Sanubari Teduh – 204 – Delapan Penderitaan Bagian 5
Saudara se-Dharma sekalian, saat kondisi iklim tidak selaras, saat tubuh kita berinteraksi dengan cuaca yang tidak bersahabat, jika tidak hati-hati, kita bisa terserang flu. Karena itu, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Tubuh kita dan kondisi cuaca di luar harus senantiasa dijaga keselarasannya. harus senantiasa dijaga keselarasannya. Terlebih lagi dengan pikiran kita. Pikiran dan kondisi hidup kita dalam keseharian juga harus selalu selaras. Jika pikiran dan kondisi lingkungan tak selaras, maka batin kita juga akan terserang penyakit
Karena itu, kita harus senantiasa mawas diri. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang derita lahir, tua, sakit, dan mati. Itu semua berhubungan dengan tubuh kita. Selanjutnya adalah penderitaan karena berpisah dengan yang dikasihi. Di dalam hati makhluk awam ada “cinta”. Cinta itu adalah cinta yang penuh kemelekatan. Karena adanya cinta yang penuh kemelekatan, makhluk awam hidup menderita. Kita sering menyebutnya dengan hubungan “cinta” di antara sesama manusia. Orang sering berkata, Sungguh, jika antarmanusia terjalin hubungan cinta yang penuh kemelekatan, maka perpisahan akan sangat membawa derita
Ada orang yang melekat terhadap cinta. Cinta ada banyak jenis, seperti cinta terhadap keluarga, teman, pasangan, dan lawan jenis. Jika ada kemelekatan, cinta terhadap apa pun akan membuat pikiran kita keliru dan risau sehingga kehidupan kita menjadi tidak selaras. Ini juga membawa penderitaan yang tak terkira. Karena itu, disebut penderitaan karena berpisah dengan yang dikasihi. Dalam kehidupan di dunia ini, kita sering mendengar hubungan asmara antara pria dan wanita. Anehnya, hubungan penuh nafsu antara pria dan wanita sering kali menciptakan masalah bagi masyarakat
Ada seorang anak muda yang berkenalan dengan seorang gadis. Mereka menjalin hubungan yang mesra hingga sulit untuk dipisahkan. Saat menerima surat panggilan Saat menerima surat panggilan untuk mengikuti wajib militer, pasangan ini mulai merasa khawatir. Mereka terpisah oleh jarak yang begitu jauh, apakah si gadis yang harus pergi menjenguknya atau sebaliknya? Sebelum mengikuti wajib militer, mereka sudah sulit terpisahkan. Orang tua pria itu mulai merasa khawatir. Jika terus demikian, bagaimana putranya mengikuti wajib militer? Mereka terus menasihati putranya, “Kamu harus mempersiapkan mental.” “Saat mengikuti wajib militer, kamu tak boleh seperti itu.” “Kamu harus segera mempersiapkan mental
” Putranya itu berkata, “Jika tidak bisa bersama dengannya, bagaimana saya bisa hidup?” Putra itu berkata begitu terus terang pada ibunya. Sang ibu merasa sangat khawatir. Saat tiba hari untuk masuk wajib militer, bagaimana pun dia tetap harus pergi. Jadi, dia pun pergi melapor untuk masuk kamp militer. Selama menjalani program pelatihan militer, Selama menjalani program pelatihan militer, para peserta tidak boleh meninggalkan kamp. Namun, anak muda itu malah pergi dengan memanjat pagar demi bertemu dengan gadis tersebut. Orang-orang di kamp mulai mencarinya. Mereka menelepon ke rumahnya, “Dia baru 2 hari masuk kamp.” “Dia baru 2 hari masuk kamp
” “Di mana dia sekarang?” Dia menghilang entah ke mana. Ibunya merasa sangat khawatir, orang-orang di kamp militer juga sangat khawatir. Sesungguhnya, ini adalah tanggung jawab kamp militer ataukah tanggung jawab keluarga? Namun, sang ibu tahu ke mana harus mencarinya. Ternyata, anaknya sedang berkencan dengan gadis itu. Sang ibu merasa sangat tidak berdaya. Beliau kembali menasihatinya, “Ini adalah peraturan militer.” “Kamu harus cepat kembali ke kamp.” Akhirnya anak itu kembali ke kamp. Karena melanggar peraturan militer, maka dia pun dikenakan sanksi berat. Namun, dia masih sulit beradaptasi hingga akhirnya enggan makan
