Sanubari Teduh-288-Lima Mata
Saudara se-Dharma sekalian, kita manusia pada umumnya, saat bertemu orang lain biasanya akan menanyakan kabar. Ada orang yang menjawab biasa saja. Mendengar jawaban ini, kadang kita merasa tidak puas. Namun, jika hidup dapat dijalani seperti biasa Namun, jika hidup dapat dijalani seperti biasa dengan lancar, dengan lancar, ini juga termasuk suatu keberuntungan. Umat Buddha sering mengaku amat menghormati dan ingin menjadi Bodhisattva Avalokitesvara yang berlengan dan bermata seribu. Sebaliknya, kita makhluk awam, jika mata kita bertambah satu, maka akan terlihat aneh. Ada kisah seorang anak di Rusia. Ibunya mengenang bahwa dia sempat mengalami kesulitan persalinan sehingga dokter menjalankan bedah sesar. sehingga dokter menjalankan bedah sesar. Saat anak ini dikeluarkan, dokter dan perawat sangat terkejut. Hampir semua orang di ruang operasi hendak berteriak karena terkejut. Anak ini memiliki organ lebih, yakni lebih sepasang mata, yang artinya dia memiliki empat mata. Jadi, pada saat itu, para dokter dan perawat di rumah sakit itu sangat bersimpati terhadap sang ibu.
Mereka bertanya-tanya apakah anak ini hendak dibawa pulang oleh ibunya. Tentu, saat melihat kondisi anaknya, sang ibu juga terkejut. “Mengapa anak saya berbeda dari anak-anak lain?” “Mengapa di wajah anak saya terdapat empat mata?” “Saya harus bagaimana?” Hatinya tentu sangat sedih dan takut. Para dokter dan perawat pun menghiburnya dengan berkata, “Kami mengerti perasaan Anda.” “Jika Anda ingin meninggalkan anak ini di rumah sakit, kami juga tidak keberatan.” Mendengar perkataan itu, sang ibu berpikir, bagaimana pun, anak itu adalah darah dagingnya. Meski orang-orang di RS tidak menyalahkannya jika ingin meninggalkan anaknya, tetapi berkat naluri keibuannya, sang ibu mengatasi kegundahan hatinya dan berkata, “Saya menginginkan anak ini.” Dia akhirnya membawa pulang anaknya. Cinta kasih seorang ibu sungguh mulia, tetapi suaminya tidak terlalu bisa menerima.
Setelah berselang beberapa waktu, karena tidak mampu menerima kondisi keluarga dan anaknya ini, maka sang ayah memilih untuk meninggalkan istri dan anaknya. Ibu ini tetap tegar dan menerima nasibnya. Dia bertekad bahwa apa pun yang terjadi, dia akan membesarkan anak ini dan berusaha mencari pengobatan untuk anaknya. Jadi, dia terus menunggu kesempatan. Akhirnya, dia dapat membawa anaknya ke kota untuk diperiksa oleh dokter. Setelah dokter memeriksanya, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa struktur saraf otak anak ini tidak memberikan fungsi pada sepasang mata yang lebih itu. Jadi, dokter menyarankan untuk terlebih dahulu menangani mata lebihnya itu. Ini sama dengan menutup dua dari empat jendela. Namun, bagaimana dengan dua mata lainnya? Namun, bagaimana dengan dua mata lainnya? Kornea dari dua mata ini harus diganti karena tidak berfungsi dengan normal. karena tidak berfungsi dengan normal. Akibatnya, segalanya terlihat buram dan tidak jelas bagi anak ini. Segala bentuk dan warna benda tak dapat dilihatnya dengan jelas. Namun, dia masih terlalu kecil untuk dioperasi. Operasi penggantian kornea harus menunggu hingga dia berusia 14 tahun. Saat berusia 14 tahun, anak ini baru bisa menjalani operasi penggantian kornea dan memiliki dua mata normal seperti orang lain.
