Sanubari Teduh – 206 – Delapan Penderitaan Bagian 7
Saudara Se-Dharma sekalian, kehidupan manusia adalah rangkaian dari pikiran-pikiran. Kehidupan kita terus berjalan mengikuti pikiran dan nafsu keinginan. Saat menghadapi kondisi di hadapan mata, perhatian kita malah lebih sedikit. perhatian kita malah lebih sedikit
Pikiran kita pada momen sebelumnya dipenuhi kerisauan untuk mengejar masa depan, terbelenggu oleh masa lalu, atau perhitungan pada masa kini. Sungguh, saat muncul suatu kondisi di hadapan kita, perhatian kita terhadapnya malah lebih sedikit. Kita dipenuhi pikiran yang keliru, pikiran yang bukan-bukan, dan penuh perhitungan. Kita kurang sadar pada momen ini
Dalam meneladani Buddha, kita harus belajar untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian pada saat ini. 00:02:32:08 Manusia hidup menderita karena tidak menaruh perhatian pada saat ini. Delapan penderitaan manusia dimulai dari saat kita dilahirkan. Saat baru terlahir ke dunia, kita sudah mulai menangis. Sesungguhnya, saat akan terlahir ke dunia, kita juga tidak memiliki persiapan dan tidak tahu bahwa kita akan merasa sakit. Kita tidak memiliki persiapan. Artinya, kesadaran pada momen saat ini sangat kurang pada setiap makhluk awam. Penderitaan karena lahir, tua, sakit, mati, berkumpul dengan yang dibenci, keinginan tidak terwujud, dan lain-lain, semuanya timbul karena kita tidak meningkatkan kesadaran pada setiap momen. Karena itulah, kita terus mengalami Delapan Penderitaan. Seperti yang sudah saya ulas sebelumnya, keinginan tidak terwujud juga mendatangkan penderitaan. Ada seorang makhluk surgawi memberi hormat kepada Buddha. Selain memuji keluhuran Buddha, Selain memuji keluhuran Buddha, dia juga menyombongkan diri sendiri. Dia berkata, “Berkekuatan besar membawa kebahagiaan
” Kalian pasti masih ingat bahwa kekuatan besar memiliki arti kualitas di atas rata-rata, di mana berkah dan kebijaksanaan sudah sempurna. Orang seperti ini pasti dipenuhi kebahagiaan. Sang dewa kembali melanjutkan, “Segala keinginan sudah tercapai.” Tiada keinginan yang belum terwujud. “Segala kehendak sudah tercapai.” Saat semua keinginan terpenuhi, seseorang seharusnya merasa bahagia. Buddha menjawab bahwa berkekuatan besar memang membawa kebahagiaan karena telah mencapai keluhuran dan kebijaksanaan agung. “Namun, kebahagiaan yang sesungguhnya datang dari batin yang tanpa keinginan.” Seseorang bisa merasakan kebahagiaan karena tiada keinginan yang dikejar. Nafsu keinginan membawa derita
Ini menunjukkan bahwa pada kehidupan di dunia ini, tak peduli orang kaya atau miskin, semuanya memiliki sesuatu yang ingin dikejar. Bahkan para dewa pun masih memiliki keinginan. Karena itulah, mereka berkata, “Segala kehendak sudah tercapai.” Segala keinginan bisa terpenuhi karena mereka memiliki berkah yang besar. Saat meminta sandang, mereka memperoleh sandang, saat meminta pangan, mereka memperoleh pangan. Banyak sekali hal, baik sandang maupun pangan, mereka peroleh dengan berlimpah. Mereka menganggap itu adalah kebahagiaan. Namun, menurut Buddha, yang terpenting adalah pikiran. Sebanyak apa pun benda materi, semuanya akan hancur suatu hari nanti
Pikiran kita adalah yang terpenting. Kita harus senantiasa menjaga pikiran kita. Pikiran apa? Tekad pelatihan diri dan hati yang penuh kesadaran. Jika bisa menjaga pikiran, maka kita dapat selalu waspada. Apa yang perlu kita kejar di dunia ini? Segala yang kita kejar akan rusak suatu hari nanti. Hanya sukacita dalam Dharma yang sungguh-sungguh membawa kebahagiaan bagi kita. Inilah pikiran yang harus kita pertahankan. Memperoleh dan kehilangan membawa kerisauan. Selain menderita karena keinginan tidak terwujud, manusia juga memiliki satu penderitaan lain. Penderitaan ke delapan adalah penderitaan akibat Panca Skandha
Di dalam Sutra Hati tertulis tentang Lima Agregat. Lima Agregat dan Panca Skandha memiliki arti yang sama. Lima Agregat berarti unsur yang sangat halus. Ia juga berarti sesuatu yang menutupi. Ia juga berarti sesuatu yang menutupi. Inilah yang disebut Panca Skandha. Inilah yang disebut Panca Skandha
