Sanubari Teduh – 222 – Sembilan Belenggu Bagian 4
Saudara se-Dharma sekalian, jika batin tenang, dunia akan terasa luas. Saat kita bermeditasi, bukankah batin kita terasa jernih? Saat melakukan kebaktian di aula, apakah hati kalian sangat tulus? Jika hati tulus dan tenang, maka inilah hati yang lapang. Jadi, saat Buddha mengajar para murid-Nya, murid-Nya pernah bertanya apakah yang terindah di dunia ini, apakah kebajikan terunggul
Kita telah membahas ini. Jawaban Buddha saat itu, menapaki sang Jalan dan teguh pada kebenaran, itulah kebajikan. Meski kita telah bertekad untuk meninggalkan keduniawian dan mempelajari ajaran Buddha, kita juga harus membangkitkan ketulusan, baru dapat menapaki jalan ini. Jadi, untuk menapaki jalan ini, kita harus teguh pada kebenaran dan jalan yang telah kita pilih. Kita harus memiliki hati yang tulus. Selama lebih dari 40 tahun, Buddha membabarkan ajaran dengan metode terampil. 42 tahun kemudian, Beliau meninggalkan metode terampil dan menunjukkan kebenaran. Buddha beralih dari metode terampil dengan mengatakan bahwa ajaran-ajaran sebelumnya hanyalah metode untuk membimbing semua orang agar dengan tulus memasuki sang Jalan dan melihat kebenaran. Namun, yang terpenting adalah menapaki Jalan Bodhisattva. Artinya, Buddha menggunakan berbagai cara agar kita dapat menapaki jalan ini. Tujuan terpenting dari semua ini adalah Tujuan terpenting dari semua ini adalah membimbing kita ke jalan yang lurus dan lapang. Jalan yang lurus dan lapang ini adalah jalan menuju kebuddhaan. Jadi, mempelajari ajaran Buddha berarti bertujuan mencapai kebuddhaan. Karena itu, kita harus memegang teguh ketulusan hati kita dalam menapaki Jalan Bodhisattva. Jadi, dikatakan bahwa teguh pada kebenaran adalah kebajikan. Dalam menapaki jalan ini, kita harus mempertahankan ketulusan kita. Dengan demikian, kita mencapai jalan terbaik dan juga jalan yang paling benar
Jalan ini harus dipraktikkan. Jalan ini adalah kebenaran. Berhubung sudah bertekad dan berikrar, Berhubung sudah bertekad dan berikrar, kita hendaknya menjaga tekad awal kita hendaknya menjaga tekad awal selama menapaki jalan ini. Dengan begitu, jalan ini akan menjadi jalan terlapang dan juga jalan yang paling tepat. Jadi, jalan agung ini harus menyatu dengan tekad kita. Inilah jalan agung. Buddha mengajarkan kepada kita untuk mempertahankan ketulusan kita dan berusaha membangun tekad kita. Jadi, tiada cara lain dalam mempelajari ajaran Buddha selain membangun hati yang teguh dan tekad yang luhur. Jika kita memiliki hati yang teguh dan dapat membangun tekad yang luhur, barulah disebut praktisi Buddhis sejati. Namun, bagaimana menjaga ketulusan hati? Makhluk awam selalu dipengaruhi kegalapan batin. Dalam kondisi yang sesuai harapan, makhluk awam akan dipenuhi ketamakan dan kemelekatan. akan dipenuhi ketamakan dan kemelekatan. Inilah makhluk awam dalam kondisi sesuai harapan
Begitu suatu masalah timbul, kegelapan batin pun bangkit. Mereka melukai diri sendiri dan orang lain. Banyak hal seperti ini di masyarakat. Inilah kondisi makhluk awam. Dalam kondisi sesuai harapan, mereka terbuai. Saat kondisi tak sesuai harapan, mereka melakukan hal yang tidak benar. Inilah kegelapan batin. Akibat kegelapan batin ini, kita membelenggu batin kita sehingga batin kita tidak dapat menapaki jalan agung yang lurus. Jadi, Buddha memberi tahu kita, “Makhluk awam diliputi oleh kegelapan batin.” Kegelapan batin ini terus menutupi kita selapis demi selapis. terus menutupi kita selapis demi selapis sehingga kita tak bisa lepas dari belenggu. Jalan yang kita tapaki menjadi tidak lurus. Akibatnya, sebab-sebab penderitaan pun terakumulasi
Apa yang disebut penderitaan? Apa yang disebut penderitaan? Ini yang tadi kita bahas, yakni saat kondisi sesuai harapan, kita menjadi tamak dan melekat. Nafsu keinginan menjadi tiada batas. Nafsu keinginan ini melukai hati orang. Saat menjadi relawan, kita melihat dan mendengar banyak hal di RS. kita melihat dan mendengar banyak hal di RS. Banyak orang yang masih berusia muda, tetapi mengalami luka yang sangat berat. Mengapa demikian? Ada yang mengalami kecelakaan kerja, ada pula yang terlibat perkelahian. Ada yang melukai diri sendiri akibat kegelapan batin
Kita juga melihat keluarga yang mendampingi mereka. Ada anggota keluarga yang sudah sangat putus asa dan tidak terlalu peduli. Ada pula yang terlalu melekat dan tak dapat berpikir terbuka. Ada yang lebih menderita daripada si pasien. Inilah belenggu cinta dan kebencian. Di dalam masyarakat, saat kita terjun ke rumah sakit, kita melihat banyak orang dengan berbagai latar belakang. Karena itu, saya berkata kepada para relawan bahwa rumah sakit adalah ladang pelatihan diri. Kita dapat memahami kebenaran saat melihat penderitaan pasien. Melihat begitu banyak orang yang menderita, kita dapat memahaminya dengan sungguh-sungguh. Kita dapat menyelami kehidupan mereka yang terbelenggu oleh kegelapan batin. Saat menyadari hal ini, kita akan berpikir, “Mengapa begitu bodoh?” “Mengapa waktu itu harus saling bertikai dan melukai?” “Mengapa anak ini harus memakai narkoba?” “Mengapa anak muda ini harus begitu banyak minum minuman keras?” “Mengapa dia harus mengebut begitu kencang?” Banyak hal yang dapat kita lihat
Banyak hal yang dapat kita lihat. Anggota keluarga mereka sangat sedih dan berduka. Pasien pun harus berjuang untuk bertahan hidup dan berkutat dengan penderitaan fisik. Setelah kita sering melihat kondisi seperti itu, kita akan memahami kebenaran dengan jelas karena kita benar-benar menyelami kondisi kehidupan pasien. Kita pun dapat segera melampaui kerisauan dan memahami kenyataan di balik kehidupan manusia. Dengan menyelami penderitaan, kita memahami kebenaran. kita memahami kebenaran. kita memahami kebenaran. Dari penderitaan orang lain, kita memahami kebenaran. Jadi, Buddha berkata, “Tidak mampu memahami penderitaan dan sebab penderitaan.” Demikianlah kegelapan batin makhluk awam
Meski diliputi penderitaan, makhluk awam tidak menyadarinya dan terus menciptakan karma buruk. Orang yang berselisih tidak saling mengalah. Masing-masing pihak tidak mau mengalah Masing-masing pihak tidak mau mengalah hingga harus berakhir di pengadilan akibat saling menuntut. Mereka mengeluarkan banyak uang. Meski menguras harta keluarga, mereka tetap tidak mau saling mengalah. Kita dapat melihat penderitaan mereka, tetapi mereka yang mengalaminya sendiri tetapi mereka yang mengalaminya sendiri tidak menyadarinya. Mereka tidak menyadari masalah ini karena mereka tenggelam di dalamnya. Mereka berada di dalam masalah itu dan tidak dapat membebaskan diri. Karena itu, mereka menderita
Mereka sangat perhitungan, saling melukai, dan saling bertikai. Inilah penderitaan. Penderitaan ini terus terakumulasi. Kehidupan manusia seperti ini terus terbelenggu dan sulit untuk bebas. Akibatnya, manusia mengembangkan ketidakbaikan karena kita terus tenggelam dalam penderitaan di tengah penderitaan. Antarsesama manusia, dendam dan benci pun terus membelenggu bagai bola salju yang terus menggulung hingga semakin lama semakin besar. Jadi, ketidakbaikan terus berkembang. Ketidakbaikan ini terus bertambah banyak. Karma buruk ucapan pun semakin banyak. Tindakan juga semakin tidak benar. Inilah yang disebut mengembangkan ketidakbaikan
Saya sering berkata bahwa jika arah menyimpang sedikit saja, jika arah menyimpang sedikit saja, maka langkah kita selanjutnya maka langkah kita selanjutnya akan jauh tersesat. Lihatlah sebuah jangka. Jika saat menggambar lingkaran, jangka ini melenceng sedikit, maka lingkaran itu tidak akan terbentuk. maka lingkaran itu tidak akan terbentuk. Jadi, pikiran kita juga harus dijaga. Jika ketulusan kita tidak dijaga, maka saat pikiran keliru bangkit, kegelapan batin kita akan memicu terciptanya ketidakbaikan yang mengakibatkan penderitaan. Kita harus memahami tiga masa dan enam alam. Siklus kehidupan ini, sulit bagi kita untuk terlepas darinya. Di masa lalu, masa kini, dan masa depan, semua makhluk terus berada di enam alam. Banyak orang yang berkata bahwa mereka sedang melatih diri. “Menjadi manusia sangat menderita, maka saya ingin melatih diri.” Untuk apa melatih diri? “Agar tidak lagi terlahir sebagai manusia.” Mudah jika tak ingin menjadi manusia, lakukan saja perbuatan buruk, maka akan lahir di neraka, alam setan kelaparan, atau alam binatang, tidak akan lahir sebagai manusia
Jika tidak ingin lahir sebagai manusia, juga tidak ingin lahir di tiga alam rendah, maka mau terlahir di mana? Berdana dan lakukanlah berbagai perbuatan baik, maka akan terlahir di surga. Apakah kehidupan di surga abadi? Tidak. Saat berkah habis dinikmati, makhluk surga juga akan jatuh ke alam lain. Ini karena mereka hanya menciptakan berkah, tetapi belum memahami kebenaran tertinggi. tetapi belum memahami kebenaran tertinggi. Jadi, tujuan menciptakan berkah hanyalah untuk memperoleh berkah. Mereka berdana dengan tujuan memperoleh berkah. Dengan berdana, kita tentu akan mendapat berkah. Namun, berkah bukan kunci satu-satunya. Kita juga membutuhkan kebijaksanaan. Jika kita tidak membangkitkan kebijaksanaan, maka suatu hari, saat berkah habis dinikmati, maka kegelapan batin akan kembali membelenggu kita dan kita akan menerima buah karma buruk. dan kita akan menerima buah karma buruk. Kita dapat melihat banyak orang yang hidup bagai di surga. Apakah di alam manusia ada surga? Ada
Orang-orang di sana hidup penuh kenikmatan, memiliki kekuatan, reputasi, dan kuasa yang besar. Mereka dapat memenuhi segala kehendak diri. Namun, apakah kondisi seperti ini dapat berlangsung seumur hidup? Orang yang memiliki berkah lebih besar dapat menikmati hidup seperti itu seumur hidup. Namun, apakah kehidupan selanjutnya terjamin? Jika berkah habis dinikmati dalam kehidupan ini, maka di kehidupan selanjutnya, yang tersisa hanyalah karma buruk. Jika berkahnya lebih sedikit, orang mungkin dapat hidup penuh kenikmatan, tetapi saat karma buruk berbuah, ketidakkekalan tidak dapat dihindari. Masalah demi masalah akan datang dan terus membayanginya. Kehidupannya pun mengalami kejatuhan. Kasus seperti ini dapat kita lihat di masyarakat asalkan kita dapat menenangkan batin dan mengamati dengan sungguh-sungguh. Jadi, kita harus tahu bahwa kebijaksanaan lebih penting dari berkah
