Sanubari Teduh-289-Lima Bagian Tubuh Dharma
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari adalah lembaran baru. Kita harus memulai setiap hari dengan batin yang jernih. Kita mungkin memiliki sedikit noda batin masa lalu yang belum dilenyapkan. Inilah yang disebut kekotoran. Setelah menyadarinya, kita harus segera mematahkan noda batin ini. Mematahkan noda batin berarti melenyapkan kegelapan batin. Kegelapan batin sama dengan kekotoran. Bagaimana cara melenyapkan kekotoran ini? Kita memerlukan air. Benda materi yang kotor di dunia harus dibersihkan dengan air. Jika batin kita memiliki kekotoran, maka kita membutuhkan air Dharma. Dharma bagaikan air. Hanya Dharma yang dapat membimbing kita, membuka hati kita, dan mengarahkan kita pada arah yang benar. Makhluk awam hidup dalam kesesatan, terpengaruh oleh lima nafsu dan berbagai perasaan. Semua ini menyebabkan pikiran keliru yang membuat kita tak melihat kebenaran dengan jelas. Akibatnya, selama ini kita terus terjerumus. Karena itu, kita harus segera menggenggam kesempatan. Saat jalinan jodoh matang, kita harus segera menetapkan arah. Jika arah sudah benar, maka kita akan dapat mulai melangkah. Dengan maju selangkah berarti kita semakin dekat dengan kesadaran para Buddha dan Bodhisattva. Jika kita hanya tahu arah, tetapi berjalan di tempat, maka selamanya kita tidak akan maju. Meski Anda sudah tahu, jika Anda tidak melangkah maju, Anda tak akan mendekat pada kesadaran Buddha. Meski kita tahu bahwa kita memiliki kesalahan, jika kita tidak mau memperbaiki diri, maka batin kita tetap akan penuh kotoran. Jadi, kejernihan hati telah tercemar sehingga tak dapat memancarkan kejernihannya. Jadi, setelah mengetahui noda batin ini, kita harus segera memperbaiki diri. Inilah yang disebut pertobatan.
Kalian tentu tak asing dengan istilah ini. Jika memiliki kesalahan, kita bertobat. Setelah bertobat, apakah kita memperbaiki diri? Bertobt berarti memperbaiki kesalahan lama. Namun, kadang itu hanya di mulut saja. Jika batin tidak berubah, maka kekotoran pun tidak akan lenyap dan kegelapan batin tidak akan berkurang. Jadi, kita harus memantapkan hati. Karena itu, kita sering membahas tentang bertekad dan berikrar. Tekad dan ikrar merupakan kekuatan agar kita tahu bahwa selanjutnya kita harus melatih diri untuk dapat membersihkan kekotoran yang disebabkan oleh noda batin. Jadi, bertobat haruslah sungguh-sungguh, bukan hanya di mulut saja. Atas berapa hal kita harus bertobat? Di dalam kehidupan sehari-hari, yang paling dekat dengan kita adalah lima penutup. yaitu berbagai noda batin, seperti ketamakan , kebencian, kebodohan, dll. Noda batin ini dapat menutupi cahaya hakikat sejati kita. Karena itu, semua ini disebut lima penutup. Kita semua sering mendengar istilah ini. Jika kita mampu melenyapkan semua ini, maka pahala akan bertumbuh. Berhubung kekotoran sudah dibersihkan, maka dengan sendirinya sifat asli hakikat sejati akan dapat memancar dan merefleksikan segala hal dengan benar. Inilah pahala. Kita semua tahu mengenai pahala (gong de), yaitu berlatih ke dalam diri dan mewujudkannya ke luar. Inilah pahala. Dengan adanya pahala ini, Dengan adanya pahala ini, hati setiap orang akan cemerlang. Jadi, wujud tindakan kita ke luar harus memiliki tata krama. Dengan begitu, kita baru bisa membimbing semua makhluk di lima alam. Lima alam juga sudah tidak asing bagi kita, yaitu alam dewa, manusia, neraka, setan kelaparan, dan binatang.
