Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-290-Enam Kekuatan Batin Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, apakah setiap hari batin kita senantiasa jernih seperti baru? Setelah digunakan untuk minum setiap hari, gelas tentu harus dicuci. Demikian pula, dalam kehidupan sehari-hari, setelah batin kita menghadapi banyak hal, kita harus membersihkannya kembali. Baik dalam masalah dengan orang lain maupun dalam memilah banyak hal, kita harus membedakan yang positif dan negatif. Yang positif kita ambil, dan yang negatif kita lenyapkan agar batin kita dapat kembali bersih. Jadi, dalam melatih diri kita harus seperti ini. Jadi, kita harus senantiasa bertobat. Bertobat berarti membersihkan kekotoran. Setiap orang harus memiliki harapan ini. Kita harus berharap pada diri sendiri untuk menjadikan hati kita bersih setiap harinya. Inilah yang disebut bertobat. Kita sendiri harus berikrar. Di dunia ini, tentu masalah dan kerisauan sulit dihindari. Sulit bagi kita untuk bebas dari kerisauan. Kita tentu masih bisa risau, tetapi kita sendiri juga harus selalu bertekad dan berikrar untuk selalu membersihkan kerisauan yang membuat kita tidak bahagia setiap hari. yang membuat kita tidak bahagia setiap hari. Inilah yang disebut bertobat. Setelah dibersihkan, pikiran akan jernih kembali.

Bertobat berarti membersihkan tabiat lama untuk dapat membangun kebiasaan baik yang baru. Kita harus bertobat atas enam sensasi dan berbagai noda batin. Dengan demikian, barulah pahalanya dapat menyempurnakan enam kekuatan batin kita dari kehidupan ke kehidupan. Apa yang dimaksud enam sensasi? Kita sudah pernah membahasnya. Kini kita akan mengulangnya secara sederhana. Arti dari enam sensasi adalah mencerap. Dalam sehari, dalam menghadapi orang dan hal, saat enam indra bersentuhan dengan enam objek, kesadaran pikiran kita pasti merasakan sensasi. Inilah yang disebut enam sensasi. Dengan penjelasan ini, seharusnya kalian mengerti. Jadi, enam sensasi selalu ada dalam aktivitas sehari-hari kita, seperti berjalan, berdiri, duduk, berbaring, berbicara, dan berdiam. Semua aktivitas ini tidak lepas dari kontak antara indra dan objek dan tidak lepas dari perasaan yang diterima kesadaran pikiran. Inilah enam sensasi. Inilah yang dirasakan batin kita saat enam indra bersentuhan dengan enam objek. Karena itu, kita sering membahas tentang kerisauan dan noda batin. Dari mana noda batin ini datang? Dari kontak antara indra dan objek ini yang kemudian membangkitkan enam sensasi yang akhirnya memupuk kerisauan. Dalam mempelajari dan menyerap ajaran Buddha, kita harus terlebih dahulu mengatasi enam sensasi ini. Dengan demikian, barulah kita dapat sempurna dalam enam kekuatan batin dari kehidupan ke kehidupan. Mengenai enam kekuatan batin, kalian seharusnya sudah paham. Mengapa disebut kekuatan batin? Batin di sini merujuk pada “pikiran langit”. Artinya adalah kondisi di mana batin kita mampu menembus segalanya.

Orang zaman dahulu menyebutnya sebagai pikiran langit. Kekuatan yang dimaksud adalah hakikat kebijaksanaan. Artinya, batin kita tidak terbelenggu oleh berbagai ketidaktahuan tidak terbelenggu oleh berbagai ketidaktahuan yang sejatinya dimiliki makhluk awam. Dengan demikian, batin ini dapat memahami kebenaran di balik segala sesuatu di dunia. kebenaran di balik segala sesuatu di dunia. Inilah yang disebut kekuatan batin. Ini merujuk pada kebijaksanaan. Ini merujuk pada kebijaksanaan. Dengan memiliki kebijaksanaan, tiada yang tidak kita ketahui. Dengan demikian, setiap hal akan dapat kita pahami dengan jelas. Contohnya, saat makan setiap harinya, sebagian orang berkata bahwa jangan makan nasi terlalu banyak karena kandungan kalorinya sangat tinggi dan bisa mengakibatkan kegemukan. Karena itu, pernah ada suatu masa di mana orang-orang tidak berani makan nasi dan akhirnya kekurangan nutrisi. Meski pengetahuan ini tidak salah, tetapi beras tetap dibutuhkan untuk kelangsungan hidup kita. Jika dikonsumsi terlalu banyak, ia tentu akan menyebabkan kegemukan. Namun, jika sama sekali tidak memakannya, kita mungkin akan kekurangan nutrisi. Inilah yang disebut hanya tahu sebagian. Manusia cenderung tahu setengah-setengah. Mereka tahu kandungan makanan tertentu, tetapi hanya menjelaskan dari satu sisi, tidak menjelaskan manfaatnya bagi manusia. Makanan ini pada dasarnya bermanfaat, tetapi setelah kandungannya dijabarkan, yang ditekankan hanyalah mudaratnya. Manfaatnya tidak dibahas. Ini menyebabkan penyimpangan. Demikian pula, hakikat kebijaksanaan atau “pikiran langit” ini disebut kekuatan batin. Dengan kekuatan batin, seseorang bisa mengetahui berbagai hal. Namun, yang ditakutkan adalah penyimpangan. Lihatlah, betapa banyak orang yang berlatih dan mengklaim bahwa dirinya sudah memiliki kekuatan batin. Ini harus sangat diperhatikan. Sesungguhnya, kekuatan batin bukan apa-apa.

