Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 225 – Sembilan Belenggu Bagian 7

Saudara se-Dharma, saat melakukan puja dan bermeditasi pada pagi hari, kondisi yang ada sangat indah. Saya teringat satu kisah. Seseorang pergi ke vihara//untuk mengikuti kebaktian pagi. Sebelum dia sampai di gerbang vihara, bhiksu pengurus melihatnya dan berkata, “Kenapa Anda datang begitu pagi?” “Saya mau mengikuti kebaktian pagi.” Sang Bhiksu bertanya kembali, “Kenapa Anda tidak menggunakan lentera, padahal di luar masih gelap dan jalan sangat sempit?” “Bagaimana caranya Anda kemari tanpa menggunakan lentera?” Dia berkata, “Tidak perlu.” “Lentera tidak bermanfaat untukku “Lentera tidak bermanfaat untukku karena mataku tidak dapat melihat.” “Menggunakan lentera atau tidak sama saja.” Para anggota Sangha mulai berdatangan Suara lafalan mantra dan Sutra yang agung dapat didengarnya dengan jelas. Seusai kebaktian pagi,//dia mencari sang bhiksu untuk meminta petunjuk tentang materi kebaktian. Sang bhiksu bertanya, “Sudah berapa lama Anda membaca Sutra?” Dia menjawab, “Tidak pernah.” “Saya selalu berpikir bahwa kehidupan manusia tidak panjang.” “Karena itu, mulai sekarang saya inginmendalami ajaran Buddha.” “Saya ingin mencari kebenaran.” “Jadi, hari ini saya khusus dating untuk mengikuti kebaktian pagi.”Sang bhiksu berkata, “Anda datang mengikuti kebaktian pagi untuk pertama kalinya tanpa membawa lentera?”

“Pada pagi-pagi buta, apakah Anda tidak takut tejatuh ke dalam got atau menginjak sesuatu?” Dia berkata, “Tidak mungkin.” “Saya tahu jelas jalan di daerah ini.” “Saya memang baru pertama kali mengikuti kebaktian di vihara ini, mengikuti kebaktian di vihara ini, tetapi saya sudah pernah diajak orang untuk datang ke sini beberapa kali.” “Jadi, saya sudah tahu arah, maka bisa mengikuti kebaktian di sini.” maka bisa mengikuti kebaktian di sini.”Lalu sang bhiksu bertanya lagi kepadanya, “Anda baru pertama kali mengikuti kebaktian pagi, bagaimana dapat mengingat begitu banyak?” “Apakah Anda pernah membaca Sutra sebelumnya?” “Belum, saya tidak mengerti sama sekali.” “Namun, ketika saya mendengar para anggota Sangha melafal sutra pada pagi hari, setiap kata terdengar sangat jelas.” “Jadi, saya memiliki beberapa pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Guru.” Mereka berdua terus berbincang selama seharian di vihara hingga senja. Ketika hari mulai gelap, sang bhiksu berkata, “Anda pulanglah.” Sebelum pulang, dia berkata kepadasang bhiksu, “Guru, apakah saya boleh meminjam sebuah lentera?” Sang bhiksu berkata, “Bukankah Anda berkata lentera tidak bermanfaat untuk Anda?” “Anda bisa datang sebelum matahari terbit.” “Sekarang, saat langit sudah gelap, mengapa Anda ingin membawa lentera?” Dia menjawab, “Ketika saya datang pada pagi hari, saya percaya bahwa di jalan tidak ada orang.” “Jadi, saya tidak mungkin ditabrak orang lain.”