Namun, hidup penuh kebijaksanaan tanpa berkah juga akan penuh penderitaan. Sulit bagi kita untuk berbuat baik. Karena itu, dikatakan bahwa sulit bagi orang miskin untuk berdana. Kita harus bijaksana sekaligus penuh berkah. Dengan begitu, kita dapat bersumbangsih dengan menggunakan kebijaksanaan kita. Jadi, bagaimana agar kita dapat mempertahankan kebijaksanaan kita? Bagaimana agar dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menghadapi orang dan masalah dengan tenang? Bagaimana agar kita dapat mengikis kegelapan batin? Kita harus memahami bahwa karma berawal dari noda batin. Apa yang dimaksud noda batin? Tidak memahami kebenaran. Sumber dari segala noda batin ini adalah bangkitnya sebersit kegelapan batin. Akibatnya, kini batin kita diliputi banyak noda dan penuh kesesatan. “Saya tak mengerti apa yang kamu katakan.” “Saya tidak paham apa yang kamu lakukan.” Inilah yang disebut kesesatan
Banyak hal yang tidak dapat kita pahami, dan ini semua adalah akibat dari kegelapan batin. Jadi, kegelapan batin sangat menakutkan. Kita harus mencari cara untuk melenyapkan kegelapan batin. Ini harus dilakukan dalam keseharian. Di Banqiao, ada Relawan Liang dan istrinya. Beberapa tahun lalu, suatu kejadian membuatnya sangat sedih. Hatinya sangat hancur akibat kejadian ini. Hatinya sangat hancur akibat kejadian ini. Dia mengalami musibah dalam keluarga. Putranya adalah seorang anak yang baik. Suatu hari, dia mengalami kecelakaan
Di tengah perjalanan ke sekolah, dia mengalami kecelakaan dan terluka parah. Setelah dilarikan ke rumah sakit, anak ini tetap tidak tertolong. Pada saat itu, Relawan Liang sudah menjadi donatur Tzu Chi dan mendapat pendampingan dari anggota komite. Dia sering berinteraksi dengan insan Tzu Chi dan tidak asing terhadap ajaran saya. Jadi, pada saat itu, dia tahu bahwa kesedihan berlebih tak akan mengubah keadaan. Saat saya berkunjung ke Taipei, dia datang bersama istrinya. Mereka menceritakan perasaan mereka. Namun, saya melihat mereka sudah lebih tenang. Apa yang membuat mereka tenang? Istrinya berkata, “Master, saya pernah mendengar Kata Renungan Jing Si yang berbunyi jika jalinan jodoh berakhir, maka relakanlah dengan disertai doa.” “Bagaikan sebuah layang-layang rusak, janganlah kita terus menarik benangnya sehingga ia tidak bisa pergi dengan bebas.” sehingga ia tidak bisa pergi dengan bebas.” “Jadi, meski sangat sedih, saat teringat kata-kata ini, saya selalu melafalkan nama Buddha dengan tulus
” Suaminya menambahkan, “Sesungguhnya, sulit bagi kami untuk merelakan.” Dia juga berkata pada istrinya, “Berhubung kita sudah mengerti, sudah bergabung dengan Tzu Chi, dan sudah memahami prinsip kebenaran ini, maka jika orang yang menabrak meminta maaf, kita harus memaafkannya.” “Jika dia mau minta maaf, maka kita maafkanlah dia.” Akan tetapi, si penabrak tidak mau minta maaf. Relawan Liang menjadi marah dan kegelapan batinnya pun bangkit. Dia pun berkata, “Baik, jika kamu tak mau minta maaf, saya akan menyirammu dengan bensin.” Setelah bersiap-siap dan ingin segera menjalankan rencananya, di ruang tamu rumahnya, dia melihat foto saya tergantung di dinding. Tiba-tiba hatinya pun terbuka. “Master bagai melihat ke arah saya, maka saya segera bersujud dan bertobat.” “Tak seharusnya saya berniat begitu.” Jadi, dia benar-benar merelakan dan membuka pintu hatinya. Belenggu kegelapan batinnya pun terlepas. Dia mulai keluar dari kesedihan dan mulai mengembangkan kesadaran di Tzu Chi
