lima Kekotoran. Akan tetapi, makhluk awam tidak mengerti di mana tidak tidak bersihnya tubuh. Manusia memiliki Lima Kekotoran, dimulai dari benih yang tidak bersih. Apakah benih yang dimaksud? Artinya, manusia lahir dengan membawa benih karma. Bukankah kita sering berkata bahwa segala sesuatu tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti? Segala perbuatan kita di masa lalu akan menjadi benih yang mengikuti kita. Jika kita melakukan perbuatan buruk, maka benih yang kita bawa adalah benih buruk. Kekuatan karma, perpaduan sperma dan telur orang tua, dan kesadaran kedelapan kitalah yang telah menghasilkan benih yang tidak bersih ini
Inilah benih yang tidak bersih. Selanjutnya adalah unsur penyusun yang tidak bersih. Kita harus merenungkan unsur penyusun tubuh kita ini. Setiap hari kita memakan makanan dan mencernanya. Adakah yang bersih? Jadi, unsur penyusun tubuh kita sungguh tidak bersih. Suatu hari, saya menghadiri Acara Pemberkahan Akhir Tahun untuk anggota komite dari wilayah timur Taiwan
Saat baru masuk ke dalam, saya melihat ada seseorang duduk di atas kursi roda. Saat melihat saya, dia berkata dengan penuh hormat, “Master, saya ingin mengucapkan terima kasih.” “Saya ingin bertobat.” “Mengapa kamu ingin berterima kasih?” “Master yang menolong saya.” “Kapan saya menolong kamu?” Dia berkata sambil menunjuk kepalanya, “Saya yang bermarga Guo itu.” “Dahulu seluruh kepala saya ditumbuhi belatung.” “Beruntung Master menolong saya
” Saya masih kebingungan mendengarnya. Seorang anggota Tzu Cheng di sebelah saya berkata, “Master, dia adalah orang yang jatuh ke jurang selama 5 hari 4 malam.” “Akhirnya, dia tertolong.” Saat itu saya sedang tergesa-gesa untuk masuk. Setelah mendengar kata relawan itu, saya baru ingat dan berkata, “Ternyata kamu orangnya.” “Kamu sudah sembuh hingga seperti ini
” “Sungguh sulit dipercaya.” “Anda bisa berbagi hal ini dengan orang lain.” Seorang relawan Tzu Cheng berkata, “Ya.” “Hari ini dia akan berbagi di atas panggung.” Lalu, dia sungguh-sungguh naik ke atas panggung untuk menjelaskan salah satu bagian dari 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, yaitu perenungan bahwa tubuh tidak bersih. Pada bagian ini, dia keluar dan berbagi bahwa dia ke atas gunung untuk bekerja. Saat pulang di waktu senja, karena tidak berhati-hati, mobilnya jatuh ke jurang
Di sana, kepalanya terluka. Seluruh tubuhnya mengalami patah tulang, bahkan kepalanya juga cedera. Saat itu, dia terus berteriak meminta tolong. Namun, tidak ada orang yang mendengarnya. Tiada orang yang mendengarnya meminta tolong. Setelah malam hari berlalu, tibalah pagi hari
Dia kembali berteriak meminta tolong, tetap tak ada orang yang mendengarnya. Hari kembali malam. Setelah malam berlalu, hari kembali pagi. Hingga pada hari kelima, dia tiba-tiba teringat dan berdoa di dalam hati, “Master, Anda harus menolong saya.” “Anda harus menolong saya.” Sungguh luar biasa, saat itu ada orang yang mendengar suaranya meminta tolong. Mereka mencari asal suara tersebut dan menemukannya di dasar jurang
