Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 240 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 08

Saudara se-Dharma sekalian, di dalam ajaran Buddha, banyak istilah yang dikelompokkan. Sesungguhnya, kebenaran di dalamnya tidak lepas dari hal dan prinsip. Hal yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berwujud. Ini semua disebut hal. Namun, segala hal ini tak terlepas dari prinsip. Jadi, kita harus memadukan hal dan prinsip. Berhubung banyaknya hal dan objek, maka prinsip juga banyak. Hal dan objek begitu banyak, prinsip juga begitu banyak. Sesungguhnya, semua tak lepas dari pikiran kita. Jadi, saya sering berkata kepada kalian bahwa Empat Fase dalam Tiga Fenomena seharusnya sudah mencakup seluruh ajaran Buddha. Akan tetapi, hanya dengan satu ajaran ini, berapa banyak makhluk yang dapat memahaminya? berapa banyak makhluk yang dapat memahaminya? Kita hendaknya mengetahui bahwa ajaran Buddha harus dibabarkan sesuai kemampuan masing-masing  makhluk. Berapa banyak ragam kemampuan semua makhluk, sebanyak itu pulalah metode dalam ajaran Buddha. Berapa banyak ragam noda batin semua makhluk, sebanyak itulah ajaran yang Buddha babarkan. Jadi, saya sering berkata kepada kalian, “Kesederhanaan adalah kebenaran.” Kebenaran yang paling sederhana merupakan yang paling indah dalam kehidupan manusia. Sayangnya, kini kehidupan telah menjadi rumit. Jadi, Sebelas Kecenderungan yang kita ulas sudah sangat umum. Sebelas hal ini mendorong batin kita untuk bereaksi saat bersentuhan dengan kondisi luar. Sebelas hal ini membuat kita terus membangkitkan noda batin. Saat noda dan kegelapan batin bangkit, maka saat bersentuhan dengan kondisi luar, kita tidak bisa membedakan yang benar dan salah. Ini semua bergantung pada pikiran.

Pikiran yang awalnya sederhana menjadi rumit. Jadi, Sebelas Kecenderungan Umum mencakup Tujuh Pandangan dan Dua Keraguan. Dua keraguan adalah keraguan pada hal dan keraguan pada prinsip. Hal berkaitan dengan orang dan masalah. Jika kita tidak bisa menumbuhkan kebijaksanaan, maka kita akan penuh kecurigaan terhadap orang lain. Terhadap hal, kita tidak bisa membedakan benar salah, sehingga kita juga ragu. Terhadap segala sesuatu, jika kita tidak dapat memahami prinsip dengan jelas, kita juga akan ragu. Karena keraguan, maka kita menjadi bagai tertutup kabut, kebijaksanaan kita tidak berfungsi bagai ditutupi oleh lapisan awan. Jadi, kita menganggap siang sebagai malam. Dengan begitu, kita tidak berniat melakukan apa-apa. Kondisi seperti ini bagaikan duduk di dalam gua yang gelap. Begitulah kehidupan manusia. Ada orang berkata, “Mengapa hidup saya begitu gelap?” Gelap berarti tidak bisa melihat prinsip di balik manusia, hal, dan segala sesuatu. Jadi, kita diliputi kegelapan. Kegelapan batin seperti ini mudah menutupi hati nurani. Jika hati nurani tertutup, seseorang dapat mengacaukan masyarakat. Dia tidak bisa menunaikan kewajiban dengan baik. Setelah membuat kekacauan, dia merasa lega. Dia mengacaukan kewajibannya sendiri dan membuat masyarakat menjadi kacau. Kekacauan masyarakat dimulai oleh kekacauan pikiran. Ini semua bermula dari keraguan. Ragu berarti penuh ketidakjelasan, tidak paham akan segala masalah. Karena itu, timbullah keraguan. Sikap perhitungan juga timbul dari keraguan. Batinnya tidak cerah dan cemerlang, maka bisa berbuat banyak tindakan yang bodoh. Selanjutnya adalah kegelapan batin. Kegelapan batin ada di urutan ke sepuluh. Yang kedelapan adalah keraguan pada hal, dan yang kesembilan adalah keraguan pada prinsip.

