Sanubari Teduh-315-Lima Kecenderungan Tajam
Saudara se-Dharma sekalian, sering dikatakan, Artinya, janganlah mencari kesenangan sesaat atau melekat pada keakuan, paham nihilisme, ataupun eternalisme. Kita sering berbuat sesuka hati. Kita merasa orang lain harus menuruti kita. Jika tidak, kita akan merasa tidak senang. Ada pula orang yang melekat pada kekekalan. Mereka berpikir, “Sekarang saya hidupsebagai manusia, maka meski berbuat kesalahan dalam hidup ini, kelak saya akan tetap terlahir sebagai manusia.” “Jika saya berutang padamu dalam hidup ini, saya masih bisa membayarnyapada kehidupan mendatang.” Mereka mengira bahwa jika dalam kehidupan initerlahir sebagai manusia, maka selamanya mereka akanterlahir sebagai manusia. Sebaliknya, sering dikatakan, “Sekali kehilangan tubuh manusia,sulit mendapatkannya kembali.” Jadi, jangan melekat pada eternalisme, tetapi juga jangan melekat pada nihilisme. Jangan mengira tidak ada hukum sebab akibat. Ini juga tidak benar. Mungkin ada orang yang juga selalu berkata, “Saya sangat berjaya dan terpandang, saya sangat gembira.” Dia tidak berpikir kemegahan itu didapat dengan cara apa, juga tidak berpikir kemegahan itu didapat berkat kontribusi orang lain
Dia sering menghadiri jamuan. Di sana, tak tertutup kemungkinan untuk mengenal teman-teman yang kurang baik. Teman-teman ini perlahan-lahan menariknya ke jalan yang berbahaya. Sumber kesalahan pun lambat laun semakin dekat. Jadi, jika teman yang merugikan semakin banyak, maka sangatlah berbahaya. Jika ingin menilai seseorang, kita dapat melihat teman-temannya lebih dahulu. Bagaimana kondisi teman-temannya? Jika dia bergaul dengan teman-teman yang jahat, maka kita harus berhati-hati. Jika dia bergaul dengan teman-teman yang baik, maka orang itu patut kita percayai. Jadi, jika menyimpang sedikit saja,kita akan jauh tersesat. Sebersit pikiran menyimpang dapatmenyebabkan berbagai kesalahan. Kita harus sangat hati-hati. Jadi, di dalam teks dikatakan, Penggalan ini mengingatkan kita agar tak melekat pada nihilisme ataupun eternalisme. Semua ini adalah noda batin. Tadi kita baru membahas bahwa orang yang melekat pada nihilismetidak mengakui hukum sebab akibat
Setelah kehidupan ini berakhir, ada kehidupan selanjutnya. Namun, mereka tidak mengetahuinya. Kita sering membahas tentanglima atau enam alam kehidupan. Setelah meninggal dan kehilangan tubuh ini, kita akan menuju kelahiran berikutnyasesuai karma. Inilah yang harus selalu diingat oleh umat Buddha. Kelahiran sebagai manusiasungguh tidak mudah didapat, sangat sulit. Namun, banyak orang melekat pada kekekalan. Mereka yang melekat pada nihilisme berkata, “Tidak ada, tidak ada kehidupan selanjutnya.” “Tidak ada.” “Tidak ada hukum sebab akibat.” Inilah sikap mengabaikan hukum karma. Sebaliknya, ada orang melekat pada kekekalan. “Apa yang dilakukan pada kehidupan inisudah terjadi, jika memang benar ada hukum karma,itu urusan nanti.” Inilah orang yang melekat pada eternalisme. Setelah melakukan kesalahan, kita hendaknya segera berubah. Kita harus segera berubah dan memperbaiki diri agar kesalahan tidak bertambah banyak. Kita hendaknya dapat menyadari kesalahan dan segera berintrospeksi. Atas kesalahan masa lalu, kita harus segera bertobat