Lalu mereka segera memanggil ambulans. Untuk menolongnya dari dasar jurang, sungguh tidak mudah. Orang yang turun ke bawah mendapati bahwa dia sudah sangat lemah. Selain itu, seluruh kepalanya penuh dengan sesuatu yang berwarna putih. Setelah dilihat lebih jelas, benda-benda itu bisa bergerak. Ternyata kepalanya ditumbuhi belatung. Karena fraktur pada tulang tengkoraknya dan lukanya yang tidak diobati selama berhari-hari, maka ia telah ditumbuhi belatung. Mereka pun segera menolongnya dan melarikannya ke Rumah Sakit Tzu Chi
Setelah tiba di rumah sakit, baik dokter, perawat, maupun tenaga medis, semua bergerak untuk membersihkan kepalanya. Mereka menggunakan penjepit untuk menjepit belatungnya. Selain belatung, kepalanya juga sudah bernanah. Terlebih lagi, belatung sudah berkembang biak di sekitar matanya. Kita bisa membayangkan bagaimana dia bertahan hidup selama 5 hari 4 malam itu. Kabarnya, di tempat dia jatuh itu ada rumput yang sangat tinggi. Karena itu, saat turun hujan dan embun, tetesan air dari rumput itu pas jatuh ke mulutnya. Demikianlah dia bertahan hidup
Namun, dia menderita luka yang sangat parah. Setelah lebih dari setahun berlalu, dia masih menjalani fisioterapi. Dia masih membutuhkan tongkat jalan berkaki empat dan masih harus duduk di kursi roda. Lalu, saya bertanya padanya, “Mengapa kamu ingin bertobat?” Dia berkata bahwa pada tahun 1994, dia sudah mengikuti pelatihan calon Tzu Cheng. Namun, karena beberapa alasan, dia meninggalkan pelatihan dan tidak menjalani pelantikan. Hari itu dia berkata, “Pakaian yang saya kenakan ini saya beli untuk persiapan di hari pelantikan.” Hari itu, dia mengenakan jas dan sepatu Tzu Cheng
Ternyata, dia memang sudah bersiap-siap untuk dilantik. Namun, mengapa dia meninggalkan pelatihan? Karena waktu di hari itu sangat terbatas, dia tidak menjelaskannya secara mendetail. Namun, dari hal ini kita bisa tahu bahwa saat ajal belum tiba, seseorang akan mampu untuk bertahan hidup. Mobilnya jatuh ke jurang, dia terpental keluar hingga mengalami patah tulang tengkorak dan patah tulang di seluruh tubuh, tetapi masih bisa bertahan selama 5 hari 4 malam. Bahkan kepalanya sudah ditumbuhi belatung, tetapi dia masih bisa bertahan hidup. Suaranya yang demikian lemah bisa terdengar oleh orang. Lima hari sebelumnya, pasti suaranya lebih besar, tetapi mengapa tiada orang yang mendengarnya? Lima hari setelahnya, dia sudah sangat tidak bertenaga
Saat dilarikan ke rumah sakit, dia sudah tak bisa bersuara. Mengapa saat dia berteriak, ada orang yang mendengarnya? Ini sungguh sulit dipercaya. Terlebih lagi, setelah mengalami luka parah, dia masih bisa pulih. Para dokter, perawat, dan relawan RS kita juga sulit memercayainya. Jadi, sebelum buah karma matang, dia tidak bisa pergi. Inilah naskah hidupnya
Sebelum mementaskan perannya hingga habis, dia tidak bisa membungkukkan badan dan turun dari panggung. Dia masih harus terus melanjutkan perannya. Dia menjalani pemulihan selama 1 tahun lebih dengan penuh kesulitan. Bayangkan, tulangnya patah pada beberapa bagian. Kini, untuk bergerak saja, dia harus dipapah banyak orang. Namun, kini dia sudah bisa berdiri perlahan-lahan dengan menggunakan alat bantu
Setelah turun dari panggung, dia datang ke hadapan saya dan berkata, “Master, saya sangat berterima kasih.” “Saya akan bertobat.” “Selama selang waktu ini, saya terus bertobat.” Saya berkata, “Kembalilah setelah kamu sehat kembali.” Dia menjawab, “Ya.” “Saya akan kembali mengikuti pelatihan
