Sanubari Teduh – 224 – Sembilan Belenggu Bagian 6
Saudara se-Dharma sekalian, kita pernah membahas bahwa batin semua makhluk diliputi noda dan kegelapan batin, yakni ketamakan, kemelekatan, dll. Jadi, sebelumnya kita telah membahas tentang belenggu kegelapan batin dan berbagai belenggu lainnya. Baik belenggu kegelapan batin maupun belenggu pandangan akibat adanya diri ini membuat kita diliputi banyak kerisauan yang tertahan di dalam batin. Jadi, hari ini kita akan membahas belenggu keenam, yaitu belenggu kemelekatan. Kemelekatan di dalam batin kita ada karena pandangan pribadi kita. ada karena pandangan pribadi kita. “Segala yang saya inginkan harus saya dapatkan bagaimana pun caranya
” Jadi, kemelekatan adalah bersikeras ingin mendapatkan, sangat melekat dengan sesuatu yang dimiliki. sangat melekat dengan sesuatu yang dimiliki. Karena kemelekatan ini, timbul kerisauan dalam batin kita. Ada orang berkata, “Saya mengambil hak saya, tetapi orang lain mengambil yang bukan haknya.” Jika sesuatu bukan hak atau milik kita, Jika sesuatu bukan hak atau miliki kita, tetapi kita bersikeras mendapatkannya, maka kita akan menderita. Jadi, ada kemelekatan terhadap pandangan dan sila. Dengan begitu, kegelapan batin akan bangkit. Akibatnya, kita terikat pada pandangan keliru. Dengan adanya kemelekatan pandangan, saat melihat sesuatu, manusia menginginkannya. “Milik saya ada adalah milik saya.” “Milikmu bisa disebut milik saya juga
” “Pokoknya, milik saya tidak boleh kamu ambil, tetapi milik kamu boleh disebut milik saya.” Sikap seperti ini akan membawa pertikaian. Karena antarnegara ingin saling menguasai, ingin saling menguasai, maka terjadilah perang. Dalam berbagai bidang pekerjaan di masyarakat, bukankah sifat ingin menguasai ini yang menimbulkan iri hati dan akhirnya berujung pada perselisihan? Semua ini akibat kemelekatan manusia, menyebabkan kerisauan di tengah masyarakat dan rusaknya hubungan antarsesama. Semua ini karena kemelekatan pandangan. Orang-orang melekat pada pandangan sendiri dan merasa paling benar. Singkat kata, melekat pada pandangan sendiri juga sangat tidak baik. Seperti pandangan adanya pribadi, pandangan ekstrem, dan pandangan sesat yang telah kita bahas, semuanya berpusat pada diri sendiri. Kemelekatan terhadap pandangan ini sungguh kompleks. Ia tidak terbatas pada dua belenggu yang telah kita bahas. Kita kini membahas kemelekatan pandangan dan kemelekatan pada sila. Dalam kehidupan sehari-hari, orang pada umumnya menjadi risau akibat kemelekatan pada pandangan dalamb atin. Sesungguhnya, jika diperinci lebih jauh, terdapat lebih dari 90 jenis pandangan
Pembagiannya sangat mendetail. Secara garis besar, semua ini disebut kemelekatan pandangan. Ini yang dimiliki orang pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam skala besar, ia mencapai lingkup negara, dalam skala menengah mencapai lingkup masyarakat, dan dalam skala kecil melingkupi hubungan antarindividu. Kemelekatan pandangan seperti ini dapat menimbulkan banyak pertikaian. Praktisi spiritual juga memiliki sebuah kemelekatan, yaitu kemelekatan pada sila. Kemelekatan pada sila juga membawa kerisauan. Di dunia ini banyak muncul kesesatan. Di tengah kesesatan, ada sebagian keyakinan ada sebagian keyakinan yang bersikukuh pada pandangan masing-masing. Mereka juga memiliki sila atau aturan masing-masing. Para umat yang meyakininya harus menaati aturan-aturan tertentu