Jika melekat pada nihilisme atau eternalisme, kita selamanya tak akan bebas dari noda batin. Kita juga harus berhati-hati terhadap teman seperti ini. Jika kita berada dekat dengan teman seperti ini, maka mereka akan dapat menyeret kita ke dalam pandangan sesat. ke dalam pandangan sesat. Ada orang yang tidak tahu dan tidak mengerti keyakinannya sendiri. Saya juga pernah mendengar seorang staf berkata, “Sesungguhnya, apa keyakinan saya?” “Saya mengaku beragama Buddha.” “Ada pula yang mengajak saya mempelajari keyakinan atau agama tertentu.” keyakinan atau agama tertentu.” “Saya sendiri juga tidak jelas.” “Yang penting bagi saya adalah ketenangan batin.” “Saya hanya mencari ketenangan batin.” Bagaimana agar batin ini bisa tenang? Kita sendiri harus percaya pada diri sendiri. Jika kita tidak melakukan kesalahan, maka selamanya kita akan dapat merasa tenang. Bagaimana agar kita tidak berbuat kesalahan? Mulut kita hendaknya bertutur kata baik, tubuh kita hendaknya melakukan tindakan baik, pikiran kita hendaknya berpikiran baik. Jika dapat mewujudkan semua ini, maka batin kita akan senantiasa damai. Jika kita berpegang pada ajaran Buddha, maka kita tidak akan mengarah pada kesalahan. Namun, ada orang yang tidak dapat memahami yang benar dan salah. Jika ada seorang teman yang menyeret, mereka akan ikut. Baik dalam bertindak,berperilaku sebagai manusia, maupun dalam keyakinan spiritual, mereka sangat mudah menyimpang
Secara tidak disadari atau tidak disengaja, mereka akan mendekat dengan kejahatan. Jika dekat dengan kejahatan, kesesatan, keyakinan sesat, atau guru sesat, mereka akan semakin terseret. Mereka akan mendekat dengan ajaran sesat. Dengan demikian, pandangan mereka akan diliputi noda batin. Yang salah akan mereka anggap benar. Mereka akan mudah menyimpang. Sebelumnya kita sudah membahasLima Kecenderungan Tajam. Lima Kecenderungan Tajam iniberhubungan dengan kemelekatan pada nihilisme,kemelekatan pada eternalisme,bergaul dengan teman yang buruk, dekat dengan guru sesat,dan mengambil sila sesat. Sila sesat adalah metode latihan dengan hidup bagaikan sapi atau anjing. Dahulu kita pernah membahas ini. Ada pula orang yang berlatih menggunakan air. Mereka melekat pada air. Ada pula yang berlatih dengan makan kotoran,bertelanjang, membakar tubuh dengan api, dll. Praktik-praktik seperti ini sangat umum dalam ajaran Brahmana di India zaman dahulu. Mereka memiliki lebih dari 90 metode yang berbeda-beda. Sedikit saja penyimpangan mudah membawa mereka pada ajaran buruk. Lima Kecenderungan Tajam Ini sudah pernah kita bahas sebelumnya, yaitu lima jenis noda batin akut. terpupuk dan terpelihara perlahan-lahan, sebaliknya Lima Kecenderungan Tajam inisangat kuat
Begitu kemelekatan bangkit, pandangan kita akan ternoda. Pandangan akan diri dan pandangan ekstrem, semuanya bermula dari ego. Begitu pula dengan nihilisme dan eternalisme. Begitu manusia melekat padanya, maka sulit untuk memperbaiki diri. Inilah yang disebut tajam atau akut. Ia bukan sesuatu yang terpupuk perlahan, melainkan menyerang langsung. Artinya, ia merasuk dengan sangat cepat. Inilah Lima Kecenderungan Tajam, terdiri atas pandangan tentang diri, pandangan ekstrem,pandangan sesat, kemelekatan pada pandangan pribadi,dan kemelekatan pada sila. Dalam proses pelatihan diri, jika kita memiliki sedikit penyimpangan saja, maka sulit untuk berpaling kembali. Karena itu, saat memilih teman, memilih ajaran, dan sebagainya, kita harus sangat bersungguh hati. Jangan sampai kita menyimpang barang sedikit. Contohnya, mungkin ada teman yang menyeret kita untuk mengonsumsi narkoba. Mulanya, dia tidak terang-terangan, hanya memberi tahu bahwasaat menggunakan narkoba, dia merasa melayang bebas. Lambat laun, kita akan terjerumus semakin dalam. Inilah teman yang buruk. Jika sudah begini, sulit untuk melepaskan diri. Mulanya, kita hanya iseng bermain kartu, Mulanya, kita hanya iseng bermain kartu, tetapi setelah menang dan kalah, kita semakin penasaran dan tidak rela, maka selamanya tidak akan jera. Semua ini akibat jeratan teman. Ini juga termasuk kesesatan
