Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-292-Enam Pintu Meditasi

Saudara se-Dharma sekalian, dalam diri setiap orang terdapat sebuah Sutra. Setiap tempat adalah sarana bagi kita untuk menerima pendidikan hidup. Kita harus menjadikan penderitaan sebagai guru. Kita juga harus memperlakukan setiap orang dengan rasa syukur yang tulus. Saudara sekalian, kita sering mengatakan, “Berbagai pintu Dharma tanpa batas terpapar di hadapan.” Ini karena setiap orang yang kita temui merupakan Sutra hidup. Dalam kehidupan kita sehari-hari, di mana pun berada, kita hendaknya terus belajar. Ada sebuah kisah. Suatu hari, Buddha berada di Taman Anathapindada di Sravasti bersama para bhiksu. Buddha membabarkan Dharma bagi mereka. Sebelum Buddha membabarkan Dharma, para bhiksu mengelilingi Buddha. Kemudian, semua orang duduk. Pada saat itu, ada seorang bhiksu yang berpenampilan lusuh, ada seorang bhiksu yang berpenampilan lusuh, tidak ada keagungan sama sekali. Dia datang ke hadapan Buddha, lalu bersujud dengan penuh hormat. Setelah itu, dia beranjali dengan penuh hormat kepada seluruh bhiksu yang hadir. Setelah memberi hormat, dia duduk di sebuah sudut. Namun, para bhiksu seakan mengabaikan dan meremehkan dirinya. mengabaikan dan meremehkan dirinya. Mereka merasa bhiksu ini berpenampilan begitu lusuh, sedikit pun tidak berwibawa.

Jadi, pada saat itu, Buddha melihat ekspresi semua orang yang hadir. Buddha pun tahu bahwa semua orang meremehkan bhiksu tadi. semua orang meremehkan bhiksu tadi. Buddha kemudian berkata kepada semua orang, “Apakah kalian melihat bhiksu tadi?” “Apakah kalian melihat bhiksu tadi?” “Dengan hati yang tulus, dia memberi hormat di hadapan kita.” “Apakah kalian semua melihatnya?” Para bhiksu pun menjawab serentak, Para bhiksu pun menjawab serentak, “Yang Dijunjung, kami melihatnya.” Buddha lalu berkata kepada mereka, “Pada saat ini, janganlah kalian memandang rendah bhiksu ini.” janganlah kalian memandang rendah bhiksu ini.” “Janganlah kalian meremehkannya.” “Janganlah kalian menganggapnya rendah.” “Mengapa?” “Bhiksu ini sudah melakukan kewajibannya.” “Yang harus dilatih sudah dia latih.” “Dia menjalankan praktik sesuai ajaran-Ku.” “Dia juga menaati semua yang harus ditaati.” “Dia melenyapkan semua yang harus dilenyapkan.” “Dia sangat tekun,” “Dia sudah menjalankan seluruh kewajibannya.” Artinya, dia sudah berlatih sebagaimana mestinya dan sudah mencapai kearhatan. Dia sudah melepaskan seluruh beban dalam dirinya. Jadi, dia sudah mengakhiri seluruh belenggu. Seluruh belenggu dan noda batin tidak lagi dimilikinya. Jadi, dia sudah mencapai pembebasan. Buddha berkata, “Kini kalian melihat penampilannya begitu lusuh, tetapi janganlah kalian menganggapnya rendah.” “Ketahuilah, kalian semua harus terlebih dahulu memandang diri-Ku, lalu membandingkannya dengan diri kalian, baru menilai bhiksu tersebut.” Maksud dari perkataan Buddha adalah dalam proses pelatihan diri, yang terpenting adalah Dharma. “Bhiksu tadi tidak merisaukan penampilannya, dia hanya mementingkan Dharma.” “Kini dia sudah mencapai pembebasan, maka kalian janganlah menganggap rendah dirinya.” “Saat Aku masih melatih diri pun demikian.” Kalian seharusnya masih ingat kisah perjalanan Buddha melatih diri. Beliau juga pernah menyiksa diri hingga tidak tahan dan pingsan, lalu menerima persembahan susu dari Sujata.

“Dalam pelatihan diri, kalian tentu melewati proses seperti ini.” “Bhiksu itu sedah melenyapkan segala noda batin yang menjadi beban bagi dirinya.” “Dia sudah mencapai pembebasan fisik dan batin.” “Karena itu, kalian tidak bisa menganggapnya rendah hanya dari penampilan.” Inilah teguran Buddha kepada para bhiksu agar mereka tahu bahwa dalam diri setiap orang terkandung sebuah Sutra yang dapat menjadi bahan pelajaran bagi kita. Janganlah melekat pada penampilan orang. Kita harus belajar memahami proses. Ada orang yang menampilkan penderitaan. Dari wujud penderitaan dan kerja keras mereka, kita juga dapat belajar memahami mengapa mereka begitu bekerja keras dan untuk siapa mereka bekerja keras. Seperti di masyarakat kita sekarang ini, tanpa para pekerja, bagaimana orang-orang mendapat banyak kenikmatan? Karena itu, terhadap para pekerja, kita juga harus membangkitkan rasa syukur. Segala bidang pekerjaan di masyarakat, setiap peran yang ada, harus kita anggap sebagai kitab yang harus kita pelajari. kitab yang harus kita pelajari. Dengan demikian, barulah kita dapat senantiasa membangkitkan rasa syukur terhadap semua orang. Buddha juga mengingatkan para bhiksu untuk tidak menghakimi orang lewat penampilan. Meski bhiksu tadi berpenampilan lusuh dan sama sekali tidak memancarkan keagungan, tetapi dia juga merupakan praktisi. Karena itu, Buddha melantunkan sebuah Gatha untuk memperjelas hal ini. “Meski seekor burung merak terlihat anggun, tetap tak sebaik angsa yang mampu terbang tinggi.” Seekor burung merak memang terlihat indah, terlebih saat mengembangkan bulunya. Ia memang terlihat indah, tetapi hanya indah pada penampilan luarnya saja. Kemampuan terbangnya tak sebaik angsa. Meski angsa terlihat tidak seindah burung merak, Meski angsa terlihat tidak seindah burung merak, tetapi ia dapat terbang bebas.

Demikian pula dengan praktisi spiritual, tidak dinilai dari penampilan luar, melainkan dari pencapaian pembebasannya. Karena itu, dikatakan, “Keindahan wujud luar tidak seagung pahala pemutusan noda batin.” Meski penampilan luar kalian begitu indah, bersih, dan enak dipandang, tetapi ini semua tidak lebih penting dari pemutusan noda batin. Buddha berkata, “Kini bhiksu itu bagaikan penjinak kuda yang mampu menjinakkan pikirannya, memutus belenggu nafsu keinginan, terbebas dari kelahiran dan kematian, dan menghancurkan tentara Mara.” Artinya adalah bhiksu ini bagaikan penakluk. Dia telah menaklukkan pikiran liar dirinya sendiri. Dia bahkan telah memutus semua nafsu keinginan. Dia juga telah bebas dari segala belenggu sehingga bebas dari kelahiran kembali. Artinya, dia telah menaklukkan tentara Mara. Ini menunjukkan kualitas seorang praktisi. Berkat kegigihannya, dia mampu melenyapkan segala noda batin. Kisah di dalam Sutra ini mengingatkan kita semua untuk berjuang menaklukkan belenggu batin kita. Syair pertobatan yang telah kita bahas berbunyi, “Semoga berkat pahala dari pertobatan atas noda batin dari enam sensasi dan lainnya, dari kehidupan ke kehidupan, enam kekuatan batin menjadi sempurna.” Ini sudah kita bahas sebelumnya. Kita juga harus menyempurnakan Enam Paramita. Enam Paramita adalah dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Kita harus menyempurnakan ini. Berikutnya, kita tidak boleh tercemar enam objek. Kita tidak boleh terbuai oleh enam objek, yaitu rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan sebagainya. Kita harus mempraktikkan enam pintu meditasi. Apa yang dimaksud enam pintu meditasi? Hari ini kita akan membahasnya.

Yang pertama adalah teknik menghitung napas, yaitu mengendalikan dan menghitung napas satu hingga sepuluh. Ini adalah cara mengendalikan tubuh kita. Artinya, seperti saat kita duduk bermeditasi pada pagi hari, kita harus menyelaraskan tubuh dan pikiran. Posisi tubuh saat duduk harus tegak, Posisi tubuh saat duduk harus tegak, lalu kita mengatur napas kita. Bagaimana caranya? Setelah duduk tegak, kita mengatur keluar masuk napas kita dengan cara menghitung. dengan cara menghitung. Hitungan satu, napas keluar, napas masuk. Hitungan dua, napas keluar, napas masuk. Seperti ini terus dari hitungan satu sampai sepuluh. Pada setiap tarikan dan embusan napas, panjang setiap embusan dan kedalaman setiap tarikan harus kita atur sedemikian rupa. Panjang dari tarikan dan embusan harus diatur. Seberapa panjang embusan napas kita? Seberapa panjang pula tarikan napas kita? Dahulu kita pernah membahasnya.

Saat mengembuskan napas, pada saat tubuh duduk dalam posisi tegak, pada saat tubuh duduk dalam posisi tegak, napas kira-kira keluar dari bagian perut, kira-kira dari posisi sedikit di bawah pusar. Kita memvisualisasikan aliran napas keluar dari bagian bawah pusar. Inilah yang dimaksud panjang napas. Saat menarik napas masuk, Saat menarik napas masuk, aliran napas juga sampai pada bagian tersebut. Satu embusan dan satu tarikan dihitung sebagai satu hitungan. Jika kita dapat menghitung satu hingga sepuluh tanpa pikiran yang berkeliaran, hanya terpusat pada napas dengan hitungan yang jelas, maka pikiran pengganggu tidak akan muncul. Dengan terus mengulangi hitungan dari satu sampai sepuluh, dari satu sampai sepuluh, inilah teknik pengaturan pikiran lewat napas agar pikiran kita terkendali dan tidak kacau. Teknik kedua adalah teknik mengikuti napas, artinya tidak memaksa untuk mengatur napas.

Saat baru mulai berlatih, kita menggunakan cara menghitung napas, berikutnya kita tidak perlu lagi menghitung. berikutnya kita tidak perlu lagi menghitung. Biarkan napas mengalir alami, tak perlu dipaksa. Kita mengikuti panjang pendeknya napas dan menyadarinya dengan jelas. Kita menyadari napas keluar dan masuk. Pada saat ini, panjang pendeknya napas tidak perlu diatur atau dihitung. Kita hanya perlu mengatur secara alami dan perlahan sehingga panjang pendek napas teratur. Inilah teknik mengikuti napas. Jika kita menguasai teknik ini, kapan pun kita duduk bermeditasi, kita akan bisa mengamati dan mengatur napas. Ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Inilah teknik mengikuti napas. Yang ketiga adalah teknik penghentian. Kita harus berhenti. Berhenti apa? Di dalam kehidupan sehari-hari, saat berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring, pikiran kita harus tetap terpusat dan hening. Pikiran kita harus sangat tenang dan tidak berkeliaran. Ini disebut memusatkan pikiran dalam meditasi. Ini disebut memusatkan pikiran dalam meditasi. Kita harus dapat merenung secara mendalam. Saat bertemu kondisi apa pun, pikiran tidak bergejolak dan tetap dapat berpikir dengan tenang. Dalam menghadapi apa pun, kita tetap tenang dan mampu berpikir jernih. dan mampu berpikir jernih.

Dalam menghadapi kondisi apa pun, pikiran kita tidak bergejolak. Inilah teknik penghentian. Berikutnya adalah teknik pengamatan. Artinya, kita harus selalu melakukan pengamatan. kita harus selalu melakukan pengamatan. Selain mengamati kondisi luar, kita harus mengamati kondisi batin kita. Pengamatan ini berarti mengamati kondisi luar dan mengamati kondisi batin. Kita harus mampu melihat dengan jelas. Baik kondisi dalam batin maupun kondisi di luar, kita harus melihat dengan jelas. Berikutnya, kita harus menyadari palsunya lima agregat. Karena kita tidak mampu terbebas dari lima agregat, yaitu dari lima agregat, yaitu rupa, perasaan, persepsi, dorongan karma, dan kesadaran, maka kita disesatkan oleh wujud luar. Ini membuat perasaan kita bergejolak. Jadi, batin kita selalu bergejolak mengikuti kondisi luar. Rupa, perasaan, persepsi, dan dorongan karma membuat kita kehilangan kejernihan pikiran di dalam kehidupan sehari-hari. Lihatlah, bukankah masyarakat masa kini kacau akibat kekacauan pikiran? Pikiran kacau memicu berbagai perasaan. Saat bertemu berbagai kondisi luar, perasaan kita sulit dikendalikan. perasaan kita sulit dikendalikan. Perasaan ini berada dalam ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Kita tidak menyadari bahwa semua bersifat semu. Akibatnya, kesadaran pikiran kita terbuai kondisi luar dan menjadi kacau serta tidak tenang. Ini berarti kita belum mendobrak ilusi. Kita harus mendobrak empat kekeliruan, baru dapat mengatasi enam belas pandangan. Belum lama ini kita pernah membahasnya. Jadi, harap kita semua lebih bersungguh hati. Artinya, kita harus memiliki pikiran yang jernih dalam mengamati kondisi luar dan kondisi dalam diri. Kita harus memahami bahwa kontak antara indra dan objek bersifat semu.

Kita harus memahaminya dan tidak terbuai oleh kondisi luar yang semu itu. Yang kelima adalah teknik introspeksi. Artinya, kita harus melihat kembali refleksi batin kita. Kita harus dapat mengamati batin kita. Batin kita menjadi kacau akibat kondisi luar. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri. Saat batin terganggu oleh kondisi luar, kita harus segera mengembalikannya. kita harus segera mengembalikannya. Jadi, saat melihat kondisi luar, saat batin sudah bergejolak, kita harus segera berintospeksi dan mengembalikannya. Kita harus kembali menenangkannya. Teknik meditasi ini bertujuan agar kita dapat mengendalikan batin kita agar kita dapat mengendalikan batin kita dan membuat pikiran kita kembali tenang sehingga dapat mengamati pergerakan batin. Pikiran kita sering terpaku pada kondisi luar, tetapi kita juga harus mengamati ke dalam batin. Pikiran yang terpaku kondisi luar berarti selalu melihat ke luar dan sulit dikendalikan. Karena itu, kita harus selalu mengingatkan diri untuk melihat ke dalam batin. Jika pikiran kita berkeliaran, kita harus segera mengembalikannya. Inilah yang disebut teknik introspeksi, yaitu mengembalikan pikiran yang terpaku pada kondisi luar untuk kembali berintrospeksi. Karena itu, ada sebuah ungkapan berbunyi, “Kembali mengamati hakikat diri.” Artinya pun sama. Mata kita selalu melihat ke luar, tetapi kita pun seharusnya sering melihat ke dalam diri sendiri. Ini yang disebut kembali mengamati hakikat diri. Jangan biarkan pikiran kita kacau. Jika pikiran terpaku pada ilusi dan kekeliruan, maka kualitas pelatihan kita akan buruk. Yang keenam adalah teknik kemurnian. Murni berarti bersih. Saat bersentuhan dengan kondisi luar, pikiran kita tidak terbuai. Inilah teknik kemurnian. Batin kita tidak akan terpaku pada kondisi apa pun dan tidak akan terbuai oleh kondisi luar ataupun membangkitkan pikiran keliru. Pikiran keliru bersifat semu atau ilusif. Seperti lima agregat yang kita bahas tadi, yang kita sebut membelenggu batin kita. Ini menimbulkan pikiran keliru. Kita mampu menyadari kekosongan lima agregat, maka tidak akan timbul pikiran keliru. Jadi, pemahaman ini sangat penting.

Suatu hari saya pernah memberi tahu kalian kita harus mengurai segala sesuatu hingga nol. Berbagai kondisi luar yang kompleks hendaknya kita analisis dan uraikan hingga kita menemukan bahwa pada dasarnya tiada apa pun. Lima agregat pun hendaknya kita urai seperti ini. Jika tidak, rupa dan objek luar saja sudah cukup untuk membuat pikiran kita kacau. Jadi, kita jangan membiarkan pikiran kita melekat pada kondisi luar. Kita harus meluruskan kembali pikiran kita. Jangan biarkan kondisi luar mencemari batin kita. Dengan demikian, ini yang disebut ketidakmelekatan. Batin kita tidak melekat terhadap apa pun dan di mana pun. Dengan demikian, kemurnian akan dicapai. Kita akan mampu memahami mana yang nyata dan mana yang palsu. Kita akan memahami kekosongan sejati dan eksistensi ajaib. Batin kita yang murni sedikit pun tidak terpengaruh atau terintangi oleh kondisi luar. Jadi, kita harus mempraktikkan enam teknik ini untuk mengatasi kekacauan batin awam kita. Saudara sekalian, enam teknik ini adalah pintu bagi kita. Pintu untuk masuk ke mana? Masuk ke dalam kemurnian. Untuk mencapai kemurnian, harus memasuki enam pintu ini.

Pintu pertama adalah pintu penghitungan napas. Tujuannya adalah mengendalikan pikiran kita. Pintu kedua adalah pintu mengikuti napas, yaitu memperhatikan napas dengan saksama hingga tidak perlu lagi menghitung. Saat berjalan, berdiri, duduk, ataupun berbaring, kita tetap mengamati napas tanpa lupa. Yang ketiga adalah pintu penghentian. Artinya, kita harus memusatkan pikiran kita dalam meditasi. Yang keempat adalah pintu pengamatan. Kita harus memahami jelas kondisi luar dan tidak terbuai oleh semua itu. Yang kelima adalah pintu introspeksi, yaitu kembali mengamati ke dalam batin, tidak terus terpaku pada kondisi luar. tidak terus terpaku pada kondisi luar. Kita harus selalu memusatkan pikiran kita untuk kembali mengamati hakikat diri. Yang keenam adalah pintu kemurnian. Memurnikan pikiran adalah proses yang halus. Jika pikiran tidak terbuai kondisi luar, maka pikiran keliru atau pikiran pengganggu tidak akan muncul. Dengan begitu, pikiran kita akan tenang bagai air. Lihatlah, pada air yang tenang, kita akan dapat melihat bayangan dengan jelas. bayangan dengan jelas. Saat sebutir pasir jatuh ke dalamnya, air akan bergerak. Saat angin bertiup, air akan bergejolak dan bayangan pun tidak lagi terlihat.

Demikian pula dengan hakikat sejati kita. Jika hakikat sejati kita tertutup oleh noda akibat kondisi luar, maka kebijaksanaan yang murni tak akan muncul. Jadi, janganlah kita menghakimi penampilan luar. Kita harus menggunakan hati yang tulus dan pikiran yang tanpa noda dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Kita harus melihat bahwa dalam diri setiap orang terdapat sebuah Sutra yang dapat dipelajari. Inilah bahan pelajaran dalam hidup kita. Dengan demikian, kita akan memperoleh banyak kebijaksanaan. Jadi, kita harus berlatih dengan sungguh hati. Tiada cara lain, cara satu-satunya adalah lebih bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888