Sanubari Teduh – 223 – Sembilan Belenggu Bagian 5
Saudara se-Dharma sekalian, Akibat adanya diri ini, manusia memiliki banyak pandangan duniawi. Di dunia ini banyak orang dengan berbagai pandangan Akibatnya, banyak kekacauan terjadi. Berikutnya kita akan membahas belenggu pandangan. Kita sudah membahas empat dari Sembilan Belenggu. Yang kelima adalah belenggu pandangan. Ada berapa jeniskah pandangan itu? Ada tiga jenis. Semuanya ada karena kita memiliki diri ini. Semuanya ada karena kita memiliki diri ini. Akibatnya, manusia menumbuhkan berbagai pandangan yang kompleks. Tiga jenis pandangan ini diawali dari tubuh yang kita miliki. Kita terlahir di alam manusia. Setelah terlahir di alam manusia, timbul kesombongan dalam diri kita
Segala hal kita pusatkan pada diri sendiri. Jadi, kita menganggap diri selalu benar dan pandangan orang lain salah. Benarkah bahwa kita selalu benar? Kita masih memiliki pandangan ekstrem, yakni memihak pada salah satu sisi, tidak melihat kebenaran secara menyeluruh. Jadi, kita memihak salah satu sisi. Ini juga membawa banyak kerisauan. Yang berikutnya adalah pandangan sesat. Sesat berarti tidak benar. Kita sering berkata bahwa menyimpang sedikit, maka akan jauh tersesat. Terlebih jika kita menyimpang sedikit saja dan melekat pada pandangan sesat, maka bedanya jauh sekali. maka bedanya jauh sekali. Demikianlah pandangan sesat. Dengan adanya tiga jenis pandangan ini, Kemelekatan pun bangkit. Akibat pikiran keliru yang terus timbul, yakni merasa diri paling hebat, merasa diri paling benar, arahnya paling benar, maka kekeraskepalaan dan kemelekatan seperti ini juga dapat mengembangkan ketidakbaikan
Dengan demikian, begitu pikiran tidak baik timbul, dan kita bertindak semaunya sesuai pandangan sendiri, sejak saat itu kita akan mengundang penderitaan bagi kehidupan mendatang. Mengapa manusia diliputi banyak penderitaan? Karena memiliki banyak kemelekatan. Kemelekatan sesat terus timbul dalam batin karena kita memiliki diri ini. Kita terjebak dalam pandangan adanya pribadi. Apakah pandangan akan adanya pribadi itu? Yaitu kemelekatan terhadap diri. Diri kita terdiri atas lima agregat. Dalam diri seseorang, ada lima hal yang membawa kemelekatan, yaitu rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Lima hal ini sudah kita bahas di awal. Pada diri kita, Pada diri kita, terdapat enam indra yang merespons enam objek
Segala objek membuat kita merasakan berbagai sensasi, seperti cinta, tamak, dan berbagai perasaan yang tak terkendali. Saat belum mendapatkan sesuatu, kita menginginkannya. Kita terus memikirkan cara mendapatkannya, entah itu benar atau tidak. Kita tidak peduli. Kita hanya berpikir saat melihat sesuatu, timbul perasaan suka, dan kita ingin mendapatkannya. Akibat keinginan ini, tubuh kita melakukan tindakan. Menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat. Banyak masalah dan kekacauan di masyarakat bermula dari hal ini
Setelah tindakan dilakukan, benih karma akan tertanam di kesadaran ke-8. benih karma akan tertanam di kesadaran ke-8. Ini akibat perbuatan kita yang didasari perasaan dan keinginan sehingga menciptakan berbagai karma sehingga menciptakan berbagai karma yang tersimpan dalam kesadaran ke-8. Jadi, sumber dari segala kesalahan adalah adanya lima agregat. Lima agregat ini membuat kita melekat pada pandangan akan adanya pribadi dalam diri. Kita selalu merasa ada “aku”. Karena itu, saat bersentuhan dengan objek luar, kita mulai merasakan segala sensasi, berpikir, bertindak, dan melekat. Ini disebabkan oleh adanya diri atau tubuh ini. Inilah pandangan adanya pribadi. Berikutnya adalah pandangan ekstrem, yakni melekat pada satu kutub