Namun, dokter berkata, setelah korneanya diganti, apakah daya penglihatannya akan pulih total, dokter juga tidak bisa menjamin. Jadi, kelebihan dua mata pada diri anak ini sama sekali tidak membantu baginya. Sebaliknya, ini menjadi beban berat baginya. Terlebih lagi, sejak lahir, dia tak pernah melihat rupa ibunya. dia tak pernah melihat rupa ibunya. Jadi, anak ini sendiri juga terus berharap dia dapat segera dapat melihat dan hidup normal layaknya anak-anak lain. Hidup normal juga merupakan kebaikan. Sebagai manusia, jika dapat hidup normal dan biasa, berarti kita termasuk beruntung. Seluruh organ tubuh normal, semua anggota gerak lengkap, dan hari-hari dapat dilalui dengan biasa, bukankah ini sangat baik? Ya, tidak perlu meminta macam-macam. Jika kita dapat hidup menjalani hidup normal dan melewati hari-hari dengan bersahaja tanpa nafsu keinginan, ini adalah kehidupan yang penuh berkah. Bukankah ini yang Buddha ajarkan kepada kita? Jadi, kita dapat menanamkan lima akar dan menyucikan lima mata. Sebelumnya kita sudah membahas lima akar. Sekarang kita akan membahas lima mata. Lima mata meliputi mata fisik, mata dewa, mata kebijaksanaan, mata Dharma, dan mata Buddha. Inilah yang disebut lima mata. Mata fisik adalah mata yang biasa kita miliki pada tubuh sebagai makhluk awam. Kita semua dilahirkan dengan sepasang mata. Mata normal dapat melihat rupa. Seiring bertambahnya usia, wawasan kita semakin luas. Inilah mata fisik. Namun, mata fisik makhluk awam hanya dapat melihat jika ada cahaya. Mata fisik tak dapat melihat dalam gelap. Saat suatu benda tidak terhalang benda lain, kita dapat melihatnya, tetapi jika benda itu terhalang, kita tidak dapat melihatnya. Inilah mata fisik makhluk awam. Mata fisik makhluk awam ini, selain tidak dapat melihat dalam gelap, tidak dapat melihat benda yang terhalang, sesungguhnya fungsinya juga akan menurun seiring bertambahnya usia. Saraf mata kita juga semakin melemah seiring waktu.
Beginilah mata fisik mahluk awam, mengikuti fase lahir, tua, sakit, dan mati, mengalami perkembangan dan penurunan fungsi. Inilah yang disebut mata fisik yang dimiliki makhluk awam. Berikutnya adalah mata dewa. Mata dewa dimiliki oleh para dewa. Mata ini dapat melihat jauh dan dekat. Sebagai manusia, saat masih muda, kadang mata kita juga bisa mengalami gangguan yang disebut rabun jauh. Untuk mengatasinya, kita memakai kacamata. Dengan bantuan kacamata, kita bisa melihat jauh. Namun, mata dewa tidak memiliki batasan jarak. Sebagian orang tua malah tidak bisa melihat benda dekat. Benda jauh lebih terlihat jelas bagi mereka. Sebaliknya, para dewa tidak memiliki batasan ini. Mereka dapat melihat jauh dan dekat, pada saat siang ataupun malam. Demikianlah mata dewa. Berikutnya adalah mata kebijaksanaan. Mata kebijaksanaan dimiliki para Sravaka. Para Sravaka mampu menembus fenomena semu. Baik manusia awam maupun para dewa, sering kali masih terjebak oleh fenomena semu. Di dalam Sutra Agama juga terdapat banyak kisah tentang para dewa yang kerap iri hati. Melihat petapa yang melatih diri, mereka bisa berubah menjadi tentara Mara untuk menggoyahkan pikiran petapa itu.
Jadi, para dewa juga memiliki keterbatasan. Namun, para Sravaka mampu memahami yang nyata dan yang palsu. Mereka mampu memahami segala kebenaran dan mampu membedakan yang nyata dan semu. Jika tidak memahami kebenaran, kita mungkin menganggap yang semu sebagai nyata. Bukankah makhluk awam sering menganggap sesuatu yang semu sebagai nyata? Mereka menganggap nama, kedudukan, dan harta adalah sesuatu yang kekal. Sesungguhnya, mana ada yang kekal di dunia? Kita bisa melihat banyak orang di masyarakat yang dahulu sangat ternama dan memiliki banyak harta, bagaimana kondisi mereka kini? Mereka juga tak luput dari lahir, tua, sakit, mati. Kehidupan tidaklah kekal. Namun, makhluk awam terus bertikai untuk mencari siapa yang kalah dan siapa yang menang. Saat menang, mereka merasa bangga. Saat kalah, mereka tidak bergairah. Demikianlah manusia dan dewa, masih belum memahami kebenaran sepenuhnya. Karena itu, mereka masih terus bertikai. Sebaliknya, para Sravaka dapat memahami Dharma sehingga mampu menyadari kebenaran dunia. Kadang kita bertanya kepada orang lain, “Bagaimana perasaanmu belakangan ini?” “Saya sudah sadar.” Ya, saat sadar, hati kita akan terbuka. Jika tidak sadar, selamanya kita akan terbelenggu dan sangat menderita. Jadi, para Sravaka mampu melihat segala sesuatu secara terbuka dan memahami bahwa di dunia ini begitu banyak fenomena semu. Buddha mengajarkan kepada kita untuk menyadari kekosongan sejati, tetapi juga memahami eksistensi. Kebenaran tentang kekosongan dan eksistensi inilah yang merupakan kebenaran sejati. Namun, mata kebijaksanaan Sravaka hanya bisa menembus kekosongan fenomena. Mereka mampu memahami kekosongan. Inilah mata kebijaksanaan Sravaka, sedangkan berikutnya adalah mata Dharma Bodhisattva. Pandangan dan pemahaman Bodhisattva mampu menembus Dharma duniawi dan adiduniawi serta seluruh pintu Dharma. Inilah Bodhisattva. Mereka tidak hanya memahami kekosongan, tetapi juga memahami eksistensi ajaib. Karena itu, Bodhisattva bertekad untuk terjun ke tengah masyarakat. Namun, Bodhisattva juga masih memiliki ketidaktahuan yang sangat halus. Karena itu, sering dikatakan bahwa meski bulan terlihat bulat pada tanggal 15 Imlek, tetapi tidak sesempurna tanggal 16. Meski Bodhisattva sudah mencapai pencerahan, tetapi belum mencapai kesempurnaan. Karena itu, dikatakan bahwa Bodhisattva masih mencari jalan Buddha sambil membimbing semua makhluk. Mereka juga masih mencari ajaran Buddha. Mereka juga masih mencari ajaran Buddha. Inilah Bodhisattva. Jadi, Bodhisattva sudah memahami Dharma duniawi dan adiduniawi. Inilah yang disebut mata Bodhisattva. Mata Buddha adalah mata Tathagata. Mata Buddha mencakup kemampuan empat mata yang pertama tadi. Baik mata fisik, mata dewa, mata Sravaka, maupun mata Bodhisattva, semuanya tercakup dalam mata Buddha. Mata Buddha lebih sempurna dari empat lainnya. Buddha mengetahui segala kebenaran semesta. Tiada yang tidak diketahui-Nya. Inilah kebijaksanaan Buddha. Jadi, Buddha mampu mengamati kondisi semua makhluk di enam alam. Buddha mampu melihat semuanya tanpa terintangi. Jadi, mata Buddha mampu menjangkau semua. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha dengan tujuan pemahaman kita mendekati pemahaman Buddha. Karena itu, kita berharap untuk mencapai kesempurnaan lima mata ini. Berhubung kita masih makhluk awam, maka kita harus bergantung pada mata fisik untuk melihat kondisi dunia. Meski kita adalah makhluk awam, kita berharap kita tidak mengalami mata tua, rabun jauh, ataupun rabun dekat sehingga tetap dapat melihat dengan jelas. Namun, tadi kita juga sudah membahas bahwa mata dewa saja masih diliputi halangan, terlebih lagi mata fisik manusia awam. Makhluk awam masih terbelenggu ketakutan. Mereka takut jika orang lain berlatih dengan baik dan memperoleh berkah, lalu akankah merebut kedudukan mereka. Kisah seperti ini banyak di dalam Sutra. Meski kita tidak bisa melihat dewa, tetapi dari kisah di dalam Sutra Buddha, kita bisa memahami bahwa meski para mata dewa bisa melihat jauh dekat, tetapi pemahaman mereka kadang juga masih sempit. Ini juga tidak terlalu baik. tentu, kita harus lebih maju selangkah. Kita harus berusaha melampaui mata fisik. Kita harus memiliki kemampuan melihat tanpa rintangan seperti mata dewa. Kita juga harus berusaha mencapai pemahaman terhadap fenomena semu di dunia. Jika kita dapat berlatih hingga mampu menembus palsunya fenomena, maka hati kita akan terbuka. Apa yang dimaksud menembus? Contohnya, saat kita melihat bunga, apakah ia benar-benar bunga sejak awal? Sesungguhnya, bunga berawal dari sebutir benih yang kemudian ditanam di tanah, disiram air, diberi sinar matahari, dan faktor lainnya sehingga tumbuh, dan faktor lainnya sehingga tumbuh, lalu perlahan-lahan berbunga. Wujud bunga yang kita lihat ini, jika kita runut ke belakang, semuanya kembali pada nol. Bahkan benihnya saja juga berpulang pada nol. Benih ini mulanya juga berasal dari tanaman bunga. Jadi, ini adalah sebuah siklus yang berkelanjutan dari tidak ada menjadi ada, dari ada kembali pada tidak ada. Semua ini pada akhirnya akan berpulang pada nol dan juga akan terbentuk dari nol. Baik dari tidak ada menjadi ada maupun dari ada menjadi tidak ada, siklus ini terus berlanjut. Di dunia ini, segala hal memiliki siklus seperti ini. Jika kita mampu memahami ini, maka kita akan seperti Sravaka. Setelah mendengar satu kebenaran, kita akan mampu menembus segala hal. Inilah kebenaran di balik sekuntum bunga. Bukankah hal lainnya juga demikian? Misalnya, kita makan nasi. Apa itu nasi? Nasi berasal dari beras. Apa itu beras? Beras berasal dari gabah. Apa itu gabah? Gabah berasal dari padi. Apa itu padi? Rantai ini tiada habis-habisnya. Jika ditelusuri, semua juga kembali pada nol. Dari satu dua contoh ini, kita tahu bahwa segala sesuatu di dunia terus tumbuh dan terus lenyap. Menurut Anda, nasi atau gabah yang kita makan? Apa pun istilahnya, siklus tumbuh dan lenyap terus berlangsung. Perubahan dalam kehidupan ini bersifat semu. Namun, dapatkah kita mengabaikannya? Kita harus tetap meminjamnya sebagai pijakan. Jika kita terus melekat pada pandangan bahwa segala sesuatu bersifat semu dan palsu, bahwa segala sesuatu bersifat semu dan palsu, maka kita juga akan menyimpang. Jadi, pikiran kita harus mengakomodasi semuanya. Jika menganggap semuanya sebagai semu, lalu aktivitas berjalan, berdiri, duduk, berbaring, berpakaian, makan, tinggal, dan bepergian, apakah juga disebut semu? Ya, memang semu, tetapi apakah kita tidak perlu semua ini? Tidak bisa. Kita menggunakan fenomena semu ini untuk menuju kebenaran. Jadi, kita harus terlebih dahulu membuka hati dan mendengar. Setelah mendengar kebenaran, kita harus menyatu dengannya. Tadi kita sudah membahas mata Bodhisattva, yaitu mata Dharma yang dapat menembus segala sesuatu di dunia. Kita dapat melihat secara jelas fenomena semu, tetapi kita jangan menolaknya karena di baliknya terdapat eksistensi ajaib. Bodhisattva dapat memahami ini secara jelas, maka meminjam ilusi untuk mencapai kebenaran. Bodhisattva muncul karena ada makhluk yang menderita. Makhluk yang menderita hidup terombang-ambing Makhluk yang menderita hidup terombang-ambing di tengah fenomena semu ini. di tengah fenomena semu ini. Bodhisattva iba melihat semua ini. Selain memahami bahwa semuanya adalah semu, tetapi juga yakin terhadap ajaran Buddha bahwa di balik ilusi ini terdapat eksistensi ajaib. Kita semua memiliki eksistensi ajaib di dalam diri kita karena kita memiliki hakikat kebuddhaan. Kita harus tahu bahwa semua orang memiliki sesuatu yang tak pernah hilang. Meski tubuh ini bersifat semu, tetapi kita harus meminjam tubuh yang semu dan terus berubah ini. Tubuh kita terus mengalami proses perubahan dimulai dari masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, hingga masa tua. Di fase mana tubuh kita tidak berubah? Tubuh kita tidak pernah berhenti berubah. Tubuh kita tidak pernah berhenti berubah. Ini juga menunjukkan fenomena semu. Namun, di balik fase lahir, tua, sakit, mati, ada satu yang tidak pernah berubah sejak kita lahir hingga sekarang, yaitu hakikat sejati yang sering Buddha katakan. yaitu hakikat sejati yang sering Buddha katakan. Hakikat sejati ini benar-benar nyata. Inilah eksistensi ajaib. Setiap orang memiliki eksistensi ajaib ini. Jadi, di dalam Sutra Bunga Teratai bagian perumpamaan tentang si miskin dikatakan bahwa setiap orang memiliki permata, hanya saja tidak menyadarinya. Bodhisattva telah mengetahuinya. Inilah yang disebut mata Dharma. Mata Buddha lebih sempurna lagi. Beliau mampu menembus kondisi awam dan menyatu dengan seluruh alam semesta. Jadi, lima mata ini harus kita pahami di dalam proses pelatihan diri kita. Jadi, Saudara sekalian, mata fisik kita digunakan untuk melihat benda, tetapi jangan sampai kita terbuai olehnya. Saat memiliki daya penglihatan yang baik, janganlah kita melihat yang tak sepatutnya dilihat. Kita harus sungguh-sungguh melihat segala hal yang harus kita pelajari. Kita harus mengamati seluruh dunia baik yang jauh maupun yang dekat, bukan hanya sekitar kita. Lihatlah dunia saat ini, bagaimana kondisi orang-orang yang menderita? Bagaimana lingkungan hidup mereka? Bagaimana kita harus membantu mereka? Bagaimana kita memperbaiki kondisi dunia? Ini adalah pandangan jauh yang membutuhkan kebijaksanaan. Jangan biarkan batin terbelenggu apa pun. Jangan biarkan batin terbelenggu apa pun. Lihatlah segala sesuatu dengan jelas dan jangan bias. Untuk itu, kita harus memiliki mata Bodhisattva dan Buddha. Dibutuhkan kesungguhan hati setiap saat untuk dapat benar-benar memahami kebenaran. Intinya, tetaplah bersungguh hati.