Sanubari Teduh – 207 – Delapan Penderitaan Bagian 8
Saudara se-Dharma sekalian, setiap saat, setiap hari, setiap saat, setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun, kita hendaknya selalu dipenuhi rasa syukur. Kita harus melewati setiap detik dengan penuh rasa syukur karena usia kehidupan kita, dimulai dari lahir, tua, sakit, hingga mati, semuanya adalah akumulasi detik demi detik semuanya adalah akumulasi detik demi detik yang membuat usia kehidupan kita menjadi panjang. Apakah usia kehidupan yang panjang bernilai dan bermakna? Usia kehidupan yang tidak bernilai dan tidak bermakna sungguh membawa penderitaan tak terkira. Ini karena saat waktu semakin panjang, karma yang terakumulasi juga semakin banyak
Lingkaran kehidupan tidak pernah berhenti, tetapi semua makhluk menjalaninya dalam fragmen-fragmen. Setiap fragmen kehidupan memiliki kelahiran dan kematian. Di balik kelahiran dan kematian makhluk awam, ada sebuah kekuatan yang selalu hidup atau yang lebih sering disebut kekuatan karma. Karma buruk kita terus mengikuti tanpa henti. Dari kehidupan ini ke kehidupan mendatang, kita terus membawa benih karma ini bersama kita. Jika kita bisa segera sadar dan menciptakan berkah, maka benih itu akan berubah baik
Setelah benih berubah, maka kita akan perlahan-lahan menghimpun benih karma baik yang akan kita bawa hingga kehidupan mendatang. Benih ini disebut dengan karma. Dahulu, kita tidak memiliki pemahaman mendalam tentang benih karma dan kesadaran kedelapan. Ilmu kedokteran sudah mulai mengkajinya. Saya sering mendengar dokter yang membahas tentang mutasi genetik. Gen yang dimaksud tidak lepas dari benih karma kita. Gen yang ada pada diri kita Gen yang ada pada diri kita diwariskan oleh orang tua kita
Kini kita membahas Delapan Penderitaan. Saat membahas derita kelahiran, telah kita bahas mengenai benih yang tidak bersih dan tempat tinggal yang tidak bersih. Dalam kehidupan kita, kita mewarisi benih yang tidak bersih dari kehidupan lampau. Dimulai dari perpaduan benih orang tua, Dimulai dari perpaduan benih orang tua, kita tumbuh dalam kondisi yang tidak bersih. Buah karma pegondisi kita menentukan lingkungan tempat kita hidup. Ini disebut buah karma pengondisi. Ia membuat kita terkondisi untuk tinggal di suatu tempat
Mengenai tempat tinggal, kini kita tinggal di Taiwan. Kita semua memiliki jalinan jodoh sehingga sama-sama tinggal di Taiwan. Jika diperluas, kita tinggal di tanah yang sama. Tanah yang luas ini disebut bumi. Mengenai bumi ini, di negara mana pun kita tinggal, di negara mana pun kita tinggal, kita berada di bumi yang sama
Saat bumi ini sehat, kehidupan kita akan tenteram setiap saat, Baik dalam setiap detik, setiap menit, setiap jam, maupun setiap hari. Bumi adalah tempat tinggal kita bersama. Akan tetapi, yang kita lihat saat ini adalah perkataan Buddha tentang rentannya bumi ini. Mengapa alam bisa begitu rentan? Buddha membabarkan tentang pembentukan, kelangsungan, kerusakan, kehancuran. Saat memasuki Kalpa Kerusakan, bumi akan terus mengalami kerusakan. Ini adalah era kerusakan. Jadi, kita semua tinggal di bumi ini pada era kerusakan ini
Ini adalah buah karma pengondisi kita, sedangkan buah karma langsung adalah tubuh kita. Sesungguhnya, jalinan jodoh apa yang telah kita buat sehingga bertemu dengan orang tua kita? Jalinan jodoh apa yang ktia buat sehingga kita tumbuh di lingkungan yang ada sekarang? Jalinan jodoh apa pula yang membuat kita bertemu dengan orang-orang di sekitar kita? Di keluarga, kita berjodoh dengan orang tua dan saudara. Kita lambat laun tumbuh besar dan bersekolah. Kita berjodoh dengan teman-teman dan guru. Setelah dewasa, orang-orang terjun ke tengah masyarakat dan bertemu banyak rekan kerja. Saudara sekalian, dalam kehidupan ini, kekuatan karma terus membelenggu kita. Tabiat buruk kita terus berlanjut sejak masa lampau, membuat kita menciptakan jalinan jodoh yang tidak jelas dengan orang-orang di sekitar
