Sanubari Teduh-270-Mengubah Tiga Racun Menjadi Tiga Kebijaksanaan
Saudara se-Dharma sekalian, saat kondisi hening, kita harus senantiasa bertanya ke dalam hati di mana saat ini kita berada, bagaimana kondisi sekitar saat ini, dan apakah kita sudah merasa puas dalam hidup. Kita harus sering menenangkan hati dan bertanya pada diri sendiri. Setelah bertanya, kita mungkin dapat menjawab, “Puas, saya bahagia.” “Apa lagi yang perlu dikejar di dunia ini?” “Saya sudah puas.” Berhubung sudah puas, kita harus mulai memahami dari mana berkah datang. Kita harus bersyukur terhadap lingkungan sekitar. Jadi, kita harus membangkitkan rasa syukur karena lingkungan juga berjasa dalam kehidupan kita. Lalu, apa yang telah kita berikan bagi lingkungan? Penderitaan di dunia ini sangat banyak. Bagaimana penderitaan ini tercipta? Bagaimana kebahagiaan didapat? Selain saling bersyukur antarsesama, kita juga harus membangkitkan cinta kasih. Ketiga, kita harus senantiasa bertobat. Bertobat adalah menyadari bahwa penderitaan saat ini mungkin disebabkan karena kita merugikan orang lain di masa lampau. Akibatnya, kita juga merugikan diri sendiri. Perbuatan merugikan orang lain juga akan merugikan diri sendiri. Kita sendiri tidak menyadarinya sehingga terus terjebak di dalam enam alam. Karena itu, kita merasakan begitu banyak penderitaan dunia. Meski kini kita memiliki berkah, itu tidak menjamin bahwa kelak berkah terus ada karena setelah berkah habis dinikmati, giliran karma buruk yang berbuah. Ini karena di enam alam semua makhluk ada berbuat baik dan buruk. Saat benih kebajikan terhimpun dan didukung oleh kondisi yang baik pula, maka kita akan menikmati berkah. Saat kondisi yang baik ini habis dinikmati, maka giliran karma buruklah yang berbuah. Berhubung kini kita juga berada di enam alam, maka penderitaan orang lain saat ini hendaknya dapat menjadi bahan refleksi kita apakah kelak kita juga akan bertemu penderitaan.
Jadi, kini, saat masih diliputi berkah, kita hendaknya segera bertobat. Pertobatanlah yang dapat melenyapkan keburukan dan menumbuhkan berkah. Saat hidup dipenuhi berkah, kita harus selalu berintrospeksi. Jangan menunggu hingga berkah habis. Jika karma buruk berbuah, maka akan terlambat. Jadi, orang yang hidup penuh berkah hendaknya menyadari berkah itu. Kita hendaknya menyadari, menghargai, dan kembali menciptakan berkah. Jangan lagi menciptakan karma buruk. Untuk itu, kita harus selalu berintrospeksi. Jadi, kita harus bertobat. Bertobat berarti mengingatkan diri sendiri dan senantiasa berintrospeksi. Jika ada kesalahan, kita harus segera memperbaiki. Kesalahan yang belum terjadi harus kita waspadai. Inilah yang disebut pertobatan. Pertobatan seperti ini dapat melenyapkan keburukan dan menumbuhkan berkah. Jika keburukan lenyap, kebajikan akan tumbuh. Dengan begitu, tidak akan timbul niat jahat. Tanpa niat jahat, kita dapat senantiasa membangkitkan niat baik, senantiasa memiliki niat baik di hati dan selalu berbuat baik. Niat dan perbuatan baik akan menumbuhkan berkah. Kita harus senantiasa mengingatkan diri sendiri. Segala pahala yang tercipta dapat membuat kita terus berada di tengah jalinan jodoh dan kondisi lingkungan yang baik dari kehidupan ke kehidupan, bukan hanya pada kehidupan sekarang. Jika pada kehidupan ini kita menjalin jodoh baik, maka di kehidupan mendatang kita akan memiliki jodoh berkah. Jalinan jodoh baik di kehidupan ini akan membawa berkah di masa yang akan datang. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Orang pada umumnya berkata bahwa makhluk awam pada dasarnya memang diliputi ketamakan, kebencian, kebodohan, dan kegelapan batin, maka disebut makhluk awam. Praktisi spiritual harus berusaha keluar dari kondisi batin seperti itu. Jadi, kita harus mengubah tiga racun menjadi mendengar, merenungkan, dan mempraktikan Dharma. Ini disebut tiga kebijaksanaan.