Akibat kemelekatan,manusia hanya percaya diri sendiri dan tidak mau mendengar nasihat orang lain. Ini termasuk penyakit batin. Ini adalah penyimpangan pemikiran, sulit untuk disembuhkan. Empat kemelekatan terdiri atas kemelekatan pada eksistensi, kekosongan,bukan eksistensi, dan bukan kekosongan. Semua ini tidak benar. Kita sering membahas Empat Kebenaran Mulia. Kita sering membahas Empat Kebenaran Mulia. Ini adalah jalan yang benar. Namun, orang yang penuh kemelekatanmenyangkal semuanya. Saat dikatakan bahwakehidupan penuh penderitaan, mereka berkata, “Tidak, mana ada penderitaan?” Mereka tidak menyadari kondisi hidup ini. Jika kita merenungkan dengan saksama dan sungguh-sungguh, kehidupan memang penuh penderitaan. Saat dilahirkan ke dunia ini, adakah orang yang bergembira? Meski ada yang hidupnya penuh kenikmatan, jika ditanya apakah dia bahagia, sesungguhnya dia juga lelah. Hidup mementingkan hartademi mencari kebahagiaan seperti itu juga membuat mereka lelah. Orang yang hidup dalam kenikmatan dan memiliki banyak harta, jika ditanya, “Apakah sudah merasa cukup,” mereka mungkin menjawab, “Belum.” “Saya sedang berpikir dan menanti orang yang hendak membawa saya melihat-lihat pakaian di toko ataupun perhiasan
” Mereka masih merasa tidak cukup. Dalam berbisnis, mereka terus mengembangkan usaha dan terus membuka cabang hingga memiliki jaringan luas, bahkan tidak cukup jika hanya di dalam negeri, sehingga berekspansi ke seluruh dunia. Apakah begitu sudah cukup? Masih belum. Jika ditanya, “Mengapa harus seperti itu,” “Mengapa tidak mengurangi sedikit,” mereka menjawab, “Master, sekarang saya tidak bisa berhenti, yang saya lakukan juga termasuk kebaikan.” “Lihat saja, karyawan saya begitu banyak.” Kadang saya bertanya, “Semua ini milikmu sendiri?” “Apakah kamu tidak perlu berutang?” Mereka menjawab, “Mana bisa begitu?” “Bisnis tanpa utang tidak akan besar.” “Semakin besar bisnisnya,utang pun semakin banyak.” “Jika kita mendapat akses ke pinjaman bank, barulah kita dapat berekspansi ke seluruh dunia.” “Untuk membuka pintu bisnis global, kita harus membuka pintu bank.” Artinya, mereka harus berutang. Utang mereka pun semakin banyak. Bank-bank di setiap negara bergantung pada bunga para pengusaha itu. Semakin tinggi tingkat suku bunga, beban pengusaha pun akan semakin besar. Jika terjadi sedikit saja kesalahan, akan terjadi efek domino
Jika satu saja kartu dijatuhkan, semuanya akan ikut berjatuhan. Kondisi ini tidak berperasaan. Jika demikian, apakah bisnis besar membawa kebahagiaan? Sesungguhnya, risikonya juga sangat berat. Tanggung jawabnya juga sangat besar. Sedikit saja kesalahan, meminta tolong pun tidak akan sempat. Jadi, di dunia ini, saat orang berada dalam kejayaan, jika ditanya apakah merasa menderita, mereka pasti tidak menyadari penderitaan. Penderitaan itu akan datang belakangan. Sesungguhnya, kebajikan dan kejahatanjuga bisa saling bercampur. Adakalanya mereka berkata, “Lewat bisnis ini saya juga melakukan kebajikan.” Namun, mereka juga menciptakan karma buruksaat menjalani persaingan. Saat bersaing dengan orang lain,mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan. Mereka berkata bahwasemakin besar bisnis mereka, semakin banyak mereka membantu orangmendapat