Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-286-Empat Ketidakgentaran Bodhisattva Bagian 3

Saudara se-Dharma sekalian, sebelumnya kita sudah membahas bahwa untuk mencapai ketidakgentaran, kita harus menjunjung semua Dharma, juga harus selalu mengingat semua Dharma. Segala Dharma di dunia ini harus kita ketahui. Setelah mengetahuinya, kita tidak boleh lupa. Selain itu, arah kita harus sangat tepat. Janganlah ada ketakutan. Tanpa kerisauan dan noda batin, kita tidak akan gentar. Untuk itu, kita harus menjunjung segala Dharma dan mempertahankan segala kebajikan. Dengan begitu, kita tak akan gentar membabarkan Dharma. Kita harus bersukacita dalam pemahaman Dharma. Dengan begitu, barulah kita bisa memahami watak yang dimiliki semua makhluk beserta noda batin dan penyakit batin mereka. Dengan demikian, kita baru bisa memberi obat yang sesuai agar mereka juga turut membangkitkan rasa sukacita dan noda batin mereka dapat terurai. Jika kita tidak memahami berbagai Dharma, maka tidak dapat memberi bimbingan yang sesuai. Kita harus memberi bimbingan sesuai daya tangkap masing-masing orang. Kita juga harus mengetahui segala Dharma, barulah bisa menjawab kebutuhkan semua makhluk. Kita harus menaruh minat dan bersukacita dalam Dharma. Jika kita dapat memberi bimbingan yang sesuai untuk mengurai kerisauan dalam hati mereka, maka mereka akan bersukacita. Cara untuk mengubah pola pikir seperti ini tidak boleh tidak kita ketahui. Kita juga harus mampu menjawab dengan baik. Di dunia ini ada banyak orang yang sengaja bertanya untuk mencari masalah. Inilah pertanyaan yang memicu perdebatan.

Di dunia ini banyak hal seperti ini. Pada zaman Buddha pun demikian. Menghadapi tantangan seperti ini, jika kita tidak mengetahui banyak Dharma, kita tidak akan mampu menjawab. Jika jawaban kita tidak mengena atau sesuai, ini juga akan membawa masalah. Berikutnya, “Mampu mematahkan keraguan.” Kita harus tahu akan segala hal. Jika tidak, batin kita akan dipenuhi ketakutan. Jika orang-orang bertanya kepada Anda, “Apa nama bunga ini,” kita lalu menjawab, “Ini mungkin bunga mawar,” tetapi sesungguhnya itu bukan bunga mawar, melainkan bunga peoni, maka jawaban kita berarti tidak tepat. Jika begini, saat menjawab kita juga merasa kurang yakin. Jadi, saat melihat apa pun, kita harus mencari tahu dan berusaha memahami. Dengan begitu, kita akan memahami kebenaran. Jika kita dapat memahami kebenaran, maka kita akan dapat mengatasi segala rintangan. Tanpa pengetahuan akan kebenaran, kita akan banyak menghadapi rintangan. Jadi, ada sebuah cerita.

