Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 209 – Sembilan Gangguan Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, iklim terus berganti, waktu terus berlalu. Saat satu hari berlalu, berarti usia kita juga berkurang sehari, hanya karma yang terus mengikuti. Baik karma baik maupun karma buruk, setiap hari kita melakukannya hingga terus terakumulasi. Meski waktu terus berlalu dan usia terus berkurang hari demi hari, tetapi karma terus tercipta lewat pikiran dan perbuatan kita. Segala yang kita pikirkan, segala yang kita katakan, dan segala yang kita lakukan, semuanya terus mengakumulasi karma

 Jadi, makhluk awam memiliki banyak noda batin. Bukan hanya makhluk awam yang memiliki noda batin sebagai gangguan. Sesungguhnya, Buddha juga mengalami Sembilan Gangguan. Meski Buddha telah mencapai kebuddhaan, tetapi karena buah karma belum habis diterima, Beliau tetap harus menerimanya. Sebelum mencapai kebuddhaan, Buddha menjalani enam tahun praktik menyiksa diri dan menghadapi banyak kesulitan. Bagi seorang pangeran, tentu tidak mudah untuk meninggalkan keduniawian. Beliau harus pergi di tengah malam. Beliau harus pergi di tengah malam. Namun, di tengah luasnya dunia dan banyaknya orang, ke mana Beliau harus pergi? Dewa Suddhavasa membimbing-Nya

 Karena itu, Beliau berhasil keluar istana dan memulai pelatihan diri. Pelatihan diri itu sangat sulit. Beliau harus merasakan berbagai penderitaan Beliau harus merasakan berbagai penderitaan dan ujian dari alam. == Beliau terus mencari guru di berbagai tempat, tetapi masih tidak memperoleh hasil yang diharapkan. tetapi masih tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Ini juga merupakan salah satu gangguan. Setelah itu, Beliau menjalani enam tahun praktik menyiksa diri dan mengalami banyak kesulitan. Setelah mengalami berbagai kesulitan, tekad Beliau untuk mencapai kebuddhaan semakin teguh. Sebelum mencapai kebuddhaan, Buddha menghadapi berbagai ujian dari alam, manusia, kesulitan dalam hidup, dan lain-lain. kesulitan dalam hidup, dan lain-lain

 Inilah gangguan Buddha yang pertama. Inilah gangguan Buddha yang pertama. Beliau juga bertemu banyak masalah. Jadi, selama enam tahun praktik menyiksa diri, Buddha mengalami banyak gangguan manusia, masalah, kebutuhan hidup, dan lain-lain. Yang kedua adalah gangguan dari seorang petapa wanita yang bernama Sundari. Dia memfitnah Buddha dan anggota Sangha. Fitnahan ini adalah gangguan bagi Buddha. Fitnahan ini adalah gangguan bagi Buddha. Pada saat Buddha berada di Vihara Jetavana, Pada saat Buddha berada di Vihara Jetavana, Beliau mengumpulkan sekelompok anggota Sangha untuk melatih diri. Ini terjadi tidak lama setelah Buddha mencapai pencerahan

 Banyak orang mulai menerima ajaran Buddha. Baik raja, menteri, para pria, dan perempuan di masyarakat, semuanya sangat mengagumi Buddha. Karena itu, orang yang menyatakan berlindung pada Buddha dan bersedia menerima ajaran Buddha sangat banyak. Namun, pada saat itu, ada banyak sekte agama lain. Pada masa Buddha hidup, di India terdapat banyak aliran agama. terdapat banyak aliran agama. Karena itu, petapa aliran lain merasa iri. Petapa wanita ini adalah salah satu bagian dari aliran lain. Petapa wanita ini mengaku dirinya mengandung. Dia mengikat buah kundur di perutnya, Dia mengikat buah kundur di perutnya, lalu pergi ke kota untuk memberi tahu semua orang, lalu pergi ke kota untuk memberi tahu semua orang, lalu pergi ke kota untuk memberi tahu semua orang, “Murid dari Buddha Sakyamuni tidak suci

” “Buddha Sakyamuni terus membabarkan ajaran-Nya dan terus mengatakan bahwa ajaran-Nya bisa melampaui keduniawian, bisa melenyapkan noda batin, dan mengikis nafsu dan kemelekatan.” Sundari berkata, “Itu semua palsu.” “Saya adalah bukti yang terbaik.” “Lihatlah, saya akan segera melahirkan.” “Ini karena salah seorang pria dari kelompok Sangha menaruh rasa cinta kepada saya.” “Namun, kini dia sudah tidak menghiraukan saya.” “Saya sudah ditinggalkan.” Dia terus memfitnah Buddha dan Sangha

 Akibatnya, orang-orang di kota mulai ragu pada Sangha dan mulai bergunjing. Saat mendengar berita ini, raja pun berkunjung ke tempat Buddha dan bertanya, “Apakah benar anggota Sangha-Mu melakukan hal seperti ini?” Buddha tidak menjawab. Raja melihat para anggota Sangha dan menunggu apakah akan ada yang menjawab. Melihat Buddha tidak menjawab, para anggota Sangha juga tidak memberi jawaban. Tiba-tiba terdengar suara Sundari yang berteriak dengan keras sambil berjalan masuk. Dia terus berteriak Dia terus berteriak dan berkata bahwa di dalam Sangha ada orang seperti itu. Dia datang untuk menuntut keadilan. Dia terus berteriak seperti orang gila

 Karena sikapnya yang histeris, tali ikatannya menjadi longgar dan buah kundur yang terikat di perutnya jatuh. Karena itulah, akal bulusnya ketahuan. Raja menoleh melihat Buddha, tetapi Buddha tetap bergeming. Saat buah itu jatuh, wanita itu tiba-tiba terdiam. Semua orang yang ada di sana tetap hening. Sundari pun membuka mulut untuk mengakui kesalahannya. Dia berkata, “Saya merasa ajaran Buddha sangat universal.” “Karena timbul rasa iri dalam hati, saya memfitnah Buddha dan Sangha.” Setelah melihatnya, raja bertanya kepada Buddha, “Yang Dijunjung, apakah sejak awal Engkau sudah tahu bahwa Sangha-Mu tidak bersalah sehingga Engkau tetap bergeming?” Sambil tersenyum, Buddha menggelengkan kepala dan berkata, “Hukum sebab akibat sangat menakutkan

” “Saat karma buruk berbuah, itu hal yang paling mengkhawatirkan.” Raja kembali bertanya, “Yang Dijunjung, mengapa bisa terjadi hal seperti ini?” “Mohon Buddha babarkan ajaran untuk kami.” Buddha pun mulai menceritakannya. “Berkalpa-kalpa yang lalu, “Berkalpa-kalpa yang lalu, di Kota Varanasi, ada seorang pejudi ada seorang pejudi yang bernama Mata Murni.” “Saat itu, ada seorang wanita tunasusila “Saat itu, ada seorang wanita tunasusila yang bernama Rupa Rusa.” “Mata Murni dan Rupa Rusa mulai mengenal satu sama lain.” “Karena timbul niat yang tidak baik, Mata Murni mengajak Rupa Rusa untuk pergi keluar kota dengan naik pedati.” “Pedati itu membawa mereka ke tempat terpencil

” “Pedati itu membawa mereka ke tempat terpencil.” “Di sebuah taman di dalam hutan, mereka berdua bermesraan dan melakukan tindakan asusila atas dasar saling menyukai.” “Di taman itu, tinggal seorang petapa yang sudah mencapai tingkat Pratyekabuddha.” “Dalam proses pelatihannya, petapa itu keluar setiap hari untuk mengumpulkan makanan.” “Pada saat petapa itu pergi ke kota untuk mengumpulkan makanan, sepasang pria dan wanita itu tengah bermesraan di dalam taman itu.” Lalu, apa yang terjadi berikutnya? Mata Murni membunuh Rupa Rusa. Mata Murni membunuh Rupa Rusa. Apa yang dia lakukan setelah membunuh orang? Mata Murni sangat ketakutan

 Lalu, dia membawa jenazah Rupa Rusa Lalu, dia membawa jenazah Rupa Rusa ke tempat Pratyekabuddha itu melatih diri. Dia menggali sebuah liang untuk mengubur Rupa Rusa di sana. Setelah melakukan itu, Setelah melakukan itu, Mata Murni merasa sangat tidak tenang, lalu meninggalkan tempat itu. Karena jenazah Rupa Rusa ditemukan di tempat Pratyekabuddha itu, orang-orang berasumsi dia adalah pelakunya. Karena itu, raja menjatuhkan hukuman mati untuk Pratyekabuddha itu. Setelah melakukan hal itu, hati Mata Murni selalu merasa sangat tidak tenang. Dia merasa sangat bersalah. Terlebih lagi, dia mendengar orang-orang di kota mempersalahkan seorang petapa yang murni, bahkan raja juga menjatuhkan hukuman mati untuknya

 Penyesalan dan rasa bersalah di dalam hatinya membuatnya sangat menderita. Karena itu, dia memutuskan untuk keluar Karena itu, dia memutuskan untuk keluar dan mengakui kesalahannya kepada raja. Dia pun menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Rupa Rusa, bagaimana dia membawanya ke taman, bagaimana dia membunuh Rupa Rusa, dan bagaimana dia menguburnya di sana. Karena melibatkan Pratyekabuddha itu, hatinya merasa sangat menderita dan tidak tenang. Karena itulah, dia keluar untuk mengaku salah demi kembali mendapat ketenangan. Demikianlah kebenaran terungkap. Demikianlah kebenaran terungkap. Raja lalu melepaskan sang Prayetkabuddha, bahkan meminta maaf kepadanya. Mata Murni pun dijatuhi hukuman mati

 Setelah itu, kasus ini ditutup. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha kembali berkata kepada sang raja, “Baginda, tahukan Anda?” “Mata Murni pada saat itu sekarang adalah Aku, Buddha Sakyamuni.” “Rupa Rusa sekarang adalah Sundari.” “Inilah jalinan jodoh.” “Meski hal ini terjadi pada berkalpa-kalpa yang lampau, “Meski hal ini terjadi pada berkalpa-kalpa yang lampau, tetapi sejak saat itu, selama jangka waktu yang sangat panjang, benih karma itu terus mengikuti-Ku.” “Kini, setelah berkalpa-kalpa kemudian, meski Aku sudah mencapai kebuddhaan, benih karma itu tetap terus mengikuti-Ku

” “Ia terus mengikuti-Ku dari kehidupan ke kehidupan dan membuat-Ku sangat terganggu hingga saat ini.” “Kini semuanya sudah berakhir.” “Kini semuanya sudah berakhir.” “Meski sudah mencapai kebuddhaan, tetapi Aku tetap harus menerima buah karma-Ku.” Seperti yang sering kita katakan bahwa ada utang yang tak habis dihitung. Sisa utang juga harus ditagih. Ini memiliki arti yang sama. ==== Saudara sekalian, kita tahu bahwa di alam manusia ini terdapat empat musim. Musim semi, panas, gugur, dan dingin terus berganti tanpa henti. Hari demi hari, bulan demi bulan, musim demi musim, tahun demi tahun, terus berlalu tanpa suara dan tanpa henti

 Sesungguhnya, usia kehidupan kita juga terus berlalu tanpa kita sadari. Seiring berlalunya setiap hari, usia kehidupan kita juga berkurang satu hari. Seiring berlalunya waktu dan berkurangnya usia kehidupan kita, sebaliknya kekuatan karma terus terhimpun. Setiap perbuatan kita “tercatat” dengan sangat jelas. Semua itu akan ditagih satu per satu dan harus kita bayar satu per satu. Jika belum habis “dibayar”, ia akan terus mengikuti kita dari kehidupan ke kehidupan dan membuat kita terganggu setiap kali bertemu dengannya. Dari kehidupan ke kehidupan, pada saat bertemu dengannya, kita akan merasa terganggu. Jadi, meski Buddha sudah mencapai pencerahan dan berada di dalam Sangha yang begitu tenang, Beliau tetap bisa mengalami masalah seperti ini. Tak peduli bagaimana Sundari memfitnah-Nya dan menyebarkan cerita negatif di luar, Buddha tetap diam

 Buddha tahu bahwa ini adalah sisa karma buruk yang harus Beliau terima. Karena itu, Beliau tetap diam dan tidak merespons. Buddha berkata kepada raja, “Sekarang masalah sudah jelas dan terpampang di hadapan setiap orang.” “Kenyataan sudah terlihat jelas.” Setelah mendengarnya, raja berkata kepada Buddha, “Hukum sebab akibat sungguh sangat menakutkan.” Buddha berkata kepada raja, “Ya, di antara semua makhluk di dunia, siapa yang tidak pernah melakukan pelanggaran?” “Siapa yang tidak pernah melakukan kekeliruan?” Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan kekeliruan. “Pada kehidupan lampau, Aku juga terbelenggu kegelapan batin.” “Aku juga menciptakan karma buruk.” “Meski sudah berkalpa-kalpa tak terhingga Aku membangkitkan tekad untuk melatih diri, tetap selama proses pelatihan diri-Ku, karma buruk juga terus mengikuti-Ku.” Ini sama seperti saat kita berjalan di bawah terik matahari, bayangan kita terus mengikuti

 Ke mana pun kita pergi, bayangan kita selalu mengikuti. Karma terus mengikuti kita bagai bayangan. Karena itu, Buddha kembali mengingatkan semua murid-Nya Tentang hukum sebab akibat. Kisah itu adalah bukti terbaik. Dalam pelatihan diri dan dalam kehidupan sehari-hari, setiap pikiran kita, setiap ucapan kita, dan setiap perbuatan kita, semuanya bisa menanam benih karma. Begitu benih itu tertanam, berbagai orang dan masalah dapat menjadi kondisi pendukung. Dengan adanya benih karma dan kondisi pendukung, buah karma akan terus membelenggu dan mengikuti kita tanpa henti. dan mengikuti kita tanpa henti. Saudara sekalian, sekarang kita tengah melatih diri

 Kehidupan sehari-hari kita juga tak terlepas dari hubungan antarsesama dan segala hal. Semua itulah yang disebut kondisi atau jodoh. Menghadapi semua itu, kita pasti membangkitkan niat. Niat apa yang kita bangkitkan? Jika membangkitkan niat baik, maka kita bisa menjalin jodoh baik dengan orang lain. Jika kita bisa membimbing orang lain untuk melenyapkan noda batin, berarti kita sudah menciptakan karma baik. Itu adalah berkah. Dengan melenyapkan noda batin orang lain, berarti kita menambah berkah sendiri dan lebih banyak menjalin jodoh baik

 Saat melihat ada orang yang menderita, jika kita berusaha sekuat tenaga untuk membantunya meringankan beban dan mengurangi penderitaannya, berarti kita sudah menjalin jodoh baik. Berkah dan jalinan jodoh baik Tercipta dari dari sikap dan perbuatan kita saat menghadapi orang dan masalah di luar. Segala perbuatan bermula dari pikiran kita. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, jika kita bisa selalu membangkitkan niat baik, bertutur kata baik, dan melakukan hal baik, maka kehidupan kita akan lebih terjamin. Kita tak akan terus terjerat oleh karma buruk. Kita tak akan terus terjerat oleh karma buruk. Kita bukan hanya tidak akan terjerat karma buruk dan gangguan, sebaliknya akan bertemu pendukung. Apa pun yang kita lakukan, selalu ada jalinan jodoh baik yang membantu mewujudkan tekad pelatihan diri kita

 Jadi, pelatihan diri dijalankan dalanm keseharian. Ajaran Buddha harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga harus selalu bersumbangsih sebagai Bodhisattva dunia. Inilah yang sering saya katakaa kepada kalian. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment