Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 211 – Sembilan Gangguan Bagian 4

Saudara se-Dharma sekalian, berapa kali musim semi yang kita alami dalam hidup ini? Saat segala sesuatu berjalan sesuai harapan, kita bagai merasakan musim semi. Saat kehidupan kita terus berkembang, itu juga bagaikan musim semi dalam hidup. Namun, sesungguhnya berapa banyak musim semi yang kita miliki? Perkumpulan donatur misi budaya Tzu Chi pernah menerbitkan sebuah buku. Kisah pertama dari buku itu adalah tentang membeli semangkuk nasi. Kisah pertama dari buku itu adalah tentang membeli semangkuk nasi. Kisah ini terjadi di Taipei Kisah ini terjadi di Taipei yang merupakan kota metropolitan

 Sejak puluhan tahun yang lalu, perekonomian di Taipei terus berkembang. Sebelum penataan kota, saat itu terdapat sebuah kota lama. Setiap senja hari, Setiap senja hari, para pedagang kaki lima mulai berjualan di sana. Suatu hari, tiba-tiba ada seorang anak muda berkata kepada pedagang kaki lima, “Maaf, Pak.” “Saya ingin membeli semangkuk nasi.” “Apakah saya boleh hanya membeli semangkuk nasi?” Sebagai penjual, mereka tentu sangat gembira meski hanya menjual semangkuk nasi. Penjual itu bersama istrinya memberikan semangkuk nasi kepadanya dengan sikap yang sangat hangat. Setelah menerima semangkuk nasi itu, saat berjalan keluar, dia melihat sisa sup tamu lain di meja. dia melihat sisa sup tamu lain di meja

 Dia kembali bertanya, “Pak, itu sisa sup orang lain.” “Apakah saya boleh menuangkannya ke nasi saya?” Nyonya penjual segera menjawab, “Tentu saja boleh.” Dia pun mengambil sisa sup itu dan menuangkannya ke atas nasinya. Lalu, nyonya penjual berkata padanya, “Kamu duduk dan makan di sana saja.” Dia pun memakannya di sana. Setelah itu, dia kembali berkata kepada sang penjual, “Bolehkah Anda memberi saya semangkuk nasi lagi?” “Boleh.” Mereka pun mengambil semangkuk nasi untuknya. Setelah itu, anak muda itu pulang ke rumah. Pada saat yang sama keesokan harinya, anak muda itu datang lagi. Dia tetap membeli semangkuk nasi

 Sang penjual bertanya, “Kamu mau pakai sup?” “Ya, terima kasih

” Si penjual memberikan sedikit sup untuknya. Sejak saat itu, Sejak saat itu, setiap hari, pada saat yang sama, anak muda itu selalu datang untuk membeli semangkuk nasi. Lalu, penjual itu bertanya padanya, “Anak muda, kamu bukan warga di sini?” Dia menjawab, “Bukan.” “Saya berasal dari desa.” “Barang kebutuhan di kota sangat mahal.” “Saya datang ke sini untuk bersekolah.” “Saya tidak bisa boros seperti orang kota.” “Saya harus hidup hemat.” Mendengarnya, sepasang suami istri itu merasa sangat mengasihi anak itu

 Selama empat tahun, Selama empat tahun, dia datang setiap hari. Setiap mendekati waktu kedatangannya, Setiap mendekati waktu kedatangannya, pedagang itu akan menyiapkan semangkuk nasi. Adakalanya, mereka manaruh telur kecap Adakalanya, mereka menaruh telur kecap atau sayuran di dalam nasinya. Ini berlangsung selama empat tahun. Setelah semakin akrab, pedagang itu bertanya padanya, “Kamu selalu membeli semangkuk lagi usai makan.” “Kamu membelinya untuk siapa?” Anak itu menjawab, “Bukan.” “Saya menyimpannya untuk makan siang besok.” Demikianlah dia melewati hidupnya setiap hari. Pedagang dan istrinya itu merasa anak itu sangat jujur dan memiliki semangat tinggi untuk belajar meski hidup serba sulit. Mereka sangat mengasihinya

 Sebelum lulus kuliah, mahasiswa itu datang berkata kepada sang penjual dan istrinya, “Terima kasih atas bantuan kalian selama 4 tahun ini.” “Kelak, apa pun pekerjaan saya, saya akan selalu mengingat budi kalian.” Sang penjual berkata, “Kamu adalah anak yang memiliki semangat belajar yang tinggi.” “Meski hidup di kota besar, kamu sama sekali tidak terpengaruh godaan.” “Selama empat tahun ini, kamu selalu begitu polos dan giat belajar.” “Sungguh membuat orang mengasihimu.” Setelah lulus kuliah, Setelah lulus kuliah, anak ini masih sering mengirim surat untuk bertanya kabar. Saat akan ikut wajib militer dan usai ikut wajib militer, dia juga menulis surat untuk mengabari suami istri pedagang itu. Bahkan saat dia akan mulai mencari kerja, sang pedagang dan istrinya juga mengetahuinya