” Lihatlah, dalam hidup ini banyak hal yang sulit dibayangkan, tetapi malah terjadi di depan kita. Kita juga mendengar dr. Hsu berbagi bahwa saat Bapak Guo dilarikan ke rumah sakit, seluruh kepalanya penuh dengan belatung. Sangat menakutkan. Namun, mengapa Bapak Guo tidak meninggal? dr. Hsu kembali berkata, “Kita seharusnya berterima kasih kepada belatung-belatung itu.” “Ini karena belatung-belatung itu sudah memakan bakteri dan sel-sel rusak lainnya
” Karena itulah, bakteri tidak menginfeksi otaknya. Sel yang sudah mati dan rusak sudah dimakan oleh belatung. ================ Sungguh, satu hal dapat mengatasi hal yang lain. Dia termasuk beruntung. Jadi, unsur penyusun tubuh manusia awam Karena itu, kita harus selalu merenungkan bahwa tubuh tidak bersih
Berikutnya adalah karakteristik tidak bersih. Contohnya saat kita menderita penyakit atau orang yang terlahir dalam kondisi cacat. Ada orang yang mengalami keterbelakangan mental, ada pula orang yang menderita cacat fisik. Ini semua adalah karakteristik yang tidak bersih. Yang kelima adalah akhir yang tidak bersih. Setelah meninggal dunia, unsur tanah dan air pada tubuh manusia akan kembali terurai. Saat unsur tanah terurai, jenazah akan membusuk
Saat unsur air terurai, jenazah akan mengeluarkan cairan. Unsur api juga akan terurai. Ini terlihat pada penurunan suhu tubuh saat manusia meninggal. Unsur angin juga terurai karena manusia tak lagi bernapas. Karena tak lagi bernapas, maka manusia kehilangan panas tubuh sehingga tubuhnya membusuk dan mengeluarkan cairan. Sungguh, akhir adalah tidak bersih
Inilah Lima Kekotoran pada tubuh manusia. Sejak terlahir ke dunia, kita sudah membawa benih yang tidak bersih. Kesadaran kedelapan kita dan perpaduan sperma dan telur orang tua adalah benih yang tidak bersih. Hingga saat meninggal, akhir kita juga tidak bersih. Jadi, tubuh manusia memiliki Lima Kekotoran
Makhluk awam selalu menganggap yang tidak suci sebagai suci. Karena tidak memahami kebenaran, makhluk awam terbelenggu oleh ketamakan. Akibat terbelenggu oleh lima jenis nafsu keinginan, manusia menjadi gemar bertikai. Semua itu terjadi pada tubuh ini. Karena itu, pandangan bahwa tubuh ini adalah suci Inilah kekeliruan makhluk awam. Empat Kekeliruan pertama adalah pemahaman keliru makhluk awam, Empat Kekeliruan berikutnya adalah pemahaman keliru praktisi Hinayana
Mereka menganggap yang kekal sebagai tidak kekal. Apa yang disebut kekal? Yang kekal adalah tubuh Dharma yang abadi. Ketidakkekalan adalah perubahan yang berkesinambungan. Kehidupan makhluk awam adalah tidak kekal dan terus berubah tanpa henti. Ini sudah saya jelaskan sebelumnya
Namun, ada sesuatu yang kekal di dunia ini. Ini juga sudah saya ulas sebelumnya. Tubuh Dharma murni dari Buddha bersifat kekal dan tidak akan lenyap. Selain dimiliki oleh Buddha, setiap orang dari kita juga memilikinya. Buddha berkata kepada kita bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tidak ada perbedaan
