Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 199 – Delapan Kekeruhan

Saudara se-Dharma sekalian, kondisi sekeliling kita begitu hening dan jernih, tetapi kondisi batin manusia entah apakah dapat memiliki tekad yang luhur. Kita sering membahas “tekad yang luas dan luhur, teguh tak tergoyahkan dalam masa miliaran kalpa”. Inilah kondisi batin abadi yang ingin dicapai oleh setiap praktisi Buddhis. Kekekalan, kebahagiaan, Aku, dan kesucian Buddha adalah kondisi yang ingin kita capai. Lewat setiap hal yang ditemui, kita bisa memasuki kekekalan, kebahagiaan, Aku, dan kesucian atau yang disebut kondisi yang hening dan jenih. Untuk itu, setiap praktisi Buddhis harus memiliki tekad yang luas dan luhur serta teguh tak tergoyahkan. Jadi, hati kita harus senantiasa murni dan jernih

 Hati makhluk awam dan praktisi Hinayana masih belum benar-benar bebas dari kegelapan batin sehingga tidak dapat memahami kebenaran yang murni dan abadi. Karena itu, pelatihan diri kita harus melampaui praktisi Hinayana dengan cara menapaki Jalan Bodhisattva yang lurus dan lapang. Dengan hati yang tak tercemar, kita harus terjun ke tengah umat manusia. Di tengah keduniawian ini, hati kita jangan terpengaruh oleh pandangan makhluk awam. Meski hidup di tengah keduniawian, hati kita harus bebas dari kekeruhan. Bagaimana agar kita bisa terbebas dari kondisi makhluk awam yang tidak bersih dan penuh kekeruhan? Kita harus bersungguh-sungguh melatih diri. Sekarang kita akan mengulas tentang Delapan Kekeruhan

 Delapan Kekeruhan adalah delapan jenis noda batin. Noda ini adalah kotoran yang mencemari pikiran kita. Apa yang dimaksud dengan kotoran batin? Kita semua tahu bahwa manusia sering kali terbuai oleh nafsu keinginan sehingga menyebabkan kegelapan batin membelenggu pikiran kita. Karena pikiran kita terbuai oleh berbagai jenis nafsu keinginan, maka timbullah noda batin. Jadi, kekeruhan timbul karena batin kita telah tercemar oleh berbagai kotoran. Delapan Kekeruhan ini hanyalah delapan bagian besar dari berbagai jenis kekotoran batin, yang kita sebut dengan kekeruhan. Sesungguhnya, Delapan Kekeruhan ini bisa dibagi lagi menjadi banyak jenis. Manusia memiliki 84.000 noda batin.

Namun, secara garis besar, kita membaginya menjadi 8 jenis. Ada orang yang bukan hanya tak menghormati Tiga Permata, tetapi juga enggan melafalkan dan membabarkan ajaran, bahkan memiliki pikiran yang buruk. Artinya, hati mereka tidak memiliki keyakinan. Karena tidak memiliki keyakinan, maka mereka enggan memberi hormat. Jadi, dari tubuh, ucapan, dan pikiran, selain tidak menunjukkan keyakinan dan tidak mau memberi hormat, mereka juga berpikiran buruk. Ini karena tubuh, ucapan, dan pikiran mereka telah tercemar. Tanpa hati yang murni dan jernih, maka tubuh, ucapan, dan pikiran kita akan tercemar oleh tiga jenis kekeruhan

 Kekeruhan yang keempat adalah tidak berbakti pada orang tua. Kita harus tahu dari mana tubuh kita berasal. Sebelumnya kita sudah mengulas bahwa kita terlahir ke dunia dengan membawa benih karma dan jalinan jodoh dengan orang tua. Setelah sperma dan telur orang tua berpadu, kita dikandung dalam rahim ibu hingga akhirnya terlahir ke dunia ini. Di dalam keluarga, kita memiliki tali kekeluargaan dengan orang tua. Baik terhadap orang tua maupun terhadap saudara kita, kita harus membangkitkan hati penuh rasa syukur dan bakti karena sejak terlahir ke dunia, kita menerima kasih sayang dari orang tua