“Namun, ketika saya memasuki pedesaan pada malam hari, seluruh tempat telah gelap.” “Jika saya tidak membawa lentera, orang lain bisa menabrak saya.” “Jadi, kini saya memerlukan lentera untuk mencegah orang lain menabrak saya.” Walaupun ini hanya sebuah kisah, tetapi sesungguhnya kehidupan manusia bukankah seperti itu? Setiap orang hendaknya memiliki kebijaksanaan seperti orang yang tidak dapat melihat ini. Meskipun demikian, dia memiliki mata hati. Dia percaya. Dia mengetahui arah jalan. Dia percaya pada dirinya sendiri. Meskipun langit masih gelap, dia percaya tidak akan terjatuh dalam perjalanan dan bahwa jalan yang ditempuh aman, sehingga dia dapat menempuhnya. Inilah keyakinan pada diri sendiri. Namun, mengapa dia memerlukan lentera saat kembali pulang? Untuk mencegah orang lain menabraknya. Dia yakin terhadap diri sendiri, tetapi tidak yakin terhadap orang lain, maka memerlukan lentera untuk pulang. Untuk dapat yakin terhadap diri sendri dan percaya pada orang lain, diperlukan kebijaksanaan yang tinggi. Namun, manusia saling mencurigai sesama. Karena itu, pikiran kita menjadi kacau dan jalan kita menjadi gelap.

Meski jalan ini lapang dan lurus, tetapi kita sendiri malah merintangi jalan ini. Inilah keraguan. Saya pernah berkata, “Keyakinan adalah ibu dari segala pahala yang menumbuhkan segala akar kebajikan.” Jika kita memiliki keyakinan dan pahala dari akar kebajikan ini, maka jalan kita akan terbuka dengan lebar. Jadi, kita harus memiliki kebijaksanaan untuk memilih orang, hal, dan benda. Setelah memilih, kita hendaknya yakin dan jangan lagi ragu. Inilah yang benar. Buddha membimbing kita, tetapi jika hati kita dipenuhi noda batin dan tidak mampu terlepas dari belenggu, maka kita tidak akan dapat  memahami Dharma. Yang ketujuh dari Sembilan Belenggu adalah keraguan. Keraguan membuat kita terikat. Kita sebagai makhluk awam yang mengenal Dharma juga sering memiliki keraguan terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha. Sebagai murid Buddha, kita hendaknya memercayai Buddha, meyakini Dharma, dan menghormati Sangha. Kita harus memiliki semua ini. Kita harus meyakini kebijaksanaan Buddha serta cinta kasih dan welas asih Buddha.

Karena cinta kasih dan welas asih-Nya, Buddha tidak pernah berhenti kembali ke dunia ini. Karena cinta kasih dan welas asih-Nya, Beliau melepaskan segala kesenangan duniawi. Beliau memberi teladan pelatihan diri. Ini adalah cara untuk membimbing kita. Ini adalah cara untuk membimbing kita. Oleh karena itu, kita harus yakin. Buddha datang ke dunia ini dan melatih diri sesuai jalinan jodoh. dan melatih diri sesuai jalinan jodoh. Kita hendaknya meyakini ini. Setelah mencapai pencerahan serta memahami seluruh kebenaran alam semesta dan membangkitkan kebijaksanaan-Nya, Buddha ingin membimbing semua makhluk. Seluruh Dharma yang Buddha babarkan hendaknya kita yakini. Bagaimana ajaran Buddha diwariskan? Diperlukan Sangha. Meninggalkan keduniawian adalah perbuatan manusia agung. Ini juga merupakan tanggung jawab atas misi Buddha. Para anggota Sangha meninggalkan keduniawian dan menjaga kesucian fisik dan batin. Mereka mengikuti jalan yang ditapaki Buddha.

Mereka giat melatih diri di jalan yang telah Buddha tunjukkan. Para anggota Sangha juga merupakan pembimbing. Setelah mencari dan menemukan jalan, Setelah mencari dan menemukan jalan, mereka juga membimbing orang lain untuk berjalan di jalan itu. Jadi, kita harus membangkitkan keyakinan terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha. Namun, banyak makhluk hidup meragukan Tiga Permata dan tidak meyakininya. Meskipun meyakininya, kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk memilih. Pelatihan diri memang dimulai dari tataran awam. Pelatihan diri memang dimulai dari tataran awam. Hanya saja, metode pelatihan diri juga harus kita pilih dengan sungguh-sungguh. Buddha, Dharma, dan Sangha  membimbing kita untuk keluar dari kesesatan dengan aman  dan menuju jalan yang benar. Jadi, kita hendaknya meyakininya. Setelah memilih dengan bijaksana, Setelah memilih dengan bijaksana, kita harus yakin dan percaya.kita harus yakin dan percaya.

