Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 200 – Delapan Penderitaan Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari matahari terbit dan terbenam. Hari-hari terus berlalu begitu saja. Akan tetapi, saat matahari terbit, orang-orang yang bangun pagi Dapat merasakan suasana pagi yang hening dan segar. Jika kita mengerti untuk memanfaatkan waktu dan bisa bangun pagi, maka kita dapat menikmati kondisi indah itu. Praktisi dapat memanfaatkan waktu. Pagi-pagi sekali kita melakukan kebaktian

 Inilah awal pelatihan diri kita. Pelatihan diri kita dimulai pada pagi hari. Jika kita sedikit malas, maka kesempatan kita untuk bangun pagi akan hilang. Jadi, kita harus menggenggam waktu yang ada. Demikian pula dengan manusia pada umumnya. Kita harus memanfaatkan nyawa kita. Tak peduli seberapa panjang usia kita, tak peduli sepanjang usia kita dari lahir hingga meninggal kita mengalami kebahagiaan atau penderitaan, kita harus memahami dengan sepenuh hati bagaimana cara untuk bahagia dan apa sumber penderitaan. Di dalam kehidupan kita ini, kita harus memahami hal ini dengan jelas

 Dalam melewati keseharian, ada orang yang sangat sembrono dan tidak memahami cara memanfaatkan waktu. Waktu mereka berlalu begitu saja. Hidup pun menjadi sia-sia. Hanya karma yang terus mengikuti kita dari waktu ke waktu. Begitulah makhluk awam melewati hari-hari. Jika kita ingin melatih diri, maka kita harus melewati hari dengan jelas, tidak membiarkan hari berlalu sia-sia selama kehidupan berlangsung. Jadi, seumur hidup ini, begitu banyak penderitaan yang dianggap makhluk awam sebagai kebahagiaan

 Mereka tidak menyadari penderitaan itu. Praktisi ajaran Buddha harus menyelami di mana letak sumber penderitaan manusia. Apakah yang benar-benar membawa kebahagiaan? Mari kita renungkan jenis-jenis penderitaan. Setiap orang tidak terhindar dari penderitaan. Secara garis besar, ada delapan jenis penderitaan. Pertama adalah derita kelahiran. Sejak dilahirkan, setiap orang seharusnya sudah memiliki penderitaan. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa sebelum dilahirkan pada kehidupan ini, mungkin kita telah secara tidak sadar melakukan banyak karma negatif

 Kesadaran penyimpan benih karma ini sudah ada sejak kehidupan lampau dan telah ternoda. Benih karma ini berbuah sesuai kondisi, yakni pertemuan sel sperma dan telur orang tua yang membuat kita terbentuk di dalam rahim. Di dalam rahim ibu, sesungguhnya anak sudah mengalami penderitaan karena janin di dalam rahim bagai terkurung di dalam penjara. Organ tubuh baru mulai tumbuh. Rahim ibu sangat sempit. Bayi perlahan-lahan tumbuh besar. Janin perlahan-lahan tumbuh besar di dalam rahim. Di dalam rahim kadang panas, kadang dingin, banyak pula benda-benda yang kotor

 Janin hidup di tengah-tengah organ tubuh sang ibu. Makanan yang dicerna sang ibu menjadi sesuatu yang tidak bersih. Akan tetapi, janin tetap tumbuh perlahan dalam kondisi seperti itu. Hingga suatu masa, ruang dalam rahim sudah tidak muat lagi. Lihatlah para dokter kandungan. Mereka tahu bahwa di dalam rahim ibu, posisi janin agak melingkar, menderita sekali. Berapa lama? Sepuluh bulan

 Selama sepuluh bulan janin tidak melihat matahari dan hidup di dalam salah satu ruang di tengah-tengah organ tubuh yang kotor. Sungguh menderita. Terlebih lagi, saat akan lahir, dia harus melewati pintu yang tidak bersih. Ia hanya bagaikan seonggok daging yang terbalut oleh kulit. Saat waktunya tiba, seonggok daging ini harus keluar dari rahim. Saat keluar, ia bagaikan seonggok daging yang diperas keluar dari rahim. Saat bayi mengalami kontak dengan udara luar, ia merasakan bagai disayat oleh angin. Tubuh bayi segera dicuci dan dibersihkan

 Ia merasa sakit. Jadi, pada saat itu, kulit bayi terasa sakit, Inilah yang disebut penderitaan. Inilah derita kelahiran di dunia. Sebelum dilahirkan, janin terkurung rahim yang tidak bersih. Setelah keluar dari rahim, saat itu pula ia mulai menderita. Ini yang disebut derita kelahiran. Derita kelahiran sungguh tak terkira. Bagaimana kita melukiskan penderitaan itu? Sungguh tak terlukiskan. Hanya dapat dikatakan bagai disayat-sayat

