Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 205 – Delapan Penderitaan Bagian 6

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus mengamati lingkungan sekitar kita dengan bersungguh hati. Coba pikirkan, di tengah lingkungan ini, kita merasa dingin saat musim dingin dan merasa panas saat musim panas. Namun, jika dibandingkan dengan musim dingin di tempat lain, suhu udara di tempat kita jauh lebih baik. Dibandingkan dengan negara lain, musim panas di tempat kita juga jauh lebih bersahabat

 Jika kita bisa melihat segala sesuatu dengan sikap penuh pengertian, maka hati kita akan selalu sangat lapang dan damai. Akan tetapi, sebagian besar orang tidak tahu bagaimana bersikap penuh pengertian. Karena itu, adakalanya hati mereka dipenuhi rasa benci. Ini juga merupakan salah satu dari Delapan Penderitaan. Hari ini kita akan mengulas tentang penderitaan karena berkumpul dengan yang dibenci. Sebelumnya kita mengulas tentang penderitaan karena berpisah dengan yang dikasihi. “Saya sangat mengasihinya, tetapi saya harus berpisah dengannya.” Ini sungguh menderita. Ada pula penderitaan karena berkumpul dengan yang dibenci

 Awalnya kita berharap bisa selalu bersama dengannya, tetapi karena terlalu sering bersama, akhirnya di dalam hati kita timbul rasa benci. Saat melihat orang itu, kita merasa tidak gembira, bahkan berharap orang itu cepat pergi. Awalnya, kita berharap bisa terus bersama, tetapi karena akhirnya timbul rasa benci di dalam hati, kita terus berpikir untuk pergi menjauh darinya. Kita sering mendengar orang yang baru menikah tidak lama, tetapi sudah ingin bercerai. Sebelum menikah, mereka mungkin berpacaran dalam jangka waktu panjang. Karena menaruh hati pada seseorang, maka dia mengejarnya. Setelah itu, mereka pun menikah

 Mengapa tidak lama setelah menikah mereka lalu bercerai? Ini semua karena pikiran manusia. Nafsu keinginan menjadi kondisi pendukung yang membuat manusia mengejar lawan jenis. Saat jalinan jodoh yang singkat itu berakhir, di dalam hatinya mulai timbul rasa benci. Saat mengejar sesuatu, mereka menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Saat timbul rasa dendam, mereka membencinya hingga ke tulang. Inilah makhluk awam. Karena itu, Buddha berkata kepada kita bahwa 00:04:32:18 Mereka berharap bisa cepat berpisah, tetapi malah harus tetap bersama. Saya sering mendengar kisah seperti ini di masyarakat. Saya sering mendengar kisah seperti ini di masyarakat. Ada seorang ibu muda yang sangat cantik

 Dia adalah seseorang yang berpendidikan dan berprofesi sebagai guru. Hatinya merasa sangat sedih. Mengapa dia merasa sedih? Dia berkata bahwa saat masih berkuliah, dia bertemu dengan seorang warga asing. Pada saat itu, mereka saling mencintai. Akhirnya, mereka menikah dan memiliki seorang anak. Selama beberapa waktu, suaminya bekerja di tempat yang jauh. Sang suami menipu dan menggoda wanita lain. Setelah menikah belasan tahun, akhirnya dia mengetahui hal ini

 Sang istri yang merupakan warga Taiwan ini merasa berhubung masalah telah terjadi, dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Para wanita di luar yang tertipu bergabung untuk menuntut pria asing itu. Mereka menuntutnya karena menipu dan menggoda wanita. Begitu mereka menuntut, dia sebagai istri tergugat dia sebagai istri tergugat juga tidak melakukan pembelaaan. Akhirnya, dia malah ikut digugat. Mengapa dia bisa digugat? Karena dia telah menikah dengan pria itu. Harta bawaan sang istri telah menjadi harta bersama dengan suaminya

 Para wanita itu mengajukan gugatan dengan harapan pria itu bisa membayar utang. Berhubung pria itu menggoda dan menipu uang mereka, maka mereka juga menuntut sang istri agar mengeluarkan hartanya untuk membayar utang. Ibu muda ini merasa sangat tak berdaya. Meski suaminya telah dijatuhi hukuman penjara selama 4 tahun, dia tetap merasa tidak rela. “Jika saya mengeluarkan harta saya untuk membayar utang, berarti saya sudah menjadi komplotannya.” Karena itu, dia terus mengajukan banding. Meski hakim merasa kondisi ibu ini serba sulit, tetapi dia tetap menolak permohonan bandingnya. Artinya, sang istri harus berdamai dengan penggugat dan membayar utang suaminya. Hati sang istri sangat bingung