Mengenai lima akar, kita juga baru membahasnya. Begitu juga dengan lima mata dan lima bagian tubuh Dharma. Saudara sekalian, kita harus bersungguh hati. Jika akar kita tidak tertanam dalam dan tumbuh meluas, maka kita tidak bisa membuka kebijaksanaan dan bersemangat. Kita sudah membahas ini sebelumnya. Jadi, kita harus sangat bersungguh hati. Pandangan mata makhluk awam dan mata buddha tentu tidak sama. Mata makhluk awam tentu banyak penyakit. Jadi, kita harus memperoleh kebijaksanaan atau mata Buddha. Baik mata kebijaksanaan maupun mata Buddha, kita harus mencapainya. Jadi, kita harus bersungguh hati. Kini kita akan membahas lima bagian. Lima bagian yang dimaksud adalah lima bagian tubuh Dharma. Di dalam Sutra Makna Tanpa Batas diuraikan tentang sila, samadhi, kebijaksanaan, pembebasan, dan pengetahuan tentang pembebasan. Ini disebut lima bagian tubuh Dharma. Mengapa lima hal ini disebut lima bagian tubuh Dharma? Kita harus bersungguh hati. Lima hal ini adalah pahala. Jika lima pahala ini sempurna, berarti kita mencapai kebuddhaan. Ini sangat penting. Jadi, kita harus sungguh-sungguh memahaminya. Lima hal ini sangat penting bagi kita sebagai praktisi. Di dalam Hinayana, dijabarkan tentang tiga tubuh Dharma, yaitu sila, samadhi, dan kebijaksanaan. Tiga hal ini sudah sering kita dengar.
Dalam melatih diri, baik sebagai perumah tangga maupun biarawan, semua orang yang memasuki pintu ajaran Buddha tidak boleh lengah dalam menjaga sila. Sebagai perumah tangga, ada lima atau sepuluh sila yang harus ditaati. Sramanera memiliki sepuluh sila, bhiksu memiliki 250 sila, sedangkan bhiksuni lebih dari 300 sila. Saudara sekalian, sila ini adalah aturan yang mengikat kita. Dalam melatih diri, kita harus sesuai jalur, yaitu jalur untuk mencapai kebuddhaan. Berhubung ingin mempelajari ajaran Buddha, jika kita tidak berjalan sesuai jalur, maka kita tidak akan bisa maju. Ibarat naik kereta, kereta ini tentu harus memilik dua batang rel. Rel ini adalah jalur lintasan. Demikian pula, jika kereta ini tidak berada di jalurnya, ia tidak akan bisa berjalan maju. Prinsipnya sama. Dalam melatih diri, kita mengharapkan kemajuan, maka kita harus berada pada jalur yang benar. Karena itu, kita harus menaati sila. Lima tubuh Dharma yang kita bahas saat ini berkaitan erat dengan kondisi kebuddhaan. Mengenai sila pada diri seorang Buddha, dikatakan bahwa tubuh, ucapan, dan pikiran Buddha dikatakan bahwa tubuh, ucapan, dan pikiran Buddha telah bebas dari segala kesalahan. Inilah seorang Buddha. Beliau sudah terbebas dari segala kesalahan. Beliau tidak memiliki kesalahan apa pun. Beliau tidak memiliki kesalahan apa pun.
Buddha sudah tidak memiliki kesalahan dan tidak melakukan kesalahan. Buddha telah berhasil mencapai tahap ini, sama sekali tiada kesalahan. Beliau bisa bebas dari kesalahan karena tubuh dan batin-Nya sudah suci. Beliau telah menyempurnakan tubuh Dharma sila dan telah melampaui seluruh keduniawian. Inilah Buddha, Yang Mahasadar Di Alam Semesta. Beliau mencapai kesadaran tertinggi karena telah memurnikan sila. Tubuh Dharma sila-Nya sangat murni. Yang kedua adalah samadhi. Batin Buddha sangatlah hening dan bebas dari segala pikiran keliru. Ini disebut tubuh Dharma samadhi. Batin Buddha sudah mencapai keheningan sejati dan telah bebas dari segala pikiran keliru. Batin-Nya hening dan jernih, tekad-Nya luas dan luhur. Inilah kondisi batin Buddha. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita berharap dapat mencapai kondisi batin ini. Bukan hanya memiliki tekad yang luas dan luhur, tetapi juga teguh tak tergoyahkan dalam masa tak terhingga. Inilah tubuh Dharma samadhi dari Buddha.
