Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-291-Enam Kekuatan Batin Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, kita sudah membahas enam kekuatan batin. Kekuatan merujuk pada kekuatan konsentrasi, sedangkan batin merujuk pada kebijaksanaan. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebijaksanaan. Kita semua sudah memilikinya, hanya saja belum membangkitkannya. Tujuan belajar ajaran Buddha adalah membangkitkan hakikat kebijaksanaan. Kita sering mendengar orang berkata, “Orang itu sangat pandai, sangat bijaksana.” Sesungguhnya, pandai belum tentu bijaksana. Kita juga sering mendengar orang membicarakan orang yang terlalu pandai sehingga malah membuat kesalahan. Kepandaian tidaklah sempurna. Yang terbaik adalah kebijaksanaan. Kita harus berlatih untuk memilah segala sesuatu di dunia ini. Kita juga harus memahami dengan sempurna bahwa segala sesuatu dan semua makhluk adalah setara. Kebijaksanaan (zhi hui) adalah mampu membedakan yang benar dan salah serta memahami kesetaraan semua makhluk. Dapat membedakan benar salah disebut “zhi”.

Dalam hubungan antarsesama, jika kita mampu memandang setara semua makhluk, maka tidak akan ada perbedaan status sosial. Inilah salah satu tujuan Buddha meninggalkan keduniawian. Sesuai budaya India zaman dahulu, perbedaan kasta sangat mencolok. Untuk menemukan hakikat manusia, apakah perlu membedakan kasta? Apakah kaum rohaniwan selamanya berada di kasta tertinggi? Apakah ini diwariskan dari generasi ke generasi? Di dalam agama brahmana, para brahmana adalah kasta tertinggi. Apakah para warga kasta ksatria selamanya pasti menjadi ksatria? Apakah rakyat jelata selamanya akan menjadi rakyat jelata yang berdagang? akan menjadi rakyat jelata yang berdagang? akan menjadi rakyat jelata yang berdagang? Apakah kehidupan mereka tak bisa berubah? Selain itu, para budak, apakah dari kehidupan ke kehidupan apakah dari kehidupan ke kehidupan mereka akan selalu menjadi budak? Apakah benar seperti itu. Buddha mempertanyakan hal ini. Meski Buddha tahu di masa itu ada pembagian kasta, tetapi ada pertanyaan di dalam hati-Nya apakah kasta tidak bisa berubah. Karena itu, Beliau berusaha mendobrak sistem ini. Banyak perbedaan kondisi manusia di dunia ini. Karena itu, Beliau ingin menguak misteri kehidupan dan mencari mengapa ada lahir, tua, sakit, dan mati. Apakah empat kasta benar-benar mutlak? Empat musim saja berganti dari musim semi hingga musim dingin, lalu apakah yang kekal di dunia? Beliau memiliki banyak pertanyaan.

Jadi, Beliau memutuskan untuk melatih diri karena memiliki kebijaksanaan ini. Meski memiliki kebijaksanaan untuk membedakan, tetapi jika kebijaksanaan ini belum dibangkitkan. Karena itu, Beliau berpikir hakikat kebijaksanaan-Nya belum terbangkitkan sehingga Beliau memutuskan untuk meninggalkan keduniawian. Dengan demikian, kita baru bisa mendengar ajaran berharga kita baru bisa mendengar ajaran berharga yang ditemukan oleh Buddha dengan susah payah. Kini kita hendaknya bersungguh hati. Jika dapat berada di jalan ini, maka kita akan memperoleh kekuatan batin. Demi semua makhluk yang sulit untuk dibimbing, Buddha menghabiskan lebih dari 40 tahun untuk membabarkan metode terampil sesuai daya tangkap masing-masing makhluk. Karena itu, Dharma ini terbagi menjadi Kereta Kecil, Kereta Sedang, dan Kereta Besar. Namun, kitalah yang harus memilihnya. Kini, yang kita pilih adalah Jalan Bodhisattva atau Kereta Besar. Kita harus terus berusaha mencapai kebuddhaan sekaligus membimbing semua makhluk. Di satu sisi kita terus menggali ajaran Buddha karena ajaran Buddha bagai samudra, juga bagai butiran pasir di Sungai Gangga. Buddha pernah membahas hal ini. Buddha mencelupkan jari-Nya ke dalam air sehingga terdapat setetes air pada jari-Nya.