 “Jelas-jelas saya bisa menang.” “Hakim juga tahu saya tidak bersalah.” “Semua uang ini adalah milik saya.” “Saya membeli rumah dengan uang saya.” “Suami saya bersalah terhadap saya karena bersikap tidak senonoh di luar.” “Begitu banyak wanita bergabung untuk menggugatnya, bahkan saya juga digugat.” Dia sungguh tidak bisa menerima hal ini. Namun, apa yang bisa dilakukannya? Hakim berkata padanya, “Jangan khawatirkan masalah uang

” “Saya akan memberi hukuman ringan.” “Kamu cukup mengganti rugi uang sebesar 900.000 dolar NT.” “Kamu akui saja kekalahanmu.” “Dengan begitu, kamu bisa mengganti rugi dan perkara ini bisa ditutup.” Sang istri itu berkata, “Saya bersedia mengganti rugi.” “Namun, jika mengaku kalah gugatan, maka reputasi saya bisa hancur.” Hatinya masih tidak bisa terima. Hari itu dia datang dan menceritakan hal ini kepada saya. Saya berkata padanya, “Terima saja

” “Jangan terus terlilit kasus ini.” “Jangan meneruskan perkara ini lagi.” “Dengan begitu, baru hatimu bisa merasa tenang.” Dia berkata, “Begitu juga baik.” “Namun, saya tetap merasa khawatir.” Apa yang dia khawatirkan? Dia mengkhawatirkan suaminya yang sebentar lagi keluar dari penjara. “Kami belum bercerai, dia pasti akan kembali mencari saya.” “Apa yang harus saya lakukan?” Dia merasa sangat tidak berdaya. Kita adalah pihak luar, bagaimana boleh mencampuri urusan rumah tangga orang? Saya hanya bisa menasihatinya dengan berkata, “Saya tidak mengerti hukum

” “Namun, kamu harus bisa menenangkan hati.” “Jalinan jodoh memang membelenggu.” “Karena itu, jangan ada rasa benci di dalam hatimu.” Jalinan jodoh seperti ini sungguh membuat orang tidak berdaya. Inilah penderitaan karena berkumpul dengan yang dibenci. Sang suami menjalani hukuman di dalam penjara, sedangkan sang istri sangat khawatir suaminya keluar dari penjara dan kembali ke rumah. Inilah penderitaan karena berkumpul dengan yang dibenci. Berkumpul dengan yang dibenci sungguh menderita. 00:11:10:00 Selain itu, ada pula penderitaan karena tak bisa mendapatkan hal yang diinginkan

 Manusia menginginkan banyak hal. Jika tidak tercapai, mereka pun menderita. Begitulah kondisi di dunia. Saya sering berkata bahwa manusia selalu merasa kurang sembilan saat memiliki satu. Siapa yang tidak pernah merasa kurang? Contohnya, setiap orang dari kita, semua pasti memiliki keinginan. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita senantiasa merasa puas? Tidak, kita merasa masih kurang. Saat merasa lapar di pagi dan siang hari, apa yang kita butuhkan? Makan. “Saat ini tubuh saya kekurangan nutrisi, saya perlu makan

” Ini adalah hal yang biasa terjadi, tetapi kita tidak menyadarinya. Mengenai makan, kita masih mencari makanan yang kita suka. Jika makan makanan yang kita tidak suka, Jika makan makanan yang kita tidak suka, ini sama seperti berkumpul dengan yang dibenci. “Saya tidak suka, tetapi tetap disuruh makan.” Ini bagai berkumpul dengan yang dibenci. Saat sudah tiba waktunya makan, tetapi kita belum makan, ini sama seperti keinginan tidak tercapai. Penderitaan hidup bisa datang dari keinginan-keinginan kecil, hanya saja kita tidak menyadarinya. Namun, banyak pula orang yang sudah banyak memiliki, tetapi masih merasa tidak cukup. Dalam hal-hal duniawi, manusia sering memiliki rencana. Mereka berharap rencananya selalu bisa berhasil

 Namun, apakah yang diinginkan selalu berhasil? Apakah yang diharapkan selalu didapat? Sulit. Mengejar asmara, apakah pasti didapat? Mengejar cinta, apakah pasti tercapai? Mencari obat, apakah pasti dapat? Banyak hal yang dikejar manusia. Ini karena keinginan dan kegemaran kita cakupannya sangat luas. Sulit jika menginginkan segala hal sesuai harapan. Karena itu, sebuah ungkapan mengatakan bahwa dari sepuluh hal, ada delapan yang tak sesuai keinginan. Saat menginginkan sepuluh hal, Saat menginginkan sepuluh hal, mungkin ada delapan hingga sembilan hal yang sulit dicapai. Intinya, sulit jika menginginkan kesempurnaan. Inilah penderitaan akibat keinginan tidak tercapai. Bukan hanya manusia yang merasakan penderitaan ini

