Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 208 – Sembilan Gangguan Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, seiring berlalunya satu hari, usia kita juga berkurang satu hari. Usia kehidupan kita sama seperti waktu

 Waktu terus berlalu tanpa kita sadari, usia kehidupan kita juga terus berlalu. Waktu dan usia kehidupan kita terus berlalu tanpa disadari. Namun, waktu membuat kita menghimpun kekuatan karma, baik karma baik maupun karma buruk. Jika selalu berbuat baik, berarti kita telah menciptakan karma baik. Sebaliknya, jika berbuat jahat, berarti kita telah menciptakan karma buruk. Waktu semakin panjang, karma baik dan karma buruk juga semakin terhimpun. Karena itu, kita harus segera meningkatkan kesadaran untuk memperbaiki diri. Meski kekuatan karma masih terhimpun hingga sekarang, tetapi setidaknya kita bisa memanfaatkan waktu untuk memperbaiki diri. Kita jangan menghimpun karma buruk lagi. Kita harus mengubah keburukan menjadi kebaikan sehingga jika jalinan jodoh buruk matang terlebih dahulu, kita masih ada jalinan jodoh baik yang membantu

 Karena itu, kita harus memanfaatkan waktu dengan baik dan jangan menyia-nyiakannya. Kehidupan ini adalah sarana kita untuk melatih diri. Jika tidak memanfaatkan hidup ini dengan baik, maka pelatihan diri kita akan mundur sehingga kehidupan kita akan sia-sia. Karena itu, kita harus memanfaatkan kehidupan ini untuk melatih diri. Pelatihan diri ada dalam keseharian kita. Saya sering berkata bahwa pelatihan diri tak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Segala hal dan semua orang yang kita temui dalam keseharian bisa membantu pelatihan diri kita. Cara kerja hukum karma selalu sangat tepat. Buah perbuatan kita pada kehidupan ini akan kita terima pada kehidupan mendatang. Bukan berarti benih karma kita pada kehidupan ini akan hilang pada kehidupan mendatang. Pada masa Buddha hidup, Beliau juga membabarkan Dharma kepada kita

 Buddha menggunakan konsep hukum sebab akibat agar kita memahami hukum karma. Fragmen kehidupan setiap makhluk awam memiliki kelahiran dan kematian atau transmigrasi ke alam kehidupan lain. Selama belum terbebas dari lingkaran kehidupan, kita akan terus mengalami kelahiran kembali. Semua makhluk pasti mengalami kelahiran dan kematian. Orang yang lebih panjang umur juga akan meninggal suatu hari nanti. juga akan meninggal suatu hari nanti. Ada pula orang yang pendek umur. Mereka semua tetap harus mengalami kematian. Tak peduli panjang umur atau pendek umur, ada kelahiran pasti ada kematian. Fragmen kehidupan setiap makhluk terdapat kelahiran dan kematian

 Panjang atau pendeknya suatu kehidupan bergantung pada jalinan jodoh kita pada kehidupan lalu. Benih perbuatan kita akan berbuah pada kehidupan ini sesuai dengan hukum sebab akibat. sesuai dengan hukum sebab akibat. Namun, pada masa-masa kehidupan sebelumnya, kita menghimpun banyak benih karma. Jika pada kehidupan ini benih karma tidak berbuah, mungkin kita akan menerima buahnya pada kehidupan mendatang. Jadi, satu kehidupan adalah satu fragmen. Contohnya kehidupan kita ini. Masalah kemarin bisa kita selesaikan pada hari ini

 Apakah ia akan menjadi akhir yang baik atau hal buruk yang terus berkelanjutan? Itu bergantung pada hari ini. Mungkin kita sudah melupakan suatu masalah pada tahun lalu. Saat saat, tiba-tiba ada orang mengungkitnya. “Oh, benar.” “Tahun lalu ada kejadian seperti ini.” Jika itu adalah jalinan jodoh baik, mereka akan mencari kita untuk mengucapkan terima kasih. Sebaliknya, jika itu jalinan jodoh buruk, mereka akan datang membuat perhitungan dengan kita. Belum tentu tahun lalu, mungkin saja sejak 10 tahun lalu, 20 tahun lalu, atau sejak kehidupan lampau, kita sudah menghimpun karma buruk