Jika memiliki tabiat baik, maka kita akan menjalin jodoh baik. Dengan memiliki tabiat baik, kita akan bertutur kata baik, membangkitkan tekad yang baik, dan melakukan hal baik Sehingga dapat memupuk berkah. Bukan hanya jalinan jodoh baik, kita juga dapat memupuk berkah. Kita dapat terus memupuk berkah. Begitulah, dari lahir hingga dewasa, benih karma dan jalinan jodoh terus dipupuk. Lawan dari jalinan jodoh baik dan berkah adalah jalinan jodoh buruk. Ini adalah benih yang buruk atau karma buruk
Ia terus terakumulasi. Benih-benih ini akan berbuah yang membuat kita merasakan penderitaan tak terkira. Di dalam proses kehidupan yang kompleks, kita mengalami lahir, tua, sakit mati, berpisah dengan yang dikasihi, bertemu dengan yang dibenci, dan keinginan tidak tercapai. Kini kita akan membahas yang kedelapan dari Delapan Penderitaan, yakni derita akibat Lima Agregat. Kita sudah membahas bahwa Lima Agregat sama dengan Panca Skandha yang berarti menutupi. Ia menutupi hakikat sejati kita yang murni. Hakikat kita yang murni bagai tertutup oleh bayangan. Karena itu, kita tidak bisa memancarkan hakikat murni yang sama dengan Buddha
Ini karena Lima Agregat menutupi kita. Ia sangat besar. Hingga hal-hal yang halus pun dapat ia tutupi. dapat ia tutupi. Segala kebenaran ia tutupi. Karena tidak benar, kita tak dapat memancarkan kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan yang cemerlang, noda dan kegelapan batin akan terus bertambah. Dengan begitu, terjadilah penderitaan akibat lahir, tua, sakit, mati, dll. yang terus menumpuk. Inilah yang disebut “membara”
Akibat noda batin yang terus berlipat ganda, ia menjadi bagai api yang membakar. Inilah yang disebut “membara”, sangat panas. Jadi, baik dalam lingkup kehidupan di dunia maupun lingkup diri kita sendiri, memiliki suatu energi negatif yang terlampau “panas”. Energi yang terlampau panas ini juga tidak baik. Karena itu, dalam Sutra Bunga Teratai ada sebuah perumpamaan tentang rumah yang terbakar. Dunia tidak aman bagai rumah yang terbakar. Inilah perumpamaan yang tertulis dalam Sutra Bunga Teratai
Rumah yang terbakar api adalah perumpamaan bagi semua makhluk yang hidup menderita di tengah Lima Kekeruhan. Api menggambarkan Lima Kekeruhan yang meliputi dunia saat ini. Rumah yang terbakar melambangkan Tiga Alam. Apa yang dimaksud Tiga Alam? Tiga Alam adalah alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa. Inilah yang disebut Tiga Alam. Semua makhluk di Tiga Alam terbakar oleh Lima Kekeruhan dan Delapan Penderitaan sehingga tak dapat memperoleh kedamaian. Jadi, kita bagai tinggal di rumah yang terbakar
Kita semua tinggal di atas bumi yang sama. Begitu unsur alam tidak selaras, penderitaan yang tak terkira akan datang. Kita hidup di tengah Lima Kekeruhan. Apa yang disebut Lima Kekeruhan? Lima Kekeruhan adalah kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan, kekeruhan noda batin, kekeruhan makhluk hidup, dan kekeruhan usia. Inilah yang disebut Lima Kekeruhan. Lima Kekeruhan ini adalah sesuatu yang tidak bersih. Artinya, dunia dipenuhi noda batin dan karma buruk. Saat berbagai sebab dan kondisi buruk berkumpul, itulah yang disebut kekeruhan. Seiring berjalannya waktu, kekeruhan ini mulai tumbuh
Setiap siang hari, saat berjalan kembali dari ruang makan, saya selalu melihat pemandangan yang sama, yakni ada orang yang menyapu di sini. Tempat ini sudah disapu pada pagi hari, tetapi harus disapu kembali pada siang hari. Saya melihat orang-orang mengepel lantai dari sana kemari. Setiap kali, sesampainya di sini, saya selalu melihat mereka sudah mengepel sampai di sini. Waktunya selalu pas. Saat mereka menyapu, saya bertanya, “Tadi pagi kalian baru mengepelnya hingga sangat bersih, mengapa sekarang sudah kotor lagi?” Ada banyak kapas atau berbagai kotoran lainnya. Setiap hari kita menyapu dua kali, tetapi noda, debu, rontokan kain dari pakaian, atau kotoran lainnya terus berdatangan tanpa kita sadari. Menghadapi kondisi ini di dalam keseharian, saat beraktivitas, kita merasa lingkungan kita bersih. Seiring terakumulasinya menit dan detik, lingkungan kita menjadi kotor, terlebih lagi jika waktu terakumulasi dalam hitungan kalpa, bukan hanya menit atau detik