Berikutnya, kegelapan batin terdiri atas kegelapan batin akar dan kegelapan batin turunan. Kegelapan batin akar bermula dari kekikiran. Kita memiliki hakikat yang murni. Namun, kita juga memiliki Kegelapan batin akar. Sebelumnya saya pernah berkata, “Sebersit kegelapan batin menimbulkan Tiga Aspek Halus, kontak dengan kondisi luar menimbulkan Enam Aspek Kasar.” Artinya, mulanya kita memiliki hakikat yang murni. Hanya saja, akibat munculnya sebersit kegelapan batin, lalu timbullah Enam Aspek Kasar saat kita bersentuhan dengan kondisi luar. Kondisi ini terus mengikuti kita dan menutupi hakikat murni kita di setiap kehidupan. Jadi, ini semua adalah kegelapan batin. Kegelapan batin pada kehidupan ini adalah lanjutan dari kegelapan batin di kehidupan lalu. Kegelapan batin pada kehidupan lampau juga adalah lanjutan dari kehidupan yang sebelumnya. Jadi, tabiat dan kegelapan batin terus mengikuti di setiap kehidupan. Ini telah berlangsung sejak masa tanpa awal, dimulai dari sebersit kegelapan batin yang terus dibawa hingga kini. Jika kini kita tidak sungguh-sungguh melenyapkan tabiat dan kegelapan batin, malah menambah tabiat di kehidupan ini dan membawanya ke kehidupan mendatang, maka tabiat yang terakumulasi akan semakin banyak. Ini sama seperti kotoran. Sebuah cermin yang awalnya bersih, jika terkena uap air, maka akan menjadi buram. Jika uap air itu tidak dibersihkan, maka cermin itu akan terasa basah. Jika ada debu atau pasir yang menempel pada cermin itu, cermin itu juga akan menjadi kotor. Jika tidak segera dibersihkan, kotoran akan bertambah banyak dan membuat cermin itu kehilangan fungsinya. Cermin tak bisa lagi merefleksikan benda. Jika cermin itu bersih, maka apa pun dapat direfleksikan dengan jelas.

Demikian pula, hakikat kita pada dasarnya murni. Jadi, kita harus selalu membersihkan cermin di dalam batin kita. Jika tidak sering dibersihkan, maka meski hanya uap air yang keluar dari napas orang, akan membuat cermin itu buram. Begitu mudah. Jadi, kita harus sering membersihkan cermin batin kita. Jika tidak, kegelapan batin akan terus muncul dan menutupi hakikat murni kita. Dengan begitu, hakikat murni ini tak bisa dikembangkan. Kegelapan batin akar akan terus timbul. Inilah yang hendaknya kita ketahui. Ini yang disebut kegelapan batin akar. Di dalam kegelapan batin akar, yang pertama adalah kekikiran. Kikir berarti tidak memiliki cinta kasih. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sesungguhnya memiliki banyak hal yang dapat didanakan. Berdana sangatlah sederhana. Tersenyum kepada orang lain juga termasuk berdana karena tersenyum kepada orang lain adalah ungkapan niat baik. Namun, ada orang yang tidak suka tersenyum. Bahkan tersenyum sedikit untuk mengungkapkan niat baik saja enggan, apalagi tindakan yang lainnya. Saat melihat orang lain membawa benda yang berat, kita segera mengulurkan tangan dan membantu untuk meringankan beban orang itu. untuk meringankan beban orang itu. Ini adalah bantuan tenaga. Jika sedikit tenaga saja enggan kita sumbangkan, maka ini juga termasuk kekikiran. Jadi, saya mengambil contoh sederhana agar kita bisa tahu. Dalam segala aktivitas sehari-hari, contohnya berbicara, bahkan ada orang yang pelit untuk membuka mulut. Ketika seseorang sedang risau, sepatah penghiburan kita mungkin dapat membuka hatinya. Namun, kita tidak mau segera menghiburnya.