Selama Anda dapat memfokuskan pikiran, maka tiada rintangan yang dapat mengganggu. Yang ditakutkan adalah batin yang kacau. Jika pikiran dapat terfokus, maka rintangan dapat dihadapi. Inilah kekuatan batin. Saya pernah melihat sebuah laporan berita tentang seekor anjing yang dapat membantu tuannya mengambil uang. Ini terjadi di Inggris. Di Inggris ada asosiasi penjaga kaum difabel. Setiap tahunnya asosiasi ini melatih anjing. Dalam setahun, mereka melatih sekitar 300 ekor anjing yang dapat membantu orang-orang yang memiliki keterbatasan gerak. Tuan dari anjing ini memiliki keterbatasan gerak. Karena itu, anjing ini dapat membantu tuannya mengambil uang. Untuk mengambil uang, zaman sekarang digunakan ATM. Untuk itu, dibutuhkan selembar kartu Untuk itu, dibutuhkan selembar kartu dan dibutuhkan kode sandi. Anjing ini membawa kartu dengan menggigitnya dan pergi ke depan mesin ATM. Ia dapat memasukkan kartu ke mesin ATM, lalu memasukkan kode sandi, memasukkan jumlah nominal uang, dan mengambil uangnya sesaat setelah keluar dari mesin. Ia lalu mengembalikan kartu ATM kepada tuannya. Bukankah ini bagai kekuatan batin? Bukan hanya manusia yang bisa memilikinya, bahkan anjing pun bisa. Kekuatan batin ini didapat lewat latihan. Lewat cerita ini, kita dapat menyadari kesetaraan semua makhluk. Meski wujudnya berbeda, ia anjing dan kita manusia, ia anjing dan kita manusia, tetapi pada hakikatnya sama.

Di dalam Kitab Jataka, Di dalam Kitab Jataka, Buddha banyak menceritakan kisah tentang gajah, raja rusa, raja singa, raja burung merak, dan berbagai hewan lainnya. Meski mereka berada di alam hewan, tetapi kesadaran mereka menyerupai manusia. tetapi kesadaran mereka menyerupai manusia. Mereka juga bisa berbicara. Inilah yang ada di dalam Kitab Jataka. Apakah ini hanya mitos? Dahulu kita juga sering mendengar kisah anjing yang menolong tuannya, menjaga tuannya, dan sebagainya. Semua ini harus melalui proses latihan. Jadi, kita melatih diri juga bagaikan menjalani proses itu. Kita berlatih agar pikiran kita terfokus. Pikiran kita harus menjalani latihan. Pikiran kita harus menjalani latihan. Ini sama dengan pembinaan diri. Jika pikiran kita tidak terfokus, maka yang kita dengar tak akan dapat meresap. Kalau begitu, bagaimana bisa menjalankannya? Jika pikiran kita tidak terfokus, maka meski saat ini kita mendengar ajaran, kita akan segera lupa. Jika kita lupa, berarti pengetahuan dalam ingatan kita hilang. Jadi, kita harus bersungguh hati agar tidak lupa. Ajaran Buddha sesungguhnya ada dalam kehidupan sehari-hari. Ia membuka pintu bagi kita. Asalkan kita masuk dari pintu itu, jalan akan terbentang di hadapan kita.

Demikian pula, makna dari enam kekuatan batin adalah memfokuskan pikiran dan membangkitkan kebijaksanaan. Inilah kekuatan batin. Kekuatan batin pertama disebut mata dewa. Ini adalah kemampuan mengamati enam alam, mengetahui perjalanan makhluk-makhluk di dalam lingkaran kelahiran dan kematian, serta mampu melihat berbagai hal di dunia serta mampu melihat berbagai hal di dunia tanpa rintangan sedikit pun. Inilah yang disebut kemampuan mata dewa. Mata dewa ini mampu melihat Mata dewa ini mampu melihat semua kondisi alam kehidupan. semua kondisi alam kehidupan. Orang dengan kemampuan ini dapat memahami penderitaan di neraka, alam binatang, setan kelaparan, juga asura. Dia juga dapat melihat suka duka yang silih berganti di alam manusia dan bagaimana makhluk surgawi terlahir di alam lain setelah berkahnya habis. Ajaran Buddha membimbing setiap praktisi untuk memfokuskan pikiran dan memahami kehidupan di enam alam. Bukan hanya dewa yang memiliki mata dewa. Makna sesungguhnya adalah Buddha mengajarkan agar kita memahami kondisi kehidupan di enam alam. Inilah yang dimaksud mata dewa. Untuk itu, kita harus membuka pintu hati agar dapat memahami segala kebenaran. Yang kedua adalah telinga dewa. Artinya adalah mampu mendengar penderitaan dan kebahagiaan semua makhluk. Baik ucapan maupun suara, semuanya dapat terdengar. Ada orang yang sangat pandai. Saat mendengar orang lain berbicara, dia bisa memahami jika orang tersebut menyimpan duka di hati meski yang diucapkan seakan penuh sukacita. Ucapannya tidak dari lubuk hati. Ada orang yang bisa mendengar suara hati orang. Jadi, kita harus tahu bahwa telinga dewa berarti sungguh-sungguh mendengar suara semua makhluk. Bukan hanya mendengar suara manusia, tetapi juga mendengar suara semua makhluk. Saat Konfusius masih hidup,

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888