 Kita sering melihat di dunia ini, ada berbagai jenis hubungan orang tua dan anak. Mereka memiliki kehidupan yang berbeda-beda dan hubungan yang berbeda-beda pula. Banyak hubungan penuh dendam yang tidak kunjung selesai. Ini karena sejak terlahir ke keluarga itu, di hati kita sudah ada kekeruhan. Orang yang hidup sesuai kebenaran akan tahu berbakti kepada orang tua. Orang tua berkorban untuk anak-anaknya tanpa keluh kesah dan penyesalan. “Berharap putri bisa menjadi burung phoenix dan putranya bisa menjadi naga” adalah harapan semua orang tua di dunia. Sebagai anak yang mematuhi kebenaran, kita harus tahu membalas budi luhur orang tua

 Sejak kecil, kita disayang dan dibesarkan oleh orang tua. Setelah dewasa, kita berkeluarga dan meniti karier. Setelah kita berkeluarga dan meniti karier, orang tua kita sudah menua. Itulah saatnya bagi kita untuk membalas budi luhur orang tua. Sebaliknya, anak yang tidak mematuhi kebenaran adalah anak yang tidak berbakti. Ia juga disebut pembangkang. Sikap tidak patuh akan berubah menjadi membangkang

 Membangkang berarti tidak berbakti. Ini disebut tidak berbakti kepada orang tua. Ini terjadi karena hati kita sudah tercemar. Saat seseorang hidup tidak sesuai kebenaran, itu berarti hatinya sudah tercemar. Yang kelima adalah tidak menghormati guru. Ini adalah kekeruhan yang kelima. Kita harus tahu bahwa orang tua melahirkan dan membesarkan kita

 Setelah tumbuh besar, kita berkeluarga dan meniti karier. Untuk bisa mencari nafkah, kita mulai bersekolah sejak kecil. Guru mendidik kita bagaimana memilih jalan hidup yang benar. Mereka menunjukkan jalan yang benar kepada kita. Orang pada zaman dahulu tidak berkesempatan untuk bersekolah, tetapi mereka memiliki keterampilan sehingga bisa mencari nafkah dengan mudah. Karena itu, orang zaman dahulu selalu mencari guru. Agar kelak bisa mencari nafkah, mereka membutuhkan guru yang bisa mewariskan keterampilan. Ada orang berkata bahwa untuk menjadi tukang kayu mereka harus belajar selama 3 tahun 4 bulan

 Selama masa itu, mereka harus sangat menghormati gurunya agar bisa mempelajari keterampilan. Belajar menjahit baju juga membutuhkan waktu 3 tahun lebih. Selama masa itu, mereka harus membantu pekerjaan rumah sang guru, baru diizinkan untuk mempelajari keterampilan. Mereka sangat patuh dan hormat kepada guru mereka. Tak peduli belajar keterampilan apa pun, usai belajar dan meninggalkan sang guru, mereka dipenuhi rasa syukur seumur hidup. Berkat keterampilan yang diwariskan oleh sang guru, barulah mereka bisa mencari nafkah. Ini disebut menghormati guru

 Ini juga merupakan prinsip sebagai manusia. Mereka sangat bersyukur karena bisa memiliki kehidupan yang stabil. Orang pada zaman sekarang jauh lebih beruntung. Karena masyarakat sangat mementingkan pendidikan, maka dibangunlah banyak sekolah. Meski dahulu juga ada sekolah, tetapi tidak mudah bagi orang zaman itu untuk bersekolah. Contohnya puluhan tahun lalu, untuk tamat SD saja sangat sulit. Sebaliknya, setiap orang di zaman sekarang berkesempatan untuk kuliah. Kini, untuk mencari orang yang tidak bersekolah malah sangat sedikit

 Sebagian besar orang menerima pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah, hingga ke jenjang perguruan tinggi. Karena itu, kita harus menghormati guru dan ajarannya. Pendidikan pada masa kini sangat spesifik dan dalam. Para guru juga harus membaca banyak buku agar bisa mewariskan pengetahuan mereka. Mereka harus terus memperluas dan mengkaji pengetahuan agar bisa mewariskannya kepada generasi penerus. Guru pada zaman sekarang berbeda dengan guru pada zaman dahulu. Guru pada zaman sekarang sangat bersusah payah. Orang pada zaman sekarang sangat mudah untuk mendapatkan pendidikan