Karena itu, saya sering berkata bahwa kekuatan karma bagaikan bayangan yang terus mengikuti kita. Ke mana pun kita pergi, karma selalu mengikuti. Kekuatan karma ini tidak berwujud. 00:08:39:18 00:08:43:05 Mengenai rupa, segala yang terlihat oleh kita Memiliki rupa atau wujud. Selain segala benda yang terlihat, bola mata kita juga memiliki rupa. Untuk melihat sesuatu, kita menggunakan mata. Organ mata kita Organ mata kita terbentuk dari perpaduan banyak unsur. terbentuk dari perpaduan banyak unsur. Kita menggunakan mata untuk melihat segala kondisi luar. Jika memiliki mata yang sehat, kita bisa melihat rupa setiap benda dengan sangat jelas
Sebaliknya, jika daya penglihatan kita ada gangguan, maka segala benda luar yang terlihat akan tidak jelas. Ada pula penyakit buta warna. Warna pada pagi hari ataupun pada malam hari terlihat berbeda. Semua warna saling bercampur. Apakah itu disebabkan oleh kondisi luar yang kacau atau karena kondisi dalam diri kita? Tentu saja karena kondisi dalam diri kita. Banyak pula orang lanjut usia yang menderita katarak. Ada pula orang yang menderita rabun dekat dan rabun jauh. rabun dekat dan rabun jauh
Ini karena daya penglihatan kita sudah tidak selaras dan sudah terganggu. Mata yang sehat bisa melihat segala sesuatu di luar dengan sangat jelas. Lihatlah, ini adalah bunga. Bunga apa? Bunga anggrek. Bunga anggrek berwarna merah. Apakah hanya mahkota bunganya yang ada? Tidak. Ia juga memiliki akar dan daun. Dari mana akar dan daunnya berasal? Karena perpaduan tanah, udara, air, dan perawatan dari manusia, barulah ada benda tersebut. Jadi, di dalam satu rupa saja terkandung banyak agregat lain yang sangat halus. Salah satu di antaranya adalah bentukan pikiran
Bentukan berarti tidak tetap karena ia terus berproses. Sama seperti kita yang hidup di bumi. Meski kita tengah duduk di sini, tetapi bumi tetap terus berotasi. Sebentar lagi matahari akan terbit. Sekarang di luar masih sangat gelap, tetapi sebentar lagi matahari akan terbit. Matahari terbit dan kita yang duduk di sini sepertinya tidak ada hubungan. Benarkah tidak berhubungan? Berhubungan erat. Karena kita juga hidup di masa ini dan ruang ini, barulah kita memiliki kehidupan. Jadi, tubuh fisik kita terus berubah tanpa kita sadari
Planet Bumi ini juga terus berotasi tanpa berhenti sedetik pun. Inilah bentukan. Selain bumi yang terus berotasi, sebenarnya Anda, saya, dan tubuh kita juga terus berubah karena proses metabolisme. Saat metabolisme tubuh berproses dengan baik, Saat metabolisme tubuh berproses dengan baik, maka tubuh kita akan sehat dan bebas penyakit. Jika metabolisme tubuh tidak berjalan dengan lancar, maka tubuh kita akan mudah terserang penyakit. Seiring proses metabolisme tubuh, hukum alam juga terus bekerja. Karena itu, tubuh fisik kita juga terus berubah karena ia termasuk bentukan
Sejak terlahir ke dunia, kita terus bertumbuh sejak bayi. Dalam waktu puluhan tahun, tanpa disadari, kita tumbuh menjadi anak-anak, lalu tumbuh dewasa, paruh baya, hingga menjadi tua. Semua proses itu tidak kita sadari. Kita tidak dapat menyadari kapan kita mulai berubah menjadi tua. Tidak dapat. Setiap hari kita mengalami perubahan yang sangat halus. Selain melihat rupa, kita juga bisa merasakan
“Kini saya merasa kedinginan.” “Saya merasa pegal karena duduk terlalu lama.” “Apakah saat mendengar ceramah ini, saya merasa gembira?” “Apakah saya setuju?” “Apakah saat mendengar ceramah ini, saya memiliki pertanyaan?” Ini semua adalah perasaan. Ini semua adalah perasaan. Semua kondisi, baik bersuara maupun tidak, baik memiliki rupa maupun tidak, semua itu bisa kita rasakan. Karena bisa merasakan, baru kita bisa memberi respons. Setelah merasakan, Setelah merasakan, maka timbul persepsi. Saat melihat rupa, mengapa di dalam batin kita timbul banyak pikiran yang mengganggu dan keliru? Itu karena adanya persepsi. Karena persepsi ini, muncullah niat atau dorongan karma yang terus terakumulasi. Karena itu, saya sering berkata bahwa segala hal bisa tercapai seiring waktu berlalu. Waktu bisa mewujudkan pelatihan diri seorang praktisi, mewujudkan karier seorang pebisnis, mewujudkan prestasi murid sekolah yang giat, dan banyak hal lainnya