 Demikianlah makhluk awam. Sesungguhnya, Buddha juga demikian. Karena itu, di dalam Kitab Jataka dan Sutra Agama, Buddha sering menceritakan kisah-Nya pada berbagai kehidupan lampau saat Beliau bertemu dengan orang-orang tertentu pada waktu-waktu tertentu agar mereka dapat mendengarnya agar mereka dapat mendengarnya dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah itu. Buddha juga memiliki Sembilan Gangguan. Kita sering berkata bahwa segala kondisi Buddha sangat hening dan jernih. Benar. Hakikat Buddha memang sangat murni. Pada saat akan mencapai kebuddhaan, hati Buddha bebas dari noda batin

 Namun, meski sudah mencapai pencerahan, Beliau tetap mengalami banyak rintangan. It disebabkan buah karma pengondisi belum habis diterima. Beliau sudah melenyapkan segala noda batin. Kita juga harus melatih diri seperti itu. “Janganlah perhitungan.” “Itu tidak apa-apa.” “Saya bisa berpikiran terbuka.” “Terserah dia mau bilang apa, saya tidak akan merasa risau.” “Bagaimana pun perlakuannya terhadap saya, saya tidak apa-apa.” “Saya tetap bersyukur

” Karena pembinaan diri, orang ini sudah tidak perhitungan dengan orang lain sehingga noda batinnya tidak terbangkitkan. Buddha tidak hanya demikian. Selain tidak perhitungan dan sudah bebas dari noda batin, terhadap segala sesuatu di dunia, Beliau bukan hanya melihatnya dengan jelas, tetapi juga bisa memanfaatkan segala sesuatu yang dilihatnya untuk dijadikan sebagai bahan pelajaran. Saya sering berkata kepada kalian bahwa kita jangan menganggap setiap orang dan segala hal sebagai masalah. Jika menganggap setiap orang dan hal sebagai masalah, maka di dalam hati kita akan terhimpun banyak noda batin maka di dalam hati kita akan terhimpun banyak noda batin sehingga kita akan menjalin jodoh buruk dengan banyak orang. Karena itu, janganlah kita perhitungan terhadap segala sesuatu. Jangan kita menganggap setiap hal sebagai masalah dan menyimpannya di dalam hati. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Jika terjadi suatu masalah di hadapan kita, bagaimana cara kita mengatasinya? Kita harus bersyukur. Masalah adalah bahan pelajaran bagi kita. Mengapa kita bisa bertemu masalah? Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Karena adanya sebab, maka terjalinlah jalinan jodoh

 Jelas-jelas hal tersebut sangat sederhana, mengapa bisa menjadi begitu banyak masalah? Kita harus segera berintrospeksi. Jika melakukan suatu kekeliruan, maka kita harus segera mengaku salah. Meski tidak bersalah, kita tetap harus membina hati yang lapang, hati yang penuh cinta kasih, dan rasa syukur. hati yang penuh cinta kasih, dan rasa syukur. Karena itu, janganlah kita menganggap setiap orang dan hal sebagai masalah. Meski terjadi suatu masalah di hadapan kita, kita tetap harus menganggapnya sebagai pelajaran. Buddha memberi tahu kepada kita bahwa pada berbagai kehidupan lalu, pada berbagai kehidupan lalu, kita pasti pernah berbuat keliru. Ini adalah hal yang pasti. Buddha berbagi ajaran ini untuk mengulas hal yang ditemui orang lain, juga hal yang ditemui oleh diri-Nya sendiri. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang Delapan Penderitaan

 Setelah delapan adalah sembilan. Berikutnya kita akan mengulas tentang Sembilan Gangguan. Sembilan Gangguan juga disebut Sembilan Kesulitan Sembilan Gangguan juga disebut Sembilan Kesulitan atau Sembilan Halangan. Mengapa? Sebutan yang lainnya adalah Sembilan Buah Karma Buruk. Sembilan Gangguan itu saja sudah bisa membuat kita risau. Sembilan hal itu bisa membuat kita kesulitan dan serba salah. Semua itu adalah buah karma dari perbuatan di berbagai kehidupan lalu. Karena itu, kini kita harus menerimanya. Baik berbagai kesulitan yang timbul maupun menerima fitnahan dari orang lain, itu semua adalah buah karma kita

