Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 198 – Delapan Kekeliruan Bagian 4

Saudara Se-Dharma sekalian, kita sudah mengulas tentang Delapan Kekeliruan. Makhluk awam memiliki Empat Kekeliruan, sedangkan para praktisi Hinayana, baik Sravaka maupun Pratyekabuddha, juga memiliki Empat Kekeliruan. Kekeliruan makhluk awam meliputi Makhluk awam melekat pada keberadaan. Karena itu, mereka sangat perhitungan dan gemar bertikai sehingga memicu banyak masalah di masyarakat yang mengakibatkan penderitaan tak terkira. Sebelumnya, kita sudah mengulas bahwa makhluk awam memiliki Empat Kekeliruan. Apakah yang kekal di dunia ini? Ia adalah tubuh Dharma yang abadi. Dharma dan prinsip kebenaran bersifat abadi. Sejak mencapai pencerahan, Buddha tak henti-hentinya berusaha untuk memberi tahu semua orang di dunia bahwa kebenaran bersifat abadi

 Karena itu, dikatakan bahwa tubuh Dharma selalu ada. Sementara itu, bagi beberapa praktisi, mereka hanya tahu bahwa banyak hal di dunia adalah tidak kekal, tanpa aku, dan lain-lain. Di tengah Empat Kekeliruan ini, mereka melekat pada pandangan bahwa semuanya tidak ada. Karena itu, mereka menjadi praktisi Hinayana yang berlatih demi diri sendiri. Kondisi kebuddhaan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan yang abadi. Namun, praktisi Hinayana menganggap kebahagiaan itu tidak ada karena dunia ini penuh dengan penderitaan. Karena itu, mereka melatih diri demi terbebas dari penderitaan ini agar bisa merasakan kedamaian yang sesungguhnya

 Ingin terbebas dari penderitaan ini, mereka malah terjerumus dalam kemelekatan. Contohnya praktisi di India yang terus menyiksa diri demi memperoleh kebahagiaan yang abadi. Ini sama sekali tidak membahagiakan. Pada saat Buddha melatih diri, Beliau berkunjung ke banyak tempat demi mendengar orang membabarkan ajaran, tetapi Beliau merasa belum memperoleh kebenaran tertinggi. Beliau lalu menempuh praktik menyiksa diri selama 6 tahun, tetapi tetap merasa belum memperoleh hasil yang diharapkan. Akhirnya, Beliau meninggalkan Hutan Uruvilva untuk memulihkan kembali kondisi fisik dan batin-Nya. Lalu, Beliau bermeditasi dan merenung hingga akhirnya memahami semua prinsip kebenaran di alam semesta ini

 Jadi, kebenaran ini sangat murni dan jernih. Ia adalah kebahagiaan yang abadi. Inilah kebahagiaan dalam kemurnian Nirvana. Kebahagiaan murni Nirvana tidak berwarna dan tidak berbentuk. Kondisi batin yang tak ternoda adalah kemurnian Nirvana. Ini yang disebut Nirvana

 Pencapaian Nirvana tidak perlu menunggu saat kita meninggal, kondisi ini bisa kita capai sekarang juga. Asalkan kondisi batin kita tak ternoda dan kita bisa mengembangkan kebijaksanaan yang cemerlang, maka itulah kebahagiaan dan kedamaian batin yang abadi. Hari ini kita akan mengulas tentang kekeliruan yang ketujuh. Praktisi Hinayana memiliki empat kekeliruan. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang kekekalan dan kebahagiaan. Sekarang kita akan membahas tentang “Aku”. Apa yang disebut dengan “Aku”? Aku adalah hakikat kebuddhaan di dalam diri. Di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi terus ditekankan bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tiada perbedaan. Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan

 Hakikat kebuddhaan adalah “Aku” yang sejati. Akan tetapi, kita tidak bisa memahaminya karena makhluk awam selalu melekat pada “aku” yang individualistis. Ini tubuh “aku”, ini orang yang “aku” kasihi. Mereka hanya mengejar hal yang mereka inginkan. Mereka menganggap segala masalah orang lain tak ada hubungannya dengan mereka. Inilah “aku” yang individualistis. Jika kita hanya mementingkan keakuan dan kepentingan pribadi, maka apa yang akan tersisa pada akhirnya? Kehidupan manusia penuh derita, ketidakkekalan, dan ketidakbahagiaan