Beliau lalu bertanya kepada Ananda, “Ananda, jika air pada jari-Ku ini dibandingkan dengan air di lautan, apakah air pada jari-Ku yang lebih banyak ataukah air di lautan yang lebih banyak?” Tanpa berpikir, Ananda langsung menjawab, “Yang Dijunjung, tentu tetesan air pada jari tidak bisa dibandingkan dengan air di lautan.” Buddha kembali berkata, “Benar sekali.” “Engkau mengikuti-Ku demikian lama, menurutmu Dharma yang telah engkau dengar sudah banyak ataukah sedikit?” Ananda menjawab, “Banyak sekali.” “Yang Dijunjung membabarkan banyak Dharma baik Dharma duniawi maupun adiduniawi.” Buddha menjawab, “Sesungguhnya, tidak banyak.” “Yang belum dibabarkan masih lebih banyak.” “Kemampuan semua makhluk sangat beragam seluas samudra.” “Untuk menyesuaikan dengan semuanya, ada berbagai metode yang belum dibabarkan.” “Yang telah dibabarkan dan diterima oleh semua makhluk hanya sebatas tetesan air di ujung jari-Ku.” Tidak semua makhluk dengan beragam kemampuan itu mampu menyerap ajaran Buddha. Mengenai kemampuan ini, kita tahu bahwa mereka yang berjodoh dengan Buddha mampu paham seribu saat mendengar satu. Bagi yang tidak berjodoh, meski hidup sezaman dengan Buddha, tetap akan terpisah jauh. Berapa banyak yang mampu menyerapnya ke dalam hati dan menerapkannya dalam kehidupan? Jadi, untuk mencapai kekuatan batin ini, jalan yang ditempuh semua makhluk masih sangat panjang.

Di antara para murid Buddha pun, hanya Maudgalyayana yang sempurna dalam kekuatan batin ini. Namun, Buddha juga berkata bahwa kekuatan ini bukanlah tujuan akhir. Singkat kata, inti dari kekuatan batin yang dibabarkan Buddha adalah memusatkan pikiran untuk membangkitkan hakikat kebuddhaan kita. untuk membangkitkan hakikat kebuddhaan kita. Dengan hakikat kebijaksanaan atau kebuddhaan, kita dapat berpandangan terbuka. Segala noda batin akan dapat dilenyapkan sehingga cahaya kebijaksanaan kita terpancar. Dengan demikian, batin kita akan mampu menembus segala sesuatu. Jadi, dalam mendengarkan Dharma, pikiran harus terfokus. Kita harus memusatkan semangat. Setelah mendengarkan pembabaran Dharma, kita harus sungguh-sungguh merenungkannya. Setelah merenungkannya, Kita harus tekun berlatih dengan kebijaksanaan. Inilah mendengar, merenung, dan mempraktikkan. Kita harus memusatkan pikiran untuk mendengarkan Dharma. Setelah mendengar, kita harus merenungkannya. Setelah merenungkannya, kita harus sungguh-sungguh mempraktikkannya. Inilah kekuatan batin yang sesungguhnya. Meski memiliki kekuatan batin, tanpa pikiran yang terfokus, hakikat kebijaksanaan tidak akan terpancar. Ini pun tidak ada gunanya.

Jadi, kita harus membangkitkan hakikat kebijaksanaan. Kita harus mendengar, merenung, dan mempraktikkan. Dengan praktik nyata, barulah ada pemahaman. Tanpa praktik nyata, pemahaman tak akan ada. Mengenai kemampuan mata dewa, di masa kini, dengan bantuan teknologi, kita juga bisa memiliki mata dewa. Bukankah kita juga bisa mengetahui kehidupan lampau dan kehidupan mendatang? Untuk mengetahui apakah di kehidupan lampau Untuk mengetahui apakah di kehidupan lampau kita menjalin jodoh baik atau buruk dengan orang, kita hanya perlu melihat kondisi saat ini. Jika orang-orang senang melihat Anda dan Anda senang melihat orang-orang, berarti pada kehidupan lampau Anda menjalin banyak jodoh baik dengan orang. Anda dahulu memiliki pelatihan yang baik, baru dapat menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Dengan adanya jalinan jodoh baik, Anda berkesempatan menciptakan berkah. Jadi, kondisi kehidupan lampau bisa diketahui dari kondisi saat ini. Kita juga bisa menggunakan kondisi saat ini untuk apa? Untuk memperkirakan masa depan. Sebuah ungkapan berbunyi, “Segala sesuatu tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti.” Jadi, untuk melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan, kita hanya perlu melihat kondisi saat ini. Dengan cara ini, kita dapat memperkirakan kondisi masa lalu, mengetahui masa kini, dan memprediksi masa depan. Inilah kemampuan mata dewa yang dapat melihat masa lalu dan masa depan. Selain itu, ada pula telinga dewa. Mengenai telinga dewa, bagi makhluk awam, suara yang dekat terdengar, tetapi suara yang jauh tidak terdengar.