Orang yang memiliki akar kebajikan akan suka mendengar pembabaran Sutra. Bukan hanya suka mendengar pembabaran Sutra, saat mendengar orang bertutur kata baik dan berbagi kisah bagaimana mereka mengubah kesalahan masa lalu dan mampu menciptakan berkah kini serta mampu mengubah kejahatan menjadi kebaikan, orang dengan akar kebajikan akan turut bersukacita. Inilah yang disebut turut berbahagia mendengar pencapaian orang lain. Ini juga termasuk pahala. Demikianlah, untuk melenyapkan tiga racun batin, kita membutuhkan kondisi lingkungan yang baik. Mendengar orang lain menceritakan kesalahan masa lalunya dan bagaimana kini mereka berbuat baik, kita turut bersukacita. Setelah turut bersukacita, apakah sampai di sana saja cukup? Tidak, kita harus berintrospeksi di dalam hati. “Orang lain memiliki kekurangan di masa lalu, dan kini dia bisa berubah.” “Dahulu dia menjalin jodoh buruk dengan orang, tetapi kini dia dapat bergabung dalam organisasi yang baik dan dapat berbuat banyak kebajikan.” Apakah kita juga demikian? Pernahkah kita menjalin jodoh buruk dan terus mengingat rasa dendam hingga kini dan terus merasa orang lainlah yang bersalah terhadap kita? Saat mendengar kisah orang lain, kita hendaknya berintrospeksi. “Sesungguhnya, kita yang bersalah terhadap orang ataukah orang lain yang bersalah terhadap kita?” Setelah kita memikirkannya dengan jelas, maka sesungguhnya tiada yang perlu diperhitungkan. Kita harus segera memperbaiki diri. Inilah yang disebut merenung. Kita harus memperbaiki diri dan melakukan praktik nyata. Kita harus belajar bagaimana orang lain bisa berubah, lalu menjalankan praktik seperti orang tersebut. Inilah tiga kebijaksanaan Mendengar, merenung, dan praktik. Inilah tiga cara untuk membangkitkan kebijaksanaan. Karena itu, dikatakan, “Tiga kebijaksanaan dipahami.” Jika kita dapat mengubah tiga racun batin, maka kita akan mampu mendengar, merenungkan, dan mempraktikkan Dharma sehingga kebijaksanaan kita terbangkitkan. Bagaimana caranya? Apa yang disebut tiga racun?