 Makhluk awam mengetahui semua ini. hanya tahu tentang ketanpaakuan. Setelah meninggal dunia, semua unsur pada tubuh manusia akan kembali terurai. Baik unsur tanah, angin, maupun api, semuanya akan terurai dan tidak bersisa. Bagi mereka, tubuh manusia tidak bersih dan tanpa aku. Praktisi Hinayana memahami prinsip ini. Mereka tidak memahami tentang “eksistensi”

 Terlepas dari semua yang tidak murni dan tidak bersih, masih ada “Aku” yang universal dan murni. Karena itu, mempelajari ajaran Buddha, kita harus memahami bahwa Hakikat itu adalah “Aku” yang universal. Kalian tentu masih ingat gempa yang mengguncang Pakistan telah mendatangkan tragedi yang besar. Kita yang berada di Taiwan juga mendengar betapa besarnya bencana tersebut. Ia menyebabkan banyak rumah roboh dan menelan banyak korban. Namun, ada satu hal lagi yang paling membuat kita khawatir, yakni korban selamat yang menderita penyakit dan terluka. Mereka tidak memiliki tempat berteduh. Bagaimana mereka bertahan hidup? Khawatir saja tidak ada gunanya. Kita tidak hanya menganggap semua orang di dunia bagaikan satu keluarga

 Meski mereka berada jauh dari kita, kita tetap bisa segera menerima informasi ini. Kita sangat mengkhawatirkan mereka dan bisa turut merasakan penderitaan dan kesedihan yang mereka alami. Akan tetapi, apa gunanya kekhawatiran kita ini? Sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka. Kita harus segera bergerak. Para relawan dari misi pengobatan dan misi amal segera berkumpul untuk memberikan bantuan. Tim relawan dari misi amal Tzu Chi mengantarkan banyak bantuan dan berangkat ke sana untuk mencari tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Berhubung ada orang yang sakit dan terluka, maka dibutuhkan tim medis kita. Karena itu, selain para staf dari Divisi Kerohanian Tzu Chi dan anggota Tzu Cheng, para dokter TIMA juga ikut serta. Saat tim pertama Tzu Chi berangkat ke sana, para dokter dari Rumah Sakit Tzu Chi Hualien dan Dalin juga ikut serta

 Di antaranya ada dokter spesialis bedah saraf, dokter spesialis anestesi, dan lain-lain. Saat itu, saya mendengar sebuah kisah yang mengharukan. Dokter spesialis bedah saraf kita, dr. Chiu, juga berangkat bersama tim bantuan pertama ke Pakistan. dr. Chiu memiliki dua orang anak

 Kedua anak ini tahu bahwa ayahnya akan pergi jauh demi menolong orang. Mereka tahu bahwa untuk menolong orang, kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. Karena itu, mereka membiarkan ayahnya pergi, tetapi mereka juga mengkhawatirkan ayahnya yang pergi ke tempat yang begitu jauh. Anaknya yang masih kecil berkata, “Ayah akan pergi ke tempat yang jauh untuk menolong orang.” “Ini adalah sebuah kesempatan.” Dia sangat setuju ayahnya pergi

 Namun, dia juga teringat bahwa di sana adalah lokasi bencana. Pada malam hari pasti tidak ada lampu. Karena itu, dia merakit sendiri sebuah generator kecil untuk menyalakan sebuah bola lampu. Generator dan bola lampu itu sangat praktis untuk dibawa ke mana pun. Dia memberikannya pada ayahnya dan berkata, “Ayah, di tempat itu mungkin tidak ada lampu.” “Alat ini akan sangat berguna di sana.” Sang ayah merasa sangat tersentuh

 Anaknya yang masih duduk di bangku SD sudah bisa menjadi seorang penemu yang menemukan generator dengan bola lampu. Sang ayah pun segera membawanya. Setelah tiba di sana, ternyata malam pertama di sana memang tidak ada lampu. Bola lampu temuan anaknya sangat bermanfaat di sana. Chiu Yi-hsuan adalah anak kesayangan dr. Chiu

 Dia sangat memiliki kebijaksanaan. Anaknya ini sungguh perhatian. Pada malam pertama, dr. Chiu menggunakan lampu temuan anaknya. Lampu itu tak hanya menyinari kondisi sekitar, tetapi juga membuat batinnya menjadi terang. Dia merasa sangat gembira. Dari sini, kita bisa melihat bahwa anak dr. Chiu memiliki kebijaksanaan Buddha