pekerjaan. Entah ini benar atau tidak. Di dunia ini ada banyak pandangan salah yang sulit untuk dianalisis. Ujung-ujungnya ini akan membawa penderitaan. Baik memiliki nama, keuntungan,kedudukan, maupun yang lainnya, apakah orang yang memiliki semua itu pasti bahagia? Tadi kita membahas orang yang memilikibisnis besar. Kita juga membahas ibu-ibu yang gemar pergi ke butik atau toko perhiasan. Mereka tidak pernah puas. Ini sama dengan kisah yang diceritakanseorang anggota komite kita. Setiap kali membuka lemari pakaian, dia selalu merasa kurang sehelai pakaian. Saat membuka kotak perhiasan, dia juga selalu merasa kurang karena harus menyesuaikan dengan pakaian. Dia juga selalu merasa kurang sepatu untuk disesuaikan dengan pakaiannya. Hal yang dirisaukan begitu banyak
Namun, sebelum penderitaan ini benar-benar mewujud, manusia cenderung melekat. Kemelekatan ini juga merupakan penderitaan. Mereka mengejar kesenangan. Hal yang tidak kekal dianggap kekal, sedangkan hukum alam yang kekaldianggap tidak ada. Semua ini adalah penyimpangan. Jadi, kita semua harus tahu bahwa dalam mempelajari ajaran Buddha kita harussungguh-sungguh membina pikiran benar. Apa yang benar-benar kekal? Yang benar-benar kekal adalah kebenaran tentang eksistensi ajaib di balik kekosongan. Kita sering membahas kekosongan seperti contoh bunga dan bayangan bulan di air. Saat melihat ke langit, kita bisa melihat bulan, tetapi bulan itu terlihat jauh dari kita. Namun, bayangan bulan itu bisa terlihat di air. Meski bayangan itu dekat, tetapi begitu air beriak, bayangan itu tak lagi terlihat. Jika kita melemparkan sebuah batu ke air itu, maka air itu akan beriakdan bayangan bulan akan pudar. Bukankah ini bagai ilusi? Namun, kita manusia tidak bisa merenungkan hal-hal ini. Karena itu, di tengah ketidakkekalan, apakah semuanya benar-benar tidak kekal? Ada satu hal yang kekal, tetapi orang-orang menolaknya. Apakah yang kekal itu? Itulah eksistensi ajaib. Kita semua memiliki hakikat kebuddhaan. Hakikat kebuddhaan ini selalu ada. Kita semua tidak menyadari bahwa hakikat itu kekal. Kita melekat pada ketidakkekalan
Sebaliknya, hal yang tidak kekal sering kali kita anggap kekal. “Yang sekarang ada akan selalu ada.” “Saya harus mendapatkan lebih banyak harta.” “Saya harus mendapatkan lebih banyak harta.” “Jika tak dapat saya nikmati sendiri, bisa saya wariskan kepada anak cucu.” Inilah pola pikir orang yang menganggap segala sesuatu bersifat kekal. segala sesuatu bersifat kekal. Ini tidak benar. Jadi, ada, tidak ada, bukan ada,dan bukan tidak ada, semuanya dapat mengarah pada kemelekatan. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berusaha memahami kebenaran ini. Jangan berpikir berhubung semua tidak kekal,lalu menciptakan karma buruk. Selanjutnya, Syair Pertobatan berbunyi, Saudara sekalian, segala hal di luar diri kita sering kali sangat kita sayangi. Ketahuilah, para anggota komite kita sering membantu orangmembersihkan rumah. Kadang sampah di dalam rumah itu banyaknya mencapai beberapa truk. Sang pemilik rumah memungut dan membawa pulang apa saja. Dia tidak rela membuangnya. Bahkan sampah pun tidak rela dibuang. Terlebih lagi, ada orang yang sangat kikir. Dia sangat menjaga hartanya. Memberi sedikit untuk membantu orang pun dia tidak rela. Dia tidak rela jika memberi banyak, tetapi malu jika memberi sedikit
Jadi, saya sering mendengar insan Tzu Chi berkata, “Master, sulit untuk menggalang danadari orang berada.” Saya menjawab bahwa hal itu lumrah karena mereka tak rela memberi banyak, tetapi malu memberi sedikit. Karena itu, untuk menggalang dana dari mereka tentu sulit. Mereka sangat menyayangi kepunyaan mereka. Mereka sangat menyayangi kepunyaan mereka. Di sana ada kemelekatan. Mereka kikir dan tamak. Mereka sangat melekat pada harta. Ini adalah noda batin kekikiran. Ini adalah noda batin kekikiran. Mereka juga sulit mengendalikan enam indra. Karena itu, mereka terus bergaya hidup mewah dan tidak rela membantu orang lain. Mereka hanya mengejar kenikmatan diri sendiri. Bahkan, ada juga orang yang kikir terhadap diri sendiri. Mereka hanya menjaga harta mereka. Sifat kikir seperti ini sering kita temui. Jadi, kita harus tahu bahwa semua ini juga berhubungan dengan enam indra yang selalu bersentuhan dengan kondisi luar. Ini membuat di dalam batin kita timbul ketamakan, kebencian, kebodohan, dll. Enam indra ini juga bisa membuat pahala yang sudah kita pupuk menghilang. Jadi, manusia hanya memikirkan kenikmatan dan ingin memiliki segalanya
Segala yang kita lihat atau kita rasakan ingin kita miliki dan kita kuasai. Inilah ketamakan. Ini sungguh memprihatinkan. Manusia hendaknya sungguh-sungguh menjaga tindakan dan perilaku sendiri. Jika Anda bersikap tamak dan hanya berpikir untuk terusmenjaga kepunyaan Anda, maka noda batin kekikiran akan timbul. Orang seperti ini tidak akan rela memberi sedikit pun. Sesungguhnya, kalian juga pernah melihatorang berada yang di rumahnya terdapat banyak barang usang. Di dalam rumahnya terdapat banyak barang kotor. Saat membersihkannya, para relawan menemukan gulungan kain usang yang berisi emas, uang tunai, atau buku tabungan. Kita pernah mendengar kisah seperti ini. Mereka benar-benar menjadi budak harta. Mereka sangat kikir terhadap diri sendiri. Jika sudah kikir terhadap diri sendiri, mungkinkah mereka rela menolong orang lain? Orang seperti ini, entah bagaimana setelah meninggal. Kesalahan mereka adalah kemelekatan dan kekikiran
Mereka bersifat tamak dan kikir. Mereka bersifat tamak dan kikir. Orang seperti ini akan menderita seumur hidup dan tidak akan memiliki berkahpada kehidupan berikutnya. Kehidupan seperti ini sungguh sangat menderita. Jadi, kita setiap hari hendaknya sungguh-sungguh menjaga pikiran kita. Janganlah kita hanya menikmati harta kita sendiri. Jika memiliki uang, hendaklah kita berbagi dengan sesama. Janganlah mencari kesenangan sesaat atau melekat pada harta. “Yang saya nikmati adalah milik saya sendiri, tidak ada hubungannya denganmu.” “Saya tidak percaya pada pahala.” “Yang penting sekarang saya senang.” Orang seperti ini tak mau memberi sedikit pun. Saat melakukan kesalahan, dia berkata, “Kali ini saya melakukan kesalahan, biarlah kelak saya membayarnya.” Apakah dia akan sempat membayarnya? Kita tidak tahu
Kita harus menjaga pikiran kita dengan baik, jangan sampai menyimpang sedikit pun. Jika tubuh dan pikiran kita melakukan kesalahan, baik kesalahan dalam hal keyakinan maupun kesalahan dalam kehidupan sehari-hari, maka Lima Kecenderungan Tajam akan cepat memengaruhi kita. Lima Kecenderungan Tajam inidapat memutus akar kebajikan kita. Jika begitu, sulit untuk memulihkannya. Ini akan menjadi penyakit batin. Begitu pula jika kita berjudi. “Saya percaya saat berjudi, setelah kalah saya pasti bisa menang.” “Jika menggunakan narkoba, saya percaya saya akan mendapat kesenangan.” Semua ini adalah pikiran, pandangan,dan perbuatan sesat. Saudara sekalian, banyak hal yang harus kita renungkan dengan baik. Janganlah kita terjebak pada emosi sesaat. Kita sungguh harus bersungguh hati.