Pada kehidupan di dunia ini, Pada kehidupan di dunia ini, semakin banyak perbuatan kita, benih yang kita tanam juga semakin banyak. Di antaranya, ada karma buruk. Seiring waktu berlalu, karma buruk yang tercipta semakin lama semakin banyak. Ada pula yang disebut karma baik. Seiring waktu berlalu, berkah yang terhimpun juga semakin lama semakin besar. Ini semua terhimpun berkat akumulasi waktu. Segala perbuatan kita akan menjadi benih yang terus terhimpun. Inilah dorongan karma. Segala sesuatu yang kita lakukan akan tersimpan dalam kesadaran. Kesadaran untuk membedakan yang baik dan buruk disebut kesadaran keenam
Setelah membedakan, kita mulai menyimpan pengalaman atau kesan. Inilah fungsi kesadaran ketujuh. Saat muncul suatu kondisi, kita mulai menyimpannya di dalam hati. Meski kondisi itu telah berlalu, kita masih memikirkannya. Huruf “Si” (memikirkan) dalam bahasa Mandarin terdiri atas huruf “tian” (ladang) dan huruf “xin” (hati). Jadi, pikiran kita terus bekerja. Seseorang diliputi kerisauan yang besar karena pemikiran dan berbagai pertimbangannya terus bergumul di dalam batin
Jika arah mereka menyimpang sedikit saja, maka noda batin yang tebal akan terbangkitkan. Pemikiran dan kesan-kesan terhadap kondisi yang telah berlalu sulit hilang dari batin kita. Saat menghadapi orang atau saat ada suatu masalah, pikiran kita terus bekerja hingga akhirnya timbul banyak noda batin. Jika bisa memanfaatkan waktu untuk merenung secara mendalam dan memiliki pikiran benar, kita bisa mengembalikan pikiran yang keliru ke arah yang benar. Kita harus berpikir dengan baik. Buddha yang mahasadar senantiasa mengingatkan dan mengajarkan kepada kita bahwa di dunia ini, kita hidup di tengah penderitaan
Orang yang hidup dalam kekeliruan selalu mencari kebahagiaan di tengah penderitaan, sebaliknya orang yang punya kesadaran, selalu meningkatkan kewaspadaan di tengah penderitaan. Mereka bisa menyadari ketidakkekalan hidup, kerentanan bumi, dan kehidupan manusia yang hanya sebatas tarikan napas. Inilah orang yang punya kesadaran. Jika bisa menyadari penderitaan akibat ketidakkekalan dan lain-lain, maka kita tidak akan terjerumus dalam pertikaian. Berbagai noda batin yang membelenggu bisa membuat kita menciptakan karma buruk. Jika setiap hari kita terjerat dalam lingkaran buruk, maka kita akan mengalami penderitaan tak terkira. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memiliki pikiran benar. Meski berada di tempat yang gaduh, jika kita bisa melihat kebenaran di balik kegaduhan itu, secara alami kita tetap akan merasakan sukacita. Lihatlah budaya humanis insan Tzu Chi
Baik saat belajar berbicara, belajar memperagakan isyarat tangan, belajar menampilkan bahasa tubuh, maupun saat belajar mendengar lagu, semuanya adalah pembabaran Dharma. Inilah perenungan yang mendalam. Meski berada di tempat yang gaduh, asalkan bisa menenangkan hati, maka kita akan bisa menyadari kebenaran dan memperoleh sukacita. == Ini juga bisa membuka hati para praktisi. Jadi, Lima Agregat atau Panca Skandha bisa membawa penderitaan. Ini karena makhluk awam tidak mampu berpikiran benar dan merenung secara mendalam. Tidak mampu. Pikiran manusia awam masih dipenuhi kegalauan. Saat merasa galau, berarti ada noda batin yang menutupi hakikat murni kita
Skandha berarti sesuatu yang menutupi. Artinya, menutupi hakikat murni kita hingga tak terlihat. Kalian pasti masih ingat bahwa beberapa waktu ini saya terus berkata, “Hakikat sejati sangat murni, bebas noda, dan sangat cemerlang.” Inilah hakikat sejati kita. Hati Buddha sangatlah bersih dan jernih. Hati-Nya sangat bersih dan sangat bening. Saudara sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, Panca Skandha telah menutupi kita. Menutupi apa? Hakikat sejati
Rupa, perasaan, persepsi, dorongan karma, dan kesadaran telah menciptakan noda batin dan perubahan yang halus yang terus terakumulasi hingga akhirnya menutupi hakikat murni kita. Saudara sekalian, kita harus memanfaatkan waktu dengan baik dan senantiasa sadar pada saat ini. dan senantiasa sadar pada saat ini. Sebelum suatu masalah terjadi dan sebelum suatu kondisi muncul, kita sudah harus memiliki kesadaran. Untuk membina kesadaran ini dalam kehidupan sehari-hari, kita harus lebih bersungguh hati.