Contoh lain, saat orang tidak sengaja mengucapkan sesuatu, kita tidak bisa bersabar dan mulai membalasnya. Ini juga adalah kegelapan batin. Jadi, saat berbicara, berpikir, dan bertindak, hendaknya sesuai dengan kondisi. Jika bisa merespons sesuai kondisi– bersumbangsih saat dibutuhkan, bersabar saat harus bersabar– inilah yang disebut Dharma. Jika ada Dharma di dalam, tak akan ada kekikiran. Jadi, kekikiran disebabkan oleh kegelapan batin. Karena itu, kita menjadi egois, hanya memikirkan diri sendiri, serta kikir. Namun, adakalanya kita juga bertemu orang yang dapat membimbing kita. Meski kita tidak dapat membimbing orang lain, tetapi kita bisa bertemu orang yang menyelamatkan hidup kita. Saat penyelamat ini muncul, kita harus membuka pintu hati kita agar mereka dapat masuk ke dalam hati kita. Jika kita enggan membuka pintu hati, maka saat ada orang menasihati kita, “Anda harus berbuat baik, Anda begitu penuh berkah, maka harus menyadari, menghargai, dan menciptakan berkah,” berhubung kita tidak membuka pintu hati, maka kita berpikir, “Berkah ini punya saya, mengapa saya harus berbagi dengan orang lain?” Jadi, kita tidak mau menerima nasihat orang dan tidak rela memberi sedikit pun. Ini juga disebut kekikiran. Hal yang berkaitan dengan kekikiran amat banyak. Inilah yang ada dalam kegelapan batin.

Kegelapan batin akar ini membuat setiap orang memiliki ego sejak lahir yang menyertai hakikat sejatinya yang baik. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat yang baik. Akan tetapi, kegelapan batin akar menyertai hakikat yang baik ini dengan erat. Ia sangat mencemari dan menutupi hakikat kita. Jadi, sebelum hakikat yang bajik tampak, kegelapan batin akar telah menutupinya. Inilah masalah yang berasal dari kekikiran. Selanjutnya adalah kegelapan batin turunan. Kegelapan batin turunan merupakan yang kesebelas dari Sebelas Kecenderungan Umum. Mengenai kegelapan batin turunan, ia tidak sekadar tidak rela bersumbangsih, tetapi lebih dahsyat lagi, yaitu memiliki pikiran yang beracun. Bukankah tadi saya sudah mengatakan bahwa sejak lahir kita membawa tabiat yang terpupuk dari berbagai kehidupan hingga saat ini. Akibatnya, bukan hanya tidak rela membantu orang, kita juga berusaha untuk merusak, seperti merusak nama baik orang, merusak kemajuan orang, merusak keluarga orang, merusak masyarakat, dan merusak seluruh negeri. Dengan memiliki pikiran beracun ini, meski memiliki tubuh manusia, kita tidak berbeda dengan binatang buas, bahkan lebih berbahaya. Inilah kegelapan batin akar dan kegelapan batin turunan yang berpadu.

Demikianlah, di dunia ini, manusia pada dasarnya memiliki hakikat yang bajik. Namun, kegelapan batin terus-menerus mencemarinya hingga kini manusia memiliki pikiran jahat. Lebih dari dua ribu tahun lalu, Buddha mencapai pencerahan di India. Melihat semua makhluk diliputi banyak penderitaan, Buddha mengajarkan berbagai metode Dharma sesuai noda batin semua makhluk yang beragam. Beliau mengajar sesuai kemampuan masing-masing makhluk dan memberi obat sesuai penyakit. Namun, berapa banyak orang yang benar-benar menerima ajaran Buddha atau “meminum” obat yang Beliau berikan? Oleh karena itu, kita harus sering mencari “obat”. Di dalam Sutra Buddha, ada sebuah penggalan yang berbunyi, “Dana Paramita tidaklah terbatas.“ Cara Buddha untuk membimbing kita adalah dengan cinta kasih. Kita harus membimbing semua orang dengan cinta kasih dan welas asih. Kita harus menenangkan kehidupan mereka. Menghadapi orang harus bimbing dari hatinya. Kita juga harus berbelas kasih terhadap mereka yang sesat. Dalam hubungan antarmanusia, sulit dihindari adanya pandangan sesat. Setiap hari saya mengatakan bahwa orang yang berpandangan tidak benar berarti sesat. Karena itu, kita harus mengasihani mereka. Terhadap orang yang arah pikirannya menyimpang, kita harus menaruh belas kasihan. Inilah yang disebut berbelas kasih terhadap semua makhluk. Kita harus turut bersukacita melihat orang berbudi dan menolong semua makhluk. Melihat orang berbudi, kita harus  turut bersukacita atas kebajikannya. Melihat orang lain berbudi luhur, kita kagum kepadanya. Kita ingin berada dekat dengannya. Melihat orang yang kebijaksanaannya tumpul, kita harus segera membantunya. Jadi, kita harus turut bersukacita melihat orang berbudi, yakni turut berbahagia atas kebajikannya menolong makhluk lain. Kita juga harus menolong makhluk lain.