 Pada saat melatih diri untuk mencapai pencerahan di dunia ini Pada saat melatih diri untuk mencapai pencerahan di dunia ini serta setelah mencapai pencerahan, serta setelah mencapai pencerahan, Buddha mengalami sembilan jenis bencana. Sekarang kita sudah mengetahui bahwa selama masa kehidupannya, Buddha pernah mengalami sembilan jenis bencana seperti yang sudah kita ulas tadi. Mungkin ada orang berkata, “Buddha sudah terbebas dari segala rintangan dan sudah memperoleh pencapaian dan pahala yang sangat luar biasa.” “Mengapa masih ada begitu banyak buah karma yang harus diterima Buddha?” “Apakah ini benar?” Ini adalah metode terampil. Ini adalah metode terampil. “Buddha bisa mengambil pengalaman orang lain sebagai contoh, mengapa harus menggunakan pengalamannya sendiri?” Ini karena Buddha ingin memberi tahu semua orang bahwa meski sudah mencapai tingkat kebuddhaan, Beliau tetap harus menerima buah karma-Nya dari kehidupan lampau. Meski sudah mencapai kebuddhaan, tetapi buah karma-Nya belum habis diterima. Karena itu, Beliau tetap harus menerimanya

 Begitu pula dengan kita sebagai makhluk awam. Sebagai makhluk awam, kita harus tahu bahwa setelah benih baik ataupun benih buruk tertanam, maka kita pasti mendapat buah karmanya. Jika berbuat baik, maka kita akan menerima buah kebahagiaan. Sebaliknya, jika berbuat jahat, maka kita akan menerima buah penderitaan Jeratan kekuatan karma adakalanya tak bisa kita kendalikan. Karena itu, dalam melatih diri, kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Jika yang ditanam adalah benih baik, maka kita akan memperoleh berkah. Sebaliknya, jika kita menanam benih tak baik, maka dalam hubungan antarsesama atau saat menghadapi suatu hal akan timbul rasa tidak gembira atau timbul pertikaian. Benih yang kita tanam tidak akan hilang. Ia akan terus mengikuti kita dari kehidupan ke kehidupan, Setelah kita menerima buahnya, baru ia akan hilang. Bagaimana sikap kita dalam menerima buah karma penderitaan dan kebahagiaan yang muncul di hadapan kita? yang muncul di hadapan kita? Karena itu, Buddha memberi tahu kepada kita untuk berhati-hati

 Jadi, gangguan, halangan, dan kesulitan Buddha yang pertama adalah menyiksa diri selama enam tahun. Buddha menceritakan sebuah kisah di pinggiran Vebhalinga. Di sana ada seorang anak dari kaum brahmana Di sana ada seorang anak dari kaum brahmana yang bernama Jyotipala. Lalu, ada seorang anak lain yang merupakan anak pembuat barang tembikar. yang merupakan anak pembuat barang tembikar. Sejak kecil, kedua anak ini sangat baik. Mereka berteman baik. Sejak kecil hingga dewasa, kedua anak ini saling menghormati dan saling mengasihi. dan saling mengasihi. Suatu hari, anak pembuat barang tembikar yang bernama Ghatikara berkata kepada Jyotipala, “Ayo, kita pergi bertemu Buddha Kasyapa

” Buddha Kasyapa adalah Buddha pada berkalpa-kalpa yang lampau. Buddha pada masa itu adalah Buddha Kasyapa. Ghatikara yang memiliki akar kebajikan sangat gembira saat mendengar Dharma. Karena itu, dia berharap teman baiknya juga bisa pergi bertemu Buddha Kasyapa. Karena mereka berteman dekat, Jyotipala berkata padanya, “Mengapa saya harus bertemu dengan orang gundul?” “Mengapa saya harus bertemu dengan orang gundul?” “Mengapa saya harus bertemu dengan petapa yang gundul?” Dengan kata-kata yang tajam ini, dia menggambarkan Buddha. Karena kesombongannya, dia enggan pergi. Tiga hari kemudian, Gathikara kembali berkata, Tiga hari kemudian, Gathikara kembali berkata, “Ayo, kita pergi.” Untuk membimbing seseorang, kita harus mencobanya berkali-kali

 Gathikara berharap Jyotipala bisa bertemu dengan Buddha meski hanya sebentar. Dia berharap temannya bisa bertemu dengan Buddha Kasyapa meski pertemuannya sangat singkat. Jyotipala masih bersikap sama. Dengan sikap yang sombong, dia kembali berkata, “Mengapa saya harus bertemu dengan petapa yang gundul?” “Apa Dharma yang dimiliki-Nya sehingga saya harus bertemu dengan-Nya?” Saat mendengarnya, berhubung mereka berteman baik, Gathikara menarik rambutnya, “Kamu mau pergi atau tidak?” Gathikara memakai cara paksa. Dia menarik rambut Jyotipala dengan sekuat tenaga. Jyotipala sendiri merasa sangat terkejut. Dia berpikir, “Gathikara sangat serius.” “Ini pasti hal baik.” “Karena itu, dia begitu serius meminta saya bertemu dengan Buddha Kasyapa