 Saat mengalami kontak dengan udara luar, sekujur tubuh bayi kesakitan. Inilah rasa sakit bagaikan disayat-sayat. Akan tetapi, kita sudah lupa. Bagaimana bentuk rahim ibu? Janin tinggal di ruang yang kecil itu tanpa bisa melihat siang dan malam. Penderitaan itu sudah kita lupakan. Saat bayi dilahirkan, kadang ibu harus mengalami kesulitan melahirkan. Saat bayi tidak bisa keluar pada saatnya, itu juga sangat menderita

 Perjuangan antara hidup dan mati yang dialami oleh ibu dan anak saat proses bersalin dari segi biologis sungguh penuh kesulitan. Akan tetapi, makhluk awam mudah melupakannya. Kita sudah lupa. Lambat laun, kita tumbuh besar. Dalam proses pertumbuhan dari masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa, kita tidak menyadari perubahan fisik yang ada. Lihatlah, anak remaja gemar memberontak. Sesungguhnya, ini berhubungan dengan perubahan biologis yang memengaruhi psikologi

 Selain itu, apa lagi sebabnya? Ini juga berkaitan dengan karma. Buah karma adakalanya berbuah. Karma pun terus terakumulasi. Entah jalinan jodoh Anda dengan orang tua adalah jalinan jodoh penuh berkah dan penuh sukacita ataukah jalinan jodoh penuh penderitaan. Jika itu adalah jalinan jodoh penuh berkah, maka dalam kondisi apa pun Anda dilahirkan, entah dalam kondisi kekurangan atau menderita, dengan adanya jodoh baik dengan orang tua, Anda tetap akan berbakti dan mampu memahami kesulitan orang tua. Kita akan sadar untuk menunaikan kewajiban, mau berusaha dan bersungguh hati agar dapat segera meringankan beban orang tua. Ini jika kita memiliki jodoh baik dengan orang tua

 Kita akan tahu untuk membalas budi orang tua. Orang zaman dahulu berkata, “Di keluarga miskin ada anak berbakti.” Meski hidup kekurangan, dia tidak berkeluh kesah. Dia tumbuh dalam kondisi seperti itu. Dia juga tetap patuh. Lihatlah, di zaman sekarang, banyak kisah keluarga yang penuh kehangatan. Terutama di dalam siaran berita Da Ai TV, banyak kisah yang penuh kehangatan

 Ada anak yang lahir di daerah tertinggal, seperti di Guizhou atau banyak tempat lainnya. Di daerah-daerah yang relawan Tzu Chi jangkau atau yang pernah kita bantu, kita dapat melihat banyak keluarga yang sangat kekurangan. Akan tetapi, di sana kita malah melihat banyak anak yang membuat kita terharu. Mereka masih dalam masa pertumbuhan. Suatu hari, saya melihat siaran berita tentang seorang anak di Guizhou. Rumahnya sangat tidak layak huni. Kita sulit membayangkan bahwa itu adalah rumah. Ia benar-benar tidak terlihat seperti rumah

 Namun, di dalamnya tinggal sepasang kakek nenek, sepasang ayah ibu, dan seorang anak yang masih kecil. Tiga generasi hidup dalam satu atap. Keluarga mereka sangat kekurangan. Kakek neneknya sudah sangat renta dan terbaring sakit di tempat tidur. Ayah ibunya harus bekerja, sangat menderita. Mereka berangkat pagi-pagi dan belum pulang saat matahari terbenam. Di rumah hanya ada anak itu menemani kakek neneknya yang terbaring di tempat tidur. Anak berusia sekitar enam tahun harus mencuci pakaian

 Saat anak itu mencuci pakaian, kita bisa melihat tidak ada air di sana. Seember kecil air yang sudah keruh dan kotor dia gunakan kembali untuk mencuci pakaian. Tangan anak itu masih sangat kecil, tetapi harus memeras pakaian yang besar. Saat pakaian-pakaian itu dijemur, semua masih terlihat kotor. Air di ember tadi pun sudah seperti tinta. Namun, wajah anak ini tetap tersenyum. Saat ditanya mengapa mau mencuci pakaian, dia menjawab bahwa ayah dan ibunya sibuk, sedangkan kakek neneknya sakit. Jadi, dialah yang mencuci baju