Hidupnya mulai menjadi tidak normal. Lalu, pihak militer mengantarnya berobat, tetapi sia-sia. Anak itu sungguh menjadi tidak normal. Setengah tahun kemudian, pihak militer mengantar anak itu pulang ke rumah. Sejak saat itu, sang ibu mulai mengantar anaknya pergi berobat dan lain-lain, tetapi semuanya sia-sia. Kejiwaan anak itu sudah terganggu. Dia hanya mengenali orang yang dikasihinya
Orang tua si gadis juga menentang anaknya terus menjalin hubungan dengan pria yang jiwanya terganggu itu. dengan pria yang jiwanya terganggu itu. Gadis itu juga menyadari bahwa pria itu bukan sandaran hidupnya. Karena itu, dia mulai menjaga jarak dengannya, bahkan berhenti menjenguknya. Akibatnya, penyakit pria itu semakin lama semakin parah. Ibunya sangat sedih saat menceritakan hal ini kepada saya beberapa tahun yang lalu. Saat itu, anak itu bolak-balik antara rumah sakit dan rumah. dan rumah. Sang ibu berkata, “Saya sangat khawatir saat dia pulang ke rumah karena takut dia melakukan hal yang berbahaya.” “Dia seperti sebuah bom di rumah saya
” “Jika memindahkannya ke rumah sakit jiwa, “Jika memindahkannya ke rumah sakit jiwa, saya harus menanggung beban ekonomi yang berat.” “Apa yang harus saya lakukan?” Saat itu saya berkata padanya, “Kamu bisa mengajukan surat keterangan tidak mampu.” Bagaimana mungkin seorang ibu tunggal bisa menjaga anaknya yang sudah dewasa yang menderita gangguan jiwa? “Akan tetapi, saya memiliki sebuah rumah.” “Apa yang harus saya lakukan?” “Kamu bisa mencoba mengajukan permohonan kepada pihak pemerintah.” Namun sayangnya, permohonannya ditolak. Namun sayangnya, permohonannya ditolak. Saya ingat pada saat itu, kita hanya memiliki satu cara untuk membantu kasus ini, yaitu meminta anggota komite kita lebih memperhatikan keluarga ini dan mencari cara untuk menyadarkan anak itu. dan mencari cara untuk menyadarkan anak itu. Kasus ini terjadi beberapa tahun lalu. Kasus ini adalah contoh tentang pikiran manusia yang keliru
Hubungan yang penuh nafsu antara pria dan wanita membuat seorang anak muda yang awalnya penuh harapan menderita gangguan jiwa hingga akhirnya menghancurkan seluruh hidupnya. Inilah derita akibat berpisah dengan yang dikasihi. Saat tidak bisa terus bersama dengan orang yang dikasihi, Ini yang disebut terpisahkan. Tidak bisa bersama dengan yang dikasihi juga mendatangkan penderitaan tak terkira. Selain hubungan asmara antara pria dan wanita, juga ada perasaan terhadap keluarga. Kini kita akan membahas tentang perasaan terhadap keluarga. Ini adalah kasus yang sangat jarang. Pada zaman Buddha hidup terdapat sebuah kasus seperti ini. Ada seorang upasika yang sangat taat. Umat perumah tangga ini sangat taat. Dia sering mendengar Buddha membabarkan Dharma
Dia hanya memiliki seorang anak. Putranya sangat rupawan. Anak itu sangat patuh pada ibunya. Hubungan ibu dan anak itu sangat baik. Anak itu sangat berbakti, ibunya juga sangat sayang padanya. Suatu hari, sang ibu bagai melihat suatu kondisi di mana bagai melihat suatu kondisi di mana ada setan yang datang menarik anaknya. Saat itu, dia sangat panik, lalu berteriak, “Saya adalah umat Buddha.” “Saya meyakini dan mempraktikkan ajaran Buddha.” “Saya menaati peraturan dan menaati lima sila
” “Bagaimana boleh kamu menarik anak saya?” Raja setan berkata, “Kamu meyakini Buddha dan menaati lima sila.” “Namun, anakmu harus menerima buah karmanya sendiri.” Sang ibu berkata, “Saya memohon, bagaimana pun caranya, saya berharap anak saya bisa tetap tinggal.” “Saya akan melatih sila.” Raja setan berkata, “Baiklah.” “Melihat kamu begitu tulus mendengar ajaran Buddha dan memiliki keyakinan benar, kini saya akan melepaskan anakmu.” “Namun, ini hanya bersifat sementara.” “Saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi kecuali anak ini juga memasuki pintu Buddha dan menaati sila.” Lalu, raja setan itu melepaskan tangan anaknya
Lalu, raja setan itu melepaskan tangan anaknya. Saat itu, sang ibu bagai tiba-tiba tersadar. Di dalam otaknya terus terbayang anaknya yang ditarik secara paksa oleh setan. Sang ibu berpikir, “Saya adalah umat Buddha.” Jadi, dia memohon kepada setan itu dan raja setan pun mengabulkannya. Namun, raja setan berkata, “Anak ini harus menaati sila.” “Jika tidak, saya hanya melepaskannya untuk sementara.” Kondisi seperti itu terus terbayang-bayang di dalam benak sang ibu. Ibu itu memutuskan untuk menasihati anaknya agar meninggalkan keduniawian. Anak itu sangat patuh
Adakalanya, dia juga mengikuti ibunya pergi mendengar Dharma. Karena itu, anak itu berkata, “Meninggalkan keduniawian juga baik.” “Kehidupan manusia tidak kekal.” “Saya tidak bisa selamanya bersama dengan ibu.” “Di dunia ini tidak ada perjamuan yang tidak berakhir.” Jadi, dia pun mendengar nasihat ibunya untuk meninggalkan keluarga dan melepaskan keduniawian. Namun, meski sudah menjadi bhiksu, dia masih tak dapat menenangkan hati. Dia terus memikirkan ibunya Dia terus memikirkan ibunya dan keluarganya. Meski tubuhnya sudah menjadi bhiksu, tetapi hatinya masih terus memikirkan rumah karena sang ibu sangat sayang kepadanya. Dia sulit melepaskan perasaannya pada ibunya. Suatu hari, anak itu meninggalkan Sangha untuk kembali ke rumah. Saat melihat anaknya yang baru menjadi bhiksu kembali ke rumah, hati sang ibu merasa sangat khawatir. Ibu yang melihat anaknya kembali seharusnya merasa gembira, tetapi mengapa ibu ini malah merasa khawatir? Sang ibu sangat bijaksana karena sering mendengar ajaran Buddha
Dia telah menyerap ajaran Buddha ke dalam hati. Dia tahu bahwa mereka tidak mungkin bersama selamanya. Cepat atau lambat, mereka akan berpisah. Dia sangat berharap bisa melihat anaknya melatih diri dengan giat hingga memperoleh pembebasan yang abadi. Melihat tekad pelatihan anaknya tidak kokoh, Melihat tekad pelatihan anaknya tidak kokoh, tentu saja sebagai ibu, dia merasa khawatir. Saat anaknya berjalan mendekatinya, sang ibu pun menegurnya. Dia berkata, Artinya, “Susah payah kamu meninggalkan keluarga dan melepaskan keduniawian, “Susah payah kamu meninggalkan keluarga dan melepaskan keduniawian, mengapa kini kamu kembali lagi?” Sang ibu pun memberikan sebuah perumpamaan. Contohnya, sebuah rumah yang tengah terbakar
sebuah rumah yang tengah terbakar. Dengan susah payah, kita menyelamatkan semua harta benda dari dalam rumah. Kobaran api yang besar terus membakar rumah itu. Setelah semua harta benda terselamatkan, mengapa kita masih masuk ke dalamnya? Inilah kebijaksanaan sang ibu. Benar. Apakah meninggalkan keduniawian sangat mudah? Bisa terlahir di zaman Buddha hidup Bisa terlahir di zaman Buddha hidup dan bisa menerima langsung ajaran Buddha adalah hal yang sangat tidak mudah. Kehidupan manusia sangat tidak kekal. Mengetahui bahwa kehidupan manusia sangat singkat, Mengetahui bahwa kehidupan manusia sangat singkat, sang ibu menasihati anaknya agar melepaskan keduniawian. Tubuh kita ini bagaikan sebuah rumah. Api di rumah ini terus membakar. Susah payah kita bisa keluar dan memindahkan semua harta benda, mengapa kita masuk ke dalam rumah itu lagi? Ini menggambarkan bahwa kehidupan tidak kekal