Akibat pandangan adanya pribadi, kita selalu mengutamakan diri sendiri. Kita mengabaikan hukum karma. Kita hanya melakukan yang kita suka untuk mendapat kesenangan sesaat, tetapi tidak memikirkan akibatnya. Kita bahkan menganggap hukum karma tidak ada. Inilah pandangan nihilisme. Ada pula pandangan eternalisme, yakni menganggap segala yang didapat dapat dinikmati selamanya dan dunia ini bersifat kekal. Apakah tubuh kita abadi? Apakah kehidupan kita juga abadi? Segala materi, semua manusia, apakah semuanya abadi? Tidak. Dunia ini tidaklah kekal, tetapi manusia tidak peduli dan malah menganggap ada yang kekal. Inilah pandangan ekstrem. Ada orang yang menganggap hukum sebab akibat tidak ada, yang penting nikmati hidup saat ini, tidak ada konsekuensi masa depan
Mereka menyangkal hukum sebab akibat dan bertindak sesuka hati. Inilah pandangan nihilisme. Sebaliknya, pandangan eternalisme menganggap segala sesuatu adalah abadi. menganggap segala sesuatu adalah abadi. Baik harta, kecantikan, reputasi, keuntungan, dan lain-lain, manakah yang abadi? Keabadian yang sesungguhnya hanya ada pada kebenaran sejati. Hakikat sejati kita atau sifat hakiki kita yang murnilah yang abadi. Namun, kita makhluk awam menganggap yang kita miliki adalah kekal. Saat tubuh ini masih ada, kita menganggap segala yang ada akan terus ada. Inilah pandangan ekstrem nihilisme dan eternalisme. Artinya, kita tidak memahami kebenaran, Artinya, kita tidak memahami kebenaran, tidak dapat melihat dengan jelas. Demikianlah orang yang memiliki pandangan ekstrem nihilisme atau eternalisme, masing-masing berpihak pada satu sisi. Akibatnya, masyarakat dipenuhi konflik. Manusia memperdebatkan yang benar dan salah
Pihak yang satu merasa dirinya benar dan pihak lain salah. Pihak lainnya juga merasa benar dan lawannya yang salah. Jadi, semua orang melekat pada salah satu sisi. Dengan begitu, kekacauan akan terjadi. Inilah sumber kekacauan masyarakat. Yang ketiga adalah pandangan sesat. Seperti yang tadi kita bahas, sesat berarti tidak benar. Pandangan orang-orang di masyarakat tentu dipenuhi kekeliruan makhluk awam dan penuh ketidakbenaran. Namun, sesungguhnya kita sebagai praktisi juga demikian. Melatih diri berarti membina perilaku yang benar. Kita sering membahas tentang tujuan hidup serta pembinaan hati dan watak. Jika tujuan kita tidak benar, bagaimana kita dapat menempa hati dan membina watak? Jika kita berjalan menyimpang, segala tindakan kita akan salah. Jadi, dalam agama pun demikian, jika kita tidak memilih dengan benar, maka akan terjerumus dalam kesesatan. Pandangan sesat juga terbagi atas kutub eternalis dan nihilis
Di India pada masa lalu terdapat banyak agama, tepatnya lebih dari 90 aliran. Pandangan setiap aliran itu tidak sama, metode latihannya juga tidak sama. Ada yang berlatih dengan menyiksa diri, membuat diri sendiri menderita. Ini mereka sebut sebagai pelatihan diri. Inilah pandangan yang menyimpang. Ada pula orang yang sangat sombong, merasa diri sudah memahami banyak hal. “Saya sudah tahu banyak, layak disebut guru pembimbing dunia.” “Saya patut dihormati semua orang.” Kesombongan seperti ini juga tidak benar
Baik praktik menyiksa diri maupun memanjakan diri, keduanya tidak benar. Inilah pengabaian hukum sebab akibat. Jadi, para praktisi harus berhati-hati terhadap pandangan sesat. Sedikit penyimpangan saja dapat menimbulkan pandangan ekstrem. Sedikit penyimpangan saja dapat menimbulkan pandangan adanya pribadi dan ego yang besar. Singkat kata, tiga jenis pandangan ini semuanya disebabkan oleh adanya diri ini. Di dunia ini, kita bersentuhan dan terbuai dengan kondisi luar. Kita tak dapat mengendalikan dan menjaga batin kita. Karena itu, timbullah tiga pandangan ini. Tiga jenis pandangan ini bukan hanya dimiliki orang dewasa, bahkan juga anak kecil. Pada bulan Desember 2005, menjelang akhir tahun, di Amerika Serikat terjadi suatu kasus. Sebuah keluarga ingin mencari anaknya yang berusia 16 tahun. anaknya yang berusia 16 tahun. Kasus ini juga diberitakan secara luas
Di manakah sesungguhnya anak ini? Anak ini sudah duduk di bangku SMA. sudah duduk di bangku SMA. Saat kegiatan belajar mengajar, gurunya membahas tentang perang antara AS dan Irak. Mengapa perang antara AS dan Irak itu berlangsung dengan begitu kejam? Jadi, timbul rasa ingin tahu dalam diri anak itu. Dia merasa harus membuktikan sendiri dengan melihat langsung ke daerah perang. Dia berniat menjadi wartawan perang dan meliput kondisi di sana. dan meliput kondisi di sana. Dia ingin menjadi seorang wartawan perang. Usianya baru 16 tahun. Dia hanya memiliki rasa ingin tahu yang besar
