Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 221 – Sembilan Belenggu Bagian 3

Saudara se-Dharma sekalian, di saat yang sama pada pagi hari, saya membuka pintu dan berjalan keluar. Melihat ke kejauhan dari koridor aula utama, yang terlihat hanyalah sebuah bintang. Saat menoleh, saya melihat bulan. Saat menoleh, saya melihat bulan. Di sisi yang lain, ada beberapa bintang yang bertaburan

 Meski bulan bersinar terang, tetapi bintang tetap terlihat bertaburan di sekitarnya. Saya merasa beberapa hari lalu, saat berjalan keluar, bulan terlihat bulat. Saat saya berjalan keluar hari ini, bulan terlihat berbentuk sabit. bulan terlihat berbentuk sabit. Posisinya pun sudah berubah. Rupanya pun tidak sama

 Sesungguhnya, rupa bulan yang sesungguhnya adalah bulat ataukah yang seperti sabit? ataukah yang seperti sabit? Sesungguhnya, tiada rupa yang tetap. Namun, hakikat dasarnya tidak berubah. Semua perubahan ada hanya karena waktu. Waktu dapat mengubah segalanya. Waktu dapat menyempurnakan segalanya. Begitu pula dengan kehidupan kita

 Dalam hidup ini, banyak hal yang dapat diselesaikan dengan sempurna. Asalkan antarmanusia dapat bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, dan bergotong royong, maka suatu hal akan dapat diselesaikan dengan sempurna. Karena itu, saya sering mengatakan jika orang dan masalah dapat dihadapi dengan harmonis, berarti kita selaras dengan kebenaran. Kebenaran pada dasarnya sempurna, hanya saja kita belum dapat menerapkannya dalam segala hal. Karena itu, kebenaran ini menjadi seakan tidak sempurna. Jika tidak sempurna, ia bukan lagi kebenaran. Jadi, ada orang yang kerap berkata, “Ini tidak benar.” Ya, adakalanya manusia melakukan hal yang tidak benar. Mengapa bisa dikatakan tidak benar? Karena tidak sempurna. Karena itu, disebut tidak benar. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus harus mengerti cara menyelesaikan masalah Dan cara menjadi manusia seutuhnya. Inilah ajaran Buddha bagi kita. Kita harus melatih batin, membina watak, dan meluruskan perilaku

 Inilah pelatihan diri. Beberapa hari ini kita membahas belenggu, tepatnya belenggu batin. Ada berapa jenis belenggu batin ini? Sebelumnya kita sudah membahas dua belenggu. Yang pertama adalah belenggu cinta, yang kedua adalah belenggu kebencian. Berikutnya, yang akan kita bahas hari ini adalah belenggu kesombongan. Sikap penuh kesombongan juga membuat orang sangat menderita. Jika memiliki kesombongan, manusia pasti tidak akan dapat hidup harmonis. Jika demikian, bagaimana bisa menyelesaikan masalah dengan baik? Dengan begitu, tentu tidak dapat mencapai keselarasan dengan kebenaran. Inilah kesombongan. Mengapa? Buddha berkata kepada kita bahwa karma buruk tercipta akibat kesombongan. Kesombongan juga berarti keangkuhan. Ada orang yang menyebutnya kecongkakan

 Ada pula yang menyebutnya sikap tinggi hati. Kesombongan ada banyak jenis. Kesombongan ini dapat merusak kualitas diri kita. Ini juga merupakan masalah psikologis. Ada berapa jenis kesombongan? Ada tujuh jenis. Di  dalam Sutra dijabarkan ada tujuh jenis kesombongan, yaitu kesombongan, kesombongan di atas rata-rata, kesombongan berlebih, kesombongan diri, kesombongan tinggi, kesombongan inferior, kesombongan sesat. Jika dihitung, jumlahnya ada tujuh jenis. Berhubung saat menghadapi orang dan hal, dalam batin kita mudah untuk timbul kesombongan ini, maka kita harus selalu berhati-hati. Dengan adanya satu di antara tujuh kesombongan ini, manusia akan mengembangkan ketidakbaikan sehingga menderita dalam kelahiran kembali. Enam alam kelahiran kembali adalah penderitaan. Dari manakah sumber penderitaan yang membawa kelahiran di enam alam ini? Penderitaan ini juga bagai tali yang membelenggu kita hingga terus terperangkap dalam enam alam dan tidak dapat membebaskan diri