Namun, kini kita dapat memanfaatkan teknologi. Setiap malam, berhubung semua orang tahu bahwa waktu saya lebih senggang pada saat-saat itu, maka para relawan dari luar negeri kerap menelepon. Dari sana, saya bisa mengetahui kondisi di Iran dan bagaimana cuaca di sana. Mereka melaporkan bahwa suhu udara di sana sekitar 20–30 derajat Celsius. Ini termasuk baik karena iklim di sana sangat kering. Meski suhu udara mencapai 30-an derajat Celsius, tetap tidak terasa begitu panas. Saya bertanya apakah semua baik-baik saja, mereka pun menjawab bahwa mereka sangat gembira. Mereka juga bercerita tentang anak-anak di sana. Meski saya tidak melihat mereka, tetapi saya bisa mendengar dan memahami cerita mereka. Saat mereka bercerita tentang sebuah sekolah, saya bisa membayangkan kondisi sekolah itu. Bagaimana saya tahu tanpa pergi ke sana? Karena tim pembangunan kita sering meninjau ke sana. Setiap kali kembali, mereka pasti membawa rekaman untuk saya. Saya pun seakan berada di sana. Ini bagaikan telinga dewa yang disatukan dengan mata dewa. Meski saya sendiri tetap berada di Taiwan, dan Iran berada sangat jauh, tetapi dengan adanya komunikasi suara, saya bisa bagai berada di sana, melihat kondisi warga setempat, merasakan kegembiraan anak-anak di sana, dan mengetahui kekaguman pemerintah setempat. Kita membutuhkan teknologi untuk mewujudkan mata dewa dan telinga dewa. Berikutnya adalah kemampuan membaca pikiran orang lain. Ada begitu banyak orang di sini. Apa yang kalian semua pikirkan saat ini, Apa yang kalian semua pikirkan saat ini, sejujurnya saya tidak tahu. Saat saya mengatakan ini, apakah timbul kerisauan dalam batin kalian? Atau, setelah mendengar ini, adakah kalian bertanya-tanya tentang penjelasan selanjutnya dan ingin tahu apa itu kemampuan membaca pikiran? Mungkin ada yang tidak sabar. Ada pula orang yang saat mendengar penjelasan mata dan telinga dewa tadi merasa, “Ternyata begitu?” Mungkin pandangan mereka jadi terbuka dan merasakan sukacita. Ada orang yang sudah tidak sabar, ada orang yang merasa sukacita. Apa yang ada di dalam pikiran kalian, Apa yang ada di dalam pikiran kalian, saya tidak tahu karena saya juga masih belajar sekaligus membimbing kalian.

Saya mengambil ajaran Buddha yang saya pelajari untuk saya bagikan kepada kalian semua. Apakah kalian dapat memahaminya? Jika kalian tidak memahaminya, saya harus mencari cara lain agar kalian lebih paham. Teknologi masa kini membantu kita membuktikan ajaran Buddha. Kemampuan mata dan telinga dewa bukan mustahil. Ini mungkin dicapai karena manusia memiliki potensi kebijaksanaan yang tak terbatas. Jadi, kita dapat memanfaatkan teknologi modern. Kemampuan membaca pikiran pun bukan hal yang tidak mungkin. Kini di Amerika Serikat sudah ditemukan suatu alat. Begitu alat ini ditempatkan pada kening kita, apa pun yang kita pikirkan, Alat itu bisa mendeteksi angka berapa yang sedang kita pikirkan. Jadi, mungkin di masa yang akan datang, antarmanusia akan dapat saling membaca bagaikan kaca transparan. Apa yang ada di dalam diri kita dapat terlihat jelas oleh orang lain. Benar, teknologi sinar X saat ini sudah bisa memindai secara 3 dimensi. Di dalam teknologi medis, jantung pun kini bisa dipindai secara 3 dimensi. Begitu pula dengan organ tubuh lainnya. Suatu kali, saat saya berada di RS Tzu Chi Dalin, para dokter menunjukkan sebuah alat pemindai. Saat tubuh dipindai dengan alat itu, seluruh otot tidak terlihat, yang terlihat hanyalah tulang dan berbagai organ dalam. Semuanya terlihat dengan jelas. Semuanya terlihat dengan jelas. Manusia memiliki potensi tak terbatas. Para ahli masa kini juga sangat bersungguh hati, tetapi dunia ini masih menyimpan banyak misteri. Jika semua hal bisa terlihat jelas luar dalam, ini mungkin juga sangat menakutkan. Kalian mungkin masih ingat pada suatu masa ditemukan sejenis kamera yang dapat mengambil gambar di balik pakaian yang dapat mengambil gambar di balik pakaian meski orang yang dipotret tetap berpakaian. meski orang yang dipotret tetap berpakaian. Informasi tentang penemuan ini sudah beredar, tetapi karena mendapat tentangan banyak orang, alat ini tidak diproduksi. Intinya, tiada hal yang tidak mungkin dan tiada hal yang tak dapat ditembus.