Jika kita tidak yakin, maka kita tidak bisa melatih diri dengan benar. Walaupun Buddha, Dharma, dan Sangha berada di depan untuk membimbing kita, jika masih ada keraguan dalam batin kita, maka kita tidak dapat mengikuti dari belakang. Jika tidak berlatih dengan benar, kita tidak bisa berjalan di jalan yang benar. Dengan begitu, kita akan menyimpang dan mengembangkan ketidakbaikan. Jika kebenaran tidak dijalankan dengan benar, maka dapat berubah menjadi keburukan. Hanya kebenaran yang membawa kebaikan. Jika tidak benar dan tidak baik, kita akan menyimpang ke arah keburukan. Jadi, keraguan adalah suatu kegelapan batin, yakni batin tidak memancarkan kebijaksanaan. yakni batin tidak memancarkan kebijaksanaan. Dengan begitu, pintu hati kita mudah tertutup oleh kegelapan batin. Jadi, kita hendaknya selalu mengingatkan diri untuk tidak ragu terhadap Dharma. Jika sebaliknya, maka sedikit penyimpangan dapat membuat kita jauh tersesat. Karena itulah, timbul penderitaan kelahiran kembali pada masa yang akan datang. Benar, semua makhluk terombang-ambing dalam enam alam kelahiran kembali tanpa bisa memegang kendali. Sungguh sangatlah menderita.

Akibatnya, kita tak dapat bebas dari tiga alam. Jika ingin terbebas dari penderitaan, kita harus bebas dari tiga alam, apalagi kita yang masih berada di alam nafsu. Jadi, kita harus menjaga pikiran kita dengan baik karena keraguan dapat menyesatkan batin kita. Begitu keraguan timbul, ia akan mengacaukan pikiran kita. Ajaran yang benar atau nasihat dari teman yang baik malah tidak kita dengar. Mereka menunjukkan jalan benar bagi kita, tetapi kita malah menolaknya. Kita tidak dapat berjalan di jalan kebenaran Kita tidak dapat berjalan di jalan kebenaran karena kita bertindak berlawanan dengan logika. Artinya, kita bertindak tak sesuai akal sehat. Jelas-jelas kita sudah bertemu jalan benar, tetapi karena pikiran tersesat, maka kita bertindak berlawanan dengan kebenaran. Ini yang disebut berlawanan dengan logika dan tak sesuai akal sehat. Mengapa ini bisa terjadi? Karena adanya keraguan dan kebimbangan.

Kita sudah melangkah di jalan yang salah. Saat orang lain memberi tahu kita, kita masih tidak memercayainya. Saat dinasihati oleh teman yang baik, dalam hati kita tetap timbul keraguan. Jadi, kita tidak bisa memutuskan apakah harus kembali ke jalan benar atau terus berkutat pada kesesatan. Dahulu jalan kita sudah benar, tetapi pikiran kita tiba-tiba tersesat. tetapi pikiran kita tiba-tiba tersesat. Saat ada orang menasihati, Saat ada orang menasihati, kita tetap bimbang dan tidak bisa berpaling ke jalan benar. dan tidak bisa berpaling ke jalan benar. Ini juga adalah keraguan. Demikianlah makhluk di alam nafsu. Mengapa demikian? Jelas-jelas sudah mengetahui jalan yang benar, kita masih belum keluar dari alam nafsu. Jadi, nafsu dapat timbul dengan cepat.