 Jadi, kita terombang-ambing dan tak dapat bebas dari tiga alam. Mengenai tiga alam, semua orang tentu tahu, yaitu alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa. Kita terbelenggu dalam nafsu, rupa, dan pikiran kita. Karena itu, manusia sangat menderita. Salah satu sumbernya adalah belenggu kesombongan. Kesombongan ini terus membelenggu kita. Kesombongan pertama adalah kesombongan antarsesama. Dalam hubungan antarmanusia, banyak orang merasa Anda adalah Anda, saya adalah saya, tidak ada hubungannya. Akibatnya, manusia bersikap dingin terhadap orang lain

 Orang lain yang melihat merasa bahwa orang ini sangat angkuh dan sombong seakan dirinya lebih tinggi dari orang lain sehingga orang lain tak berani mendekat. Inilah kesombongan. Berikutnya adalah kesombongan di atas rata-rata. Seperti apakah itu? Merasa diri sendiri lebih unggul dari orang lain. Sesungguhnya, kemampuan kita dan orang lain tak jauh berbeda, Sesungguhnya, kemampuan kita dan orang lain tak jauh berbeda, tetapi kita tidak mengakuinya. Kita merasa lebih baik dari orang lain dan lebih mampu. dan lebih mampu. Jelas-jelas kemampuan kita dan orang lain hampir sama, kita malah merasa di atas orang lain. Dengan kesombongan seperti ini, kita menilai diri sendiri lebih tinggi daripada orang lain. Inilah kesombongan di atas rata-rata, yakni merasa diri sendiri unggul, padahal setara. Saat mengerjakan sesuatu, hasil kita hampir sama dengan orang lain, tetapi kita merasa lebih baik dari orang lain. Ini juga membawa penderitaan

 Ketiga adalah kesombongan berlebihan. Di dalam hati kita sudah ada kesombongan, sudah sangat menderita, terlebih lagi kesombongan ini di atas rata-rata, juga sangat berlebihan. Inilah kesombongan berlebihan. Orang lain sesungguhnya lebih unggul dari kita, tetapi kita merasa lebih unggul. Orang lain lebih mampu dari kita, bukan hanya setara, melainkan memang lebih mampu dan lebih baik dari kita, tetapi kita mengklaim sebaliknya. tetapi kita mengklaim sebaliknya. Kita merasa dia tidak jauh berbeda dengan kita. Dengan kesombongan seperti ini, meski orang lain unggul dari kita, kita masih merasa tidak jauh berbedda. Bukan hanya itu, kita bahkan masih merasa lebih unggul, padahal jelas-jelas kita setara dengan orang lain, bahkan orang lain lebih unggul

 Inilah kesombongan berlebihan. Ini sungguh menderita. Keempat adalah kesombongan diri, yang dipikirkan hanya diri sendiri. Dalam segala hal, selalu merasa diri benar. “Apa saya katakan adalah yang paling benar.” “Saya bilang apa, kamu ikuti saja.” “Jika kamu lakukan dengan benar, itu berkat jasa saya.” “Jika salah, maka bukan salah saya.” Orang seperti ini sangat angkuh. Ini yang disebut kesombongan diri

 Orang seperti ini meninggikan diri dan merendahkan orang lain. Dia meninggikan dan mengagungkan diri serta hanya bisa menindas orang lain. “Kalian harus mengikuti perintah saya.” “Jika melakukan dengan benar, itu berkat jasa saya.” “Jika tidak benar, maka bukan salah saya, melainkan tetap salah kalian.” “Semua kesalahan kembali pada kalian.” Inilah kesombongan diri. Dia selalu meninggikan diri. Dahulu saya pernah berkata bahwa janganlah kita terlalu melekat pada diri, juga jangan meninggikan diri sendiri. Meski kita mampu, jika kita melekat pada diri sendiri, kesombongan akan semakin besar