Menjadi bhiksu dan melatih sila barulah bisa mencapai keabadian, mengapa anak itu harus kembali lagi ke rumah? Dengan penuh kebijaksanaan, sang ibu menegur dan memberi pelajaran pada anaknya. menegur dan memberi pelajaran pada anaknya. Bagaimana anak itu menjawab ibunya? Bagaimana anak itu menjawab ibunya? Dia berkata, Anak itu merasa sangat aneh. Biasanya hubungannya dengan ibunya sangat baik. “Saya hanya memikiran Ibu.” “Saya mengkhawatirkan Ibu yang usianya semakin hari semakin lanjut.” “Usia Ibu sudah lanjut.” “Ditambah lagi, kehidupan ini tidak kekal.” “Jika suatu hari Ibu meninggal dunia, maka saya tidak bisa bertemu dengan Ibu lagi
” maka saya tidak bisa bertemu dengan Ibu lagi.” Jadi, dia khawatir jika ibunya meninggal dunia, dia tak bisa bertemu lagi dengannya. Karena itu, dia segera pulang untuk melihat ibunya. “Saya sudah sengaja pulang, mengapa Ibu tidak gembira?” Ibunya kembali berkata pada anaknya, “Anakku, kamu sudah menjadi bhiksu.” “Setelah menjadi bhiksu, kamu harus meninggalkan keluarga dan melepaskan semua orang yang kamu kasihi.” “Kita jalani hidup masing-masing.” “Kini kamu masih muda.” “Sulit untuk mendengar ajaran Buddha, sulit untuk terlahir di zaman Buddha.” “Berhubung memiliki jalinan jodoh yang demikian baik, kamu harus menjaga tekad pelatihanmu dengan baik
” “Setelah melepaskan keduniawian, kamu harus meninggalkan keluarga dan orang yang dikasihi.” “Dengan begitu, baru kamu bisa berfokus melatih diri.” Setelah mendengar penjelasan dari sang ibu, Setelah mendengar penjelasan dari sang ibu, akhirnya bhiksu muda itu bisa merasakan kesungguhan hati ibunya. Dia juga tahu bahwa untuk merelakannya pergi, ibunya juga merasa sangat sedih. Demi mendukung pelatihan dirinya, ibunya juga harus bisa merelakan. Dia bisa memahami niat baik ibunya. Karena itu, dia sadar untuk untuk tak lagi terjerat oleh perasaan. Dia menyadari bahwa suatu hari mereka juga pasti akan berpisah. Karena itu, dia memutuskan untuk kembali ke dalam Sangha. Sejak saat itu, dia sangat giat dan bersemangat melatih diri. Meski masih muda, dia dapat mengendalikan pikiran, berfokus untuk mendengar Dharma, dan melakukan praktik nyata untuk memahami kebenaran. Anak muda itu sudah mencapai tingkat Arhat
Ini adalah salah kisah pada masa Buddha hidup. Upasika itu adalah umat perumah tangga. Upasika itu adalah umat perumah tangga. Setelah mendengar ajaran Buddha, dia memiliki keyakinan benar. Selain pada masa itu, di masa sekarang ini juga ada kisah seperti itu. Saat mendengar anak ingin meninggalkan keduniawian, ada orang tua yang merasa sangat gembira. Hal seperti ini sering terjadi di Griya Jing Si. Saat mereka mengantar putri mereka ke sini, saya akan bertanya, “Kalian rela dia menjadi bhiksuni?” Mereka berkata, “Ini adalah berkahnya.” “Meninggalkan keduniawian adalah hal baik.” “Dunia ini penuh dengan derita
” Saya berkata, “Dia harus beradaptasi di Griya Jing Si selama 2 tahun lebih, apakah kalian tahu?” “Tahu, biarkan dia melatih diri agar tekad pelatihannya bisa kokoh.” “Dua tahun kemudian, “Dua tahun kemudian, jika putri kalian memutuskan untuk menjadi bhiksuni, apakah kalian bisa mengizinkan?” Mereka berkata, “Kami sudah lama menunggu hari itu.” Mereka sangat bahagia bisa mendukung pelatihan diri anak mereka. Selanjutnya, bergantung pada anak itu sendiri apakah sungguh-sungguh ingin melatih diri, apakah sungguh-sungguh ingin melatih diri, apakah mereka bersedia memantapkan tubuh dan pikiran di ladang pelatihan ini. tubuh dan pikiran di ladang pelatihan ini. Dengan menyelaraskan tubuh dan pikiran, barulah kita bisa mewujudkan pelatihan diri dengan hati yang tenang. Saudara sekalian, untuk mendalami ajaran Buddha, dibutuhkan tekad
Kondisi batin kita dan kondisi luar haruslah selaras. Karena itu, saya berharap semua orang bisa selalu bersungguh hati.