Berikutnya adalah tubuh Dharma kebijaksanaan. Kebijaksanaan Buddha sungguh sempurna dan mampu mengamati hakikat seluruh Dharma. Ini disebut tubuh Dharma kebijaksanaan. Ini adalah kebijaksanaan akar. Kita sering membahas tentang kebijaksanaan. Mengenai kebijaksanaan akar, kita juga pernah membahasnya. Kita harus yakin, yaitu yakin terhadap akar. Sama halnya, sebagai makhluk awam, saat mulai meyakini Buddha, kita harus memulainya dari keyakinan pada akar. Dari sini tentu kita bisa melihat betapa pentingnya keyakinan pada akar. Ini adalah titik awal yang berujung pada kebijaksanaan akar. Kebijaksanaan akar ini murni tanpa noda dan sangat cemerlang. Inilah yang disebut kebijaksanaan akar. Ia adalah kebijaksanaan Buddha. Kebijaksanaan Buddha sungguh sempurna. Bukankah kita juga sudah membahas bahwa Bodhisattva masih ada sedikit ketidaksempurnaan? Sebaliknya, Buddha sudah mencapai pencerahan sempurna. Ini karena kebijaksanaannya sudah sempurna Ini karena kebijaksanaannya sudah sempurna tanpa kekurangan sedikit pun. Inilah Buddha. Karena itu, dengan pencerahan-Nya, Buddha mampu menembus hakikat segala Dharma. Dari segala sesuatu di alam semesta, manakah yang tidak dipahami Buddha? Kita sering membahas bahwa di dalam sebuah mangkuk air mengandung 84.000 organisme. Meski organisme itu begitu kecil, semangkuk air yang kita lihat jernih, semangkuk air yang kita lihat jernih, terlihat berbeda di mata Buddha.
Buddha mengatakan kepada Ananda bahwa air itu tidak dapat diminum karena di dalamnya terdapat 84.000 organisme. Ananda yang saat itu telah memiliki tiga bagian tubuh Dharma Hinayana dan telah memiliki kebijaksanaan, tetap saja tidak bisa melihat kebenaran itu dengan mata kebijaksanaannya. Ananda tetap melihat air itu sebagai air jernih. Beliau hanya bisa membedakan kondisi jernih dan kotor pada benda yang terlihat. Sebaliknya, mata Buddha berbeda. Ananda melihat air itu sebagai air jernih, tetapi di mata Buddha, air itu mengandung 84.000 organisme. Makna dari angka 84.000 adalah tidak terhitung. Angka 84.000 hanyalah sebuah simbol. Kini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kita dapat melihat dengan mikroskop bahwa bukan hanya terdapat 84.000 organisme dalam semangkuk air, bahkan di dalam setetes air sudah ada pulihan ribu bakteri. Mikroorganisme yang Buddha sebutkan pada masa itu kita sebut bakteri pada masa kini. Bakteri yang sangat kecil ini sudah terlihat oleh Buddha pada masa-Nya. sudah terlihat oleh Buddha pada masa-Nya. Jadi, Buddha tak hanya dapat melihat benda besar atau melihat secara luas ke seluruh alam semesta. Bukan hanya itu. Beliau mampu melihat sesuatu yang paling halus. Karena itu, Buddha disebut mampu melihat hakikat seluruh Dharma.