Setiap orang memiliki hakikat yang murni dan abadi. Asalkan kita membangkitkan kebijaksanaan, maka tubuh Dharma ini akan ada selamanya. Namun, praktisi Hinayana yang mencakup Sravaka, Pratyekabuddha, dan lain-lain yang belum benar-benar bebas dari ketidaktahuan hanya melekat pada pandangan dan pemahaman “tidak kekal, bukan aku, tidak suci, dan bukan kebahagiaan”. Mereka hanya melekat pada pandangan ini. Akibatnya, mereka tak dapat memahami bahwa hakikat kebuddhaan dan tubuh Dharma adalah sesuatu yang kekal
Mereka tak dapat memahaminya. Jadi, mereka hanya melekat pada pandangan “tidak kekal, bukan kebahagiaan, bukan aku, tidak suci”. mereka hanya berlatih demi pencapaian pribadi. Mereka berpandangan keliru tentang fase timbul dan lenyap. Mereka hanya menganggap segala sesuatu di dunia terus mengalami perubahan dan tidak kekal. Akibat ketidaktahuan ini, mereka tidak memahami “kekekalan, kebahagiaan, Aku, dan kesucian” Mereka menganggap yang kekal sebagai tidak kekal. Yang keenam adalah menganggap kebahagiaan sebagai bukan kebahagiaan. Praktisi Hinayana menganggap di dunia ini tiada hal yang membahagiakan
Terhadap sesuatu yang membahagiakan, mereka berkata itu bukan kebahagiaan. Apakah yang disebut kebahagiaan? Kebahagiaan dalam kemurnian Nirvana. Nirvana adalah kondisi yang tenang dan hening. Saya sering mengulas tentang kondisi yang hening dan jernih. Itu adalah sebuah kondisi yang sangat cemerlang, tenang, dan jernih. Namun, mereka tak dapat merasakannya
Mereka menganggapnya sebagai penderitaan dan bukan kebahagiaan. Mereka tidak merasakan kondisi yang hening dan jernih. Masih ingatkah kalian dengan kisah Zhuangzi dan temannya yang berjalan di atas jembatan? Saat melihat aliran sungai yang jernih dan ikan-ikan yang berenang di dalamnya, Zhuangzi berkata, “Sangat bahagia, sangat bahagia.” Temannya yang berdiri di sana berkata, “Apa yang membuatmu bahagia?” “Lihatlah, ikan-ikan berenang dengan gembira.” Temannya berkata, “Kamu bukan ikan, bagaimana kamu tahu ikan-ikan itu merasa gembira?” Zhuangzi menoleh ke arah temannya sambil berkata, “Kamu juga bukan saya.” “Bagaimana kamu tahu saya tidak gembira?” Inilah kondisi yang berbeda
Bagaimana praktisi Hinayana bisa memahami kebahagiaan Dharma Mahayana? Mereka tak dapat merasakan kebahagiaan ini. Jadi, mereka menganggap kebahagiaan sebagai bukan kebahagiaan. Jika kita dapat mencapai kondisi yang hening dan jernih, maka itulah kondisi Nirvana, yaitu kebahagiaan yang abadi. Makhluk awam tidak bisa merasakannya. Praktisi Hinayana menganggap kebahagiaan sebagai penderitaan. Ini disebut menganggap kebahagiaan sebagai bukan kebahagiaan. Singkat kata, makhluk awam dan praktisi Hinayana memiliki noda batin yang berbeda
Makhluk awam melekat pada kekekalan, kebahagiaan, keakuan, dan kesucian, sedangkan praktisi Hinayana melekat pada ketidakkekakalan, ketidakbahagiaan, ketanpaakuan, dan ketidaksucian. Akibat kemelekatan ini, mereka merasa sangat tidak bahagia dan sangat pasif. Inilah praktisi Hinayana. Saudara sekalian, dalam mendalami ajaran Buddha, kita harus lebih bersungguh hati. Tak peduli tubuh kita bersih atau tidak bersih, kita harus memahami kebenaran lewat semua orang dan hal yang kita temui
Sesungguhnya, prinsip kebenaran bersifat netral. Hal yang tidak membahagiakan timbul dari hubungan antarmanusia dan masalah yang dihadapi. Jika bisa memahami kebenaran, maka kita akan berjalan di Jalan Tengah dan merasakan kebahagiaan. Untuk itu, kita harus selalu bersungguh hati