Menurut legenda, pada masa dinasti Qing, suatu ketika Kaisar Qianlong keluar istana dengan pakaian biasa untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Beliau melewati ladang-ladang di desa. Ladang-ladang itu ditanami sorgum. Ladang-ladang itu ditanami sorgum. Pada saat itu, sorgum tengah berbunga. Bunga sorgum tertiup angin dan sangat indah. Begitu angin bertiup, bunga sorgum pun bergerak tertiup angin. bunga sorgum pun bergerak tertiup angin. Begitulah setiap kali angin bertiup. Ia bagaikan hamparan rerumputan hijau yang membentuk lautan. Kaisar Qianlong memetik setangkai bunga sorgum. Kaisar Qianlong memetik setangkai bunga sorgum. Saat sedang melihat dan menikmati keindahannya, seorang nenek tiba-tiba muncul. Melihat di tangan Kaisar ada setangkai bunga sorgum, nenek ini sangat marah dan mulai memaki. Dia berkata, “Masa-masa sekarang adalah waktu bagi sorgum untuk berbunga.” “Jika kau sembarangan  mematahkan setangkai, apakah kamu tidak tahu bahwa berarti kamu membuang makanan?” “Tahukah kamu berapa banyak sorgum yang dihasilkan dari setangkai?” “Tahukah kamu betapa sulitnya kami bekerja untuk menanamnya?” “Kami bekerja begitu keras hanya demi memiliki panen yang baik, kamu malah sembarang merusaknya.” “Kamu sungguh tidak tahu kebenaran.” Nenek ini terus memaki. Saat itu, bagaimana Kaisar Qianlong yang dimaki oleh nenek ini menjawab? Beliau tidak tahu bahwa itu adalah tanaman sorgum. Meski beliau sendiri juga mengonsumsinya, beliau tidak tahu wujud tanaman itu. Beliau pun segera membungkuk dan meminta maaf. Namun, nenek itu masih terus memakinya. Kemudian, setelah kembali ke istana, Kaisar Qianlong menggelar rapat pada pagi hari. Beliau berkata kepada para pejabatnya, “Coba kalian tebak, apakah yang paling berharga dan penting di dunia ini?” Ada orang menebak bahwa yang paling berharga adalah emas dan perak. Ada orang yang menebak bahwa kasih perasaan dan keadilanlah yang terpenting. Ada pula orang yang berkata bahwa yang terpenting adalah cinta kasih. yang terpenting adalah cinta kasih. Semua orang sudah menjawab, Semua orang sudah menjawab, tetapi tidak ada yang benar menurut Kaisar. Kemudian, Kaisar Qianlong memberikan jawabannya. “Kalian semua salah.” Yang terpenting di dunia adalah kebenaran. Yang terpenting di dunia adalah kebenaran. Yang terpenting di dunia adalah kebenaran. Kebenaran ini tidak akan bisa digoyahkan.

Saudara sekalian, bukankah demikian? Kita harus berpegang pada kebenaran. Kita harus tahu bahwa segala sesuatu di dunia mengandung berbagai prinsip kebenaran. Karena itu, meski Konfusius berpengetahuan tinggi, tetapi saat masuk ke kuil, beliau tetap bertanya. Suatu ketika, saat pergi ke desa, beliau juga bertanya pada petani dengan rendah hati tentang kapan waktu menanam, kapan waktu mencabuti gulma, kapan waktu mencabuti gulma, dan sebagainya, termasuk bagaimana agar panen menjadi baik. Demikianlah, bahkan Konfusius masih bertanya tentang ilmu pertanian kepada petani tentang ilmu pertanian kepada petani atau tata krama kepada ahli di kuil. atau tata krama kepada ahli di kuil. Jadi, apakah segala sesuatu di dunia ini dapat kita ketahui seluruhnya? Belum tentu. Seperti saya yang pernah bercocok tanam, saat mendengar cerita ini, saya tahu bahwa saat Kaisar Qianlong memetik setangkai bunga sorgum, memetik setangkai bunga sorgum, beliau bukan hanya merusak setangkai, melainkan saat memetik, beliau juga akan membuat serbuk sari menyebar. Ini sama seperti tanaman padi. Sebelum padi berbuah, saat bunganya mekar, jika kita mengusiknya, maka serbuk sari akan berjatuhan sehingga buah yang dihasilkan tidak berisi. Inilah yang disebut tangkai kosong. Jika tangan kita mengusik tanaman itu, apalagi memetiknya, maka yang terusik bukan hanya satu tangkai. Pantas saja nenek itu marah. Pantas saja nenek itu marah. Dia sudah bekerja keras selama setahun untuk menanti panen sorgum yang baik. Namun, karena diusik oleh Kaisar, sebuk sarinya berjatuhan. Bagaimana mungkin dia tidak marah? Ini adalah sikap yang wajar sebagai manusia. Tindakan nenek itu cukup masuk akal. Kemarahannya cukup beralasan. Meski Kaisar Qianlong berkedudukan tinggi, beliau melakukan tindakan yang tidak seharusnya, berarti melanggar kebenaran. Kaisar Qianlong pun terus membungkuk untuk meminta maaf.