Pengamatan oleh kebijaksanaan-Nya telah mencapai tingkat yang paling murni dan paling halus. Inilah kondisi batin yang hening dan jernih yang sering kita bahas. Dengan demikian, Beliau mampu dengan jelas melihat hakikat segala sesuatu. Inilah yang disebut tubuh Dharma kebijaksanaan. Inilah yang disebut tubuh Dharma kebijaksanaan. Inilah kebijaksanaan akar. Yang keempat adalah pembebasan. Sila, samadhi, kebijaksanaan yang tadi dibahas harus dimiliki oleh setiap orang. Ketiganya bagaikan segel bagi kita sebagai praktisi. Sila, samadhi, kebijaksanaan tak boleh kurang untuk membuktikan bahwa kita adalah praktisi. Jadi, ketiganya sangat penting. Yang berikutnya tentu lebih penting. Berikutnya adalah pembebasan. Tujuan melatih diri adalah mencapai pembebasan. Buddha sudah mencapai tubuh Dharma pembebasan. Tubuh Dharma pembebasan ini adalah batin dan tubuh Tathagata. Tubuh dan batin Tathagata sudah bebas. Bebas dari apa? Bebas dari segala belenggu. Bukankah dahulu kita pernah membahas bahwa setiap orang memiliki hakikat yang sama dengan Tathagata? Kita memiliki hakikat murni yang sama dengan Buddha, tetapi sebagai makhluk awam, kita malah terus terjebak dalam enam alam dan mengalami banyak pencemaran. Jadi, hakikat sejati ini tertutup oleh debu Jadi, hakikat sejati ini tertutup oleh debu atau terikat oleh kondisi luar atau terikat oleh kondisi luar sehingga kita tidak bisa bebas. sehingga kita tidak bisa bebas. Kita tak dapat membebaskan diri. Karena itu, saya mengatakan bahwa kita adalah “Tathagata yang terbelenggu”. Kita semua masih memiliki hakikat kebuddhaan, hanya saja kita juga masih terbelenggu. Karena itu, kita tak dapat membebaskan diri.
Sebaliknya, Buddha sudah bebas. Tubuh dan batin-Nya sudah bebas sepenuhnya. Beliau sudah terbebas dari segala belenggu. Segala ikatan telah Beliau lepaskan. Inilah yang disebut tubuh Dharma pembebasan. Ini juga disebut Nirvana. Mengenai Nirvana, saya sering mengatakan bahwa banyak orang menganggap Nirvana dicapai setelah meninggal. Sesungguhnya, jika batin kita saat ini suci kita dapat mencapai kondisi sama dengan Buddha, yaitu murni tanpa noda, tidak ada gejolak dalam batin, dan bebas dari segala belenggu, bagai kupu-kupu yang keluar dari kepompong. Kupu-kupu ini dapat terbang dengan bebas. Kupu-kupu ini dapat terbang dengan bebas. Demikian pula, mencapai pembebasan berarti kita dapat bebas. Karena itu, sering kita dengar ungkapan “tenang dan damai tanpa beban”. Kondisi ini sangat mudah diucapkan, tetapi sulit diwujudkan. Dalam kehidupan sehari-hari, saat berhadapan dengan orang dan masalah, waktu di mana kita dapat tenang dan damai waktu di mana kita dapat tenang dan damai sungguh sangat sedikit. Saat waktu-waktu itu berlalu, kita kembali diliputi kerisauan, kita kembali diliputi kerisauan, ibarat pisau yang membelah air. Saat pisau ingin membelah air, air seakan terbelah, kemudian menyatu kembali. Demikian pula batin kita. Jadi, kondisi kebuddhaan adalah kondisi tidak lahir, tidak lenyap, bebas dari rintangan batin. Inilah pahala. Pahala ini tumbuh dari pelatihan dalam batin yang kemudian terwujud ke luar. Inilah yang disebut pahala. Tanpa pelatihan di dalam batin, bagaimana kita bisa mewujudkannya ke luar? Intinya, tubuh dan batin Buddha sudah bebas. Inilah Nirvana. Inilah Nirvana. Buddha telah mencapai kondisi batin yang tenang, damai, dan bebas dari rintangan. tenang, damai, dan bebas dari rintangan. Yang kelima adalah pengetahuan tentang pembebasan. Yang sebelumnya adalah pembebasan. Kini yang kita bahas adalah pengetahuan tentang pembebasan. Artinya, tahu bahwa diri ini sudah benar-benar terbebas. tahu bahwa diri ini sudah benar-benar terbebas. Diri sendiri tahu, orang lain dapat melihatnya. Kita sendiri sudah tahu. Bukan hanya kita yang tahu kita sudah mencapai kondisi batin yang murni dan bebas, semua makhluk juga menaruh rasa hormat. Lebih jauh dari itu, dengan pengetahuan tentang pembebasan, berarti kita mencapai kebijaksanaan lanjutan. Apa yang disebut kebijaksanaan lanjutan? Yaitu kebijaksanaan tertinggi yang didapat dari proses pelatihan diri.