Kadang, aturan itu juga mengkhawatirkan. Saya teringat di Filipina ada sebuah kasus bayi kembar siam. Bayi itu terlahir saling menempel. Bayi itu kita beri nama Gan En dan Da Ai. Bayi kembar siam ini dibawa ke Hualien dan operasi pemisahannya berhasil. Karena itu, orang lain di Filipina ada yang memperkenalkan kasus lain. Kelihatannya kasus itu tidak sulit. Akan tetapi, mereka meminta jangan sampai si kembar mengeluarkan banyak darah agar tidak perlu dilakukan transfusi darah. Mereka tidak memperbolehkan transfusi darah. Mereka tidak memperbolehkan transfusi darah. Ini membuat kita kebingungan. Siapa yang bisa menjamin operasi tidak mengeluarkan banyak darah dan tidak memerlukan transfusi? Ini sangat sulit. Namun, kita juga sungguh-sungguh mempertimbangkannya
Lalu, kita membuat pilihan agar darah yang keluar bisa dimasukkan kembali. Mereka lalu menjawab bahwa darah dari luar tidak boleh dimasukkan ke tubuh. Ini adalah keyakinan mereka. Mereka tidak bisa menerima transfusi darah. Akhirnya, kita hanya bisa melepaskan kasus ini. Meski saat itu dokter dan ahli anestesi kita sudah sangat bersungguh hati, terus melakukan evaluasi, terus melakukan terobosan, dan terus melakukan komunikasi yang baik dengan harapan kembar siam yang lucu itu dapat tumbuh dengan normal mengingat hidup dengan tubuh menempel sangat menderita, tetapi keyakinan mereka menghalangi segala usaha. tetapi keyakinan mereka menghalangi segala usaha. Ini juga membuat semua orang kebingungan. Kini, jika diingat kembali, kita juga merasa sangat sedih. Bagaimana si kembar melewati kehidupan mereka? Begitulah kemelekatan pandangan dan sila. Kini kita membahas kemelekatan pada sila. Ini adalah kemelekatan terhadpa kekeliruan. Ini adalah kemelekatan terhadpa kekeliruan. Kemelekatan pandangan adalah kemelekatan terhadap milik diri dan berusaha menguasai yang diinginkan. Inilah kemelekatan pandangan. Sedangkan, kemelekatan sila berkaitan dengan keyakinan
Ini membawa penderitaan hidup. Kemelekatan ini dapat mengembangkan ketidakbaikan. Kemelekatan pandangan membawa pertikaian. Ini tentu membawa ketidakbaikan dan membuat manusia menderita dalam kelahiran kembali. Jadi, mengapa semua makhluk menderita? Buddha pernah membabarkan penderitaan di enam alam. Mengapa enam alam penuh penderitaan? Karena kita tak bisa memilih di mana dilahirkan. Jika saat ini kita terlahir sebagai manusia dan tidak melatih diri, bukan berarti kita bisa memastikan bahwa masih ada kesempatan di kehidupan mendatang. bahwa masih ada kesempatan di kehidupan mendatang. Apakah kita masih terlahir sebagai manusia kelak? Meski terlahir sebagai manusia, apakah kita masih berkesempatan untuk melatih diri? Meski ingin melatih diri, apakah kita dapat menemukan ajaran benar? Banyak hal berada di luar kendali kita. Jadi, pada kehidupan mendatang, di mana kita akan dilahirkan, kita tidak tahu. Terlebih lagi, saat terlahir sebagai manusia, kita menjalani hidup dengan penuh kesesatan, entah bagaimana pada kehidupan mendatang. Kita tak dapat mengendalikannya. Karena itu, lebih baik genggamlah saat ini. Kini kita telah bertemu ajaran Buddha dan breada di jalan benar