” Saat itu, Jyotipala sendiri merasa terjekut dan merasa Gathikara bukan sedang bercanda. Ini adalah hal yang serius. Karena itu, Jyotipala berkata, “Baiklah.” “Kamu lepaskan saya dahulu.” “Saya segera pergi denganmu.” Jadi, mereka berdua pergi ke vihara Buddha Kasyapa untuk memberi penghormatan. Saat melihat Buddha Kasyapa yang begitu agung, timbul rasa sukacita di dalam hati Jyotipala. Dengan hati yang sangat tulus, Gathikara bertobat pada Buddha Kasyapa. Dia berkata, “Teman saya ini belum memahami Dharma

” “Jika dia ada kesalahan atau bersikap sombong, mohon Yang Dijunjung memaafkannya.” “Semoga Yang Dijunjung bisa membimbingnya.” Buddha Kasyapa sangat penuh cinta kasih dan welas asih terhadap semua makhluk. Terlebih lagi, saat melihat Jyotipala masuk dan bersujud dengan sikap penuh hormat, dan bersujud dengan sikap penuh hormat, Buddha Kasyapa tahu bahwa anak muda ini memiliki tekad pelatihan dan akar kebajikan yang sangat dalam. Karena itu, Buddha Kasyapa membabarkan Dharma bagi dua anak muda ini. Saat Jyotipala mendengarnya, Saat Jyotipala mendengarnya, keyakinan dan tekad pelatihan dirinya semakin kuat. Tak hanya merasakan sukacita, keyakinan dan tekad pelatihan diri juga semakin kuat di hatinya. Sejak saat itu, dia sangat giat mendalami Dharma hingga akhirnya dia menjadi bhiksu

 Dia sangat tekun dan bersemangat untuk mendalami ajaran Buddha. Buddha Sakyamuni lalu berkata, “Jyotipala pada saat itu adalah Aku, Buddha Sakyamuni.” “Saat Aku masih seorang pangeran dan berpikir untuk meninggalkan istana, Ayah-ku dan seluruh keluarga-Ku tidak menyetujuinya.” “Saat ingin meninggalkan istana di tengah malam, Aku tidak tahu harus ke mana.” Gathikara yang saat itu adalah Dewa Suddhavasa datang membimbing Beliau keluar dari kota sehingga Beliau bisa menuju jalan pelatihan diri. Lalu, Buddha kembali berkata, Lalu, Buddha kembali berkata, “Dahulu, Aku pernah bertutur kata buruk untuk menghina Buddha Kasyapa.” Jyotipala menyebutnya petapa gundul

 Ini kata-kata yang tidak enak didengar. Ini kata-kata yang tidak enak didengar. Karena timbul kesombongan di dalam diri, Karena timbul kesombongan di dalam diri, Karena timbul kesombongan di dalam diri, Beliau menghinanya sebanyak dua kali. Karena kesombongan dan tutur kata buruk itu, Karena kesombongan dan tutur kata buruk itu, Beliau harus menerima buah karma buruk. Akibatnya, dalam pelatihan diri-Nya, Beliau harus mengalami banyak rintangan beliau harus mengalami banyak rintangan dan bertemu banyak kerisauan. Pada saat itu, karena mengucapkan kata-kata buruk dan timbul kesombongan, maka pada awal pelatihan diri-Nya, Beliau mengalami harus menyiksa diri selama enam tahun dan mengalami berbagai rintangan. Coba kita bayangkan. Pelatihan diri Buddha Sakyamuni sudah dimulai sejak zaman Buddha Kasyapa. Kita juga tidak bisa memperkirakan berapa lama masa itu sudah berlalu karena Buddha Sakyamuni juga berkata bahwa masa Buddha Kasyapa adalah pada berkalpa-kalpa lalu. Masa kita sekarang ini berjarak lebih dari 2

000 tahun dari masa Buddha Sakyamuni hidup, dan Buddha Sakyamuni bertemu dengan Buddha Kasyapa sudah lebih lama dari itu. Saudara sekalian, kita sungguh harus berhati-hati. Meski waktu sudah lama berlalu dari zaman Buddha Kasyapa hingga zaman Buddha Sakyamuni, buah karma Beliau masih belum habis dituai. Karena itu, sebagai praktisi Buddhis, janganlah kita meremehkan perilaku dalam keseharian. Setiap tindakan, ucapan, dan pikiran kita harus kita perhatikan dengan baik. Kita harus selalu mengingat ini di dalam hati. Tiada cara kedua selain ini. Harap setiap orang senantiasa bersungguh hati.  

Leave A Comment