Kini juga ditemukan alat yang bisa mendeteksi angka yang ada dalam pikiran kita, apakah satu, dua, tiga, lima, delapan, atau sembilan. Alat yang dapat mendeteksi angka secara acak ini kini juga sudah ditemukan. Singkat kata, berkat kemajuan teknologi, kita semakin merasa bahwa banyak pembabaran dari Buddha yang menggambarkan masa depan, tepatnya masa depan dari zaman itu, yaitu masa kini. Berikutnya adalah kemampuan mengetahui kehidupan lampau. Ini adalah kemampuan mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kemampuan mengetahui kehidupan lampau ini sesungguhnya bukanlah tidak mungkin. Sebagian ahli sangat mengkhawatirkan pemanasan global yang membuat gunung es di mencair dan membuat permukaan air meningkat sehingga memicu perubahan iklim ekstrem. Mereka khawatir bahwa pada suatu hari, banyak spesies punah dari muka bumi. Jadi, para ilmuwan ini telah memprediksi bahwa di masa depan mungkin akan ada banyak spesies yang punah dari bumi ini. Karena itu, mereka mulai mempersiapkan sesuatu untuk masa depan, yaitu membuka sebuah “gua kiamat”. Di Norwegia ada sekelompok ilmuwan yang membangun sebuah proyek di Kepulauan Svalbard, dekat Kutub Utara. Mereka bersiap untuk memulai proyek untuk membangun “gua kiamat”. Untuk apa? Mereka mengumpulkan berbagai jenis tumbuhan untuk disimpan di dalam gua tersebut agar saat berbagai spesies punah di masa depan, agar saat berbagai spesies punah di masa depan, agar saat berbagai spesies punah di masa depan, manusia masih memiliki benihnya dan dapat menanamnya kembali. dan dapat menanamnya kembali. Mendengar kondisi ini, bukankah ini sama dengan fase pembentukan, kelangsungan, kerusakan, dan kehancuran yang dibabarkan Buddha? Pada masa Kalpa Kerusakan, berbagai hal terus mengalami kerusakan.

Setelah fase kerusakan, akan ada pembentukan baru. Kita juga pernah membahas tiga bencana kecil dan tiga bencana besar. Tiga bencana besar merujuk pada berbagai bencana alam yang disebabkan oleh api, angin, dan air yang terus terjadi berulang-ulang hingga dunia ini hancur dan kembali terbentuk. Ini juga ada dibahas dalam ajaran Buddha. Intinya, ilmuwan saat ini juga tengah bersiap agar saat terjadi kepunahan spesies di muka bumi, manusia masih memiliki benih untuk ditanam kembali. Saya sangat kagum saat melihat berita ini. Meski berada di masa kini, para ilmuwan sudah memikirkan persediaan benih tanaman pangan bagi masa depan. Ini sungguh membuat orang tersentuh. Saya sungguh kagum pada para ilmuwan itu. Jadi, kemampuan mengetahui kehidupan lampau berarti kita harus sungguh-sungguh menjaga dan menyayangi kehidupan kita. Dengan begitu, kita baru bisa menyayangi orang lain. Kita harus mengasihi diri sendiri, baru bisa mengasihi orang lain. Dalam hidup ini, melihat masa lalu tidaklah begitu penting, yang terpenting adalah menciptakan berkah bagi masa depan. Inilah tujuan Buddha membabarkan kemampuan mengetahui kehidupan lampau. Berikutnya adalah kemampuan keleluasaan fisik.

Di masa kini, segalanya juga sudah serba praktis. Bukan hanya ada pesawat terbang, manusia juga bisa pergi ke luar angkasa. Ini tidak lagi merupakan hal yang sulit. Berikutnya adalah kemampuan mengakhiri kebocoran. Inilah yang terpenting. Mengakhiri kebocoran berarti melenyapkan noda batin. Inilah kebijaksanaan yang tadi kita bahas. Untuk mencapai kekuatan batin ini, pertama kita harus memusatkan pikiran agar cahaya kebijaksanaan memancar. Dengan demikian, apa yang tidak kita ketahui. Kemampuan mengakhiri kebocoran menitikberatkan agar setiap orang kembali pada hakikat kebuddhaan yang murni tanpa noda. Segala noda batin harus dilenyapkan. Dengan begitu, barulah kita bisa hidup di Tanah Suci yang murni tanpa noda. Singkat kata, kita semua harus bersungguh hati. Ajaran yang Buddha babarkan adalah prediksi masa lalu untuk masa kini. adalah prediksi masa lalu untuk masa kini. Kini kita telah melihat dan menembus semuanya berkat kemajuan teknologi. Jika ajaran Buddha ini dapat kita terapkan dalam keseharian seiring penggunaan teknologi masa kini, maka enam kekuatan batin akan terwujud. Semoga enam kekuatan batin di masa kini ini lebih kuat daripada yang digambarkan dalam Sutra. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati dan tekun melatih diri.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888