 Apakah dia hanya mencuci pakaiannya sendiri? Tidak, masih ada pakaian neneknya. Lihatlah, anak ini menerima kondisinya dan mengerti untuk berbakti. Dia memahami kesulitan orang tuanya. Meski tak bisa memeras pakaian hingga kering atau mencuci pakaian hingga bersih dengan seember air yang sedikit dan kotor itu, anak itu tetap sangat polos. Apakah dia menderita? Tidak. Wajahnya selalu tersenyum penuh dengan keikhlasan dan cinta kasih yang murni. Inilah proses kehidupan. Berhubung telah terlahir ke dunia, dia tumbuh mengikuti kondisi yang ada. Sedikit pun dia tidak mengeluh. Ketika ditanya maukah dia bersekolah, dia menjawab mau

 Saat ditanya mengapa, dia menjawab agar kelak dapat mencari uang. Saat ditanya mencari uang untuk apa, dia menjawab, untuk menghidupi ayah ibunya. Bukankah dia menerima keadaan dengan ikhlas? Meski masih kecil, dia tahu pentingnya pendidikan. Dia ingin bersekolah agar kelak dapat menghidupi orang tuanya. Dapat menerima kondisi hidup seperti ini, dia tidak merasa menderita. Suatu hari nanti, jika dia mau berusaha, maka setelah dewasa nanti, dia pasti dapat menghidupi orang tuanya. Akan tetapi, setelah dewasa, manusia juga akan menginjak usia tua

 Inilah perubahan biologis. Di usia tua, kondisi kesehatan perlahan-lahan menurun seiring perubahan fisik. Ini karena manusia terus menua. Tubuh yang kuat dan sangat sehat juga akan menua seiring waktu berjalan. Ini juga termasuk penderitaan. Proses pada tubuh tak dapat dihentikan. Jika berkata kita tidak mau selalu hidup dalam kesulitan, maka secara pikiran kita bisa mengatasinya, tetapi penuaan biologis tidak akan dapat dihindari. Inilah penderitaan akibat usia tua. Setelah hidup beberapa puluh tahun, kita tidak mungkin tidak tua

 Kita pasti menua. Orang lanjut usia juga dapat merasakan bahwa daya penglihatannya tak setajam dahulu, begitu pula dengan daya pendengarannya. Respons anggota geraknya juga tidak selincah dahulu. Terlebih lagi, respons otak juga perlahan-lahan mengalami penurunan. Batin dapat kita kendalikan, tetapi fisik akan terus berubah seiring waktu. Tubuh yang kuat juga akan melemah. Tanda-tanda penuaan akan muncul. Inilah derita usia tua

 Usia tua sungguh membawa penderitaan. Yang ketiga adalah derita penyakit. Mengenai penyakit, apakah hanya lansia yang bisa jatuh sakit? Belum tentu. Saudara sekalian, cobalah kita berkeliling di rumah sakit. Mulai dari anak kecil, remaja, anak muda, hingga orang tua, semuanya ada. Pasien dengan latar belakang usia berbeda-beda memiliki penyakit yang berbeda-beda pula. Mereka sangat menderita. Ada seorang anak bernama Nian-heng. Saat berusia dua tahun, dia sudah mulai menderita penyakit

 Kondisi keluarganya sangat baik. Orang tuanya sangat mengasihinya. Anak ini sudah keluar masuk rumah sakit sejak berusia dua tahun. Penyakit apa yang dideritanya? Leukemia. Dengan kata lain, dia mengidap kanker darah. Meski harus menghabiskan banyak uang dan mencari berbagai rumah sakit besar, orang tuanya tetap menyayanginya. Mereka terus mencari pengobatan untuk anaknya, Anak ini bisa berkata sakit. Meski merasa sakit, tetapi wajahnya tetap penuh senyuman. Mengapa? Karena dia tak mau membuat ibunya sedih

 “Aku sakit, tetapi tak mau membuat Ibu sedih.” Dia sangat pengertian, tetapi juga tak berdaya. Kita melihat anak yang menggemaskan itu harus berjuang melawan penyakit. Dia sangat menderita. Akan tetapi, dia sangat bijaksana. Selain itu, ada pula seorang dewasa

 Kondisi keluarganya juga sangat baik. Dia menderita sakit, telah mengonsumsi semua obat mahal, dan telah berobat ke dokter ternama. Akan tetapi, kanker di tubuhnya tetap menyiksanya. Saat dia datang, kebetulan anak tadi juga datang. Dia melihat orang dewasa itu sangat menderita akibat penyakitnya. Dalam hatinya pun penuh ketidakrelaan. Dia tidak rela berpisah dengan keluarganya, tidak rela berpisah dengan suaminya, tidak rela berpisah dengan anak-anaknya. Dia tidak mampu melepaskan segala kemelekatannya. Batinnya sangat menderita. Selain mengalami penderitaan fisik, dia juga menderita akibat berbagai kemelekatannya