 Sesungguhnya, pada zaman Buddha, bukan hanya manusia yang risau dan bertanya pada Buddha. Para dewa pun memiliki keraguan dan mengajukan pertanyaan kepada Buddha. Saat berada di Taman Anathapindada, ada seorang dewa yang agung datang ke taman itu. Saat itu, hari sudah malam. Setibanya di sana, cahayanya menyinari seluruh taman. Kita tahu bahwa makhluk surgawi memiliki cahaya yang cemerlang. Saat itu, dia datang ke hadapan Buddha dan memberi hormat dengan tulus, dan memberi hormat dengan tulus, lalu memohon petunjuk dari Buddha. Dia bertanya kepada Buddha. Dewa itu bertanya kepada Buddha

 Dia menyebut Buddha sebagai “Yang Berkekuatan Agung”. Buddha adalah seorang suci dengan kekuatan unggul. Karena itu, untuk memuji keluhuran Buddha, sang dewa menggunakan istilah “yang berkekuatan besar dan berkebahagiaan unggul” untuk menyebut Buddha. Dia berkata, “Segala kehendak sudah tercapai.” “Kebahagiaan apa yang dapat mengungguli terpenuhinya segala keinginan?” Begitulah sang dewa memuji Buddha. “Kebahagiaan apa lagi yang melampaui terpenuhinya segala keinginan?” Sang dewa menggambarkan bahwa kondisi tercapainya segala keinginan adalah yang paling membahagiakan. Inilah pikiran dalam batinnya Dia mengutarakan bahwa kondisi batinnya sama dengan kondisi batin Buddha yang penuh kebahagiaan. Akan tetapi, Buddha menjawab, “Berkekuatan besar memang membawa kebahagiaan.” Itu tidak salah

 Akan tetapi, kebahagiaan dan kedamaian yang sesungguhnya datang dari batin yang tanpa keinginan. Tiada yang dikejar. Dengan batin seperti ini, seseorang akan damai dan bebas. “Dia yang memiliki nafsu keinginan, akan menderita dan bukan bahagia.” Jika masih memiliki keinginan, seseorang akan menderita, tidak mungkin bahagia. Kebahagiaan yang sesungguhnya datang dari batin yang tanpa pamrih. Jadi, Buddha menjawab bahwa tanpa keinginan adalah kebahagiaan sesungguhnya. Sang dewa mengira bahwa terpenuhinya segala keinginan adalah kunci kebahagiaan, tetapi Buddha malah berkata bahwa tiada keinginan adalah kunci kebahagiaan

 Kondisi batin sang dewa dan Buddha sungguh berbeda. Maksud Buddha adalah segala hal yang dimiliki suatu saat juga pasti berlalu. Ini akan membawa ketidakbahagiaan. Jadi, jika tidak memiliki keinginan, Jadi, jika tidak memiliki keinginan, maka kita tak akan terpengaruh oleh masa lalu, masa kini, dan masa depan. Yang terpenting adalah batin kita merasa tenang dan memiliki rasa puas. Benda materi apakah di dunia ini yang lebih berharga dari ketenangan batin dan lebih berharga dari kepuasan batin? Di dunia ini, tiada sesuatu pun yang patut dikejar. Kita pernah mendengar kisah yang diceritakan seorang relawan di RS Tzu Chi Dalin. Ada seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh. Meski hanya mengalami kecelakaan kecil, orang itu harus dilarikan ke UGD dengan taksi

 Saat tiba di UGD, dokter kita segera memeriksanya. dokter kita segera memeriksanya. Sebelum hasil pemeriksaannya keluar, di UGD día berbincang-bincang dengan relawan kita dan berkata, “Saya adalah umat Buddha.” “Saya sudah membaca banyak Sutra.” “Saya mengerti ajaran Buddha.” Dia mulai mengulang semua yang dia baca. Gatha Pembuka Sutra yang berbunyi “Dharma yang agung dan dalam tiada tara”, dia bisa mengulangnya dengan lancar. Dia sepertinya sangat taat