 Ini membawa kerugian bagi diri sendiri. Orang seperti ini akan kesepian dan sendirian. Ini juga sangat menderita. Kelima adalah kesombongan tinggi. Artinya, mengklaim pencapaian yang belum dicapai. Di dalam Sutra Bunga Teratai, Buddha menyindir orang-orang yang mengklaim pencapaian yang tidak sebenarnya. Di antara semua jenis kesombongan, inilah kesombongan yang paling buruk. Jadi, kesombongan tinggi berarti saat belum mencapai sesuatu dan baru mencapai atau memahami setengah, seseorang sudah mengklaim memahami semua. seseorang sudah mengklaim memahami semua. Saat melakukan sesuatu di tengah masyarakat, orang seperti ini tidak mau mengecilkan ego atau merendahkan hati untuk meminta tolong

 Saat mendengar sesuatu yang dirinya tidak mengerti, dia tetap berkata bahwa dia mengerti semuanya. dia tetap berkata bahwa dia mengerti semuanya. Inilah yang biasa kita sebut pamer. Inilah yang biasa kita sebut pamer. Ya, penuh kepalsuan dan tidak benar. Dia meninggikan diri sendiri. Dia meninggikan diri sendiri. Inilah kesombongan tinggi. Jelas-jelas dia belum mencapai hal itu, jelas-jelas belum mengerti, tetapi sudah banyak membuat klaim

 Kini banyak orang yang seperti itu. Baik dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja, banyak orang ingin menunjukkan dirinya mampu. Mereka berusaha mati-matian, tetapi yang dicapai belum sempurna. tetapi yang dicapai belum sempurna. Meski begitu, mereka menyatakan bahwa mereka sudah sangat mampu. Kini dalam dunia usaha pun demikian. Banyak toko terus membuka cabang, tetapi sesungguhnya berutang banyak pada bank. Reputasinya kelihatannya sangat baik. Ini juga termasuk klaim yang tidak benar. Kemampuan mereka sebenarnya tidak sebesar itu, tetapi mereka mengklaim seperti itu. Krisis ekonomi yang dialami dunia juga berawal dari hal ini. Banyak orang mengklaim telah mendapat yang belum didapat. Dari sisi kekayaan, nama, dan kedudukan, banyak orang selalu meninggikan diri

 Begitu timbul masalah, masalah itu pun cepat membesar. Inilah kesombongan tinggi. Kesombongan biasa sudah sangat menderita, kesombongan diri juga membawa penderitaan. Terlebih lagi, meninggikan diri di tengah kesombongan sungguh membuat orang-orang di sekitar kita juga sangat menderita. Sesungguhnya, ini membawa pergolakan batin. Berikutnya adalah kesombongan inferior. Kesombongan inferior juga membawa penderitaan. Diri sendiri tahu bahwa kita tidak semampu orang lain. Namun, kita tidak mengakuinya. Kita tidak rela mengakui kita tidak mampu. Kita tidak rela mengakui keterbatasan kita

 Kita tidak rela mengakui keterbatasan kita. Kita berpikir, “Ya, kalian memang mampu.” “Lalu apa hubungannya dengan saya?” Kita cenderung rendah diri karena tidak memiliki keterampilan atau suatu kemampuan, tetapi masih memiliki kesombongan. Kesombongan seperti ini juga membawa penderitaan. “Saya yang tidak mau buang waktu belajar, bukan saya tidak bisa.” “Saya hanya tidak mau melakukannya, bukan saya tidak bisa.” “Memangnya tidak ada orang lain yang bisa melakukannya?” Ini disebut kesombongan inferior. Kita tidak mampu melakukannya, tetapi merasa diri sendiri lebih berbakat, maka kita tidak bersedia belajar dan tak mau menerima bimbingan dengan rendah hati. Saat tidak berhasil dalam belajar, dia berkata bahwa dia yang tidak mau belajar. Dia berkata bahwa bakatnya bukan di sana. Dia sendiri berpikir demikian. Orang seperti ini memiliki ambisi besar, tetapi sedikit kemampuan

 Berikutnya adalah kesombongan sesat. Ini juga membawa penderitaan. Mereka melekat pada pandangan salah dan merendahkan orang lain. Mengenai pandangan sesat, jelas-jelas tidak sesuai kebenaran, tetapi dia tetap merasa dirinya benar. Orang seperti ini bisa terus menindas orang lain, tidak menyadari bahwa pemikirannya keliru dan arahnya salah. Orang seperti ini sangat menderita karena tidak bisa melihat kebenaran. Saat tidak mampu melakukan dan menyelesaikan sesuatu atau tidak bersedia melakukannya, dia melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Dia menyebutnya sebagai kesalahan orang lain. Inilah yang disebut sesat, tidak benar. Pandangan dan pemahamannya telah menyimpang, tidak benar. Inilah kesombongan sesat