Racun adalah sesuatu yang mencelakai. Racun dapat membuat celaka. Tiga racun yang berbahaya ini adalah ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Tiga hal ini dapat merusak pikiran nonduniawi kita. Karena itu, semua itu disebut tiga racun. Sebagian orang berkata, “Berbuat baik sangat menggembirakan, tetapi saya saya ingin mengumpulkan pahala.” “Saya berbuat baik dan bersumbangsih agar saya dapat menghasilkan lebih banyak uang.” “Nanti saya akan bersumbangsih lebih banyak.” Meski menyumbangkan uang sangat baik, tetapi niatnya adalah mengharapkan pahala. Alangkah baiknya saat bersumbangsih, kita berpikir asalkan orang lain dapat terbebas dari penderitaan, kita akan turut senang. Alangkah baiknya jika seperti ini. Janganlah kita mengharapkan balasan. Jika kita masih memiliki pikiran seperti itu, maka kita tak akan terbebas dari enam alam. Jadi, dalam bersumbangsih pun kita hendaknya tidak berpikir untuk mendapatkan berkah. Niat seperti ini jangan sampai ada. Bersumbangsih pasti akan menciptakan berkah. Menciptakan berkah di masyarakat harus kita pandang sebagai kewajiban kita. Jangan mengharapkan balasan. Inilah pahala yang tak terhingga. Janganlah saat memberi satu, kita berharap mendapat balasan sepuluh. Sepuluh masih merupakan bilangan yang terhingga. Alangkah baiknya jika kita berpikir untuk bersumbangsih semaksimal mungkin tanpa mengharapkan dan menghitung balasan. Inilah yang disebut tak terhingga. Jika kita tamak akan kenikmatan dan mengharapkan balasan saat bersumbangsih, maka ketamakan ini akan merusak kebajikan nonduniawi kita. Kita sedang melatih diri. Apa yang kita harapkan saat melatih diri? Tidak ada.
Kita hanya berusaha menyucikan pikiran dan kembali pada hakikat sejati yang murni. Inilah tujuan praktisi Buddhis. Jadi, kita bahkan harus membuang pikiran yang mengharapkan pahala. Inilah semangat terbebas dari keduniawian dan merupakan pahala yang tak terhingga. Kini kita harus tahu bahwa ketamakan adalah sesuatu yang membelenggu dan membatasi kita hanya pada satu lingkup. Lingkup apa? Alam dewa, manusia, neraka, setan kelaparan, dan binatang. Selama kita memiliki ketamakan, maka berkah kita juga hanya sampai pada lingkup ini. Meski terlahir di alam dewa atau manusia, begitu kita tidak berhati-hati, kita akan terjatuh ke alam asura, setan kelaparan, atau binatang. Jadi, ketamakan tidak boleh ada. Jika kita memiliki racun ketamakan, ia akan membawa pada kemelekatan. ia akan membawa pada kemelekatan. Ketamakan ini akan menjerumuskan kita lebih jauh kepada kemelekatan. Kemelekatan terhadap apa? Nama, keuntungan, kedudukan, dll. Dengan adanya pikiran yang tamak terhadap nama, keuntungan, kedudukan, dll., batin kita akan diliputi kegelapan. Dengan bangkitnya sebersit ketamakan, kegelapan batin pun bangkit. Jadi, di dalam Sutra Makna Tanpa Batas diajarkan tentang sepuluh pahala. Di dalam bab Sepuluh Pahala, ada satu bagian yang membahas tentang mengubah pola pikir. “Membangkitkan niat berdana bagi yang tamak dan kikir.” Inilah ajaran Buddha. Setiap orang memiliki kekikiran dan ketamakan. Lalu, bagaimana? Harus diubah. Ketamakan dan kekikiran harus diubah menjadi niat untuk berdana. “Membangkitkan niat menjalankan sila bagi yang penuh kesombongan.” Jika bukan diliputi ketamakan, kebencian, dan kebodohan, manusia biasanya memiliki kesombongan dan keraguan. Jadi, keuntungan dari mempelajari ajaran Buddha adalah membuat kita memahami ini dengan jelas sehingga mampu mengubah ketamakan menjadi niat berdana dan mengubah kesombongan menjadi niat menjalankan sila. Inilah manfaat dari mempelajari ajaran Buddha.