Ada orang mungkin bertanya, “Master, bukankah Master berkata masa kemurnian Dharma sudah berlalu?” “Bukankah sekarang adalah masa kemunduran Dharma?” “Bukan hanya masa kemurnian Dharma sudah berlalu, bahkan masa kemiripan Dharma juga sudah lewat, bukankah sekarang masa kemunduran Dharma?” Benar, kini adalah masa kemunduran Dharma. Lihatlah, populasi manusia semakin besar. Dengan populasi manusia yang besar, kini keyakinan juga semakin kompleks. Terlebih lagi, banyak orang masa kini mengabaikan hukum sebab akibat dan tidak memiliki keyakinan. Orang seperti ini banyak sekali. Jadi, orang yang memiliki Dharma di hati jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang tak berkeyakinan. Selain itu, setelah mengenal Dharma, lebih langka lagi orang yang mempraktikkannya. Singkat kata, dapat memiliki Dharma, pikiran benar, dan perbuatan benar sungguh tidaklah mudah. Dalam 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, ada Jalan Mulia beruas Delapan. Jika delapan faktor ini dapat disempurnakan, barulah perbuatan dan pikiran kita benar
Jadi, apakah kita bisa menjamin masa depan? Kehidupan kita saat ini saja belum tentu dapat kita kendalikan sepenuhnya. Meski kita membuat pilihan yang tepat dan memiliki perbuatan benar, tetapi kehidupan tetap tidak kekal. Berapa banyak waktu yang kita miliki untuk benar-benar memahami kebenaran? Berapa banyak waktu yang kita miliki untuk merasakan kondisi batin Buddha? Kondisi makhluk awam dan Buddha sangatlah jauh. Meski arah kita sudah benar, Meski arah kita sudah benar, tetapi jalan yang harus ditempuh masih panjang. Semua ini membutuhkan waktu. Dari segi waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia, berapa besar ruang yang kita miliki? Berapa banyak gangguan dalam hubungan antarmanusia? Berapa banyak waktu yang ada dalam hidup kita untuk melakukan yang kita inginkan? Hidup ini tidak kekal. Jadi, banyak hal berada di luar kendali kita. Karena itu, kita sering membahas pentingnya menggenggam saat ini. Selama memiliki pandangan benar, kita harus memanfaatkan waktu untuk merealisasikannya. Ini sudah benar
Jadi, kemelekatan dan belenggu ini membawa kerisauan. Kemelekatan membawa kerisauan tersendiri. Terbelenggu berarti tidak dapat berpikiran terbuka dan diliputi kegelapan batin bagaikan terikat oleh tali. Semua ini adalah noda batin. Noda batin menyebabkan kelahiran kembali. Dengan timbulnya noda batin, kita menuju pada belenggu kelahiran kembali. Kelahiran kembali ini berada di luar kendali kita dan penuh dengan kesesatan. Semua ini diakibatkan oleh kemelekatan. Jadi, tujuan kita bergantung pada arah kita, tepatnya arah pikiran kita. Jika mengarah pada kebajikan, maka akan menuju alam surga. Jika mampu menjalankan lima sila, maka akan terlahir sebagai manusia. Jika berbuat jahat, maka akan terlahir di alam neraka, setan kelaparan, atau binatang. Jika tidak melatih diri, kita mungkin jatuh ke alam asura. Jadi, alam yang akan dituju bergantung pada arah kita
Kadang saat membahas enam alam, kita juga menyebutnya enam tujuan. Tujuan berarti sesuatu yang dituju. Lihatlah, pandangan salah dan kegelapan batin membuat kita menuju pada enam alam. Jika dipikir-pikir, ini sangat menakutkan. Meski terlahir di alam surga, berkah di sana juga ada batasnya. Suatu saat, makhluk surga juga bisa kembali jatuh ke alam manusia. Di alam manusia, penderitaan silih berganti. Kapan pembebasan dapat diperoleh? Jadi, noda batin adalah sebuah belenggu yang terus mengikat kita. Bukan hanya batin kita yang terbelenggu, bahkan kita juga menjadi terikat sehingga tak bisa bebas dari kelahiran kembali. Jadi, kelahiran kembali paling menakutkan. Namun, kita juga tak berdaya. Kita belum mampu membebaskan diri sendiri dan melepaskan belenggu. Karena itu, saya sering menceritakan sebuah kisah
Saat ayah saya meninggal, saya bertanya-tanya ke mana beliau pergi. Jadi, batin saya sangat risau. Saya terus mencari jawaban. Kemudian, tak sengaja saya tiba di Vihara Fengyuan. Di Fengyuan ada sebuah vihara bergaya Jepang. Di sana ada seorang bhiksu yang tengah membabarkan Sutra Ksitigarbha. Saya mendengar umat di sana berkata, “Pembahasan sudah sampai Surga Trayastrimsa.” “Buddha pergi ke Surga Trayastrimsa untuk membabarkan Dharma bagi ibu-Nya.” Saya terus mendengar orang-orang membahas Buddha yang pergi ke Trayastrimsa demi ibu-Nya, lalu dalam hati saya berpikir, “Saya ingin mencari ayah saya.” “Di mana ayah saya berada saat ini?” Hari itu saya mengendarai sepeda Ke Vihara Fengyuan. Saat Bhiksu Miao Guang melihat saya, beliau berkata, “Si Gadis Berbakti datang
” “Saya sering mendengar orang membicarakanmu.” “Kamu akhirnya datang juga.” Saya lalu berkata, “Guru, saya ingin meminta petunjuk.” Beliau menjawab, “Katakanlah, jangan ragu, bilang saja.” Karena beliau sangat ramah, maka saya melanjutkan, “Saya ingin bertanya, di mana ayah saya sekarang?” Setelah mendengarnya, beliau tidak berbicara. Beliau masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah buku. Beliau berkata, “Bawa pulang dan bacalah buku ini, setelah membacanya kamu akan mengerti ke mana ayahmu pergi.” Kemudian, saya pulang dan membaca buku itu. Di sana dikatakan, Peng Zu pun harus meninggal meski sudah berusia 800 tahun
Chang’e juga harus mati meski sangat cantik. Raja yang perkasa pun juga harus mati. Orang seperti apa pun suatu saat pasti mati. Orang seperti apa pun suatu saat pasti mati. Saya sungguh tidak mengerti. Judul bukunya adalah “Cara Melepas Belenggu”. Buku itu sangat berkesan bagi saya. Bagaimana cara melepas belenggu, Bagaimana cara melepas belenggu, semua dijelaskan secara terperinci di sana. Sesungguhnya, ini adalah buku yang dibacakan saat orang meninggal dalam kepercayaan tradisional. Namun, saya tidak mengerti. Kemudian, saya pergi ke Vihara Ci Yun dan mengikuti Upacara Pertobatan Kaisar Liang. Di dalam teks Pertobatan Kaisar Liang, saya menemukan ajaran tentang ketidakkekalan
Di sana dijabarkan bagaimana pikiran kita membangkitkan banyak noda batin sehingga kita sulit mengendalikan diri. Saat itulah saya mulai mengenal ajaran Buddha. Dari teks Pertobatan Kaisar Liang, saya mulai memahami tentang belenggu batin. Jika kalian bertanya pada saya, “Master, apakah belenggu batin Master sudah terurai semua?” Saya beri tahu kalian, jawabannya adalah belum karena noda batin makhluk hidup sangat banyak. Saya sendiri juga masih memilikinya. Singkat kata, kita harus melepaskan belenggu ini sendiri
Siapa pun tak bisa membantu kita melepaskannya. Asalkan kita dapat berpikiran terbuka dan berjalan di jalan yang benar, maka itu sudah benar. Untuk itu, senantiasalah bersungguh hati.