Orang yang memiliki kemampuan harus kita dukung dan lindungi, sedangkan orang yang kebijaksanaannya tumpul jangan kita biarkan menyimpang. Inilah pikiran yang harus kita miliki. Selanjutnya, cinta kasih bukan hanya harus  disebarkan di sekitar kita, melainkan ke setiap penjuru alam, melintasi sungai dan laut. Pepatah mengatakan, “Manusialah yang bisa membabarkan kebenaran, bukan sebaliknya.” Ini adalah prinsip yang sangat baik. Metode ini harus kita segera sebarkan lebih luas, tidak hanya di sini. Buddha lahir dan membabarkan Dharma di India. Lihatlah, selama lebih dari 2.000 tahun, entah sudah berapa banyak guru besar yang berusaha membawa Dharma dari India ke Tiongkok, lalu ke Taiwan. Mereka harus melintasi alam. Mereka melintasi alam, menyeberangi gunung dan lautan demi menyebarkan ajaran Buddha. Selanjutnya dikatakan, “Berdana bagi semua makhluk, memberi makan mereka yang lapar.” Kita harus berdana kepada semua makhluk. Bagi makhluk yang kelaparan, kita harus segera memberinya makan. “Memberi minum mereka yang haus.” Seseorang yang haus harus segera kita beri minum. “Memberi pakaian mereka yang kedinginan.” Saat cuaca dingin, kita harus memberikan pakaian hangat bagi yang membutuhkan. Jangan biarkan mereka kedinginan. Saat cuaca panas, kita menyediakan tempat berteduh. Orang yang sakit kita berikan obat. Kita harus berdana bagi yang kekurangan. Orang yang sakit harus segera kita beri obat. Orang yang kekurangan sekaligus sakit harus kita kasihi dan bantu dari segi materi. Kita harus menganggap orang itu bagai anak kita sendiri. Lihatlah penggalan tadi. Bukankah insan Tzu Chi melakukan hal ini setiap hari?

Jadi, mempelajari ajaran Buddha berarti belajar cara menghadapi orang dan hal. Terhadap orang, jangan timbul keraguan. Terhadap hal, kita harus paham dengan jelas. Kita harus melapangkan hati dan menganggap alam semesta sebagai satu keluarga. Seluruh makhluk di dunia adalah keluarga kita. Dengan adanya kasih sayang dan cinta kasih, maka tidak akan ada kekikiran dan pikiran yang beracun. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, janganlah sehari pun kita membiarkan Sebelas Kecenderungan Umum ini menjerumuskan batin kita. Kita harus melakukan refleksi diri, baru bisa melenyapkan selapis demi selapis kegelapan batin. Kebijaksanaan hakiki kita yang setara dengan Buddha haruslah kita bangkitkan. Jadi, kini cahaya kebijaksanaan hakiki kita ditutupi oleh kegelapan batin. Kita harus mengambil Dharma dari luar, yaitu Dharma yang kini saya babarkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, baru kita bisa melenyapkan selapis demi selapis kegelapan batin, membina tabiat baik, dan melenyapkan kebiasaan buruk. Baiklah, mempelajari ajaran Buddha berarti harus selalu membersihkan cermin batin kita. Karena itu, saya selalu berpesan agar kalian senantiasa bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888