 Jadi, Buddha berkata bahwa karena melekat pada pandangan sesat atau pemahaman yang tidak benar, manusia cenderung merendahkan orang lain. Artinya, mereka cenderung menghina orang lain. Mereka selalu merugikan orang lain dan selalu membicarakan kesalahan orang. Mereka selalu membeberkan kelemahan orang. Mereka berkeinginan menekan orang lain. Inilah yang disebut merendahkan orang lain. Inilah yang disebut merendahkan orang lain. Pandangan mereka sendiri yang salah, tetapi mereka malah merendahkan orang lain. Ini juga membawa penderitaan. Lihatlah, hanya satu kesombongan saja, dapat membawa banyak penyakit batin bagi kita. Akibatnya, kehidupan kita senantiasa terbelenggu dan sangat menderita

 Jika tak dapat membuka pintu hati sendiri, kita akan bagai tercekik. Jika tak dapat membebaskan diri dari belenggu dan tak ada orang yang dapat membantu, kita sungguh menderita. Baik kesombongan sesat maupun kesombongan inferior, maupun kesombongan inferior, maupun kesombongan inferior, semua berkaitan dengan orang yang berambisi besar, tetapi berkemampuan kecil. Mereka masih memiliki kesombongan. Ini juga sangat menderita. Yang paling berbahaya bagi praktisi Buddhis adalah kesombongan tinggi. Di dalam Sutra Bunga Teratai, Buddha sudah menyindir orang-orang yang memiliki kesombongan tinggi ini. Kesombongan tinggi di sini berarti mengklaim pencapaian batin yang tidak sebenarnya. Kesombongan ini sulit diubah

 Orang seperti ini mengutamakan senioritas. Mereka merasa pencapaian mereka sendiri sudah hampir sama dengan Buddha. Ini tidaklah benar. Kesombongan diri juga salah. Janganlah kita menyombongkan diri dan selalu merendahkan orang lain. Ini jangan kita lakukan. Mengenai kesombongan berlebihan, ini berkaitan dengan orang yang selalu menganggap diri lebih mampu dari orang lain. Meski orang lain sudah jelas lebih mampu, diri sendiri tetap tak mengakuinya

 Ini juga tidak benar. Kesombongan di atas rata-rata juga tidak benar. Jika kemampuan kita memang tak jauh berbeda dari orang lain, maka akui saja keunggulan orang lain. maka akui saja keunggulan orang lain. Untuk apa kita mengklaim diri lebih unggul? Mengenai kesombongan sesama, jika kita tidak mau peduli pada orang lain, orang lain juga tak akan peduli pada kita. Jika kita tidak memperhatikan orang lain, orang lain juga tak akan memperhatikan kita. Saudara sekalian, saya sering berkata bahwa kita harus bersatu hati dan bergotong royong. Hati kita harus bersatu, barulah kekuatan kita akan besar. Jika dapat bersatu hati, bekerja sama, dan saling berbagi, kita akan dapat menggerakkan kekuatan besar. kita akan dapat menggerakkan kekuatan besar

 Dalam hubungan antarsesama, kita harus harmonis. Dengan adanya keharmonisan, barulah kita bisa membangun jembatan dari hati ke hati. Kita bisa masuk ke dalam hati orang lain, orang lain pun dapat masuk ke dalam hati kita. Hati kita semua dapat bertautan. Lihatlah, betapa indahnya kehidupan seperti ini. Lihatlah, betapa indahnya kehidupan seperti ini. Jika hati semua orang bisa bertautan, maka saat orang lain memiliki kesalahan, kita dapat menjadi cermin baginya dan menunjukkan letak kesalahannya. Sebaliknya, jika kita memiliki kesalahan, orang lain bisa menjadi cermin bagi kita untuk menunjukkan kekurangan kita. Dengan demikian, kualitas diri kita baru bisa sempurna. Jadi, untuk bisa bersatu hati, kita harus harmonis dan membangun jembatan dari hati ke hati. Kemudian, setelah bersatu hati dan harmonis, tentu kita masih harus terus berjalan setelah melewati jembatan ini