 Kita juga sering mendengar anak muda yang berkata bahwa tekanan mereka dalam belajar sangat berat. Benar. Ini karena kajian ilmiah semakin dalam. Ilmu pengetahuan zaman sekarang juga semakin luas. Kita tentu harus mengerti banyak ilmu pengetahuan agar sama seperti guru kita. Di saat yang sama, guru mengajar, sedangkan kita balajar. Di saat yang sama ini, kita sendiri memiliki tekanan, bagaimana mungkin guru tidak? Jadi, untuk mengajar dan mendidik kita, guru juga harus mengkaji banyak ilmu. Karena itu, kita harus memiliki rasa syukur, menghormati guru dan ajarannya

 Dengan begitu, ajaran baru bisa masuk ke dalam hati. Jika kita tidak menghormati guru dan ajarannya, maka meski guru mengajar dengan serius, semuanya akan menjadi sia-sia karena kita tidak sungguh-sungguh belajar. Batin kita sudah tercemar, tamak untuk bermain-main sehingga menyia-nyiakan waktu. Karena itu, kita tidak bisa menyerap ajaran dengan baik. Batin manusia telah tercemar sehingga dalam menuntut ilmu, orang yang berhasil sangat sedikit. Orang yang bersekolah memang banyak, tetapi untuk benar-benar berhasil sungguh agak sulit. Inilah kondisi orang zaman sekarang. Mereka tidak dapat mencapai keberhasilan besar karena hati mereka telah tercemar sehingga tidak mau menghormati guru. Ini termasuk kekeruhan batin

 Yang keenam adalah tidak menolong fakir miskin. Inilah kekeruhan batin keenam. Mengapa manusia tak mau menolong fakir miskin? Karena hati mereka penuh ketamakan, maka mereka kurang memiliki cinta kasih. Mereka selalu menimbun harta, sebanyak apa pun tak pernah cukup. Karena selalu merasa kurang, maka dalam hati mereka juga kurang cinta kasih. Mereka miskin secara spiritual. Mengapa mereka bisa kurang cinta kasih? Karena mereka penuh ketamakan

 Begitu ketamakan muncul, selamanya manusia tak akan merasa cukup. Jika diri sendiri merasa tidak cukup, mana mungkin mereka berbagi dengan orang lain. Inilah kemiskinan batin. Kemiskinan batin disebabkan oleh ketamakan, Dengan adanya ketamakan, batin mereka akan miskin. Oleh karena itu, mereka tidak rela membantu fakir miskin. Dalam masyarakat masa kini, kita melihat banyak orang yang penuh cinta kasih. Jika mereka juga dapat memiliki kebijaksanaan untuk mengulurkan cinta kasih yang tanpa noda dan dapat bersumbangsih tanpa pamrih, maka inilah cinta kasih yang paling kaya

 Apa maksudnya? Ada orang yang berdana demi reputasi. Ini juga termasuk ketamakan akan nama. Demi nama baik, mereka menyumbangkan uang. Ini bukanlah cinta kasih yang murni. Ini termasuk batin yang tercemar. Ada pula yang berpikir dengan menolong orang, mereka akan mendapat pahala. Ini pun berarti tamak akan pahala

 Ada orang yang tamak akan nama baik, ada yang tamak akan pahala, ada pula yang berpikir ingin menolong orang agar diri sendiri jauh dari bencana. Semua ini tidak benar. Kita harus membersihkan kekeruhan batin dan membantu orang yang kekurangan. Inilah yang sesuai dengan kebenaran dan hukum alam. Hidup di tengah ketenteraman, kita bisa membantu orang yang kekurangan. Inilah jalan yang benar. Intinya, jika kita tidak hidup sesuai kebenaran, berarti kita telah diliputi kekeruhan. Karena itu, kita tidak mau menolong fakir miskin

 Inilah kekeruhan keenam. Berikutnya, yang ketujuh adalah tidak mau merawat orang sakit. Kita tahu kehidupan penuh penderitaan. Penderitaan terberat adalah penyakit. Alangkah baiknya jika terhadap orang sakit kita dapat menumbuhkan belas kasih, memberi perhatian dan bantuan. Ada orang yang bahkan saat anggota keluarganya sendiri jatuh sakit, dia merasa ketakutan

 Dia tidak berani bersentuhan dengannya. Ini juga tak sesuai kebenaran. Tidak mau memperhatikan orang sakit juga termasuk kekeruhan batin. Yang kedelapan adalah tidak iba terhadap penderitaan hewan. Bayangkan, binatang sangat menderita. Dalam ajaran Buddha, binatang adalah satu dari tiga alam rendah. Karena itu, manusia harus berbelas kasih pada hewan tanpa pandang bulu

 Buddha berkata bahwa makhluk kecil pun memiliki hakikat kebuddhaan. Dapat sungguh-sungguh menghormati semua kehidupan, inilah cinta kasih yang harus dikembangkan praktisi Buddhis. Kekeruhan yang kita bahas ini berkaitan dengan ladang budi luhur, ladang penghormatan, dan ladang welas asih. Ladang penghormatan adalah Tiga Permata. Ladang budi luhur adalah orang tua dan guru

 Tiga kekeruhan terakhir berkaitan dengan ladang welas asih, yakni fakir miskin, semua makhluk, dan orang sakit. Saudara sekalian, di Tzu Chi, delapan ladang berkah ini kita garap semuanya. Kita menghormati Tiga Permata lewat pikiran. Kita mengagungkan Tiga Permata lewat tubuh. Kita juga memuliakan Tiga Permata lewat ucapan. Kita menghormati Tiga Permata lewat tiga pintu karma. Inilah yang disebut ladang penghormatan. Kita telah melakukannya. Berikutnya, insan Tzu Chi juga mengerti untuk membalas budi orang tua dan membalas budi guru

 Ini juga telah kita lakukan. Kita telah menggarap ladang penghormatan dan budi luhur. bagi orang yang kekurangan dan menderita, kita juga memberi pertolongan dengan sepenuh hati. Lihatlah, insan Tzu Chi sungguh merupakan Bodhisattva hidup. Di mana pun penderitaan ada, di sana insan Tzu Chi akan muncul. Sesulit apa pun, kita tetap berusaha untuk menghibur dan mendampingi orang yang menderita

 Baik lansia, anak muda, orang berkebutuhan khusus, maupun orang sakit, insan Tzu Chi memperhatikan semuanya. Insan Tzu Chi telah menggarap ladang berkah ini, terutama dalam merawat orang sakit. Lihatlah misi pengobatan kita. Baik di Hualien, Xindian, Dalin, Guanshan, maupun Yuli, di mana pun rumah sakit kita berdiri, selain terdapat tim medis, juga ada para relawan yang selalu menjadi jembatan penghubung antara pasien dan dokter. Demi meringankan penderitaan pasien, para relawan mendekati dan menjaga mereka. Bayangkan, ini adalah wujud cinta kasih kita terhadap pasien. Berikutnya, kita juga berwelas asih terhadap semua makhluk. Selain tidak membunuh, kita juga terus melindungi kehidupan

 Jadi, ladang welas asih dan penghormatan telah kita garap. Inilah yang disebut ladang berkah. Kita harus menjadi bagaikan petani yang terus menggarap ladang berkah. Akan tetapi, kekeruhan dalam batin kita membuat kita bukan hanya tidak mau menggarap ladang berkah, tetapi juga tidak memiliki rasa hormat, tidak kenal balas budi, dan tidak berwelas asih terhadap semua makhluk. Jika tiga hal ini diperinci, maka jadilah Delapan Kekeruhan. Dengan begitu, kita mudah menciptakan karma buruk. Saudara sekalian, dari mana karma berasal? Sebagian besar berasal dari kekeruhan dalam batin

 Jika batin diliputi kekeruhan, kita akan melanggar kebenaran. Jadi, bagaimana kita memahami kebenaran? Kita harus hidup sesuai dengannya. Sebelumnya, kita telah membahas Delapan Kekeliruan. Makhluk awam punya empat kekeliruan, praktisi Hinayana juga punya empat kekeliruan. Bagaimana kita melampaui kekeliruan makhluk awam dalam menghadapi masalah duniawi? Bagaimana pula kita dapat melampaui kekeliruan praktisi Hinayana? Jika kita dapat mengatasi semuanya dan menghadapi semua orang dan masalah sesuai kebenaran, maka segala kekeruhan tadi tidak akan mencemari batin kita. Dengan begitu, kita dapat memiliki hati yang hening dan jernih serta tekad yang luas dan luhur yang teguh tak tergoyahkan

 Dengan demikian, kita dapat menggarap ladang berkah. Begitu banyak ladang berkah di dunia ini. Yang perlu kita lakukan adalah menjadi Bodhisattva dunia yang menggarap ladang berkah sepenuh hati. Untuk itu, harap semua orang dapat Sepenuh hati menggarap ladang batin masing-masing. Kita semua harus selalu bersungguh hati.

 

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888