 Kebijaksanaannya sangat murni tanpa noda. Coba kita pikirkan. Sang ayah ini bertekad untuk menolong orang di tempat yang jauh. Apa hubungan orang-orang di sana dengannya? Tidak ada. Dengan hati penuh cinta kasih dan welas asih agung, Buddha memandang semua makhluk di dunia bagai anak-Nya sendiri. Meski Pakistan sangat jauh dari Taiwan, tetapi dr. Chiu tetap mengembangkan cinta kasihnya. Karena itu, dia bertekad untuk pergi bersama tim bantuan Tzu Chi yang pertama

 Bukankah ini adalah semangat “Aku” universal? Anaknya yang masih kecil mengetahui bahwa ayahnya akan pergi menolong orang. Karena itu, dia merasa sangat bangga. Lampu buatannya yang dibawa ayahnya bisa menyinari tempat yang gelap sekaligus menyinari batin sang ayah. Melihat ayahnya pergi melakukan hal yang begitu mulia, anak ini merasa bangga kepada sang ayah. Sinar batin ayah dan anak itu saling memancar. Cinta kasih tanpa pamrih ini adalah cinta kasih yang murni dan jernih. Saudara sekalian, siapa bilang tidak ada “Aku”? Ada

 Siapa bilang tak ada kebahagiaan? Kebahagiaan ini tidak akan lenyap karena ia bersifat abadi. Meski kejadian ini telah berlalu sekian tahun, saya yakin dr. Chiu akan selalu ingat bahwa pada pertengahan bulan Oktober 2005, dia pernah menginjakkan kaki di Pakistan yang hancur dilanda bencana dan melihat banyak korban yang menderita. Dia juga merangkul para korban bencana itu secara langsung. Sekitar setengah bulan lamanya, dia tinggal di dalam tenda tanpa ada air dan listrik. Kakinya menapaki jalan yang hancur hingga sepatunya menjadi rusak. Saya yakin pemandangan seperti itu akan selamanya ada di dalam hati dr. Chiu

 Sementara di dalam hati anaknya, akan selalu penuh rasa bangga. Jadi, kita harus tahu bahwa di dunia ini ada kebahagiaan dan “Aku” universal yang tanpa pamrih. Ini adalah kebenaran, ini adalah hakikat kebuddhaan yang cemerlang dan tanpa noda. Karena itu, kita harus berbahagia. Dalam melatih diri, kita harus memahami semua orang dan segala sesuatu di dunia. Meski segala sesuatu di dunia adalah tidak kekal, bukan kebahagiaan, bukan aku, dan tidak suci, tetapi lewat semua orang dan hal yang kita temui, kita bisa semakin memahami kebenaran. Semua itu bersifat “ada”, jangan kita berkata “tidak ada”. Ada kekekalan, kebahagiaan, “Aku”, dan kesucian

 pada dasarnya, kebenaran adalah murni dan jernih. tetap menganggap yang suci sebagai tidak suci. Tadi kita telah mengatakan bahwa ada “Aku” sejati yang abadi, tetapi mereka menganggapnya tidak ada. “Aku” yang dimaksud adalah “Aku” yang universal. Kesucian yang dimaksud adalah tubuh Tathagata. Tubuh Tathagata bersifat abadi. Hakikat kebuddhaan adalah abadi. Kita semua tahu bahwa Buddha muncul dan tinggal di dunia selama 80 tahun

 Dari perubahan segala sesuatu di dunia, kita bisa melihat bahwa manusia mengalami fase muda, paruh baya, tua, hingga akhirnya meninggal. Lahir, tua, sakit, dan mati adalah fase hidup di dunia. Namun, ada sesuatu yang suci dan tidak akan lenyap selamanya. Karena itu, saya sering berkata kepada kalian bahwa usia kehidupan manusia adalah terbatas, tetapi kita memiliki sesuatu yang tidak timbul dan tidak lenyap, serta murni tak ternoda, yaitu jiwa kebijaksanaan. Jiwa kebijaksanaan adalah tubuh Tathagata. Karena itu, kita sering berkata bahwa kita bukan hanya mempelajari pengetahuan. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menyerap kebijaksanaan. Ia adalah kondisi batin Buddha yang suci dan abadi

 Hakikat ini tak hanya dimiliki oleh Buddha, hanya saja makhluk awam hanya melekat pada tubuh jasmani. Tubuh jasmani ini membutuhkan makanan. Makanan dicerna dan menyisakan kotoran. Tubuh seperti ini tidak bersih. Selain tubuh tidak bersih, banyak hal yang membuat kita dipenuhi kerisauan. Inilah tubuh jasmani makhluk awam. Saat tubuh jasmani ini terluka, ia akan berdarah, lalu mengalami infeksi dan bernanah. Ia sungguh tidak bersih

 Sebaliknya, jiwa kebijaksanaan kita tidak bisa dilukai oleh apa pun. Kita harus memahami hal ini. Namun, bagi praktisi Dua Kereta, mereka hanya mendengar Dharma. Mereka mengetahui banyak ajaran, tetapi tidak memahami kebenaran. Bagi Pratyekabuddha, mereka hanya berlatih demi diri sendiri dan menganggap masalah orang lain tak ada hubungannya dengan mereka. Ini karena mereka belum memahami kebenaran sejati. Ini karena mereka masih belum benar-benar bebas dari ketidaktahuan. Karena itu, kita harus sangat waspada. Kita mempelajari ajaran Buddha bukan demi menambah pengetahuan dan mengetahui banyak kosa kata Buddhisme

 Bukan demikian. Kita harus sungguh-sungguh memahami bahwa jiwa kebijaksanaan adalah suci tanpa noda. Karena itu, kita hendaknya menggali lebih dalam tentang kebenaran ini. Jadi, setelah memahami Delapan Kekeliruan ini, kita hendaknya jangan melekat pada Empat Kekeliruan makhluk awam, yakni menganggap yang tidak kekal sebagai kekal, menganggap yang bukan kebahagiaan sebagai kebahagiaan, menganggap yang “bukan aku” sebagai “aku”, dan menganggap yang tidak suci sebagai suci. Di dalam kehidupan makhluk awam, adakah yang suci, bahagia, dan “aku”? Hingga akhirnya, semuanya akan lenyap. Hari kemarin dan hari ini terus berganti. Jika tidak berbuat apa-apa, maka kehidupan kita akan berlalu begitu saja

 Inilah “aku” yang semu. Jika kemarin kita perhitungan dengan orang, maka hati kita akan penuh dengan noda batin. Hari sudah berlalu, tetapi noda batin masih ada. Hingga kapan kita akan terbelenggu noda batin? Setelah kita meninggal pada kehidupan ini, noda batin ini masih tetap ada. Di manakah ia berada? Ia akan menjadi benih yang tidak bersih dan mengikuti kita hingga kehidupan mendatang. Kita sudah mengulas bahwa manusia memiliki Lima Kekotoran. Yang pertama adalah benih yang tidak bersih

 Benih yang tidak murni berasal dari noda batin kita pada masa lalu. Lalu, dengan adanya jalinan jodoh dengan orang tua, maka dari perpaduan sperma dan telur orang tua, kita terlahir ke dunia ini. Kita terlahir ke dunia dengan membawa benih yang tidak bersih. Apakah dunia ini bersih? Tidak bersih. Apakah gunung, sungai, dan tanah di bumi ini bersifat kekal? Tidak. Akan tetapi, makhluk awam menganggap semua itu adalah kekal. Karena itu, mereka terus bertikai. Sebaliknya, bagi praktisi Hinayana, seperti Sravaka dan Pratyekabuddha, mereka tahu bahwa tubuh jasmani tidak bersih

 Pemahaman mereka hanya sebatas itu karena mereka tidak membuka hati untuk memahami lebih mendalam. Kita harus memahami adanya kekekalan, kebahagiaan, Aku, dan kesucian. Yang terpenting dalam melatih diri adalah kita harus memahami dan merasakan kekekalan, sifat tanpa pamrih, pembebasan, dan kebijaksanaan yang bahagia seperti Buddha. Kita harus selalu melapangkan dada hingga bisa merangkul seluruh jagat raya. Kita harus memandang semua makhluk di dunia dengan setara sebagai satu kesatuan. Kita harus memiliki perasaan seperti ini. Dengan begitu, semua akan terlihat suci. Setelah bersumbangsih, jika hati tetap bebas dari kemelekatan, bukankah ini kondisi batin yang jernih? Inilah kebijaksanaan. Yang kita rasakan adalah kebahagiaan yang abadi atau disebut sukacita dalam Dharma

 Sukacita dalam Dharma ini adalah kebenaran yang sesungguhnya. Jadi, Saudara sekalian, makhluk awam melekat pada Empat Kekeliruan. Kita harus segera berusaha membebaskan diri dari kemelekatan ini. Dalam melatih diri, janganlah kita melekat pada pencapaian pribadi. Dengan demikian, barulah kita bisa sungguh-sungguh terbebas dari belenggu noda batin dan bisa menuju jiwa kebijaksanaan yang cemerlang dan abadi. Untuk itu, semoga kita selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888