Kita melatih diri mulai dari titik awal. Dengan arah yang benar, kita terus melangkah maju hingga akhirnya mencapai tujuan, yaitu kebuddhaan. Pencapaian akhir itulah yang disebut kebijaksanaan lanjutan. Kita tahu bahwa kita memiliki tujuan itu. Namun, sebelumnya kita harus menyempurnakan sila, samadhi, kebijaksanaan, dan pembebasan. Setelah kita mencapai kemurnian tubuh dan batin dan mencapai tujuan tertinggi, inilah yang disebut kebijaksanaan lanjutan, yaitu tujuan akhir yang telah kita capai. Inilah proses perjalanan batin yang harus kita lalui dalam mempelajari ajaran Buddha. Dengan mencapai kebijaksanaan lanjutan, berarti lima bagian tubuh Dharma kita sudah sempurna. Mengenai sila, yang dimaksud bukan sila makhluk awam pemula, bukan sila Hinayana, bukan pula sila Bodhisattva yang belum sempurna. Sila ini adalah sila Buddha yang sudah sangat sempurna. Sila sudah sangat sempurna, demikian pula samadhi. Kondisi batin sudah sangat hening. Kondisi batin sudah sangat hening.
Kita sering membahas bahwa kondisi batin yang hening didambakan semua orang. Jika kita mendambakan ini Jika kita mendambakan ini dan ingin mencapainya, maka kita harus memenuhi syarat. Jadi, kita harus memenuhi salah satu syarat terpenting, yaitu keteguhan pikiran. Batin yang hening dan jernih, tekad yang luas dan luhur, teguh tak tergoyahkan dalam masa tak terhingga, jika dapat kita realisasikan, inilah tubuh Dharma samadhi. Kebijaksanaan di sini adalah kebijaksanaan sempurna. Kadang kita merasa kita sudah tahu banyak, kita sudah tahu banyak, tetapi masih jauh dari kebuddhaan, karena Buddha sudah mampu menembus segala kebenaran hingga yang terhalus. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berlatih dengan tekun. Kita harus mencapai kondisi seperti Buddha, barulah tubuh dan batin mencapai pembebasan dan memperoleh kebahagiaan Nirvana. Setelah mencapai pembebasan, kita bukan lagi berada di tataran Bodhisattva yang mendekati kebuddhaan, melainkan benar-benar berada pada kebuddhaan.
Kebijaksanaan lanjutan ini sangat penting. Untuk mencapai kesempurnaan ini, kita harus merealisasi lima bagian tubuh Dharma tanpa kesalahan sedikit pun. Dengan begitu, barulah pencapaian kita sempurna. Jadi, lima bagian tubuh Dharma direalisasikan berurutan, mulai dari sila melahirkan samadhi, samadhi melahirkan kebijaksanaan, dengan kebijaksanaan memperoleh pembebasan, dengan pembebasan menyatu dengan kebijaksanaan lanjutan. Jadi, kebijaksanaan lanjutan ini harus disempurnakan lewat pengalaman. Kita harus melewati semua proses ini hingga mencapai kesempurnaan akhir. hingga mencapai kesempurnaan akhir. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha tidaklah sulit, asalkan kita dapat menjaga tekad dan menyebarkan Dharma. Jalan ini sangat lapang. Dalam pembelajaran ini, memang banyak istilah yang kita bahas, tetapi sesungguhnya, kita harus mulai dari menjaga sila. Ini harus meresap ke dalam hati kita dan kita wujudkan ke dalam praktik nyata. Jadi, senantiasalah bersungguh hati.