Dia hanya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Sesungguhnya, ini bukan kewajibannya. Kewajibannya sebagai siswa adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Mendengar penjelasan gurunya, rasa ingin tahunya pun semakin besar. Dia lalu meninggalkan rumah dan pergi seorang diri. Dia pergi ke Irak. Perjalanan dari Amerika Serikat ke Irak apakah begitu mudah? Tentu tidak mudah, apalagi Irak adalah daerah perang. Penjagaan di perbatasan sangat ketat. Namun, dia cukup pintar untuk dapat lolos dari penjagaan di sana. Dia berhasil masuk ke Irak dan tinggal di sebuah hotel. Dia juga mencari kantor Associated Press dan mengatakan ingin menjadi wartawan untuk meliput perang. Para wartawan di sana sudah menerima berita tentang anak ini karena dia telah hilang selama belasan hari. Selama belasan hari itu, keluarganya terus memasang berita di koran dan telah mengabari pihak terkait di perbatasan Irak
Karena itu, para wartawan di sana sudah mengetahuinya. Saat melihat anak itu muncul, mereka semua terkejut. Mereka pun segera mengantarkan anak ini ke kedutaan besar AS di Irak. ke kedutaan besar AS di Irak. Sehari setelah anak itu mencari para wartawan, Sehari setelah anak itu mencari para wartawan, rencananya dia akan segera dipulangkan. Namun, sebuah serangan bom bunuh diri terjadi dan menewaskan banyak orang. Anak itu menyaksikan insiden berdarah di sana. Melihat hancurnya kondisi masyarakat, miskinnya warga di sana, dan berbagai penderitaan lain, maka sepulangnya dari Irak, maka sepulangnya dari Irak, maka sepulangnya dari Irak, anak itu mulai menenangkan diri. Dia terus berpikir tentang kekacauan di Irak. Bayangan kondisi di sana terus muncul dalam pikirannya. Sepulangnya ke rumah, dia melihat rumahnya sangat mewah. Dia mulai merasa bahwa kehidupannya begitu baik di tengah masyarakat yang damai dan penuh kenikmatan. Dia juga bisa mengemudikan mobil mewah
Di sana, anak-anak berusia 16 tahun sudah bisa mengemudi. Dia sendiri mengendarai mobil mewah ke sekolah dan suka kebut-kebutan. Jadi, dia merasa bersalah. Setelah menenangkan diri dan merenung, dia merasa bersalah. Dia hidup penuh kenikmatan, sedangkan banyak orang hidup menderita di tengah kekacauan. Jadi, dia perlahan-lahan menenangkan batinnya dan mulai merasa bersalah. Perlahan-lahan dia tahu dan paham bahwa dirinya harus sungguh-sungguh menghargai kehidupan yang damai yang dia miliki. Akhirnya, anak ini sudah dapat menenangkan diri. Benar, dia harus mengendalikan diri. Namun, anak ini termasuk beruntung. Jika terjadi sesuatu pada dirinya, dia mungkin membawa kekacauan bagi keluarganya dan masyarakat. Karena itu, kita harus selalu mengendalikan diri dan menunaikan kewajiban dengan baik
Jika siswa menunaikan kewajiban sebagai siswa, pekerja menunaikan kewajiban untuk bekerja dengan baik, dan praktisi pembina diri menunaikan kewajiban sebagai praktisi, bukankah masyarakat akan damai dan tenteram? bukankah masyarakat akan damai dan tenteram? Jadi, mengenai pandangan, anak ini mulanya memiliki pandangan adanya diri, pandangan ekstrem, dan pandangan sesat. pandangan adanya diri, pandangan ekstrem, dan pandangan sesat. Dia memiliki ketiganya. Karena itu, dia bersikeras untuk pergi memenuhi keinginan kuatnya. Intinya, semuanya bermula dari sebersit pikiran. Karena itu, kita harus selalu menjaga pikiran kita dan pandangan kita dengan baik. Janganlah berselisih karena perbedaan pandangan. Apakah kita benar atau tidak, kita harus sungguh-sungguh berintrospeksi. Apakah orang lain benar atau tidak, kita juga harus menganalisis dengan sepenuh hati. Jadi, janganlah saling menentang hanya karena memang ingin menentang
Jika semua orang melekat pada masing-masing sisi, maka kekacauan akan terjadi. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.