Sebaliknya, saat sebersit ketamakan muncul, kita akan mengejar banyak hal. Jika bukan mengejar nama, keuntungan, dan kedudukan, kita mungkin mengejar kenikmatan. Apakah kita kenikmatan sehari-hari terasa cukup? Tidak. Kini, bahkan ada tamasya ke luar angkasa yang membutuhkan biaya 650 juta dolar NT. yang membutuhkan biaya 650 juta dolar NT. Apakah ada yang pernah membeli jasa itu? Ada. Saya berpikir, menghabiskan uang sebanyak itu untuk bertamasya ke luar angkasa, apakah begitu menyenangkan? Dapat kita bayangkan, saat orang memasuki pesawat ruang angkasa, seberapa luaskah pesawat itu? Sebesar-besarnya tidak akan lebih besar dari pesawat terbang biasa. Bagaimana perasaan saat berada di dalamnya? Saya sering melihat berita bahwa para astronot melayang-layang di dalam pesawat dan sulit untuk bergerak bebas. Mereka tidak bisa menapak. Kondisi melayang-layang seperti ini, sesungguhnya apakah begitu menyenangkan? Saya sungguh merasa, begitu banyak uang dihamburkan untuk berada di ruang yang sempit, tidak dapat menapak, hanya melayang-layang dengan tidak bebas, apakah pantas? Berapa banyak orang tidak mampu di dunia ini yang kekurangan makanan? Kita cukup membahas anak-anak saja, tidak perlu menghitung orang dewasa. tidak perlu menghitung orang dewasa. Di bumi ini, rata-rata ada satu anak yang meninggal setiap empat detik. Sebuah berita internasional juga pernah memberitakan hal ini. Afrika Timur mengalami kekeringan yang parah.
Ada sebelas juta orang terancam bencana kelaparan Ada sebelas juta orang terancam bencana kelaparan dan hampir mati kelaparan. Melihat foto-foto mereka, saya sungguh tak sampai hati. Organisasi amal pun membutuhkan waktu tiga bulan. Jika makanan tak kunjung tiba di sana, orang-orang ini tidak akan tertolong. orang-orang ini tidak akan tertolong. Namun, berapa dana yang dibutuhkan? Sekitar 560 juta. Jadi, organisasi amal itu juga tidak berdaya. Meski ingin membantu, kesulitan yang ada sangat berat. Jadi, meski banyak organisasi bergabung, mereka tetap tidak berdaya. Lihatlah, jika orang yang bertamasya ke luar angkasa tadi dapat menghemat biaya tamasya itu dan menyumbangkannya kepada organisasi amal, saya yakin dengan himpunan kekuatan yang ada, orang-orang yang kelaparan itu bisa tertolong. Jadi, dari dua buah berita ini, yang satu membutuhkan pertolongan batin, sedangkan yang lain membutuhkan pertolongan fisik. Yang butuh pertolongan batin adalah orang-orang yang bertamasya ke luar angkasa itu. Jika mereka dapat menghimpun kekuatan, maka akan dapat menolong banyak orang. Mereka kaya materi, tetapi miskin batinnya. Jika mereka yang kaya materi ini bisa membangkitkan kekayaan cinta kasih, maka orang-orang yang dilanda bencana kekeringan dan mengalami kelaparan tadi akan dapat tertolong. Intinya, semua terletak pada pikiran manusia.
Kita harus menjaga pikiran kita dengan baik. Jika manusia mampu mengendalikan ketamakan dan mengulurkan sedikit kemampuan untuk menolong orang yang menderita, maka akan ada banyak orang yang menciptakan berkah. Saudara sekalian, kita harus bertanya ke dalam diri apakah kita memiliki berkah. Jika ya, kita harus menyadari, menghargai, dan kembali menciptakan berkah. Bukan berarti jika saat ini kita dipenuh berkah, maka selamanya kita pasti dipenuhi berkah. Bukan. Jika pikiran tidak dijaga dengan baik, maka saat berkah habis dinikimati, giliran karma buruklah yang akan berbuah. Jadi, kita harus selalu membangkitkan hati yang bertobat dan senantiasa mengingatkan diri sendiri. Dengan demikian, barulah kita dapat mengikis karma buruk dan dapat senantiasa menumbuhkan berkah. Ini karena kita selalu berpikiran baik dan senantiasa berbuat baik. Jika setiap orang bisa melakukan ini, maka semua orang di dunia dapat saling menjaga dan saling bersyukur. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.