 Anak itu sudah seperti anaknya sendiri. Anak itu sudah seperti anaknya sendiri. Bertahun-tahun berlalu, perlahan-lahan surat dari anak itu semakin sedikit, bahkan selama beberapa waktu, tidak ada kabar sama sekali. Sepasang suami istri itu pun perlahan-lahan melupakannya. Seiring perkembangan Kota Taipei, jalan di sana juga semakin diperluas. Karena itu, daerah lama terus dibongkar. Selain perluasan jalan, juga ada pembuatan taman. Karena itu, tempat pedagang kaki lima itu juga harus dibongkar. Banyak orang mengandalkan hidup dengan berjualan di sana

 Apa yang harus mereka lakukan jika tempat tersebut dibongkar? Mereka terus mengajukan permohonan, tetapi tidak berhasil. Berita ini terus dilaporkan secara besar-besaran. Berita ini terus dilaporkan secara besar-besaran. Permohonan mereka tidak berhasil. Demi pembangunan Taipei, mereka terpaksa harus menerimanya. Namun, penjual itu merasa sangat khawatir. Selama puluhan tahun itu, mereka mencari nafkah di sana untuk membesarkan anak-anak mereka. Anak sulungnya berada di Amerika Serikat, sedangkan anak bungsunya masih berkuliah. Apa yang harus mereka lakukan jika tempat ini dibongkar? Mereka sangat khawatir

 Suatu hari, saat mereka sedang merapikan stan, tiba-tiba ada orang yang mengenakan jas datang bertanya, “Apakah Anda adalah pemilik tempat ini?” “Ya, ada masalah apa?” “Anda siapa?” Pria itu pun mengeluarkan kartu namanya. Dia bekerja sebagai asisten manajer di sebuah perusahaan besar. Penjual itu bertanya, “Ada apa?” “Kalian dari perusahaan sebesar ini, ada apa mencari saya?” Dia berkata, “Manajer umum kami meminta saya datang mencari Anda.” “Dia tahu tempat ini akan segera dibongkar.” “Karyawan di perusahaan kami sangat banyak.” “Kami selalu sangat pusing memikirkan makanan.” “Berhubung perusahaan kami membutuhkan kantin, kami ingin mengundang Anda ke perusahaan kami untuk menjual makanan.” Sang pedagang dan istrinya sangat gembira

 Namun, mereka juga merasa ragu karena tiba-tiba ada perusahaan besar yang menawari mereka membuka kantin. Asisten manajer itu kembali berkata, “Manajer umum kami bilang beliau pernah makan di tempat Anda.” “Kabarnya kembang tahu goreng di tempat Anda sangat lezat.” “Tahu juga lezat.” “Para karyawan di perusahaan kami pasti sangat menyukainya karena manajer umum kami juga menyukai makanan Anda.” Mereka lalu membuat janji. Sang penjual makanan dan istrinya pun pergi ke perusahaan besar itu untuk bertemu manajer umum

 Saat mereka tiba, sang manajer umur dan asistennya sudah menunggu mereka di depan. Mereka membungkukkan badan dengan penuh hormat, lalu mempersilakan mereka masuk ke dalam. Sang penjual merasa wajah manajer itu sangat tidak asing baginya. Dia pun menyapa manajer itu. Manajer umum itu berkata, “Pak, Bapak tidak mengenali saya?” “Saya merasa sangat tidak asing.” Istri sang pedagang yang mengenalinya. Sang istri merasa sangat gembira, lalu berkata, “Ke mana kamu pergi selama bertahun-tahun ini?” “Ke mana kamu pergi selama bertahun-tahun ini?” “Kamu juga bekerja di sini?” Sang istri terus bercerita. Sang istri terus bercerita. Asisten manajer itu segera berkata, “Dia adalah manajer umum yang saya katakan

” “Dia adalah manajer umum yang saya katakan.” “Beliau tahu tentang Anda.” “Beliau tahu tentang Anda.” Demikianlah, dari pedagang kaki lima, mereka menjadi pemilik kantin di sebuah perusahaan besar. Sungguh, berapa banyak musim semi yang kita miliki dalam hidup ini? Kita harus bertekad dan mempertahankan ketulusan seperti manajer umum dari perusahaan besar tadi. seperti manajer umum dari perusahaan besar tadi. Saat itu, dia juga hidup serba kekurangan, tetapi dia mempertahankan tekad dan ketulusan. Karena itu, dia belajar dengan giat dan melewati hari-harinya dengan penuh kesabaran. Setiap hari, dia hanya makan dua mangkuk nasi putih. Meski dia membelinya dengan uang, tetapi karena tidak mau melukai harga dirinya, sang penjual itu menyembunyikan sayur di dalam nasinya

 Anak muda itu tahu bahwa dia menerima bantuan. Karena itu, dia menyimpannya di dalam hati dan selalu mengingat budi baik orang terhadapnya. Dia segera membalas budi saat memiliki kesempatan. Di sisi lain, meski telah memberi bantuan, pedagang itu tak merasa telah berdana. Semua itu berjalan secara alami. Saat ada anak muda membutuhkan bantuan, mereka segera mengembangkan cinta kasih. Ini adalah hal yang biasa bagi mereka. Kita seharusnya bersumbangsih tanpa pamrih. Akan tetapi, dalam kehidupan ini, pastilah ada musim gugur dan musim dingin

 Saat tengah merasa khawatir, tiba-tiba mereka menerima balas budi dari orang yang dahulu pernah mereka bantu. Mereka menganggap bahwa membantu anak itu adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Kisah ini sungguh menghangatkan hati. Saudara sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya selalu membangkitkan hati penuh sukacita untuk membantu sesama. Meski kita tak memiliki pamrih, tetapi benih apa yang ditanam, maka demikianlah buah yang dituai. Inilah hukum karma. Karena menanam benih cinta kasih dan bersumbangsih dengan penuh sukacita, maka mereka menuai buah yang penuh cinta kasih. Ini hukum karma

 Mereka langsung menerima buah karmanya pada kehidupan ini. Kehidupan seperti ini sungguh luar biasa. Saya terus mengulas tentang hukum sebab akibat. Setelah mencapai kebuddhaan, ada suatu waktu, Buddha bersama Sangha melakukan perjalanan. Saat itu, Buddha berkunjung ke Kota Veranja dan ingin membabarkan ajaran di sana. Saat tiba di sana, mereka tetap harus keluar mengumpulkan dana makanan. Namun, orang-orang di sana enggan berdana. Namun, orang-orang di sana enggan berdana. Karena itu, Buddha bertekad untuk membimbing orang-orang di sana

 Jadi, bagaimana kehidupan mereka selama di sana? Mereka pergi ke kandang kuda untuk memungut makanan kuda. Mereka memakan makanan kuda. Mereka memakan makanan kuda. Berapa lama? 90 hari. Jalinan jodoh seperti apa yang membuat Buddha berada di sana selama tiga bulan? Buddha berkata, “Ini adalah sisa karma buruk yang harus Aku terima.” “Ini adalah sisa karma buruk yang harus Aku terima.” “Benih karma buruk itu berbuah di masa kini.” Karma seperti apa? Buddha mulai menceritakan kisah-Nya. Buddha berkata, “Berkalpa-kalpa yang lalu, Buddha berkata, “Berkalpa-kalpa yang lalu, ada seorang Buddha bernama Phussa.” Buddha Phussa memimpin sekelompok bhiksu untuk membimbing umat manusia

 Pada saat itu, mereka melakukan perjalanan ke Kota Pandumava. Pemimpin dari kota itu disebut sebagai raja. Raja itu sangat menghormati ajaran Buddha. Saat mengetahui Buddha dan para bhiksu berkunjung ke kotanya, Raja Pandu sangat gembira. Beliau mengundang Buddha dan para bhiksu untuk menerima persembahan di istananya. Buddha sangat gembira, lalu menyetujuinya. Setelah mendapat persetujuan Buddha, Raja Pandu segera kembali ke istana untuk menyediakan makanan yang sangat mewah guna dipersembahkan kepada Buddha dan para bhiksu. Sang raja melakukannya dengan penuh ketulusan. Sang raja melakukannya dengan penuh ketulusan