 Selain menderita akibat penyakit fisik dan pikiran yang penuh kemelekatan, dia juga penuh ketakutan akan kematian. Semua orang takut mati. Terlebih lagi, dia memiliki banyak hal yang tak mampu direlakan. Karena itu, penderitaan fisiknya juga tidak bisa menjadi lebih ringan. Jadi, pagi itu, banyak orang mendampinginya datang ke Guandu, berharap agar saya mendoakannya. Akan tetapi, bagaimana pun saya menasihati, dia tetap tidak bisa merelakan. Sulit baginya untuk membuka hati. Anak ini sangat lucu

 Dia datang menghampiri dan berkata kepada wanita itu, “Bibi, Bibi harus berani.” “Memang sakit, tetapi kita harus tahan.” “Bibi harus berani.” Wanita ini bertanya, “Bagaimana denganmu?” “Kamu sakit tidak?” “Tentu sakit,” jawabnya. Akan tetapi, dia masih tetap tersenyum. “Kita tetap harus berani.” Dia membuat orang yang melihatnya merasa tak sampai hati. Saya juga melihat siaran berita bahwa ibu dari anak ini membawanya ke RS Tzu Chi di Xindian. Dia bukan pergi berobat, melainkan menjenguk pasien lain di ruang rawat paliatif atau di ruang rawat pasien kanker

 Dia menghampiri ranjang pasien dan berbincang dengan pasien kanker muda. Saat pasien itu ditanya apa yang anak itu katakan, ibu muda itu tersenyum penuh keceriaan. “Dia bilang saya harus bersemangat dan harus berani.” Ibu muda itu berkata, “Anak saya setahun lebih besar darinya.” “Melihat dia yang sudah sakit di usia dua tahun, apa lagi yang patut saya risaukan?” “Anak itu saja begitu berani, apa lagi yang patut saya keluhkan?” Akan tetapi, dia juga masih tidak rela. Dia memiliki seorang anak yang seusia dengan anak itu. Namun, anaknya itu sangat sehat

 Jadi, dia berkata, “Saya bisa membuka hati saya.” Meski sakit itu membawa penderitaan, tetapi jika kita dapat membuka hati, penderitaan itu akan terasa lebih ringan. Intinya, penyakit adalah penderitaan. Banyak penderitaan di dunia ini. Ada derita kelahiran, usia tua, penyakit, dan tentu saja kematian. Apakah kematian adalah penderitaan? Sesungguhnya, perjuangan melawan penyakit di antara hidup dan mati, itulah yang paling menderita. Itu karena manusia sulit melepaskan. Sama seperti kesulitan dalam persalinan, sang bayi tidak dapat keluar, sedangkan sang ibu pun tak dapat bernapas lega

 Saat itu, ibu dan anak sama-sama berjuang di tengah penderitaan. Tubuh sang bayi juga merasa sakit saat bersentuhan dengan udara luar. Begitu pula saat menghadapi kematian. Manusia adakalanya sulit merelakan. Saat itu, batin penuh gejolak. Saat kekuatan karma itu muncul, manusia masih sulit merelakan, sehingga sangat menderita. Jika dari sekarang kita mulai belajar untuk merelakan dan melepas, maka saat ajal tiba, batin kita akan mampu melepas dan kita hanya seperti tertidur. Jika setiap hari kita melakukan hal-hal yang membuat hati tenang, maka saat ajal menjemput, kita dapat tidur dengan tenang

 Saat kesadaran terpisah dari tubuh fisik, ia akan sangat bebas. Yang ditakutkan adalah kita tak mampu melepas. Jika demikian, maka saat kesadaran terpisah dari tubuh, kita akan sangat menderita. Intinya, kita harus belajar tentang kelahiran dan kematian. Kita harus belajar agar saat dilahirkan, kita tidak membawa benih yang tidak murni. Kematian juga harus dipelajari. Kita harus belajar cara menjalani hidup ini, cara menghadapi orang dan masalah, dan cara memelihara kebiasaan baik, agar saat ajal tiba, kita tidak lagi melekat dan tidak terbelenggu noda batin, Sehingga dapat mengucapkan selamat tinggal dengan tersenyum kepada semua orang dan berjanji untuk kembali ke alam manusia sebagai praktisi Jalan Bodhisattva di dalam keluarga Bodhisattva

 Jika dapat melakukan ini, maka batin kita akan damai. Kita dapat datang dan pergi dengan bebas. Untuk itu, kita harus menggenggam kehidupan ini untuk mempelajari cara menghadapi manusia, hal, dan segala sesuatu. Prinsip kebenaran ini paling penting. semoga kita dapat selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888