Waktu yang terakumulasi sangat panjang dan tidak dapat dihitung dalam satuan tahun, ribuan tahun, atau puluhan ribu tahun. Ia tidak dapat dihitung, maka digunakanlah satuan kalpa. maka digunakanlah satuan kalpa. Kalpa adalah sebuah satuan waktu. Jadi, waktu terus terakumulasi sejak bumi ini terbentuk. Mulanya, bumi ini sangat bersih dan alami. Seiring berjalannya waktu, gunung, sungai, dan segala sesuatu di alam terus berubah dan berproses. Jadi, kondisi terus berubah
Makhluk hidup terus bertambah. Saat banyak hal sudah terbentuk, datanglah fase keberlangsungan. Pada fase ini, segala sesuatu terus-menerus berkembang. Karma semua makhluk pun semakin banyak. Jadi, karma yang tidak murni dan negatif juga terus terpupuk dalam waktu panjang. Inilah yang disebut kekeruhan kalpa. Dari mana asal mula kekeruhan kalpa? Di manakah asal mula kekuatan karma yang membuat kekeruhan zaman ini? Kekeruhan pandangan— pandangan dan pemahaman manusia. Mengenai pandangan, setiap orang memiliki pandangan berbeda. Setiap orang juga memiliki jodoh baik dan buruk yang terus tarik-menarik sehingga menambah kekeruhan dalam batin
Akibatnya, timbullah kekeruhan pandangan. Karena berbagai pandangan yang menyimpang, manusia menciptakan banyak karma buruk. Akibat pandangan yang menyimpang, timbul pertikaian antarsesama manusia. Bencana akibat ulah manusia mulai terjadi. Di mulai dari keluarga, masyarkaat, hingga negara, pertikaian terus terjadi. Semua ini terjadi akibat perbedaan padangan. Dari mana perbedaan pandangan bermula? Dari noda batin. Noda batin terdiri atas ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan
Berbagai noda batin yang terpupuk ini mendatangkan apa? Kekeruhan makhluk hidup. Noda batin berasal dari manusia. Manusia dan alam beserta isinya saling berkaitan. Binatang juga bisa saling berebut. Yang kuat bisa memakan yang lemah. Lihatlah, harimau bisa mengejar kelinci. Ini adalah salah satu contoh kondisi saling membunuh di alam binatang. Di air, ikan besar juga memakan ikan kecil
Di dalam ekosistem mana pun, ada hewan-hewan yang saling membunuh, terlebih lagi manusia. Ikan tidak dapat memakan manusia, tetapi manusia malah memakan ikan. Jadi, di antara semua makhluk, dapat kita ketahui berapa banyak karma buruk yang diciptakan manusia. Tidak dapat dihitung. Inilah kekeruhan makhluk hidup. Semua makhluk menciptakan karma buruk sehingga merasakan berbagai penderitaan. Karena itu, timbullah kekeruhan usia
Di dunia ini, tiada yang lebih berharga dari kehidupan. Namun, tanpa kehidupan atau nyawa, manusia tak dapat menciptakan karma. Jadi, banyak hal yang kontradiktif. Mengenai kekeruhan usia, kita tahu bahwa kehidupan tidak kekal. Apakah kita semua dapat menghargai usia kehidupan kita? Dapatkah kita sungguh-sungguh menghargai kehidupan dan menggunakannya sebagai sarana melatih diri? Di dunia ini, terlalu banyak hal yang belum kita pahami. Masih banyak kekuatan karma yang kelak akan berbuah dan belum kita ketahui. Jadi, bukankah kita harus memanfaatkan waktu saat ini untuk menciptakan berkah dengan hidup kita untuk menciptakan berkah dengan hidup kita sesuai ajaran Buddha dengan harapan di tengah Lima Kekeruhan ini, kita dapat menciptakan benih yang murni
Ini bergantung pada keteguhan tekad semua orang. Jadi, tadi kita sudah membahas bahwa kita hidup di Tiga Alam. Alam nafsu ada pada pikiran kita. Alam rupa meliputi segala sesuatu yang kita temui dan berwujud. Ada pula sesuatu yang tak berwujud yang bisa menciptakan noda batin bagi kita. Ini penjelasan sederhana tentang Tiga Alam
Demikianlah, segala nafsu keinginan di dunia, segala benda berwujud di dunia, serta segala noda batin yang tak berwujud merupakan proyeksi Tiga Alam di dalam diri kita. Karena hidup di Tiga Alam ini, maka kita mengalami Delapan Penderitaan
Delapan Penderitaan meliputi lahir, tua, sakit, mati, berpisah dengan yang dikasihi, berkumpul dengan yang dibenci, keinginan tidak tercapai, dan membaranya Lima Agregat. Inilah Delapan Penderitaan yang selama ini kita bahas. Saudara sekalian, sesungguhnya penderitaan ini adalah kenyataan. Semua orang harus memahami kebenaran tentang penderitaan, baru bisa memperoleh kebahagiaan. Kita semua harus selalu bersungguh hati.