Jadi, jika kita memahami kebenaran, maka tiada rintangan di dunia ini. Seperti Kaisar Qianlong yang bertemu nenek tadi, berhubung beliau tidak paham kebenaran dari tanaman itu, maka beliau harus bertemu kesulitan. Jadi, kita harus tahu bahwa Buddha membimbing kita dengan harapan kita dapat memahami berbagai hal setelah mendengar satu ajaran. Karena itu, bukankah dalam Sutra Makna Tanpa Batas dikatakan bahwa dari satu dapat tumbuh menjadi tak terhingga? Dari satu dapat tumbuh menjadi miliaran. Artinya, jika kita memahami satu kebenaran, dari sana kita akan dapat menggali dan mengetahui lebih banyak lagi, bahkan sampai tak terhingga. Dengan demikian, setiap langkah kita akan mantap tanpa rasa takut. Bagaimana kita menapaki jalan ini? Kita tidak akan takut tersesat. Jadi, kita harus mencapai empat ketidakgentaran. Kita harus menjunjung dan mengingat Dharma, jangan setelah belajar, kita lalu melupakannya. Jika demikian, kita hanya akan berjalan di tempat. Kita harus tekun dan bersemangat. Dalam hal apa pun, kita tidak boleh malu bertanya. Janganlah berpikir, “Mengapa saya harus bertanya padanya?” Jangan begitu. Kita harus mencari tahu, mencari pemahaman, dan terus bersemangat. Jika kita ingin mempelajari sesuatu, kita harus memahaminya secara menyeluruh. Inilah tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan. Kita telah membahas ini sebelumnya. Kita harus mencapai semua ini. Dengan demikian, kita akan memahami kebenaran. Orang yang tidak memahami kebenaran berarti diliputi kebodohan dan kegelapan batin. Ini karena batin kita tidak terbuka. Saat kita melakukan tindakan kecil, memiliki kerisauan kecil, tabiat buruk kecil, atau sedikit temperamen buruk, kadang kita merasa itu hanyalah hal kecil dan bukan masalah. Namun, jika hal-hal kecil ini terus dipupuk, maka noda batin ini dapat menutupi tiga kebijaksanaan. Cahaya kebijaksanaan kita akan tertutup selapis demi selapis. Jadi, kita harus terus belajar. Dharma bagaikan air. Kita harus terus berusaha memahami Dharma, barulah kita dapat menyelami kebenarannya. Jadi, kita harus terus menyelami Dharma, seperti terus menyirami kegelapan batin kita dengan air.

Dengan kebenaran, barulah noda batin dapat dibersihkan. Jadi, kita harus senantiasa bertobat. Kita harus bertobat atas segala tabiat buruk kecil atau tindakan kecil yang sering kali kita anggap sepele. Kita mungkin hanya melakukannya satu dua kali, lalu berpikir tidak apa-apa jika sekali lagi. Jika terus begini, maka akan terus ada lain kali. Meski kita hanya melakukannya sekali, noda batin dan tindakan tercela itu tetap ada. Sama seperti tanaman sorgum tadi. Meski Anda hanya memetik satu tangkai, tetapi bisa memengaruhi seluruh tanaman hingga mengalami tangkai kosong. Lagi pula, sekai disentuh, kita tidak tahu seberapa luas yang akan terpengaruh. kita tidak tahu seberapa luas yang akan terpengaruh. Jadi, meski tindakan hanya dilakukan sekali, kerugian yang didapat akan sangat besar. Karena itu, kita harus selalu berpegang pada kebenaran. Kita harus berusaha mencapai tiga penembusan. Batin kita harus memahami dan menembus segala hal dengan jelas. dan menembus segala hal dengan jelas. Untuk itu, kita harus bertobat. Dengan bertobat setiap hari, barulah kita tidak akan melakukan kesalahan. Setelah bertobat, janganlah mengulangi kesalahan. Jadi, kita harus bertobat. Kini kita akan membahas pertobatan atas lima penutup. Jika kita dapat memurnikan lima penutup ini, barulah pahala akan tumbuh. Artinya adalah “lima alam terselamatkan, lima akar tertanam, lima mata tersucikan, dan lima bagian tercapai”. Mengenai menyelamatkan lima alam, sebelumnya kita sudah membahas alam surga, manusia, neraka, setan kelaparan, dan binatang. Makhluk di alam-alam kehidupan ini harus kita selamatkan. Kita harus terlebih dahulu melenyapkan noda batin untuk dapat terjun dan membimbing semua makhluk. Lima penutup adalah lima jenis noda batin.

Lima penutup ini terdiri atas ketamakan, kebencian,  rasa kantuk,  kegelisahan, dan keraguan. Semua ini disebut lima penutup. Saya sering membahas tentang ketamakan kebencian, dan kebodohan. Rasa kantuk termasuk kebodohan. Begitu pula kegelisahan dan keraguan. Semua ini adalah noda batin. Istilah lainnya adalah lima penutup. Lima hal ini adalah noda batin akar kita, dapat menutupi dan menghalangi segalanya. Jelas-jelas kita mengetahui banyak kebenaran, tetapi karena munculnya lima noda batin ini, tetapi karena munculnya lima noda batin ini, cahaya pengetahuan kita akan tertutup. Jadi, lima penutup ini membuat kita menutupi kebijaksanaan kita yang pada dasarnya sudah ada. Apa yang menutupi kebijaksanaan kita? Apa yang menutupi kebijaksanaan kita? Kita seharusnya mengetahui kebenaran, tetapi karena adanya lima penutup ini, kita menjadi ragu apakah Dharma ini benar atau tidak. Banyak pula orang yang mengetahui kebenaran, tetapi takut tidak dapat menjalankannya. Contohnya, ada orang yang saat ingin pindah rumah harus mencari hari baik. Batinnya diliputi ketakutan, maka tidak berani pindah di sembarang hari. Ini berarti belum benar-benar memahami kebenaran. Jika kita benar-benar memahami kebenaran, maka setiap hari adalah hari baik, setiap waktu adalah waktu baik, dan setiap arah adalah arah keberuntungan. Jika dapat memahami kebenaran, tidak ada yang kita takutkan, setiap hari sama saja. Kita tidak akan terbelenggu oleh takhayul. Ada orang berkata dirinya ingin melatih diri. “Saya ingin melatih diri, saya juga ingin mencari banyak Dharma agar di kehidupan mendatang saya memperoleh banyak kebaikan.” “Saya ingin mencari sebuah dunia masa depan yang ideal.” “Kamu mau ke mana?” “Saya ingin mencari dunia masa depan yang ideal.” “Di mana dunia yang ideal?” “Ada, Tanah Sukhavati.” “Bukankah di sebelah barat ada Buddha Amitabha yang menciptakan Tanah Suci Sukhavati?”

Jika saya ditanya hal ini, saya akan menjawab, “Ada.” “Saya ingin terlahir di Sukhavati.” Saya menjawab, “Baik.” “Bagaimana caranya?” “Tetap saja Anda harus segera melatih diri.” “Tetap saja Anda harus segera melatih diri.” “Bagaimana caranya?” “Saya harus segera melafalkan nama Buddha.” Baik. Melafalkan nama Buddha memang bisa terlahir di Sukhavati. Jika Anda benar bisa menjaga keteguhan pikiran hingga 7 hari, 21 hari, 49 hari, hingga 7 hari, 21 hari, 49 hari, maka saat itu juga Anda akan berada di Tanah Suci. saat itu juga Anda akan berada di Tanah Suci. Apa perlu pergi ke Tanah Suci lain? Apakah Anda bisa terlahir di sana? Untuk terlahir d sana, tidak boleh kurang akar kebajikan dan berkah. Jika tidak memiliki akar kebajikan dan berkah yang cukup, Anda juga tidak bisa terlahir di sana. Dengan kata lain, kita harus tetap mengembangkan akar kebajikan dan berkah. Akar kebajikan harus didasari ketidakgentaran. Akar kebajikan harus didasari ketidakgentaran. Batin harus bebas dari rasa takut. Untuk mencapai itu, kita harus menjunjung segala Dharma dan mempertahankan segala kebajikan. Dengan begitu, barulah kita memperoleh akar kebajikan besar. Jadi, batin kita harus selalu tenang tanpa kegelisahan. Jika batin dipenuhi kegelisahan, dengan sendirinya akan timbul keraguan. Jika di dalam pelatihan diri ada keraguan, kita tak akan bisa menggenggam saat ini dan mempertahankan tekad. Waktu kita sangat terbatas. Jika pikiran terpecah, bagaimana kita berlatih? Jadi, pertama, kita harus melenyapkan lima penutup. Kita harus melenyapkan penutup batin kita agar cahaya kebijaksanaan tampak. Dengan demikian, coba bayangkan, hal apa lagi yang tidak kita pahami? Singkat kata, mempelajari ajaran Buddha berarti harus melenyapkan noda batin. Dengan demikian, barulah bisa memperoleh segala Dharma tanpa rasa gentar. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. Dengan kebenaran dan Dharma, kita harus selalu membersihkan kotoran batin. Inilah yang terpenting. Jadi, dengan memahami kebenaran, tiada rintangan di dunia. Tanpa pengetahuan, kita akan menghadapi banyak rintangan. Karena itu, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888