 Setiap hari dia melakukan puja. Setiap hari dia melantunkan Sutra. Mendengar ceritanya, semua orang merasa orang itu memiliki pengetahuan yang dalam tentang ajaran Buddha. Setelah hasil pemeriksaannya keluar, relawan kita berkata, “Tuan, Anda tidak apa-apa, hanya mengalami sedikit luka luar.” “Semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah, Anda boleh pulang dan beristirahat.” “Tidak ada masalah, beruntung Buddha melindungi.” Saat ingin pulang, dia berkata kepada para relawan, “Saya ingin membayar ongkos taksi, perlu sekitar seratus dolar NT.” “Bolehkah kalian bantu saya membayarnya karena saya tidak punya uang?” Relawan kita yang cukup bijaksana melihat sorot matanya, lalu berkata, “Anda ada bawa uang, mungkin Anda lupa.” “Anda bisa cari di saku baju Anda

” “Mari, saya bantu cari.” Setelah dicari, ada lebih dari tiga ribu dolar dalam sakunya. Akan tetapi, dia tidak rela. Dia merasa uangnya yang lebih dari tiga ribu dolar akan berkurang jika diambil sekitar seratus dolar. akan berkurang jika diambil sekitar seratus dolar. Dia tidak berpikir bahwa dirinya beruntung hanya mengalami kecelakaan kecil. Terlebih lagi, pemeriksaan tidak menunjukkan adanya masalah. Dia seharusnya senang. Berhubung memanggil taksi, wajar jika harus membayar dengan sedikit uang. Dia malah meminta rumah sakit yang membayarnya

 Lihatlah, dia adalah umat Buddha. Dia dapat menghafal Sutra dengan lancar, tetapi dalam batinnya masih ada ketamakan. Ketamakan ini membawa penderitaan. Bukan hanya itu. Dengan adanya kejadian itu, penilaian orang terhadapnya menjadi berbeda. Dia tidak terlihat seperti umat Buddha, bahkan mungkin menjadi bahan tertawaan. Dia mungkin dinilai sebagai orang yang kikir. Lihatlah, ketamakan membuat orang kehilangan integritas. Apakah semua orang seperti itu? Ya, sebagian orang seperti itu, sangat jarang ada Bodhisattva dunia

 Dari seluruh populasi dunia, jumlah Bodhisattva dunia kita jauh lebih sedikit. Jadi, kita harus lebih giat untuk merekrut lebih banyak Bodhisattva dunia agar lebih banyak orang dapat meningkatkan kualitas batinnya hingga menjadi sama dengan Buddha, yakni tanpa pamrih. Jika memiliki banyak nafsu keinginan, maka akan menderita dan tidak bahagia. Jika kita dapat memahami kebenaran ini, maka kita tidak akan sama dengan dewa tadi. Dewa tadi masih dipenuh kesombongan. Dia merasa dia memiliki segalanya Dia merasa dia memiliki segalanya dan tidak punya keinginan lagi. Sebaliknya, Buddha berkata bahwa saat menginginkan sesuatu, setelah kita memilikinya, sesuatu itu pun suatu saat akan hilang. Jadi, lebih baik kita tidak mengejar apa pun. Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran sang dewa. Jadi, setelah mendengarnya, sang dewa sangat gembira

 Setelah mendengar perkataan Buddha, día bergembira dan bersujud kepada Buddha, lalu menghilang. Inilah percakapan antara Buddha dan seorang dewa. Sang dewa sangat menghormati Buddha sehingga bersujud di hadapan-Nya. Setelah memohon ajaran, dia menyadari bahwa pemahamannya berbeda dengan Buddha. Sang dewa berpikir bahwa berhubung semua keinginan sudah terpenuhi, maka dia tidak perlu lagi mengejar keinginan, sedangkan Buddha sama sekali tidak memiliki keinginan. Tidak ada lagi nafsu keinginan pada Buddha. Di sinilah perbedaannya. Sang dewa akhirnya paham, maka sebelum pergi, dia kembali bersujud kepada Buddha, dia kembali bersujud kepada Buddha, baru kemudian menghilang. baru kemudian menghilang. Inilah pembabaran Dharma oleh Buddha kepada sang dewa. Mereka yang mengerti, tahu bahwa ini hanya perbedaan pola pikir. Inilah pencerahan

 Sedikit saja kemelekatan ada, itulah kegelapan batin. Kegelapan dan pencerahan hanyalah kondisi batin. Jadi, kita harus memahami bahwa keinginan yang tak tercapai membawa penderitaan. Jika memiliki banyak keinginan, maka selamanya kita akan tidak pernah puas. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus menyelami kondisi batin Buddha. Untuk itu, harap selalu bersungguh hati.

Leave A Comment