Dia berkata, “Duduk diam di rumah membuat saya semakin sedih dan diliputi kegelapan batin.” Jadi, sejak hari itu, mereka berdua sangat tekun dan bersemangat menapaki Jalan Bodhisattva. Kini mereka telah menjadi anggota komite. Empat Misi Tzu Chi dan Delapan Jejak Dharma mereka jalankan dengan mantap. Jadi, dia berhasil keluar dari kesedihan dan masuk ke dalam kesadaran. Lewat Kata Renungan Jing Si dia juga mengambil sepenggal kalimat, yakni jangan mengambil kesalahan orang lain untuk menghukum diri sendiri. Jadi, jangan biarkan kesalahan orang lain membuat kita berbuat kesalahan. Jadi, begitu pola pikir berubah, maka kehidupan pun berubah ke Jalan Bodhisattva
Orang yang berpegang pada jalan kebenaran adalah orang yang paling bajik. Mereka bahkan mengerahkan kekuatan cinta kasih untuk menapaki Jalan Bodhisattva. Jadi, semua bergantung pada pikiran. Dalam Sutra Empat Puluh Dua Bagian ada sepenggal kalimat. Buddha berkata, “Dia yang melihat sang Jalan, bagai orang yang membawa obor memasuki ruang yang gelap.” “Kegelapan itu hilang, yang ada hanyalah terang.” Artinya, jika kita dapat melihat jalan kebenaran dan memahaminya, maka kita bagaikan membawa obor. bagaikan membawa obor. Dengan membawa obor ini, saat kita memasuki tempat yang gelap, saat kita memasuki tempat yang gelap, saat kita memasuki tempat yang gelap, saat kita memasuki tempat yang gelap, saat kita memasuki tempat yang gelap, saat kita memasuki tempat yang gelap, maka kegelapan itu akan hilang, dan yang ada hanyalah terang. dan yang ada hanyalah terang. Kegelapan di ruangan itu menjadi hilang
Yang tersisa hanyalah cahaya terang. Demikianlah orang yang melihat sang Jalan, batinnya akan sangat cemerlang, tidak diliputi kesesatan. Kita tak akan lagi merasa, “Apa yang kamu lakukan?” “Mengapa saya tidak mengerti?” “Apa yang kamu katakan?” “Mengapa saya tidak paham?” Kita akan melihat masalah dengan jelas. Ini berlaku jika kita melihat jalan kebenaran. Jika sebaliknya, maka batin kita akan diliputi kegelapan. Batin yang gelap membuat kita mengalami banyak rintangan. Jadi, batin harus cemerlang. Buddha berkata, “Mempelajari sang Jalan dan melihat kebenaran, maka kegelapan batin akan lenyap.” Dalam mempelajari ajaran Buddha, jika dapat melihat kebenaran sejati, kita akan mampu mengikis kegelapan batin. Segala sesuatu di sekitar kita akan terlihat sangat cemerlang. Jadi, kita harus tahu bahwa kegelapan batin bisa dilenyapkan, bukan berarti kita tak bisa berbuat apa-apa. “Mudah marah memang sudah watak saya
” Mudah marah bukanlah watak asli, melainkan hanya tabiat buruk. Jadi, kita harus tahu bahwa kegelapan batin bisa dilenyapkan. Kita juga hendaknya dapat melihat kebenaran. Jika kita dapat melihat jalan kebenaran, maka batin kita akan selalu cemerlang. Dengan begitu, kita akan mengikis banyak kegelapan batin, bahkan kesombongan tinggi yang kita bahas juga bisa dilenyapkan. Jika dapat memahami kebenaran dengan jelas, kehidupan kita tak akan dipenuhi kesalahan. Jadi, kita semua harus selalu bersungguh hati. Kebenaran bagaikan sebuah pelita yang dinyalakan di sebuah ruang yang gelap. Ini adalah hal yang sederhana. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.