 Selain mempersiapkan makanan yang sangat lezat, lingkungan di istana juga ditata hingga sangat indah. Mereka bahkan menggunakan air wangi untuk membersihkan lantai dan menyalakan dupa. Ini menandakan penghormatan yang tertinggi. Saat Buddha Phussa dan kelompok bhiksu tiba, setiap orang memberi persembahan dengan penuh hormat. Setelah itu, tentu Buddha membabarkan Dharma kepada raja. Usai makan, mereka pun bersiap-siap untuk pulang. Sebelum pulang, mereka berkata kepada raja bahwa berhubung ada seorang bhiksu tak bisa datang karena sakit, maka mereka ingin meminta semangkuk nasi untuk dibawa pulang. Dengan penuh ketulusan, sang raja menyiapkan makanan yang sangat lezat untuk bhiksu yang sakit itu. untuk bhiksu yang sakit itu. Saat itu, di kota itu ada sekelompok brahmana. Brahmana itu memiliki 500 orang murid muda memiliki 500 orang murid muda yang melatih diri bersamanya

 Brahmana ini adalah guru dalam kelompok itu. Saat melihat Buddha Phussa dan kelompok bhiksu-Nya menerima perlakukan penuh hormat dari raja, menerima persembahan yang begitu mewah, serta membawa makanan yang begitu lezat saat akan pulang, di dalam hatinya timbul rasa iri. Karena itu, dia mulai bertutur kata buruk. Dia bahkan berkata kepada para pengikutnya yang merupakan anak muda, yang merupakan anak muda, “Orang-orang ini tidak pantas mendapatkan makanan lezat.” “Mereka seharusnya memakan sisa makanan kuda.” Dia bahkan berkata kepada para anak muda itu, Dia bahkan berkata kepada para anak muda itu, Dia bahkan berkata kepada para anak muda itu, “Kelak kalian dan keluarga jangan memberi persembahan yang baik kepada orang-orang ini.” “Berikanlah makanan yang paling kasar kepada mereka.” “Berikanlah makanan yang paling kasar kepada mereka.” Inilah yang terjadi berkalpa-kalpa yang lalu. Inilah yang terjadi berkalpa-kalpa yang lalu. Buddha Sakyamuni adalah sang brahmana pada masa itu

 Berkalpa-kalpa yang lalu, Buddha Sakyamuni adalah seorang brahmana. Pada masa itu, batin-Nya belum memperoleh pembebasan, masih dipenuhi kegelapan batin dan rasa iri. Saat melihat Buddha Phussa memimpin para bhiksu, batin-Nya merasa tidak senang. Di dalam hati-Nya hanya ada rasa iri. Buddha bertanya, “Tahukah kalian?” “Sang brahmana itu adalah Aku.” “Sang brahmana itu adalah Aku.” “Inilah yang pernah Aku alami.” “500 pengikut muda itu adalah 500 Arhat yang berada di sisi-Ku sekarang

” “Karena membangkitkan niat buruk setelah mendengar kata sang guru, mereka menciptakan karma buruk bersama.” mereka menciptakan karma buruk bersama.” “Karena itulah, kini kalian bersama-Ku datang ke kota ini.” “Saat kita mencari dana makanan, tidak ada satu keluarga pun yang bersedia berdana.” “Kalian dan Aku pernah menciptakan karma yang sama di kehidupan lampau.” “Kini kita menerima buahnya.” “Karena itu, kini kita berada di sini untuk memakan makanan seperti ini dan merasakan penderitaan ini.” “Meski Aku sudah mencapai kebudddhaan dan kalian memiliki pelatihan diri yang baik, tetapi buah karma ini tetap harus kita terima dengan penuh sukacita.” Ini yang disebut buah karma sisa

 Ini yang disebut buah karma sisa. Buah karma sisa tetap harus diterima. Buah karma sisa tetap harus diterima. Buddha terkurung di Kota Veranja selama 90 hari tanpa memiliki makanan, harus direndahkan oleh orang lain, dan tidak menerima persembahan. Saudara sekalian, hukum karma sangat menakutkan. Ada orang yang langsung menerima buah karma pada kehidupan yang sama, contohnya mahasiswa dan si penjual makanan tadi. Pada kehidupan ini, si penjual berdana dengan sukacita dan tanpa pamrih, sementara mahasiswa itu belajar dengan giat tanpa terpengaruh oleh kondisi masyarakat. tanpa terpengaruh oleh kondisi masyarakat

 Karena belajar dengan giat, dia bisa memperoleh hasilnya. Ini juga berarti dia menunaikan kewajibannya sendiri. Saya sering berkata bahwa dengan memegang teguh tekad, maka jalan kita akan sangat lapang. Mempelajari ajaran Buddha pun sama. Kita harus berusaha keras untuk menjaga pikiran dengan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, saat bertemu dengan setiap orang dan masalah, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik. 

Leave A Comment