Ketika kondisi luar muncul dan jalinan karma mendukung, nafsu keinginan kita kembali bergejolak. Setelah bergejolak, kita tidak bisa mengendalikannya. Karena itu, timbullah keraguan. Di dunia ini ada banyak orang tua berkata, “Saya percaya pada anak saya.” “Anak saya jujur dan patuh, mana mungkin melakukan hal itu?” Sebuah ungkapan berbunyi, “Orang tua bisa melahirkan tubuh anak, tetapi tidak melahirkan batin anak.”Orang tua bisa memberi anak tubuh yang sehat, tetapi belum tentu bisa memberi batin yang sehat. Batin atau pikiran yang sehat membutuhkan benih karma//dan jalinan jodoh yang baik. Berkat jalinan jodoh dengan orang tua,//kita memperoleh tubuh ini. Jodoh dengan kondisi luar//membangkitkan kekuatan karma. Kita mudah terjerat oleh perasaan, cinta, dan nafsu. Jalinan karma ini menarik kita sehingga kita tidak bisa lepas dari perangkap. Ini semua karena keraguan. Keraguan membuat kita tak dapat//benar-benar mendalami jalan benar. Meski sudah berada di tengah jalan itu, kita mungkin berpaling dan tersesat. Inilah akibat dari keraguan. Oleh karena itu, kita tak dapat melihat kebenaran dan menyimpang dari jalan benar. Batin kita berpaling pada kesesatan, hal-hal yang tidak seharusnya, ketidaktahuan, noda batin, dan kegelapan batin. Batin kita malah mengarah ke sana. Jadi, pikiran kita tersesat//dan menyimpang dari kebenaran. Ditambah dengan jeratan kekuatan karma, Ditambah dengan jeratan kekuatan karma, kita mulai berpaling dari kesadaran dan menuju pada keduniawian. Batin kita mengarah pada kekeruhan dan keduniawian. Ini sangat menakutkan.Pikiran kita terus berkutat pada hal ini. Kesesatan dan kekeliruan ini membuat kita menjauhi kesadaran dan mendekati keduniawian,padahal pada awalnya kita sudah bertemu kebenaran.

Sayangnya, akibat sebersit pikiran keliru, kita kembali disesatkan oleh keraguan. kita kembali disesatkan oleh keraguan. Karena itulah, manusia diliputi noda batin//dan terjerumus sehingga menjauhi kesadarandan mendekati keduniawian. Akibat adanya keraguan ini, kita terus terbelenggu di tiga alam. Keraguan ini terus menjerat kita. Jeratan yang dimaksud meliputi karma, perasaan, nafsu, dan cinta duniawi. Semua ini mengikat kita dengan kencang dan membuat kita tidak bisa bebas. Karena itu, kita tak pernah bebas dari tiga alam. Sulit untuk terbebas darinya. Belenggu ini terus mengikat dan membuat manusia menderita. Keraguan seperti apa yang dimaksud sejak awal? Tentunya ada banyak macam keraguan. Kini saya akan membahas dua jenis keraguan. Yang pertama adalah keraguan diri, yakni meragukan diri sendiri, atau merasa rendah diri. atau merasa rendah diri. Contohnya, seseorang yang bertubuh tidak tinggi, saat berdiri tidak sama tinggi dengan orang lain, atau ada orang yang memiliki kekurangan fisik, tidak berani berkumpul bersama orang lain, atau ada orang yang merasa//lebih rendah dari orang lain, maka tidak berani bertemu dengan orang lain. Inilah sikap ragu terhadap diri sendiri. Saat orang lain melihat dirinya,lalu berbicara sedikit, dia langsung curiga orang lain membicarakannya. dia langsung curiga orang lain membicarakannya. Banyak orang yang curiga bahwa orang lain meremehkan atau meragukan dirinya. meremehkan atau meragukan dirinya. Mereka selalu menerka-nerka penilaian orang lain terhadap diri mereka. Mereka tidak yakin terhadap diri sendiri. Ini berarti diri sendiri menutupi diri sendiri. Ini berarti diri sendiri menutupi diri sendiri.Semakin kita menutupi diri, batin semakin gelap. Saat batin semakin gelap, kebijaksanaan tidak bisa bangkit. Kebijaksanaan kita akan semakin tumpul dan batin kita semakin gelap, sehingga perlahan-lahan bangkitlah noda batin. Keraguan kita sangat berat. Hal-hal seperti ini dapat membuat kita rendah diri dan tidak dapat bergaul dengan orang banyak. Jika demikian, maka dalam batin akan timbul banyak pandangan tidak benar.

Pandangan-pandangan yang tidak benar ini adakalanya menyebabkan masalah dan membuat manusia sulit membedakan benar salah. Jadi, keraguan diri menyebabkan timbulnya berbagai tindakan yang tidak benar. Mereka juga merasa dirinya bukan praktisi yang baik. Mereka sendiri selalu merasa bahwa kualitas pelatihan dirinya belum cukup. Mereka masih terus merasa bahwa mereka belum pantas untuk melatih diri. Meski tak ada orang yang meremehkan mereka, mereka menyerah karena keraguan diri sendiri. Merendahkan diri berarti meragukan diri sendiri. Banyaknya keraguan diakibatkan oleh diri sendiri yang meragukan diri sendiri//sehingga menjadi rendah diri. Jadi, orang yang sifat rendah dirinya berat adalah orang yang penuh keraguan. Meragukan diri sendiri//akan menimbulkan sifat rendah diri yang juga merupakan salah satu jenis kesombongan. Ini juga membawa penderitaan. Keraguan kedua adalah keraguan terhadap guru. Kita harus memakai kebijaksanaan  dalam memilih orang, benda, dan hal lainnya. Kita ingin berjalan di jalan seperti apa, kita harus paham dengan jelas. Kita harus memilih dengan baik.Saat kita memilih, misalnya memilih seseorang sebagai guru dan ingin belajar darinya, mulanya kita menjalankan segala kewajiban dengan penuh keyakinan. Namun, sampai suatu ketika, kita mulai meragukan guru kita. Saat guru mengajar, kita menerima ajarannya. Guru adalah orang yang membimbing kita. Namun, mungkin penampilan guru ini atau berbagai cara yang dilakukannya sepertinya tidak enak dipandang. Kita mulai berpikir, “Penampilannya seperti itu, apakah dia bisa mengajarkan kebenaran?” “Benarkah dia punya Dharma untuk diajarkan?” “Benarkah dia punya Dharma untuk diajarkan?” Sebelum mengikuti seorang guru, kita harus memilih dengan sungguh-sungguh.

Setelah kita memilih guru, maka satu hari sebagai guru, selama-lamanya sebagai ayah. Kita harus menghormati guru, baru dapat mempraktikkan ajaran. Jika kita merendahkan guru, maka itu adalah kesombongan. Jika kita meremehkan guru atau timbul kesombongan terhadap guru, merasa bahwa guru tidak sehebat diri kita, maka kita tidak akan memperoleh pencapaian.Jika begitu, kita tidak tergolong sebagai praktisi, bukan orang yang dapat menerima kebenaran. Oleh karena itu, kita harus bermawas diri.Janganlah kita meragukan diri sendiri dan jangan meragukan orang lain. Jika kita meragukan orang lain, kita tidak akan dapat mempelajari apa pun. Saya sering berkata bahwa di antara tiga orang kita pasti menemukan guru. Bukan hanya guru formal yang disebut guru, melainkan semua orang juga merupakan guru kita. Kita harus meneladani Bodhisattva Sadaparibhuta.

Kita harus meneladani Bodhisattva Sadaparibhuta. Bagaimana pun perlakuan orang terhadap-Nya, meski orang melemparkan batu kepada-Nya atau memukul-Nya dengan tongkat, Beliau tetap menganggap mereka sebagai guru. Beliau tetap menghormati semua orang karena semua orang adalah calon Buddha. Jadi, teman yang baik maupun teman yang tidak baik, semuanya berisi pelajaran bagi kita. Janganlah kita mempermasalahkan hal sepele. Janganlah kita mempermasalahkan hal sepele. Jika ada masalah yang timbul, kita harus menganggapnya sebagai pelajaran. Dengan begitu, kita akan yakin terhadap//kebijaksanaan kita sendiri. Kita harus dapat membedakan benar dan salah, tetapi janganlah memandang rendah orang lain, juga tidak perlu mencurigai orang lain. Sebaliknya, kita harus membangun kebijaksanaan diri dan meningkatkan kepercayaan diri. Janganlah kita ragu terhadap diri sendiri. Jadi, Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti harus berusaha menjaga kemurnian dan kejernihan batin. Dengan pikiran yang sederhana dan batin yang murni, kita berusaha bergaul dengan teman-teman yang baik. Dengan demikian, maka arah kita sudah benar. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment