Sanubari Teduh

Sanubari Teduh- 287-Menanam Lima Akar

Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menyelaraskan pikiran agar tenang bagai angin musim semi. Di musim semi, tanaman dapat tumbuh di bumi. Jika batin kita bagaikan musim semi, maka Dharma juga akan berkembang di dalam hati. Berbagai ajaran tak lain bertujuan untuk membimbing kita mengarah pada kebajikan dan menghentikan kejahatan. Pelaku kejahatan kelak akan terjatuh ke alam rendah. Buddha berharap kita dapat membimbing semua makhluk di lima alam dengan ajaran Buddha. Mengenai lima alam ini, sebelumnya sudah pernah kita bahas, yaitu alam surga, manusia, neraka, setan kelaparan, dan binatang. Selain alam surga dan alam manusia, yang lainnya disebut alam rendah. Untuk membimbing semua makhluk di lima alam, kita harus menanamkan lima akar. Dari lima akar, yang pertama harus kita bangun adalah keyakinan. Kita sering mendengar bahwa keyakinan adalah ibu dari segala pahala di jalan pelatihan. Jika kita ingin menyelami segala kebajikan, kita harus mulai dengan membangun keyakinan. Segala pelatihan di dalam Dharma dimulai dari keyakinan ini. Jika keyakinan menyimpang, maka penyimpangan sedikit saja dapat membuat kita jauh tersesat. Jadi, saat memilih keyakinan, kita harus memilih dengan sungguh-sungguh. Berhubung telah memilih keyakinan yang benar, maka jalan yang kita masuki juga akan benar. Jika telah memasuki jalan yang benar, dengan sendirinya langkah kita juga akan benar dan tidak akan kacau.

Jadi, pertama-tama kita harus mengembangkan akar keyakinan kita. Keyakinan ini harus teguh dan mengakar, Keyakinan ini harus teguh dan mengakar, barulah akan membuahkan hasil yang melimpah. Artinya, kita harus memiliki keyakinan yang teguh dan benar. Yang kedua adalah semangat. Tadi kita sudah membahas bahwa setelah memilih jalan yang benar, kita harus mulai melangkah. Langkah ini pun harus besar, barulah kita bisa menempuh perjalanan panjang. Kita juga sering membahas tentang waktu. Mengenai waktu, jika kita berhenti di tengah jalan, maka meski arah kita benar, maka meski arah kita benar, kita tidak akan memperoleh kemajuan. Meski arah kita benar, kita tidak akan maju. Kita berada di tataran makhluk awam, dan tujuan kita adalah tataran kebuddhaan. Meski kita sudah berdiri di titik awal menuju tujuan dan sudah mengarah ke arah yang benar, tetapi jika tidak melangkah maju, selamanya kita akan berjalan di tempat. Meski memiliki keyakinan yang benar, kita tetap harus maju melangkah dengan semangat. Setelah mulai melangkah, kita harus terus berjalan dan berlatih sesuai Dharma yang benar. Dengan begitu, barulah kita bisa terus maju dan tidak tercemar. Semangat mengandung arti tekun tanpa terganggu pikiran liar dan terus maju pantang mundur. Kita tetap melangkah maju. dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus terus maju. Berapa lama usia kehidupan kita? Tidak lama. Jika tidak semangat berlatih, maka sama dengan menyia-nyiakan waktu.Jadi, sebagai praktisi kita harus menghargai waktu.

Kita harus memanfaatkan waktu yang ada untuk menyelesaikan pelatihan kita. Yang ketiga adalah akar perhatian. Akar perhatian ini harus ada dalam Dharma yang benar. Dalam berlatih, kita harus selalu ingat bahwa kita harus terus maju. Jika pikiran kita tidak teguh, jika kita tidak selalu mengingat tekad kita, maka pikiran keliru akan mudah muncul dan kita tidak tahu harus berjalan ke arah mana. Meski kita memiliki keyakinan dan arah kita benar, tetapi tanpa perhatian dan keyakinan yang teguh, maka dalam perjalanan ini, kita juga dapat berjalan menyimpang. Jadi, akar perhatian dan keyakinan benar harus dijaga saat kita terus melangkah maju. Jadi, pikiran kita harus selalu ingat akan hal ini. Keyakinan benar ini hendaknya bukan hanya bertahan selama beberapa hari. Bukan. Bukan sehari, lima hari, atau sebulan. Kita harus selalu ingat sampai selamanya. Inilah yang disebut akar perhatian. Akar ini pun harus tertanam dalam. Berikutnya adalah akar konsentrasi. Arti dari konsentrasi adalah keteguhan pikiran. Meski kita memiliki pikiran yang selalu berfokus dan tidak lupa, tetapi jika tidak teguh, juga akan mudah goyah. Jika pikiran kita bisa teguh, barulah perhatian dan konsentrasi tercapai. Inilah yang disebut kekuatan samadhi. Jika memiliki tekad tanpa kekuatan samadhi, maka pikiran kita akan mudah terpecah.

Jika kekuatan samadhi tidak cukup, kita akan mudah terpengaruh oleh orang lain. Sebuah ungkapan berbunyi, “Mulanya ingin membimbing semua makhluk, malah mudah terpengaruh oleh semua makhluk.” Jadi, ketika terjun ke tengah masyarakat, kita tidak boleh kekurangan akar keyakinan, akar semangat, akar perhatian, dan akar konsentrasi. Jika semua akar ini terpenuhi, barulah kita dapat memiliki akar kebijaksanaan. Kebijaksanaan berarti mampu melihat seluruh Dharma dengan jelas. Keyakinan kita harus teguh. Ibarat sebatang pohon, bisa tumbuh meluas atau tertanam semakin dalam. Baik meluas ataupun mendalam, semuanya bergantung pada akar. Dengan adanya akar, barulah pohon ini bisa kokoh. Jadi, jika akar kita kokoh, maka kebijaksanaan akan terbuka. Tujuan pelatihan diri adalah menyempurnakan kebijaksanaan. Jika tidak memiliki kebijaksanaan, maka sekeras apa pun usaha kita, penyimpangan, ketidaktahuan, penyimpangan, ketidaktahuan, atau kelalaian. tetap mungkin terjadi. Dengan kebijaksanaan, barulah kita dapat menjaga lima akar kita untuk tetap kokoh. Jadi, kebijaksanaan sangat penting.

Jika kita memiliki kebijaksanaan, maka baik lima penutup yang pernah kita bahas maupun berbagai noda batin lainnya akan dapat dilenyapkan. Dengan melenyapkan berbagai noda batin, barulah kita dapat menumbuhkan lima akar. Jika lima akar ini semakin mendalam dan meluas, maka dalam segala yang kita lakukan ataupun ikrar yang kita praktikkan, batin kita akan tetap teguh dan segala tindakan kita di luar tak akan menyimpang. Kita tidak akan diliputi noda batin dan lima penutup. Jika dapat menegakkan lima akar, dengan sendirinya kita akan menumbuhkan pahala. Dengan pelatihan ke dalam diri dan praktik ke luar, membuat pelatihan diri kita terus berjalan. Ada orang yang merasa pelatihan diri ini sangat mudah. Namun, ada orang yang juga tahu bahwa untuk memperkokoh lima akar ini sungguh tidak mudah, apalagi untuk melenyapkan lima penutup. Orang yang sudah berlatih puluhan tahun pun belum tentu bisa melakukannya. Sesungguhnya, tidak mudah itu karena lima akar kita tidak berkembang bersamaan. Jika lima akar ini berkembang merata, ada keyakinan, ada semangat, ada perhatian, dan ada konsentrasi, ada keyakinan, ada semangat, ada perhatian, dan ada konsentrasi, maka pikiran kita akan sangat stabil dan tidak akan ada kesulitan. Pembahasan ini hanya sebatas kata-kata. Tanpa benar-benar menyelaminya, kita tak akan tahu keindahannya.

Di Tzu Chi ada sebagian relawan yang melatih diri dengan berbagai metode untuk menyelami kebenaran. Sebelumnya kita sudah membahas lima akar dalam pelatihan diri. Bagaimana kita menapaki jalan ini? Ada banyak cara. Di antaranya adalah pelestarian lingkungan. Lihatlah posko daur ulang kita. Di posko daur ulang ada berbagai orang dengan beragam daya tangkap. Namun, seperti apa pun sifat dan kemampuannya, mereka sama-sama berada di posko daur ulang. Di sana mereka mengembangkan akar keyakinan, semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan masing-masing. Akar mereka juga sangat teguh. Mengapa demikian? Karena mereka memegang teguh tekad. Para relawan sangat memegang teguh tekad. Tekad apa? Mereka tahu bahwa kini pencemaran udara dan kerusakan bumi terus terjadi. Semua orang juga tahu bahwa kita hidup bergantung pada bumi ini. Segala sumber daya di bumi memberi kita alat pemenuhan kebutuhan hidup yang cukup. Udara yang ada mutlak dibutuhkan untuk kehidupan kita semua. Selain itu, agar tanaman bisa tumbuh di bumi, udara juga diperlukan. Kita memiliki empat musim, yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin.

Di tiap musim tumbuh tanaman yang berbeda-beda yang dapat menyokong kehidupan manusia. Akan tetapi, udara juga sudah tercemar sehingga iklim pun menjadi tidak normal. Jadi, dibutuhkan usaha semua orang untuk menyelamatkan dan menjaga bumi serta menghilangkan polusi udara. Semua ini harus dimulai dari pelestarian lingkungan. Semua orang sudah sadar akan hal ini. Kegiatan ini melelahkan dan dekat dengan kotoran, tetapi demi bumi ini, demi mengembalikan keselarasan iklim, demi mengurangi pemanasan global, dll,, semua orang melakukannya dengan sukarela. Tak peduli lanjutnya usia atau tingginya tingkat pendidikan, mereka semua sangat bersungguh hati.

Contohnya, jika kita berkunjung ke posko daur ulang, kita akan dapat menemukan banyak penemuan yang bijaksana. Di Kaohsiung misalnya, saat semua orang melakukan pemilahan, kita dapat melihat baik orang tua maupun anak muda sangat penuh rasa sukacita. Mereka mengelilingi sebuah “ban berjalan”. Suatu ketika, saat melihatnya, saya bertanya-tanya siapa yang menemukan cara itu. Semua orang berdiri mengelilingi ban yang digunakan untuk mengoper barang. Semua orang tinggal berdiri di kedua sisi, lalu memilah botol plastik yang berada di atas ban, apakah berwarna hijau, putih, cokelat, berbahan aluminium, besi, dan sebagainya. Semuanya dilakukan dengan cepat. Saat barang-barang diletakkan di atas ban berjalan, orang-orang mulai memilah dan mengopernya. Mereka sangat bersungguh hati. Semua cara ini berawal dari seorang relawan bernama Wang Chun-xiong. Dia memiliki keahlian dalam pekerjaan tertentu. Berhubung ada relawan daur ulang kita yang mengajaknya untuk membantu di posko, dia pun merasa bahwa kegiatan itu sangat bermakna. Menyadari pentingnya pelestarian lingkungan, dia pun merasa bahwa sebagai penghuni bumi, kita harus menyayangi bumi ini. Kita harus menghargai segala sesuatu. Jadi, dia merasa kegiatan ini sangat bermakna.

Dia memanfaatkan waktunya sepulang dari bekerja untuk datang ke posko daur ulang. Dia pun melihat banyak relawan lanjut usia atau mereka yang tidak leluasa bergerak. Dia melihat mereka harus membungkuk, berjongkok, atau duduk seharian untuk memilah barang daur ulang sehingga kesulitan saat akan berdiri. Ada pula yang tidak leluasa untuk berjongkok. Ada pula orang yang harus memakai alat bantu untuk berjongkok dengan satu kaki direntangkan dan kaki lain ditekuk. Mereka sangat kesulitan untuk duduk. Melihatnya, dia sangat terharu sekaligus tidak tega. Karena itu, dia berpikir untuk mencari cara yang lebih efektif dan efisien agar beban para lansia dan orang-orang yang tak leluasa bergerak dapat lebih ringan. Dia terpikiralangkah baiknya jika tinggi dari tempat pemilahan bisa disesuaikan agar orang-orang bisa bekerja sambil berdiri sehingga  tidak perlu berjongkok atau membungkuk. Dia sungguh-sungguh berpikir sehingga terpikir untuk membuat ban berjalan dari barang daur ulang sebagai tempat pemilahan. Dia lalu membuatnya dari barang yang ada di posko. Jika barangyang diperlukan tidak ada, dia mengeluarkan biaya sendiri untuk membelinya. Dia terus memperbaiki alat buatannya itu hingga semakin sempurna. Saat saya melihatnya, saya sungguh merasa kagum. Saya juga melihat semua orang bekerja dengan gembira dan relaks. Alat itu juga semakin disempurnakan dan disebarkan dari Kaohsiung ke utara. Sesmua orang sangat gembira dan dapat bersumbangsih dengan lebih baik. Ini membutuhkan keyakinan dan semangat. Dia yakin bahwa bumi ini butuh uluran tangan kita. Dia juga memiliki semangat untuk meneliti dan menemukan sebuah alat. Dia juga tidak melupakan niat pertamanya. Dia harus mengingat niat ini dalam jangka panjang. Dia harus mengingat niat ini dalam jangka panjang. Dia juga harus bertekad besar untuk menyelesaikan penelitiannya. Inilah kebijaksanaan.

Demikianlah relawan daur ulang ini mempertahankan keyakinan dengan teguh dan terus bersemangat untuk membuat penemuan yang bijaksana. Ini sungguh membuat orang tersentuh. Tentu masih ada penemuan lainnya yang dibuat di posko daur ulang. Ini disebut pengetahuan ilmu pasti dan seni. Saat bekerja, dia sangat bersungguh hati. Jadi, lima akar tidak boleh kurang satu pun untuk bisa menyelesaikan suatu hal. Intinya, Bodhisattva ada di alam manusia ini. Di tengah-tengah kita banyak terdapat Bodhisattva. Singkat kata, mempelajari ajaran Buddha bukan hanya demi pencapaian pribadi. Kita harus terjun ke masyarakat untuk membawa manfaat bagi orang banyak. Selain memberi manfaat bagi diri sendiri, kita juga harus mengasihi bumi demi memperbaiki kondisi iklim. Inilah yang dilakukan Bodhisattva untuk menyelamatkan dunia. Saudara sekalian, jangan enggan melakukan hal kecil. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memperhatikan hal besar ataupun kecil. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888