 Perjalanan ini tentu lebih panjang. Karena itu, kita harus saling mengasihi. Jalan yang harus dilalui masih panjang. Jadi, kita membutuhkan jalan yang bisa dilalui. Di dalam Sutra Empat Puluh Dua Bagian, ada sebuah kisah. Ada sekelompok sramana yang mengikuti Buddha. tentang para sramana yang mengikuti Buddha. Suatu hari, mereka semua berkumpul mengelilingi Buddha. Mereka mengajukan pertanyaan dengan tulus. Mereka bertanya dengan tulus tentang Mereka bertanya dengan tulus tentang apa yang disebut kebajikan, apa yang disebut keagungan. Mereka meminta petunjuk Buddha tentang apakah kebajikan yang terunggul dan apakah keagungan terunggul. dan apakah keagungan terunggul

 Buddha menjawab, “Menapaki sang Jalan dan teguh pada kebenaran, itulah kebajikan.” “Tekad yang menyatu dengan sang Jalan, itulah yang teragung.” Saudara sekalian, jika didengar dengan sungguh-sungguh, bukankah kata-kata ini sama dengan bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, dan gotong royong yang tadi kita bahas? Benar, semangat 4 in 1 Tzu Chi adalah perpanjangan dari kebenaran ini. Apa yang disebut kebajikan? Satu orang tak akan bisa berbuat banyak. Kita harus menghimpun banyak orang. Untuk menghimpun banyak orang, kita harus membentangkan jalan. Dengan jalan yang panjang dan orang yang banyak, barisan pun akan panjang. Kita tahu bahwa dunia ini penuh penderitaan. Mendidik yang mampu untuk menolong yang kurang mampu serta mendidik yang kurang mampu untuk memiliki kekayaan batin adalah sebuah jalan. Jadi, perjalanan ini harus dimulai dengan tekad awal. Tekad awal ini dibangun dengan ketulusan hati. Ketulusan hati ini adalah kebajikan

 Kebajikan ini tak dapat diwujudkan oleh satu orang. Dibutuhkan kerja sama dari banyak orang Dibutuhkan kerja sama dari banyak orang yang berjalan bersama-sama di jalan ini dengan menjaga ketulusan hati. Jadi, saya sering berkata bahwa di dalam hati setiap orang harus ada ketulusan, kebenaran, keyakinan, kesungguhan. ketulusan, kebenaran, keyakinan, kesungguhan. Dengan demikian, barulah kita bisa mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin. Jika setiap orang memiliki hati seperti ini dan memiliki tujuan yang sama, yakni mengembangkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin di jalan ini, maka inilah kebajikan. Tekad yang menyatu dengan sang Jalan adalah yang teragung. Saya sering mengatakan bahwa kita hendaknya memiliki kesatuan tekad. Organisasi Tzu Chi yang besar ini membutuhkan banyak orang yang memiliki tekad yang sama. Semua orang bersama-sama bersumbangsih bagi semua makhluk yang menderita di dunia ini. Jika kita selalu sejalan dengan jalan kebenaran, hati kita selalu sama, dan tekad kita selalu sama, bukankah cara kita juga seharusnya sama? Karena itu, kita harus menjalani pelatihan. Kita sering mengadakan bedah buku, kita juga sering mengadakan kegiatan. Sebelum kegiatan diadakan, kita terlebih dahulu menyampaikan pandangan dan pemahaman kita

 Ini karena kita adalah sebuah organisasi. Jadi, Buddha mengatakan bahwa menapaki sang Jalan dan teguh pada kebenaran adalah kebajikan. Kita harus ingat bahwa kita harus memegang teguh kebenaran di jalan ini. Kita harus mempertahankan tekad awal kita yang tulus. Inilah kebajikan. Tekad kita harus menyatu dengan sang Jalan. Jika tekad dan misi kita Jika tekad dan misi kita sejalan dengan jalan yang kita tapaki, maka inilah keagungan

 Jalan yang lapang ini adalah Jalan Bodhisattva. Jika kita dapat selalu menjaga tekad di jalan ini, maka jalan ini akan benar-benar lapang. Ajaran Buddha ini harus selalu kita ingat di dalam hati. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment